Mendidik Tidak Mendadak



Oleh : Lusiana Agustin, S.Psi.

Alhamdulillah. fakta bahwa setiap anak lahir dengan potensi baik. Selanjutnya, di pundak orangtualah tugas untuk menjadi teladan, mengingatkan kemudian memperbaiki.

Sudah bukan rahasia lagi bukan bahwa anak adalah "peniru ulung".

Pelankan suaramu, plis jangan di-plototin mulu tu anak, lakukan.... Lakukan dulu!

Perintah buang sampah pada tempatnya akan menjadi sederhana ketika kamu lebih dulu melakukannya. Tanpa harus teriak teriak, ini bukan perkara mau atau tidak, tapi akhlak.

Sederhana tapi ngena.

Karena menjadi orangtua tanggungjawabnya besar bung. Apalagi anaknya kayak aku si generasi Z.

Mungkin kita, Anda, ehh maksudnya saya belum se-khawatir emak-emak jaman kini, kenapa lampu sein kiri beloknya kanan? (bisa jadi efek terlalu banyak pikiran, mikirin siapa? Mikirin kamu nak.

Atau keknya jaman emak gw dulu kagak ikut tuh seminar parenting, sekolah calon ibu calon ayah. Whatever lah, tapi oke-oke ajaa tuhh didikannya.

Ku ajak lihat ke masa depan? Ketika si generasi Z menjadi orang tua? Kira-kira apa yang akan terjadi? Bisa jadi lebih parah dari sekedar sein kiri belok kanan.

Lusiana Agustin, S.Psi., Guru SDIT Hidayatullah Yogyakarta

Aku Telah Memaafkanmu

Oleh : Subliyanto

Akhir-akhir ini masih cukup santer perbincangan di media seputar persoalan meminta maaf. Entah karena memang sedang musim orang berbuat salah, atau dianggap bersalah, atau mungkin karena kesadaran diri atas kesalahan yang telah dilakukan, sehingga tuntutan untuk meminta maaf menjadi tontonan yang terus "tergoreng".

Tidak salah kiranya kalau kita buka-buka lagi koleksi buku kita untuk sekedar mengetahui seputar maaf dan memaafkan, guna mejadi renungan untuk diri kita, sehingga kita mempunyai akhlak yang baik nan mulia.

Islam selalu menganjurkan agar setiap muslim berusaha untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah. Maka sebagai landasan berpikir, penulis sajikan perintah tersebut yang tersurat dalam firman-Nya. Allah berfirman : “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu.” (QS. al-Hujurat: 10).

Kemudian Rasulullah SAW. juga bersabda  tentang pentingnya persaudaraan : “Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah bagaikan satu jasad, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas.” (HR. Muslim).

Dan termasuk bagian dari akhlak yang baik adalah meminta maaf dan saling memaafkan. Karena dengan hal tersebut nuansa persaudaraan akan kembali terkuatkan. Kita kaji misalnya pesan Allah yang termaktub dalam al-Qur'an surat al-Imran : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Imran :133)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia agar bersegera dalam memohon ampunan atau meminta maaf jika melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Baik yang bersifat "Rabbani" atau berhubungan langsung dengan Allah, maupun bersifat "Manusiawi" atau yang berhubungan dengan manusia. Karena yang demikian akan segera menghapus dosa kekhilafan yang telah ia lakukan.

Demikian juga dengan memaafkan. Allah memerintahkan agar kita menjadi sosok pemaaf. Hal itu sebagaimana Allah firmankan : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang yang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf :199)

Ada contoh menarik seputar kehebatan saling memaafkan yang tercatat dalam sejarah yang diabadikan dalam kitab "Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lith Thifl", yang dalam edisi bahasa Indonesia berjudul "Prophetic Parenting ; Cara Nabi Mendidik Anak". Dimana dalam kitab itu disajikan kisah yang dikutip dari kitab "Tarbiyatul Aulad Fil Islam" karya as-Syaikh Abdullah Nashih 'Ulwan. Dikisahkan bahwa seorang budak milik Zainal Abidin mengucurkan air dari sebuah kendi yang terbuat dari tembikar untuk berwudhu'. Kemudian kendi itu jatuh menimpa kaki Zainal Abidin sampai pecah, dan kaki Zainal Abidin berdarah. Maka terjadilah dialog antara budak dengan Zainal Abidin dengan dialog al-Qur'an Surat al-Imran ayat 134.

Sang budak berkata : "Ya tuanku, Allah SWT. berfirman : "Dan orang-orang yang menahan amarahnya".(QS. al-Imran : 134)"

Lalu Zainal Abidin menjawab : "Aku telah menahan amarahku". Kemudian budak itu berkata lagi : "Dan memaafkan (kesalahan) orang". (QS. al-Imran : 134)"

Zainal Abidin pun menjawab : "Aku telah memaafkanmu". Budak pun melanjutkan : "Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". (QS. al-Imran : 134)"

Maka Zainal Abidin menjawabnya : "Sekarang Aku merdekakan engkau karena Allah".

Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa betapa indahnya saling memaafkan. Karena dari saling memaafkan akan melahirkan kasih dan sayang. Semoga catatan singkat ini dapat menjadikan kita lebih memperkuat ukhuwah islamiyah. Sehingga nuansa keindahan dalam persaudaraan akan tampak dan menjadi cermin hakikat keindahan Islam. Wallahu a'lam []

Subliyanto, Pegiat Media Sosial
Sumber : www.limadetik.com

Pentingnya Pendidikan Seks



 Oleh: Lilis Mayasari

Pendidikan seks menjadi suatu perhatian penting bagi para orangtua dan juga para pendidik dalam melaksanakan tanggung jawab yang telah Allah amanahkan.  Sebagai orangtua dan juga pendidik di era modern ini, pembahasan tentang seks  bukan lagi menjadi hal yang tabu, akan tetapi justru menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan demi menjaga kemaslahatan baik untuk pribadinya ataupun masyarakat pada umumnya.

Pendidikan seks di sini dimaksudkan, yaitu memberikan pengajaran, pengertian, dan keterangan yang jelas kepada anak ketika ia sudah memahami hal-hal yang berkaitan dengan seks dan pernikahan.

Sebagaimana telah dipaparkan oleh penulis Abdullah Nashih Ulwan, ada beberapa fase yang perlu diperhatikan oleh para pendidik dalam pendidikan seks, salah satunya yaitu pada fase usia antara 7-10 tahun, dinamakan fase kanak-kanak usia akhir (tamyiz). Pada usia ini anak-anak diajarkan etika meminta izin untuk masuk (ke kamar orangtua dan orang lain) dan etika melihat lawan jenis.

Etika meminta Izin
Pada fase ini anak-anak perlu dibentuk pembiasaan agar selalu meminta izin ketika anak memasuki kamar orangtuanya, pada waktu-waktu tertentu dimana, saat itu mereka tidak ingin atau tidak boleh dilihat oleh anak-anak. Yakni di waktu subuh, siang hari dan sesudah isya. (QS An Nuur 58-59)

Dari ketiga waktu yang diharuskan meminta izin tersebut, terdapat nilai-nilai pendidikan untuk anak tentang dasar-dasar etika bersama keluarganya. Sehingga anak tidak akan dikagetkan dengan suatu keadaan yang tidak baik untuk dilihat ketika ia memasuki kamar orangtua/orang dewasa yang telah menikah.

Etika Melihat
Ketika anak berusia kanak-kanak akhir (tamyiz), pada usia ini menjadi perhatian penting bagi para pendidik untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang etika melihat lawan jenis.

Tujuannya agar anak mengetahui mana yang halal untuk dilihat dan mana yang haram. Berikut uraian etika melihat lawan jenis yang harus diajarkan dan dibiasakan kepada anak: Pertama, etika melihat mahram. Setiap perempuan yang haram dinikahi oleh laki-laki begitupun sebaliknya, maka disebut mahramnya. Di antaranya yang termasuk  mahram, yaitu; 1) perempuan yang haram dinikahi karena nasab, 2) perempuan-perempuan yang haram dinikahi karena penyusuan, 3) perempuan yang haram dinikahi karena terikat hubungan pernikahan.

Sebagaimana yang diterangkan di dalam Al Quran dan Sunnah yang boleh dilihat dari mahram perempuannya, yaitu sebatas yang menjadi kebiasaan untuk  dilihat, seperti leher, kepala, kedua telapak tangan, kedua kaki, dan seterusnya. Ia tetap tidak boleh melihat yang biasanya tertutup, seperti dada, punggung, perut dan seterusnya. Penjelasan ini diperkuat dalam firman Allah surat An-Nur ayat 31.

Para pendidik juga orangtua sangat berperan untuk mengarahkan dan menjadi pengingat sekaligus penasehat kepada anak-anaknya tentang batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh dilihat pada mahramnya. Mengingat kebiasaan masyarakat pada umumnya, batasan-batasan tersebut terkadang masih jauh dari perhatian.

Etika melihat perempuan bukan mahram
Perempuan yang bukan mahram, yaitu semua perempuan yang halal bagi laki-laki untuk menikahinya, seperti sepupu dari paman atau bibi, saudari ipar (istri kakak atau adik), istri paman, saudara perempuan istri, dan bibinya.

Ketika anak sudah memasuki usia kanak-kanak akhir, itu disamakan dengan laki-laki dewasa. Mereka harus dipisahkan dari perempuan yang bukan mahramnya. Perintah kepada laki-laki maupun perempuan untuk menahan/menundukkan pandangan tidak lain sebagai bentuk kehati-hatian akan lahirnya sebuah fitnah dari pandangan tersebut. Secara pasti tujuan yang ingin dicapai Islam dari perintah menundukkan pandangan, sebagaimana yang dikatakan oleh penulis Fi Zhilal Al-Quran, yaitu untuk membentuk masyarakat yang bersih, yang tidak mengumbar nafsunya disetiap saat, dan tidak mengikuti hasratnya setiap waktu.

Adanya perintah menahan/menundukkan pandangan juga bertujuan sebagai salah satu cara preventif dari hal-hal negatif yang memancing hawa nafsu, sehingga bisa berakibat merusak moral, perilaku sosial, dan juga kemaslahatan umat.

Dari berbagai penjelasan diatas terkait pendidikan seks pada anak, kiranya sebagai pendidik juga orangtua untuk selalu senantiasa memberikan penjelasan, pemahaman, pengarahan tentang  pendidikan seks kepada anak-anaknya dengan terus belajar ilmu agar bisa memberikan pengarahan sesuai dengan fase usianya.

Sehingga, tidak lain yang diharapkan kepada anak-anak, yaitu kelak mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang beriman, cerdas, berakhlak mulia serta menjadi figur teladan dimanapun mereka berada.||

Penulis: Lilis Mayasari, Penulis lepas

Mulia dengan Kesempurnaan Islam



Kaum muslimin memiliki kemulian, kehormatan dan keagungan, dengan syarat senantiasa iltizam terhadap ajaran Nabi Shallallahu alaihi wa sallam .
Engkau adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
Sehingga tasyabbuh dengan orang-orang durhaka, berarti mencari kesempurnaan melalui orang-orang kafir. Hal ini termasuk dalam perbuatan kufur nikmat Islam yang mulia.||bpsembodo

Kemitraan Sekolah dan Orangtua


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Sekolah yang baik tidak bisa dibeli karena ia berdiri untuk sebuah prinsip. Ia memperjuangkan idealisme. Ia sedang ingin mewujudkan sebuah cita-cita mulia. Cukuplah kita merasa khawatir jika sekolah lebih banyak menonjolkan kegiatan-kegiatan populis untuk mengambil hati orangtua daripada melakukan upaya berkesinambungan agar orangtua turut memperjuangkan idealisme tersebut, sekurangnya bersikap hormat terhadap idealisme sekolah serta prinsip-prinsip yang ditegakkan oleh lembaga.

Sekolah yang mudah ikut arus, menuruti kemauan “pasar” dan larut dalam trend, hampir pasti merupakan lembaga yang misi ideologisnya lemah dan visinya tidak jelas.
Ini bukan berarti sekolah mengabaikan peran orangtua.

Tanpa ada komitmen orangtua untuk berubah, maka pengajaran, pembiasaan, dan pendidikan yang dilakukan oleh sekolah bisa mentah. Sekolah yang baik tetap bertumpu pada proses yang terencana di sekolah. Sekolah tidak bisa mengandalkan orangtua karena meskipun sama-sama memiliki komitmen yang sangat tinggi, wujud komitmen itu berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahaman dan kemampuan orangtua.

Di samping itu sekolah juga harus menyadari bahwa tidak mungkin menyamakan cara orangtua mengasuh anak secara total. Ada banyak hal yang menyebabkan para orangtua —termasuk guru—secara alamiah berbeda satu sama lain, bahkan di antara orang-orang yang memiliki cara pandang sama.

Tak ada keraguan sedikit pun bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, dan Utsman bin Affan radhiyallahu anhum ajmain merupakan sahabat utama yang penuh kemuliaan dan khalifah yang mendapat petunjuk (khulafaur rasyidin), tetapi mereka masing-masing memiliki kepribadian yang unik dan temperamen yang berbeda.

Itu sahabat utama radhiyallahu anhum!! Mereka jauh lebih utama dibanding kita yang hidup sekarang ini. Maka, bagaimana mungkin kita secara total menyamakan cara orangtua murid mengasuh anak dengan cara guru mendidik (atau mengajar?) di sekolah.

Jenjang pendidikan berbeda-beda, kemampuan memahami bertingkat-tingkat, dan latar belakang sekolah sangat beragam. Padahal, sudah paham sangat berbeda dengan mampu menerapkan dengan baik. Selain itu, mereka menjadi orangtua bukan karena menempuh pendidikan khusus tentang bagaimana menjadi orangtua, tetapi karena mereka sudah punya anak.

Orangtua tidak memiliki persiapan khusus dalam mendidik anak, kecuali orang-orang tertentu saja. Gurulah yang memang sedari awal —seharusnya—mempersiapkan diri bagaimana mendidik para siswa, termasuk menghadapi mereka yang bermasalah perilakunya. Apalagi jika kita perhatikan bahwa waktu efektif anak di sekolah jauh lebih banyak dibanding di rumah, maka seharusnya sekolah menjadi koreksi atas apa yang terjadi di rumah.

Lalu apa harus sama antara sekolah dan rumah? Nilai-nilai dasar yang harus ditegakkan. Adalah tugas sekolah untuk secara berkesinambungan melaksanakan pendidikan bagi orangtua agar bersama-sama anak menghormati, memuliakan, dan merasa bangga dengan nilai-nilai itu sehingga amat besar keinginan dari setiap pihak untuk mewujudkan nilai tersebut di mana pun mereka berada. Sekadar paham tak akan membuat mereka bangga.

Wallahu alam bish-shawab.

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim, Penulis buku Segenggam Iman Anak Kita

Proporsional dalam Berkomunikasi



Oleh: Yulias Fita Ari Antika, S.Pd

Komunikasi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan. Komunikasi yang baik mampu membangun suasana nyaman dan tidak akan menimbulkan salah paham, selain itu maksud pembicaraan akan tersampaikan dengan baik.

Dalam lingkungan sekolah pun demikian, terutama saat pembelajaran di kelas. interaksi antara guru dan murid tidak bisa dihindari di waktu-waktu efektif pembelajaran.

Berawal dari komunikasi yang baik tentu akan melahirkan interaksi yang baik pula. Jika guru sama sekali tak pernah mau berkomunikasi dengan murid di luar jam pelajaran dan selalu nampak kaku dengan murid tentu interaksi di antara keduanya tak akan terjalin dengan baik.

Meski begitu, berkomunikasi dengan murid juga harus memperhatikan beberapa hal, harus proporsional, agar sedekat dan sehangat apa pun komunikasi dengan murid tetap ada batasan dan rasa hormat di dalamnya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: Pertama, komunikasi saat mengajar. Saat mengajar guru bisa menyampaikan berbagai hal kepada murid, memberikan teladan dan nasehat dengan bercerita atau dengan cara yang lain. Saat-saat seperti ini terkadang jika sudah teralu akrab dengan murid maka seperti tak ada batas antara keduanya. Murid bisa saja berbuat dan berkata sesukanya karna sudah merasa dekat dengan sang guru. Jika hal seperti ini sudah terjadi guru perlu memberikan sedikit ketegasan dan batasan. Jika anak sudah terlanjur sulit untuk dikendalikan guru perlu memberi sedikit jarak dengan murid. Perlu ditarik ulur antara dekat dan memberi jarak.

Kedua, komunikasi di luar jam mengajar. Selain saat jam mengajar, di luar jam mengajar pun tentu akan terjadi interaksi dengan murid, entah bertemu di perpustakaan, di kantor, di koperasi atau pun di jalan. Jika di luar jam mengajar murid biasanya akan membicarakan hal di luar pelajaran, entah menanyakan tentang pribadi atau kehidupan sang guru atau bisa juga menceritakan tentang diri mereka. Jika sudah seperti ini suasana bisa menjadi benar-benar cair, tak ingat lagi mana guru mana murid. Dan kembali seperti poin di atas, guru perlu memberi jarak jika diperlukan. Sesekali perlu juga menanggapi dan berkomentar.

Ketiga, komunikasi di luar sekolah. Poin ini menjadi poin, yang menurut penulis, benar-benar harus disikapi dengan proporsional. Di zaman sekarang ini disaat teknologi semakin canggih, anak-anak yang masih kecil pun sudah bisa mengoperasikan benda imut bernama handphone (HP), atau yang sekarang sedang marak digunakan, Android. Tak terkecuali anak SD. Ada beberapa di antara mereka yang sudah memiliki HP sendiri. Selain itu media sosial juga turut berperan, dengan adanya kedua hal ini jika guru tak bisa membawa diri salah-salah bisa membuat wibawanya di mata murid menjadi turun. Bagaimana bisa? Dengan adanya HP murid bisa saja mengirim pesan untuk gurunya, tanpa harus bertemu langsung dan berbicara langsung. Juga media sosial, apa pun yang guru bagikan di media sosial murid akan bisa melihatnya, apalagi jika murid juga memiliki media sosial yang sama. Jika yang guru bagikan adalah hal yang bernilai positif dan bagus untuk dicontoh maka tidak masalah, tapi lain ceritanya jika yang dibagikan adalah hal yang sebaliknya. Dan dengan sarana pesan yang ada disetiap media sosial murid bisa menghubungi guru kapan saja. Komunikasi yang terjadi bisa menjadi sangat dekat dan tanpa batas.

Apa pun interaksi dan komunikasi yang dijalin dengan murid semua harus membawa efek positif, adakalanya dekat dengan murid memang sangat diperlukan, namun membatasi jarak juga kadang dibutuhkan, untuk menjaga wibawa guru, menjaga rasa sopan, dan hormat mereka kepada guru, juga rasa menghargai para guru.

Sekali lagi membangun komunikasi yang baik dengan murid sangat diperlukan.  Jangan meremehkan komunikasi yang baik dalam setiap aspek kehidupan, karena terkadang masalah sepele timbul menjadi besar disebabkan kurangnya komunikasi yang baik.||

Penulis: Yulias Fita Ari Antika. Guru SDIT Hidayatullah Yogyakarta

Pernikahan itu Ibadah Terlama

Oleh : Jamil Azzaini

Memandang pasanganmu ibadah. Menggandeng tangan pasanganmu ibadah. Memeluk pasanganmu ibadah. Ngobrol dengan pasanganmu ibadah.

Merayu pasanganmu ibadah. Memberi yang dicintainya ibadah. Menggodanya ibadah.

Pasanganmu adalah sumber ibadah. Maka, jagalah, rawatlah dan muliakan pasanganmu.

Buat rumah tangga kita seperti permainan sepakbola. Enak ditonton dan tidak membosankan meski pernikahan adalah ibadah terlama.

Salam SuksesMulia

Semua Karena Allah


Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Sebuah hadist dari Muadz bin Jabal, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: 

قال الله تعالى : وجبت محبتي للمتحا بين في، والمتجالسين في، والمتزاورين في، والمتباذلين في. 


"Allah berfirman : kecintaanKu pasti diperoleh oleh orang orang yang saling mencintai karena-Ku, saling berkumpul karena-Ku, saling mengunjungi karena-Ku, dan saling memberi karen-Ku" 


Semoga hari ini menjadi hari dimana ukhuwah kita semakin erat terjalin karena Allah, saling menguatkan dan mengingatkan karena kecintaan kita berdasarkan ikatan aqidah, saling meneguhkan saat rapuh dan saling menyemangati saat iman mulai meluruh.

Sumber : IG @atinprihatiningsih15
Foto : budi cc line

Wanita Shalihah Sebaik-baik Perhiasan Dunia


Sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.
Bagaiamana tidak? Dari rahim seorang wanita shalihah ini akan lahir anak-anak shalih dan shalihah yang akan menghiasi dunia dengan akhlak terpuji mereka. Bagaimana jika akhlak si wanita buruk? Tentu akan melahirkan anak-anak yang berakhlak buruk yang bisa menjadikan dunia berasa neraka.

Dari wanita shalihah ini, akan banyak suami yang disadarkan oleh mereka dari jalan-jalan keburukan. Bagaimana jika akhlak si wanita buruk? Tentu ia akan mendukung akhlak buruk suaminya.

Dari wanita shalihah ini, lembaga-lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta diringankan karena pendidikan pertama di rumah-rumah sudah terkondisikan dengan baik.

Yuk... para wanita, 

Jadilah penghias terbaik!
Jadilah pendidik terbaik!
Jadilah pasangan terbaik!
Karena dunia tanpa perhiasan baik akan hambar
Karena dunia tanpa pendidikan yang baik akan hancur.
Karena dunia tanpa pasangan yang baik akan lemah rumah tangga mereka.

Hiasi dunia ini dengan keshalihahan Anda
Jangan hiasi dunia ini dengan akhlak tercelamu

#EMTE
foto ilustrasi google

Adab Abu Bakr



Oleh : Salim A. Fillah

Apakah para sahabat Nabi selalu menaati perintah beliau? Tidak. Ada kala mereka memilih Adab.

Shubuh itu, Abu Bakr Ash Shiddiq seperti telah diperintahkan sebelumnya maju mengimami kaum muslimin. Ketika shalat hendak dimulai, adalah Sayyidina ‘Abbas dan ‘Ali memapah sosok yang diringkihkan demam itu. Maka tetiba sergapan kebahagiaan menyusup ke dada semua orang dan mencerah-cahayai wajah mereka. Inilah Rasulullah . Inilah beliau kembali hadir di tengah-tengah mereka.

Menyadari junjungannya bergabung dalam barisan di shaff pertama meski sembari duduk, Abu Bakr memundurkan diri. Tapi Nabi mendorong kembali Abu Bakr untuk maju mengimami. Mentaati dorongan Rasulullah , Abu Bakr maju sejenak sejauh tolakan tangan Sang Nabi. Tapi setarik nafas kemudian Ash Shiddiq mundur lagi. Demikian berulang hingga tiga kali.

Akhirnya Abu Bakr berundur lalu duduk di sebelah kanan Sang Nabi , kemudian diberinya isyarat agar semua yang hadir shalat turut duduk. Demikianlah mereka memahami, sebab Sang Nabi yang akan mengimami shalat dalam keadaan duduk, merekapun bersembahyang dengan cara duduk.

Selesailah shalat itu dan Nabipun menanyainya. “Ya Aba Bakr”, sabda beliau sembari tersenyum meski wajah agungnya tampak pucat, “Telah kuperintahkan agar kau tetap menjadi imam, mengapa engkau mundur?”

“Ya Rasulallah”, jawab Abu Bakr sembari menunduk dengan bulir bening di matanya, “Lebih baik tanah di depanku terbelah lalu aku jatuh ke dalamnya, kemudian bumi menutup dan menghimpitku hingga binasa, daripada aku harus menjadi imam, sementara ada Baginda di belakangku.”

Andai dia tetap menjadi imampun, Abu Bakr sama sekali tidak bersalah. Dia akan ternilai sebagai orang yang mentaati Rasulullah , satu ketaatan yang sebenarnya tak dapat ditawar sebab ia gambaran ketaatan kepada Allah. Namun Ash Shiddiq memilih adab.

Maka adab, terkadang adalah wujud paling indah dari buah akhlaq yang manis, harum, dan lembut di pohon iman yang berakar kokoh dalam hati.

Salim A. Fillah, Penulis Buku

Optimalkan Waktu



Oleh : Imam Nawawi

Mengoptimalkan waktu bukan perkara mudah. Secara bahasa, optimal berarti kita melakukan sesuatu sampai pada posisi tertinggi.

Berarti, mengoptimalkan waktu memanfaatkan waktu dengan kegiatan positif sebaik mungkin. Kalau ibarat gas motor, ya 100 km/jam.

Tapi ini tidak mudah, karena di zaman now, orang menghadapi banyak gangguan. Mulai dari smartphone, sampai pada pilihan diri menjalani hari demi hari.

Weekend misalnya, sebagian banyak yang menggunakan waktu di depan gadget. Sebagian ada yang suka nongkrong di cafe dengan menghabiskan uang sampai satu juta rupiah.

Dilansir moneysmart.id pada 11 Desember 2018, bahwa dari wawancara dan riset mendalam yang dilakukan diketahui bahwa porsi lifestyle anak kekinian Jakarta bisa mencapai 80 persen dari penghasilan.

Ya, kalau dihitung sederhana, jika penghasilan Rp. 10 Juta, maka Rp. 8 Juta ludes buat untuk hunting fashion, kongkow di mall dan cafe, dan lain sebagainya, termasuk kuota internet. Hari gini, ya, jangan sampai lah gak konek, gegara kuota habis.

Sebenarnya sih, bebas saja. Toh itu hak setiap orang. Tapi, sebagai sesama Muslim dan untuk menciptakan kehangatan berwarganegara, apa salahnya kita coba teliti dan saling memberikan nasihat.

Kalau kita mau produktif, atau optimal menggunakan waktu, 5 menit saja bisa loh bikin sesuatu yang positif. Mulai dari membaca, menulis, mengerjakan pekerjaan ringan, dan lain sebagainya.

Seperti artikel ini, ini ditulis tepat waktu adzan Isya. Sebelum iqomat dikumandangkan sudah selesai. Kok bisa? Ya, kita mau optimalkan waktu.

Nah, orang-orang yang sukses di antara mereka sebenarnya gak ada yang luar biasa dalam pengertian bisa membaca 20 jam sehari. Tapi mereka membaca secara ajeg setiap hari, meskipun hanya 5 – 10 menit.

Termasuk tulisan ini, saya buat bukan karena waktu panjang. Tapi karena ingin memanfaatkan waktu, maka jadilah tulisan ini.

Dengan demikian, waktu sangat berharga dan akan menjadi kebaikan jika dimanfaatkan secara optimal untuk kebaikan, apapun bentuknya.

Dari sini kita bisa memetik hikmah mengapa dalam Islam banyak sekali anjuran amal ibadah di luar yang wajib. Kenapa? Ya, supaya waktu tidak berlalu begitu saja, apalagi sia-sia.

Waktu adalah umur kita, waktu adalah karakter dan kepribadian kita. Maka, jangan lalui waktu melainkan dengan kebaikan, nilai, kemanfaatan, dan inspirasi bagi diri dan orang lain. Dan, menulis adalah cara menjadikan ide kita melekat dalam waktu yang kita lalui.

Bogor, 6 Jumadil Awwal 1440 H
Imam Nawawi, Pemimpin Redaksi Majalah Mulia

Yang Gaji Kamu Siapa?



Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Kalau waktu gajian kamu bayarkan gaji pembantu di rumahmu tepat waktu, itu bukan kemurahan hati. Bukan pula kehebatan yang layak dibangga-banggakan. Itu hutang yang harus kamu lunasi atas pekerjaan yang sudah ia jalani selama satu bulan. Menunda-nundanya tanpa alasan yang haq adalah kezaliman. Apalagi menahan pembayaran dengan memberinya syarat untuk melakukan sesuatu di luar pekerjaannya; tidak pula ada hubungannya dengan pekerjaan.

Sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:

لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ

“Orang yang menunda kewajiban, halal kehormatan dan pantas mendapatkan hukuman” (HR. Abu Dawud, An Nasa-i, Ibnu Majah).

Jadi jangan merasa berjasa hanya karena telah membayarkan gaji yang memang menjadi hak orang yang telah menunaikan pekerjaannya. Jangan pula menganggap pembantu di rumahmu berhutang budi, lalu menuntut mereka untuk balas budi kepadamu. Tak perlu bertanya, "Yang bayar gaji kamu siapa?"

Seandainya kamu melebihkan pembayaran dengan menggunakan uang pribadimu, itu pun tak pantas bagimu mengungkit-ungkit kebaikan. Apalagi andaikata ini terjadi di sebuah kantor atau perusahaan yang kamu hanya bertugas melakukan pembayaran, maka tidak ada hak bagimu melebihkan pembayaran menggunakan uang kantor sekehendak dirimu.

Takutlah kalau bersebab menunda-nunda pembayaran kepada orang yang memang berhak atas gajinya, lalu Allah Ta’ala jatuhkan kehormatanmu.

Ingatlah, prinsip pokok pembayaran gaji atau upah adalah yang menyegerakan. Nabi shallaLlahu ’alaihi wa sallam bersabda:
أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
“Berikanlah pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah).

Jika karena kamu terhalang oleh uzur syar’i untuk dapat segera menunaikan pembayaran, maka usahakanlah untuk secepatnya dapat memenuhi kewajiban. Mintalah kelapangannya untuk memaafkan atas ketidakmampuanmu menunaikan segera. Bukan kesengajaan menunda-nunda.

Mohammad Fauzil Adhi, Penulis Buku

Menjadikan Kebersihan Lingkungan Sebagai Gaya Hidup


Oleh: Dwi Lestari W

Lingkungan tempat kita tinggal perlu dijaga kebersihannya. Lingkungan adalah daerah yang ada di sekitar kita. Lingkungan sekitar haruslah kita pelihara. Kelestarian lingkungan menjadi tanggung jawab bersama.

Hubungan kerja sama dapat diwujudkan dalam melestarikan budaya hidup sehat. Lingkungan sehat membantu kita untuk terhindar dari penyakit. Bagaimanakah cara mewujudkan hidup sehat?

Kebersihan rumah dan sekolah perlu dijaga. Rumah adalah tempat tinggal kita. Sekolah adalah tempat kita belajar bersama kawan-kawan dan guru. Rumah dan sekolah yang bersih membuat kita nyaman dan sehat. Kebersihan rumah perlu dijaga untuk menciptakan lingkungan sehat. Rumah sehat bukan berarti rumah mewah dan besar. Rumah yang sederhana dan kecil pun dapat dikatakan sehat. Asalkan rumah tersebut terawat dan terjaga kesehatannya.

Rumah sehat memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Rumah yang sehat selalu dijaga kebersihannya. Membersihkan rumah merupakan kewajiban seluruh anggota keluarga. Alat-alat yang biasa digunakan untuk membersihkan rumah adalah sapu, kemoceng, sikat, dan kain lap. Membersihkan rumah akan lebih baik jika dilakukan rutin.

Meski sudah dilakukan secara rutin, kadang tetap saja dalam waktu sekejap, rumah sudah kotor atau berantakan lagi. Tentu saja untuk merapikannya lagi, butuh waktu dan tenaga yang ekstra, Buku berjudul The Life —Changing Magic- of Tidying Up ini mencoba memberi jawaban pada kita untuk menangani situasi rumah yang mudah berantakan.

Buku yang ditulis Marie Komdo ini menjelaskan bahwa boleh jadi penyebab berantakan tersebut adalah karena adanya barang-barang yang sebetulnya tidak berguna. Karena itu, perlu diinventarisir, barang mana saja yang termasuk kategori membangkitkan kegembiraan atau tidak. Selain itu, buku ini juga memberi tips memulai kebiasaan berbenah yang efektif  berdasarkan kategori serta bagaimana cara membabat habis situasi berantakan di rumah.

Penulis: Dwi Lestari WS, Staf BPH Yayasan Insan Mulia Semesta
Bantul

Sambut Milad Al Hasanah ke-30, Ponpes Al Hasanah Adakan Pasar Murah


Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 Hijriyah sekaligus Milad Al Hasanah Bengkulu ke-30, Pondok Pesantren Al Hasanah Bengkulu Tengah menyelenggarakan Kegiatan Pasar Murah bagi masyarakat sekitar, (Selasa, 4/8).

Acara yang dipelopori oleh Dewan Pembina Al Hasanah, Bapak Hasymi Lain (1936-2017) dan Ibu Husainah Hasan (1937-2018), diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur keluarga besar Al Hasanah atas limpahan nikmat yang diberikan Allah SWT dengan mencontoh keteladanan Rasulullah SAW dan para sahabat, yaitu saling berbagi dan memperat hubungan terhadap sesama dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Selain dewan asatidz, kegiatan ini juga dihadiri perangkat desa yang terdiri dari Kepala Desa Pasar Pedati, Ketua Rt 13 Pasar Pedati dan Kepala Dusun 1 Desa Talang Pauh. Dalam bazaar ini panitia menyediakan paket sembako sebanyak 200 paket.

Dengan menggunakan kupon yang sudah disebar oleh panitia, masyarakat bisa membeli paket sembako yang terdiri dari beras 5 kg, minyak goreng 2 liter, gula pasir 1 kg, kecap 1 botol dan tepung bumbu hanya Rp 50.000,-.

Pemerintahan desa Pasar Pedati memberikan apresiasi berupa dukungan kepada Yayasan Al Hasanah di semua acara sosial seperti kegiatan pasar murah ini. Semoga keberadaan Al Hasanah semakin maju, bermanfaat, barokah dan lebih baik. Aamiin allaahumma aamiin.