Pembelajaran Berbasis Masalah



Oleh : Dr. Ali Mahmudi

Mengawali kegiatan pembelajaran, seorang guru mengajukan masalah sebagai berikut. Sepasang suami istri yang sangat sibuk mempunyai orangtua yang telah lanjut usia. Karena alasan kesibukan dan kekhawatiran tidak dapat merawat dengan baik, mereka bermaksud mengirim orang tua mereka ke panti jompo. Namun, mereka ragu atas keputusan itu. Bagaimana pendapatmu? Selanjutnya guru mengembangkan aktivitas diskusi yang mendorong siswa untuk secara bebas memberikan tanggapan terhadap masalah tersebut dari berbagai cara dan sudut pandang.

Dalam rangka menjawab pertanyaan tersebut, siswa didorong untuk melakukan penyelidikan dengan memanfaatkan berbagai sumber yang relevan, seperti buku, koran, majalah, Al-Qur’an, hadits, atau lainnya. Melalui aktivitas tersebut yang dipandu oleh proses diskusi yang terarah diharapkan siswa akan memperoleh pengetahuan, seperti pengetahuan tentang pandangan agama terhadap hubungan anak-orang tua, pengetahuan tentang panti jompo beserta aktivitasnya, kebijakan pemerintah terkait hal ini, pandangan masyarakat terhadap keberadaan panti jompo, dan sebagainya. Pengetahuan demikian lebih bermakna bagi siswa karena diperoleh bukan dari pemberitahuan guru, melainkan dibentuk oleh siswa sendiri melalui aktivitasnya dalam menyelesaikan masalah.

Pembelajaran yang dilakukan guru di atas dapat dikategorikan sebagai pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), yakni pembelajaran yang menjadikan masalah atau kasus sebagai pemicu (trigger) bagi proses belajar siswa. Berbeda dengan pembelajaran pada umumnya yang menjadikan masalah sebagai penerapan dari konsep, pembelajaran berbasis masalah justeru menempatkan masalah di awal pembelajaran sebelum siswa mempelajari pengetahuan formal. Berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, siswa mengidentifikasi informasi yang diketahui dan diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut, melakukan penyelidikan, menganalisis, menyimpulkan, dan mengevaluasi simpulan tersebut. Melalui aktivitas demikian, siswa diharapkan dapat memperoleh pengetahuan yang relevan dan sekaligus dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Sangat dimungkinkan, pengetahuan yang dibentuk oleh siswa masih bersifat informal yang belum sesuai dengan pengetahuan formal. Namun, melalui proses diskusi yang terarah, pengetahuan tersebut akan lebih terkonsolidasi dan sesuai dengan pengetahuan formal.

Pembelajaran berbasis masalah didasarkan atas pandangan bahwa belajar merupakan proses aktif siswa dalam membangun pengetahuan melalui interaksinya dengan masalah atau konteks yang sesuai. Siswa dapat mempelajari substansi materi pelajaran secara efektif melalui aktivitasnya dalam menyelesaikan masalah terkait substansi materi tersebut. Sekali lagi, masalah tersebut tidak ditempatkan pada bagian akhir proses pembelajaran sebagai penerapan konsep, melainkan ditempatkan di awal pembelajaran sebagai pemicu proses belajar siswa. Pembelajaran berbasis masalah juga didasarkan pada filosofi bahwa sekolah hendaknya menjadi laboratorium bagi siswa untuk mengenal masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari dan sekaligus mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikannya.

Pembelajaran berbasis masalah tidak dimaksudkan untuk menyampaikan sejumlah besar informasi kepada siswa, melainkan lebih dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir, kemampuan pemecahan masalah, dan mendorong siswa menjadi pebelajar mandiri. Kemampuan demikian dipandang lebih diperlukan siswa untuk menyelesaikan masalah dalam berbagai bidang. Demikian juga, kemandirian belajar siswa sangat diperlukan siswa untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan belajarnya dan mengidentifikasi serta mencari berbagai sumber belajar yang mendukung.

Penggunaan masalah untuk memicu proses belajar siswa merupakan karakteristik utama pembelajaran berbasis masalah. Masalah yang digunakan hendaknya realistis bagi siswa. Perlu dicatat bahwa suatu masalah yang realistis bagi sekelompok siswa tertentu belum tentu sesuai untuk kelompok siswa lainnya. Misalnya, masalah yang realistis bagi siswa di perkotaan belum tentu realistis untuk siswa pedesaan, demikian pula sebaliknya. Masalah tersebut juga harus bermakna bagi siswa, yakni berkaitan dengan substansi materi yang akan dipelajari. Selain itu, hendaknya masalah juga bersifat terbuka, dilematis, dan kompleks. Masalah demikian dapat memicu keingintahuan siswa dan mendorong mereka mengembangkan kemampuan berpikirnya. Tentu saja masalah tersebut juga harus sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

Disadari bahwa tidak mudah mempraktekkan pembelajaran berbasis masalah. Tidak mudah menemukan masalah kontekstual yang menarik dan tidak mudah pula mengelola pembelajaran yang memanfaatkan masalah tersebut sebagai pemicu proses belajar siswa. Selain itu, tidak mudah pula mengubah budaya guru yang cenderung mengambil peran dominan sebagai penyampai informasi menjadi fasilitator yang memfasilitasi proses belajar siswa. Namun, karena berbagai manfaat yang dimiliki, pembelajaran ini perlu dipraktikkan atau setidaknya dijadikan sebagai variasi dari proses pembelajaran yang biasa dilakukan, sehingga terwujud pembelajaran yang lebih bermakna.

Dr. Ali Mahmudi, Kaprodi Pendidikan Matematika, Universitas Negeri Yogyakarta

Agar Televisi Tidak Merebut Kebersamaan Keluarga



Oleh : Ali Rahmanto

Ada beberapa efek buruk yang dapat diperoleh bila anak terlalu lama menonton televisi. Efek ini berlaku untuk anak dari segala umur.  Anak menjadi pasif dan tidak kreatif. Hal tersebut terjadi karena anak hanya duduk di depan televisi sepanjang waktu. Kemampuan berpikir dan berimajinasi anak kurang berkembang, karena anak disodori sesuatu yang sudah jadi. Kebersamaan dengan keluarga pun kadang terasa hampa karena asyik dengan tayanganj televisi.

Tidak bisa disangkal, dampak lain yang muncul akibat tayangan televisi yang kini terus menonjolkan kekerasan, seksualitas, horor, maupun mistik. Parahnya tayangan untuk konsumsi anak berupa film kartun seringkali tidak lepas dari kekerasan, mistik dan seksualitas. Beragam acara kartun anak jelas-jelas menonjolkan kekerasan seperti perkelahian yang dibuat secara detil dan dalam waktu yang lama. Padahal orangtua biasanya selalu mengizinkan dan membebaskan anaknya melihat film kartun. Hasil survey Nielsen Media Riset 2004 menempatkan anak-anak di Indonesia sebagai penonton televisi terbanyak melebihi yang lain.

Anak-anak yang kurang mendapat didikan orangtua karena kesibukan kerja mencari uang. Mereka justru banyak menghabiskan waktunya di depan televisi. Sebuah survey di Amerika menunjukan anak-anak menghabiskan watunya rata-rata 4 jam sehari. Mereka sangat menikmati acara televisi. Akibatnya televisi memberikan pengaruh yang sangat besar bagi anak-anak, bahkan lebih besar dari di sekolah dan didikan orangtuanya.

Karena itu, diperlukan lembaga formal maupun non formal memberi masukan sisi kualitas sebuah program televisi agar bukan hanya kuantitas yang menjadi alat ukur. Kualitas garapan sebuah program seperti, keakuratan, nilai-nilai kemanusiaan, penyutradaraan, editing, dll sampai dampak yang timbul, pengaruh-pengaruh lain yang bisa merugikan penonton televisi dengan tetap berpijak pada Undang-Undang maupun kode etik nilai moral yang mulia harus diakomodasi. Sedangkan dari lembaga formal seperti KPI atau Komisi Penyiaran Indonesia diharapkan mampu membuat aturan main yang jelas.

Sisi lain yang bisa diharapkan sebenarnya adalah munculnya kesadaran para pengelola TV untuk membentuk suatu gerakan kebersamaan untuk memikirkan kode etik dan aturan-aturan sendiri lainya dan dengan semangat kebersamaan mencegah tayangan tayangan tidak bermutu muncul di layar televisi kita. Persoalan akan semakin rumit setelah beroperasinya puluhan TV lokal di daerah-daerah. Tanpa regulasi yang jelas TV-TV lokal akan bersaing secara tidak sehat. Akibatnya bisa saja penonton semakin dimanjakan, atau sebaliknya tayangan yang murahan dan tidak bermutu bisa menjamur dimana-mana. Jika itu terjadi maka televisi yang seharusnya kawan bisa menjadi musuh utama kita di ruang keluarga Indonesia.

Selain itu, perlu kiranya menanamkan nilai moral di dalam keluarga agar kebersamaan kita di dalam keluarga tidak terenggut oleh televisi. Inilah yang paling penting. Jangan sampai televisi justru mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat, Secara fisik kita bersama dengan anak, namun secara batin, saling berjauhan akrena asyik dengan televisi.

Tips agar televisi tidak merebut kebersamaan dengan keluarga:
Cari kegiatan alternatif.
Orangtua dan orang dewasa lain harus disiplin untuk tidak kecanduan televisi. Cari kegiatan dan media alternatif agar tidak selalu menonton televisi. Misal dengan membaca, bermain dan sebagainya.

Pura-pura suka
Jika Anda termasuk yang kurang suka membaca, maka ada baiknya Anda untuk pura-pura suka membaca. Sibukkan Anda dengan buku bacaan. Kesankan dengan mimic ajah yang asyik dan serius, tunjukkan bahwa membaca adalah aktivitas yang lebih menyenangkan. Pancing agar anak tertarik, misalnya ketika mereka nonton, alihkan perhatian mereka dengan menunjukkan gambar/informasi menarik dari yang kita baca,

Sesekali, dampingi saat menonton sebuah acara sambil sharing mengenai nilai-nilai yang ditawarkan sebuah tayangan. Ketika anak menyukai acara yang tidak baik, beberapa saat sebelum acara tersebut dimulai, buatlah anak sibuk dengan kegiatan yang menyenangkan (memancing, memasak bersama, mendatangkan teman-temannya untuk bermain/bersepeda).

Sinergi Harmonis Guru dan Orangtua



Oleh : Eko Sutrisno

Dalam dunia pendidikan kita, sejauh ini kerjasama antara guru dan orangtua belum berjalan secara efektif. Orangtua kurang intens berkomunikasi dengan guru, bahkan ketika diundang ke sekolah banyak orangtua yang merespon negatif. Anggapan bahwa undangan ke sekolah identik dengan penarikan iuran dan pembayaran masih melekat di sebagian wali murid. Kesenjangan psikologis antara orangtua dan guru harus direduksi karena pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.

Orangtua dan guru memiliki kedudukan strategis dalam pendidikan. Orangtua adalah guru pertama bagi anak-anak, dan guru adalah penerus pendidikan di luar lingkungan keluarga. Orangtua yang perhatian terhadap anak dalam belajar di rumah akan memudahkan kerja guru di sekolah, begitu juga sebaliknya. Kejelasan dalam penyampaian materi di sekolah akan memudahkan bagi orangtua dalam membina anak di rumah. Karena itu, diperlukan sinergi yang harmonis antara guru dan orangtua.

Substansi sinergi antara orangtua dan guru adalah bekerjasama dalam rangka meningkatkan kualitas pengetahuan, keterampilan, dan karakter anak didik. Untuk menghasilkan kualitas sinergi yang baik  diperlukan suatu perilaku kerjasama yang merupakan konsekuensi dari semangat berkelompok atau kebersamaan yang kohesif.Sinergi orangtua dan guru akan bermakna creative cooperation jika dalam kerjasama keduanya dibarengi dengan gagasan yang inovatif. Guru tentu memiliki banyak inovasi agar sekolahnya memiliki keunggulan baik keunggulan kompetitif maupun komparatif. Sebaliknya orangtua juga mengharapkan anaknya memperoleh pendidikan yang baik sehingga memiliki daya saing yang tinggi sekaligus mampu membangun jaringan yang baik.

Dari kedua harapan yang datang dari pihak orangtua dan guru maka ada titik temu di mana keduanya akan membangun budaya berprestasi dan budaya unggul. Dengan persamaan persepsi ini maka orangtua dan sekolah secara tidak langsung sudah membangun kesepakatan bagaimana memajukan sekolah. Kesepakatan bersama merupakan suatu bentuk saling percaya yang merupakan variabel utama dalam bekerja sama, bahkan rasa saling percaya itu ekivalen dengan perilaku kerjasama. Dengan kerjasama berlandaskan rasa saling  percaya orangtua dapat berperan dalam berbagai kegiatan untuk memajukan sekolah, orangtua dapat menjadi expertis ketika sekolah membutuhkan resources yang sesuai dengan keahliannya.

Sinergi orangtua dan guru diera digital seperti saat ini tentu memiliki pola hubungan yang berbeda dibanding zaman dahulu. Sinergi orangtua dan guru sudah saatnya berbasis teknologi komunikasi. Guru dan pihak sekolah dapat menyediakan ruang informasi yang dapat diakses orangtua masing-masing siswa secara mendetail dan orangtua dapat share informasi, keluhan, dan konsultasi kepada guru atau kepala sekolah melalui internet.

Jika pola hubungan di atas terbangun dengan baik maka orangtua dapat mengontrol anaknya di sekolah, memantau kualitas akademik sekolah, dan sekaligus dapat memberi input kepada sekolah agar lebih progesif dan memiliki nilai lebih. Di era pendidikan modern, sinergi yang berkualitas antara orangtua dan guru adalah kata kunci kesuksesan anak didik.

Sebenarnya sekolah sebagai sebuah institusi punya kewajiban yang besar terhadap orangtua, sebaliknya juga orangtua juga punya kewajiban yang tak kalah banyak nya kepada sekolah. Apabila kewajiban dan tanggung jawab itu dapat berlangsung dengaan baik maka sekolah akan makin maju karena mempunyai orangtua yang selalu mendukung dan memberikan empati terhadap apa yang institusi sekolah lakukan bagi pendidikan putra putrinya. Banyak riset yang membuktikan bahwa keterlibatan orangtua yang banyak dalam proses pendidikan anak nya terbukti membawa pengaruh yang baik dalam kehidupan akademis nya. Dengan demikan sebuh pola hubungan yang harmonis antar orangtua dan sekolah harus diciptakan dan dibina.

Penulis : Eko Sutrisno, Pemerhati dunia anak

Kapan Kita Ajarkan Membaca Al Qur’an?



Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Marilah kita akhiri acara kita dengan sama-sama membaca doa penutup majelis.” Anda pernah mendengar ungkapan semacam itu? Apakah yang dimaksud dengan membaca pada kalimat tersebut? Apakah kita kemudian mengambil secarik kertas yang berisi tulisan doa, lalu membacanya? Tidak. Yang dimaksud dengan membaca pada perkataan tersebut adalah reciting, yakni mengucapkan satu kalimat atau serangkaian kalimat yang kita bahkan telah menghafalnya. Sama halnya dengan penggunaan kata membaca dalam ungkapan “pembacaan doa yang akan dipimpin oleh…” sama sekali tidak merujuk kepada tindakan seseorang untuk mengambil secarik kertas atau buku yang berisi serangkaian doa, membacanya, lalu orang lain juga melakukan hal yang sama, yakni membaca tulisan yang dipimpin orang tersebut. Yang terjadi adalah, seseorang berdoa sementara yang lain mengaminkannya. Tetapi kegiatan ini kita menyebutnya dengan membaca.

Berkait dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, kita mengenal kegiatan membaca bil ghaib dan bil nadzri. Yang dimaksud dengan membaca Al-Qur’an bil ghaib adalah “membaca” tanpa melihat mushhaf. Jika diterapkan pada anak-anak, misalnya kita melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu anak menirukannya. Atau pada tahapan lebih awal lagi cukup dengan memperdengarkan. Tetapi kita mengenalnya dengan istilah membaca, padahal yang terjadi adalah memperdengarkan. Adapun membaca bil nadzri adalah membaca Al-Qur’an dengan melihat mushhaf, memahami kaidah-kaidah membaca, mengenali huruf-hurufnya serta hukum bacaannya.

Di sini kita melihat sekurangnya ada tiga arti membaca Al-Qur’an.
Pertama, memperdengarkan kepada bayi ayat-ayat yang kita hafal (reciting aloud) atau kita baca dengan melihat mushhaf (reading aloud). Dalam hal ini, proses yang berlangsung adalah anak menerima dan merekam (receiving and recording) sehingga memudahkan baginya untukmenghafal (memorizing) di kemudian hari.

Kedua, memperdengarkan kepada anak, lalu anak menirukan apa yang kita perdengarkan tersebut. Proses memperdengarkan tersebut dapat berbentuk reciting aloud, dapat pula berupa reading aloud. Hanya saja anak kita minta untuk menirukan. Dalam hal ini, proses yang terjadi lebih kompleks, yakni menerima, mengolah dan memproduksi ucapan sesuai yang ia dengar.

Ketiga, mengajarkan kepada anak mengenali simbol-simbol berupa huruf dan mengubah rangkaian simbol menjadi satu kata bermakna dan selanjutnya menjadi kalimat utuh bermakna. Sebuah proses yang sangat kompleks. Inilah kegiatan yang secara umum disebut mengajarkan membaca (reading).

Pengertian ketiga tentang membaca Al-Qur’an itulah yang dikenal sebagai kegiatan membaca (reading) dalam diskusi tentang literasi, pun pembahasan tentang persekolahan.

Adapun pengertian pertama maupun kedua biasa dikenal dalam kegiatan pembelajaran membaca sebagai pre-reading experience (pengalaman pra-membaca). Saya sempat membahas tentang pengalaman pra-membaca ini di buku Membuat Anak Gila Membaca.

Jika Anda ingin anak senang membaca, salah satu hal yang dapat kita berikan sejak usia dini adalah pengalaman pra-membaca. Tetapi saya tidak sedang mendiskusikan hal tersebut saat ini. Saya ingin lebih fokus pada pembahasan tentang berbagai makna membaca tersebut. Semoga dengan demikian kita dapat memberikan rangsang mendidik yang tepat kepada anak.

Saya merasa perlu membahas ini agar kita tidak gegabah menyalahkan maupun membela. Sebagian saudara kita ada yang dengan gegabah menganggap bahwa menunda mengajarkan membaca dalam pengertian reading (menangkap simbol berupa huruf, mengolah dan mengucapkannya menjadi kata maupun kalimat) hingga usia anak cukup matang sebagai makar Yahudi dan sikap yang menyalahi salafush shalih. Padahal yang kita dapati pada sejarah para ulama, pembelajaran membaca yang dimaksud lebih bersifat reciting aloud maupun reading aloud.

Sampai saat ini kita masih mendapati berbagai contoh bagaimana seorang syaikh membacakan suatu ayat, lalu anak menirukannya. Ini merupakan metode warisan Islam yang sangat bagus. Melalui cara ini anak belajar secara alamiah untuk mengucapkan (reciting) ayat-ayat dengan benar, makharijul huruf yang tepat dan menghafal banyak surat bahkan sebelum ia mampu membaca. Hanya saja hafalan Al-Qur’an mereka kerap disebut dengan ungkapan “anak sudah memiliki bacaan Al-Qur’an yang sangat bagus” atau “anak memiliki disiplin membaca Al-Qur’an semenjak dini”, meskipun yang dimaksud adalah reciting.

Barangkali, inilah resiko tinggal di negeri yang miskin bahasa. Apalagi jika diperparah dengan keengganan membaca dengan tenang, menelaah dengan jernih dan memahami dengan baik. Dua sikap yang kita sangat perlu berhati-hati adalah ifrath dan tafrith.

Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, Penulis buku parenting
Foto: google

SURFING


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Krui, Pesisir Barat, Lampung. Memasuki area pantai, beberapa orang bule tampak lalu lalang. Dua orang bule laki-laki datang dari arah yang berlawanan dengan saya dan rombongan. Masing-masing dari keduanya naik motor dengan membawa peralatan surfing alias selancar. Santai, tanpa helm, membiarkan rambutnya yang panjang berkibar diterpa angin.

Menurut cerita, Oktober merupakan salah satu puncak kunjungan turis yang hendak berselancar di Pesisir Barat. Jauh-jauh datang dari Italia, Perancis atau berbagai negeri lainnya demi mengejar keasyikan berselancar di salah satu area selancar terbaik dunia. Ini berkait dengan ombaknya yang besar dan cocok untuk selancar.

Kegiatan satu ini konon memang sangat mengasyikkan. Terhubung langsung dengan Samudera Hindia, selancar di Pesisir Barat memang menawarkan tantangan mendebarkan yang dapat membuat kita melupakan hiruk-pikuk kesibukan sehari-hari.
.
Saya pun mencoba berselancar. Mengasyikkan memang hingga dapat membuat seseorang tidak lagi tanggap terhadap anak maupun istri. Ini bukanlah surfing alias selancar di Pesisir Barat seperti yang dilakukan oleh para turis itu, tetapi berselancar di internet, menjelajahi lautan Google melalui sebuah benda kecil bernama gadget. Konon berselancar melalui gadget justru lebih mengasyikkan sekaligus melalaikan dibandingkan berselancar di lautan. Surfing menerjang ombak hanya bertahan beberapa saat. Sesudah itu istirahat dan melakukan kegiatan santai. Sementara selancar di dunia maya, bahkan bisa berlangsung hingga kita hampir tertidur. Lupa semua urusan, termasuk bincang hangat dengan anak-anak.

Omong-omong, sudah engkau bercanda dengan anak-anak hari ini? Ataukah masih asyik berselancar dengan gadget?

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku & Motivator

Ajak Anak Beraktivitas Fisik



Oleh : Muhammad Irfan

Aktif bergerak merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan fisik anak-anak. Dengan aktif bergerak tumbuh kembang anak juga akan terbantu, baik perkembangan fisik maupun singkronisasi pergerakan dari berbagai bagian tubuhnya. Selain dengan membantu perkembangan tubuh, dengan turutu bergerak kesehatan anak anda akan ikut terbantu, anak anda akan lebih sehat secara fisik.

Orangtua sebaiknya menjadi orang yang turut perhatian terhadap tumbuh kembang anak dari berbagai aspek, baik afektif, kognitif serta psikomotornya. Oleh karena itu, alangkah sangat baik jika anak kita adalah anak yang cukup aktif bergerak dan senang melakukan aktifitas fisik ketimbang hanya duduk bermain game dan tidur di rumah. Akan lebih baik jika kita bersama dengan seluruh anggota keluarga lainnya secara aktif bergerak bersama-sama.

Jika anak termasuk ke dalam anak yang senang beraktifitas fisik, maka jangan untuk mencoba melarangnya untuk melakukan aktifitas fisik tersebut. Sebab hal tersebut justru bisa mengekang kreativitas. Bagi Anda yang senang dengan aktifitas fisik maka ada baiknya anda mengarahkannya ke arah kegiatan yang baik dan sesuai dengan perkembangan usianya di saat itu.

Kebiasaan bergerak aktif yang diajarkan dan ditanamkan sejak masa kecil dapat melekat di dalam diri anak anda dan bisa terbawa hingga ia dewasa. Dengan rajin aktif bergerak dan berolahraga tentunya tubuh yang segar dan fit bisa didapatkan oleh seluruh anggota keluarga. Meskipun demikian terkadang kesulitan untuk memulai kebiasaan baik ini selalu muncul. Oleh karena itu berikut ini ada beberapa saran dan tips yang bisa anda lakukan untuk mulai mengajak anak anda bergerak dan melakukan aktifitas fisik yang menyehatkan.

Tips mengajak anak melakukan kegiatan fisik:

Rancang Kegiatan Outdoor Keluarga
Sebagai sebuah keluarga tidak ada salahnya Anda mengajak anak-anak berlibur dan berwisata. Kegiatan berlibur sebenarnya tidaklah harus mahal dan jauh. Momen liburan merupakan salah satu kesempatan bagi anda merancang sebuah kegiaatan luar rumah yang menyenangkan. Jika anda seringkali menghabiskan waktu hanya dengan jalan-jalan di pusat perbelanjaan, mungkin sesekali anda melakukan kegiatan berenang sekeluarga, bersepeda, jalan, santai, hiking, bermain bola di taman dan berbagai jenis kegiatan fisik yang sebenarnya sederhana dan jarang dilakukan, namun memiliki manfaat yang sangat besar.

Olahraga Bersama Keluarga
Kegiatan olahraga merupakan sebuah kegiatan penting yang sebaiknya dilakukan setiap keluarga. Akan sangat baik ketika anda berolahraga bersama. Tips yang bisa anda lakukan ialah dengan mencanangkan hari olahraga keluarga. Setiap anggota keluarga bisa bebas memilih olahraga apa yang mereka sukai setiap pergantian minggunya, sehingga tidak menimbulkan rasa bosan. Tidak perlu terlalu sering, dengan hanya 1 hari setiap minggunya sudah cukup bagi anda untuk melakukan kegiatan olahraga bersama dan melakukan aktifitas bersama secara mengasyikan.

Kegiatan Membersihkan Rumah Bersama
Melakukan aktifitas fisik tidaklah melulu harus di luar rumah, kegiatan rumah pun sebenarnya bisa dilakukan untuk menggerakan badan anda. Salah satunya ialah dengan melakukan kegiatan bersih-bersih rumah secara bersama-sama. Dengan melakukan kegiatan tersebut anda tidak hanya berkeringat dan menggerakan badan, namun di sisi lain anda juga sekaligus mengerjakan tugas rumah. Gotong royong membersihkan rumah juga merupakan sebuah langkah yang bisa anda gunakan untuk mempererat hubungan antara anda dengan anggota keluarga lainnya. Lakukan kegiatan tersebut dengan sukarela dan ciptakan suasana yang mengasyikan tanpa tekanan dan aksi marah-marah.

Merancang Permainan Seru
Salah satu faktor yang banyak membuat anak malas untuk bergerak dan lebih memilih gadget serta tenggelam di dalam game karena biasanya orangtua tidak memiliki agenda menarik ketika sedang melakuakn aktivitas bersama. Oleh karena itu cobalah untuk merancang dan merencanakan kegiatan keluarga anda secara lebih baik. Anda bisa mencoba melakukan sebuah permainan baru yang mungkin sebelumnya belum pernah sama sekali dicoba oleh anak anda. Ada baiknya anda sebelumnya mengetahui atau mencari tahu apa sebenarnya hal yang sdang benar-benar disukai anak anda dan jadikan pula hal tersebut sebagai pancingan, atau anda bisa merancang sebuah permainan yang disukainya dengan berbalut aktifitas fisik baik outdoor atau indoor.

Penulis : Muhammad Irfan, Pemerhati dunia anak,

Mendorong Anak Gemar Membaca



Oleh : Muh. Mohtadin, S.Pd.I.

Banyak orangtua yang gemar membaca dan menghabiskan beberapa buku setiap hari. Sementara mereka tidak peduli apakah anak-anaknya gemar membaca atau tidak. Bahkan dibiarkan menonton televisi ketimbang mengambil sebuah buku.

Padahal membaca memberikan banyak manfaat, mulai dari membangkitkan daya imajinasi hingga efek mengurangi stres. Kenyataannya, mereka yang sering membaca buku mengalami perbaikan dalam kosa kata, memperkaya ingatan dan bahkan rasa akan harga diri yang lebih sehat. Seluruh manfaat ini dapat memberi pengaruh yang positif dalam kehidupan anak kita. Lalu bagaimana kita sebagai orangtua dapat menanamkan kegemaran membaca dalam diri anak kita?
Salah satu tantangan yang lumayan sulit dihadapi oleh para orangtua adalah bagaimana cara membuat anak suka membaca dan menikmati hobi membaca. Berikut ini adalah enam saran untuk membantu agar anak  kita gemar membaca:

Pertama, mulailah sejak dini. Anak kita cenderung gemar membaca bila orangtua mulai membacakan buku kepadanya pada usia yang sangat muda. Tidak pernah terlalu dini untuk mulai membaca. Bahkan saat mereka masih bayi, anak-anak yang dibacakan cerita oleh orangtuanya memperoleh manfaat besar. Bayi belajar cara berbicara serta keterampilan berkomunikasi, ketimbang kata-kata yang sebenarnya dari pengalaman mereka. Dengan membacakan kepada anak Anda sejak dini, Anda menyediakan lebih banyak peluang untuk mengembangkan keterampilan berbicara tahap awal. Selain itu, anak-anak menyukai perhatian, dan Anda menyediakan waktu tambahan untuk ikatan batin.

Kedua, berilah teladan. Jika anak Anda melihat Anda membaca di waktu-waktu luang Anda, mereka cenderung untuk membaca sendiri. Bicarakanlah mengenai buku yang sedang Anda baca serta hal apa yang menarik dari buku-buku itu. Sehingga membuat anak-anak penasaran apa yang dibaca orangtuanya.

Ketiga, membacalah bersama-sama. Hal ini kembali lagi pada waktu ikatan batin antara anak-anak dan orangtua yang disebutkan sebelumnya. Anak-anak menghendaki lebih banyak waktu bersama dengan orangtua mereka. Jika mereka mengerti bahwa mereka mendapatkan lebih banyak waktu ayah dan ibu melalui membaca, mereka akan mengembangkan kegemaran akan kegiatan tersebut yang dapat menjadi sumber motivasi yang kuat.

Keempat, bantulah anak-anak memilih buku yang mereka minati dan yang dapat menjadi sumber rujukan mereka. Membaca hendaknya menjadi pilihan, bukan paksaan. Biarlah minat mereka menjadi pembimbing mereka. Jika anak Anda adalah seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, dia mungkin tidak berminat pada buku-buku yang dipenuhi oleh cerita-cerita tentang tuan putri dan kuda poni. Sediakanlah kepadanya bahan-bahan bacaan dengan pokok bahasan yang bervariasi yang dia minati. Lebih baik lagi, bantulah dia memilih buku-buku yang berisikan tokoh-tokoh yang sesuai usianya.

Kelima, berilah penghargaan atas prestasi yang mereka capai. Sebagian anak termotivasi oleh prestasi yang mereka capai; sementara yang lainnya termotivasi oleh penghargaan atas prestasi tersebut. Buatlah bagan yang jelas yang dengan bagan tersebut anak Anda dapat menelusuri sampai di mana pembacaan mereka. Pastikan bahwa ada tujuan yang jelas di bagian akhir (jumlah buku atau halaman yang dibaca atau jumlah waktu yang dihabiskan). Setelah mereka mencapai tujuan mereka, rayakanlah apa yang mereka capai dengan sesuatu yang istimewa.

Keenam, sisihkan waktu untuk membaca. Khususkanlah sejumlah waktu tertentu bagi anak Anda untuk membaca setiap hari. Setelah beberapa minggu membaca secara konsisten, maka itu akan menjadi kebiasaan. Banyak orangtua yang gemar membaca secara otomatis beranggapan bahwa membaca akan dapat dinikmati secara alami oleh anak-anak mereka. Namun membaca sering merupakan kenikmatan yang diperoleh, sesuatu yang anak-anak harus berusaha untuk memperolehnya. Jika Anda terus bertahan untuk membacakan kepada anak-anak Anda, anak-anak Anda akan menemukan sukacita yang dihasilkan dari kegiatan membaca serta menghargainya di sepanjang kehidupan mereka, sehingga pada akhirnya mereka memperoleh banyak manfaat dari menjadi seseorang yang terbiasa membaca. Minggu ini, pilihlah salah satu dari keenam saran yang terdapat dalam artikel ini dan mulailah menerapkannya kepada anak-anak Anda. Selamat membaca!

*) Muh. Mohtadin, S.Pd.I. Direktur Les Baca Anak Hebat

Ketika Anak Beranjak Baligh



Oleh : Muhammad Abdurrahman

Islam sangat memperhatikan masalah pembinaan dan pendidikan anak. Sangat ironis jika ada orangtua yang mengabaikan pendidikan anaknya. Mereka menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya pada sekolah. Padahal sekolah berbasis agama saja tidak akan mampu memberi garansi, apalagi sekolah-sekolah umum yang minim sentuhan agama.

Apalagi tantangan mendidik di era modern ini. Anak zaman sekarang banyak yang baligh lebih cepat dari generasi yang sebelumnya. Banyak orangtua yang belum memberi bekal yang cukup pada anak-anaknya, sehingga ketika baligh, mereka minim bekal. Mereka kebingungan dengan apa yang terjadi pada diri mereka di masa awal baligh. Karena itu, sejak pra-baligh, anak harus mendapat bekal yang cukup.

Ajarkanlah kepada sang buah hati untuk minta izin ketika hendak masuk ke kamar orangtua. Allah telah berfirman bahwa hendaklah anak meminta ijin sebelum masuk menemui orangtua mereka.

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai hulm (ihtilam), Maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-Nuur [24]: 59)

Sungguh tidak mungkin Islam mengajarkan sesuatu tanpa adanya hikmah di dalamnya. Sesungguhnya orangtua adalah teladan bagi anak-anak mereka. Ketika anak memasuki kamar orangtua tanpa izin, boleh jadi mereka akan melihat kedua orangtua mereka dalam keadaan yang tidak pantas untuk mereka lihat. Anak yang melihat orangtua mereka dalam keadaan berbeda dengan keadaan sehari-hari yang mereka lihat akan berdampak kepada pekerti mereka, karena mereka melihat sesuatu yang sebenarnya belum waktunya untuk mereka pahami. Kewibawaan orangtua pun akan jatuh di mata anak.

Hendaknya setiap orangtua mengajarkan kepada anak-anaknya untuk menjaga pandangan dan menutup aurat sejak masih kecil. Hal tersebut lebih baik dan lebih mudah untuk membentuk kebiasaan yang baik pada diri mereka. Anak akan merekam segala hal yang berkesan dalam ingatan mereka. Makna berkesan bagi anak berarti sesuatu yang baru dan segala sesuatu yang baru akan tampak menarik di mata anak. Apabila anak melihat sesuatu yang tidak pantas atau belum waktunya mereka lihat, maka jiwanya akan terguncang dan pikirannya akan terganggu dengan apa yang dilihatnya.

Anak yang tidak dibiasakan untuk menjaga pandangannya akan melihat aurat orang lain yang tidak boleh dilihatnya, apalagi pada zaman sekarang ini begitu banyak manusia mengobral auratnya tanpa merasa malu sedikit pun. Allah telah berfirman,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (Qs. An-Nuur [24]:30)

Orangtua juga harus mengajarkan pada mereka untuk menutup aurat sejak dini. Biasakan anak kita untuk menutup aurat mereka agar tumbuh dalam jiwa si kecil perasaan malu dan kecintaan mereka terhadap hijab. Menutup aurat dapat diajarkan pada si kecil ketika shalat sebagai syarat sah shalat, kemudian biasakanlah ia memakai hijab di luar sholat sedikit demi sedikit.

Pisahkanlah tempat tidur mereka. Rasulullah adalah pendidik yang sangat cermat, sehingga tidak terluput dari perhatiannya prinsip yang sangat penting dalam membina anak-anak yang berlainan jenis. Rasulullah telah mengajarkan kepada orangtua untuk memisahkan tempat tidur anak-anak mereka. Imam Ahmad (6467) meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan sanad hasan,

“Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka ketika meninggalkannya apabila mereka telah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Pisahkanlah ranjang anak-anak ketika mereka telah mencapai usia 10 tahun. Hal ini disebabkan ketika berusia 10 tahun, syahwat mereka telah mulai berkembang dan bila tidak diatur bisa jadi mereka akan melampiaskan nafsu seksualnya pada jalan yang diharamkan oleh agama.

Orangtua juga wajib mengajari anak tentang kewajiban-kewajiban mandi dan tata cara membersihkan diri dari janabat. Tidak kalah penting dari kedua hal tersebut, hendaknya kita selalu memperingatkan mereka agar tidak terjerumus dalam perbuatan keji dan perzinaan. Wallahu a’lam.

*) Muhammad Abdurrahman, Pemerhati dunia anak

Agar Anak Bersikap Terbuka Pada Orangtua


Oleh : Suhartono

Orangtua wajib aktif membentuk mental anak agar selalu bersikap terbuka dan jujur, baik di rumah dan lingkungan sosial. Usahakan untuk bertanya dalam suasana yang nyaman. Ini bisa membuat anak lebih terbuka dan jujur.

Cara membuat anak bersikap terbuka dan jujur adalah dengan berkomunikasi dengan bahasa anak. Pilihlah kata atau frase yang dimengerti anak. Jawablah juga pertanyaan anak dengan sebaik mungkin dan dengan cara yang tepat. Termasuk ketika anak bertanya hal-hal yang menurut orang tua canggung.

Ketika anak berbicara, tunjukkan jika Anda sangat tertarik dengan apa yang dikatakannya. Hal itu dapat ditunjukkan melalui ekspresi mengangguk, tersenyum, dan mengajukan pertanyaan balik kepada anak. Dengan demikian anak merasa berarti dan mereka merasa nyaman untuk terbuka dan jujur kepada orangtua jika ada sesuatu yang benar-benar mengganggu mereka.

Orangtua juga perlu mencari tahu apa yang dipikiran anak, apakah yang ada di benaknya mengenai suatu hal benar atau salah. Dengan mengetahui pikirannya, orangtua bisa membantu anak memahami daerah “abu-abu” untuk mendorong mereka mengekspresikan pendapat dan mengembangkan penilaian mereka akan sesuatu hal.

Untuk membuat anak terbuka dan jujur , orangtua pun juga harus bersikap demikian. Semakin orangtua terbuka dan mampu menciptakan suasana santai, anak akan semakin merasa mampu berbicara tentang apa pun yang mengkhawatirkan mereka.

Kedekatan anak dan orangtua sangat penting untuk dijalin. Kedekatan orangtua dan anak akan mempengaruhi keterbukaan anak dalam menceritakan segala pengalaman anak, dan bahkan permasalahan yang sedang dihadapi anak. Kebiasaan bercerita dan berbagi antara anak dan orangtua perlu dilakukan sejak dini. Semakin bertambah usia anak, maka permasalahan yang dialami anak semakin besar dan kompleks. Tanpa adanya kedekatan antara orangtua dan anak, anak akan cenderung lebih tertutup.||

Tips agar anak menjadi pribadi yang terbuka pada orangtua:

Jadilah pendengar yang baik
Saat anak mulai berbicara, orangtua harus memperhatikan dengan seksama. Jangan sampai anak terkesan dicuekin atau didengarkan tapi tidak dengan niat hati yang tulus.

Dengarkan segala jenis cerita
Terkadang anak-anak menceritakan sesuatu yang menyenangkan. Tentu sebagai orangtua juga akan bahagia melihat anaknya merasakan kebahagiaan. Namun terkadang orangtua enggan mendengarkan saat anak mengeluh atau menceritakan hal tidak baik. Sebagai orangtua anda wajib mendengarkan apa pun cerita anak.

Ekspresif
Agar orangtua terlihat serius dalam mendengarkan keluhan atau cerita anak, cobalah untuk berekspresi, baik dengan kata-kata maupun dengan mimik wajah dengan mengataka "Wow... " , "Wah...", "Masa sih...", "Benar sekali... "

Berpikir positif
Terkadang anak bercerita sesuatu yang tidak nyata, bahkan terkesan mengada-ada atau Cuma hasil dari imajinasi mereka. Sebagai orangtua, anda perlu berpikir positif. Sebelum anda yakin bahwa apa yang anak ceritakan adalah sesuatu yang nyata atau tidak nyata, anda perlu menganalisa dengan berbagai pertanyaan. Jangan langsung men-judge bahwa apa yang anak ceritakan adalah khayalan saja.

Tidak memaksakan pendapat
Jangan memaksakan suatu pendapat kepada anak. Biasanya kata-kata atau nasihat yang bersifat memaksa menggunakan kata "Pokoknya..." dan "Harus...". Sikap memaksakan kehendak atau pendapat ini bisa membuat anak merasa bahwa orang tuanya sangat otoriter dan enggan mendengarkan buah hatinya.

Memberikan pilihan
Saat anda menasihati anak, sebaiknya anda tidak memaksa anak untuk mengikuti satu pilihan. Biarkan anak memilih apa yang menjadi pilihan mereka. Dengan melakukan hal ini, akan merasakan pentingnya bertanggungjawab dengan pilihan yang di tentukan.

Kata-kata yang motivatif
Saat anak-anak mulai lancar bicara, berikanlah asrupan kata-kata yang positif dan motivatif, terutama saat mereka terlihat sedih, lesu, dan kurang bersemangat. Kata-kata positif akan mempererat hubungan orang tua dan anak,

Suhartono
, Pemerhati dunia anak

Anak yang Suka Bertanya


Oleh: Ahmad Budiman

Dalam perjalanan menuju masjid, seorang anak bertanya pada ayahnya. “Ayah, kenapa bulannya ngikuti kita terus?”

“Sebenarnya bulan tidak ngikuti kita. Bulan kan jauh dan bentuknya besar. Jadi kelihatannya memang ngikuti kita,” jawab ayah.

“Kalau malam kok gelap, Yah?” tanya si anak lagi.

“Karena matahari sudah terbenam,” sahut sang ayah.
“Kalau sudah gak terbenam?” si anak masih penasaran.
“Ya artinya sudah pagi,” jawab ayah.

Pertanyaan muncul dari mulut sang anak secara bertubi-tubi. Namun sang ayah tidak pernah henti menyerah dalam menjawab semua pertanyaan buah hatinya. Itulah anak-anak. Memiliki naluri bertanya sangat besar. Bahkan ia terkesan tidak punya lelah, baik dalam berkata-kata maupun bergerak.

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Itulah mengapa anak-anak gemar sekali mengajukan pertanyaan. Secara naluri, ia ingin menambah pengetahuannya. Karena ia belum memiliki banyak pengalaman. Maka ia gemar bertanya untuk memuaskan keinginannya itu. Sebagai orangtua, anda wajib menjawab setiap pertanyaan anak dengan kesabaran, agar mereka bisa menjadi lebih tenang. Karena kalau orang tua enggan menjawabnya, hal ini malah akan menjadi beban pikiran sang anak, dan lebih parahnya lagi, ia akan menjadi enggan bertanya dan enggan mengembangkan kreatifitasnya.

Otak anak di usia dini bertumbuh secara pesat. Maka harus dirangsang dengan pengetahuan yang baru. Itulah mengapa anak memiliki keinginan yang besar untuk bertanya. Dengan bertanya, anak akan mendapatkan jawaban. Dengan jawaban itulah otak anak akan semakin berkembang, khususnya dalam hal kemampuan berpikir dan mengingat.
Anak-anak yang diberi nasihat atau mendengarkan penjelasan guru terkadang kurang bisa fokus.

Karena apa yang dikatakan oleh gurunya belum tentu menarik bagi sang anak. Namun bila anak mendengar jawaban guru dari pertanyaan yang dia ajukan sendiri, maka hal itu pasti adalah sesuatu yang menarik. Dan tentu saja anak akan lebih fokus dalam mendengarkan penjelasan guru. Saat anak mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian, ia melatih kemampuan konsentrasinya.

Anak-anak tentu saja belum begitu memiliki kemampuan menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia membutuhkan orang lain, khususnya orang yang lebih dewasa dalam menyelesaikan permasalahannya. Oleh karenanya, anak gemar bertanya.Manfaat bertanya saat anak mengalami kesulitan adalah anak akan mendapatkan efek ketenangan. Dengan bertanya anak telah mengungkapkan kesulitannya. Terkadang pertanyaan anak-anak kurang bisa dipahami. Bila kita memang tidak tau jawabannya, kita tidak perlu memaksakan diri memberi penjelasan. Yang terpenting adalah kita mau mendengarkan dengn penuh perhatian. Itu akan membuat anak merasa lebih baik.

Ada kalanya anak akan bertanya sesuatu yang tidak terlalu penting. Namun seperti yang telah dijelaskan di poin sebelumnya, kita perlu mendengarkan dengan penuh perhatian. Bagaimana pun anak akan merasa nyaman berada di dekat orang yang sudah dia kenal. Apalagi dengan gurunya, di mana anak didik bertemu gurunya setiap hari. Maka guru pun perlu menghargai segala pertanyaan anak, agar anak merasa diperhatikan dan bisa memberikan efek kenyamanan bagi sang anak.

Kesabaran adalah kunci utama saat menanggapi setiap pertanyaan anak. Kesabaran akan membuat hati kita lebih tenang, sehingga kita pun bisa memberikan jawaban yang terbaik bagi anak. Banyak orangtua kurang bisa bersabar dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan anak yang bertubi. Bila emosi sudah meledak dalam bentuk kata-kata yang kasar, bila hal itu terlalu sering dilakukan, maka akan menghambat perkembangan kejiwaan dan kreatifitas anak.

Penulis: Ahmad Budiman, Pemerhati dunia anak

Cemburu Itu Perlu

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Seorang laki-laki berkata, bukan dengan mulut yang terdengar suaranya melainkan dengan jemari yang terekam tulisannya. Ia mengatakan bahwa tuhan yang ia percayai bukanlah tuhan yang pencemburu. Ia maha agung dan penuh pengertian.

Saya tak tahu persis apa agamanya karena di masa sekarang, nama tak senantiasa menggambarkan agama. Sekiranya dia seorang muslim, maka minimal ada dua kemungkinan berkait dengan pernyataannya. Pertama, ia sangat bodoh dan berbicara tanpa ilmu tentang agamanya sendiri, yakni Islam. Lebih khusus lagi tentang Allah Ta'ala. Padahal berbicara tanpa ilmu tentang Allah dan rasul-Nya merupakan keburukan yang jauh lebih besar dosanya dibandingkan syirik. Kedua, ia mempersekutukan Allah Yang Maha Esa dengan sesuatu lainnya yang ia percayai dan tempatkan lebih tinggi dibandingkan Allah Yang Maha Tinggi. Jika ini yang terjadi, sungguh kesyirikan yang sangat besar.

Bukankah Allah Maha Lembut lagi Maha Penyayang? Penyayang berbeda dengan tak punya cemburu. Mari kita ingat hadis riwayat Muslim berikut ini:

قَالَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ لَوْ رَأَيْتُ رَجُلًا مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسَّيْفِ غَيْرُ مُصْفِحٍ عَنْهُ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ فَوَاللَّهِ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ وَاللَّهُ أَغْيَرُ مِنِّي مِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللَّهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا شَخْصَ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ وَلَا شَخْصَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنْ اللَّهِ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ اللَّهُ الْمُرْسَلِينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَلَا شَخْصَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمِدْحَةُ مِنْ اللَّهِ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ وَعَدَ اللَّهُ الْجَنَّةَ

Sa’id bin ‘Ubadah berkata: "Sekiranya aku melihat seorang laki-laki bersama dengan istriku, sungguh saya akan memenggal kepalanya tanpa ampun." Perkataannya pun sampai kepada Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, "Apakah kalian heran dengan sifat cemburunya Sa'ad? Demi Allah, justru saya lebih cemburu daripada dia, dan Allah lebih cemburu daripada saya. Disebabkan kecemburuan Allah, maka Dia mengharamkan segala bentuk kekejian, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan tidak ada seseorang yang lebih cemburu daripada Allah dan tidak ada seseorang yang lebih suka memberi peringatan terlebih dahulu daripada Allah. Karena itu Allah mengutus para rasul-Nya untuk memberi kabar gembira dan peringatan. Dan tidak seorang pun yang lebih suka kepada pujian daripada Allah, karena itulah Dia menjadikan surga." (HR. Muslim).

Apa pelajaran pentingnya? Cemburu itu perlu. Bahkan tak mencium bau surga lelaki yang tak punya cemburu. Bersebab adanya cemburu itulah ia menjaga istri dan keluarganya agar tidak terjatuh pada kemaksiatan.

Tetapi bagaimana dengan lelaki yang senantiasa curiga dengan istrinya dengan alasan cemburu? Sangat berbeda antara curiga dan cemburu. Curiga lebih banyak bersumber dari su'uzhan (persangkaan buruk) kepada istri atau suami. Penyebab buruk sangka alias su'uzhan bisa bermacam-macam, baik karena runtuhnya kepercayaan atau karena pengalaman pahit masa lalu yang terus dibawa-bawa. Keluarganya broken home, lalu dendam kepada masa lalu menjadikannya mudah curiga atau over protective terhadap suami atau istri. Seolah semua lelaki seburuk ayahnya. Ia terjebak oleh masa lalu. Bukan mengambil pelajaran. Padahal boleh jadi Allah Ta'ala karuniakan kepadanya suami/istri yang jauh lebih baik, bahkan sangat baik, dibandingkan orangtuanya yang broken home.

Ini sekaligus pelajaran agar tidak terjebak pada masa lalu, menjauhkan diri dari kata "seandainya" untuk yang sudah berlalu, serta memilih untuk menatap masa depan. Berbenah untuk masa depan yang lebih baik.

Satu hal lagi: ilmu itu sangat penting, termasuk dalam urusan cemburu. Jangan sampai kita mengira sedang merawat kebaikan bernama cemburu, padahal sesungguhnya sedang mengobarkan buruk sangka.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis buku dan motivator

Hakikat Rizki


Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Bukan tentang banyaknya yang kita dapat, tapi banyaknya yang mampu kita beri agar bermanfaat.

Bukan sekedar harta yang sekejap bisa habis, tapi tabungan pahala yang akan kita raih di hari kelak.

Bukan sebatas "mendapatkan", tapi perjuangan dan kesadaran hubungan kita dengan Allah saat menjalankan aktivitasnya.

Bukan sebatas uang yang akan memperbudak seorang hamba, tapi lebih dari itu.

Rizki itu adalah bagaimana kita mampu memperoleh sesuatu dengan cara yang diridhoi, memperoleh teman yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan, memperoleh sahabat yang insyaAllah akan merangkul dan saling mencari saat hari penghisaban tiba.

Yang akan meluruskan saat kita salah arah dan menguatkan saat kita sedang futur.

Dan rezeki ku adalah bertemu dengan para ibunda-ibunda mujahidah yang selalu dekat dengan Al Qur'an, saling menguatkan.

Rezeki ku bukan terhitung sebatas harta namun iman yang terus dikuatkan oleh dorongan dan motivasi sahabat-sahabat.

Yaa kalian adalah rezeki ku dalam bentuk yang indah ❤❤

Intinya adalah rizki tak selalu diturunkan Allah kepada kita dalam bentuk harta/kekayaan, bisa jadi Allah kasih rizki kepada kita dalam bentuk yang sangat nikmat. Misalnya rizki sahabat sholih/ah, badan sehat, ilmu yang bermanfaat, lingkungan yang selalu dalam ketaatan, hidayah yang datang, juga rizki dalam bentuk-bentuk yang tidak akan pernah bisa kita hitung... 

Selalu bersyukur atas apa yg kita dapatkan.

Salah satu bentuk implementasi rasa syukur adalah meningkatkan kualitas ibadah kita dengan sebaik-baiknya.

Prihatiningsih, S.Si., Guru SDIT Hidayatullah Yogyakarta. IG @atinprihatiningsih15