Comic Sans MS dan Pena Seorang Muslim

Oleh : Subliyanto*

2016 lalu saya berkunjung ke Kalimantan Selatan. Di sana oleh sahabat saya, saya ditunjukkan hal kecil yang unik tapi berbahaya, yaitu semut yang beracun. Jika kita digigitnya maka bisa mengalami demam tinggi. Dari informasi tersebut saya berhati-hati ketika berjalan kaki agar terhindar dari hewan tersebut.

Juli 2018 saya mendapat kiriman poster dari shabat saya, yang mengkampanyekan tentang poligami dengan analogi sebuah kenikmatan ngopi bareng. Informasi yang unik dan menarik, karena bab tersebut termasuk bab langka bahkan masih dianggap tabu oleh masyarakat awam, dan terlebih oleh kaum feminisme yang cenderung menolak bab poligami yang nyata dan jelas telah disyari’atkan.

Namun pada tulisan ini penulis tidak membahas bab poligami. Karena penulis menemukan hal yang lebih unik pada tulisan di poster itu, yaitu Comic Sans MS. Sebuah font tulisan yang menjadi opsi dalam Microsoft Office. Mendapat kiriman tersebuat sontak saya teringat guru saya yang mengajar aqidah pada tahun 2007 lalu.

Dalam tusyiahnya beliau menyampaikan agar seorang muslim harus berhati-hati dalam segala bentuk publikasi dan promosi, jangan sampai publikasi dan promosi yang kita sampaikan mengandung unsur yang dapat merusak aqidah kita, termasuk memilih font tulisan.

Comic Sans MS, merupakan sebuah font tulisan yang menjadi opsi dalam Microsoft Office yang disajikan untuk ragam tampilan tulisan. Terlepas dari apa tujuan dari hal tersebut. Sebagai seorang muslim patut kiranya untuk berhati-hati dan tidak menggunakan font Comic Sans MS ketika menulis, terlebih dalam penggunaan huruf kecil, karena font tersebut mengandung unsur kampanye lambang salib (t) pada huruf t-nya apabila digunakan sebagai huruf kecil.

Comic Sans MS termasuk hal kecil yang unik tapi berbahaya. Keberadaannya bak semut kecil yang beracun dan sulit terdeteksi jika kita tidak teliti dan hati-hati. Satu huruf syarat akan makna, satu kata mengandung unsur rasa, satu kalimat mengandung makna yang sempurna. Bagaima jika tulisan kita mencapai satu baris ? satu paragraf ? satu halaman ? bahkan satu buku ?. Berapa makna yang kita sampaikan ? berapa rasa yang kita kampanyekan ? dan berapa otak yang kita pengaruhi ? serta berapa dosa yang kita peroleh?. “Na’udzubillah, wa nastaghfirullah”

Untuk itu, mari kita lebih teliti dan lebih berhati-hati dalam segala hal, termasuk hal yang paling kecilpun agar bisa kiranya kita memilah dan memilih, supaya kita tidak terjebak dalam sebuah perangkap yang sudah diseeting dengan cantik, menarik dan elegan yang dapat menjerumuskan kita ke dalam jurang kesesatan. Wallahu A’lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan serta aktif dibidang jurnalistik, website www.subliyanto.id

Nak, Dengarkan Nasehat Ini! (bagian 2)

Oleh : Salim A. Fillah
Nak, semua orang akan kembali kepada Allah setelah matinya; tapi berbahagialah mereka yang telah melangkah menuju Allah di sepanjang hidupnya.”
Baca : Nak, Dengarkan Nasehat Ini! (bagian 1)

“Nak, sebab hidup ini adalah ibadah kita kepada Allah, maka tugas kehambaan kita adalah mengemudi hati ini agar selalu mengarah padaNya, menuju padaNya. ”
“Nak, jalan lurus menuju Allah bukanlah jalan yang mulus, yang bebas hambatan, yang tanpa aral, tanpa tikungan tajam, tanjakan terjal, ataupun turunan curam, hingga semua harap terjawab dan semua keinginan tercapai. ”
“Nak, jalan sejati itu adalah pendakian berliku yang telah ditempuh orang-orang yang diberi nikmat, dari Adam sampai Muhammad ﷺ, bukan jalan orang yang dimurkai, dan bukan jalan orang yang sesat.”

Banyak Dalih, Susah Maju


Oleh: Dahlan Iskan

Begitu sering saya ke Amerika. Tulisan saya pun lebih banyak tentang negeri itu. Mirip sekarang yang lebih banyak tentang Tiongkok. Bahkan hal kecil pun saya tulis.

Misalnya soal keheranan orang Amerika atas sepakbola. Waktu piala dunia dilaksanakan di sana. Mengapa di lapangan begitu luas wasitnya hanya satu. Padahal di basket yang lapangannya lebih kecil dan pemainnya hanya lima wasitnya dua. Belum lagi mengapa skor akhirnya begitu miskin. Hanya 1-2 atau bahkan 0-0. Mengapa ketika terjadi gol teriakannya begitu panjang dan seru dan ternyata hanya untuk satu gol. Bukan sebuah three point. Mengapa satu babak, katanya 45 menit tapi sampai menit ke 48 belum dinyatakan selesai.
Tentu lebih banyak lagi yang serius. Tentang kehebatan Amerika. Maksud saya: agar kita bisa meniru. Setidaknya terinspirasi. Agar Indonesia juga maju.

Ternyata respons kita tidak begitu. Reaksi kita pada umumnya justru negatif: Amerika kan sudah 200 tahun merdeka. Kita kan (waktu itu) belum 50 tahun. Mana bisa dibanding-bandingkan.

Pemerintah cenderung selalu punya dalih untuk tidak bisa membuat negara maju. Waktu itu.

Ternyata itu benar-benar hanya dalih. Terbukti saat saya sering menulis tentang kemajuan Singapura respons kita juga dalih. Padahal Singapura lebih belakangan merdeka. Juga miskin sekali. Tapi dalih selalu tersedia: Singapura kan negara kecil. Hanya satu pulau mini. Penduduknya hanya 2 juta (saat itu). Pantas saja kalau lebih maju. Membangunnya gampang. Kita tidak usah iri. Apalagi menirunya. Kalau Singapura rewel terhadap kita gampang saja. Tidak perlu perang. Cukup kita semua ramai-ramai kencing bersama di sana. Singapura sudah tenggelam.

Tahun 1990-an saya diajak teman-teman pengusaha Surabaya ke Nanjing. Ibukota Tiongkok di zaman lama. Untuk ikut kongres pengusaha Tionghoa sedunia. Sayalah satu-satunya yang berkulit coklat di lautan orang kaya sedunia itu. Belum bisa bahasa mandarin pula. Saya tidak mengerti apa pun yang dibicarakan.
Saya kaget. Tiongkok sudah sangat berbeda dengan yang pernah saya lihat. Hanya berselang empat tahun. Kemiskinan masih terlihat di mana-mana. Tapi pembangunan juga mewabah di segala area.

Gedung pencakar langit, jalan yang diperluas, kampung yang digusur terlihat tidak habisnya. Mobil sudah begitu banyak. Toko sudah penuh dengan pajangan.

Memang masih banyak wanita muda cuci rambut dengan air baskom di pinggir-pinggir jalan. Yang air samponya dibuang begitu saja di parit. Itulah salon kecantikan kelas kaki lima. Di mana-mana. Tapi salon yang beneran juga sudah mulai ada.

Kesadaran untuk tampil cantik muncul seperti tiba-tiba. Seperti juga kesadaran untuk mulai membuka usaha. Benar-benar seperti kuda yang sudah lama dikekang.

Dulu wanita hanya boleh bercelana panjang dan berbaju Mao. Kainnya satu warna: abu-abu. Rambutnya hanya boleh dikepang. Dulu, semua usaha milik negara.
Toko kelontong pun milik negara. Warung jualan bakpao pun milik negara.

Maka begitu Deng Xiaoping menggantikan Mao Zedong semua berubah. Rakyat boleh berusaha. Boleh jualan. Wanita boleh bersolek. Boleh pakai baju apa pun.
Deng Xiaping dikenal dengan dua fatwanya: 1) Menjadi kaya itu satu kemuliaan. 2) Tidak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.

Tahun-tahun berikutnya adalah tahun sejarah: mengalahkan Indonesia, mengalahkan Italia, mengalahkan Inggris, mengalahkan Jerman dan akhirnya mengalahkan Jepang.

Tinggal Amerika yang belum. Mungkin tak lama lagi. Dulu ekonomi Tiongkok hanya sebesar satu negara bagian Amerika.

Kini ekonomi satu kota Shenzhen saja sudah lebih besar dari negara Filipina.
Selamat tinggal kemiskinan. Selamat tinggal riuhnya ting-tong bel sepeda. Selamat tinggal baskom di tepi jalan.

Sejak itu saya jatuh hati pada Tiongkok. Terutama pada semangatnya untuk maju. Pada caranya untuk maju. Dan pada perencanaan target kemajuan itu.

Inilah negeri yang miskinnya melebihi Indonesia. Yang besarnya melebihi Indonesia. Yang tahun merdekanya kurang lebih sama dengan Indonesia. Kok bisa maju.

Adakah kita masih punya dalih? Untuk ketidakmajuan kita? Akankah kita mau kencing bersama di sana?
Itulah jawaban atas pertanyaan mahasiswa S3 Universitas Pajajaran Bandung itu.
Saya harus banyak menulis tentang Tiongkok. Saya bisa 12 kali setahun ke sana. Paling tidak tiga kali setahun. Ke kota besarnya. Ke kota kecilnya. Ke pelosok-pelosok desanya.
Ke pojok seperti Xixuangbanna. Di perbatasan Myanmar. Ke Dandong di perbatasan Korea Utara. Ke Heihe di perbatasan Rusia. Ke Xinjiang yang mayoritas muslim. Ke Ningxia dan Qinghai yang bergurun dan penuh masjid.

Untuk melihat negeri itu secara keseluruhan. Untuk berbelanja semangat. Agar setidaknya diri saya sendiri tidak malas. Dan tidak mudah berdalih. Semua itu atas biaya sendiri. Bukan dari pemerintah Amerika…eh Tiongkok.

Mungkin kita masih akan menemukan dalih lain. Misalnya: Tiongkok kan komunis.
Yaaa… sudahlah. Kalau begitu…Selamat beraktifitas.

Buat Anak Bercerita

Oleh : Imam Nawawi

Sekali waktu sempatkanlah waktu duduk bersama anak-anak di rumah. Tak perlu melulu jalan-jalan. Karena di daerah penyangga ibukota, weekend kadang menjadi horor tersendiri, macet dimana-mana.
Duduklah bersama mereka kala pagi, dan ajaklah mereka berdialog atau bercerita. Suharsono dalam bukunya Mencerdaskan Anak merekomendasikan hal ini.

“Sebanyak mungkin kita perlu merangsang agar anak-anak mau bercerita tentang keinginannya, cita-citanya dan apa yang ditakutkannya.

Di sini, sebenarnya ada proses yang menarik, dimana naak-anak belajar mengeksresikan diri. Mungkin kata atau kalimatnya belum fasih benar, tetapi yang lebih penting dari itu adalah upayanya untuk membangun argumentasi, konsistensi dan upayanya untuk menjelaskan dirinya kepada pihak lain.
Jika hal ini bisa dilakukan secara kontinu, maka anak-anak kita dalam usia dini tidak akan mengalami problem psikologis (introvert), sebaliknya akan menjadi anak progresif dan cerdas” (lihat halaman: 170).
Kala orang tua secara konsisten bisa mempertahankan kesukaan anak bercerita, maka itu akan memberikan dampak positif yang cukup baik.

Pertama, mendorong anak untuk memiliki kecerdasan berbahasa. Kedua, jika cerita yang disampaikan berkualitas, terlebih bersumber dari sejarah kehidupan orang sholeh, maka anak akan berkesempatan membentuk kepribadian yang lebih baik.

Ketiga, kondisi tersebut akan mendorong anak memiliki kreativitas. Keempat, menumbuh dan mengembangkan daya pikir anak. Kelima, mendorong kuatnya imajinasi dan kesadaran anak. Keenam, akan membuat anak merasa nyaman dengan orang tua, sehingga ia tak seperti kucing bertemu air kala di dalam rumah, dimana selalu ingin keluar dan terus keluar.

Sadarlah bahwa anak adalah peniru ulung di dunia. Semakin kita bisa mengajak mereka banyak bercerita hal baik, terlebih bersumber dari sejarah kehidupan manusia agung dalam Islam, insya Allah anak-anak kita akan tumbuh menjadi manusia berkarakter dan berakhlak.

Suharsono menegaskan, “Peranan orang tua dalam memberikan contoh perilaku, bertutur kata dan beribadah, merupakan “guru” yang sesungguhnya dalam proses identifikasi diri (anak).”
Jakarta, 7 Zulqaidah 1439 H

Imam Nawawi >>> twitter @abuilmia

Nasehat itu Qalla Wa Dalla

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Apa yang paling berharga dari perjalanan jauh bersama anak? Bukan asyiknya makan bersama, bukan pula sekedar canda, meskipun ini merupakan pengalaman penting yang bermakna bagi anak.

Lalu apa yang sangat perlu kita rebut saat bersama anak? Menanamkan prinsip hidup dan nilai-nilai hidup secara sengaja dalam suasana yang nyaman dan pada saat berharga untuk anak kita. Anak yang memiliki prinsip hidup semenjak awal, meskipun ia sulit mendefinisikan, cenderung memasuki masa remaja tanpa perlu mengalami keguncangan. Ada arah yang ia mantap untuk melangkah.

Tetapi perjalanan bersama bisa berubah menjadi kesempatan yang sangat membosankan dan bahkan melelahkan jika sepanjang perjalanan kita hujani anak dengan nasehat nyaris tanpa henti. Prinsip dasar nasehat itu qalla wa dalla (ringkas, padat, mudah dipahami). Selain itu hendaklah kita sabar dalam menyampaikan. Tidak tergesa-gesa. Tunggu saat yang tepat. Benar itu harus. Tak dapat ditawar-tawar lagi. Tetapi itu tidak cukup. Kita perlu sabar dan penuh kasih-sayang.

Inilah yang kita perlu senantiasa berusaha seraya memohon pertolongan Allah 'Azza wa Jalla agar dapat berlaku lembut, sabar dan tenang.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku

Tagihan Listrik Melonjak Tajam


Oleh: Prof. Dr. Ir. Indarto, D. E. A.

“Pak tagihan listrik bulan ini kok naik cukup banyak ya... “

Pertanyaan itu disampaikan oleh seorang istri tetangga kepada suaminya yang kebetulan kami sedang silaturahmi di rumahnya.

“Ah, masak ibu lupa” jawab suami.

“Kan bulan yang lalu si Budi (bukan nama sebenarnya) liburan dua minggu di sini."

Budi adalah suami dari salah satu putrinya yang tinggal di kota lain dan bekerja di salah satu BUMN.

Lalu apa hubungan antara lonjakan biaya langganan listrik dengan keberadaan menantu yang tinggal selama setengah bulan di rumahnya.

Ternyata Budi bersama istri dan anak-anaknya selama berlibur di rumah itu tidak pernah mematikan AC dan lampu kamar-kamar yang mereka tempati, baik itu siang maupun malam.

AC dan beberapa lampu selalu hidup, meskipun mereka tidak membutuhkannya. Bahkan ketika mereka pergi jalan-jalan ke luarpun, peralatan penyedot listrik itu tidak dimatikan.

Jadi alat pendingin udara yang mengkonsumsi listrik dalam jumlah besar itu hidup terus menerus selama mereka tinggal di rumah itu.

Bagaimana tidak melonjak pembayaran listriknya, kalau misal AC untuk satu kamar berkekuatan 1 pk saja sudah menyedot listrik sekitar 750 watt atau 0,75 kwatt. Artinya kalau tarif listrik saat ini untuk penggunaan 1 kwatt selama satu jam sebesar Rp. 1.400,- maka pemakai AC tersebut dalam satu jam harus membayar 0,75 x Rp. 1.400,- atau sebesar Rp. 1.050,- ini untuk satu AC, sehingga untuk dua AC Rp. 2.100,-. Ini baru penggunaan selama satu jam.

Sehingga tidak mengherankan kalau istri tetangga tadi kaget karena rekening listriknya melonjak tajam. Lonjakan rekening yang merupakan pemborosan ini hanya gara-gara pemakaian AC dan lampu-lampu yang tidak diatur dengan baik. Mestinya setiap mereka keluar dari kamar, AC dan lampu dimatikan.

Selain kerugian dalam bentuk pemborosan dari rupiah yang harus dibayarkan, juga kerugian lingkungan.

Ketika AC tidak dimatikan berarti pembakaran bahan-bakar (yang menghasilkan gas CO2) untuk menghasilkan listrik yang dipakai AC tetap berlangsung. Padahal tidak ada orang yang memanfaatkan AC di dalam ruangan.

Seperti halnya ketika ada seminar-seminar di hotel yang pesertanya terpaksa memakai jaket karena kedingingan, gara-gara penyetelan temperatur AC yang terlalu rendah, artinya AC mengambil listrik berlebihan dan ini tidak termanfaatkan, atau bahkan merugikan karena peserta seminar kedinginan.

Kalau diingatkan mungkin mereka akan mengatakan

“Lho...yang membayar listrik kan saya, sehingga saya berhak untuk menggunakan untuk apa saja. Itu terserah saya”.

Kita tidak bisa mengatakan seperti itu. Mereka lupa bahwa setiap sekian kilowatt dari listrik yang dihasilkan oleh PLN, berarti ada sekian kilogram batubara atau minyak yang harus dibakar, berarti ada sekian kilogram gas CO2 yang dilepaskan ke udara yang merugikan semua orang. Termasuk kalau siang hari kita lupa mematikan lampu, berarti kita juga menambah polusi udara tanpa ada kemanfaatan.

Kerugian karena polusi udara tersebut bisa dihilangkan seandainya untuk menghasilkan listrik, kita memanfaatkan energi terbarukan seperti energi air terjun dari bendungan. Juga energi panas bumi atau geothermal yang memanfaatkan uap yang dipanaskan oleh magma di dalam perut bumi, energi angin atau energi matahari.

Semua sumber energi itu dapat menghasilkan energi listrik tanpa adanya proses pembakaran. Sayangnya di Indonesia penggunaan energi terbarukan ini porsinya masih sangat sedikit.

Namun yang cukup menarik selain soal pemborosan rupiah dan polusi udara, adalah perilaku menantu tetangga tadi. Para tetangga sudah tahu bahwa gelar kesarjanaannya adalah ST atau sarjana teknik, yang mestinya dia mengetahui tentang bagaimana cara menggunakan energi dengan benar.

Dengan perilakunya seperti itu, berarti ilmu yang dia pelajari, yang dia dapatkan dari hasil pendidikan di perguruan tinggi tidak dipakai untuk kehidupan sehari-hari, tidak mempengaruhi ketidakpeduliannya terhadap polusi udara.

Memang tidak menjamin bahwa setiap orang akan selalu mengaplikasikan ilmu yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya teman kami seorang dokter yang beberapa waktu yang lalu meninggal karena jantungnya rusak akibat terlalu banyak merokok.

Wallahu Alam Bishawab.||

Penulis: Prof. Dr. Ir. Indarto, D. E. A., Pemimpin umum majalah fahma

Kapan Sebaiknya Anak Mondok (bagian 3)


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

>>> Memisahkan Anak dari Ibunya Sebelum ‘Aqil Baligh
Jika memasukkan ke pondok pesantren merupakan bagian dari ikhtiar untuk mendidik anak menuju taklif sehingga pada waktunya anak memiliki kesiapan ilmu, fisik dan mental untuk mengemban amanah dari Allah subhanahu wa ta’ala, lalu bagaimana dengan larangan memisahkan anak dari ibunya sebelum ‘aqil baligh? Bukankah ‘aqil baligh itu merupakan pertanda bahwa seseorang seharusnya sudah sepenuhnya menjadi seorang mukallaf yang harus mempertanggung-jawabkan sendiri perbuatannya?
Baca : Kapan Sebaiknya Anak Mondok (bagian 2)
Mari kita perhatikan hadis berikut ini:
عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه ، يقول : نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يفرق بين الأم وولدها . فقيل : يا رسول الله إلى متى ؟ قال : حتى يبلغ الغلام ، وتحيض الجارية

Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam melarang memisahkan antara ibu dan anaknya. Ada yang bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah, sampai kapan?” “Sampai mencapai baligh bagi laki-laki dan haid bagi perempuan,” jawab beliau. (HR. Al-Hakim dalam Mustadraknya. Al-Hakim berkata bahwa hadis tersebut sanadnya shahih).

Di dalam hadis lain, bahkan terdapat ancaman yang sangat keras:
عَنْ أَبِى عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِىِّ عَنْ أَبِى أَيُّوبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى اللهعليه وسلم - يَقُولُ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدَةِ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abu ‘Abdirrahman Al Hubuliy, dari Abu Ayyub, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan dia dan orang yang dicintainya kelak di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan).

Dipisahkan dari orang yang kita cintai merupakan musibah yang sangat besar di Yaumil Qiyamah. Tidak akan bisa dua orang yang saling mencintai berkumpul dan bersatu kecuali apabila keduanya masuk surga-Nya Allah ‘Azza wa Jalla. Tetapi, apakah hadis ini melarang seorang anak meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu? Bukan. Hadis ini berisi ancaman untuk pemisahan permanen, baik berkaitan dengan hak asuh jika terjadi perceraian maupun dalam kasus jual beli budak. Adapun berpisah untuk sementara, semisal anak bersekolah di Full Day School, maka guru SDIT tidak terancam masuk neraka gara-gara memisahkan anak dari ibunya, padahal belum usia ‘aqil baligh. Begitu pula anak-anak yang dimasukkan ke TK Full Day, tidak ada dosa bagi orang guru untuk mengajar, meskipun anak dipisahkan dari emaknya selama seharian

Agar pemahaman mengenai hadis ini lebih utuh, mari kita bincang lebih jauh. Semoga dengan demikian tidak ada keraguan pada diri kita dalam memahami dan mengamalkan. Sesungguhnya hak asuh anak ada pada seorang ibu. Jika terjadi perceraian misalnya, ibulah yang berhak mengasuh anaknya. Ia lebih berhak dibandingkan ayah dari anak itu. Meskipun demikian, hak tersebut dapat berubah disebabkan oleh beberapa keadaan. Apa saja itu?

Pertama, Ar-Riqqu

Apakah yang dimaksud dengan Ar-Riqqu? Seseorang yang berstatus sebagai budak. Ia tidak mempunyai hak kecuali “sedikit”. Mengapa? Hadhanah (pengasuhan) merupakan salah satu jenis wilayah (tanggung jawab), sementara seorang budak tidak memiliki hak atas wilayah disebabkan ia akan disibukkan dengan pelayanan terhadap majikannya dan segala yang ia lakukan terbatasi hak tuannya.

Kedua, Orang Fasiq

Secara sederhana fasiq adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tidak mengikuti perintah-Nya dan banyak bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan rasul-Nya. Dia muslim, tetapi jauh dari ketaatan dan banyak melakukan kemaksiatan. Ia tidak dapat mengemban tanggung jawab pengasuhan, tidak pula dapat diberi kepercayaan untuk mendidik iman maupun akhlak anak.

Hak asuh anak terlepas dari orang yang fasiq. Keberadaan anak bersamanya, terlebih jika sangat dekat hubungannya, akan mempengaruhi perkembangan dan bahkan pertumbuhan anak di waktu-waktu berikutnya. Mengapa? Ia akan mendidik anak sesuai dengan kebiasaan buruknya.

Ketiga, Wanita Kafir

Buruknya kefasiqan itu lebih ringan dibandingkan buruknya kekafiran. Padahal fasiq itu sudah sangat buruk. Maka seorang ibu yang kafir tidak boleh diserahi hak mengasuh anak yang beragama Islam. Bahaya yang muncul darinya lebih besar.

Keempat, Telah Menikah Lagi dengan Lelaki Lain

Dalam masalah pengasuhan anak, ibulah yang lebih memiliki hak yang utama. Akan tetapi hak yang diberikan oleh agama ini akan gugur dengan sendirinya apabila ia menikah lagi dengan laki-laki ajnabi (laki-laki lain). Maksudnya, lelaki yang bukan dari kalangan ‘ashabah (pewaris) anak yang diasuhnya. Tetapi, hak asuh ibu tidak hilang apabila ia menikah lagi dengan laki-laki yang masih memiliki hubungan tali kekerabatan dengan si anak.

Begitu pula wanita yang diceraikan suaminya, kemudian ia menikah dengan lelaki ajnabi, maka maka hak asuhnya gugur. Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي

“Engkau lebih berhak mengasuhnya selama engkau belum menikah.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Beberapa hal di atas menunjukkan bahwa pemisahan anak dari ibunya sebelum ‘aqil baligh memiliki beberapa aturan. Semua itu berkait dengan pemisahan secara permanen, yakni hilangnya hak asuh ibu terhadap anaknya. Adapun memasukkan anak ke pondok pesantren, lebih-lebih jika itu merupakan inisiatif ibu, tidak termasuk yang dimaksud dalam larangan memisahkan anak dari ibunya pada dua hadis di atas.

Wallahu a’lam bish-shawab.

...ini merupakan bagian ketiga dari seri status tentang Kapan Sebaiknya Anak Mondok...
...masih bersambung lagi, ya....

Kapan Sebaiknya Anak Mondok (bagian 2)


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

>> Memasukkan Anak Di Pesantren Saat Balita

Sebagian orangtua bertanya tentang memasukkan anak ke pondok pesantren pada saat anak masih di bawa usia lima tahun alias balita. Pertanyaan tersebut mengingatkan saya kepada sebuah hadis yang terdapat dalam Adabul Mufrad. Imam Bukhari memasukkannya ke dalam bab yang diberi judul “Menyayangi Keluarga” untuk menunjukkan bahwa yang demikian ini termasuk bagian dari bentuk kasih-sayang terhadap keluarga, dalam hal ini anak.
Baca : Kapan Sebaiknya Anak Mondok (bagian 1)
Dari Anas bin Malik radhiyaLlahu 'anhu berkata:
كان النبي صلى الله عليه وسلم أرحم الناس بالعيال وكان له بن مسترضع في ناحية المدينة وكان ظئره قينا وكنا نأتيه وقد دخن البيت باذخر فيقبله ويشمه

"Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling sayang terhadap anak-anaknya, dan beliau mempunyai anak yang sedang disusukan pada salah seorang di satu kampung, sedangkan suami orang yang menyusui itu seorang tukang besi. Kami mendatanginya dan rumah orang itu berasap sebab rumput idzir. Lalu Nabi menyayangi dan menciumnya (anak beliau)." (HR. Muslim; Bukhari di dalam Adabul Mufrad).

Hadis ini memberi beberapa pelajaran kepada kita. Pertama, mengenai adanya kebolehan dan bahkan kebaikan menyusukan bayi kepada orang lain, meskipun ibunya dapat menyusui anak tersebut. Kedua, menyusukan bayi kepada ibu susu dapat dilakukan cara bayi tersebut tinggal bersama ibu susu dan berpisah dari ibu kandungnya sampai beberapa masa.

Dari sini kita juga dapat mengambil kesimpulan bahwa seorang anak dapat dipisahkan dari ibunya pada masa bayi. Menyusukan kepada orang lain ini bukanlah terutama berkaitan dengan soal kualitas ASI, melainkan justru yang paling utama adalah proses penyusuannya itu sendiri. ASI sangat bermanfaat. Tetapi ada yang jauh lebih besar, yakni proses penyusuannya. Salah satu pengaruhnya ialah terhadap terjaga tidaknya tsiqah (trust) anak kepada orang dewasa terdekat secara aman dan berkualitas. Ini membawa pengaruh pada kemandirian anak secara emosional. Jika anak tidak memiliki kepercayaan yang aman, misalnya, anak bisa mudah menangis cemas manakala ditinggal oleh ibunya, meskipun ujung jilbabnya masih tampak dan suaranya masih terdengar.

Apa pertimbangan dalam memilih ibu susu? Pertama, kebaikan agamanya. Kedua, keluhuran akhlaknya. Ketiga, kasih-sayang dan kelembutannya dalam mengasuh anak. Keempat, kefasihan lisannya karena ini sangat mempengaruhi perkembangan anak di masa-masa yang akan datang. Kelima atau pertimbangan terakhir barulah faktor yang berkait dengan kemampuannya menghasilkan ASI, karena tidak mungkin menyusukan anak kepada orang yang tidak keluar air susunya.

Apa pelajarannya? Kualitas pribadi ibu susu dalam mengurusi anak dan memberi perhatian secara khusus sangat penting bagi perkembangan anak secara keseluruhan. Nah, inilah yang saya tidak berani menyimpulkan dalam kaitannya dengan pesantren tahfidz khusus balita. Saya juga tidak mendapati riwayat shahih yang dapat menjadi sandaran untuk menyarankan, tidak pula dari psikologi. Saya justru teringat tentang zaman fitnah yang ditandai, pada masa pada masanya (kelak), banyak penghafal Al-Qur’annya, tetapi sedikit sekali fuqahanya, yakni orang yang benar-benar sangat matang ilmu agamanya.

Satu lagi, pembahasan mengenai ibu susu menunjukkan bahwa terpisahnya seorang anak usia balita dari ibu kandung mengharuskan adanya sosok yang dapat memberi perhatian secara personal kepada anak, melimpahinya kasih-sayang, memperhatikan dan memberinya pengasuhan yang baik.

Wallahu a’lam bish-shawab.
(...bersambung lagi...).

Kapan Sebaiknya Anak Mondok (bagian 1)


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa hal yang perlu kita ingat. Ini sebagai pertimbangan apakah kita perlu memasukkan anak kita ke pondok pesantren atau tidak. Apa saja itu? Hal yang paling pokok adalah mengenai tugas kita mengantarkan anak agar menjadi mukallaf tepat pada waktunya.

Siapa itu mukallaf? Orang yang telah dikenai taklif atau bebanan syari’at secara sempurna. Artinya, menurut agama dia sudah dianggap atau sudah dituntut untuk menjadi manusia dewasa. Kapankah seseorang itu dianggap mukallaf? Menurut para ulama, seseorang dapat mencapai mukallaf pada usia 9 tahun. Dapat itu berarti bukan merupakan keniscayaan, tetapi sangat mungkin terjadi. Secara lebih spesifik, anak dianggap sebagai mukallaf apabila sudah mengalami ihtilam alias mimpi basah. Bagi seorang perempuan, menstruasi untuk pertama kali alias menarche merupakan ukuran telah mukallaf atau belum.

Jadi, kalau sekarang ada yang meributkan datangnya masa menstruasi sebelum anak usia 10 tahun, sebenarnya bukan isu baru. Lihat misalnya dalam Safinatun Najah, kitab pengantar fiqh yang dulu kita pelajari di berbagai mushalla saat kita SD kelas satu atau kelas dua. Pembahasan tentang usia mukallaf sudah ada di sana, termasuk kaitannya dengan mens untuk pertama kali.

Mendidik Anak Menuju Taklif
Bagaimana menyiapkan anak agar minimal memiliki ilmu yang termasuk fardhu ‘ain sebelum menjadi seorang mukallaf? Jika memang mampu, didik sendiri di rumah tidak masalah. Kita bekali mereka ilmu-ilmu yang memadai dalam soal agama ini. Semua yang termasuk ilmu fardhu ‘ain kita sampaikan dan ajarkan hingga anak benar-benar memahami secara matang.

Akan tetapi, jika kita tidak mampu melakukannya, maka kita perlu menyiapkan diri kita sendiri dan anak untuk mendatangi ilmu. Sesungguhnya, ilmu itu didatangi. Bukan mendatangi. Siapa yang harus didatangi? Orang-orang yang berilmu, baik anak tinggal bersama guru ataupun pulang ke rumah. Tinggal bersama guru bisa dalam bentuk tinggal di rumahnya atau tinggal di tempat yang telah disediakan oleh guru baginya

Usia berapa itu? Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu tinggal bersama Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, diserahkan oleh orangtuanya untuk membantu Rasul, sejak usia 7 tahun. Berapa lama masanya? 10 tahun. Apa takarannya di sini? Sudah mumayyiz. Orangnya disebut mumayyiz, kemampuannya disebut tamyiz.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:
“Ibu membawaku untuk menemui Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Ibuku berkata, ‘Wahai Rasulullah tidak tersisa seorangpun dari kaum Anshar baik lelaki atau perempuan melainkan telah memberikan kenangan untukmu, sementara aku tidak dapat memberikan apa-apa kecuali anakku ini. Karena itu ambillah dia jadikan sebagai pembantumu.’

Lalu aku menjadi pembantu Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam selama 10 tahun, dan selama itu beliau belum pernah memarahiku, belum pernah mencelaku dan belum pernah bermuka masam kepadaku atau memalingkan wajahnya dariku.”

Bukankah ini tidak berkenaan dengan mondok? Ada tiga hal di sini. Pertama, ibunya menyerahkan kepada sosok yang sangat mulia, pendidik yang terbaik, untuk menjadi pembantu sebagai bukti kecintaan kepada Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, menyerahkan kepada pendidik terbaik untuk membantu berarti mempercayakan kebaikan anak itu kepada orang yang kepadanya diserahkan anak itu, yakni Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga, usia Anas bin Malik saat itu belum mencapai ‘aqil baligh. Belum mukallaf. Bahkan amrad (kisaran 10 tahun) pun belum. Anas bin Malik diserahkan kepada Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam saat baru berusia 7 tahun. Usia tamyiz. Sebagian lainnya menyebutkan usia 8 tahun.

Bukankah kita dilarang memisahkan anak dari ibunya sebelum anak mukallaf? Pertama, contoh terbaik dan panutan yang paling konsisten dengan syari’at ini adalah Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Tidak mungkin beliau menerima Anas bin Malik seandainya itu merupakan perbuatan melawan syari’at. Kedua, para sahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan sebaik-baik generasi; periode yang paling gigih dalam menerima tuntunan Islam dan melaksanakannya. Ketiga, hadis yang menjadi sandaran sebagian orang peruntukannya adalah berkenaan dengan hak asuh. Khusus mengenai ini, insya Allah bahas tersendiri.

Imam Syafi’i. Beliau sangat dikenal keilmuannya. Peletak dasar ‘ushul fiqh yang sangat disegani. Lahir di Gaza, Palestina; salah kawasan Bumi Syam yang penuh barakah. Saat kecil, ia pindah ke Makkah ke kampung asal keluarganya setelah ayahnya wafat. Ia tinggal bersama ibunya dan mengambil ilmu dari para ulama terkemuka yang ada di sana.

Pada usia 12 tahun, Imam Syafi’i meninggalkan Makkah dan berguru kepada Imam Malik bin Anas. Adakalanya ia kembali ke Makkah. Tetapi ini jelas tidak mungkin dilakukan setiap hari. Ketika itu transportasi tidak sebagus sekarang. Makkah – Madinah berjarak 457 km. Menggunakan transportasi bis seperti sekarang pun, tidak mungkin setiap hari pulang pergi.

Kelak pada usia 16 tahun, Imam Syafi’i telah memiliki kematangan ilmu sehingga layak memberikan fatwa. Tetapi poin penting bagi kita adalah, langkah untuk meninggalkan rumah menuntut ilmu dilakukan sebelum mencapai mukallaf.

(bersambung, insya Allah....)

Bersahabat dengan Galau

Oleh : Jamil Azzaini

“Perfection is the enemy of progress,” kata Winston Churchil. Saat kita merasa apa yang kita perjuangkan telah mencapai kesempurnaan, maka pada titik itulah sesungguhnya kita berhenti bertumbuh. Ketika kita merasa top bahkan merasa yang terbaik di bidangnyq, maka sesungguhnya di situlah awal dari ketertinggalan kita.

Kita perlu galau, tidak boleh merasa sempurna. Kegalauan itu membuat kita terus belajar dan jauh dari kesombongan. 

Galau juga membuat kita waspada akan kehidupan setelah dunia sehingga kita punya dorongan yang kuat untuk mendekat kepada-Nya.

Galau bisa juga wujud dari sense of crisis sehingga kita bisa lebih sensitif. Sadar akan perubahan di sekitar kita sehingga mendorong kita berubah dan berbenah.

Galau itu manusiawi jadi jangan ditakuti. Galau itu hanya perlu dikelola. Justeru bila sudah lama kita tidak galau kita perlu waspada, karena pasti ada yang salah dalam hidup kita.

Saat ini pun saya sedang galau memikirkan bisnis, kondisi negeri ini, pertempuran politik, kezaliman di berbagai belahan dunia, dan kehidupan seperti apa yang saya jalani setelah mati.

Apakah Anda juga sedang galau?

Salam SuksesMulia, Jamil Azzaini
Sumber : www.jamilazzaini.com

Maksiat Menghadirkan Kegelapan di Hati Pelakunya


Oleh : O. Solihin

Pelaku maksiat merasakan kegelapan di dalam hatinya sebagaimana merasakan gelapnya malam jika telah larut. Ketaatan adalah cahaya dan maksiat adalah kegelapan. Jika kegelapan menguat, maka kebingungan juga bertambah sehingga pelakunya terjatuh dalam berbagai bid’ah dan perkara yang membinasakan, sedangkan ia tidak menyadarinya.

Kegelapan maksiat akan menguat hingga terlihat di mata, lalu menguat lagi sampai menyelimuti wajah, dan menjadi tanda hitam, hingga setiap orang mampu melihatnya.

Abdullah bin Abbas berkata:

“Sesungguhnya kebaikan mempunyai sinar di wajah, cahaya hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan pada tubuh, serta cinta di hati para makhluk. Sesungguhnya keburukan memiliki tanda hitam di wajah, kegelapan di hati, kelemahan di tubuh, kekurangan dalam rezeki, serta kebencian di hati para makhluk.”

Dalam keterangan riwayat di buku dikatakan penulis belum menemukan atsar tsb yang sumbernya dari Ibnu Abbas Radiallahu anhu. Namun ada yang semisal dengannya berupa penggalan perkataan Ibrahim bin Adham yang diriwayatkan al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab (no.6828). Hal ini juga diriwayatkan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (II/161) secara mar’fu dari Anas, tetapi itu adalah hadist munkar, sebagaimana komentar Abu Hatim dalam Ilalul Hadiist (1909). [Kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, karya Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah].

Penulis : O. Solihin, Motivator

Melon




Oleh: Ana Noorina

Buah melon memiliki banyak manfaat serta kaya kandungan zat dan vitamin yang terdapat di dalamnya. Pada satu buah melon, terkandung 60 kalori dan 14 gram kandungan gula alami.

Selain itu, manfaat buah melon juga dapat memberikan energi, serta kadar lemak yang rendah. salah satu manfaat buah melon adalah mengandung dosis kalium seimbang untuk tubuh, pada satu cangkir (100 gram) daging buahnya. Kalium dalam melon ini juga membantu mencegah naiknya tekanan darah.

Buah melon mengandung vitamin C yang berguna baik untuk  kesehatan. Perharinya, kita bisa mengonsumsi satu cangkir melon, yang sama dengan kebutuhan harian vitamin C Anda. Vitamin C berguna baik untuk tubuh, karena bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membantu mencegah penyakit serta infeksi yang menyerang.

Buah melon mengandung sejumlah serat yang membantu mengatur pencernaan serta menurunkan kadar kolesterol tubuh secara keseluruhan. Pencernaan yang baik, biasanya berhubungan juga dengan buang air secara teratur. Artinya, dengan makan buah melon, bisa  mengurangi kemungkinan adanya masalah pencernaan, seperti sembelit contohnya.

Selain itu, melon juga merupakan buah yang rendah kalori. Jadi kalau ingin diet, boleh Anda memperhitungkan melon sebagai asupan diet.

Manfaat buah melon ini akan banyak membantu tubuh untuk menjaga kestabilan berat badan, serta menghindari tubuh dari penyakit-penyakit tertentu seperti tekanan darah tinggi bahkan hingga kanker.

Seperti vitamin B lainnya, vitamin B-6 berfungsi sebagai koenzim, enzim yang berguna untuk mengaktifkan proses kimia. Enzim ini digunakan salah satunya untuk memetabolisme protein. Vitamin B-6  dalam buah melon, penting untuk merangsang sistem saraf serotonin, neurotransmitter yang membantu mengatur mood dan membuat tidur Anda lebih nyenyak.

Selain itu kandungan vitamin B-6 pada buah melon dapat mengubah kandungan homosistein menjadi zat bermanfaat menjadi asam aminio yang baik untuk tubuh. Penting untuk mengubah zat homosistein, karena zat tersebut sering dikaitkan dengan adanya risiko peningkatan masalah kardiovaskular. Selain vitamin B6, melon juga mengandung vitamin B1 dan vitamin B3 yang juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh.||

Penulis: Ana Noorina. Pemerhati gizi anak

TV Hilangkan Konsentrasi Belajar Anak


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Kebiasaan menonton tv atau kartun dapat menghilangkan konsentrasi anak dan berkaitan erat dengan merosotnya Nilai akademik anak.

Seperti yang dilansir dalam APP News, majalah resmi Academy of Pediatrics, Healy menemukan bahwa, “Higher level of television viewing correlated with lowered academy performance, especially reading scores”.

Healy juga menemukan bahwa banyaknya menonton tv, terutama pada masa balita, berpengaruh pada system control eksekutif otak, atau prefrontal cortex, yang bertanggung jawab terhadap perencanaan, pengorganisasian, dan perilaku sekuesing untuk kendali diri, penilaian akhlak (moral judgement), dan perhatian.

Pada Intinya kebiasaan menonton TV membuat otak anak tidak terbiasa berpikir, otak menjadi kelebihan bahan yang tidak seharusnya, otak anak mengalami kelelahan dan semua itu menyebabkan anak menjadi tidak siap belajar .

Untuk itu sudah saatnya Ayah dan Bunda untuk menegaskan Stop nonton tv dan mulai membaca.

Sumber : Buku "Membuat Anak Gila Membaca" karya Gurunda @mohammadfauziladhim

Nak, Dengarkan Nasihat Ini! (bagian 1)

Oleh : Salim A. Fillah
Nak, semua orang akan kembali kepada Allah setelah matinya; tapi berbahagialah mereka yang telah melangkah menuju Allah di sepanjang hidupnya.”

“Nak, sebab hidup ini adalah ibadah kita kepada Allah, maka tugas kehambaan kita adalah mengemudi hati ini agar selalu mengarah padaNya, menuju padaNya. ”
“Nak, jalan lurus menuju Allah bukanlah jalan yang mulus, yang bebas hambatan, yang tanpa aral, tanpa tikungan tajam, tanjakan terjal, ataupun turunan curam, hingga semua harap terjawab dan semua keinginan tercapai. ”
“Nak, jalan sejati itu adalah pendakian berliku yang telah ditempuh orang-orang yang diberi nikmat, dari Adam sampai Muhammad ﷺ, bukan jalan orang yang dimurkai, dan bukan jalan orang yang sesat.”