Yang Tak Sesat di Masa Jahiliyah


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim
Aku termangu merenungi kisah Zaid bin Amr bin Nufail. Namanya disebut dalam Shahih Bukhari. Inilah orang yang hidup di zaman Jahiliyah, tidak sempat bertemu Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia termasuk orang yang dikabarkan tempatnya di surga oleh lisan suci Muhammad Khatamun Anbiya’. Para ulama menyebutnya sebagai Muwahhidul Jahiliyyah. Orang yang benar-benar bertauhid di masa Jahiliyah, meskipun ia belum berjumpa dengan Rasulullah.
Ketika orang-orang di masanya menyembah berhala, tak sedikit di antaranya dipasang di sekeliling Ka’bah, Zaid bin Amr bin Nufail pernah datang ke sana di usianya yang telah senja. Bukan untuk menyembah berhala. Tetapi ia datang meneguhkan iman tauhidnya.
Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyaLlahu ‘anha pernah berkisah, “Aku pernah melihat Zaid bin ‘Amr bin Nufail, seorang yang sudah lanjut usia, menyandarkan punggungnya pada Ka'bah dan berseru, ‘Wahai orang-orang Quraisy! Demi Dzat yang jiwa Zaid bin ‘Amr berada di tangan-Nya, tidak seorang pun dari kalian yang memegang agama Ibrahim selain aku. Ya Allah, seandainya aku mengetahui wajah apakah yang paling Engkau cintai niscaya aku menyembah-Mu dengannya. Tetapi aku tidak mengetahui.’ Kemudian ia bersujud sekenanya.”
Pernah ia melakukan perjalanan ke Syam, menemui tokoh Yahudi dan Nasrani di sana dalam rangka menemukan agama yang Allah Ta’ala ridhai. Inilah perjalanan untuk memperjuangkan iman, yakni berjuang dengan gigih agar sampai kepada agama yang haq. Ia beriman kepada Allah Ta’ala, tidak mempersekutukan-Nya, tidak meminum khamr maupun melakukan perbuatan maksiat. Tetapi ia belum mengetahui, dimana ia akan temukan agama yang lurus itu. Begitu gigih perjuangannya hingga bertemulah ia dengan seorang rahib yang mengabarkan bahwa Nabi terakhir akan turun di negeri tempat tinggalnya, Makkah, dan Nabi terakhir itu akan turun di masa itu.
Zaid bin ‘Amr bin Nufail pun kembali ke Makkah. Tetapi sebelum tiba, ia mati dibunuh. Ini terjadi 5 (lima) tahun sebelum Muhammad shallaLlahu alaihi wa sallam bi'tsah (diangkat sebagai Rasul). Di ujung hidupnya, ia berdo’a, "Ya Allah, jika Engkau menghalangiku untuk mendapatkan kebaikan ini, maka janganlah Engkau menghalangi anakku dari mendapatkannya."
Allah ‘Azza wa Jalla kabulkan do’anya. Seorang putranya, Sa’id bin Zaid radhiyaLlahu ‘anhu, termasuk satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Artinya, ia termasuk yang terbaik di antara para sahabat yang mulia.
Tentang Zaid bin ‘Amr bin Nufail, ada kabar istimewa. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyaLlahu ‘anhu, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “يبعث يوم القيامة أمة وحده. Dia dibangkitkan pada hari kiamat sebagai umat seorang diri.”
Bukankah ia seorang diri? Mengapa disebut ummat? Inilah yang penting untuk kita pahami. ‘Abdullah bin Umar radhiyaLlahu ‘anhuma mengatakan, “Umat adalah manusia yang mengetahui agamanya.”
Ketika menerangkan tafsir dari Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 213, Ibnu Katsir menerangkan dengan mengutip dari Mujahid, “Ibrahim adalah seorang umat, yaitu yang beriman sendirian sedangkan tak ada seorang manusia pun yang beriman karena mereka semua kafir pada saat itu.”
Jika seseorang yang bukan Nabi dan bukan pula Rasul saja dapat terhindar dari kesesatan di masa Jahiliyah, maka lebih-lebih seorang Rasul yang jauh sebelum kelahirannya telah dikabarkan dalam kitab suci sebelumnya tentang kehadirannya. Ia terjaga kesesatan, terjauhkan pula dari kesyirikan. Bukankah kita dapati dalam hadis panjang riwayat At-Tirmidzi betapa seorang rahib di Syam menyuruh agar Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam segera dibawa kembali pulang ke Makkah? Ketika itu beliau diajak oleh Abu Thalib, pamannya, ke negeri Syam. Rahib itu memegang dada beliau yang masih belia dan berkata, “Anak ini akan menjadi penghulu semesta alam, anak ini akan menjadi Rasul dari Rabbul ‘Alamin yang akan diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Selain mengabarkan penjagaan Allah ‘Azza wa Jalla kepada Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul, riwayat ini juga menunjukkan bahwa beliau ke sana bukan untuk berbisnis. Hal yang wajar kalau seorang paman mengajak kemenakan yang sangat disayanginya melakukan perjalanan jauh dan menyenangkan hatinya.
Tentang penjagaan diri beliau dari kesesatan, mari kita ingat hadis shahih riwayat Muslim dari Anas bin Malik radhiyaLlahu ‘anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ يَعْنِي ظِئْرَهُ فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقِعُ اللَّوْنِ قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرْئِي أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ

“Bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam didatangi Malaikat Jibril ketika beliau shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sedang bermain dengan beberapa anak. Jibril kemudian menangkapnya, menelentangkannya, lalu Jibril membelah dada. Jibril mengeluarkan hatinya, dan mengeluarkan dari hati beliau segumpal darah beku sambil mengatakan “Ini adalah bagian setan darimu”. Jibril kemudian mencucinya dalam wadah yang terbuat dari emas dengan air zam-zam, lalu ditumpuk, kemudian dikembalikan ke tempatnya. Sementara teman-temannya menjumpai ibunya (maksudnya orang yang menyusuinya) dengan berlari-lari sembari mengatakan: “Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh”. Kemudian mereka bersama-bersama menjumpainya, sedangkan dia dalam keadaan berubah rona kulitnya (pucat). Anas mengatakan, “Saya pernah diperlihatkan bekas jahitan di dadanya.” (HR. Muslim).
Masih banyak hujjah yang dapat kita telusuri untuk memantapkan keyakinan kita bahwa Nabi kita, kekasih hati kita yang membuat kita senantiasa merindui untuk datang ke masjidnya di Madinah Al-Munawwarah, mengucapkan salam kepadanya dan berbanyak-banyak shalawat, sungguh tidak pernah terjatuh ke dalam kesesatan maupun kerusakan iman walau hanya sesaat. Bagaimana mungkin seseorang yang semenjak awal telah dipersiapkan untuk menjadi Rasul, yang telah dibersihkan dadanya di masa kanak-kanak dari hal-hal yang dapat mengotorinya, lalu menjadi sesat di masa muda maupun dewasanya? Sedangkan Zaid bin Amr bin Nufail dapat menjadi Muwahhidul Jahiliyyah.
Maka untuk orang yang paling mulia di antara seluruh manusia, untuk kekasih hati yang kita rindui syafa’atnya di Yaumil Qiyamah, marilah kita bershalawat dengan tulus,
“اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ”

Semoga tulisan sederhana dari orang yang masih amat buruk amalnya, kurang ibadahnya dan miskin ilmu ini dapat menjadi sebab syafa’at kelak di hari kiamat, ketika tak ada syafa’at yang dapat dinanti kecuali syafa’at beliau. Semoga Allah Ta’ala kumpulkan kita dengan beliau, betapa pun amat jauh kita darinya. Semoga pula Allah Ta’ala baguskan keluarga dan keturunan kita serta Allah Ta’ala saling susulkan ke surga-Nya yang tertinggi.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Motivator

Pelajaran Hidup dari Sekolah

Oleh : Imam Nawawi

Pagi hingga siang weekend kali ini (12/5) saya menemani sesi pamungkas putraku di TK Kangguru Kecil. Dia resmi dinyatakan tuntas mengikuti masa pembelajaran di PAUD hingga TK. Sebuah fase perdana untuk selanjutnya melangkah lebih jauh.

Terlihat aura semangat dan bahagia sejak pertamakali bangun tidur, hingga mandi, sarapan, dan berangkat ke arena perpisahan dan pentas seni. Nampaknya ia sadar bahwa inilah momen kebersamaan yang paling langka dimana ia harus hadir menjadi bagian yang menunjukkan komitmen kebersamaan.

Saat sesi demi sesi acara berlangsung, terutama kala satu persatu melihat betapa sabar dan tekunnya para guru mendidik mereka, saya seketika terbawa pada masa dahulu belajar di sekolah, teringat wajah guru-guru SD-ku kala itu, yang tak saja sabar tapi juga murah senyum.

Mereka orang-orang yang sangat berjasa dalam perjalananku, tetapi mereka adalah sosok yang paling tak mudah dijangkau. Maka dalam hati, saya berharap, semoga anak-anakku nanti bisa menjangkau gurunya yang telah mendidik dengan sabar dan tekun di masa ia bersinar dan memberikan kemanfaatan bagi kehidupan bangsa dan negara ini.

Sekolah memang masa yang penuh kenangan, penuh keindahan, memang sebagian ada yang mengalami keindahan seperti yang dinyanyikan Cryshe, “Kisah Kasih di Sekolah.” Tetapi, bagiku sekolah adalah tempat belajar hidup yang sebenarnya.

Belajar untuk menata diri dengan kedisiplinan, berpikir jauh dan berjiwa besar. Saya teringat kala di kelas XI SMA di Loa Kulu, Kutai Kartanegara. Saya bertanya kepada guru matematikaku yang sekarang telah kembali keharibaan-Nya.

“Bapak, kira-kira apa manfaat langsung yang bisa kita terapkan dari belajar Trigonometri?”

Mendengar pertanyaanku itu, Pak Edi, demikian kami biasa akrab menyapa beliau, tersenyum. “Kalau manfaat langsung untuk dagang, untuk buat sumur, tentu belum bisa kamu temukan saat ini. Tapi, kalau kamu terus menekuninya, kamu akan tahu bahwa dari Trigonometri inilah akurasi sebuah rencana kehidupan bisa disusun.”

Kala itu, saya hanya mampu mengangguk, tanda bahwa sangat panjang jalan yang harus ditempuh untuk mengerti apa itu manfaat langsung Trigonometri dalam kehidupan.

Kembali pada anak-anak, saya lihat mereka memang belum sepenuhnya bisa memenuhi harapan saya dan istri selaku orang tua, bahkan sangat tidak memenuhi harapan para gurunya.

Tapi satu yang saya lihat tanda bahwa mereka adalah anak yang tidak lupa dengan bekal dan pesan yang diberikan para guru adalah kemauang mereka mengetahui banyak hal. Saya boleh katakan, mereka punya “kemauannya bertanya yang sangat tinggi.”

Di rumah, kami sering ngobrol bersama mereka. Setiap ada kosa kata baru, mereka selalu tertarik untuk mengetahui. Dan, setiap jawaban memancing beberapa pertanyaan mereka. Asyik memang berdialog bersama mereka. Bahasanya sederhana, namun pertanyaannya kadang-kadang menekan nalar sedemikian rupa untuk bisa menemukan jawaban yang tepat.

Pada prinsipnya, kita semua punya kesan indah dengan sekolah, semoga demikian pula dengan anak-anak kita.

Terimakasih kepada para guru, pahlawan tanpa jasa, sosok yang marahnya adalah kasih sayang, sosok yang senyumnya adalah visi untuk kita tak boleh menyerah. Pilihan mereka mendidik anak bangsa adalah pilihan mulia, yang membantu negara mewujudkan tujuan kemerdekaan.

Jika para guru telah memilih jalan mulia, sudah sepatutnya kita juga mengikuti smangat tersebut meski dengan bidang yang berbeda.

Saat kutanya putraku, apa yang diinginkan kala masuk SD. Dengan santai ia berkata, “Nanti mau bisa bahasa Arab, bahasa Inggris, bisa Al-Qur’an.”

Dalam hati saya bahagia, dengan umurmu yang tak seberapa, sudah ada kalimat itu dari bibirmu. Semoga apa yang kau ucapkan itu nak, dicatat malaikat lalu dibawa kehadapan Allah, kemudian Allah katakan kepada malaikat itu, “Penuhi apa yang diinginkan hamba-Ku itu.”

Subhanalloh.

Bogor, 28 Sya’ban 1439 H
Imam Nawawi >>> twitter @abuilmia

Melatih Integritas


Oleh : Jamil Azzaini


“Look for 3 things in a person: intelligence, energy & integrity. If they don’t have the last one, don’t even bother with the first two” (W. Buffet).

Ada tiga hal yang harus melekat pada seorang pemimpin yaitu visi, integritas dan pengaruh. Tanpa ketiga hal tersebut, seseorang sulit dikelompokkan dalam kelompok pemimpin, meski ia menduduki suatu jabatan.

Pada tulisan kali ini, saya ingin sedikit mengupas tentang integritas. Banyak pakar, tokoh dan praktisi yang mengingatkan tentang integritas ini. Salah satunya adalah W. Buffet yang menyatakan: “Lihatlah 3 hal dalam diri seseorang: kecerdasan, energi dan integritas. Jika mereka tidak memiliki yang terakhir maka abaikan yang pertama dan kedua.”

Lawan dari integritas adalah munafik, ucapannya tidak bisa dipegang, tindakannya sering plin plan. Coba Anda bayangkan, bagaimana rasanya bila Anda dipimpin oleh orang yang munafik? Saya yakin Anda akan bingung, menjadi orang yang peragu dan sulit berprestasi secara fair.

Siapkan dan asah jiwa kepemimpinan Anda dari sekarang dengan cara melatih integritas Anda. Bagaimana melatihnya? Bisa dimulai dari tiga hal berikut:

Pertama, temukan value hidup Anda dan pegang erat value tersebut. Value adalah nilai-nilai yang melekat pada diri kita dan mengantarkan pada kesuksesan kita. Atau dengan kata lain, nilai-nilai yang membuat saat kita gagal, kita campakkan. Temukan nilai itu dan pegang erat sepanjang hayat dikandung badan.

Kedua, berlatihlah mengatakan tidak. Jangan mudah percaya dengan orang yang selalu mengatakan “ya” karena biasanya orang ini justeru sulit dipercaya. Orang yang sulit mengatakan tidak biasanya orang yang tidak punya pendirian, integritasnya rendah.
Berlatihlah mengatakan tidak untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan value, visi hidup Anda dan etika yang berlaku.

Ketiga, 4-ta bukanlah segalanya. Dalam kehidupan memang kita memerlukan 4-ta (harta, tahta, kata dan cinta) tetapi jangan sampai ketika meraihnya menghalalkan segala cara. Saat kita menghalalkan segala cara maka integritas bisa pergi menjauh dari diri kita.
Integritas bermusuhan dengan sesuatu yang haram. Integritas enggan mendekat dengan pelanggaran nilai agama dan etika. Latihlah integritas dengan mengkristalkan ajaran agama serta etika yang berlaku di sekitar Anda.

Ingin menjadi pemimpin yang terus melejit? Miliki integritas dengan melatih 3 hal tersebut di atas. Selamat mencoba.

Penulis : Jamil Azzaini, CEO Kubik Leadership, Founder Akademi Trainer

Menikmati Rizqi



Oleh : Salim A. Fillah

Makanan lezat dapat diburu, hidangan mahal dapat dibeli. Untuk menikmati racikan seorang Chef Bintang Sekian Michelin di Paris, kita harus mengajukan reservasi jauh-jauh hari, dengan uang pangkal yang cukup untuk biaya hidup di Yogyakarta selama berbulan tanpa ngeri.
Tapi nikmatnya makan adalah rizqi, Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.
Seorang bapak di Gunung Kidul yang mencangkul sejak pukul 07.00 pagi, di jam 10.30 didatangi sang istri. Sebuah bakul tergendong di punggungnya, dengan isi amat bersahaja. Nasi ketan bertabur parutan kelapa. Sementara cereknya berisi teh panas, wangi, sepet, kenthel, dan legi.
Peluh dan lelah menggenapkan rasa nikmat di tiap suapan sang belahan jiwa. Senyum mereka tak terbeli oleh berapapun harga.
Ranjang paling empuk dapat dibeli. Kamar tidur paling mewah dapat dirancang. Hotel berlayanan bintang tujuh, Burj Al ‘Arab di Dubai dapat menyediakan ruang rehat dengan sewa semalam seharga membangun rumah di negeri kita.
Tapi nikmatnya tidur adalah rizqi. Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.
Seorang anak pemulung berbantal kayu, beralas kardus, berselimut koran terlelap di atas gerobak orangtuanya pada suatu malam di Jakarta. Begitu nyenyak sampai susah untuk membangunkannya.
Gaji yang tinggi dapat dikejar dengan karir cemerlang. Uang yang banyak dapat dikumpulkan dengan memeras keringat hingga kering dan membanting tulang hingga linu. Tapi rizqi adalah soal menikmati, Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.
Seorang direktur sebuah BUMN bergaji besar yang duduk di samping saya dalam penerbangan kelas bisnis hanya memandang cemburu ketika sajian saya nikmati. Saya bertanya mengapa hanya air putih saja yang diteguknya, digenggam erat dalam gelas kaca.
Sungguh berat bagi beliau; mau makan manis, kata dokter, “Jangan Pak, diabetesnya.” Mau makan gurih, kata dokter, “Jangan Pak, kolesterolnya.” Mau makan asin, kata dokter, “Jangan Pak, hipertensinya.” Mau makan kacang, kata dokter, “Jangan Pak, asam uratnya.”
Ah, berapakah yang dinikmati manusia dari apa yang dia sangka miliknya dan ditumpuk-tumpuk dan dihitung jumlahnya. Sekira 1000 triliun ada di rekeningnya, lalu esok pagi tiba malaikat maut menunaikan tugasnya, rizqi siapakah itu sebenarnya? Ahli waris atau bahkan musuh bisnis, Allah tak kekurangan cara untuk mengantarnya pada yang sudah dijatahkan tertulis di sisiNya.
Betapa benar Al Mushthafa ketika bersabda, “Anak Adam berkata, ‘Hartaku! Hartaku!’ Padahal apalah hartanya itu selain makanan yang dilahapnya hingga habis, pakaian yang dipakainya hingga usang, dan apa yang dinafkahkannya di jalan Allah lalu dia dapati Allah membalasnya berlipat di akhirat.”
Rizqi adalah jaminan. Menjemputnya adalah ujian. Bekerja adalah ibadah kita; ‘itqan, ihsan, ikhlas; bukan mencari rizqi, tapi mencari pahala. Sebab kita harus memindahkan kekhawatiran, dari yang dijamin kepada yang belum dijamin. Yakni; akankah pulang kita ke surga?
___________
Suatu kala dalam musim dingin di New York, bahkan kopi hangat dan sup labu kuning terasa begitu surgawi.

Sumber : www.salimafillah.com

Sehat itu Nikmat, Maka Mintalah Kepada-Nya


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Ada dua orang teman saya sakit. Yang satu saya sempat akrab, yang satu tak begitu akrab. Tetapi keduanya mengalami musibah sakit yang sama, kejadiannya sama-sama begitu cepat. Sudah berbulan-bulan sakit itu datang, tetapi hingga kini kesembuhan tak kunjung datang.

Sebenarnya sehat dan sakit itu hal yang wajar terjadi pada setiap manusia. Kita pun bisa sewaktu-waktu sakit. Tetapi apa yang menimpa teman saya ini membuat saya merenung seraya berusaha meneguhkan bahwa tiada daya dan upaya selain semata-mata karena Allah Ta’ala. Dialah yang berkuasa atas diri kita. Kapan pun Allah Ta’ala menitahkan, pasti akan terjadi. Allah ‘Azza wa Jalla yang menentukan apa pun yang Ia kehendaki. Bukan diri kita yang menentukan apa yang Allah Ta’ala akan berikan kepada kita.

Masih teringat sosok teman saya ini. Juga orang-orang yang berguru kepadanya. Betapa mereka yakin dan sekaligus mengajarkan dalam berbagai training berbayar bahwa kuasa atas diri kita itu ada pada diri kita. “Mau sehat atau sakit, itu tergantung kita. Kalau kita mau sehat, kita program pikiran kita. Maka kita tidak akan mungkin sakit.”

Atau ucapan yang sama bathilnya, “Kalau ada orang sampai sakit, itu pikirannya yang salah sehingga dia sakit. Kalau mau, kita dapat menyembuhkan diri kita sendiri dengan memerintahkan badan kita untuk sembuh melalui kekuatan pikiran kita. Yang penting tahu tekniknya, tubuh kita akan menyembuhkan diri kita sendiri tanpa bantuan orang lain.”

Ucapan ini segera mengingatkan saya kepada Fir'aun yang tidak pernah sakit. Tetapi dia musuh Allah 'Azza wa Jalla yang sifat keadilan-Nya, Allah Ta'ala masih utus Musa 'alaihissalam untuk mengingatkan dan mengajak kembali kepada jalan tauhid. Pernyataan itu juga segera mengingatkan saya kepada Nabi Ayyub 'alaihissalaam yang ujian terberatnya adalah sakit menahun tak kunjung sembuh.

Ada ucapan yang lebih bathil dari itu, lebih besar kerusakan tauhidnya, menganggap do’a hanyalah semacam kalimat afirmasi semata. Tetapi di atas semua itu, sakit yang menimpa teman saya ini memberi pelajaran betapa kita tidak boleh sombong kepada Allah ‘Azza wa Jalla seakan kitalah penentunya; seolah kalau kita mau, pasti Allah Ta’ala akan menyesuaikan dengan persangkaan kita. Mereka menggunakan ucapan dalam dalil, tetapi melepaskan diri dari maksud dalil.

Apakah teman saya ini tak ingin sembuh sehingga sampai hari ini masih terbaring sakit? Bukankah telah dinyatakan bahwa kita dapat memerintahkan tubuh kita sendiri untuk mencapai kesembuhan yang sempurna?

Ingin. Saya ingin segera sehat kembali seperti sedia kala. Tetapi kesehatan itu Allah 'Azza wa Jalla yang berikan. Bukan kita yang mengendalikan dan memastikan bahwa kita pasti akan segera sehat kembali.

Saya pun duduk termangu ketika menerima pesan dari teman-teman untuk memohon ketulusan do’a bagi kesembuhan teman saya ini. Tetapi hati saya bergolak ketika sebagian permohonan do’a kesembuhan itu berbungkus syubhat yang sangat nyata: “semakin banyak yang mendo’akan, maka akan memantulkan vibrasi yang semakin besar dari alam semesta untuk kesembuhannya dengan izin-Nya”.

Kita lemah. Sungguh. Sakit dapat menimpa siapa saja, bahkan sekalipun ia seorang dokter. Itu sesuatu yang sangat wajar. Kita perlu menjaga kesehatan. Kita perlu ikhtiar. Pada saat yang sama, mari kita tak putus-putus untuk berdo’a memohon ‘afiyah. Lebih dari sekedar sehat. Bukankah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam telah menyuruhkan kepada kita untuk memohon keimanan dan ‘afiyah? Beliau bersabda:

سَلُوْا الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِيْنِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ

“Mohonlah ampunan dan ‘afiyah. Sesungguhnya seorang hamba tidak memperoleh karunia yang lebih baik setelah (memperoleh) al-yaqiin lebih dari menerima ‘afiyat.” (HR. Tirmidzi).

Semoga Allah Ta’ala karuniai kesembuhan kepada teman saya ini dengan kesembuhan penuh barakah; kesembuhan fisik dan sekaligus hidayah fil Islam yang kokoh serta mendakwahkannya kepada orang lain. Adapun yang seorang lagi, semoga Allah Ta'ala berikan ampunan kepadanya dan ringankan hisabnya. Seorang kawan memberi kabar bahwa teman saya ini telah menghadap Allah 'Azza wa Jalla. Allah Ta'ala wafatkan ia.

Selebihnya, kita berdo’a, memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah ‘Azza wa Jalla kesehatan

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan ('afiyah) yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim).

Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, Motivator dan Penulis Buku

Mimisan Pada Anak


Oleh: Arhie Lestari 

Mimisan pada anak dapat terjadi oleh karena pengaruh cuaca yang sedang sangat kering atau kelembaban udara yang sedang rendah.

Mengembuskan napas terlalu keras ketika buang ingus atau mengorek hidung terlalu dalam juga dapat menyebabkan terjadinya mimisan.

Penyebab lainnya yang sering dialami anak-anak adalah benturan pada hidung atau adanya benda asing yang masuk ke dalam hidung.

Dari semua penyebab, flu dan alergi terhadap cuaca dingin dianggap sebagai penyebab terjadinya mimisan yang paling umum.

Bila anak mengalami mimisan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menenangkan anak agar Anda lebih mudah melakukan pertolongan. Perlihatkan kepada anak bahwa Anda terbiasa bersikap tenang dalam menghadapi hal ini. Dudukkan anak dengan posisi kepala agak menunduk. Minta agar dia tidak bersandar untuk menghindari kemungkinan darah mengalir dari saluran hidung bagian dalam ke tenggorokan, kerongkongan.
Tutup hidung menggunakan tisu atau lap dengan cara menekan bagian hidung yang lunak. Tetapi, hindari memasukkan tissue atau lap ke hidung dengan maksud menghentikan perdarahan. Tekan bagian hidung yang lunak tersebut selama sekitar 10 menit dengan kekuatan tekanan yang stabil. Tujuannya untuk menghentikan perdarahan.
Setelah 10 menit, lepaskan. Perhatikan, apakah perdarahan sudah berhenti atau belum. Jika perdarahan belum berhenti, ulangi langkah tersebut. Mintalah anak bernapas melalui mulut.

Anda harus cepat tanggap dalam menilai keadaan anak. Segera bawa dia ke rumah sakit jika:
1) sudah melakukan pertolongan pertama dengan menekan hidungnya selama 10 menit, sebanyak dua kali, tetapi darah belum berhenti mengalir.
2) Anak tampak lemas dan pucat, sulit diajak berkomunikasi, dan tubuh berkeringat.
3) Darah yang keluar diperkirakan sudah terlalu banyak.
4) Anak mengalami batuk atau muntah karena darah dari hidung telanjur mengalir ke kerongkongan, lalu ke mulut dan mungkin tertelan.
5) Mimisan terlalu sering, yaitu lebih dari dua kali seminggu.||

Penulis: Arhie Lestari. Pemerhati dunia anak.

Penghasilan yang Merusak

Oleh : Jamil Azzaini

Menerima penghasilan rutin dan besar itu membahagiakan. Namun, tahukah Anda bahwa dibalik penghasilan yang kita terima ada bahaya yang mengancam? Lho, kok bisa?

Bagaimana itu?

Sesungguhnya, penghasilan itu pada hakekatnya adalah upah yang kita terima karena kita mengerjakan sesuatu. Apabila tanpa mengerjakan sesuatu kita menerima uang maka boleh jadi itu adalah uang korupsi, suap, sedekah atau hadiah tergantung akad, situasi dan kondisi yang mengikutinya.

Apabila kuantitas dan kualitas pekerjaan kita senilai 10 juta dan kita dibayar 10 juta maka itu impas. Uang kita sah, bersih dan pas. Apabila kuantitas dan kualitas pekerjaan kita senilai 10 juta dan kita dibayar senilai 8 juta, maka yang 2 juta adalah tabungan kebaikan bagi kita. Sebaliknya, apabila kuantitas dan kualitas pekerjaan kita senilai 8 juta dan kita dibayar 10 juta, maka yang 2 juta adalah tabungan keburukan bagi kita.

Tabungan kebaikan akan berbuah banyak kebaikan. Sementara tabungan keburukan akan mengundang berbagai keburukan datang menghampiri kita. Nah, bagi Anda yang selama ini sering mendapatkan penghasilan yang selisihnya jauh lebih tinggi dari kuantitas dan kualitas pekerjaan Anda, waspadalah.

Mengapa?

Karena itu tabungan keburukan, sehingga apabila penghasilan itu Anda bawa pulang ke rumah dan Anda berikan kepada keluarga Anda, itu berpotensi merusak mereka. Keburukan mengundang keburukan. Bentuk kerusakannya sangat bervariasi, dari tidak nyamannya tinggal di rumah, keluarga yang tidak harmonis hingga anggota keluarga terlibat tindak kejahatan yang merusak dirinya dan orang-orang di sekitarnya hingga rusaknya bahtera rumah tangga.

Atau boleh jadi, rumah tangga tetap harmonis namun kita akan mendapat banyak kerusakan, malapetaka, musibah di luar rumah. Ngeri bukan?

Mari kita berusaha sekuat tenaga agar kualitas dan kuantitas pekerjaan kita jauh melebihi dari penghasilan yang kita terima. Percayalah, berbagai kebaikan akan datang kepada kita tanpa kita duga sebelumnya.

Kebahagiaan Istri


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Perempuan itu tak menangis. Ketika suaminya dipastikan meninggal akibat sakit yang dideritanya beberapa waktu belakangan, ia segera menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pemakaman. Tak ada airmata yang menetes. Beberapa orang merasa kagum dan melihatnya sebagai sosok yang tegar. Anak-anaknya bangga mempunyai ibu yang jiwanya sangat kokoh. Inilah perempuan perkasa yang dapat mengurusi berbagai hal dengan cekatan, bahkan dalam suasana duka.

Tetapi tidak. Ternyata ia tidak menangis bukan karena tegar, melainkan justru karena bahagia. Ia merasa bahagia disebabkan sanggup mempertahankan pernikahan hingga akhir hayat suaminya, memenangkan pertarungan ini dan menjaga anak-anaknya agar tidak merasakan kerapuhan. Ia bahagia karena sanggup menanggung luka bertahun-tahun hingga suami dijemput maut mendahului dirinya. Ia hanya berharap dapat menikmati kebahagiaan berumah-tangga di masa tuanya. Kalau pun seandainya suaminya tak berubah dengan mentaubati perselingkuhannya, ia dapat menjalani kehidupan berumah-tangga dengan lelaki lain yang baik tanpa mengkhianati suaminya, tidak pula melakukan dosa dengan memperbuat keburukan yang sama seperti perbuatan suaminya.

Jika rumah-tangga muslim mestinya berharap untuk bersama-sama di surga, maka perempuan ini justru sebaliknya, berharap Allah Ta'ala pertemukan dengan laki-laki lain yang baik untuk menikah dengannya hingga kelak bersama-sama di surga. Bukan bersama suaminya yang baru saja meninggal dunia.

Saya tak tahu, ini kisah sedih ataukah bahagia. Tetapi yang jelas, kisah ini menawarkan potret tragedi pernikahan yang tragis, ironis dan satu lagi yang saya tak tahu bagaimana menyebutnya. Absurd barangkali istilah yang tepat. Ada istri merasakan kebahagiaan sekaligus duka karena kematian suaminya. Bahagia karena ditinggal pergi lelaki tak setia dalam keadaan ia tetap sanggup menjaga diri dari pengkhianatan serupa. Duka karena merasakan kesedihan hati anak-anaknya yang ditinggal mati bapaknya; anak-anak yang tak mengetahui keburukan bapaknya.

Diam-diam saya termangu melihat diri sendiri. Saya sungguh berharap peristiwa tragis-ironis semacam ini tak akan pernah menimpa keluarga kita maupun keturunan kita. Ada kewajiban untuk saling menjaga antara suami dan istri. Jika LDR memang mendekatkan Anda kepada dosa besar bernama selingkuh, menangkanlah kebenaran. Yakinlah, memilih yang selamat itu merupakan jalan barakah. Allah Yang Maha Memberi Rezeki. Banyak jalan Allah Ta’ala memberi rezeki kepada manusia. Hanya saja kadang orang lebih memikirkan posisi dan jabatan yang dapat disebut di depan kerabat maupun sahabat, daripada jalan yang selamat dan membawa maslahat.

Apakah LDR salah? Tidak. Saya tidak mengatakan bahwa LDR itu pasti salah, tidak pula pasti benar. Bertanyalah pada nurani mengenai keadaan Anda. Jika sekarang berada pada keadaan yang cukup aman, berjagalah dan jangan merasa aman. Semoga kita semua kelak termasuk yang diseru oleh para malaikat dengan seruan, “ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan istri-istrimu untuk digembirakan.” (QS. Az-Zukhruf, 43: 70).

Mohammad Fauzil Adhim, Motivator & Penulis Buku-buku Parenting