Belajar Dengan Sumber Belajar Primer di Luar Sekolah


Oleh: Salim Abu Hanan

Pada tahun pelajaran 2018/2019 ini hampir di setiap kelas sudah menerapkan Kurikulum 2013.

Penting diketahui bagi orangtua murid tentang pendekatan pembelajaran pada Kurikulum Nasional 2013 ini. Demi kelancaran pembelajaran dan terutama bagi keberhasilan anak dalam belajar.

Agar orangtua tidak sekedar tahu apa kurikulumnya tetapi harus pula memahami bagaimana proses belajarnya sehingga bisa mengambil peran dalam mendukungnya.

Pada Kurikulum 2013 tingkat Sekolah Dasar, proses pembelajarannya adalah terpadu (integrated instruction) dengan model tematik. Sistem pembelajaran yang memungkinkan anak (secara individu atau kelompok) aktif untuk menemukan konsep-konsep keilmuan secara holistik, bermakna dan autentik. Sehingga pembelajarannya berorientasi pada praktik sebagai bentuk pengalaman belajar.

Pembelajaran tematik terpadu menekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan dalam suasana yang alamiah (natural).

Keaktifan murid yang merupakan wujud dari rasa ingin tahunya sangat berperan dalam menunjang keberhasilannya sebagai pembelajar. Pendekatan pembelajaran ini sering disingkat dengan sebutan PAIKEM GEMBROT (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan Gembira dan Berbobot).

Berangkat dari tema yang telah ditentukan, murid bereksplorasi dengan cara mengamati, membaca, menanyakan, mencoba melakukan, dan sebagainya dari berbagai sumber belajar yang telah disiapkan dan diskenario oleh guru di sekolah.

Di sini kelengkapan sarana sekolah dan kreatifitas guru sangat berpengaruh. Karena keterbatasan waktu dan mungkin juga fasilitas sekolah, kegiatan eksplorasi menjadi terbatas. Ini disadari oleh guru. Maka guru sering memberi tugas kepada murid untuk melengkapi kegiatan eksplorasi di luar sekolah atau rumah.

Ini tantangan bagi orangtua.

Dengan memahami model pembelajaran pada Kurikulum 2013, paling tidak orangtua akan memaklumi jika anak akan melakukan banyak tugas bereksplorasi di luar sekolah. Selanjutnya orangtua tentu akan memberi dukungan terhadap tugas-tugas yang dilakukian anak. Maka penting bagi orangtua mengetahui informasi tentang tema, sub tema, dan bentuk aktifitas yang harus dilakukan pada setiap pekannya.

Kegiatan eksplorasi di rumah sangat penting karena dapat mengatasi keterbatasan di sekolah. Apalagi di lingkungan rumah banyak sumber belajar yang alamiah (natural). Sumber belajar yang tidak diskenario oleh guru sehingga bisa memberi pengalaman belajar yang autentik dan bermakna.

Misalnya di SD/MI kelas satu, tema 2 sub tema 3, ada kegiatan mengenal profesi. Sumber informasi di sekolah sangat terbatas. Paling guru akan menyajikan dalam bentuk gambar atau poster. Berbagai gambar orang sedang bekerja dengan menggunakan alat tertentu, menghasilkan karya tertentu dan keterangan nama profesinya. Atau dalam bentuk video. Dari sumber belajar ini anak mendapatkan banyak informasi ragam profesi.  Meskipun itu gambar asli tetapi anak tidak bisa terlibat langsung. Sehingga mengurangi nilai otentik, kebermaknaan serta orientasi prakteknya.


Jika orangtua mengetahui konsentrasi aktifitas belajar anak di sekolah maka orangtua dapat membantu dengan labih leluasa dibandingkan keterbatasan waktu anak di sekolah.

Misalnya sambil mengantar atau menjemput anak, orangtua dapat menunjukkan langsung berbagai profesi. Diajak mampir ke beberapa tempat misalnya ke bengkel, ke tukang jahit, ke toko buah dan sebagainya. Anak dapat berkomunikasi langsung dan mencoba alat yang digunakan. Maka akan memberi pengalaman belajar yang otentik, bermakna.

Orangtua juga perlu mengetahui bahwa proses pembelajaran di sekolah dengan pendekatan sain. Sehingga ketika mendampingi anak belajar di rumah akan melakukan dengan pendekatan sain juga. Praktisnya orangtua tidak akan langsung memberi ikan tetapi akan memberitahukan jalan agar anak bisa menangkap ikan sendiri.||

Penulis: Salim Abu Hanan, Pengasuh Madin Saqura Sleman

Aku Titipkan Pada Kalian....!



Oleh: Imam Nawawi

Alhamdulillah kesyukuran luar biasa atas karunia Allah Subhanahu Wa Taala, di mana pada hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 73 tahun, Agustus yang lalu, banyak sekali pelajaran, inspirasi, bahkan pengalaman, yang Allah hadirkan sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada kita semua.

Saya sendiri sangat bersyukur, terutama kalau melihat teman-teman yang berada di pengungsian korban gempa Lombok, masih bisa menjalankan upacara bendera. Dan, yang spesial upacara itu dipimpin oleh Ustadz Bachtiar Nasir (UBN).

Saya tidak hadir tetapi saya betul-betul bergetar dengan apa yang bisa dilakukan oleh teman-teman di sana.
“Allah sedang memuliakan bumi Lombok. Gempa ini harus membuat kita semakin dekat dengannya. Yakinlah akan ada hikmah terbesar di baliknya,” ungkapnya seperti dilansir www.hidayatullah.com.

Lebih jauh, UBN menanamkan keyakinan besar kepada para pengungsi. “Cara tercepat untuk mengembalikan harta kita adalah bersedekah meskipun dalam keadaan susah. Yakinlah, Allah pasti akan mengembalikan rumah kita yang hancur.”

Selanjutnya saya juga bersyukur, karena karunia Allah Subhanahu Wa Taala, melalui sahabat saya M. Deden Sugianto, menjadikan hari Jumat 17 Agustus 2018 sebagai hari penuh kebahagiaan.

Takdir Allah, membuat saya bisa berbagi cerita, semangat, dan inspirasi, dengan generasi muda yang menjadi tenaga pendidikan di Pesantren Hidayatullah Ruhama Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat.

Di sana saya mendorong agar teman-teman yang bergerak di bidang pendidikan, mendidik generasi penerus bangsa berkomitmen menjadi tauladan bagi murid-muridnya. Tidak mungkin akan lahir murid yang gemar membaca, jika gurunya lebih banya baca status. Tidak mungkin akan lahir murid disiplin, jika pelajaran disiplin tidak hadir dalam kenyataan.

Sadar silaturahim bukan amalan yang bisa dilakukan setiap waktu, maka saya pun meminta untuk bisa bersilaturahim dengan para santri, baik santri putra maupun santri putri.

Dalam pertemuan dengan santri putra, saya sedikit mengisahkan tentang bagaimana etos keilmuan Imam Bukhari yang sejak kecil memang telah memiliki cita-cita yang jelas, yaitu ingin menjadi ahli hadits. Cita-cita itu bukan tanpa hambatan, ada kekurangan, ada kendala.

Tetapi semua terjawab dengan doa yang tiada henti dan terus menerus dilakukan oleh sang ibu untuk tercapainya cita-cita sang anak. Sampai kemudian hadir keajaiban dari sisi Allah, di mana Imam Bukhari kecil yang sempat tak mampu melihat, kemudian bisa memandang dunia dengan mata kepalanya. Subhanalloh. Sejak itu, sejarah hidup Imam Bukhari sangat luar biasa.

Kemudian saya sampaikan pertanyaan kepada para santri putra. Mengapa seringkali orang dilanda kemalasan, lantas sulit untuk disiplin dan nyaman di dalam pelanggaran-pelanggaran yang ada di pesantren?

Mereka terdiam. Tetapi saya melanjutkan, sebenarnya bukan karena diri kalian yang nakal, malas, dan lain sebagainya. Tetapi boleh jadi karena belum hadirnya niat yang kuat, sehingga kalian tidak sadar dan tidak mengerti, apa yang semestinya dilakukan selama berada di pesantren.

Padahal menjadi anak-anak, menjadi remaja, menjadi pemuda, adalah momentum yang tidak bisa terulang di dalam kehidupan manusia.

Oleh karena itu selagi ada kesempatan menjadi generasi penerus bangsa, belajarlah sungguh-sungguh untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi bangsa, negara, agama dan peradaban Indonesia.
Adapun kepada santri putri saya berbagi tentang bagaimana cara meningkatkan semangat dan motivasi dalam belajar.

Kaum Hawa harus punya tekad untuk memiliki intelektualitas yang baik, juga memiliki komitmen yang tinggi, serta semangat beribadah.

Mereka nampak seperti menikmati paparan yang saya jelaskan. Namun sangat mengejutkan ketika dibuka sesi diskusi ternyata yang mereka tanyakan adalah bagaimana meningkatkan daya baca.

Daya baca di sini adalah yang dimaksud oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yaitu semangat untuk membaca buku, mencari ilmu dengan terus-menerus menelaaah buku atau pun beragam karya tulis yang ada di dunia ini. Bahkan kalau bisa juga membaca zaman (making sense of experience).

Saat membersamai santri putri Ruhama, Hidayatullah Gunung Sindur Bogor Jawa Barat (17/8/2018)
Menurut beliau orang Indonesia sudah cukup bagus minat bacanya. Terutama ketika membaca WA, membaca media sosial, atau membaca berita-berita online.
Akan tetapi itu tidak cukup untuk menjadikan kita memiliki bekal ilmu. Harus ada daya baca yang lebih tinggi, yaitu membaca buku.

Mendengar jawaban itu nampak ada pancaran kebahagiaan dari para santri.
Saya tegaskan di akhir, saya sangat berkepentingan bertemu kalian wahai generasi penerus bangsa dan negara, karena jika tidak kepada kalian, yang harus memburu ilmu, kepada siapa lagi cita-cita kemerdekaan dan semangat membangun peradaban mulia di negeri ini saya titipkan!

Hari ini kita merdeka yang ke 73 tahun. Tetapi, hari ini masih banyak cita-cita kemerdekaan yang belum menjadi kenyataan.

Akankah kalian bisa mewujudkan cita-cita kemerdekaan?

Dengan bekal ilmu, insya Allah bisa. Karena ilmu di dalam Islam tidak bisa dipisahkan dengan iman dan amal. Semangat memburu ilmu, jadilah pribadi merdeka untuk kemerdekaan hakiki bangsa Indonesia.||

Penulis: Imam Nawawi, Penulis lepas

Tingkatkan Nutrisi Otak dengan Minyak Ikan



Oleh: Arhie Lestari

Banyak faktor yang mempengaruhi kecerdasan otak anak diantaranya yaitu faktor lingkungan, genetik dan asupan nutrisi.

Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang dan kecerdasan otak anak, Anda harus mencukupi semua kebutuhan nutrisi dengan memberikan asupan makanan yang bergizi.

Salah satu sumber makanan yang mengandung nutrisi untuk menunjang kecerdasan otak anak yaitu minyak ikan. Seperti yang kita ketahui bahwa ikan adalah sumber makanan dengan kandungan asam lemak omega-3 yang berguna untuk kecerdasan otak anak.

Asam lemak omega-3 memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kecerdasan otak. Jenis ikan yang banyak mengandung omega-3 yaitu ikan tuna, ikan salmon dan ikan laut lainnya yang rendah merkuri.

Namun, terkadang Anda menghadapi kendala dimana anak tidak menyukai ikan. Untuk mengatasi hal tersebut Anda bisa menyiasatinya dengan memberikan minyak ikan untuk anak.

Kandungan nutrisi yang terdapat pada minyak ikan sangat bermanfaat sebagai nutrisi kecerdasan anak. DHA, vitamin A dan D yang terkandung didalam minyak ikan berguna untuk menjaga kesehatan mata, tulang dan kecerdasan otak.

Mengkonsumsi sumber makanan yang mengandung asam lemak omega-3 dalam jangka waktu yang cukup lama akan memberi dampak positif dalam menunjang kecerdasan anak.

Anak-anak yang mendapat asupan nutrisi seperti omega-3 dalam jumlah yang cukup akan memiliki tingkat kecerdasan yang lebih baik. Kandungan omega-3 pada minyak ikan bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Minyak ikan atau makanan yang mengandung omega-3 lainnya bisa Anda berikan dengan jumlah yang mencukupi ketika usia batita. Hal ini karena pada usia tersebut perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat.

Minyak ikan juga ternyata bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak. Menurut sebuah studi membuktikan bahwa anak-anak yang mendapatkan asupan minyak ikan secara rutin memiliki sistem kekebalan tubuh dua kali lebih baik daripada anak yang tidak mengkonsumsi minyak ikan.

Kandungan DHA yang terdapat di dalam minyak ikan ternyata tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kecerdasan otak saja, namun DHA juga berperan penting dalam menjaga kesehatan indera penglihatan pada anak.

Minyak ikan yang diberikan secara teratur akan bermanfaat untuk mempertajam penglihatan anak.
Anak-anak yang mendapat asupan minyak ikan memiliki fokus yang lebih baik. Selain itu, kandungan nutrisi minyak ikan dapat meningkatkan konsentrasi anak. Dalam hal ini tentunya nutrisi seperti DHA memiliki peranan yang sangat vital.||

Memilih Pondok Pesantren untuk Anak Kita



Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Penulis buku Segenggam Iman Anak Kita

Dari beberapa pembahasan sebelumnya (Kapan Sebaiknya Anak Mondok), ada yang harus kita ingat bahwa hal mendasar yang menjadi alasan memasukkan anak ke pondok pesantren adalah mempersiapkan mereka menjadi mukallaf.

Begitu mukallaf, mereka mempertanggung-jawabkan segala tindakan maupun ucapan mereka. Jika saat mukallaf baru kita persiapkan, boleh jadi banyak sekali perbuatan dosa yang kita ikut menanggungnya karena jika mereka tidak mengetahuinya disebabkan tidak kita persiapkan, kitalah yang akan dimintai pertanggung-jawaban.

Pada tahap ini, seseorang seharusnya memiliki ahliyah al-ada kamilah (اهلية الاداء كاملة), yakni orang yang memiliki kemampuan dan kecakapan untuk bertindak secara hukum, membelanjakan harta (tasharruf) serta memikul bebanan taklif secara sempurna dan menyeluruh.

Ini berarti, dalam mencari pondok pesantren perlu mempertimbangkan aspek ada tidaknya proses atau mekanisme untuk menjadikan anak mampu membelanjakan harta secara bertanggung-jawab, mengelola keuangannya, dan tidak justru manja.

Lalu, pesantren seperti apa yang kita pilih? Selain berkenaan dengan hidupnya suasana agama baik di dalam kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari di funduq (asrama), ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Apalagi jika anak kita sebelumnya sangat lekat dengan orangtua dan tingkat kemandiriannya kurang.

Ada perbedaan antara dekat dan lekat. Seorang anak yang memiliki kedekatan dengan orangtua, cenderung lebih aman secara mental pada saat tidak lagi bersama orangtua.

Sebaliknya, anak yang tingkat kelekatannya tinggi, berpisah dengan orangtua dapat merupakan ancaman. Jika pun ia termotivasi untuk masuk ke pondok pesantren, perlu ada yang dapat mendekat kepadanya dengan segera. Dalam hal ini orangtua dapat membantu, misalnya dengan mendekatkan satu anak dengan temannya yang lain sehingga memiliki rasa aman yang lebih besar, terutama saat-saat awal di pondok pesantren. Bisa juga dengan menitipkan anak tersebut sehingga anak memperoleh perhatian, meskipun sekedar sapaan, yang lebih sering dari salah satu pengasuh.

Sebagaimana sekolah secara umum, semestinya anak yang masuk pesantren perlu dipetakan. Ada anak yang termasuk student at risk (santri beresiko). Nakal? Bukan. Tetapi ia perlu memperoleh perhatian lebih, khususnya pada awal masa penyesuaian diri.

Apa yang diperlukan agar anak mudah menyesuaikan diri dan berkembang potensinya dengan baik selama di pondok pesantren?

Secara sederhana, apa yang diperlukan agar anak dapat berkembang secara optimal dan menghindarkan anak dari potensi-potensi penyimpangan?

Ada empat aspek yang diperlukan oleh anak. Pertama, hubungan yang ngemong (nurturing). Layaknya membesarkan anak sendiri, para pengasuh atau di antara pengasuh menjalin hubungan yang memperhatikan perkembangan anak. Ini terutama diperlukan di masa-masa awal, meskipun tetap sangat penting hingga anak mau lulus.

Kedua, hubungan yang responsif, yakni bagaimana pengasuh dapat mendengarkan (bukan hanya mendengar) anak, menanggapi anak dan menunjukkan antusiasme. Semakin responsif, anak cenderung semakin termotivasi meskipun tidak ada pujian. Mendengarkan dengan penuh minat sudah merupakan pengakuan tersendiri yang sangat bernilai harganya.

Ketiga, sedapat mungkin kita mencari pesantren dimana lingkungan psikisnya bersifat memberi dukungan. Apa indikasi sederhananya? Menunjukkan sambutan yang baik, sikap respek kepada orang lain, merasa senang jika temannya berhasil dan berempati kepada temannya yang sedang menghadapi masalah.

Dari pengalaman berinteraksi dari berbagai kunjungan, pesantren sebagai lingkungan yang mendukung atau suportif ini terwujud bermula dari adanya hubungan yang benar-benar ngemong antara para pengasuh dan bahkan seluruh pihak yang terkait (petugas kebersihan, misalnya) dengan para santri. Suasana yang memberi dukungan tinggi menjadi semacam iklim pesantren.

Iklim semacam ini biasanya tidak muncul dari model yang lebih menekankan pada mekanisme peraturan semata-mata, sementara interaksi yang hangat antara pengasuh dan santri kurang.

Bagaimana jika ada santri yang bermasalah?

Ada yang menekankan pada derajat kesalahan anak semata-mata, tanpa melakukan pendekatan kepada anak yang bersangkutan serta melaporkan progress kepada orangtua.

Ada pula yang lebih menekankan kepada pemberian dukungan secara emosional dan sosial kepada anak, mendengarkan masalah anak, membantu anak memecahkan masalahnya dan memberi penguatan sekaligus membangkitkan optimisme anak untuk mampu menyelesaikan masalah. Bukan sekedar memecahkan masalah, lebih dari itu mencapai yang terbaik.

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim, Penulis buku Segenggam Iman Anak Kita

Apa yang berbeda dari Guru Hebat



Oleh : Atiek Setyowati, S.Si

Apakah anda berprofesi sebagai seorang guru? Kalau ya. Selamat! Anda sedang menjalani sebuah profesi yang penuh tantangan. Bahkan, seluruh umat manusia di dunia ini menganggap guru adalah profesi yang mulia.  Guru itu membagikan ilmu kepada para siswanya tanpa kenal lelah. Kualitas pendidikan bangsa ini pun banyak ditentukan oleh kualitas para gurunya.

Pentingnya peranan seorang guru dalam mendidik para siswanya bepengaruh besar dalam kemajuan bangsa. Guru yang professional dan berkualitas pastinya akan selalu terus belajar dan bekerja dengan baik serta memiliki kemauan yang tinggi untuk bergerak maju. Seorang guru itu tidak hanya sekedar mengajar dan mendidik saja akan tetapi dapat mencintai dan dicintai murid-muridnya, sehingga kebaikan dan ilmu apapun yang ia sampaikan dapat menghunjam kuat ke dalam sanubari murid-muridnya.

Dalam sebuah seminar “Gurunya Manusia” Pak Munif mengatakan ada 3 jenis guru: pertama, “Guru Robot” yaitu guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk, mengajar lalu pulang. Mereka yang peduli kepada beban materi yang harus disampaikan kepada siswa. Mereka tidak mempunyai kepedulian terhadap kesulitan siswa dalam menerima materi. Apalagi kepedulian terhadap masalah sesama guru dan sekolah. Mereka peduli dan mirip seperti robot yang selalu menjalankan perintah berdasarkan apa saja yang sudah diprogramkan di sekolahnya. Guru jenis ini banyak sekali menggunakan ungkapan seperti ini: “wah…..itu bukan masalahku….itu masalah kamu. Jadi selesaikan sendiri saja..” atau “maaf aku tidak dapat membantu sebab ini bukan tugas saya..”

Kedua, “Guru Materialistis”, yaitu guru yang selalu melakukan hitung-hitungan mirip dengan aktivitas bisnis jual beli atau yang lainnya. Parahnya yang dijadikan patokan adalah hak yang mereka terima. Barulah kewajiban mereka akan dilaksanakan tergantung dari hak yang mereka terima. Guru jenis ini pada awalnya merasa professional, namun akhirnya akan terjebak dalam kesombongan dalam bekerja. Sehingga tidak terlihat benefitasnya dalam bekerja. Ungkapan-ungkapan yang sering kita dengar dari guru jenis ini antara lain : “Cuma digaji sekian saja kok mengharapkan saya total dalam mengajar, jangan harap ya” atau “percuma saja mau kreatif, orang penghasilan yang diberikan kepada saya hanya cukup untuk transport” dan lain-lain.

Ketiga, “Gurunya Manusia”yaitu guru yang mempunyai keikhlasan dalam hal mengajar dan belajar. Guru yang mempunyai keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswanya berhasil memahami materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas untuk intropeksi apabila ada siswanya yang tidak bisa memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar, sebab mereka sadar profesi guru adalah makhluk yang tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang berkeinginan kuat dan serius ketika mengikuti pelatihan dan mengembangkannya.

Gurunya manusia juga manusia yang membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bedanya dengan guru materialistis, gurunya manusia menempatkan penghasilan sebagai akibat yang akan di dapat dengan menjalankan kewajibannya yaitu keikhlasan mengajar dan belajar. Kita ketahui sudah banyak contoh yang mana rizki seorang guru tiba-tiba di kasih oleh Allah SWT dari pintu yang tidak terduga atau dari akibat guru tersebut terus menurus belajar untuk para siswanya. Allah maha melihat dan mengetahui apa yang diinginkan oleh hamba-hambaNya.

Guru hebat adalah gurunya manusia yaitu guru yang tanpa henti belajar untuk menginsipirasi para siswa agar berhasil di kemudian hari. Bukankah sementara kita berusaha mengajari anak-anak kita pelajaran tentang hidup, mereka pun mengajari kita apa kehidupan itu.

Mari sejenak tundukkan wajah, ambil nafas lalu lakukan intropeksi. Anda termasuk guru jenis yang mana ?

Penulis: Atiek Setyowati, S.Si., Guru Kelas SDIT Salsabila 3 Banguntapan

Jangan Matikan Potensi Anak



Oleh : Suhartono

Suatu ketika, seorang anak bermain di dapur dan tanpa sengaja memecahkan gelas kaca. Gelaspun hancur tak berbentuk lagi. Sontak sang ibu berteriak kuat sambil mengucapkan kata nakal yang membuat sang anak ketakutan. Hanya karena gelas saja ibunya rela menyakiti hati sang anak dan ditambah lagi dengan pukulan yang mendarat di kakinya. Sang anak hanya mampu berdiri di pojok ruangan dengan wajah memerah dan ketakutan. Hanya karena sebuah gelas seharga Rp. 10.000, sang ibu rela menyakiti hati sang anak yang mungkin saja dapat ia ingat sampai ia dewasa.

Pertanyaannya sekarang, nakalkah anak tersebut? Apakah pantas seorang anak yang memecahkan gelas tanpa sengaja atau sekadar melompat-lompat di kursi lantas kita sebut sebagai anak nakal?

Anak diciptakan dengan segudang potensi dan keunikan masing-masing. Namun, sadarkah kita, sebagai orangtua atau guru,  ternyata kita punya andil dalam mematikan atau membonsai potensi anak yang merupakan anugerah terbesar bagi dirinya. Kita terlalu cepat memberikan label kepada mereka dengan sebutan anak nakal.

Mereka sebenarnya anak yang kreatif dan memiliki kecerdasan yang luar biasa namun kreatifitasnya tak sejalan dengan pemikiran dan keinginan kita. Seorang anak yang ingin bermain di luar rumah dan sang ibu memaksanya untuk tidur. Akhirnya pintu dikunci dan tak lupa menyelot kunci pintu yang ditaruh paling atas pintu. Lalu, kuncinya digantung di atas tembok yang tak dapat terjangkau oleh sang anak. Apa yang terjadi? Sang anak mengangkat kursi dan naik di atasnya, lalu mengambil kunci yang digantung di tembok. Menyadari kunci sudah ada di tangannya sang ibu hanya memperhatikan saja. Dalam hati, mana bisa anak sekecil itu bisa membuka pintu. Anak pun memasukkan kunci ke lubangnya dan mencoba beberapa kali memutar-mutar kunci. “Klik….” bunyi kunci terbuka.

Anak tersebut memiliki kecerdasan yang luar biasa, ia mampu memikirkan cara untuk mengambil kunci yang tergantung di tembok dan membuka pintu. Tapi masalahnya adalah kecerdasan sang anak tidak sejalan dengan keinginan sang ibu yang menginginkan anaknya untuk tidur.

Anak kadang memiliki energi “ekstra” namun kita tidak dapat menyalurkannya dengan baik Masih ingatkah kita dengan sosok si jenius Albert Einstein? Anak yang bermasalah dari sekolah dasar. Selama sekolah, ia tidak mau mengikuti pelajaran selain matematika dan fisika. saat pelajaran sastra dan yang lainnya, ia memilih keluar dari kelas dan pergi ke danau untuk bereksplorasi dengan alam. Saat di sekolah, Einstein dikenal sebagai anak nakal. Alhamdulillah ia memiliki orang tua yang sangat mendukung keinginannya yang kuat untuk terus belajar matematika dan fisika dan memilih untuk tidak mempelajari ilmu lainnya. Orangtua dan guru memiliki tanggung jawab penuh untuk menyalurkan energi ekstra sang anak pada posisi yang tepat agar sang anak mampu untuk terus mengembangkan kemampuannya.

Sering pula anak yang memiliki ide yang ” tidak biasa” namun kita menganggapnya sebagai anak yang tidak bisa diatur. Proses belajar mengajar di kelas sering sekali terhambat karena adanya beberapa anak yang tidak mampu mengikuti prosedur yang diharapkan guru. Contohnya saja ketika melakukan praktikum. Sering sekali anak tidak mengikuti arahan dari guru dan melakukan kreasi sendiri. Kita sering sekali menganggap anak nakal hanya karena ia tidak bisa mengikuti arahan kita, padahal di luar dari itu, sang anak sedang mencoba ide kreatifnya yang muncul secara tiba-tiba dan mungkin tidak mendapatkan pengakuan di rumahnya. Seharusnya kita mampu melihat dan membimbing apa yang dikerjakannya dan memberikan apresiasi atas usahanya.

Apapun yang dilakukan seorang anak yang dinyatakan terlarang bagi anak dan merugikan bagi orang lain, sesungguhnya posisi anak tetap sebagai korban. Anak adalah korban kurangnya perhatian dan bimbingan orang tua, korban pendidikan yang belum memadai, korban perkembangan teknologi dan media massa dengan aturan yang tidak berpihak kepada kepentingan tumbuh kembang moralitas dan mentalitas anak. Karena apa yang dilakukan anak yang dipandang sebagai bentuk kenakalan itu, juga merupakan bagian dari kewajiban dan tanggung jawab perlindungan orangtua, keluarga, masyarakat, bahkan negara dan pemerintah.

Suhartono, Pendidik, tinggal di Yogya

Mencintai dalam Kesempurnaan Iman


Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

"Cinta adalah kecenderungan terhadap sesuatu yang diingini", kata Imam Nawawi, 

"Sesuatu yang dicintai tersebut dapat berupa sesuatu yang diindera, seperti bentuk atau dapat juga berupa perbuatan seperti kesempurnaan, keutamaan, mengambil manfaat atau menolak bahaya." 

Maka mencintai dalam kesempurnaan iman berarti mencintai apa yang terjadi pada dirinya, terjadi pula pada saudaranya. 

Mencintai jika saudaranya mendapatkan kebahagiaan sebagaimana ia mencintai kebahagiaan itu. 

Sekali lagi ini berat. 

Bahkan Umar bin Khatab pernah menyatakan bahwa ia mencintai Rasulullah melebihi siapapun selain dirinya. 

Setelah dikoreksi Rasulullah, barulah ia mencintai Rasulullah di atas mencintai dirinya.



Prihatiningsih, S.Si., Kontributor www.majalahfahma.com

Pengaruh Pertemanan yang Baik


Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, “Allah menyelamatkan orang-orang beriman dari api neraka. Maka tidaklah pendebatan salah seorang di antara kamu bagi saudaranya dalam kebenaran yang diperbuatnya di dunia lebih keras dari pendebatan orang-orang beriman terhadap Rabb mereka tentang saudara-saudara mereka yang dimasukkan ke neraka. Mereka berkata, Rabb kami, mereka itu adalah saudara-saudara kami yang dulu shalat bersama kami, berpuasa bersama kami dan berhaji bersama kami, namun mereka telah Engkau masukkan ke neraka. Rabb berfirman, Pergilah, lalu keluarkanlah orang yang kamu kenal di antara mereka. Lalu mereka mendatangi mereka (para penghuni neraka itu), lalu mengenal mereka dengan rupa-rupa mereka, di mana api tidak melahap rupa-rupa mereka itu; di antara mereka ada yang disambar api hingga pertengahan kedua betisnya, ada lagi yang disambar hingga kedua tumitnya, lalu mereka mengeluarkan mereka.” (HR.Ibn Majah, dishahihkan oleh al-Albani)

Betapa banyak orang sesat gara-gara teman yang rusak atau sekelompok teman-teman yang nakal. Dan betapa banyak pula orang-orang yang berada di tepi jurang kehancuran, lalu Allah menyelamatkan mereka dari neraka melalui teman-teman yang baik tersebut dan kondisinya berubah kepada kondisi yang lain; dari buta menjadi dapat melihat dan dari sesat menjadi mendapatkan petunjuk. Hal itu merupakan karunia dari Allah Subhanahu wata'aala, yang dianugerahkan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan itu baru salah satu dari sekian banyak pengaruh pertemanan yang baik.||

Orangtua Digital



Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Suatu malam di stasiun kereta api Tugu, Yogyakarta. Seorang ibu sedang menebar senyumnya, entah dengan siapa. Tapi bukan kepada orang di sekelilingnya, bukan pula kepada anaknya yang masih balita di sampingnya. Tampak sangat asyik. Diselai lorong sempit, suaminya duduk hamper berhadapan, tepatnya sejajar dengan anak lelaki mereka, juga tengah asyik dengan gadget ukuran cukup lebar di tangannya. Mungkinkah suami-istri sedang itu asyik bercanda melalui gadget? Sepertinya tidak. Ekspresi mereka menunjukkan keasyikan yang berbeda.

Anak lelakinya sesekali merajuk meminta perhatian, tetapi segera ditepis oleh ibunya, bahkan kadang agak ketus. Anak itu masih berusaha merebut perhatian ibunya, tapi tetap gagal. Lalu ia mencoba lagi meraih perhatian ayahnya. Tetap sama: gagal. Beberapa saat kemudian ibunya tiba-tiba dengan wajah penuh semangat berbicara kepada anaknya, meminta berdiri, lalu berpose sejenak untuk diambil gambarnya melalui gadget. Belum puas, sekali lagi anaknya diminta bergaya. Senyum lebar merekah dari keduanya. Tetapi sesudahnya, ibu itu kembali tenggelam dengan gadegtnya, membiarkan anak lapar perhatian.

Tak kehilangan akal, anak ini lalu menendang trolley bag miliknya. Jatuh. Ibunya segera merenggut tangannya dan memelototinya dengan marah. Anak laki-laki itu segera menangis, menunjukkan pemberontakannya. Gagal mendiamkan anaknya, meski upayanya belum seberapa, ibu itu segera meminta suaminya turun tangan. Tak kalah galak, ayah anak lelaki yang “malang” itu segera menampakkan kemarahan dan memaksanya diam. Tapi anak tetap menangis. Berontak. Anak itu baru diam sesudah jurus ancaman meninggalkan anak itu sendirian di stasiun, dilancarkan ayahnya.

Pemandangan menyedihkan. Inilah orangtua digital yang luar biasa sibuk, bukan karena banyaknya urusan, tetapi karena banyaknya percakapan di sosial media yang mereka ikuti. Orangtua memperoleh keasyikan dengan gadegtnya, tetapi anaknya menderita kelaparan perhatian.

Diam-diam saya bertanya, seperti apakah saya? Jangan-jangan saya pun telah menjadi orangtua digital yang menganggap semua persoalan dapat diselesaikan dengan up-date status twitter maupun facebook. Mesra di media sosial, tapi kering dalam berbincang tatap muka. Penuh jempol di laman facebook, tetapi yang bergerak hanya jari tengah dan telunjuk. Bukan jempolnya sendiri.

Pada anak-anak balita, mereka tak dapat mengimbangi dengan aktivitas internet. Tetapi mereka pun mulai belajar menikmati dunianya sendiri dengan gadget, game dan tontonan sembari pelahan-lahan belajar menganggap kehadiran orangtua sebagai gangguan. Di saat seperti itu, masihkah kita berharap tutur kata kita akan mereka dengar sepenuh hati?

Astaghfirullahal ‘adzim. Kepada Allah Ta’ala saya memohon atas lalai, lengah dan teledor saya terhadap anak-anak dan keluarga.

Tapi bukankah kita tidak dapat mengelak dari kehidupan digital? Emm… Mungkin ya, mungkin tidak. Berkenaan dengan ini, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan: 

Pseudo-Attachment: Seakan Dekat, tapi Tak Akrab 

Jika anak aktif di social media, orangtua memang sebaiknya berteman ataupun saling menjadi follower. Tetapi ini saja tidak cukup. Orangtua tetap perlu memperhatikan tingkat konsumsi anak terhadap social-media. Merespon status anak di social media juga sangat bagus, tetapi jika tidak mengimbangi dengan aktivitas nir-luring (off line) yang baik, kita dapat terjebak dalam pseudo-attachment (kedekatan semu), seakan saling dekat, padahal masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri; sibuk narsis. Orangtua merasa dekat dengan anak, padahal mereka sebenarnya belum benar-benar saling mengenal.

Privasi atau Alienasi: Tetap Harus Ada Kontrol Orangtua 

Salah satu kata sakti di era digital ini adalah privasi. Terlebih sejumlah gadget memang menyediakan fitur yang memberikan privasi penuh. Tetapi satu hal yang harus kita ingat, memberi pupuk (padahal ini sangat bermanfaat) sebelum waktunya justru menjadikan tanaman mati. Bukan sekedar tidak berkembang. Begitu pun privasi, tanpa kendali yang baik dari orangtua di satu sisi, dan kepedulian serta empati yang kuat pada diri anak, member privasi penuh justru menjadi pintu awal alienasi. Anak terasing secara sosial, selfish dan egois. Jika ini terjadi, kecakapan sosial anak akan tumpul.

Apakah ini berarti kita tidak memberikan privasi? Kita tetap memberikannya sesuai tuntunan agama dengan takaran yang tepat. Kita memberikannya untuk hal-hal tertentu, misal berkenaan dengan penjagaan aurat, tetapi tidak membiarkan anak tenggelam dengan dunianya sendiri atas nama privasi. Soal gadget yang berkemampuan untuk melakukan aktivitas online misalnya, kita perlu mengingat bahwa anak perlu bekal memadai berkait etika berinternet dan memahami betul apa yang perlu dilakukan untuk memperoleh manfaat dari gadget. Bukan sekedar memperturutkan keasyikan.

Privasi juga hanya akan baik apabila sudah tepat waktunya untuk memberikan. Ibarat api. Jika anak belum dapat cukup matang, jangan biarkan anak bermain-main api sendirian

Mesin Pembunuh Itu Bernama Game Online

Jangan kaget. Saya harus menyebut dengan ungkapan menyeramkan karena memang sangat banyak kasus yang saya temukan. Gegara game online, anak yang tinggal setengah juz saja sudah hafal Al-Qur’an penuh 30 juz, akhirnya terdampak menjadi pecandu game online. Sanggup bermain terus-menerus hingga lebih dari 2 hari 2 malam tanpa istirahat. Mereka berhenti bermain hanya karena badannya sudah tidak kuat lagi menyanggah keinginannya. Berhenti karena tertidur. Ini berarti, anak yang telah kecanduan game online kelas berat hampir tak melakukan aktivitas lain di luar bermain game. Ini sangat mengerikan.

Ada pula yang sampai melakukan penipuan demi membeli level bermain game online yang lebih tinggi. Ini semua tentu tidak tiba-tiba. Ada tahapnya. Nah, yang perlu kita jaga adalah, anak yang belum kenal game online jangan sampai diantarkan ke pintu-pintunya semata karena temannya banyak yang bermain game online. Tiap orangtua punya arah (termasuk yang tidak tahu harus kemana). Kita harus mengendalikan arah pendidikan anak kita.

Time to Go Online: Kapan Kita Beri Kesempatan Anak Berselancar 

Boleh saja anak melakukan aktivitas online, tetapi kita perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama, apakah budaya belajarnya telah tertanam kuat. Budaya belajar, bukan sekedar kebiasaan belajar. Jika budaya belajar belum mereka miliki, maka kegiatan online akan mematikan hingga ke akar-akarnya. Kedua, apakah anak telah memahami betul etika dunia maya serta manfaat apa yang akan mereka dapatkan. Jika mereka memiliki arah yang jelas, internet dapat menjadi fasilitas yang sangat bermanfaat. Tetapi jika tidak, mereka akan terkalahkan oleh internet dan tenggelam di dalamnya, termasuk tenggelam dalam aktivitas pacaran online. Ketiga, apakah anak memiliki kecakapan sosial yang memadai dan memiliki ikatan sosial yang baik dengan teman-teman maupun keluarga. Jika ini tidak ada, kita perlu persiapkan anak agar memiliki lingkungan hubungan sosial yang baik terlebih dahulu agar kelak tidak teralienasi dari kehidupan sosial atau bahkan kehidupan nyata pada tingkat minimal.

Usia berapa sebaiknya anak boleh melakukan kegiatan online? Jika benar-benar sampai pada tingkat kebutuhan, anak dapat memiliki alamat email dan kegiatan internet untuk mencari pengetahuan di usia sekitar 10 tahun. Syaratnya, tiga hal tadi telah ada. 

Wallahu a’lam bish-shawab

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku Segenggam Iman Anak Kita

Anak Sebagai The Next Pioneer of al-Quran



Oleh: Juni Prasetya

Regenerasi merupakan keharusan bagi sebuah peradaban manusia. Dalam peradaban umat Islam, sejak diturunkannya risalah al-Quran yang turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dilanjutkan para sahabatnya kemudian ke tabiin lalu tabiin tabiit.

Hal ini menunjukkan bagaimana regenerasi al-Quran terus dan harus berlanjut sampai berakhirnya zaman. Pengemban peran penting dalam sebuah regenerasi adalah seorang anak.

Maka dari itu, di samping peran regenerasi di punggung anak, orangtua dan masyarakat perlu memberikan pendidikan terbaik, tentunya dalam hal ini pendidikan Agama menjadi dasar utama dalam membentuk karakter anak sejak dini.

Demikian halnya dalam regenerasi sampai kepada kita saat ini, tidak lepas dari peran anak dan peran orangtua. Dengan kata lain, ketika anak diharapkan menjadi the next pioneer of al-Quran maka orangtua atau masyarakat tidak hanya sekedar memberikan pendidikan terbaik dengan cara menyekolahkan di lembaga pendidikan ternama, namun pribadi serta karakter mereka juga perlu mencerminkan Quraniyyah.

Sebuah ungkapan dari seorang ulama besar bernama Imam Malik yang mengatakan “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan, dan anak kecil hari ini adalah pemuda masa depan”.

Ketika kita ingin bercermin atau melihat sosok pemimpin masa depan maka yang bisa menjadi tolak ukur adalah pemuda hari ini. Mulai dari akhlaknya, karakternya, kepribadiannya dan sosial serta lingkungannya.

Dengan melihat tolak ukur tersebut, paling tidak kita akan memiliki gambaran mengenai sosok pemimpin masa depan. Lantas pentingkah pendidikan agama bagi generasi?

Pertanyaan tersebut seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi, karena jelas bahwa pendidikan agama memang urgen sekali untuk pendidikan generasi.

Mendidik dengan ilmu agama kepada anak untuk menyelamatkannya dari api neraka, ilmu agama juga merupakan warisan ilmu dari Rasulullah yang terus mengalami regenerasi sampai zaman now ini. Betapa mulianya jika kita dan anak-anak kita sekarang sebagai pengemban warisan ilmu agama tersebut. Dan warisan ilmu agama yang penulis maksud adalah ajaran-ajaran yang terkandung di dalam al-Quran. Maka anak-anak adalah para generasi Quraniyyah zaman now yang punya hak untuk mendapatkannya.

Ada dua yang hal mengejutkan jika al-Quran kita ajarkan kepada anak, pertama, mudahnya daya tangkap anak. Menurut beberapa penelitian, anak pada usia dini sekitar 4-10 tahun memiliki daya tangkap yang kuat. Benda-benda atau gerak-gerak yang ada disekitarnya dengan mudah ia akan menangkap dan menjadi pemahaman awal bagi dirinya. Oleh karena itu, pada usia-usia ini merupakan kesempatan emas bagi orang tua untuk menanamkan hafalan al-Quran sekaligus pelajaran-pelajaran al-Quran kepada anak. Maka tidak heran jika kita mendapati anak-anak yang baru berusia 4-10 tahun sudah hafal al-Quran, seperti Musa La Ode Abu Hanafi hafiz cilik asal Indonesia yang pernah juara III tingkat internasional dan masih banyak anak-anak Indonesia berusia dini yang memiliki hafalan Quran yang kuat.
Kedua, mudahnya menanamkan keimanan pada anak usia dini. Selain mudahnya daya tangkap anak, pada usia-usia 4-10 tahun seorang anak juga memiliki potensi besar untuk ditanamkan keimanan di dalam hatinya. Hal ini tidak terlalu sulit, bahkan relatif mudah. Kita ambil pelajaran sebagaimana yang diajarkan Lukman al-Hakim kepada putranya. Melalui surat Lukman ayat 13 dan 17 Lukman al-Hakim mengajarkan kepada putranya mengenai aqidah, ibadah, dakwah, dan akhlak. Di samping itu, melalui dua ayat ini cukup jelaslah bahwa sejak dini anak tidak bisa dilepaskan dari didikan atau bimbingan agama dari orang tuanya.

Dari dua hal tersebut, sebenarnya dapat disimpulkan bahwa pendidikan anak harus berangkat dari pendidikan agama dalam hal ini pendidikan al-Quran, baik akal dan hatinya harus diawali dengan al-Quran, khususnya pada usia-usia 4-10 tahun.

Dengan mengajarkan al-Quran sejak dini kepada anak, maka akan ada regenerasi warisan ilmu yaitu risalah wahyu yang diturunkan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah, sampai kepada anak-anak kita di zaman now ini. Inilah yang penulis maksud dengan generasi Quraniyyah. Potensi akal dan hati anak tidak boleh diabaikan begitu saja oleh orang tua, keduanya sejak dini harus diasupi dengan ajaran-ajaran al-Quran, makanan terlezat dari segala makanan.  ||
 
Penulis: Juni PrasetyaMahasiswa UIN Sunan Kalijaga YK

Agar Anak Terampil Merawat Barang Pribadinya


Oleh: Adi Sulistama

Apakah anak anda sering mengalami kehilangan barang atau mainan? Hilang bukan karena mainan tersebut diambil orang. Melainkan karena dia lupa menaruhnya.

Itu tandanya anak kita belum belajar untuk merawat barang-barang pribadinya. Padahal, merawat barang-barangnya adalah sebuah bentuk tanggung jawab dan rasa syukur sudah diperbolehkan punya barang tertentu.

Sebagian dari kita mungkin melihat ini sebagai hal yang sepele. Mungkin kita sering berpikir bahwa anak tidak perlu diajari bagaimana cara merawat barang-barangnya karena ia nanti akan mengetahuinya sendiri.

Pendapat ini sepertinya benar. Akan tetapi tentu butuh waktu yang sangat lama. Padahal jika kita menginginkan anak kita mengetahui sesuatu, kita harus memang harus memberitahu dirinya. Namun, bila kita menginginkan anak kita melakukan sesuatu atau tergerak oleh sesuatu, tidak cukup dengan memberitahu dirinya.

Terlebih bila hal tersebut menyangkut nilai-nilai, cara berpikir, atau mentalitas. Penting bagi kita untuk menanamkan kepada anak sedari kecil melalui penyadaran, pembiasaan, dan pengasuhan. Meski semua orang akan tahu kejujuran itu baik, namun hanya orang yang dilatih untuk bersikap jujur yang dapat menjalankannya.

Demikian juga dengan kebiasaan merawat barang-barang. Ini bukan sekedar soal barang yang mudah dibuang dan mudah dibeli. Namun, ini menyangkut banyak hal, dari soal mental hingga moral.

Anak yang dilatih untuk menjaga barang-barangnya, akan belajar untuk menghargai usaha orangtua. Ia juga akan belajar menghargai pemberian orangtua. Dalam prosesnya, ia juga akan belajar untuk bertanggung jawab.

Sebaliknya jika kita mengabaikan hal ini dan lalai mengajarkan anak mengenai apa yang dilakukan terhadap barangnya, akan dilakukan juga terhadap barang orang lain, misalnya mengotori buku temannya atau tidak mengembalikan barang yang dipinjamnya.

Bahkan jika tidak segera dibenahi, dapat memungkinkan munculnya perilaku yang sangat kita takutkan. Sebut saja misalnya memakai barang milik orang lain tanpa izin, merusak atau mencuri.

Lalu bagaimana agar anak dapat dilatih menjaga barang pribadinya?

Pertama, sebelum dibelikan barang, ingatkan anak agar menjaganya baik-baik. Tidak boleh hilang dan tidak boleh dirusak. Ingatkan kalau kita mau membelikan anak sesuatu karena kita percaya padanya. Dengan begitu, sebelum minta dibelikan barang baru anakpun terbiasa berpikir ulang, apakah nanti ia akan mampu merawatnya.

Kedua, berikan konsekuensi kalau anak lalai. Misalnya anak menghilangkan atau merusakkan tempat makannya tanpa sengaja, sebaiknya berikan konsekuensi atau hukuman yang sepadan. Tak perlu membentak-bentak anak. Cukup tegaskan bahwa kita tidak mau lagi membelikannya mainan dalam jangka waktu tertentu.
Anak bisa membawa bekal ke sekolah dengan tempat makan seadanya. Kemudian perhatikan sikapnya. Bila anak sudah mulai menunjukkan perubahan, barulah kita bisa mencabut kembali hukuman tersebut.

Ketiga, sediakan tempat khusus untuk barang milik anak. Supaya anak lebih semangat merawat barang-barang miliknya, sediakan tempat khusus untuk menyimpan hal-hal tertentu. Misalnya, laci khusus alat tulis anak, kotak mainan untuk menyimpan mobil-mobilan, atau rak untuk memajang buku-buku koleksi anak. Dengan begitu, anak akan menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab untuk merawat barang-barangnya. Nantinya anak juga akan merasa bangga dengan barang-barang yang berhasil ia jaga dengan baik.

Keempat, ajarkan anak menghargai barang. Bila selama ini kita selalu memberikan barang-barang yang diinginkan si kecil tanpa usaha, tak heran kalau anak jadi teledor. Ia tak mengerti kalau untuk mendapatkan barang tersebut tak mudah. Maka, kalau anak minta dibelikan mainan, misalnya, jangan langsung kabulkan. Ajak anak untuk menabung terlebih dahulu. Misal dalam jangka waktu sepekan atau sebulan, anak diajak menyisihkan sebagian uang jajannya. Hal ini akan membuat anak berpikir bahwa untuk memperoleh sesuatu harus dengan usaha. Anak pun akan lebih merasa bertanggungjawab atas hasil usahanya.||

Penulis: Adi Sulistama,Pemerhati dunia anak

Saat Sang Elang Mengudara


Oleh : Felix Y. Siauw

Andai bukan karena biji yang ditanam, maka takkan mewujud akar, takkan tegak pokok dan cabangnya, dan takkan ada buah yang memberikan manfaat

Begitulah tauhid, ia yang mengokohkan aqidah, ia pula yang menumbuhkan syariah, dan sebabnya pula dakwah ditebarkan ke penjuru alam bagi manusia

Kalimat yang baik selayaknya pohon yang baik, maka siapa mencintainya, Allah tumbuhkan dalam hatinya ketenangan, dan kebaikan dalam amalnya

Tak ada manusia yang lebih sempurna ketimbang Rasulullah Muhammad saw, tak kita ragukan sedikit saja keimanan dalam hatinya, jiwanya dan dirinya

Namun beliau tak mencukupkan hanya pada hati dan lisannya, beliau perintahkan bendera bertuliskan lafadz tauhid itu untuk diangkat tinggi-tinggi

Bahkan berpesan pada kita, bahwa jihad itu adalah, ketika kita siap mengorbankan harta dan nyawa, "hanya untuk menjadikan kalimat Allah itu paling tinggi", begitu

Kalau Rasulullah saja memerintahkan untuk mengangkat bendera berlafadz syahadatain ini, maka siapa kita lalu berkata, "iman cukup di hati", begitu?

Sesuai nama yang Rasulullah berikan pada bendera ini, Rayatul Uqab, Panji Sang Elang. Terbang tinggi mengudara, berkuasa dan paling agung, diantara yang lainnya

Maka Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, melanjutkan untuk meninggikan kalimat ini. Mus'ab bin Umair dan Ja'far bin Abu Thalib menjaga dengan syahid mereka

Kini bendera itu tiba di tangan-tangan kita, estafet tanda persatuan, tanda kebanggaan, dan tanda keagungan, kalimat intisari Islam, untuk kita jaga

#aluqab #liwa #rayah #bendera #panji#rasulullah #benderatauhid #felixsiauw#radikalisromantis #211 #aksibelatauhid


Sumber : Instagram @felixsiauw

Salah Pilih Teman, Rugi Dunia Akhirat



Nak, Allah Subhanahu Wa Taala mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam memilih teman-teman sekaligus memberikan kriteria utama dan terbaik dalam memilih teman, karena akibatnya, dampaknya, untung ruginya bukan hanya berpengaruh pada kebaikan kehidupan kita di dunia tetapi kebaikan kehidupan di akhirat.

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Benar dan Maha Menjelaskan Segala Sesuatu Sesuai Hakikat Kebenaran berfirman dalam  Al-Quran Surat Az-Zukhruf [43] ayat 67:
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa."

Allah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu dan menghitung segala-galanya, yang zhahir dan yang batin, yang tampak maupun yang tersembunyi, yang di atas dan yang di bawah, mengetahui apa yang telah berlalu, apa yang sekarang terjadi, apa yang akan terjadi dan apa yang tidak terjadi seandainya terjadi dan bagaimana terjadi, memastikan ketika Kiamat telah datang, maka teman-teman akrab ketika di dunia sebagian mereka menjadi musuh bagi yang lain sehingga putuslah tali persahabatan dan cinta kasih di antara mereka karena persahabatan dibangun di atas kemaksiatan kepada Allah Taala—dalam Tafsir As-Sadi ditegaskan bahwa persahabatan dan saling mencintai di antara mereka di dunia bukan karena Allah Taala, tetapi berteman dalam kekufuran, pendustaan, dan kemaksiatan.

Sebaliknya, tali persahabatan dan cinta kasih yang didasarkan karena Allah Taala, dengan menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya, menjaga diri dari kesyirikan dan kemaksiatan, dipastikan akan kekal dan tetap bersatu karena cinta mereka abadi dan menyatu dengan keabadian cinta karena Allah Subhanahuwa Taala.

Nak, pentingnya agama sebagai kriteria utama dalam memilih teman juga ditegaskan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi waSallam,
“Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa dia berteman (HR Ahmad, HR At-Tirmidzi, dan HR Abu Dawud)

Nak, kita hendaknya berteman dengan seseorang yang agama dan akhlak kita ridhai, bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara, ilmu, dan adab karena kebiasaan, tingkah laku, sikap, dan gaya hidupnya akan sangat mempengaruhi siapa kita. Teman yang demikian dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia kita. Sebaliknya, sebaiknya menjauhi teman dekat dan teman duduk yang berakhlak jelek karena menimbulkan bahaya yang nyata dan tidak bias dihindari, bagaimana pun kerasnya usaha kita untuk menjaganya.

Berteman akrab dengan orang-orang kafir, orang-orang munafik, pelaku dosa besar, dan orang-orang yang suka melakukan apa yang diharamkan oleh Allah Taala, akan mendatangkan kemudharatan pada agama, dapat merusak agama dan dunia kita.

“Permisalan teman duduk yang shalih dan yang akhlaknya buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bias jadi ia memberimu minyak wangi, atau engkau membeli minyak wangi darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang tak sedap darinya.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Jadi, agar tidak menyesal di dunia sampai di akhirat, mari kita berhati-hati ya Nak dalam memilih teman-teman akrab kita. Mari jadikan apa pun yang lebih disukai oleh Allah Taala dan Rasul-Nya lebih kita utamakan dalam mengambil keputusan memilih atau tidak memilih seseorang menjadi teman akrab kita. Memilih karena Allah Taala dan tidak memilih karena Allah Taala semata.

 “ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran sesudah Al Quran itu dating kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)||

Mahasiswa yang Office Boy


Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Suatu saat saya ke kantor desa untuk urusan dengan bapak lurah. Pada waktu menunggu, saya duduk bersebelahan dengan seorang bapak setengah baya yang akan menanyakan informasi tentang program kelompok belajar paket C (setingkat SMU).

Saya tanya ke beliau, siapa yang akan mengikuti program tersebut. Ternyata keponakannya yang tujuh tahun yang lalu lulus SMP, tidak melanjutkan sekolah karena kenakalannya. Padahal orangtuanya masih mampu untuk membiayai.

Sangat disayangkan memang. Sekarang dia kesulitan untuk melamar pekerjaan karena pendidikannya hanya sampai dengan sekolah menengah pertama. Padahal banyak anak yang ingin sekolah tetapi orangtuanya tidak mampu. Bahkan saya pernah bertemu dengan seseorang yang sewaktu kecil rela menjadi kuli bangunan karena ingin tetap bisa sekolah. Anak tersebut sekarang sudah menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi yang saya visit dalam rangka untuk akreditasi di pertengahan tahun 2018 ini.

Ada hal yang menarik ketika mewawancarai para mahasiswa dan alumni bahwa hampir semua mahasiswa yang kelas sore atau malam, mereka kuliah sambil bekerja. Kebanyakan mereka bekerja dalam bidang yang ada kaitannya dengan kompetensi bidang keteknikan, seperti agen/dealer atau bengkel kendaraan bermotor, bengkel reparasi peralatan elektronik rumah tangga, bengkel las, ekspedisi di pelabuhan, dan ada yang bekerja sebagai teknisi di pabrik pengawetan ikan.

Para alumni yang hadir juga saya minta menceritakan perjalanan karir setelah lulus, untuk memotivasi yang masih kuliah. Kebanyakan mereka setelah lulus langsung dipromosikan oleh pihak manajemen perusahaan di mana mereka bekerja.

Ketika wawancara sampai ke mahasiswa yang terakhir, dia mengatakan bahwa sambil kuliah dia bekerja jadi OB, dan CS. Saya merasa asing dengan istilah itu, sepertinya saya belum mengenal istilah itu di bidang keteknikan. Setelah saya konfirmasikan lagi, ternyata OB adalah office boy, pelayan yang biasanya di perkantoran atau hotel, dan CS itu cleaning service.

Mendengar penjelasannya itu saya menjadi terharu. Bayangkan, seorang anak muda yang seharian telah bekerja keras sebagai pelayan, malamnya dia masih mengikuti kuliah di fakultas teknik. Anak muda ini telah merelakan segala macam hiburan yang seharusnya bisa dia nikmati bersama teman-temannya.

Dilihat dari sisi kompetensi sarjana teknik, maka kompetensi OB dan CS itu sangat jauh, tidak mudah dicari keterkaitannya. Berbeda dengan mereka yang bekerja di bengkel, agen atau servis kendaraan bermotor, atau pabrik pengawetan ikan.

Saya penasaran untuk mengetahui lebih lanjut, terutama tentang motivasinya. Namun saya harus hati-hati jangan sampai dia tersinggung, karena hal seperti ini mungkin akan sensitif. Saya tanyakan bagaimana dia bisa mempunyai niat kuliah di fakultas teknik. Ternyata kesempatan sekolah hanya sempat dia nikmati sampai SMP, karena dia harus bekerja membantu orangtuanya mencarai nafkah sebagai kuli bangunan, meskipun sebetulnya dia masih sangat ingin melanjutkan ke sekolah menengah kejuruan (SMK). Sambil bekerja di pagi hari, sorenya dia ikut program paket C, dan dengan semangat yang dia miliki, akhirnya dia dapat menyelesaikan paket ini dengan baik.
 
Dengan bekal ijasah ini, dia diterima sebagai office boy di sebuah instansi. Keinginan kuliah muncul gara-gara pertanyaan yang diajukan oleh pimpinannya ketika dia sedang menyajikan minuman “Kamu tidak ingin melanjutkan kuliah ?”. Nampaknya pimpinan itu tahu semangat belajar pegawainya. Akhirnya si office boy melanjutkan kuliah di fakultas teknik karena lingkungan tempat bekerja banyak para sarjana tekniknya. Allah TaAla selalu memberikan jalan bagi umatnya yang telah bekerja keras. Wallahualam Bishawab.


Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A., Guru Besar Fakultas Teknik Mesin Universitas Gajah Mada, Pemimpin Umum Majalah Fahma