Peran Sekolah dalam Menangkal Pornografi


Oleh: Galih Setiawan

Maraknya penggunaan media dan gadget digital masa kini bisa diibaratkan seperti pisau bermata dua.

Di satu sisi gadget memudahkan akses ilmu pengetahuan dan informasi, namun di sisi lain juga menyuguhkan “pengetahuan berbahaya” seperti pornografi yang harus diproteksi dari anak-anak kita.

Psikolog anak dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman menyatakan bahwa dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh pornografi ini bahkan jauh lebih berbahaya daripada narkoba.

Otak anak yang rusak akibat pornografi diibaratkan seperti sebuah mobil yang bagian depannya mengalami kerusakan parah akibat tabrakan. Pre Frontal Cortex (PFC) atau bagian otak depan anak adalah bagian otak yang menjadi rusak jika telah kecanduan pornografi. Padahal, fungsi dari PFC pada otak adalah untuk merencanakan, mengendalikan emosi, mengambil keputusan, dan berpikir kritis dan lainnya. Fungsi PFC ini terus berkembang dan akan matang pada usia 25 tahun, maka bayangkanlah jika dalam tahap perkembangannya fungsi ini telah rusak bahkan sebelum mencapai kematangan.

Elly Risman menerangkan, sekolah mempunyai peran penting dalam mencegah penyebaran virus pornografi. Untuk itu, terdapat hal-hal yang dapat dilakukan para guru untuk mencegah pornografi.

Menurut Elly, sekolah perlu mengingatkan bahaya pornografi dengan memberi pengetahuan. Pengetahuan tentang apa, mengapa dan bagaimana pornografi merusak otak.

Di sisi lain, para guru juga harus menjadi teladan bagi siswa. Dengan kata lain, tidak memberi contoh yang dapat mendorong siswa untuk menyukai pornografi. Guru yang berhubungan dengan teknologi informasi (TI) juga harus bisa mengarahkan murid-murid untuk menggunakan TI dengan tepat.

Jika ada tugas yang menggunakan fasilitas internet, guru wajib mengingatkan untuk menghindari gambar-gambar yang mengandung pornografi. Hal ini karena berpotensi muncul saat pencarian tugas.

Fasilitas internet di sekolah juga hendaknya diperiksa secara teratur untuk melihat adakah konten pornografi yang sering diunduh. Elly juga menyarankan sekolah untuk membuat aturan tegas tentang penggunaan gadget. Guru harus mengingatkan penggunaan yang berlebihan dapat membuat siswa tidak fokus mengerjakan tugas.
Selain itu, kerja sama antara guru dan orangtua menjadi hal terpenting.

Selain itu, sekolah juga perlu mendeteksi bersama tingkat kecanduan anak apakah masih pada main-main, berbahaya atau kecanduan. Selanjutnya adalah melakukan pengawasan pada fasilitas dan kegiatan sekolah yang memiliki peluang bagi murid untuk mengakses konten pornografi, seperti toilet dan kelas kosong. Bila memungkinkan, sekolah perlu memasang kamera pantau (CCTV).

Sementara itu, jika terdapat siswa terdeteksi kecanduan, sekolah patut menjaga identitas anak. Sekolah diharapkan tidak menyebarkan informasi tersebut. Walaupun ada pertemuan dengan orangtua siswa terkait, sekolah sebaiknya melakukannya di waktu yang tidak beresiko diketahui orang lain.

Selain pornografi yang mengaktifkan hormon seksual, ada satu kebiasaan lain yang tidaklah berbahaya, yang juga menjadi salah satu celah masuk pornografi, yakni aktivitas pacaran. Apalagi film-film remaja saat ini begitu vulgar mengajak anak untuk berpacaran dan berhubungan seks secara bebas. Karena itu, orangtua juga harus ikut waspada terhadap serangan pornografi yang mengintai anak.

Jangan hanya berharap kepada sekolah untuk mengajari nilai-nilai agama pada anak. Orangtua harus ikut berperan aktif membangun moral agama pada diri anaknya sendiri.

Kembalikan peran ibu dan ayah pada tempatnya. Dan para orangtua harus lebih dulu hadir dalam kehidupan anaknya, bukan mereka yang punya kepentingan bisnis pornografi yang hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Sebab anak-anak yang jiwanya selalu merasa sendiri, booring, stress, dan lelah akan sangat gampang dimasuki oleh industri pornografi.||


Penulis: Galih Setiawan. Sekretaris Redaksi Majalah Fahma

Menata Remaja Kita Menuju Produktif


Oleh : Mohammad Fauzi Adhim

Kadangkala, anak-anak tumbuh dengan identitas yang telah disematkan secara kolektif kepada mereka. Tak jarang yang semenjak awal diposisikan negatif atas apa yang melekat pada diri mereka, bahkan sebelum mereka mampu berbuat apa-apa. Sesuatu yang melekat itu bermacam-macam; bisa warna kulit, suku dan bahkan agama.

Saya teringat nenek saya. Beliau memiliki budaya literasi yang sangat tinggi. Bukan hanya pagi dan sore beliau sibuk membaca literatur yang disebut kitab, menceritakan atau membacakan secara langsung kepada kami cucu-cucunya, dan kadang mengambil literatur berbeda untuk menguatkan penjelasan. Baca tulis untuk bahasa yang membacanya dari kanan itu, beliau mampu dan fasih. Tetapi tetap saja dimasukkan dalam kategori buta huruf hanya karena tidak dapat membaca dan menulis untuk bahasa yang ditulis dari kiri.


Ini sekedar contoh bagaimana penilaian sosial yang dikokohkan oleh kebijakan saat itu telah membentuk persepsi negatif terhadap kompetensi yang sangat berharga, hanya karena kompetensi itu identik dengan Islam. Orang pun belajar malu kalau belajarnya di madrasah dan dianggap keren kalau bisa berbahasa Inggris, meskipun terbatah-batah. Tampak sederhana, tetapi akibatnya sangat serius. Padahal mereka tumbuh dan besar di negeri serta kampung-kampung muslim.

Saat keluar dari kampungnya menuju negeri yang berbeda, kadang bahkan muslimnya tak banyak, perlu perubahan serius pada cara pandang, cara berpikir dan orientasi untuk dapat menciptakan perbedaan. To make a difference. Apa itu? Melakukan hal-hal berharga yang memiliki nilai dan sumbangsih sangat positif bagi dirinya sendiri dan masyarakat. Ada orientasi hidup yang ditempa dan kehendak kuat pada hal-hal bermanfaat (hirsh 'alaa manfa'ah) yang dibangun sehingga menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.

Sudah saatnya kita menata anak-anak remaja kita maupun calon remaja agar lebih produktif. Kita siapkan mereka menghadapi masa-masa yang tampaknya masih jauh. Menjadi orangtua misalnya, jika mereka disiapkan dengan baik semenjak dini, justru mengarahkan mereka untuk berbenah. Tidak tergesa-gesa.

Maka, adalah penting menyiapkan anak-anak kita agar memiliki identitas diri yang kokoh, bahkan jauh sebelum memasuki masa remaja, di tengah situasi yang memunculkan stereotip teroris (by design ataukah tidak) agar mereka tidak menjadi remaja mengambang, tidak pula guncang terombang-ambing.

Justru sebaliknya, penataan semenjak awal, sangat bermanfaat untuk mengantarkan mereka menjadi remaja utama, yakni remaja yang tidak perlu mengalami krisis. Mereka tidak kaget, tidak pula terguncang ketika dihadapkan pada arus gaya hidup yang bertabrakan dengan tuntunan agama ini.

Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting dan Trainer Parenting

Perkembangan Kemampuan Motorik Halus



Oleh: Zakya Nur Azizah 

Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinu secara rutin. Seperti, bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya, membuat garis, melipat kertas dan sebagainya.

Kecerdasan motorik halus anak berbeda-beda. Dalam hal kekuatan maupun ketepatannya. Perbedaan ini juga dipengaruhi oleh pembawaan anak dan stimulai yang didapatkannya.

Lingkungan (orang tua) mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam kecerdasan motorik halus anak. Lingkungan dapat meningkatkan ataupun menurunkan taraf kecerdasan anak, terutama pada masa-masa pertama kehidupannya.

Setiap anak mampu mencapai tahap perkembangan motorik halus yang optimal asal mendapatkan stimulasi tepat.

Di setiap fase, anak membutuhkan rangsangan untuk mengembangkan kemampuan mental dan motorik halusnya. Semakin banyak yang dilihat dan didengar anak, semakin banyak yang ingin diketahuinya. Jika kurang mendapatkan rangsangan anak akan bosan. Tetapi bukan berarti anda boleh memaksa si kecil. Tekanan, persaingan, penghargaan, hukuman, atau rasa takut dapat mengganggu usaha dilakukan si kecil.

Pada anak usia tiga tahun, fase perkembangan motorik halusnya terlihat pada kegemaran menggambar mengikuti bentuk, menarik garis vertikal, menjiplak bentuk lingkaran, membuka menutup kotak dan menggunting kertas mengikuti pola garis lurus.

Sedangkan pada anak usia empat tahun, lebih suka menggambar sesuatu yang diketahui, bukan yang dilihat. Selain itu mereka mulai menulis sesuatu dan mampu mengontrol gerakan tangannya, menggunting zig zag, melengkung, membentuk dengan lilin
serta menyelesaikan pasel 4 keping.

Di usia lima tahun, anak mulai terampil melipat, menggunting sesuai pola, menyusun mainan konstruksi bangunan, mewarnai lebih rapi tidak keluar garis dan meniru tulisan.

Ada beberapa  permainan yang dapat Anda jadikan ide untuk melatih motorik halus si kecil kesayangan Anda. Pertama, bermain pasel. Ajari anak merangkai atau menyusun kembali potongan-potongan puzzle yang telah diacak menjadi gambar utuh seperti sebelumnya. Untuk permulaan, berikan gambar pasel dengan jumlah potongan yang tidak terlalu banyak atau tingkat kesulitan pasel  disesuaikan dengan usia anak. Permainan ini melatih ketelitian, kecermatan dan konsentrasi anak dalam menempatkan setiap potongan puzzle pada tempatnya.

Kedua, menyusun lego atau balok kayu. Permainan menyusun lego atau balok kayu dapat melatih kreativitas, konsentrasi dan kecerdasan anak. Melalui permainan ini, anak tidak hanya mengandalkan kemampuan tangannya untuk menyusun atau merangkai lego atau balok kayu sesuai keinginan anak tetapi juga mengandalkan kemampuan berpikir untuk berimajinasi membebaskan ekspresinya.

Ketiga, bermain lempar tangkap bola. Cara bermainnya sangat mudah. Anda dan si kecil saling berhadapan namun beri sedikit jarak. Anda dalam kondisi duduk sedangkan anak berdiri untuk mengimbangi bola yang nanti akan dilempar. Gunakan bola yang aman bagi anak. Kemudian lempar bola pada anak dan minta anak untuk menangkapnya, dan melemparkan kembali bola pada Anda. Kegiatan melempar dan menangkap bola dapat melatih kecepatan tangan anak, membuat anak lebih aktif dan melatih konsentrasi anak.

Keempat, melipat kertas atau origami. Seni melipat kertas atau origami juga membantu kreativitas anak dan menstimulasi motorik halusnya. Biasanya kegiatan ini diajarkan pada anak di atas 5 tahun karena usia seperti itu, anak sudah dapat mengerti satu bentuk yang diajarkan. Namun, untuk permulaan Anda dapat memperkenalkan kegiatan ini pada anak usia 3 tahun.

Kelima, bermain kelereng. Kegiatan dalam permainan ini seperti melempar dan menyentil kelereng dapat melatih keterampilan motorik halus anak. Selain itu dapat melatih kemampuan visual dan konsentrasi anak. Sebaiknya usia anak di atas 5 tahun bila ingin bermain permainan ini karena biji kelereng sangat berbahaya bagi anak balita.

Keenam, bermain pasir. Bermain pasir juga melatih perkembangan motorik halus anak. Saat anak bermain pasir, ia akan membentuk pasir menggunakan wadah atau cetakan pasir yang ada kemudian menuangnya membentuk benda yang diinginkan. Jangan takut kotor. Pastikan saja pasirnya tidak ada kotoran atau benda berbahaya lainnya.||

Penulis: Zakya Nur Azizah.  Pemerhati dunia anak.

Pintu Pornografi Itu Dibuka Oleh Orangtua?


Oleh: Abi Asgar

Anak kecil berusia sekitar tiga tahun itu asyik memainkan gadget. Goyangan kereta di atas rel sama sekali tidak menganggu keasyikannya. Ibunya liyer-liyer dan ayahnya sudah tertidur sejak tadi. Di tengah keasyikannya, tiba-tiba si anak menjerit keras dan menangis meraung-raung. Para penumpang di sekitar mereka memanjangkan leher dan menoleh, khawatir terjadi sesuatu.
Rupanya gadget si anak tiba-tiba mati karena baterai habis. Seperti sudah amat terbiasa, sang ayah yang masih mengantuk bereaksi dengan cepat. Gelagapan, ia berdiri dan mengambil sebuah power bank yang disimpan di tas di rak atas tempat duduk penumpang. Setelah listrik mengaliri gadget, si anak langsung terdiam. Ia melanjutkan keasyikannya  kembali bermain game. Orangtuanya pun langsung mengatupkan matanya kembali.

Ilustrasi di atas adalah kejadian nyata yang penulis lihat sendiri dalam sebuah perjalanan.

Di luar kejadian ini, amat sering penulis melihat bagaimana orangtua memberikan gadget kepada anak mereka supaya orangtua bisa bersantai.

Berdasar tahun kelahiran, anak-anak masa kini memang lebih dini terpapar gadget yang terkoneksi internet. Begitu mereka lahir, internet dan perangkatnya sudah ada di samping mereka. Sayangnya, banyak orangtua yang abai terhadap perkembangan teknologi komunikasi yang satu ini.

Ketika orangtua memiliki anak, sesungguhnya bukan hanya rasa bahagia yang hadir, melainkan juga tanggung jawab dalam mendidik anak tersebut. Tugas orangtua tidak mudah dan tidak dapat digantikan oleh apa pun, termasuk gadget.

Menjadi orangtua memang melelahkan karena anak-anak belum memiliki kemandirian. Anak-anak masih memerlukan bimbingan dalam semua aspek hidupnya.

Pada saat yang sama, orangtua juga masih disibukkan dengan urusan mencari nafkah. Rasa lelah ini yang kadang-kadang membuat sebagian orangtua melempar tanggung jawab dengan memberikan gadget kepada anak.

Untuk sesaat, memang orangtua akan menjadi “santai” tetapi kelengahan itu mungkin harus dibayar dengan penyesalan berkepanjangan di masa depan.

Mengapa? Gadget yang terkoneksi dengan internet relatif sulit dikontrol. Salah satu muatan yang amat cepat menyusup melalui gadget adalah pornografi. Konten ini bisa ada pada tayangan porno, iklan, game,kartun, berita atau materi apa pun.

Penulis tidak akan memaparkan definisi dan bahaya pornografi karena hal tersebut telah banyak dikupas oleh para ahli. Tetapi secara umum, pengaruh pornografi amat mengerikan karena bisa merusak otak anak yang masih dalam masa perkembangan.

Bisa dibayangkan jika anak terpapar pornografi pada usia dini, apa yang akan terjadi? Bagaimana jika ini juga dilakukan oleh jutaan anak-anak di negeri ini? Bagaimana perkembangan mereka 10 atau 15 tahun lagi?

Dampaknya, masyarakat pun akan mengalami kerusakan secara massal. Hal ini bisa dilihat pada negara-negara yang mengedepankan kebebasan individu dan menjadikan pornografi sebagai industri yang legal.

Negara-negara itu mungkin maju secara ekonomi, tetapi ternyata keropos. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kebebasan seksual terus mengintai. Keuangan negara dihabiskan untuk biaya pengobatan.

Uniknya, di negara-negara itu penduduk semakin enggan menikah, dan kalau pun menikah banyak yang tidak mau memiliki anak. Dampaknya, populasi penduduk terus menurun.

Tulisan ini memang tidak secara spesifik menguraikan akibat dari paparan pornografi, tetapi menunjukkan, jangan-jangan orangtua-lah yang membukakan pintu-pintu pornografi.

Pada awalnya mungkin orangtua “hanya” bermaksud memberikan hiburan pada anak.
Pada kasus lain, barangkali orang tua sengaja memberikan gadget supaya bisa lebih santai. Tapi dua-duanya memberikan peluang teraksesnya pornografi.

Jika pintu pornografi sudah terbuka, maka akan sulit untuk menutupnya kembali karena pornografi juga memunculkan sifat kecanduan.

Kalau  kemudian orang tua melarang menggunakan internet di rumah , maka anak akan mencari dari sumber lain, seperti dari teman, warnet atau sumber lainnya.

Oleh kerena itu, antisipasi menjadi jalan terbaik. Orangtua memang perlu berlelah-lelah mendidik anak-anak. Gadget bukanlah sarana untuk melarikan diri untuk berleha-leha. Akses gadget harus benar-benar dalam pengawasan, misalnya memakai secara bersama dengan gadget milik orang tua. Tidak perlu merasa ketinggalan zaman jika kita belum memberikan gadget  untuk mereka.||

Pendekatan Psikologis untuk Mencegah Pornografi


Oleh: Imam Nawawi

Tak hanya narkoba yang dapat merusak otak, pornografi pun demikian, bahkan jauh lebib buruk.

Jika kecanduan narkoba dapat merusak tiga bagian otak, maka pornografi yang berketerusan (kecanduan) mampu merusak lima bagian otak.

Bagian otak yang paling dirusak oleh pornografi adalah pre frontal cortex (PFC) yang membuat seseorang sulit membuat perencanaan, mengendalikan hawa nafsu dan emosi, serta mengambil keputusan dan berbagai peran eksekutif otak sebagai pengendali impuls-impuls.

Oleh karena itu, menolak pornografi adalah keniscayaan, jika tidak maka masyarakat akan menjadi pihak yang paling dirugikan, yang pada akhirnya akan merusak ketahanan dan keberlangsungan bangsa dan negara.

Namun tantangannya sungguh tidak ringan, pornografi sangat mudah dijangkau.
Data Yayasan Buah Hati pada 205 menunjukkan dari 1.705 murid SD kelas 4 sampai dengan kelas 6 di Jabotabek, 25% telah mengakses dan mengonsumsi media pornografi melalui HP, 20% melalui internet, dan sisanya melalui media lainnya (Lihat Buku Pornografi Dilarang Tapi Dicari, halaman: 4).

Artinya, Indonesia telah cukup lama dijangkiti penyakit paling membahayakan masa depan generasi bangsa ini.
Terlebih jika mengacu hasil riset lembaga pemerhati internet Jejak Kaki Internet Protection di DKI Jakarta (Majalah Kartini 27 April - 11 Mei 2006) menunjukkan bahwa 97% anak mengetahui mereka bisa mendapatkan situs berbau pornografi di internet.

Sementara itu data Ecpat, sebuah lembaga perlindungan hak anak internasional menyebutkan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara di Asia selain Philipina, China, Thailand, Kamboja dan lain-lain yang menjadi pusat perdagangan pornografi anak.

Artinya, massifnya teknologi informasi mendatangkan tantangan tersendiri bagi para orangtua untuk bagaimana melindungi buah hatinya dari paparan bahaya pornografi.

Terlebih pergaulan secara luas tidak menjamin terlindunginya anak-anak dari bahaya pornografi.
Sebab boleh jadi dan tidak menutup kemungkinan, siapapun dari kalangan anak-anak bisa saja secara diam-diam membuka konten-konten porno ketika dirinya merasa tak terawasi kedua orangtua, guru atau pun lingkungan sosialnya.

Di sini orangtua perlu berdialog dengan putra-putri mereka, sebab bagaimanapun canggih aplikasi pencegah konten pornografi, pendekatan psikologis yang dibangun berdasarkan keakraban anak dengan orangtua jauh lebih efektif untuk menekan rasa ingin mengakses pornografi dari dalam diri mereka sendiri.

Mengingat pornografi bisa menimbulkan rasa ingin lagi dan ingin lagi mengaksesnya, orangtua mesti benar-benar cermat dalam masalah ini.

Psikolog Elly Risman mengatakan bahwa anak yang kecanduan pornografi akan menjadi dissensitifisasi.
Anak tidak akan melihat gambar porno yang sudah dilihat, tapi akan mencari gambar porno yang lebih dari gambar sebelumnya, karena rasa sensitifnya hilang. Dia ingin melihat dua, tiga, empat dan seterusnya.

Di sini orangtua bahkan mesti juga mengenal siapa teman dari buah hatinya. Sebab media pornografi sangat beragam, mulai dari komik, situs, video, game, dan media lain. Kata Elly Risman, tidak sedikit anak mendapatkan pornografi justru kala ada di rumah sendiri.

Dengan demikian, tugas orangtua memang tidak ringan, maka selain menyekolahkan, mengawasi dan merekomendasikan teman yang baik, yang sholih atau sholihah sangat penting bagi anak, termasuk mendorong diri untuk lebih dekat dengan agama agar anak kita selamat dari beragam bahaya, terutama pornografi.||




Dialog dengan Anak



Oleh : Imam Nawawi
 
Siang begitu terik, ketika Muhammad pulang dari sekolah. Ia datang dengan wajah sumringah. Tak lama kemudian, ia membuka permen yang baru saja dibelinya, lantas memberikan 4 buah kepada adiknya. Ia sendiri hanya mengambil tiga permen.

Tak lama setelah itu ia berkata kepada sang ibu. “Ibu, saya ingin menjadi orang kaya seperti Nabi Muhammad.” Ungkapan anak 5 tahun itu sontak mengagetkan sang ibu.
“Subhanalloh, kenapa mau jadi orang kaya?”

Sang anak dengan tenang menjawab, “Untuk berbagi kepada teman-teman atau kepada orang yang tidak punya uang.”


Sang ibu langsung memeluk buah hatinya dengan penuh kebanggaan. “Semoga Allah kabulkan apa yang menjadi cita-citamu, nak.”

Dialog di atas mungkin biasa saja, toh setiap anak di dalam keluarga, hampir pasti pernah mengutarakan cita-citanya. Akan tetapi, tidak ada yang terjadi tanpa maksud, tanpa makna.
Ungkapan anak yang bagaimanapun ucapannya belum didasari kemampuan nalar yang memadai boleh jadi adalah sebuah keadaan yang kelak akan ia capai, keadaan yang akan ia raih, keadaan yang akan membuatnya menjadi pribadi bermanfaat bagi kehidupan.

Terlebih, ketika seorang anak mampu menyampaikan argumen mengapa ia memilih sesuatu, maka sungguh itu adalah sebuah tanda kebaikan yang orang tua perlu memupuknya dengan kasih sayang, pengarahan dan tentu saja doa.

Namun, sayang seribu sayang, banyak orang tua zaman now yang berjumpa dan berdialog dengan anaknya begitu sangat jarang. Kalau pun ada waktu bersama, orang tua membiarkan anak “berdialog” dengan gadget. Padahal, dalam dialog itu boleh jadi Tuhan titipkan pesan bahwa anak-anakmu kelak akan seperti ini atau akan seperti itu.

Ayah bunda, mari sempatkan dialog dengan anak-anak kita.

Bukankah Nabi Ibrahim berdialog dengan Nabi Ismail?

Bukankah Nabi Ya’kub berdialog dengan Nabi Yusuf?

Bukankah Luqman Al-Hakim berdialog dengan putranya?

Lantas apa yang menghalangi kita berdialog dengan anak-anak yang boleh jadi kemurnian dan kesungguhan begitu kental memancar dari dalam jiwanya.

Bogor, 23 Sya’ban 1439 H Imam Nawawi >>> twitter @abuilmia

Adakalanya Harus Menolak Hadiah



Oleh : Mohammad Fauzil Adhim
 
Adakalanya kita perlu menolak hadiah, meskipun halal. Bukan karena pemberinya tidak tulus, juga bukan karena dekat dengan risywah, tetapi untuk menjaga kehormatan diri sendiri agar tidak terjatuh pada sikap batin yang lemah. 

Ada hadiah yang tidak disebut secara khusus kedudukannya. Menerimanya baik, tak menerima pun bukan keburukan. Tetapi ada hadiah yang Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam tuntunkan untuk menerimanya. Tepatnya beliau larang kita menolaknya. Apa itu? 

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ عُرِضَ عَلَيْهِ طِيبٌ فَلَا يَرُدَّهُ، فَإِنَّهُ خَفِيفُ الْمَحْمَلِ طَيِّبُ الرَّائِحَةِ

“Barangsiapa yang diberikan wewangian, janganlah ia tolak, karena ia ringan untuk dibawa lagi harum baunya.” HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i dan lainnya

Di antara berbagai parfum, yang terbaik adalah Misk (musk). Jika ada yang memberi hadiah dengan tulus, bukan karena ingin memuluskan urusan kerja, maka lebih utama lagi untuk menerimanya.
Mengenai kelebihan misk, Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَطْيَبُ الطِّيبِ الْمِسْكُ
"Sebaik-baik parfum adalah Misk." HR. Tirmidzi

Begitu istimewa kedudukan misk sampai ia pun menjadi perumpamaan teman duduk yang shalih. Sekedar menjadi teman duduk pun, seorang yang shalih akan membawa kebaikan seumpama misk
Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ، لَا يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ، إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ، أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman duduk yang shalih dengan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual misk dan tukang pandai besi. Pasti ada sesuatu yang engkau dapatkan dari penjual minyak wangi, apakah engkau membeli minyak misknya atau sekedar mendapatkan bau wanginya. Adapun pandai besi, bisa jadi ia membakar badanmu atau pakaianmu; atau minimal engkau mendapatkan bau yang tidak enak darinya.” HR. Bukhari.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting

Menembak LAWAN Jadi KAWAN


Oleh : Salim A. Fillah

Kunci kemenangan Ieyasu Tokugawa dan Pasukan Timur di Sekigahara pada 21 Oktober 1600 barangkali adalah dengan menembaki pasukan Kobayakawa Hideaki yang berkedudukan kokoh di bukit agar jelas keberpihakannya.

Pemuda ini adalah keponakan kesayangan Toyotomi Hideyoshi. Sikapnya sejak awal selalu gamang.

Ishida Mitsunari, pemimpin de facto Aliansi Barat berulangkali meyakinkan Hideaki bahwa sudah selayaknya dia membela sepupunya, Hideyori, pewaris Sang Taiko. Mitsunari dan para panglimanya bahkan memintanya memangku gelar Kanpaku yang dulu disandang Hideyoshi, sampai kelak Hideyori cukup dewasa untuk memerintah. Kepadanya dianugerahkan pula wilayah-wilayah sekitar Osaka untuk dibawahi secara langsung.

Hideaki tetap belum sepenuh hati bergabung dengan Mitsunari. Dia ingat bagaimana Sang Taiko dulu pernah mempermalukannya dengan membandingkan dirinya dengan kehebatan Mitsunari mengorganisasi pemerintahan.

Bagaimanapun, bersama Pasukan Barat-lah dia berangkat dengan dilepas oleh Mori Terumoto, pemimpin resmi Aliansi Barat yang tetap tinggal di Osaka untuk menjaga Hideyori. Mitsunari memerintahkannya naik ke atas perbukitan sebagai pasukan cadangan dan penjaga formasi jika musuh mendesak.

Pertempuran berkobar dan Pasukan Timur mulai tampak keteteran. Mitsunari memang administrator hebat di balik meja sekaligus perwira lapangan yang buruk. Tapi di Sekigahara, jenderal-jenderal pemberani lagi cemerlang seperti Otani Yoshitsugu dan Ukita Hideie ada di pihaknya.

Terdesaknya Pasukan Timur membuat Mitsunari memerintahkan Hideaki bergerak. Jika kekacauan yang terjadi di barisan Ieyasu karena kesalahan Tada Takatora dan Fukushima Masanori itu dimanfaatkan dengan bergeraknya 15.600 pasukan Hideaki menyerbu dari arah bukit, dapat dipastikan Ieyasu akan kalah.

Tapi Hideaki bimbang. Dia tak menggerakkan tongkat komandonya.

Ieyasu melihat hal ini dan berteriak, “Dasar tak berguna! Kenapa pasukan Hideaki tak menyerang kita?”

“Tampaknya dia bingung Yang Mulia”, sahut seorang jenderalnya. “Masih belum pasti hendak memihak kepada siapa.”

“Bodoh! Dia harus segera berpihak”, seru Ieyasu.


Lalu dia memerintahkan pasukan meriam Aliansi Timur mengarahkan tembakan ke bukit tempat markas Hideaki.


“Yang mulia, apa yang Anda lakukan?”, teriak para panglima Timur. “Menembak Hideaki akan membuatnya menyerbu turun menghancurkan barisan kita yang sudah kacau.”


“Biar! Itu lebih baik daripada dia diam seperti orang tolol. Biar kuajari dia bagaimana seharusnya berperang! Tembak! Cepat tembak!”


Maka tembakan-tembakan meriam pasukan Ieyasu menghantam kedudukan Hideaki di atas bukit. Seakan tersadar dari lamunan, Hideaki lalu bangkit dan segera mengomando pasukannya untuk menyerang. Anehnya, Hideaki justru memerintahkan pasukannya menyerang Pasukan Barat pimpinan Mitsnunari yang sedang merangsek ke arah barisan inti Tokugawa. Dengan gegap gempita pasukannya turun dan memangkas serangan Pasukan Barat. 


Tak menduga akan diserbu dari atas oleh kawan-kawannya sendiri, pasukan Mitsunari yang nyaris meraih kemenangan itu tiba-tiba tercerai berai. Keputusan Hideaki diikuti oleh beberapa jenderal lain yang sejak awal memang masih setengah hati berada di Barisan Barat. Maka Pasukan Timur punya kesempatan menata ulang barisan dan mereka lalu bergerak maju penuh keyakinan.


Ieyasu menang. Menang dengan menembaki lawan agar berubah menjadi kawan.
Otani Yoshitsugu gugur dengan bangga. Panglima yang menderita penyakit kusta itu sangat menghormati dan menghargai persahabatannya dengan Mitsunari. Sebabnya, dalam suatu jaminan minum teh, sekerat kulit dari wajah berlepra jatuh ke dalam cawan Yoshitsugu. Dirinya ragu hendak meminum, justru Mitsunari yang ada di depannya menukar cangkir itu dengan miliknya dan meminumnya dengan lahap sambil tersenyum.
Sementara Yoshitsugu gugur, Mitsunari, administrator ulung kebanggaan Sang Taiko itu ditangkap dan dieksekusi oleh Ieyasu. Persahabatan mereka dikenang manis. Adapun Hideaki yang khianat, menerima hadiah besar dari Ieyasu, tapi sakit jiwa lalu mati 2 tahun kemudian.


Ieyasu, mendirikan Keshogunan Tokugawa yang akan memerintah Jepang dalam damai namun tertutup rapat hingga sekira dua setengah abad kemudian.

Sumber : Instagram @salimafillah