The Games of Mind #4 Kisah Raja dan Kelingkingnya

Oleh: Ida S. Widayanti*)


Masih ingat dongeng raja yang kehilangan kelingkingnya saat berburu? Saat itu Sang Raja kurang hati-hati sehingga keretanya terguling. Karena kecelakaan tersebut Sang Raja harus kehilangan salah satu jari kelingkingnya.

Di istana raja dirundung kesedihan. Sang penasehat raja merasa iba sehingga menenangkan hati raja. "Baginda, syukuri saja apa yang terjadi..."

Mendengar ucapan penasehat, raja naik pitam. "Apa kamu bilang? Aku kehilangan jari, tapi kamu justru menyuruhku bersyukur!"
Baca Juga : Game of Mind #1 Permainan Pikiran
 Hukuman seumur hidup pun dijatuhkan pada sang penasehat kerajaan yang dianggap tidak berempati. Sang penasehat pun menjalani hukuman penjara. Setahun berlalu, Sang Raja kembali berburu ditemani penasehat barunya. Mereka berdua tersesat dan terpisah jauh dari rombongan. Sekelompok orang pedalaman dan menangkap mereka. Di perkampungan suku tersebut, Sang Raja dan penasehat barunya akan dijadikan sebagai tumbal persembahan.

Sebelum ritual dimulai, seorang suku pedalaman melihat jari raja tidak lengkap. Akhirmya mereka melepaskan raja karena syarat tumbal tidak boleh cacat. Dengan perjuangan berat Sang Raja kembali ke istana. Dia langsung menuju penjara tempat penasehat lamanya.
"Penasehatku aku berterimakasih, kami akan dibunuh sebagai tumbal oleh suku pedalaman, namun aku dibebaskan karena jariku tidak lengkap. Sekarang kamu bebas dan kuangkat kembali menjadi penasehatku."

Sang penasehat pun menangis dan bersimpuh, lalu berkata, "Saya juga berterimakasih pada raja, jika saya tidak dipenjara maka saya lah yang akan menjadi tumbal."
Moral story kisah ini, syukuri kehidupan yang kita jalani, segala sesuatu yang kita miliki saat ini, bahkan masalah yang terjadi hari ini. Karena kita tidak pernah tahu, kalau tidak terjadi apa yang kita alami saat ini, maka boleh jadi sesuatu yang buruk dan lebih buruk lagi terjadi. Allah Maha Merencanakan, dan rencana Dia lah yang terbaik untuk kita.

Dalam perkawinan pun begitu. Boleh jadi pernah menyesali perkawinan kita dengan pasangan. Mungkin pernah terbersit dalam hati:

“Andaikan aku tak menikah dengan suami/istriku ini, mungkin nasibku akan lebih baik.”

“Andaikan aku berjodoh dengan si itu, mungkin aku tidak akan kesulitan ekonomi.”

“Jika aku menikah sama dia mungkin anak-anakku putih semua atau pinter semua…”

Itu semua juga permainan pikiran. The game of mind. Pikiran itu pasti akan membuat kita merasa bernasib malang dan tidak menikmati kehidupan saat ini, dan jauh dari rasa syukur…Ya Allah jangan sampai.

Bercermin pada kisah “Kelingking Raja” boleh jadi kita menikah dengan pasangan sekarang ini, karena itu jauh membuat kita terhindar dari pasangan yang jauh lebih horor. Katakanlah kita berjodoh dengan pasangan yang penampilannya biasa-biasa, karena jika kita beristri yang cantik sekali mungkin dia tidak setia.

Katakanlah kita berjodoh dengan yang suami yang kurang macho, karena kalau jadi bersuami macho maka yang terjadi adalah KDRT. Kita bisa bermain-main dengan pikiran kita tentang apa saja yang dapat membuat kita menjadi pandai bersyukur. Karena kita tak pernah tahu hari esok... tidak tahu hikmah dari apa yang kita alami saat ini untuk masa depan kita.

Selamat memainkan pikiran Anda.

Ida S. Widayanti, Penulis Buku Mendidik Karakter dengan karakter

Sampaikanlah Walau Satu Ayat


Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Ketika kita mempunyai tujuan dalam hidup, maka kita harus selalu berada dalam garis yang telah ditetapkan Allah agar kita sampai kepada tujuan utama hidup (read: ridha Allah) 

Salah satu cara yng bisa kita lakukan untuk meraih ridha Allah yaitu dengan tetap menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNYA, hal yang paling simpel yang bisa kita lakukan misalnya: menutup aurat, menjaga sholat, berbuat baik, menjauhi larangan-larangan Allah, selain itu kita juga wajib memperjuangkan kekaffahan Islam, salah satunya dengan cara berdakwah. 

Dakwah bukan hanya untuk mereka yang sangat faham dengan berbagai ilmu dan hadist, tapi juga bagi kita yang fahamnya sedikit tapi berani menyampaikan kebenaran dengan lantang.. Ya, tidak perlu menjadi ustadzah dan bersertifikat agar bisa menyampaikan Islam, tapi bebas, asalkan ilmu yang kita tahu adalah benar, shohih, dan berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah, maka "sampaikanlah walaupun satu ayat".

Semoga tetap berada dalam naungan Islam dan tak pernah lelah dalam berdakwah dan memperjuangkan Islam secara sempurna.


Anak adalah Peniru Ulung



Oleh : Ali Rahmanto

[repost]
“Mama kerja dulu ya, Nak,” ujar seorang ibu pada anaknya. Sang anak tampak menunjukkan ekspresi kurang suka. “Huuuh...., kerja lagi, kerja lagi...,” gerutunya. Sang ibu pun berusaha memberi penjelasan pada anandanya bahwa ia kerja untuk membantu ayahnya mencari uang.

Di lain hari, anak tersebut bermain peran bersama sepupunya. Anak tersebut berperan menjadi mama, dan sepupunya menjadi anak. “Mama kerja dulu ya nak,” ujar anak itu pada sepupunya. Lalu sepupunya itu protes karena mamanya kerja. Dan anak itu menjawab persis dengan ungkapan mamanya kalau dia kerja mencari uang untuk membantu suaminya.

Pernahkah Anda mengalami hal ini? Di mana anak Anda melakukan atau mengatakan hal yang persis seperti apa yang pernah Anda katakan pada anak Anda? Hampir dipastikan jawabannya adalah iya. Memang tak salah jika ada sebutan bahwa anak adalah peniru ulung.

Anak meniru orangtua sebagai figur dewasa yang diidolakan, dianggap lebih kompeten dan memiliki kuasa. Anak menganggap orangtua adalah idolanya. Mereka sangat mengagumi orangtuanya. Walaupun orangtua pulang kerja, kotor dan bau belum mandi, anak tetap menyambut kehadiran orangtua dengan suka cita.

Anak akan meniru apa yang dilakukan orangtuanya baik itu perilaku baik ataupun buruk. Misalnya ketika orangtua suka membentak, anak akan menirunya dan melakukan hal itu pada adik atau sepupunya. Atau ketika Anda ke toilet tidak bersih, maka anak akan menirunya. Bahkan ada bahasa tubuh yang juga ditiru anak. Misalnya gerak wajah atau mimik muka Anda saat sedang menggerutu. Atau saat tersenyum dan tertawa.

Hal ini juga terjadi pada kegiatan aktif anak. Anak yang kurang aktif merupakan hasil dari orangtua yang kurang aktif. Misalnya orangtua pulang kerja akan santai saja, tidak melakukan apapun, hanya di dalam rumah saja. Begitu juga dengan anaknya, ketika pulang sekolah, dia hanya diam saja di rumah.

Anak-anak adalah peniru yan hebat,  Tidak perlu waktu lama sekali, lihat atau dengar pasti akan segera ditiru.  Orangtua pasti tidak ingin buah hati kita jadi orang yang gagal. Kita selalu ingin supaya buah hati kita jadi orang hebat yang sukses dalam segala hal. Bahkan sejak dini, si kecil sudah 'dijejali' dengan berbagai kemampuan yang sebenarnya hal tersebut belum waktunya atau terkesan dipaksakan. Apakah ini benar? Sejatinya otak anak di masa emas mampu menampung beribu informasi. Hanya saja kemampuan anak untuk mengembalikannya masih terbatas. Lalu apakah benar jika kita sebagai orangtua terus 'memasukkan' informasi ke dalam otak anak secara berlebihan? Perlu diingat, sesuatu yang berlebih pasti berdampak buruk. Sekalipun itu sesuatu yang baik. Sebenarnya yang dibutuhkan si kecil adalah kasih sayang dan cinta dari kedua orangtuanya. Sebanyak apapun informasi yang 'dimasukkan' jika tanpa adanya kasih sayang hal ini tidak akan berhasil.   

Ajarkan sambil bermain agar si kecil nyaman dan mampu menyerap informasi dengan sempurna. Tanamkan akhlak yang baik agar si kecil tumbuh jadi manusia yang berakhlak baik. Jangan lupa untuk ajarkan pendidikan agama sejak dini agar iman si kecil kuat tak tergoyahkan. Ajarkan sesuai dengan usia dan kemampuannya, jangan memaksakan kehendak jika si kecil mulai terlihat jenuh atau perhatiannya teralihkan dengan mainan yang lain. Biarkan si kecil bermain lalu jika sudah siap ajak kembali si kecil belajar. Yang paling penting, orangtua harus memberikan contoh kepada si kecil bagaimana bersikap yang baik karena si kecil adalah peniru terhebat. Jika kita memberikan contoh yang baik, insya Allah, si kecil akan menjadi manusia sesuai dengan harapan kita.

Penulis: Ali Rahmanto, Penulis lepas Tinggal di Yogya

Usahakan yang Dipikirkan, Jangan yang Tak Diinginkan


Oleh : Imam Nawawi


Begiulah kira-kira satu di antara kalimat kunci yang saya rekam dengan fokus yang tak sampai 70% karena mengikuti paparan Bu Ida S. Widayanti sembari melayani “obrolan” dari anak-anak dan sahabat.

Ahad itu, keluarga besar BMH Megapolitan memang menyelenggarakan hajat rutinnya yang diberi nama Sakinah Family. Dalam kesempatan itu, hadir penulis buku dan pakar parenting Indonesia, Ibu Ida S. Widayanti dengan materi Mendidik Karakter dengan Karakter (9/9).

Sekalipun apa yang saya urai kali ini tidak runtut dari awal sampai akhir perihal paparan beliau, namun apa yang saya ingat ini, cukup penting untuk diketahui oleh banyak orang tua pada umumnya.

Banyak orang tua menginginkan anaknya bertutur kata baik, lembut, dan sopan. Tetapi kerap kali tidak sadar bagaimana memberikan contoh.
Dalam kasus ini, Ibu Ida mengisahkan apa yang dialami oleh seorang anak walikota. Kurang lebih seperti ini.

Ketika itu sang anak walikota terjatuh. Kemudian, sang ayah spontan berkata, “Nah, kan, jatuh. Makanya jangan banyak gaya!”

Sang anak diam. Tetapi rupanya kalimat itu yang diutarakan ketika suatu moment sang anak melihat ibu gurunya jatuh di lantai.
“Makanya, Bu Guru, jangan banyak gaya!”

Jadi, ada orang tua yang berkeinginan anaknya baik, tapi justru tanpa sadar atau karena ketidaktahuan memberikan contoh yang sebaliknya.

Kasus lain – tentu saja yang saya ingat ini – dari paparan beliau.
Ada orang tua yang ingin anaknya tak suka berteriak atau bersuara keras.
Tetapi, ketika sang anak melakukan kesalahan dia sendiri memberikan contoh.

“Hei, kalian jangan teriak-teriak dong.”

Bagi anak yang seperti itu sangat membingungkan. Tetapi, karena dicontohkan, maka tak ada yang terekam oleh sang anak kecuali ikut berteriak.

Jika orang tua mengerti dan komitmen, tentu tidak dengan respoonsif yang justru kontraproduktif. Cukup katakan kepada anak-anak, “Kalian, jangan berteriak-teriak. Itu tidak baik dan dapat mengganggu orang lain.”

Dalam hal komunikasi dikenal istilah slower but stronger, “lembut namun kuat pengaruhnya.” Langkah inilah yang sebaiknya diambil oleh orang tua.

Hal yang tak kalah penting, yang saya ingat dari paparan beliau adalah kita sering berdoa tanpa disadari.

“Perlu diingat, bahwa apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan kepada anak kita adalah doa.”

“Jadi tidak boleh kita berpikir, merasa, berkata, dan melakukan ketidakbaikan untuk anak-anak kita, karena itu semua hakikatnya adalah doa,” tegas beliau.

Semua itu harus disadari betul oleh para orang tua, sehingga terbebas dari keinginan yang tak diupayakan. Dengan kata lain, berharap anak tumbuh baik, namun kita sebagai orang tua tanpa sadar justru mendesak anak berada dalam ketidakbaikan yang kita lakukan tanpa disadari.

Semoga bermanfaat.
Depok, 30 Dzulhijjah 1439 H

Imam Nawawi, Pemimpin Redaksi Majalah Mulia. twitter @abuilmia

Wanita Membuat Kita Berdaya

Oleh : Jamil Azzaini

Siapa bilang wanita lemah, cobalah baca sejarah. Orang pertama yang berani tinggal di padang pasir yang tandus dan kini menjelma menjadi Masjidil Haram adalah Siti Hajar, seorang wanita. Begitu mulianya tempat ini dalam agama Islam maka orang beriman yang beribadah di tempat ini pahalanya 100.000 kali lipat dibandingkan di tempat lain.

Perjuangan Siti Hajar mencari air minum saat ia hanya ditemani seorang bayi kini menjadi salah satu bagian yang tidak boleh ditinggalkan saat kita menjalankan ibadah haji dan umroh. Ia seorang diri berlari dari satu bukit (Shafa) ke bukit yang lain (Marwa), kini aktivitas itu bernama sa’i dalam ibadah haji dan umroh.

Dan masih banyak kisah bertaburan tentang hebatnya wanita. Saya pun merasakan sumbangan dan kontribusi istri saya dalam menjalani profesi saya sangatlah besar. Banyak karya-karya yang saya hasilkan itu karena kontribusi istri saya. Dan, perlu Anda tahu, apabila saya sedang “berantem” dengan istri kemudian memberikan training maka kualitas training saya akan menurun.

Wahai lelaki, muliakanlah wanita. Allah SWT juga memerintahkan kita untuk taat kepada ibu (wanita) 3 kali lebih banyak dibandingkan ketaatan kita kepada ayah (lelaki). Di dalam Al Quran, ada surat An-nisaa’ (wanita) dan tidak ada satu surat pun yang menggunakan nama lelaki. Semua ini merupakan tanda dan isyarat bahwa kita wajib memuliakan wanita.

Wanita ada untuk menyempurnakan lelaki. Wanita ada untuk menguatkan lelaki. Wanita ada untuk membuat lelaki berdaya. Wanita ada untuk melahirkan generasi baru. Wanita ada untuk membuat tentram lelaki. Itu semua terjadi bila wanita bisa menjaga diri. Tahu akan kedudukan dan kewajibannya sebagai wanita. Dan, tahu akan jalan termudah menuju surga.

Muliakanlah wanita karena ternyata surga juga ada di bawah telapak kakinya. Sebagai lelaki mari kita muliakan wanita. Dan, bagi para wanita, jagalah dirimu agar dirimu memang layak untuk dimuliakan.

Jamil Azzaini, Founder CEO Kubik Leadership dan Motivator
Sumber : www.jamilazzaini.com

Games of Mind #3 Kisah Handuk Basah di Atas Kasur

Oleh: Ida S. Widayanti*)

Ini kisah dari kakakku, entahlah kisah nyata atau bukan. Seorang istri memiliki suami yang punya kebiasaan meletakan handuk basah begitu saja di atas kasur. Si istri sering ngomel pada suaminya. Suaminya tak berubah.

Capai marah-marah, si istri mulai ganti cara dengan menyindirnya. “Bagus sekali ada handuk basah di tempat tidur!” Ujarnya dengan suara sinis. Atau, “Kapan handuk bisa jalan sendiri ke jemuran?”

Apakah suaminya berubah. No! Bahkan makin sebel sama si istri. Akhirnya si istri merasa capai, marah sudah, nyindir sudah, tapi tak ada hasilnya.

Mengubah orang lain susah, apalagi untuk hal yang sudah jadi kebiasaan sejak kecil. Akhirnya ia mengubah pikirannya sendiri.

“Baiklah, handuk basah ini akan menjadi permadani di surga nanti. Makin banyak aku memindahkan handuk basah ke jemuran, makin banyak permadani indahku di surga.”

Setiap melihat handuk basah di kasur si istri tersenyum dan bergegas menjemurnya. Perasaannya bahagia. Apakah handuknya berubah? Tidak! Handuk basah tetap ada di kasur. Yang berubah cara pandang dirinya terhadap Handuk basah tersebut.

Waktu berlalu, si istri kaget. Tak ada lagi handuk basah di kasurnya. Ia sudah lupa sejak kapan ia tak lagi melakukannya. Rupanya melihat keikhlasan istrinya sang suami tergerak untuk melakukannya sendiri.


Ini kisah handuk basah lain yang kubaca. Jalan ceritanya hampir sama.Yang berbeda endingnya. Istri yang satu ini kesal bukan main karena suaminya tak berubah ia terus menerus ngomel. Lalu ia curhat pada temannya.

Temannya lalu berkata: “Bayangkan suatu hari tak ada handuk basah suamimu di kasurmu. Tapi handuk basah suamimu ada di kasur bekas teman perempuannya waktu SMA!”

Perempuan tersebut kaget dan berkata, “Oh tidak! Aku tidak mau! Mending handuk basah itu ada di kasurku!” teriaknya.

Kini si istri tiap melihat handuk basah itu ia selalu berkata, “Ya Allah Alhamdulllah handuk basah suamiku ada di kasurku. Ini menjadi tanda bahwa suamiku setia.”

Apakah handuk basahnya berubah? TIDAK. Cara berpikir si istri yang berubah. Inilah Games of Mind. Kadang ada hal yang sulit kita ubah pada orang lain. Jika ingin hasil yang lebih baik, maka ubahlah pikiran kita, diri kita lebih dulu.

Selamat bermain-main dengan pikiran Anda sendiri. Bahagia, sedih, syukur, mengeluh, semua adalah tergantung diri kita kitalah yang memilih!

Ida S. Widayanti , Penulis Buku Mendidik Karakter dengan Karakter

Kaldi Penemu Kopi

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Namanya خالد. Biasa ditulis dengan Khalid atau Khaled di beberapa negeri, Halid di Bosnia, Halit di Turki, dan orang Kurdistan menulisnya dengan Xalid. Di negeri kita, nama tersebut ditulis dengan Khalid atau Chalid menurut ejaan yang lebih lawas. Tetapi dalam memanggil seseorang, nama tersebut sering diucapkan dengan Kalid maupun Kolid.

Berbicara tentang kopi, Khalid (خالد) merupakan nama yang sangat penting. Bermula dari orang inilah, kita mengenal kopi. Meskipun demikian, sebagian literatur menunjukkan bahwa kopi mulai dikenal dalam rentang waktu yang tidak terpaut terlalu jauh di dua wilayah yang dipisahkan oleh lautan, yakni Yaman dan Habasyah atau Abyssinia sebelum sebelum dikenal dengan nama Ethiopia. Perbedaan darimana asal muasal kopi mempengaruhi juga perbedaan pendapat mengenai darimana kata قهوة (kopi) yang dibaca qahwah berasal; dari kata qihwah (huruf qaf dikasrah) ataukah kaffa (كافا).

Khalid (خالد) giat di sebuah Khanqah di Gesha, sebuah desa di kawasan Kaffa, Abbysinia yang saat itu sangat hidup dengan kegiatan agama, dalam hal ini Islam. Ia banyak menghabiskan waktu di malam hari untuk belajar Islam, beribadah atau ribath di bawah bimbingan Mursyid (guru). Sedangkan di siang hari, salah satu kegiatannya adalah menggembala kambing. Kelak, Khalid sering dipanggil dengan sebutan akrab Khalidi atau Khaldi (خالدي). Sebagian menulis transliterasinya dengan Kaldi. Cara penulisan terakhir inilah kelak yang cukup masyhur dan menjadi merek kopi di Jepang.

Kawasan Kaffa yang dulunya mayoritas muslim, sekarang hanya tinggal 6.2% menurut data sensus tahun 2007. Sedangkan Gesha, kampung asal kopi yang di berbagai negara dikenal sebagai Geisha Coffee, penduduk muslimnya tinggal 13.25%. Kabar yang menggembirakan, jumlah penduduk muslim cenderung meningkat dari tahun ke tahun sehingga diprediksi tahun 2050 akan kembali mayoritas di Ethiopia.

Ketika menggembala kambing, Khalid mengamati bahwa kambing yang memakan buah liar berwarna merah itu lebih aktif. Geraknya lebih lincah. Ia kemudian berpikir untuk mengkonsumsinya agar dapat menguatkannya shalat malam maupun berjaga (ribath). Ketika itu, Khalid alias Kaldi baru mengkonsumsi cascara (daging dan kulit luar kopi) dari cherry yang sudah ranum saja saja. Belum menjadikannya sebagai minuman. Ia baru mulai mencoba menikmatinya sebagai minuman setelah bebijian kopi kering sisa dimakan daging buahnya terbakar. Ada bau mewangi yang menyegarkan. Bebijian yang terbakar ini kemudian coba dimakan langsung sebelum akhirnya ia mencoba menjadikannya sebagai bahan minuman.

Bacaan lebih lanjut, antara lain:

Ralph S. Hattox, Coffee and Coffeehouses: The Origins of Social Beverage in Medieval Near East (Publications on the Near East), University of Washington Press, 1988.

Salah Zaimeche BA, MA, PhD., The Coffee Trail: A Muslim Beverage Exported to the West, FSTC Limited, Manchester UK, 2003.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Pemerhati Kopi

Who's The Boss?

"Anak saya kecanduan Hp, sampai susah makan, dipanggil ngga peduli, disuruh malah berontak, gimana solusinya? "

"Ya diambil saja Hp nya, sembunyikan chargernya, power bank nya, jangan isi pulsa, jangan isi paket data. "

"Tapi dia marah-marah, menangis, tantrum. Saya ngga sanggup mengatasi. "

"Harus sanggup. Yang memberi Hp pertama kali ke anak, siapa? Orang tua kan? Maka orang tua juga yang harus mengambil Hp nya, menghentikannya. "

Saya lalu melihat si ibu berusaha mengambil hp dari anaknya. Si anak marah-marah. Dijambaknya jilbab ibunya, dipukulinya badan ibunya. Dan saya lihat si ibu diam saja. Jilbab dijambak pun kepalanya dibiarkan ketarik sampai kesakitan. Hanya lirih mengatakan "Ngga boleh hp an kata bu Afi itu loh.. "

Hhmm... Disitulah salahnya. Anak-anak sudah dikondisikan menjadi bos. Dan orang tua menjadi pelayan yang sendika dawuh. Makin lama makin menjadi hingga akhirnya orang tua merasa ngga sanggup meng-handle lalu dibawalah ke tempat  terapi 😑

Kata seorang trainer terapi dari Australia, ketika ditanya oleh peserta bagaimana mengatasi anak tantrum, jawabnya simple, "Who's the boss? "
Orang tua atau anak yang jadi bosnya?

Jangan kalah sama anak.
Anak menangis? Tantrum? Biar saja. Tetap jangan diberi apa yang dia inginkan. Karena tantrumnya akan terus dijadikan senjata saat minta sesuatu.

Jangan panik lihat anak menangis. Nanti juga akan diam sendiri. Harus tahan mendengar dan melihat tangisnya. Ngga ada ceritanya anak mati karena menangis kok. (Duh... Sadis ya jawabannya 😂)
Tetap tenang, pegang tangannya, sigap mencegah jika anak mau memukul dsb.

Teknik khusus menangani anak tantrum bisa bervariasi tergantung kondisi tantrumnya. Bisa didekap dari belakang, atau kaki ditekuk, atau didudukkan di bean bag, atau yang sangat parah ditengkurapkan di atas matras. Dan banyak teknik lainnya. Intinya terapis harus sigap. Telat sedikit, terapisnya yang bonyok kena pukulan, jambakan, cakaran 😂

Prinsipnya, anak harus diberi pemahaman bahwa tidak semua keinginan bisa dipenuhi, bahwa dia tidak boleh menjadi raja yang harus dituruti semua semuanya.

Setelah anak akhirnya paham bahwa usaha (tantrum) nya ngga membuahkan hasil dan akhirnya tenang, beri reward pelukan, usapan kepala atau punggung penuh kasing sayang, lalu bisikkan "Kamu hebat. Ibu sayang sama kamu. "

Lalu, jangan biarkan anak bengong tanpa aktivitas. Berikan permainan-permainan yang menarik. Lebih menarik dari gadget. Main pasir, main air, atau main bubble. Banyak ragamnya.

Orang tua juga jangan lupa. Ikutlah bermain bersama anak. Jangan minta anak lepas Hp tapi diri sendiri selalu main Hp di depan anak. Children see, children do.

Tulisan ini bersumber dari Grup WA

Games of Mind #2 Kisah Semangkok Mie Ayam


Oleh : Ida S. Widayanti

Pernah dengar kisah seorang anak perempuan yang minggat dari rumah karena bertengkar dengan ibunya? (Cerita ini pertama kali saya baca dari sebuh grup WA tak ada nama penulisnya, saya lampirkan di sini dengan sedikit disingkat).

Pertengkaran dipicu karena sang ibu menasehati anaknya, tapi si anak tidak suka, akhirnya terjadi perang mulut. Si anak ngambek langsung kabur dari rumah.

Singkat cerita ia sudah berjalan jauh ia pun sangat lapar. Dia baru tersadar kalau tidak membawa uang. Tak jauh dari tempatnya berdiri ada penjual mie ayam, ia sangat menginginkannya. Ia hanya bisa menatap kedai tersebut sambil menahan rasa lapar.

Melihat hal tersebut pemilik kedai itu bertanya pada anak itu apakah ia menginginkan mie ayam? Si anak mengangguk namun mengaku tidak memiliki uang. Si ibu pemilik kedai baik hati ia memberi anak itu semangkok mie ayam gratis.

Si anak pun memakan mie ayam pemberian si pemilik kedai dengan lahap. Tetapi kemudian ia menangis. Si ibu pemilik kedai pun bertanya mengapa ia malah menangis.

Si anak menjawab, “Saya terharu dengan kebaikan ibu, karena ibu bukan siapa – siapa saya, tetapi rela memberikan semangkok mie ayam secara gratis terhadap saya, sementara ibu saya sendiri hari ini baru saja bertengkar dengan saya, dan dia membiarkan saya pergi dan beliau tidak peduli kalau saat ini saya belum makan dan tidak membawa uang,” ujar anak tersebut.

Baca : Game of Mind #1  Permainan Pikiran

Mendengar ucapan anak tersebut ibu kedai itu berkata: “Nak, mengapa kau berpikir seperti itu? Aku hanyalah memberimu semangkuk mie ayam saja, tapi kau begitu terharu dan bilang aku sangat baik. Coba sekarang renungkan Ibumu telah memasak nasi, dan makanan lain, dari semenjak kamu lahir sampai sekarang, itu semua diberikan secara gratis. Kenapa orang yang selalu memberi makan tiap hari secara gratis malah kamu bilang tidak baik, kenapa justru aku yang hanya sekali memberi kamu semangkuk mie ayam kamu bilang sangat baik?

Ibumu yang mengandungmu, melahirkanmu, menyusuimu, memandikanmu, merawatmu dari kecil hingga kini, dia yang memberikan jiwa dan raganya untuk membesarkanmu dia lah yang sesungguhnya sangat baik terhadapmu.”

Mendengar nasihat tersebut anak itu kemudian menangis menyesali perbuatannya. Ia pun pamit.

Anak itu langsung berjalan dengan cepat menuju rumahnya, setelah sampai di depan rumah, ternyata sang Ibu sedang berdiri tepat di depan pintu rumah.

Seketika sang ibu berkata, “Nak kamu dari mana saja, ibu khawatir sama kamu, maafkan Ibu yah karena tadi sudah memarahi kamu, Ibu juga melihat dompet kamu ada di meja kamarmu, pasti kamu belum makan, Ayo nak masuk, Ibu telah menyiapkan makan untuk kamu”, ucap sang Ibu.

>>>>>>>>>>
Dalam perkawinan mungkin kisah serupa terjadi. Kepada suami yang menafkahi puluhan tahun kita bilang biasa, namun kepada teman lama yang mentraktir makan siang sekali saja adalah luar biasa.

Kepada suami yang memberi uang bulanan bertahun-tahun ia menganggap hal itu wajar, tapi kepada mantan yang mengisi pulsa Rp. 100.000, ia merasa diberi hadiah super besar.

Kepada suami yang telah berkata baik dan memuji belasan tahun itu biasa. Namun kepada seseorang yang menginbox sekali di medsos tepat di hari ulang tahunnya, “Sedang apa syantik? Selamat ulang tahun ya.” Si istri langsung kelepek-kelepek mengatakan orang itu baik sekali.

Kepada istri yang menyediakan makan untuk seluruh keluarga puluhan tahun, suami mengatakan, “Itu kan emang sudah tugas kamu!”
Kepada seorang perempuan yang ia sukai memberinya senyuman, ia merasa mendapatkan pemberian luar biasa.

Ketika istrinya yang sesekai marah dan berkata kasar, suami mengatakan seumur perkawiannya selalu dimarahi dan dikasari. Ia lupa bahwa sesungguhnya jika ditotalkan si istri lebih sering bermuka manis dan berkata baik. Ia pun lupa saat istrinya meregang nyawa dan kesakitan melahirkan anak2nya, saat menyusui dan segala kesusahannya.

Inilah Games of Mind permainan pikiran. Sangat simpel.

Penjelasannya begini...Jadi...di dalam otak ada suatu perangkat yang dinamakan RAS (reticular activating system). Ia semacam kaca mata pembesar yang dapat membesarkan apapun yang ingin kita lihat dan yang lain seolah tampak kecil dan tak berarti. Otak kita terbatas seperti kamera tak bisa men-zoom in segala sesuatu secara bersamaan.

Misalnya dalam hubungan persaudaraan atau pertemanan. Jika kita suka seseorang maka yang tampak besar adalah kebaikannya, sedangkan keburukannya tak terlihat.

Tapi jika kita sudah tidak suka dengan seseorang, maka secara otomatis otak kita akan men zoom in hal2-hal yang buruk sehingga tampak besar, yang baiknya nampak kecil...bahkan mungkin menjadi tidak tampak sama sekali.

Karena itu, hati-hatilah dengan Game of Mind. Saya sendiri sering mengalami hal ini...

Karena itu, Allah berkata bahwa Allah sesuai prasangka hambanya. Ini bisa berarti bahwa jika pikiran kita sudah berasumsi sesuatu hal, maka RAS kita akan men-zoom in memperbesar segala sesuatu sesuai anggapan kita... mata kita hanya akan melihat segala sesuatu yang menguatkan asumsi kita...

Itulah cara kerja RAS yg Allah ciptakan untuk kita.

Wallahu alam bis shawab.

Ujian Itu untuk Menaikkan Level


Bisa jadi Allah SWT menunda doa-doamu untuk disempurnakan hasilnya..

Bisa jadi Allah SWT menunda doa-doamu untuk menumpuk pahala karena kurangnya amal kita. 

Bisa jadi Allah SWT menunda doa-doamu untuk menghalangi datangnya musibah yang menghadang kita 


Bisa jadi Allah SWT menunda doa-doamu karena banyak nya maksiat yang dilakukan .


Bisa jadi Allah SWT menunda doa-doamu untuk menggugurkan dosa-dosa yang melekat .




Jangan bersuudzon,
Jangan mengeluh.


Allah Maha Tahu.
Allah berikan tekanan bukan untuk melemahkan, tapi untuk menguatkan.

Allah memberikan ujian agar kita naik level.
Allah juga memberikan kita cobaan agar kesabaran kita meningkat..

Sumber : IG @atinprihatingsih15

Cara Tepat Menemukan Jodoh Terbaik


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim


Ada nasehat dari Barbara de Angelis, konselor perkawinan terkenal, terutama berhubungan dengan cara mengetahui orang yang tepat untuk menjadi jodoh kita. Ia juga dikenal sebagai konselor yang mumpuni berkait dengan bagaimana mencapai kebahagiaan seksual tertinggi. Pakar jodoh dan hubungan harmonis yang gelar S-3 psikologinya tidak diakui (unaccredited) ini menulis sejumlah buku, antara lain The Real Rules: How to Find The Right Man for the Real You (Aturan Nyata:

Bagaimana Menemukan Laki-laki yang Tepat untuk Dirimu yang Sebenar-benarnya). Ini merupakan buku panduan mencari jodoh yang wajib dipahami oleh para wanita agar tidak salah memilih suami.

Wanita yang hingga tahun 1995 saja sudah 5 kali cerai akibat hubungan yang tidak harmonis ini juga menulis sebuah buku penting berjudul "Are You the One for Me?" (Engkaukah Jodohku?). Buku karya mantan istri John Gray ini sangat menarik, tetapi saya ragu-ragu untuk menjadikannya sebagai rujukan ketika hendak menulis buku bagi remaja agar kelak mereka menikah sepenuh kesiapan.

Barangkali yang menjadikan Barbara de Angelis termasuk konselor ahli yang sangat diperhitungkan karena ia berpengalaman gagal menemukan jodoh terbaik. Ia beberapa kali menikah, salah satunya dengan seorang dukun pesihir yang berakhir dengan perceraian juga.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting

Menumbuhkan Minat Belajar


Oleh : Ahmad Baihaqi

[repost] 
Orangtua sangat memiliki peran penting dalam membangun semangat belajar anak. Pendampingan diperlukan selama anak masih bergantung pada peran serta orangtua.  Dalam pendampingan, hubungan yang baik antara orangtua dan anak akan memudahkan komunikasi.  Ada beberapa prinsip dalam menumbuhkan semangat belajar pada anak.

Pertama, pentingnya memberikan teladan belajar di rumah.  Orangtua perlu memberikan contoh ‘belajar’ dalam kehidupan sehari-hari sehingga belajar bukan menjadi beban bagi anak-anak tetapi menjadi gaya hidup.  Selain itu menjadi orangtua yang gemar membaca akan membawa teladan bagi anak-anaknya. Jika orangtua suka membaca dan belajar, maka anak akan lebih mudah untuk menirunya.

Kedua, ciptakan suasana belajar yang nyaman bagi anak. Orangtua bisa ikut duduk dan mendampingi anak belajar di sebelah mejanya, atau sekadar menanyakan bagaimana dia menyelesaikan tugas sekolah. Buatlah belajar menjadi proses yang menyenangkan. Tidak perlu banyak marah dan tekanan.  Selain itu orangtua perlu memahami karakteristik belajar anak. Hal ini perlu dipahami agar tidak salah menciptakan gaya belajar yang efektif untuk anak. Jangan takut untuk menanyakan kepada anak bagaimana dia memilih cara belajar yang nyaman. 

Ketiga, beritahukan kepada anak tujuan mereka belajarOrangtua perlu meluangkan waktu untuk mendiskusikan cita-cita anak dan bagaimana mereka bisa meraihnya. Tanamkan dalam pikiran mereka bahwa salah satu cara untuk menjadi orang yang berhasil mencapai cita-cita adalah dengan rajin belajar dan sekolah. Berikan padanya ide yang menyangkut pendalaman hobi atau pekerjaan yang ingin ditekuninya kelak. Secara berkala, evaluasi anak dan jangan segan mengubah atau membuat target baru. Kalau perlu catat dan tempelkan di dinding ruang belajarnya. 

Keempat, kembangkan kecerdasan anak dengan mempelajari hal-hal lain selain pelajaran sekolah.  Belajar, sebenarnya tidak sekadar mengulang pelajaran di sekolah, namun belajar adalah hal yang sebaiknya tetap dilakukan. Orangtua perlu memperhatikan pelajaran apa yang paling disukai dan tidak disukai. Jika anak-anak bisa mengikuti pelajaran sekolah dengan baik, ajaklah mereka untuk mempelajari hal lain selain pelajaran sekolah. Jika Anda sudah mengetahui bakat anak sejak dini, akan lebih mudah bagi Anda untuk mengembangkan kecerdasan majemuknya (multiple intelligences) saat anak masuk sekolah formal.

Kelima, beri kesempatan belajar. Memberi kesempatan berarti juga tidak mengganggu anak pada saat sedang tekun belajar. Ketika orangtua sudah membuat peraturan untuk tidak menyalakan televisi saat jam belajar, jangan pernah sekalipun melanggar, sebab anak akan menilai orangtua sebagai sosok yang tidak konsisten. Apalagi sampai memarahi anak karena dia menegur orangtua yang nonton televisi saat dia sedang belajar. Sebisa mungkin bantu anak untuk memperoleh kesan bahwa belajar itu menyenangkan. Orangtua bisa juga mengajak anak berkunjung ke tempat-tempat yang memberikan suasana belajar, seperti perpustakaan.

Keenam, reward and punishment. Anak yang menunjukkan prestasi baik dari hasil belajarnya, layak mendapatkan hadiah sebagai bentuk penghargaan atas pencapaian dan usaha yang telah dilaluinya dengan baik. Bentuk hadiah tersebut tidak selalu dengan berupa materi, tetapi juga bisa berupa kasih sayang, pujian, perhatian, atau lainnya. Sebaliknya, jika prestasi belajar anak menurun, layaknya ada hukuman yang mendidik bagi anak, misalnya harus menyapu lantai rumah, menyapu halaman, membersihkan kamar mandi, dan sebagainya. Bentuk hukuman ini tentu harus disesuaikan dengan tingkat usia dan pemahaman anak.

Penulis : Ahmad Baihaqi, Pengamat dunia kepengasuhan

Anak Cengeng? Jangan Panik


[repost]
Oleh : Nur Muthmainnah

Menangis merupakan hal yang sangat lumrah terjadi pada anak-anak.  Namun bukan berarti kita lantas menganggap remeh tangisan anak. Jika seorang anak menangis hanya karena hal-hal kecil, seperti tersenggol sedikit atau kaget, mungkin anak tersebut termasuk kategori cengeng. Karena itu, hal yang perlu dilakukan oleh orangtua adalah mencari penyebabnya dan memperbaikinya.

Biasanya anak menjadi cengeng karena tidak memiliki cara lain saat ingin mengungkapkan perasaannya. Untuk itu, penting untuk mengajari anak berbicara sejak dini. Mengajak anak mengobrol adalah salah satu cara untuk memancing agar anak bisa bicara banyak.

Anak menjadi cengeng bisa juga karena ingin menarik perhatian orangtua atau lingkungan sekitarnya. Jika orangtua terlalu memanjakan anak, biasanya anak akan menjadi cengeng. Jika keinginannya tidak terturuti, maka anak akan menangis. Bila sudah begini, orangtua yang memanjakan anaknya akan segera menuruti keinginan anak agar anak berhenti merengek dan menangis. Imbasnya, anak akan menjadikan rengekan dan tangisan sebagai senjata. Hanya dengan merengek atau menangis kecil, ia tahu kalau keinginannya akan segera dituruti.

Mungkin orangtua akan kesal jika anaknya termasuk kategori cengeng. Sebagai orangtua yang bijak, tentu kita tidak akan memukul atau mencubit si kecil. Sebab hal itu justru akan membuat tangisannya semakin kencang. Selain itu, jika orangtua sudah “main tangan”, dikhawatirkan anak akan menirunya, entah kepada teman, guru atau bahkan pada orangtuanya sendiri.

Saat anak mulai menangis, lebih baik orangtua berbicara pada anak. Bicara secara perlahan dan tanyakan apa yang menjadi keinginannya. Orangtua bisa menasehatinya, jika menginginkan sesuatu ia harus mengatakannya, bukan menangis.

Dengan begitu, anak akan mulai berbicara tentang keinginannya. Jika orangtua memang tidak bisa memenuhinya, beri penjelasan dan alasan kuat mengapa keinginannya tidak terpenuhi. Jika orangtua akan memenuhi keinginannya di lain waktu, tentu harus berjanji pada anak. Tapi janji itu harus ditepati. Jika tidak, anak tidak akan percaya lagi pada orangtua.

Saat anak mulai dengan tangisannya, cobalah sesekali untuk pura-pura tidak mendengarnya. Saat tangisannya mulai mereda, dekati si kecil dan tanyakan apa maunya. Dengan begitu, ia akan mengerti bahwa menangis tidak akan membuat keinginannya terpenuhi.

Orangtua juga bisa mencoba untuk mengalihkan perhatian anak. Misalnya saja dengan menunjukkan buku cerita yang bagus dan mengajaknya membaca bersama. Atau mengeluarkan permainan yang seru seperti bermain ular tangga dan lainnya.

Sifat anak cengeng memang tidak bisa hilang sendiri. Meski demikian, anak harus dilatih untuk tidak cengeng. Jika orangtua membiarkannya, ia bisa tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, tidak mandiri dan selalu merasakan kecemasan.  

Perlu diingat pula, jangan pernah orangtia memberi julukan atau label anak cengeng padanya. Jika orang lain mendengar, otomatis dia pun akan memberi julukan sama pada anak kita. Jika sudah begitu, karena merasa telah diberi cap sebagai anak cengeng, anak akan menjadi lebih sulit untuk diubah perilakunya. Dia akan merasa bahwa dirinya memang anak yang cengeng.

Meski anak cengeng, jangan pernah bosan untuk memberikan ia pujian saat ia melakukan hal yang baik. Termasuk saat ia berusaha menyampaikan keinginannya tanpa menangis. Dengan begitu ia akan belajar dan paham, bahwa untuk menyampaikan keinginannya cukup dengan berbicara, bukan dengan menangis.

Berikan selalu perhatian kita terhadap apapun yang dilakukan si kecil. Jangan hanya memberikan perhatian saat ia menangis. Karena dengan begitu, anak cengeng akan menjadikan tangisan sebagai alat untuk mencari perhatian. Mengatasi anak cengeng memang tidak mudah, kesabaran orangtua adalah kuncinya.

Penulis: Nur Muthmainnah, Yogyakarta

Menebar Dengki Menuai Rugi


[repost]
Oleh : M. Sutrisno

Sifat dengki sungguh tidak terpuji, bisa meracuni pikiran dan hati bahkan membuat orang menjadi lupa diri. Dengki akan menjauhkan kita dari rezeki dan kawan-kawan pun bisa pergi berlari.

Karena jeleknya sifat dengki, Allah Ta’ala  mengajarkan kepada kita untuk berdoa agar terlindung dari keburukan para pendengki. Dalam Alquran Surat Al-Falaq ayat 5 disebutkan, “Min syarri haasidin idzaa hasad” (dari keburukan pendengki jika mereka melakukan kedengkian)”. Ingat, orang yang dengki bisa saja melakukan berbagai perbuatan keji.
Apa  yang dimaksud dengki atau hasad itu? Dengki adalah perasaan seseorang yang menginginkan lenyapnya nikmat dari orang yang didengki. Sifat ini sangat berkaitan dengan iri hati, orang pun sering menyatukannya menjadi iri dengki.

Ketika kita mengikutkan anak-anak dalam suatu lomba, misalnya, pastikan kita dan mereka jauh dari rasa dengki.  Kita boleh berlomba-lomba dalam kebaikan. Tapi mendengki orang lain yang mendapat kesuksesan itu tidak dibenarkan. Silakan saja berlomba adu kepintaran, wawasan, ketangkasan, keterampilan, pengalaman. Jika berhasil menjadi pemenang, bersyukurlah, bergembiralah tapi jangan berlebihan.

Bagaimana jika ternyata anak-anak kita atau anak didik kita kalah? Besarkan hati mereka dan jangan mendengki dengan mencari-cari kesalahan lawan. Jangan sampai berkata,“Penampilannya jelek kok bisa menang. Pasti mereka menyuap juri!”  
Penyebab dan akibat sifat dengki punya kaitan yang erat. Sifat sombong, berbangga diri, merasa lebih tinggi, kikir, dan sejenisnya bisa menjadi penyebab lahirnya sifat dengki. Awas, hati-hati! Dengki pun bisa melahirkan kesombongan, kikir, buruk sangka, fitnah, ghibah, dan sebangsanya.
Orang yang tidak mau bersyukur biasanya mudah diserang penyakit dengki dengan cepat. Kedengkiannya pun akan mengakibatkan dia menjadi orang yang kufur nikmat. Pendengki sering tidak mau mengakui nikmat Allah yang diberikan kepada para sahabat. Akhirnya, dia mudah dibujuk setan untuk berbuat nekat, melakukan maksiat.

Saat dijemput dari sekolah, seorang anak SD berkata pada ayahnya, “Pak, mbok beli motor baru kayak Mas Fulan itu lho. Bisa cepat jalannya, jadi njemput aku tidak telat. Kalau dijemput pakai motor jelek begini aku malu sama teman-teman. Jalannya pelan banget kayak siput.”
“Ya, nggak apa-apa pakai motor jelek tapi hasil beli sendiri. Kalau motor baru ayah temanmu itu bisa jadi dari hasil korupsi. Pakai motor baru bisa bikin sombong, jalannya kencang menyalip orang sembarangan,” sahut sang ayah spontan. Disadari atau tidak, sang ayah sudah menanamkan benih kedengkian ke dalam jiwa si anak. Kelak, cepat atau lambat, dia akan memetik kerugian.

Beda jika tanggapan si ayah begini: “Ya, kita bersyukur masih punya motor meski motor lama. Bisa untuk antar-jemput sekolah, bisa untuk kerja ayah. Biar pelan asal selamat. Besok kalau ayah sudah punya banyak rezeki bisa ganti motor baru. Doakan agar ayah sehat dan sukses bekerja ya.” Sang anak pun diajari untuk bersyukur dan menjauhi dengki.
Bagaimana kiat membersihkan diri dari sifat dengki. Pertama, syukur nikmat.Kedua, bersabar sehingga terjauh dari sifat kasar. Ketiga, berpikiran positif. Semua orang dikarunia kelebihan dan kekurangan. Kita tidak perlu mendengki yang punya kelebihan atau mengejek yang dalam keterbatasan. Kita berpikiran positif bahwa semua pasti ada hikmahnya  (QS. An-Nisa’: 32).
Keempat, jadilah orang kreatif. Punya banyak ide, gagasan, alternatif, solusi, jalan keluar, pilihan, kiat, tips, dan strategi. Ada teman berprestasi, orang kreatif tidak akan mendengki. Prestasi kawan justru dijadikan sarana memotivasi diri untuk dapat berprestasi yang lebih tinggi

Penulis : M. Sutrisno, Aktivis Yayasan Pusat Dakwah & Pendidikan
“Silaturahim Pecinta Anak-anak” (SPA) Indonesia