Pegangsaan Nomor 56 dan Sejarah Kemerdekaan RI

Jum’at, 17 Agustus 1945. Jakarta masih sepi ketika itu. Tapi di rumah Faradj bin Sa'id bin Awadh Martak, seorang saudagar Arab kelahiran Hadramaut, Yaman ada kesibukan yang sangat menentukan perjalanan negeri yang kelak dikenal sebagai Indonesia. Semalam, Ibu Fatmawati menjahit sendiri kain merah dan putih untuk menjadi bendera kebangsaan. Pagi hari anak-anak muda, para remaja yang di dadanya berkobar semangat juang, sibuk mempersiapkan hajatan besar yang menjadikan murka penjajah.

Ini adalah hari sangat mendebarkan. Beberapa bulan sebelumnya, Soekarno sakit. Badannya lemas. Beri-beri dan malaria telah menggerogoti tubuhnya. Tak mudah mencari rumah sakit saat itu. Indonesia belum merdeka. Masih dijajah. Tapi kesehatan Soekarno harus pulih. Faradj Martak gigih berikhtiar. Ia beri madu terbaik yang hingga hari ini masih tetap menjadi satu dari tiga madu terbaik di dunia, yakni Madu Sidr Bahiyah. Setiap bulan Faradj Martak menyiapkan satu kardus Madu Sidr Bahiyah berisi 20 botol, tiap-tiap botol berisi 1 kilo madu. Sekedar catatan, Madu Sidr dihasilkan oleh lebah yang hidup di kawasan pepohonan sidr (bidara) yang sangat tinggi manfaatnya. Sampai sekarang madu ini sangat mahal karena bagusnya kualitas.

Baca : Kisah Madu Arab dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Setelah kesehatan Soekarno cukup pulih, beberapa anak muda menculiknya untuk dibawa ke Rengasdengklok. Mereka meyakinkan Soekarno bahwa Jepang sudah menyerah kalah dalam perang, Sudah saatnya menyatakan kemerdekaan. Dan akhirnya pagi itu, 17 Agustus 1945 jam 10:00, Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia di rumah Faradj Martak.

Pegangsaan Nomor 56 adalah saksi sejarah. Ia adalah salah satu sumbangan Faradj Martak ketika negeri ini masih sangat miskin. Negara tak punya uang. Tetapi Presiden Direktur MARBA menyerahkan banyak sekali uang serta property kepada negara, muslimin Indonesia maupun Soekarno.

Faradj Martak. Catatan sejarah itu ada. Pengakuan negara juga diberikan. Tetapi kita hampir-hampir tak mengenal. Anak-anak kita apalagi. Habis-habisan keturunan Arab memberikan dukungan bagi berdirinya negeri ini. Bukan sekedar turut bergembira ketika banyak yang dapat dinikmati sesudah merdeka.


dikutip dari Instagram Mohammad Fauzil Adhim

Gelar Haji dan Hajjah

BIASANYA orang-orang yang pulang dari ibadah haji ada sebagian kalangan yang memanggilnya dengan panggilan Pak Haji Fulan atau Ibu Hajah Fulanah. Bahkan ada juga orang yang belum melaksanakan haji sudah dipanggil haji atau hajah sebagai suatu bentuk penghormatan (seperti karena usianya yang sudah tua dll).
Dalam menyikapi permasalahan tersebut para ulama berbeda pandangan dan tentunya yang dibutuhkan adalah sikap lapang dada dalam menyikapi perbedaan tersebut.  Di sini saya kutipkan beberapa pendapat tokoh untuk selanjutnya dikembalikan kepada masing-masing dengan tetap berlapang dada:
Yang Cenderung Membolehkan
Pertama, Imam Nawawi dalam kitabnya Al Majmu’ menyebutkan:, “Boleh memanggilnya dengan sebutan haji bagi yang sudah selesai melakukan tahallul meskipun sudah berlalu sekian tahun lamanya. Bahkan tatkala sudah wafat nya pun masih dibolehkan menyematkan gelar haji dan tidak dimakruhkan.
Kedua, Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin tatkala ditanya tentang masalah ini beliau mentatakan; “Jika panggilan haji maksudnya adalah orang yang telah menyelesaikan ibadah haji maka tidak mengapa menggunakan gelar tersebut.
Ketiga, Markaz Fatwa menyatakan, “Boleh memberi gelar haji bagi yang sudah melaksanakan ibadah haji dengan catatan bersih dari sifat ujub dan riya (Fatwa no 45243).
Hendaknya tidak menyematkan gelar haji kepada mereka yang belum melaksanakannya dan juga tidak boleh memberi gelar haji kepada orang kafir.
Cenderung melarang
Pertama,  Komisi Fatwa Arab Saudi menyatakan , “Panggilan haji sebaiknya ditinggalkan. Karena melaksanakan kewajiban syariat tidak mesti diberi nama atau gelar. Karena yg diharapkan hanya pahala dari Allah bagi mereka yang diterima amal ibadahnya. Oleh sebab itu, jiwa seorang muslim tidak tergantung dengan perkara-perkara seperti ini. Sehingga niatnya murni ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala.
Kedua, Syeikh Mustofa Al ‘Adawi (pakar hadits Mesir) lebih cenderung untuk merinci:
  1. Gelar haji digunakan ketika sedang melaksanakan ibadah haji saja. Yaitu dari awal pelaksanaan ibadah haji hingga selesai tahallul.
  2. Adapun jika selesai haji maka penyebutan kata itu hendaknya tidak digunakan lagi.
Apa yang beliau sampaikan mirip dengan pendapat gurunya, Syeikh Muqbil bin Hadi al-Yamani.
Ketiga, Syeikh Soleh as-Suhaimi menyatakan, “Gelar haji sudah ada sejak beberapa kurun yang lalu. Hanya saja, yang lebih selamat adalah menjauhi penggunaan gelar tersebut karena dikhawatirkan ada unsur riya”.
Demikian di antara sebagian pendapat para tokoh. Semoga bermanfaat dan tetap berlapang dada.*/tulisan Anung Al Hamat

Kisah Madu Arab dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945


ADA  dua peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia yang setiap tahun kita peringati, yaitu deklarasi Indonesia merdeka dan dibacakannya naskah proklamasi kemerdekaan atas nama bangsa Indonesia oleh Soekarno dan Hatta yang berlangsung di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.
Dua persitiwa maha penting dalam perjalanan panjang sejarah perjuangan anak negeri tersebut kemudian kita peringati sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Rumah bersejarah di Pegangsaan Timur 56, Jakarta itu kini menjadi saksi bisu sejarah bangsa Indonesia.  Ditempat inilah “Toedjoe Poeloeh Satoe” tahun lalu bendera kebangsaan Indonesia yang dijahit Ibu Fatmawati Soekarno dikibarkan pertamakali.
Kawasan ini dulu merupakan rumah tinggal Bung Karno bersama keluarga kesayangannya. Rumah bersejarah ini sekarang disebut dengan Gedung Proklamasi semenjak tahun 1960. Pada 17 Agustus 1980 Soeharto meresmikan monumen Proklamasi dimana Soekarno-Hatta membacakan naskah proklamasi.
Rumah bersejarah tempat dimana deklarasi Indonesia merdeka dan detik-detik sebelum naskah proklamasi dibacakan, ada peran salah seorang tokoh yang layak untuk tidak kita lupakan dan luput dari catatan sejarah anak bangsa.
Tokoh ini memiliki peran amat penting dan punya andil besar sehingga republik ini berdiri tegak dengan merdeka di atas bangsanya sendiri. Tokoh ini bernama Faradj bin Said bin Awadh Martak. Seorang saudagar Arab kelahiran hadramaut, Yaman yang menghibahkan rumah miliknya di Pegangsaan Timur 56 kepada pemerintah Indonesia, rumah yang pernah dihuni oleh Sang Proklamator dan keluarga kesayangannya, rumah tempat dijahitnya Sang Saka Merah Putih oleh Ibu Fatmawati, rumah tempat di deklarasikannya “Indonesia Merdeka” dan naskah “Proklamasi” kemerdekaan Indonesia dikumandangkan.
Faradj bin Said bin Awadh Martak. Seorang saudagar Arab kelahiran hadramaut, Yaman yang menghibahkan rumah miliknya di Pegangsaan Timur 56 kepada pemerintah Indonesia [ISTIMEWA]
Di rumah ini pula detik-detik sebelum kemerdekaan, proklamator kita sempat meminum “madu arab” kiriman dari Faradj bin Said bin Awadh Martak.
Kelak madu itulah yang menurut Bung Karno sangat membantunya pulih dari kelelahan dan bisa memberinya stamina bangkit membacakan naskah proklamasi diiringi dengan pidato singkatnya.
Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, 2 jam sebelum pembacaan naskah proklamasi, Bung Karno masih tertidur lemas di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Kala itu, Soekarno terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Bahkan sehari sebelumnya, Soekarno berikut istri dan anaknya Guruh yang masih dalam gendongan, bersama Hatta sempat dibawa ke Rengasdengklok.
Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa penculikan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda pelopor terhadap Sorkarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa Rengasdengklok Karawang untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan.
Selama di Rengasdengklok Soekarno dan keluarganya, juga Hatta berada dalam penjagaan perlindungan keamanan oleh Shodanco Umar Bahsan, pemuda keturunan Arab yang terlatih menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA).
Setelah peristiwa Rengasdengklok itulah, malam kepulanganya pada tengah malam ke Jakarta, Bung Karno meminum madu Arab kiriman Faradj bin Said bin Awadh Martak dan barulah pada keesokan harinya mendapatkan perawatan oleh dokter pribadinya.
Pating greges” (terasa sakit semua badan) keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculairdan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi.
Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. Dan bersama rakyat yang ikut menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut, menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya, masih meriang.
Selepas kemerdekaan, proklamator yang telah resmi menjadi Presiden Republik Indonesia pertama ini tak lantas melupakan begitu saja jasa baik sahabatnya, sebagai tanda ungkapan dan ucapan terima kasihnya itulah, Bung Karno kemudian menyampaikan rasa ucapan terima kasihnya lewat surat yang Ia tulis dan ditandatanganinya sendiri dengan menggunakan kop surat resmi Kepresidenan RI ditujukan khusus kepada Faradj Martaktertanggal 14 Agustus 1950 dengan ditandatangani oleh Ir. HM Sitompul, Menteri Pekerdjaan Umum dan Perhubungan Republik Indonesia kala itu.
Dalam ucapan terima kasih tersebut juga disebutkan Faradj bin Said Awad Martak juga telah membeli beberapa gedung lain di Jakarta yang amat berharga bagi kelahiran negara Republik Indonesia.
Ucapan terima kasihnya Soekarno kepada Faradj Martak berkop Kepresidenan RI [ISTIMEWA]
Faradj bin Said bin Awadh Martak adalah saudagar Arab kelahiran Hadramaut yang sukses sebagai pengusaha di Indonesia di masanya, Ia adalah pemilik perusahaan MARBA dan pemilik Hotel Garuda yang bersejarah di Kota Yogyakarta. Selain di Yogyakarta, Gedung MARBA di Kota Lama Semarang juga merupakan salah satu jejaknya. MARBA adalah singkatan dari Martak Badjened (Marta Badjunet), perusahaan yang dirintisnya bersama fam Badjened yang berasal dari Hadramaut.
Ia banyak meninggalkan jejak bersejarah bagi bangsa Indonesia, salah satunya adalah Masjid Agung Al-Azhar yang terkenal di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dimana ia dan sahabatnya Hasan Argubi (Kapten Arab Betawi) termasuk diantara nama-nama yang disebut-sebut sebagai donatur dan pendirinya, sebuah masjid yang ide pendiriannya digagas dan dibina oleh ulama besar Indonesia, Buya Hamka.
Copi dokumentasi surat-surat berharga, surat ucapan terima kasih pemerintah atas hibah rumah Pegangsaan 56 untuk negara, dan surat ucapan terima kasih Bung Karno atas atas madu Arab yang diminumnya kepada Faradj bin Said bin Awadh Martak, penulis peroleh dari cucu kandungnya, Khalid Ali Marta, anak bungsu dari salah satu anaknya yaitu, Ali bin Faradj bin Said bin Awadh Martak.
Ali bin Faradj Martak adalah penerus usaha MARBA dan juga memiliki hubungan yang akrab dengan Bung Karno. Bahkan Bung Karno dan istrinya Hartini beberapa kali mengunjungi kediamannya di Bogor.
Bahkan salah satu puteri Ali bin Faradj Martak saat lahir dinamai sendiri oleh Bung Karno. Istri Ali bin Faradj Martak atau ibu dari Khalid Ali Marta adalah cucu dari Syeih Ghalib bin Said Tebe, salah seorang tokoh pendiri Syarekat Dagang Islamiyyah (SDI) di Bogor yang kelak berubah namanya menjadi Syarekat Islam dibawah kepemimpinan Hadji Oemar Said Tjokroaminto, ayah mertua dari istri pertama Soekarno, Oetari.*/Abdullah Abubakar Batarfie, Sekjen Pengurus Besar Pemuda Al-Irsyad

Love and Sacrifice


Oleh : Syaiful Anshor

Nabi Ibrahim bahagia luar biasa. Akhirnya doa-doa terindah yang selama ini dipanjatkan tanpa lelah dikabulkan. Abul Anbiya ini dikaruniai anak: Ismail. Shaleh, ganteng, sehat, dan, ah sempurna sebagai anak. Ismail beranjak dewasa dan mandiri. Kebahagiaan Ibrahim semakin bertambah- tambah.

Tapi, begitulah cara Allah menguji keimanan dan kecintaan hamba-Nya. Saat cinta dan kebahagiaan memiliki seorang anak sedang membuncah, perintah itu datang. Lewat mimpi. Bukan main-main: Nabi yang pernah dilempar ke kobaran api itu diperintahkan untuk menyembelih darah dagingnya yang selama ini dinanti nanti, dan begitu dicintai.

Meski cinta sedang membuncah, tidak lantas Ibrahim mengabaikan perintah. Dia langsung mengutarakannya kepada Ismail, "Bagaimana pendapatmu dengan perintah itu?" dan dengan mantap dan yakin dijawab Ismail, "Duhai Ayahku, lakukanlah titah Allah, InsyaAllah kau akan dapati aku termasuk orang yang sabar."

Perintah menyembelih Ismail sebenarnya sekadar ujian. Allah ingin tahu sejauh mana cinta Nabi Ibrahim itu kepada dirin-Nya: lebih cinta kepada putranya, Ismail ataukah kepada Tuhannya, Allah Ta'ala?  Sejarah mencatat, Nabi Ibrahim lebih memilih Allah. Perintah itu dikerjakan. Ismail disembelih. Namun, saat pisau tajam itu hendak mengoyak leher Ismail, Allah menggantinya dengan kibas yang gemuk, dan besar.

Pengorbanan Ibrahim bentuk kecintaan Allah melebihi segalanya: melebihi cinta kepada anaknya. Dan dia tahu, bahwa segalanya bersumber dan pemberian dari Allah. Jadi, jika Allah meminta, maka tak ada alasan untuk menahan, dan tidak mengeluarkannya. Inilah kunci pengorbanan: cinta. Tanpa cinta, tak mungkin berani berkorban.


Maka, seberapa besar cintamu kepada Allah?

Syaiful Anshor, Wartawan dan Penulis Buku
Foto : Syaiful Anshor

Makanlah Kambing yang Berlemak


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Kambing. Inilah hewan yang dibarakahi. Meskipun warnanya rata-rata tidak hitam, tetapi hewan yang berlimpah manfaat ini sering dikambinghitamkan sebagai sumber penyakit. Padahal tidak mungkin Allah ‘Azza wa Jalla syari’atkan menyembelih kambing untuk dinikmati, saat ‘aqiqah maupun qurban, kecuali ada kebaikan di dalamnya. Tidak mungkin syari’at merusak dan membinasakan karena salah satu tujuan syari’at adalah menjaga kehidupan.

Betapa banyak yang menisbahkan kesalahan kepada kambing atas penyakit yang dideritanya, padahal sangat jarang ia memakan kambing. Hanya sebulan sekali. Tetapi kesalahan dialamatkan kepada yang jarang bertemu, bukan yang akrab dengannya setiap hari. Belum lagi jika ditelusur lebih jauh tentang bagaimana ia memasaknya. Hanya dikukus tanpa dibumbui macam-macam, kambing sangat bermanfaat. Jika ia dibumbui dengan bahan-bahan yang tepat, akan menambah kebaikannya. Tetapi jika ia dimasak dengan cara yang salah, maka masakan itulah yang dapat menyebabkan masalah, dengan atau tanpa kambing.

Perihal barakah kambing, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اتخذوا الغنم فإن فيها بركة

“Peliharalah (manfaatkan) oleh kalian kambing karena di dalamnya terdapat barakah.” (HR Ahmad).

Barakah berarti mendatangkan kebaikan. Ia tidak merusak kesehatan, bahkan sangat baik, kecuali jika kita salah dalam memberi perlakuan. Andaikata kita hanya memasaknya secara sederhana, semisal menjadikannya sebagai maraq atau dikukus begitu saja, maka pasti baik bagi kita. Atau kita dapat memberinya bumbu yang baik bagi tubuh kita.

Di antara kebaikan kambing yang penuh manfaat adalah lemak di bagian ekor. Ini berlaku untuk kambing jenis domba dari pedalaman Arab yang biasanya dipelihara orang-orang Badui. Hal ini sangat erat kaitannya dengan asupan dan lingkungan dimana kambing itu dipiara.

Dari Anas bin Malik radhiyaLlahu ‘anhu. Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

شفاء عرق النسا ألية شاة أعرابية تذاب ثم تجزأ ثلاثة أجزاء ثم يشرب على الريق في كل يوم جزء

“Obat ‘irqun nasaa adalah (lemak) ekor domba pedalaman (dari Arab), kemudian ditumbuk dan direbus, dicairkan, kemudian dibagi menjadi 3 bagian. Setiap bagian diminum pagi, siang, dan sore (saat perut masih kosong).” (HR. Ibnu Majah).

Ada berbagai hal lagi yang menarik untuk kita perbincangkan. Yang sedikit ini semoga bermanfaat dan meneguhkan hati agar tidak ragu dalam menikmati sajian dari hewan yang dibarakahi sekaligus menjadi bagian dari penunaian syari’at, baik dalam qurban maupun –lebih-lebih lagi—aqiqah. Yang penting masakannya pas, semisal tidak dibakar dengan cara yang menjadikan dagingnya terkena api secara langsung, tidak pula menggunakan santan yang dipanasi berulang-ulang. Bisa dimasak maqlubah khas negeri Syam, khususnya Palestina, bisa juga Pulao atau yang lainnya.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Motivator
Foto google

Merasa Bodoh

Oleh : Azzam Abdussalam

Ada seseorang dari Kuffah mendatangi Imam Ahmad sambil membawa tas berisi kitab. Dia bertanya,
"Sampai kapan seseorang menuntut ilmu? Apabila seseorang telah menghafal 30.000 hadits apakah sudah cukup?"
Imam Ahmad terdiam. Lalu dia berkata
"Kalau 60.000 hadits?"
Imam Ahmad diam. Dia pun bertanya lagi,
"Kalau 100.000 hadits?" 

Imam Ahmad berkata, "Apabila seseorang telah menulis 100.000 hadits, ketika itu dia baru mengetahui sedikit dari ilmu." 

[Manaqib Imam Ahmad bittasarruf]

Betapa jauhnya standar keilmuan antara kita dan mereka. So, jangan pernah berhenti merasa bodoh, kawan.

Azzam Abdussalam, Putranda Bapak DR. Subhan Afifi, M.Si.

Berempati Kepada Siswa


Oleh : Mahmud Thorif
Capek, Pak, belajar terus” begitu biasanya yang terucap oleh siswa saat guru memberi tugas. Jika guru tidak memperhatikan, dia akan memberikan ‘cap’ anak malas, anak manja, atau hal negatif lainnya.
Agar tidak terjadi hal tersebut, guru harus berempati kepada siswa, bagaimana kalau posisi guru sebagai siswa. Bisa dibayangkan, jika di pagi hari saat bangun pagi, akan mandi, mau sarapan siswa sudah mendapat marah dari orang tuanya, pasti jiwa siswa tersebut lelah. Beruntung kalau ada siswa dengan orang tua penyabar, pasti ungkapan membangunkan, menyuruh mandi, menyuruh sarapan dengan kata-kata yang enak didengar. Kalau siswa mendapati orang tua yang mudah marah, mudah emosi? Mereka akan ‘dihajar’ habis-habisan dengan kata-kata atau bahkan ada juga orang tua yang ringan tangannya memukul mereka, ada juga yang enteng kakinya menendangnya.
Empati menjadi jalan guru untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya suasana hati siswanya. Jika pagi hari sarapannya adalah amarah orangtua, siang hari amarah guru-gurunya, sore hari amarah guru TPA nya, malam hari amarah guru lesnya, wajar jika mereka capek jiwanya, lelah hatinya, runtuh perasaannya. Apalagi jika itu siswa dapatkan setiap hari. Wajar jika siswa kita memberontak.
Sebagai guru tentu harus bijaksana, guru harus paham kapan saat harus memberi tugas kepada siswa-siswanya dan kapan harus memberi mereka jeda istirahat. Siswa yang terlalu banyak mendapat PR pun dampaknya buruk, siswa yang dibiarkan tanpa PR pun juga bisa berakibat buruk. Jadi harus seimbang.
Dengan empatilah guru akan bisa mengerti seandainya menjadi siswa dengan banyak beban yang ditanggung dari orang tuanya, dari gurunya, dan dari masyarakat. Berempatilah kepada siswa, guru akan semakin bijak menjalani profesinya.



Menabung Racun Pernikahan


Oleh : Cahyadi Takariawan

“Saya dan istri biasa saling mengejek dan membully. Kami jadikan ejekan dan bullyan sebagai candaan di antara kami. Makanya kami tidak tersinggung mendapat ejekan dan bullyan setiap hari, karena kami mengetahui itu hanyalah candaan di antara kami”, ujar seorang suami.

“Saya tidak marah kalau diejek suami, sebagaimana suami saya tidak marah ketika saya mengejeknya. Ejekan di antara kami adalah candaan sehari-hari”, tambah sang istri, membenarkan penjelasan suami.

Benarkah ejekan dan bullyan di antara suami dan istri tidak menimbulkan masalah? Bisakah ejekan dan bullyan dianggap hanya sebagai canda tawa yang menghibur di antara mereka berdua? Mari kita cermati fenomena “banjir bully” dan “banjir ejekan” antara suami dan istri.

Mengapa pasangan suami istri tersebut tidak saling tersinggung saat mereka bercanda dengan saling mengejek dan saling membully? Ada dua jawaban untuk menjelaskan kondisi ini.

Pertama, karena mereka sama-sama mengerti bahwa itu tidak serius dan hanya bercanda. Oleh karena cuma bercanda, maka tak perlu tersinggung jika mendapat ejekan dan bullyan.

Kedua, karena saat mereka saling mengejek dan saling membully itu, suasana kejiwaan mereka tengah berada dalam “good mood” alias mood yang baik.

Persoalannya adalah, situasi dan kondisi kehidupan suami istri selalu dinamis, tidak pernah tetap. Ada kalanya mereka berdua terlibat dalam perseteruan yang sangat ‘ganas’. Suasana hubungan mereka menjadi sensitif. Semua pembicaraan menjadi tidak nyambung bahkan memicu emosi serta kemarahan.

Kejiwaan mereka berubah menjadi bad mood. Di titik inilah semua menjadi masalah, termasuk ejekan dan bullyan yang telah mereka biasa lakukan di masa lalu.

Maka pada dasarnya, perilaku saling ejek dan saling bully adalah menabung racun pernikahan. Suatu saat bisa berubah menjadi masalah besar di antara mereka berdua.

Jadi ---demi kebaikan keluarga anda---- jangan gemar menabung racun. Simak ulasan saya "Detox Your Marriage" di Kompasiana. Buka www.kompasiana.com/pakcah.

Cahyadi Takariawan, Penulis Buku dan Motivator

Memanggil Pertolongan Allah


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Emas itu ditakar dengan gram. Sementara batu kali? Ditakar dengan ukuran kilogram pun tidak. Keduanya diperlukan, tetapi 1 ons emas terbaik dapat dipergunakan untuk mendatangkan bertruk-truk batu kali.

Ada orang yang terbebas dari api neraka disebabkan oleh matanya. Bukan bersebab menangis karena rasa takutnya kepada Allah 'Azza wa Jalla, tetapi oleh sebab begadang saat ribath; berjaga dalam keadaan siaga. Ia tak muncul di permukaan. Tak banyak dikenal, tapi sangat menentukan.

Harus selalu ada orang yang rela bersunyi-sunyi untuk bertekun tafaqquh. Bukan karena tidak suka keramaian, tetapi karena mengambil fardhu kifayah yang bahkan tak cukup ditanggung satu orang. Ia menepi bukan karena tak peduli. Bukan pula karena pasif. Tapi karena keharusan agama.

Seandainya banyak itu penentu kebaikan dan keunggulan, maka tak perlu Allah 'Azza wa Jalla menegaskan tentang فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ yang dapat mengalahkan mereka dengan jumlah dua, tiga, sepuluh atau seratus kali lipat atau lebih.

Pertanyaannya, adakah kita memenuhi syarat memperoleh pertolongan-Nya? Ataukah kita justru sedang meninggalkan sebab-sebab yang menjadikan Allah 'Azza wa Jalla mewajibkan diri-Nya menolong kita?

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Motivator

6 Pesan Indah Kyai Maimun Zubair


K.H Maimun Zubair Dawuh, 

1. jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah...barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akhirat.

2. Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju surga.

3. Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

4. Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia...barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

5. Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba' ta' kepada anak2 mu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu..yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

6. Jika engkau tidak bisa berbuat kebaikan Sama sekali Maka Tahanlah tangan dan lisanmu dari menyakiti, setidaknya Itu menjadi sedekah untuk dirimu.

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya”

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda

Rasulullah SAW bersabda:

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya)bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum".(HR. Muslim)

Mari selalu berusaha dan berprilaku positif, semangat meraih hasil terbaik serta saling mendoakan akan keberkahan.. Aamiin...Semoga bermanfaat

Selamat jalan mbah.. insyaAllah husnul khotimah..

Dimana Jodohku?

Oleh : Indayana Ratnasari

Kalau membicarakan perihal "jodoh" rupanya tak akan habis untuk dibahas. Bagaimana tidak? Jodoh adalah topik yang selalu tranding di kalangan para pemuda yang belum menikah.

Jodoh menjadi salah satu keresahan dan kegalauan di kalangan kawula muda. Mereka resah jika tidak menikah, galau jika tak ada yang mendekat, bahkan mungkin menangis dan takut tak kebagian jodoh.

Apakah hal itu salah? Tidak. Tidak ada yang salah dalam merasa. Yang salah adalah ketika kita salah dalam menempatkan rasa. Menempatkan rasa kepada yang bukan haknya.

Kepada yang bukan haknya maksudnya gimana? Maksudnya begini, rasa suka dan cinta kepada lawan jenis itu dari Allah. Kita tak bisa memilih kepada siapa kita suka dan cinta. Iya kan? Tapi kita harus menempatkan rasa suka dan cinta itu kepada yang berhak. Siapa dia? Ya, dia kelak pasangan halal kita. Jangan sampai kita menempatkan rasa kepada orang yang belum halal bagi kita, belum jelas dia jodoh kita apa bukan.

Untuk saat ini, tak perlu risau dan galau memikirkan dimana jodohmu berada. Siapa dia, darimana asalnya, bagaimana rupanya, dan bagaimana karakternya adalah hak Allah untuk memilihkannya untukmu. Tugasmu adalah fokus terhadap perbaikan dirimu sendiri. Dekatkan diri kepada Allah, istiqomahkan ibadah terutama kebutuhan ruhiyahmu, jangan biarkan iman mengering, datangi majelis-majelis ilmu, tingkatkan kualitas diri dengan skill dan ilmu pengetahuan terutama ilmu agama dan psikologi parenting, kembangkan potensi, matangkan mental dan emosi, cukupkan finansial dan teruslah perbaiki diri dan lingkungan sekitar.

Percaya gak sih Allah akan memberikan jodoh untukmu di kala kamu siap, bukan di kala kamu ingin? Jika cuma ingin semua orang akan menjawab ingin. Tapi jika ditanya kesiapan, belum tentu semua kan menjawab siap. Hanya mereka yang siaplah yang akan Allah berikan.

Jadi, persiapkanlah! Perbaiki hubungan dengan Allah, hubungan dengan diri sendiri dan hubungan dengan orang lain. Tunggulah keajaiban itu akan segera menyapa.

Tak perlu lagi bertanya jodohku dimana? Sebab jawabannya adalah jodoh itu tak akan kemana.

Indayana Ratnasari, Mahasiswa S2 Univesitas Negeri Yogyakarta
Foto : Atin

Agar Anak Tak Kecanduan Gadget

Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Perkembangan teknologi yang teramat pesat memang tak mampu kita cegah. Ibu bisa melihat bagaimana anak-anak di bawah umur sudah memegang ponsel di tangan, entah apa yang akan mereka lihat melalui benda elektronik tersebut. Sebagai orang tua, ibu perlu memperhatikan dan memberikan batasan penggunaan ponsel pada sang buah hati. Bukan karena tidak sayang, ini semata-mata bertujuan agar si kecil tidak kecanduan dan terkena dampak negatif dari gawai itu sendiri.

Mungkin, ibu masih bingung bagaimana membatasi pemakaian ponsel pada si kecil. Nah, tips bijak mengatur penggunaan gadget berikut ini mungkin bisa ibu terapkan:

Berikan Jadwal Penggunaan Gadget
Pertama, ibu bisa membuat jadwal kapan si kecil boleh bermain gadget dan kapan ia tidak boleh menyentuh benda tipis tersebut. Saat sedang makan dan berkumpul bersama keluarga adalah waktu yang tepat untuk ibu tidak memberikan ponsel pada anak, sehingga ia bisa menghabiskan waktu sepenuhnya bersama keluarga.

Agar si kecil tidak merengek, ibu bisa mengalihkan perhatiannya dengan mengajaknya bermain bersama. Temani ia bermain, sehingga ia tidak merasa bosan. Ciptakan permainan yang seru dan menarik, seperti bermain puzzle atau membaca cerita. Sembari bermain, ibu juga bisa mengajaknya bicara seputar

Orang Tua Juga Perlu Melek Teknologi
Nyatanya, anak lebih paham teknologi daripada orang tuanya. Inilah mengapa ibu dan ayah harus turut mengikuti perkembangan teknologi terkini, alias melek teknologi. Ibu bisa mulai dari mencari tahu apa saja media sosial yang sedang digandrungi oleh anak-anak. Lalu, hal-hal apa saja yang sedang sering dicari oleh si kecil. Tak ketinggalan pula aplikasi yang paling sering diunduh.
 
Perilaku orang tua selalu menjadi cerminan utama yang akan ditiru oleh anak. Inilah mengapa ibu dan ayah perlu selalu bersikap bijak serta menjadi teladan yang baik untuk sang buah hati, termasuk saat menggunakan ponsel. Sebaiknya, hindari memegang gadget ketika ibu atau ayah sedang bersama anak, karena ini akan membuat mereka jadi kecanduan ponsel pada akhirnya.

Isi Waktu dengan Kegiatan Bebas Gadget Lainnya
Tips mengatur penggunaan gadget selanjutnya adalah membuat waktu bebas gadget untuk si kecil. Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan berjibaku dengan gadget akan membuat anak tidak tahu apa yang harus dilakukan jika benda kecil tersebut tidak berada dalam genggaman. Oleh karena itu, cobalah jauhkan si kecil dari ketergantungan gawai dengan mengajaknya melakukan aktivitas lainnya.

Ajaklah anak untuk mengunjungi toko buku dan membaca buku favorit mereka. Ibu juga bisa mengikutsertakan anak dalam berbagai klub yang ia sukai, seperti misalnya sepakbola, basket, atau musik. Jangan lupa, ajari juga si kecil untuk bersosialisasi dengan tetangga atau teman-temannya.


Beritahukan Bahaya Kecanduan Gadget pada Anak
Tak hanya asal memberikan ponsel untuk anak dengan alasan untuk memudahkan komunikasi, ibu dan ayah pun membekali anak tentang bahaya penggunaan gadget secara berlebihan. Selain menjadikan mereka kecanduan, terlalu lama bermain gawai atau benda elektronik lainnya bisa membahayakan kesehatan mata. Terlebih jika anak memainkannya sembari tiduran.

Selain itu, beritahukan juga pada si kecil bahwa gawai akan membuat ia menjadi pribadi antisosial nantinya. Anak tidak akan suka bersosialisasi karena perhatiannya selalu terfokus pada layar di hadapannya. Ini tentu saja tak baik untuk pertumbuhan dan perkembangannya.


Itu tadi beberapa tips bijak mengatur penggunaan gadget pada anak yang bisa ibu coba.

Penulis : Prihatiningsih, S.Si. Guru SDIT Hidayatullah Yogyakarta

Sekolah Mencetak Pekerja atau Pengusaha?





Membaca Kolom Opini di sebuah koran harian lokal di Yogyakarta pada Senin (5/8/2019) dengan tema yang cukup menarik, yaitu sekolah mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT) memperhatikan tentang membangun visi murid-muridnya bukan hanya menjadi pekerja tetapi bisa juga membangun visi menjadi pengusaha.

Ini cukup menarik, di mana saat ini sekolah berlomba-lomba mencetak lulusannya siap bekerja, bukan siap berusaha. Jadi pada dasarnya sekolah dari SD hingga PT di negeri ini mencetak manusia menjadi pekerja bukan menjadi pengusaha. Jika semua mencetak pekerja lalu para lulusan itu tentu tidak bisa diterima semua di sebuah perusahaan yang ada di Indonesia, jadi otomatis tingkat pengangguran di negeri ini setiap tahun makin bertambah.

Nah, saatnya kurikulum sekolah di negeri ini dirubah tentang menjadi pengusaha ini, mulai dari soal-soal yang diberikan, study tour yang dilaksanakan bukan sekadar hanya urusan kesenangan belaka, dan masih banyak lagi yang harus dibenahi.

Tentunya semua komponen pendidikan harus disiapkan, mulai dari pemerintah, buku-buku, guru-guru, murid, hingga orangtua. Sehingga dambaan output sekolah menjadi pengusaha bukan sebuah wacana belaka. || MT

Foto : Murid SDIT Hidayatullah, di mana sekolah ini mengajarkan kewirausahaan sejak dini dalam sebuah event murid

Uang “Haram” Membuat Hidup “Karam”

Oleh : Jamil Azzaini

Sahabat saya yang bekerja disalah satu perusahaan ternama bercerita kepada saya. Ceritanya menarik dan inspiratif sehingga layak untuk bisa dijadikan pelajaran untuk disebarluaskan.

Bekerja di perusahaan ternama dengan gaji tinggi tentu merupakan salah satu kebahagiaan, begitu juga yang dirasakan sahabat saya ini. Bahkan dia sempat membanggakan diri “orang desa, gaji kota dan semuanya sudah terjamin, tidak perlu ada yang ditakutkan. Saya akan semakin kaya karena gaji besar, semua sudah diasuransikan dengan klaim tanpa batas, dijamin perusahaan. Penghasilan saya semakin besar bila cerdas dan tahu rahasianya.”

Rasa bangga yang berlebihan akhirnya menjelma menjadi kesombongan. Penghasilan yang halal atau haram pun tidak ia pedulikan, yang penting saldo tabungan selalu bertambah. Ia pun merasa tidak terlalu bergantung kepada Sang Pemilik Rezeki.

Seiring berjalannya waktu, Allah swt mengirim “pesan cintanya” kepada sahabat saya. Istrinya jatuh sakit dan mengharuskan dirawat di rumah sakit. Dan ternyata, penyakit yang di derita istri tidak dicover oleh asuransi, penyakit langka. Padahal biaya yang harus dikeluarkan ratusan juta rupiah. Uang yang ditabung sekian lama pun ludes tanpa sisa.
Setiap sahabat saya mempunyai tabungan yang cukup, sang istri masuk rumah sakit dengan biaya ratusan juta rupiah. Dan kejadian itu berulang beberapa kali.

Saat istri tidak memerlukan dana untuk biaya pengobatan, sahabat saya menggunakan dana tabungannya untuk modal berbisnis bersama temannya. Apa yang kemudian terjadi? Teman yang dipercaya dan menjadi mitra bisnisnya ternyata menipu dan membawa lari uang sahabat saya ini.

Sahabat saya ini mendapat pelajaran berharga yang disampaikan kepada saya “uang haram dan kesombongan akan membuat hidup kita karam dan berantakan.” Naudzubillah min dzalik. Kini, sahabat saya ini meninggalkan profesi yang ditekuninya, memulai profesi baru yang jauh dari uang “haram” dan memicu kesombongan.

Sahabat saya menyampaikan kepada saya, “penghasilan saya saat ini memang tidak sebesar dulu, tapi prospek ke depannya jauh lebih besar. Dan yang lebih penting, hidup saya menjadi lebih tenang dan seimbang.”

Meski cerita ini pengalaman pribadi sahabat saya, semoga menginspirasi dan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Jamil Azzaini, Motivator dan Penulis Buku