Para Pencinta Al Qur’an



Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa di dunia ini ada keluarga Al Qur’an, ada sahabat Al Qur’an. Merekalah para pecinta Al Qur’an. Sebagai tanda cinta, mereka tidak pisah dengan Al Qur’an. Mereka selalu membela Al Qur’an. Ya tidak pisah, karena Al Qur’an selalu dibacanya. Al Qu’ran selalu dipelajari maknanya. Al Qur/an selalu mendasari sikap dan aktifitasnya.

Apa yang didapat para pecinta Al Qur’an? Di dunia mendapat kemuliaan dan jauh dari kesesatan. Karena Sang Pencipta alam adalah Penyelamat dan Maha Penyayang. Bahwa sengaja diturunkannya Al Qur’an adalah sebagai petunjuk dan rahmat (kasih saying) bagi makhluknya. Terutama bagi mereka yang beriman.

Mereka di dunia akan mendapatkan kedamaian. Karena Al Qur’an adalah tuntunan hidup yang akan memberikan kedamaian jiwa yang diburu oleh seluruh manausia. Tiada kebahagiaan bagi manusia tanpa ada kedamaian jiwa. Dan tidak ada kedamaian jiwa tanpa ketenangan hati. Untuk itulah Al Qur’an diturunkan.

Mereka di akhirat akan mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala karena Al Qur’an. Nabi bersabda; Bacalah Al Qur’an, sesungguhnya pada hari kiamat ia (bacaan Al Qur’an) itu akan datang memberi pertolongan bagi pembacanya. Masih banyak lagi kemuliaan di dunia dan akhirat yang akan didapat para pencinta Al Qur’an.

Bagaimana agar anak menjadi pencinta Al Qur’an? Benar kata pepatah; Tak kenal maka tak sayang. Pertama perkenalkan dulu anak pada Al Qur’an. Perkenalkan keagungan Al Qur’an pada anak. Dari mengenal mereka akan menjadi sahabat. Mereka akan mencintai sahabatnya. 

Hadis-hadis Nabi yang merupakan pendorong dalam mencintai Al Qur’an antara lain; “ Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR.Bukhari), “ Bacalah Al Qur’an, karena dia akan datang kepadamu pada hari kiamat kelak sebagai penolong bagi para pembacanya” (Riwayat Abu Umamah al Bahiliy, Anas ra. Berkata; Rasulullah bersabda : “ Sesungguhnya Allah mempunyai dua keluarga, para sahabat bertanya ; Siapa yang termasuk keluarga Allah? Rasulullah menjawab ; Ahli Al Qur’an, mereka adalah keluarga Allah, dan orang dekat-Nya”, Aisyah berkata, Rasulullah bersabda ; “Orang-orang yang pandai membaca Al Qur’an akan dikumpulkan bersama para utusan orang-orang mulia, dan orang-orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata karena kesulitan maka ia akan mendapatkan dua pahala”

Abu Hurairoh juga meriwayatkan dari Nabi; “Pada hari kiamat kelak Al Qur’an akan datang dan berkata; Wahai Tuhanku, hiasilah dia berikanlah mahkota kemuliaan. Kemudian berkata, Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka diberikan perhiasan kemuliaan. Berkata lagi, Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Maka dikatakan kepadanya; Bacalah Al Qur’an maka akan ditambah setiap ayat dengan kebaikan”

Jika kabar dari Nabi sudah cukup menjadi pendorong kecintaan terhadap Al Quran maka kurangilah dorongan-dorongan keduniaan. Kini banyak dorongan dunia yang menggiurkan. Misalnya bangga dengan decak kekaguman, bangga dengan deretan piala, bangga dengan sebutan juara, bangga dengan harta yang datang tiba-tiba. Semuanya justru akan menutupi kemuliaan Al Qur’an.

Pecinta Al Qur’an harus memiliki kepribadian mulia , menjauhi segala apa yang menjadi larangan Al Qur’an, menjauhi para pencari dunia, yang bersifat angkuh. Melainkan harus tetap rendah hati terhadap orang shalih, bersikap khusuk dan tenang.

Al Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata; sepatutnya para penghafal Al Qur’an tidak memiliki kebutuhan apapun kepada para penguasa dan orang-orang yang di bawah mereka.

Para pecinta Al Qur’an tidak menjadikan Alquran sebagai sumber penghasilan. Rasulullah bersabda; Bacalah Al Qur’an, Janganlah kalian (mencari) makan dengannya, janganlah kalian menjauhinya, dan jangan pula kalian bersikap berlebihan terhadapnya. 

Nabi bersabda; Bacalah Al Qur’an sebelum muncul suatu kaum yang menegakkannya seperti menegakkan gelas, mereka menyegerakan (ganjaran)nya (di dunia) dan tidak mau menundanya.

Makna menegakkannya adalah mereka berusaha membaguskan lafazh-lafazh dan kalimat-kalimatnya dan membebani diri-diri mereka didalam memperhatikan makhraj-makhraj dan sifat-sifat huruf. Adapun makna seperti menegakkan gelas adalah mereka berusaha menyempurnakan bacaan secara berlebihan dengan tujuan riya, sumah, berbangga diri dan mencari ketenaran.

Drs. Slamet Waltoyo, Redaktur Majalah Fahma

Ketika Anak Dekat dengan Al Qur’an



Oleh : Galih Setiawan, S.Kom.I.

Anak adalah dambaan dan kebanggaan setiap Ayah-Bunda. anak bisa sebagai pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, penerus cita-cita, investasi, guru, partner, bahkan pelindung orang tua terutama ketika orang tua sudah berusia lanjut. Tidak ada orangtua yang mengharapkan anaknya akan menyeretnya ke neraka. Mereka tentunya mendambakan dan mengharapkan anak-anaknya kelak bisa membahagiakannya, menjadi penyejuk hati dan mata.

Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak adalah hal yang paling pokok dalam Islam. Dengan hal tersebut, anak akan senantiasa dalam fitrahnya dan di dalam hatinya bersemayam cahaya-cahaya hikmah sebelum hawa nafsu dan maksiat mengeruhkan hati dan menyesatkannya dari jalan yang benar.

Para sahabat nabi benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pelaksanaan atas saran yang diberikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash,

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Sebelum kita memberi tugas kepada anak-anak kita untuk menghafal Al-Qur’an, maka terlebih dahulu kita harus menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Sebab, menghafal Al-Qur’an tanpa disertai rasa cinta tidak akan memberi faedah dan manfaat. Bahkan, mungkin jika kita memaksa anak untuk menghafal Al-Qur’an tanpa menanamkan rasa cinta terlebih dahulu, justru akan memberi dampak negatif bagi anak. Sedangkan mencintai Al-Qur’an disertai menghafal akan dapat menumbuhkan perilaku, akhlak, dan sifat mulia.

Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena itu, jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memuliakan kesucian Al-Qur’an, misalnya memilih tempat paling mulia dan paling tinggi untuk meletakkan mushaf Al-Qur’an, tidak menaruh barang apapun di atasnya dan tidak meletakkannya di tempat yang tidak layak, bahkan membawanya dengan penuh kehormatan dan rasa cinta, sehingga hal tersebut akan merasuk ke dalam alam bawah sadarnya bahwa mushaf Al-Qur’an adalah sesuatu yang agung, suci, mulia, dan harus dihormati, dicintai, dan disucikan.

Sering memperdengarkan Al-Qur’an di rumah dengan suara merdu dan syahdu, tidak memperdengarkan dengan suara keras agar tidak mengganggu pendengarannya. Memperlihatkan pada anak kecintaan kita pada Al-Qur’an, misalnya dengan cara rutin membacanya.

Sebagai penutup, perkenankan saya menyajikan pesan yang dituturkan Syaikh Ibrahim Daud, salah seorang syaikh dari Palestina. Ketika beliau hadir dalam safari dakwah yang diselenggarakan Sahabat Al Aqsho di Batam, beliau ditanya tentang mengapa anak-anak di Palestina begitu mudah menghafal Al Qur’an. Padahal di sana, mereka hidup dalam cekaman teror tentara zionis Israel.

Syaikh Ibrahim pun menerangkan mengapa anak-anak di Palestina begitu mudah menghafal Al Qur’an. Pertama, mereka sangat mencintai Al-Qur’an. Bahkan melebihi cintanya terhadap air, sebagai sumber kehidupan. Kedua, mereka meyakini bahwa Yahudi tidak mungkin dikalahkan kecuali dengan kembali kepada Al-Qur’an, yang dengannya umat ini akan menang. Ketiga, mereka diajari oleh orangtua yang juga penghafal al-Qur’an. Dan terakhir, mereka sangat yakin akan syahid, sehingga hidup mereka habiskan untuk al-Qur’an.

Sepatutnya kita merasa malu. Anak-anak kita yang hidup tenteram tanpa teror, semestinya mampu membuat anak-anak kita lebih dekat dengan Al Qur’an, bukan malah dekat dengan gadget. Jika anak-anak di Palestina saja mampu sedemikian dekat dengan Al Qur’an, di tengah kondisi yang penuh dengan keterbatasan, maka semestinya anak-anak kita bisa jauh lebih dekat lagi. Semoga kita dan anak-anak serta keturunan kita mampu menjadi generasi pecinta Al Qur’an. Aamiin.

Galih Setiawan, S.Kom.I., Redaktur Majalah Fahma

Sang Pembela dan Pemberi Syafa’at



Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan

Nak, di antara manfaat membaca Al-Quran adalah Al-Quran akan mensyafaati pembacanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada Hari Kiamat dan meminta kepada Allah Ta’ala agar meridhai pembacanya. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Al-Quran adalah pemberi syafaat yang dikabulkan syafaatnya dan penunjuk jalan yang bisa dipercaya. Siapa yang menjadikannya sebagai imamnya, maka Al-Quran akan menuntunnya ke surga” (HR Ibnu Hibban, Baihaqi, dan Ath-Thabrani); “Al-Quran didatangkan pada hari Kiamat dan ia berkata, ‘Wahai Tuhan, hiasilah dia (orang yang membaca Al-Quran).’ Lalu dipakaikan padanya mahkota kemuliaan. Lalu Al-Quran berkata, ‘Wahai Tuhan, tambahi dia.’ Lalu dipakaikan padanya hiasan kemuliaan. Lalu Al-Quran berkata, ‘Wahai Tuhan, ridhailah dia.’ Lalu dia diridhai. Lantas dikatakan padanya, “Bacalah dan naiklah sesuai dengan apa yang kamu baca. Setiap satu ayat kamu akan Aku tambahi satu kebaikan.” (HR Imam Tirmidzi); “Dikatakan pada pemilik Al-Quran, ‘Bacalah, naiklah, tartillah sebagaimana kamu membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempatmu ada pada akhir ayat yang kau baca.” (HR Abu Dawud dan Imam Tirmidzi).

Nak, membaca Al-Quran itu adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dan termasuk amal takarub kepada Allah Ta’ala yang agung—meskipun bukan yang paling agung. Membacanya di dalam shalat adalah ibadah, dan membacanya di luar shalat juga bernilai ibadah. Mengajarkan Al-Quran adalah ibadah, membacanya juga ibadah. Bahkan orang yang belajar membaca Al-Quran, memahaminya, dan menghafalkannya adalah termasuk seorang ahli ibadah kepada Allah, termasuk golongan manusia yang paling baik. “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari dan Tirmidzi).

Nak, pastikan dan upayakan bahwa tujuan dari membaca Al-Quran adalah hanya karena Allah Ta’ala semata, hanya untuk mendapatkan ridha-Nya, mendapatkan pahala, keutamaan membaca Al-Quran dari-Nya, dan menjauhkan diri dari neraka-Nya. Jauhkan dirimu dari niat untuk bersaing, riya, membanggakan diri, mencari sanjungan da pujian dari manusia, dan agar disematkan predikat yang luhur padamu. Dan jangan sampai tujuannya adalah untuk mendapatkan imbalan harta, mengambil hadiah barang atau uang atas apa yang kamu baca dan hafal dari Al-Quran. “Setiap mencari ilmu untuk pamer pada orang-orang bodoh atau untuk menyaingi ulama atau untuk menarik perhatian manusia kepadanya, maka sungguh tempatilah tempatnya di neraka.” (HR Imam Tirmidzi).

Nak, karena Allah Ta’ala semata utamakan untuk membaca Al-Quran, mempelajarinya, mengajarkannya, menjaganya, memahaminya, dan mengamalkannya dibandingkan ilmu-ilmu dunia lainnya, dibandingkan masalah-masalah dunia yang menyibukkan manusia dari berbuat kebaikan dan dari perhatian mengulang hafalan Al-Quran—Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk menjaga Al-Quran dan mengulang apa yang telah dihafal jangan sampai lupa, “Jagalah Al-Quran, demi Zat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, sungguh ia lebih mudah lepas dari unta dalam ikatannya.” (HR Bukhari). Memiliki waktu setiap harinya untuk membaca Al-Quran—misalnya setelah shalat subuh berjamaah—menghafal, memahami tafsir dan kandungan Al-Quran. Memperdengarkan pada diri kita sendiri ketika kita membaca Al-Quran karena memasukkan makna-maknanya ke dalam pikiran tanpa pengucapan bukanlah membaca Al-Quran, menyertakan jiwa kita ketika membaca Al-Quran—mantap membawa diri diri kita ketika melakukan amal ketaatan dan membaca Al-Quran—dan bersegera mengatasi kekurangan dan kelemahan dalam diri kita.

Nak, karena Allah Ta’ala semata mari kita menjaga untuk selalu membaca Al-Quran setiap harinya dan mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan—kira-kira rata-rata membaca Al-Quran setiap hari satu juz. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda pada Abdullah bin Amru ibnu-Ash r.a., “Bacalah Al-Quran dalam satu bulan.” (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud). Disunnahkan juga untuk puasa pada hari khatamul Quran kecuali jika bertabrakan dengan hari yang dilarang puasa oleh Syariah. Diriwayatkan dari Abu Dawud dengan sanad shahih bahwa Thalhah bin Mathraf, Hubaib bin Abi Tsabit, dan Al-Musayyab bin Rafi’, mereka adalah para tabi’in dari kota Kuffah, mereka berpuasa pada hari mengkhatamkan Al-Quran.

Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia, Pemimpin Redaksi Majalah Fahma

Para Pencinta Al Qur’an




Siapa di antara kita yang tidak mencintai Al Qur’an? Tentu tidak ada di antara kita yang tidak mencintai kitab suci umat Islam ini. Namun jika kita ditanya, dengan cara apa kita mencintai Al Qur’an, mungkin banyak di antara kita yang kebingungan. Ada banyak kisah yang menggambarkan betapa para sahabat Nabi begitu mencintai Al Quran. Rasa cinta mereka tak dapat ditandingi oleh siapa pun. Al Qur’an bagi mereka sudah mendarah daging. Sehari saja tidak membacanya, seperti ada kerugian yang begitu besar.

Aisyah meriwayatkan, "Abu Bakar (ayahnya) adalah seorang lelaki yang mudah menangis. Beliau tidak mampu menahan air mata ketika membaca Al Qur’an" (HR. Bukhari).

Umar bin Khatthab juga demikian. Dari 'Abdullah bin Syaddad bin Had mengatakan, "Aku pernah mendengar Umar membaca surah Yusuf dalam shalat Subuh dan aku mendengar isakannya. Aku berada di akhir shaf. (Isakannya saat) beliau sedang membaca (QS Yusuf [12]:86): "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku."

Nafi pernah menceritakan Ibnu Umar, "Tidaklah Ibnu Umar membaca dua ayat ini dari akhir surah al-Baqarah kecuali pasti menangis. ‘Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan. Niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka, Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.’ Setelah membacanya, Ibnu Umar mengatakan, ‘perhitungan ini sungguh menyesakkan.’"

Kisah-kisah di atas membuktikan bahwa Rasulullah telah berhasil membimbing mereka menjadi generasi Qur’ani, yang mana hidup mereka dinaungi Al Qur’an. Sayyid Qutb mengatakan bahwa generasi sahabat Rasulullah merupakan generasi yang paling istimewa dalam sejarah Islam dan sejarah kemanusiaan seluruhnya. Mereka tidak saja menghafal dan menadaburinya, tetapi juga mengamalkannya.

Semoga kita bisa meneladani generasi sahabat ini dalam mencintai dan menadaburi Alquran. Amin.

Redaksi

Berkeluh Kesah dan Kikir

Sifat manusia adalah berkeluh kesah apalagi ketika ditimpa musibah, ketika mendapat petaka, ketika ditimpakan bencana. Manusiawi memang sifat kelah kesah ini, namun alangkah baiknya ketika berkeluh kesah ini dijauhkan dari diri kita.

Mari kita renungkan ayat-ayat ini :

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.


وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا 

Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.


Berangkat dari ayat ini, karena default sifat manusia adalah berkeluh kesah dan kikir, maka mari berbenah diri akan hal ini perlu kita jalani.

Lalu, apa sih solusinya? Mari kita tengok ayat demi ayat berikutnya :

إِلَّا الْمُصَلِّينَ 

Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.

الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ 

Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.

Nah, yang pertama adalah shalat yang dikerjakan dengan tetap, karena pada hakikatnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Jika shalat jalan dan perbuatan keji serta munkar masih jalan juga, maka shalat ini sejatinya belum ditegakkan.

Lalu, apasih yang kedua agar terhindar dari berkeluh kesah lagi kikir itu?

وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ 

Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu,

لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),

Ternyata jawabannya adalah sedekah, sedekah kepada orang miskin tentu lebih berguna bagi mereka, baik orang miskin tersebut mengharap sedekah dengan cara meminta atau mereka tidak meminta karena menjaga muru'ahnya, menjaga kehormatanya.

Eng ing eng..., lalu apa sih yang ketiga agar keluh kesah dan kikir ini hilang dari diri manusia? Ini dia jawabannya,

وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,

وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ

Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.

إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ

Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).

Percaya dengan adanya hari pembalasan. Jika manusia tidak percaya akan hari pembalasan ini, maka sungguh, IMAN nya telah tercerabut dari dadanya, imannya telah terbang dari dalam jiwanya. 

Hem.... lalu selanjutnya, yang keempat itu apaan siiih? Simak ayat-ayat berikutnya :

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ 

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya,

إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Zina, manusia harus menghindari zina, harus menjaga kemaluannya dari yang diharamkannya. Jika nafsunya birahinya disalurkan kepada yang halal, yaitu kepada istri atau suaminya, maka itu sah-sah saja, bahkan berpahalan. Namun jika nafsunya disalurkan kepada yang bukan haknya, tentulah berdosa dia.

Jreng.... lalu yang kelima apaan siiih cin...? Nah simak ayat berikutnya ini,

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ

Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya.

Memelihara amanat dan menepati janji, inilah agar terhindar dari sifat berkeluh kesah dan kikir.

Lagi-lagi Allah Taala menegaskan, jika terhindar dari berkeluh kesah dan kikir adalah :

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ 

Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.

Memelihara shalatnya. 

Maka tetaplah shalat dengan istikomah lagi khusu' agar terhindar dari sifat berkeluh kesah dan kikir bin bakhil.

Wallahu a'lam bishawab.

TMT

Orangtua yang Egois


Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Suatu sore, saya dan istri bersama anak-anak dan cucu-cucu makan bersama di suatu tempat yang dilengkapi dengan permainan untuk anak-anak kecil, diantaranya jenis kuda-kudaan portabel dari kayu atau plastik yang bisa digoyang karena bawahnya melengkung.

Sudah hal yang lumrah, jumlah mainan yang disediakan oleh pemilik restoran lebih sedikit dari pada jumlah anak yang bermain. Demikian pula saat itu, ada beberapa keluarga yang makan sambil membawa anak-anaknya. Karena kami datangnya lebih duluan, sehingga cucu-cucu kami mempunyai kesempatan menggunakan permainan yang ada di tempat khusus mainan. Setelah cucu-cucu menggunakan permainan itu beberapa saat lamanya, lalu mereka meninggalkan tempat bermain untuk bergabung dengan kami di meja makan, sekalian memberi kesempatan pada anak-anak lain untuk menggunakannya.

Ada hal yang menarik ketika ada salah satu mainan yang tidak digunakan, tiba-tiba diambil oleh seorang ibu, dan dibawa, kemudian diletakkan di dekat meja tempat mereka makan, sehingga anak lain yang ada di situ tidak bisa lagi menggunakannya. Saya dan istri saling berpandangan “...mengapa si ibu itu egois sekali”. Ketika saya melirik anak dan menantu kami, ternyata mereka juga saling berpandangan, yang kira-kira istilah egois muncul dalam benak mereka juga. Melihat hal itu, saya dan istri tidak bisa berdiam diri untuk tidak  berdiskusi. Maksud si Ibu itu mungkin memang tidak salah, agar anaknya bisa bermain sambil makan sehingga bisa lebih lahap. Apakah orangtuanya tidak berfikir kalau-kalau ada anak lain yang akan menggunakannya.

Apa yang kami duga betul terjadi, seorang anak kecil yang lain datang menghampiri permainan tersebut, nampaknya dia ingin menggunakannya. Karena mainan tersebut masih dipakai, dia hanya berdiri di samping dekat mainan sambil memandanginya, mau ikut memakai tidak berani. Anehnya si ibu yang mengambil mainan tadi pura-pura tidak tahu kalau ada anak yang menginginkan mainan itu, demikian juga bapaknya, tetap melanjutkan makan tanpa menghiraukan anak kecil yang berdiri di samping mainan.

Melihat pemandangan itu kami sangat heran, kok ada orangtua yang bersikap jauh dari kebaikan dan anehnya tindakan ini dilakukan di hadapan anak-anaknya. Secara tidak sadar anak-anak itu pasti akan meniru sikap orangtuanya, mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan orangtuanya itu memang sikap yang benar. Tidak perlu memperhatikan teman bermain, tidak perlu berbagi kesempatan, meskipun bukan milik kita tetapi kalau kita senang ya harus dipertahankan. Kalau si ibu memang ingin mendidik putranya dengan benar, mestinya dia bisa mengatakan kepada anaknya “Nak, bermainnya sudah ya.. gantian, itu ada kakak yang juga sudah menunggu untuk bermain. Kan kasihan dia sudah menunggu lama”.
 
Atau mungkin sikap orangtuanya seperti itu memang tidak ada pilihan lagi, karena kalau tidak dituruti si anak akan teriak-teriak dan ini akan memalukan karena ada di tempat umum. Padahal sesungguhnya apa yang mereka lakukan terhadap anak itu justru akan semakin “menjerumuskan”. Seorang anak yang selalu dilindungi dan apa yang dia minta selalu dituruti, maka dia akan berkembang menjadi seseorang yang selalu menuntut hak, orang yang akan selalu mengutamakan dirinya sendiri, egois. Ketika kelak dia mulai bekerja di kantor misalnya, maka dia akan selalu menginginkan semua orang harus mendengarkan dirinya. Kalau menjadi pimpinan, maka dia akan menjadi pimpinan yang tidak akan pernah tahu penderitaan karyawannya dan akan selalu menyalahkan orang lain.
 
Kita sebagai orangtua yang mendapatkan amanat mendidik anak-anak, harus ekstra hati-hati. Lebih baik anak yang menangis ketika masih kecil dari pada orangtua yang menangis setelah mereka besar. Ketika kita diberi kesempatan Allah Ta’ala mempunyai rumah bagus, nyaman, bisa makan enak dan fasilitas lengkap, namun ketika kita menyiram tanaman, memotong rumput, libatkan anak-anak kita, biarkan mereka mengalaminya. Setelah makan, biarkan mereka mencuci piring mereka bersama adik atau kakaknya. Meskipun kita sudah mempunyai pembantu, namun kita kan ingin mencintai anak-anak dengan cara yang benar. Wallahu A’lam Bishawab.
 

Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A., Pemimpin Umum Majalah Fahma

Konkretnya adalah dalam Hal Mendirikan Shalat





Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka jika mereka meninggalkan sholat ketika usianya sudah mencapai sepuluh tahun” (HR. Bukhari Muslim).

Hadits di atas memberikan sebuah petunjuk bahwa masa paling lama dalam hal pembiasaan anak melakukan kebaikan adalah tiga tahun. Konkretnya dalam hal mendirikan sholat.

Jika anak telah dibiasakan dari umum 7 tahun sholat dengan baik dan berjalan lancar, maka umur 10 tahun akan terbiasa alias otomatis mengerjakannya. Tetapi jika masih belum otomatis, maka ada yang salah dan karena itu perlu dievaluasi, tidak kemudian serta-merta anak dihajar karena memahami teks hadits secara parsial.

Boleh jadi kondisi itu sudah mengindikasikan bahwa orangtua, perlu memahami apakah buah hati sudah bisa diajak berpikir atau belum.

Jika sudah saatnya, maka sudah waktunya mereka mendapatkan pendidikan tahap berikutnya, yakni tentang makna, motivasi, alasan, fungsi dan manfaat dari sebuah ibadah atau kebiasaan baik, sehingga menjadi paham buah hati kemudian tergerak dengan sendirinya untuk mengamalkan atau membiasakan segala kebaikan-kebaikan di dalam Islam dan kehidupan.

Berat Badan Ideal Pada Anak



Oleh : Arhie Lestari

Berat badan kurang atau underweight adalah kondisi saat berat badan anak berada di bawah rentang rata-rata atau normal. Idealnya, anak dikatakan memiliki berat badan normal ketika setara dengan teman-teman seusianya.

Sebaliknya, berat badan kurang menandakan bahwa bobot tubuh anak tidak sebanding atau lebih rendah dari kelompok usianya. Sama halnya seperti kelebihan berat badan, anak dengan berat badan kurang juga biasanya disebabkan oleh adanya masalah kesehatan

Berat badan anak yang kurang merupakan pertanda bahwa tubuhnya tidak memperoleh cukup zat gizi untuk mendukung perkembangan tubuh. Misalnya tulang, kulit, rambut, serta berbagai bagian tubuh lainnya.

Berdasarkan ketentuan dari WHO, ada dua indikator penilaian status gizi yang bisa digunakan untuk menilai underweight pada anak. Pertama yakni indikator berat badan berdasarkan usia (BB/U), yang lebih dikhususkan untuk anak usia 0-60 bulan. Kedua yakni indikator indeks massa tubuh (IMT) berdasarkan usia (IMT/U), yang biasanya dipakai untuk anak 5-18 tahun.

Anak usia 0-60 bulan dikatakan memiliki berat badan kurang ketika pengukuran indikator BB/U berada di antara angka di bawah -2 sampai -3 standar deviasi (SD). Sedangkan anak usia 5-18 tahun, termasuk dalam kategori underweight jika indikator IMT/U berada di persentil kurang dari 5.

Namun yang perlu dipahami, indikator BB/U umumnya tidak terlalu diutamakan dalam menilai status gizi anak. Di sisi lain, indikator berat badan berdasarkan tinggi badan (BB/TB) yang sering dipakai. Bukan tanpa alasan, karena indikator BB/TB dinilai lebih dapat menggambarkan tumbuh kembang anak secara keseluruhan.

Jika si kecil susah makan atau nafsu makannya menurun, Anda bisa mengakalinya dengan cara memberikan camilan sehat di jeda antara jadwal makan utama. Pilih camilan sehat yang kaya akan kandungan kandungan karbohidrat dan protein yang tinggi. Contohnya oatmeal, roti, selai kacang, kacang almond, dan lain sebagainya.

Tak jarang, anak mengalami berat badan kurang karena tidak mampu menghabiskan makanan dalam jumlah yang terlalu banyak. Sebagai gantinya, berikan anak porsi makan yang lebih sedikit tapi dengan waktu yang lebih sering. Cara ini akan membantu anak mendapatkan kebutuhan nutrisinya.

Arhie Lestari, Pemerhati dunia anak

365 Hari Bersama Rasulullah


Oleh : Ulfah Hasanah, S.Pd.

Ternyata dalam hal memilih teman itu sangat penting. Dan sebaik-baik teman serta panutan bagi Muslim adalah junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Alangkah indahnya sebuah rumah, jika menghadirkan Rasulullah menjadi tamu di dalamnya, sehingga waktu yang kita pergunakan bersama anak-anak akan menjadi istimewa dan penuh kebahagiaan.

Ada 365 kisah kehidupan Rasulullah untuk bisa dibaca setiap hari sepanjang tahun. Dengan membaca kisah beliau dari hari ke- 1 sampai ke- 365 bersama anak-anak, kita bisa menjadi saksi kehidupan Rasulullah.

Menceritakan satu hari satu kisah kepada anak-anak, dapat membantu mereka mendapatkan kesempatan merefleksikan masing-masing kisah, sekaligus membangun rasa ingin tahu dan semangat untuk mendengarkan kisah selanjutnya.

Kisah Nabi Muhammad tidak hanya pada satu tempat saja. Ada banyak wilayah yang menjadi tempat-tempat penting dalam perjalanan dakwah beliau. Dengan membacakan satu kisah satu hari, anak juga dapat familier dengan tempat-tempat penting yang berhubungan dengan peristiwa dan tokoh-tokoh pada saat itu.

Kita bisa memanfaatkan topik dalam kisah Rasulullah dan para sahabatnya untuk membentuk sifat dan kualitas generasi ini seperti kepribadian Rasulullah SAW yang mulia.

Mari kita ajak anak-anak kita mencontoh keramahan, kejujuran, sifat pemaaf, dan semua kebaikan dalam diri Rasulullah. Setahun penuh kebaikan, seumur hidup menjadi kaum Nabi Muhammad, menjadi kesayangan-Nya. Aamiin.

Ulfah Hasanah, S.Pd., Guru SDIT Hidayatullah Yogyakarta

Kesabaran Seorang Ulama



Oleh : Nur Fitriyana

Al Mubaarok bin Al Mubaarok Adh Dhoriir seorang ulama ahli nahwu yang digelari Al Wajiih. Beliau dikenal seorang yang elok akhlak dan perilakunya, lapang dada, penyabar dan tidak pemarah. Sehingga ada sebagian orang-orang jahil yang berniat mengujinya dengan memancing kemarahannya.

Maka datanglah orang ini menemui Al Wajiih, kemudian bertanya kepadanya tentang satu masalah dalam ilmu nahwu. Syaikh Al Wajiih menjawab dengan sebaik-baik jawaban dan menunjukan kepadanya jalan yang benar.

Lantas orang itu berkata kepadanya, “Engkau salah’.

Syaikh kembali mengulangi jawabannya dengan bahasa yang lebih halus dan mudah dicerna dari jawaban pertama, serta ia jelaskan hakekatnya.

Orang itu kembali berkata, “Engkau salah hai syaikh, aneh orang-orang yang menganggapmu menguasai ilmu nahwu dan engkau adalah rujukan dalam berbagai ilmu, padahal hanya sebatas ini saja ilmumu!”.

Syaikh berkata dengan lembut kepada orang itu, “Ananda, mungkin engkau belum paham jawabannya, jika engkau mau aku ulangi lagi jawabannya dengan yang lebih jelas lagi dari pada sebelumnya”.

Orang itu menjawab, “Engkau bohong! Aku paham apa yang engkau katakan akan tetapi karena kebodohanmu engkau mengira aku tidak paham”.

Maka syaikh Al Wajiih berkata  seraya tertawa, “Aku mengerti maksudmu, dan aku sudah tahu tujuanmu. Menurutku engkau telah kalah. Engkau bukanlah orang yang bisa membuatku marah selama-lamanya.

Ananda, konon ada seekor burung duduk di atas punggung gajah, ketika dia hendak terbang ia berkata kepada gajah, “Berpeganglah kepadaku, aku akan terbang!”.  Gajah berkata kepadanya, “Demi Allah hai burung, aku tidak merasakanmu ketika bertengger di punggungku, bagamaimana aku berpegang kepadamu saat engkau terbang!”.

Demi Allah hai anakku! Engkau tidak pandai bertanya tidak pula paham jawaban, bagaimana aku akan marah kepadamu?!” (Mu’jamul Udaba’ : 5/44).

Masya Allah, kisah ini mengingatkan kita bahwa menjadi orangtua, guru, ataupun seorang da’i memang harus banyak belajar bersabar, lapang dada dan berakhlak mulia. Apalagi menghadapi pertanyaan-pertanyaan remeh yang kadang dilontarkan bukan untuk serius bertanya. Namun hanya menguji kesabaran kita. Semoga Allah Ta’ala memudahkan hal itu untuk kita, aamiin.

Nur Fitriyana, Pemerhati dunia anak

Tips Merawat Alat Tulis Agar Tidak Mudah Hilang


Oleh : Suhartono

Memasuki tahun ajaran baru, orangtua pasti disibukkan dengan agenda menyiapkan peralatan sekolah untuk anak-anak. Setelah dipakai selama setahun, tentunya ada peralatan yang sudah tidaklayak pakai. Biasanya alat tulis, seperti pensil, pulpen, atau buku menduduki daftar teratas peralatan sekolah yang harus diganti. Belum lagi jika alat tulis tersebut hilang.

Merawat alat-alat tulis adalah hal yang sulit dilakukan anak-anak selain mengerjakan tugas banyak di rumah. Pada usia anak sekolah, mereka cenderung suka menaruh peralatan mereka dengan sembarangan. Selesai mengerjakan tugas mereka, alat tulis ditinggalkan begitu saja. Dan itu akan menimbulkan masalah baru. Mereka akan kesulitan menemukannya lagi saat alat-alat itu dibutuhkan. Meski tampak sepele, namun orangtua perlu sejak dini memberi pengertian pada anak untuk dapat menjaga alat tulisnya agar tidak mudah hilang.

Bagi orangtua yang anaknya baru pertama kali masuk sekolah, tidak perlu gagap dalam menyiapkan semua kebutuhan buah hati sehingga tanpa disengaja ada saja yang terlupa. Supaya persiapan anak masuk sekolah lebih matang kita perlu melakukan beberapa hal lebih supaya anak tidak kaget dan nyaman di hari pertamanya belajar di sekolah. Kita bisa berkonsultasi dengan orangtua lain yang lebih berpengalaman supaya paham apa saja perlengkapan yang perlu dipersiapkan. Sebab beberapa perlengkapan perlu dibeli ataupun tidak karena sudah memilikinya sebelum anak masuk sekolah. Misal kebutuhan menyiapkan wadah bekal makan anak yang kadang kita sudah memilikinya jadi tidak perlu membeli yang baru. Menyusun daftar akan membantu kita menyediakan perlengkapan yang tepat dan juga lengkap.

Tips merawat peralatan sekolah anak agar tidak mudah hilang
Sediakan tempat pensil.
Jika alat-alat tulis itu akan dibawa ke sekolah, maka kita harus menyediakan tempat pensil untuk menyimpan alat-alat itu agar tidak mudah tercecer. Sekarang ini banyak sekali tempat pensil beragam bentuk yang dijual di toko peralatan tulis. Tidak ada alasan anak laki-laki malu menggunakan tempat pensil karena tempat pensil yang didesain sesuai kebutuhan anak laki-laki juga tersedia.

Beri label pada alat tulis.
Seringkali orang beranggapan bahwa memberi nama pada peralatan mereka akan dicap pelit. Tapi tujuan memberi label di sini adalah agar jika peralatan tulis milik anak hilang akan mudah ditemukan.

Merapikan peralatan tulis yang ada di rumah juga perlu diperhatikan.
Buatlah wadah pensil berbentuk seperti gelas, atau bisa didapatkan juga di toko-toko alat tulis dengan tema-tema menarik.

Selalu cek perlengkapan sekolah anak pada malam hari ketika belajar malam, buatkan jadwal pelajaran sesuai dengan pelajarannya jangan sampai ada buku dan perlengkapan yang tertinggal.

Siapakan buku pelajaran sesuai dengan mata pelajaran masing-masing supaya tulisannya tidak campur-campur dan mudah untuk belajar karena sesuai pelajaran.

Siapkan juga buku khusus untuk campuran untuk mengantisipasi jika ternyata terjadi kesalahan dalam jadwal atau ada perubahan jadwal sehingga sianak bisa sementara mencatat dibuku campuran kemudian disalin kembali pada malam hari.

Suhartono, Pemerhati dunia anak

Kacang Mete



Oleh : Ana Noorina

Kacang mete sebenarnya bukanlah kacang, melainkan biji dari pohon jambu mete atau dikenal juga jambu monyet. Jambu monyet memiliki nama latin Anacardium occidentale. Tanaman satu ini bukan anggota jambu-jambuan ataupun kacang-kacangan, melainkan kerabat dekat dengan buah mangga.

Kacang mete adalah salah satu kacang yang rendah serat. Kebaikan lain yang juga dibawa oleh kacang satu ini adalah kandungan vitamin, mineral, dan antioksidan yang baik untuk tubuh. Kandungan vitamin E, K, dan B6, bersama dengan mineral lainnya, seperti tembaga, fosfor, seng, magnesium, besi, dan selenium berperan penting untuk menjaga fungsi tubuh.

Kacang mete mengandung asam lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda. Kandungan keduanya dapat membantu menurunkan kadar kolesterol “buruk” (LDL) dan trigliserida dalam darah. Kadar kolesterol jahat dan trigliserida yang relatif rendah dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskulerstroke, dan serangan jantung. Selain itu, vitamin dan mineral lain yang terkandung dalam kacang mede, seperti kalium, vitamin E, dan B6, serta asam folat juga dapat membantu tubuh dalam melawan penyakit jantung.

Kacang mete adalah salah satu dari beberapa sumber makanan yang kaya akan zat tembaga. Dalam satu ons kacang mete mengandung 622 mikrogram tembaga. Bagi orang dewasa yang berusia di atas 19 tahun, kebutuhan tembaga yang disarankan per harinya adalah sebanyak 900 mikrogram. Ini berarti satu ons kacang mede sudah mampu memenuhi lebih dari setengah kebutuhan tembaga setiap hari.

Tembaga sendiri memainkan peranan penting untuk menggantikan jaringan ikat dan kolagen yang rusak. Tanpa asupan tembaga yang cukup, jaringan tubuh akan mudah mengalami kerusakan dan Anda pun lebih rentan terserang penyakit disfungsi sendi. Kekurangan tembaga juga dapat mengurangi kepadatan tulang sehingga meningkatkan risiko osteoporosis.

Selain kaya akan tembaga, kacang mede juga mengandung magnesium yang berperan penting dalam pembentukan tulang. Pasalnya, magnesium membantu penyerapan kalsium ke dalam tulang sehingga tulang menjadi lebih kuat.

Ana Noorina, Pemerhati dunia anak

Bersih dan Luruskan Niat

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Ada hadis yang selama bertahun-tahun menghiasi dinding garasi saya, tempat saya biasa menulis dan berdiskusi. Inilah hadis yang saya sangat ingin menulis uraiannya untuk anak muda maupun anak-anak yang masih di bawah sepuluh tahun. Abu Hurairah radhiyaLlahu‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
.
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
.
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikannya sendiri-sendiri. Bersungguh-sungguhlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan hanya kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa suatu musibah, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah: ‘Qadarullah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘لَوْ (seandainya)’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Ahmad, Muslim, dan yang lainnya).
.
Hadisnya sama, tetapi kedalaman memahami maupun menghayati dapat berubah seiring kadar penerimaan, perenungan dan keyakinan kita. Berjalannya waktu dan bertambahnya umur tidak dengan sendirinya menjadikan kita semakin matang dalam memahami, tidak pula menjamin semakin kuat meyakini. Betapa banyak yang semakin bertambah umurnya, imannya seakan semakin mendekati habis sebagaimana jatah umurnya yang semakin mendekati kematian. Betapa banyak yang semakin banyak berbicara agama justru semakin menjauhkannya dari agama. Sebab saat lisannya bicara agama, hatinya sedang menghendaki dunia melalui perkataannya. Na’udzubiLlahi min dzaalik tsumma na’udzubiLlahi min dzaalik.
.
Kembali pada hadis tadi. Di faedah merenungi hadis itu ialah lebih kokohnya hati, tak mudah terombang-ambing oleh apa yang sudah berlalu. Berbekal hadis itu pula kita dapat lebih sigap menyikapi keadaan dengan tetap memperhatikan amanah yang berkait dengannya. Ada sedih ketika panitia mengabarkan acara ditunda disebabkan Banjarbaru dikepung asap sebagaimana halnya Riau. Tetapi bukan penundaan itu yang bikin sedih, melainkan kepungan asap yang rupanya harus diderita oleh banyak warga bangsa di berbagai wilayah Indonesia. Terbayang wajah anak-anak, bayi dan lansia. Terbayang pula betapa beratnya mereka yang memiliki potensi asma. Tanpa asap pun, bernafas berat tidur pun susah saat asma datang. Terlebih jika bertambah-tambah oleh kepungan asap yang begitu pekat.

Ada duka ketika tak jadi berangkat ke Papua. Bukan disebabkan banyaknya yang meminta untuk dijadwalkan di tanggal yang sama. Tidak. Sama sekali tidak. Duka itu ada karena mengingati nasib bangsa ini. Terlebih belum lama saya membaca buku Prelude to Colonialism: The Dutch in Asia karya Jurrien Van Goor yang menuturkan proses awal penjajahan Belanda di Indonesia. Haruskah akan ada penjajahan kembali di negeri ini?

Kalau pun ada airmata yang harus menetes, maka yang paling perlu ditelisik dan ditangisi adalah niat dalam setiap langkah. Niat inilah yang menentukan kebaikan dan barakah setiap kali menerima atau menolak suatu acara. Jadi atau tidak akan tercatat sebagai kebaikan jika niatnya lurus bersih. Adapun kalau kemudian tidak jadi, resepnya sangat sederhana, yakni menggunakan kesempatan itu untuk bersungguh-sungguh dalam hal-hal yang bermanfaat. Ini berlaku untuk setiap waktu dalam berbagai kesempatan.

Mohammad Fauzil Adhim, Motivator dan Penulis Buku