Berkah

Oleh : O. Solihin

Kata para ulama, berkah itu artinya ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan). Itu sebabnya, banyak di antara kita sangat berharap dalam menjalani kehidupan dipenuhi dengan keberkahan. Siapa pula yang tak suka sepanjang hidup bertabur kebaikan? Semua orang ingin kebaikan.

Oya, lawan dari berkah (barokah) adalah laknat, yakni bertabur keburukan. Semua orang pasti tidak mau mendapat laknat, sebab akan rugi di dunia dan juga di akhirat.

Berkah (barokah), menurut Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah adalah kebaikan yang langgeng dan terus menerus. Beliau mengatakan, “Maksud dari ucapan doa “keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad karena engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrahim, doa keberkahan ini mengandung arti pemberian kebaikan karena apa yang telah diberi pada keluarga Ibrahim. Maksud keberkahan tersebut adalah langgengnya kebaikan dan berlipat-lipatnya atau bertambahnya kebaikan. Inilah hakikat barokah”.

Tentu saja, ketika mengetahui makna dari berkah (barokah), banyak orang ingin mendapatkannya. Namun, tak sedikit di antara kita yang tidak mengetahui bagaimana mencari keberkahan hidup. Itu sebabnya, antara keinginan mendapatkan keberkahan hidup dengan perilakunya tidak nyambung. Ingin mendapatkan keberkahan, tetapi shalat saja ditunda-tunda, menyepelekan amalan sunnah, ibadahnya kurang, ketakwaannya kepada Allah minim. Ingin mendapatkan sesuatu yang besar, tetapi syaratnya tidak dipenuhi.

Lalu bagaimana mencari keberkahan itu? Carilah keberkahan dengan beriman dengan bertakwa pada Allah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS al-A’raaf [7]: 96).

Yuk, kuatkan keimanan kita kepada Allah Ta'ala, kokohkan ketakwaan kita kepada-Nya. Insya Allah hidup kita akan senantiasa berkah. Kenikmatan dunia didapat, dan surga bisa diraih di akhirat. Insya Allah.

Foto: memotret rerumputan di kebun Pesantren Media. Sengaja 'melawan cahaya' untuk mendapatkan efek siluet, tetapi kurang bagus hasilnya.

O. Solihin, Penulis Buku dan Motivator Remaja

Berharap

Oleh : Jamil Azzaini

Mengapa ada orang sering kecewa? Mengapa ada orang yang merasa tidak dihormati? Mengapa ada orang yang mudah sekali tersinggung? Salah satu sebabnya, orang-orang tersebut memiliki mental berharap berlebihan.

“Berharap pujian berujung kepada kekecewaan
Berharap balasan akan mengurangi atau menghilangkan ganjaran
Berharap kaya cepat terjerumus di bisnis abal-abal

Berharap karir cepat melesat berujung kepada sikut-sikutan dan permusuhan
Berharap menjadi sholeh mendadak bisa berakibat menjadi sombong dan merasa suci
Berharap segalanya serba instant jsuteru menjadikan seseorang menjadi pecundang”

Semua perlu waktu dan berproses. Semua perlu upaya memantaskan dan mengasah diri. Hidup adalah akulturasi dari empat BER: berilmu, bersabar, bersyukur, berusaha. Jalani empat BER dengan sebaik-baiknya dan berharap Allah SWT menolong maka berbagai hal baik akan datang menghampiri Anda jauh melebihi yang Anda harapkan.

Berharaplah sewajarnya, berusahalah sekuat-kuatnya, bersyukur sebanyak-banyaknya, bersabarlah sekuat-kuatnya, belajarlah dengan enjoy dan sesungguh-sungguhnya dan biarkanlah tangan Allah SWT yang bekerja. Dengan cara ini, perasaan kecewa, mudah tersinggung dan hal-hal lain yang sering membuat kecewa dan luka akan pergi dengan sendirinya.

Cobalah

Jamil Azzaini, Penulis dan Motivator

Foto Atin

Sayangi Orang yang Berhutang Kepadamu⁣

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim
Ada orang berhutang karena sungguh-sungguh memerlukan dan ia segera membayarkan begitu ada sedikit saja kelapangan pada dirinya. Ia berusaha membayar lunas hutang-hutangnya dengan segenap kemampuannya, meskipun sangat terbatas. Inilah sebaik-baik orang yang berhutang. Ada pula yang berhutang karena suatu keperluan yang halal, bukan didesak kebutuhan yang amat penting, dan ia bersegera membayar hutang-hutangnya sesuai janji atau bahkan lebih awal lagi. Ini termasuk penghutang yang baik.⁣
RasuluLlah ﷺ bersabda:⁣
إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً⁣
“Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Bukhari).⁣
Paling baik ini terkait dengan melebihkan pembayaran, sepenuhnya atas kemauan sendiri. Bukan karena diminta atau didesak. Yang demikian ini termasuk riba. Bukan pula disindir-sindir oleh pemberi hutang sehingga tak enak hati apabila tak memberi tambahan. Dan pembayaran hutang yang baik adalah segera menunaikan manakala sudah ada kemampuan, meskipun belum jatuh tempo yang disepakati.⁣
Apa yang meringankan langkah untuk membayar hutang? Tekad kuat untuk melunasi. Sesungguhnya Allah Ta'ala bersama orang yang berhutang sampai ia melunasi. Yang dimaksud bersama ialah Allah Ta'ala memberi pertolongan, yakni kepada orang yang memiliki hutang dan ia berkemauan kuat melunasi hutang-hutangnya tersebut seraya jujur terhadap kemauannya. Bentuk kejujuran itu berupa kesungguhan mengupayakan. ⁣
Rasulullah ﷺ menyatakan:⁣
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ⁣
“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah).⁣
Semua itu bermula dari niat. Karena itu, berhati-hatilah terhadap niat saat mengambil harta orang lain, yakni berhutang. Sesiapa yang berhutang dengan niat mengembalikan, maka Allah Ta’ala akan menunaikannya. Allah Ta'ala berikan kemudahan baginya untuk memperoleh harta yang dapat dipergunakan untuk membayar lunas hutang-hutangnya.⁣
Nabi ﷺ memperingatkan:⁣
من أخذ أموال الناس يريد أداءها أدى الله عنه ومن أخذ يريد إتلافها أتلفه الله⁣
"Barangsiapa mengambil harta orang lain (berhutang) dengan niat mengembalikannya, maka Allah akan menunaikannya. Akan tetapi barangsiapa yang mengambil harta orang lain dengan niat merusaknya, maka Allah Ta’ala akan merusaknya." (HR Al-Bukhari).⁣
Termasuk merusak orang yang sengaja tidak membayarnya. Termasuk merusak yang lebih jahat lagi orang yang berhutang demi menguasai harta lebih banyak, mendatangkan tekanan kepada orang yang ia bermaksud berhutang kepadanya apabila tidak menghutangi dan lebih buruk lagi jika dimaksudkan untuk mengambil nikmat dari orang lain. Ia tidak berniat mengembalikan. Ia membayarkan sedikit di awal hanya sebagai jalan untuk menguasai harta yang ada pada orang lain tersebut. ⁣
Ada orang berhutang, sedikit atau banyak, tetapi ia lalai membayar hutangnya ketika telah ada padanya kemampuan. Yang demikian ini perlu kita ingatkan. Adapun jika ia tetap lalai, maka sesungguhnya ia akan membayar hutang-hutangnya dengan kebaikan amal 'ibadahnya di akhirat kelak. Jika tak mencukupi, maka keburukan amal orang yang kepadanya ia berhutang akan menjadi bagiannya.⁣
Rasulullah ﷺ bersabda:⁣
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ⁣
“Barangsiapa mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah).⁣
Dan keburukan yang menimpanya di akhirat kelak akan lebih besar lagi apabila semenjak awal memang telah berniat tidak mengembalikan pinjaman alias mengemplang. Ia akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta'ala dengan sebagai pencuri. Na'udzubiLlahi min dzaalik.⁣
Rasulullah ﷺ bersabda:⁣
أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا⁣
“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah).⁣
Terlepas apa niatnya, menunda-nunda membayar hutang merupakan suatu kezaliman. Ukuran menunda itu ialah adanya kemampuan, tetapi enggan menunaikan kewajibannya membayar hutang. Ia memiliki kecukupan, tetapi menggunakan untuk berbagai hal lain yang tidak syar'i. Kezaliman itu lebih besar lagi manakala pihak yang memberinya sangat memerlukan, sementara ia menunda pembayaran demi meraup kekayaan yang lebih besar.⁣
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْم⁣
“Menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu merupakan suatu kezaliman.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Majah).⁣
Alangkah buruknya kezaliman. Dan alangkah besar kengerian apabila orang-orang yang dizalimi itu mendo'akan keburukan baginya. Bukankah tak ada tabir antara orang yang dizalimi dengan Allah Ta'ala tatkala ia berdo'a?! Maka sungguh do'anya mustajabah.⁣
Ada sebuah nasihat yang patut kita renungkan. Saya tak tahu penggubahnya, tetapi saya terkesan oleh maknanya. Ia tidak menyelisihi agama. Mari kita renungi sejenak:⁣
نَامَتْ عُيُوْنُكَ وَالْمَظْلُوْمُ مُنْتَبِهُ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَم⁣
"Kedua matamu tertidur sementara orang yang engkau zalimi terjaga…⁣
Ia mendo'akan kecelakaan untukmu, dan mata Allah Ta'ala tidaklah pernah tidur."⁣
Astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullahal 'adziim.⁣
Begitu buruknya mengemplang hutang secara sengaja, padahal ia mampu membayarnya, sampai-sampai halal kehormatannya. Menggunjing itu dosa besar, kecuali terhadap mujahirin (orang yang berbuat dosa secara terang-terangan), penguasa yang zalim dan orang berhutang yang sengaja mengemplang, padahal sebenarnya ia mampu melunasi.⁣
Nabi ﷺ bersabda:⁣
لَيُّ الوَاجِدِ يَحِلُّ عُقُوْبَتَه ُوَعِرْضه⁣
“Menunda pembayaran bagi yang mampu membayar, (maka) halal ia dihukum dan (dijatuhkan) kehormatannya.” (HR. Bukhari).⁣
Ya Salaam.... Alangkah buruknya. Tidakkah kita semestinya takut dengan hal ini?⁣
Ada orang yang berhutang bukan karena didesak oleh kebutuhan yang tak sanggup ia penuhi, tetapi semata karena ingin memperbanyak harta. Ia memudah-mudahkan diri berhutang, namun enggan membayarnya. Ada orang berhutang karena sesak hatinya melihat orang lain mempunyai nikmat, lalu ia ingin memilikinya. Perih hati jika harta tersebut terlepas tanpa sanggup ia rebut. Ia memudah-mudahkan diri berhutang dan sengaja berkhianat atas hutangnya, yakni tidak membayarkannya.⁣
Mari kita renungi kembali sabda Rasulullah ﷺ:⁣
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ⁣
“Barangsiapa mengambil harta manusia, dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).⁣
Begitu besar ancaman dan keburukan bagi orang yang berhutang dan melalaikan kewajibannya. Lebih buruk lagi ancaman bagi yang semenjak awal telah meniatkan secara sengaja untuk berkhianat. Sungguh, tak ada yang dapat menolong apabila Allah Ta'ala telah menghancurkan dirinya, dunianya, nasibnya dan terlebih akhiratnya. Karena itu, sayangilah orang yang berhutang kepadamu dengan menagihnya ketika ia benar-benar mampu tetapi menunda-nunda menunaikan kewajiban. Kasihani dia. Jika tak cukup punya keberanian, ingatkan ia secara langsung atau melalui orang lain. Jika masih tak punya keberanian, tunjukkan ilmunya. Semoga Allah Ta'ala memberinya hidayah dan mencurahkan kebaikan kepada kita.⁣
Adapun jika ia tetap pada sikapnya, bahkan semakin keras menahan kewajibannya, maka kita sudah tak punya kewajiban untuk mengingatkan. Urusan dia dengan Allah Ta'ala.⁣
Adapun terhadap orang berhutang yang belum mampu membayar, menahan diri tidak menagihnya merupakan sikap yang sangat baik. Kita memberinya kelonggaran. Dan lebih sempurna lagi kebaikan tersebut apabila kita merelakan hutang tersebut dengan menghapuskannya.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting
Foto Atin

Dari Air yang Hina

Min maain mahiin, dari air yang hina, begitulah Al Qur'an menginformasikan tentang asal muasal penciptaan manusia.

Jika ditelusuri mendalam, maka manusia ini diciptakan dari tanah. Lalu kenapa dari air yang hina? Air hina apakah yang dimaksud?

Air yang hina ini adalah sebutan dari air mani. Dibahasakan dengan sesuatu yang hina, karena jika air mani ini mengenai tubuh seseorang, maka tentulah dia merasa jijik, jika air mani ini, misal dalam jumlah banyak, maka sungguh tidak ada yang mau meminumnya.

Lalu dari manakah air yang hina ini berasal? Disebutkan juga dari saripati tanah. Sungguh, makanan yang dikonsumsi oleh manusia ini adalah dari tumbuh-tumbuhan artinya tumbuhan itu tumbuh di tanah, sehingga wajar jika dimakan manusia maka saripati inilah yang akan membentuk air mani. Inilah yang disebut dengan saripati tanah.

Lantas kalau penciptaan manusia saja dari air yang hina apakah manusia pantas untuk berlaku sombong? Apakah pantas manusia bersikap angkuh? Apakah manusia layak membanggakannya? Ah sungguh tidak pantas. Mahkluk hina yang bernama manusia ini sungguh mahkluk yang lemah. Yang berhak sombong adalah Allah Yang Mahamenggenggam, yang pantas angkuh ini adalah Allah Yang Mahamemiliki, jika dilakukan oleh manusia, sungguh terlalu perbuatan manusia ini.

Tengoklah siapa manusia! Tengoklah dari bahan dasar apa penciptaan manusia! Jika karena rupa manusia bangga. Sungguh rupa ini cepat atau lambat akan sirna. Jika karena harta yaang dimilikinya manusia ini sombong, sungguh harta ini bersifat sementara, ia akan diambil olehNya. Jika karena jabatan manusia ini sombong, sungguh jabatan yang tidak dijaga dengan amanah kelak akan menghinakannya, jika karena istri-istri yang cantik manusia itu sombong, sungguh istri-istri itu akan meninggalkannya ketika nyawamu lepas dari raga.

Tengoklah, dari mana manusia dicipta!

Wallahu a'lam bishawab
TMT

Sebuah Cita-cita Emas

Oleh : Albarrahman

Kembali menyapa sahabat pena lagi, melewati masa pandemi tidak akan pernah menghalangi kita semua berjuang dan terus menanamkan cita-cita kepada pendidik. Selama dua tahun berkiprah mengajarkan anak-anak Sekolah Dasar selalu saya tanamkan cita-cita mulia sebelum membuka atau pun menutup pertemuan di kelas. Ya memang mereka masih anak SD tapi kita percaya mereka adalah pemilik saham kepemimpin untuk masa 20, 30 atau 40 tahun mendatang. Yuk semai benih cita-cita mulia ke mereka.

Mari melompat ke sejarah, masih ingatkah kita pada masa rainance atau masa pencerahan di Eropa kala bangsa itu masih gelap bahkan belum mengenal sebuah peradaban maju dengan budaya ilmu pengetahuan yang kuat. Nah, teramat banyak ilmuan muslim menyumbangkan kemajuan dan budaya ilmu bagi peradaban kala itu dan hingga kini masih bisa dirasakan sumbangsih mereka.

Ilmuan Islam turut mempelopori pelita peradaban kemajuan zaman. Paling populer di dunia sains kita kenal Aviciena dalam sebutan Eropa yang lebih lazim umat muslim mengenalnya Ibnu Sina nama sesungguhnya dari sang bapak peradaban ilmu kedokteran ini. Lalu, tak kalah penting ada nama Ibnu Khaldun seorang tokoh muslim abad pertengahan yang berhasil menyumbang pemikiran besar dalam ilmu sejarah dan sosial peradaban sejarah bangsa, teori dan gagasannya masih relevan hingga hari ini. Karya melegenda beliau berjudul Muqaddimah.

Menyajikan hal di atas adalah bentuk teladan besar, selanjutnya kita bisa melihat bagaimana Sulthan Al Fatih mendapat pendidikan dari Ayah dan Gurunya tentang arti sebah cita-cita dan tentu dengan Tsiqah keilmuan yang mendalam pula. Saat usia emasnya tepat kisaran 6-7, suatu hari dari kejauhan tembok Konstantinopel. Ayah dari Al Fatih kecil menunjuk dari kejauhan dan berkata, “kelak... taklukan dan jadilah engkau anakku sebaik-baik pemimpin yang memimpin pasukukan terbaik”. Inilah sekelumit cuplikan dialog yang sangat familiar dalam sejarah yang kita kenal.

Hal berharg dari dialog tentang arti sebuah cita-cita yang ditanmkan kepada generasi penerus meski berusia masih sangat belia. Tentu hal ini akan sangat melekat di benak mereka, layaknya kisah Al Fatih ini di masa golden Agen-nya lalu cita-cita itu kuat tertanam dalam sanubarinya.

Secara saintifik ini bisa dibktikan, semisal jika kita ingat lagi bahwa surah Al-Qur’an yang dihafalkan sejak kecil itu sangat kuat melekat dalam hafalan. Begitupun dengan cita-cita dan cinta yang ditanamkan sejak kecil akan kejayaan dan kemenangan dalam arti yang sesungguhnya. Maka hal
tersebut akan termat membekas dan menjadi ruh kuat bag jiwa.

Tanpa harus menyalahkan keadaan dan sulitnya kondisi saat ini, mari meyalakan cerahnya peradaban dengan menanamkan cita-cita luhur pada generasi penurus! Kita menantikan Aviciena baru, Ibnu Khaldun milenial dan sosok kuat layaknya Al Fatih. Dan harapan besar itu ada di generasi penerus.

Akhirnya sebagai penetup,
Kala mentari berufuk dari timur nun jauh
Tolong kembalikan segala hujjah
Betapa kami ingin menyemai cita-cita

Kami tak ingin hanya berlabu di sejarah
Tentang masa yang pernah jaya
Berjuang lalu merayakan cinta berbalut cita-cita

Yogyakarta, tertanggal cita-cita yang membara

Albarrahman, Pendidik dan Penikmat Sejarah, tinggal di Yogyakarta

Hidup yang Terpojok

Oleh : Burhan Solihin

“Kegagalan itu tak pernah ada kecuali kamu berhenti bergerak.”

Itu nasehat orang tua yang selalu dipegang oleh teman saya setiap kali hidupnya terpojok. Hidupnya dulu susah, tapi saat saya ketemu lagi setelah bertahun-tahun tak berjumpa, dia menjadi pengusaha dan tokoh nasional yang sering diliput media.

Saat kuliah teman saya satu ini kerap hidupnya terdesak. Kiriman uang dari orang tua sering telat dan kadang jumlah jauh dari cukup. Pernah suatu hari tanggal terasa sangat tua. Dia berdoa khusyuk. Uang di kantongnya tak cukup untuk membeli lauk. Untung masih ada beras di kos.

Usai berdoa di subuh yang bening, dia merenung mencari akal. Dia tahu Tuhan Maha Kuasa bisa saja menjatuhkan gunung emas di depan rumah kosnya. Tapi, dia berpikir, mosok Tuhan segampang itu dirayu dengan doa. Otak reptilnya (bagian otak yang selalu mempertanyakan bila ada sesuatu yang baru) meragukan itu

Alhasil, dia bangkit ke meja makan yang reyot sambil berpikir keras. Dia melihat sisa-sisa makanan teman sekosnya. Ada sayur singkong semalam. Dia seperti menemukan aha moment. Sayur ini pasti sudah tak dimakan lagi dan itu bisa menjadi lauk makan hari itu.

Saat dia melongok lebih detail, menyendok sayur bekas, ternyata kuahnya sudah berlendir. Basi! “Ah, Tuhan tidak berpihak pada saya,” katanya dalam hati. Satu-satunya harapannya, yakni sayur sisa semalam, ternyata tak bisa dimakan.

Sedih. Marah. Tapi juga lapar. Dia pun beranjak memasak nasi. Otaknya terus berputar. “Apa boleh buat,” katanya dalam hati.

Akhirnya dia memutuskan mengambil lagi sayur singkong basi itu. Dia membawanya ke tempat cuci piring. Cuma ada keran rusak dan ember di sana. Sayur basi itu tidak dia buang, namun dia cuci berulang kali, dia peras, sampai lendir–tanda-tanda bahwa bakteri pembusuk sudah mulai bekerja–di sayur itu hilang.

Selanjutnya dia merebus kembali sayut itu dan menjadi teman makan nasi siang itu. Siang itu, teman saya SELAMAT dari rasa lapar!

Saat kuliah, kiriman uang dari ibu saya juga pas-pasan. Saya sampai harus mengatur jadwal jajan beli “gorengan”. Ya, seminggu jatah saya jajan cuma dua potong tempe goreng. Kalau lebih, keuangan negara kos bisa defisit. Gawat.

Saya juga tak pernah naik angkot ke kampus kecuali saat ujian. Uang bulanan saya tak akan cukup untuk bermewah-mewah naik angkot. Padahal kos saya lumayan jauh dari kampus, 2 kilometer dan jalan ke kampus menanjak, cukup membuat napas saya ngos-ngosan. Namun, tetap saja saya tak seterpojok teman saya.

Hebatnya lagi teman saya, meski kesulitan membelitnya tiap hari, di kampus dia selalu cerita. Tak ada segaris kesedihan pun di wajahnya. Itu berkat nasehat ayahnya: “Kegagalan itu tak pernah ada kecuali kamu berhenti bergerak.”

Dia aktif di organisasi kemahasiswaan. Dia juga mewajibkan diri untuk membeli buku non pelajaran setiap bulan. Meski hidupnya mepet. Itu terjadi gara-gara senior di kampus di sebuah pelatihan kepemimpinan bertanya kepadanya, “Kamu punya berapa buku di luar buku pelajar?” Teman saya itu menjawab dengan bangga,”Tiga buku.” Dia ditertawakan oleh seniornya. “Kurang banyak,” kata sang senior. Sejak itulah dia menabung, rela makan sayur basi, demi mengisi otaknya dengan buku.

Demi buku pula sembari kuliah dia bekerja apa saja. Dia menjadi loper majalah Tempo atau menjual jasa penerjemahan artikel tugas kuliah bagi mahasiswa lain. “Satu lembar penerjemahan ya lumayan untuk makan satu hari.”

Hampir tiap hari dia dihantam oleh kesulitan. Namun, dia bangkit dan memukul balik keadaan. Para psikolog menyebut kemampuan seperti itu sebagai resilience, kemampuan dinamis untuk bangkit dengan cepat dari berbagai kesulitan.

Ibarat bola, yang terpenting itu bukan semata-mata seberapa kuat kita bertahan saat bola itu jatuh. Tapi, seberapa tinggi kita bisa MEMANTUL kembali.

Saat kita dihantam krisis seperti sekarang, kemampuan untuk resilience menjadi amat penting. Meski omzet bisnis terjun bebas, seberapa kuat kita akan memantul kembali itu yang lebih penting.

Teman saya itu kini sukses. Kalau dibedah dengan teori psikologi moderen, teman saya itu memiliki 6 faktor pendukung kapasitas resilience yang luar biasa. Dia punya :

  1. Visi dan tujuan hidup yang jelas saat dalam kesulitan. Sejak dulu dia bercita-cita menjadi pengusaha.
  2. Membangun jaringan kolaborasi. Di tengah kesulitan dia mencari peluang dari jaringan temannya. “Your network is your net worth,” begitu kata orang pintar. Artinya, jaringan temanmu adalah kekayan bersihmu.
  3. Memiliki daya tahan dan kemampuan memantul.
  4. Kegigihan berjuang
  5. Punya solusi, problem solving dan rencana antisipasi atas segala masalah.
  6. Kalem dan menjaga emosi sesulit apa pun

Yuk saatnya kita memantul kembali dan memukul balik keadaan.

Sumber : www.jamilazzaini.com

Saatnya Bergerak⁣

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim⁣
Waktu kalian sangat pendek. Hidup di dunia ini hanya sebentar. Tidak ada pilihan bagi kita kecuali berusaha menjadi mukmin yang kuat, sebab mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih Allah cintai. Kalau kemudian ada di antara kita yang tak mampu meraihnya, tetapi kita sudah berusaha dengan gigih tak kenal lelah, maka selagi iman masih di dada, sungguh masing-masing berada dalam kebaikan. Allah Jalla wa ‘Ala mencintai mukmin yang kuat maupun mukmin yang lemah.⁣
Mukmin. Maka jadilah kalian orang beriman. Jangan tinggalkan iman ini dalam keadaan apa pun dan mohonlah terus-menerus kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar dikarunai kekuatan iman. Tidak berbelok sesudah mendapatkan petunjuk.⁣
Rasulullah ﷺ bersabda:⁣
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ⁣
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah: ‘Qaddarullah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Ahmad 9026, Muslim 6945, dan yang lainnya).⁣
Perhatikanlah jalan yang harus kita tempuh agar menjadi mukmin yang kuat. Sesungguhnya, tidaklah Rasulullah ﷺ berbicara kecuali senantiasa dalam bimbingan Allah ‘Azza wa Jalla. Maka perhatikanlah dengan sungguh-sungguh, kuatkan dalam dirimu:⁣
• Hirsh ‘Ala Manfa’ah – Kesungguhan, semangat menyala-nyala terhadap segala hal, sekali lagi segala hal, yang bermanfaat. Karena itulah di masa lalu kita mendapati orang-orang shalih yang sangat ahli dalam beragam bidang. Apa kuncinya? Mereka tidak menghabiskan umur untuk bertanya apa bakatku, tetapi mereka mengerahkan tenaga dan perhatian, bersungguh-sungguh terhadap segala yang bermanfaat bagi kehidupan dan akhiratnya.⁣
• Isti’anah. – Mintalah pertolongan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikan, apa yang Rasulullah ﷺ perintahkan sesudah menyuruh kalian bersungguh-sungguh terhadap segala hal yang bermanfaat bagi kalian? وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ. Mintalah pertolongan hanya kepada Allah. Sombong orang yang merasa cukup dengan usahanya, lalu tidak mau berdo’a meminta pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.⁣
• Iradah ilal Khair – Kehendak yang kuat kepada kebaikan. Sungguh himmah yang tinggi, kehendak kuat kepada kebaikan dan kemuliaan yang sangat besar diiringi hawa nafsu yang khusyuk tunduk merupakan pintu segala akhlak mulia.⁣
• Tidak Merasa Lemah, Sial, Apes – Kata Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam: “وَلاَ تَعْجِزْ.” Sungguh, cara berjalan seseorang yang tidak sempurna, buta warna atau berbagai hal yang disebut manusia sebagai kekurangan, bukanlah sebab keburukan.⁣
• Imani dan Ridha Kepada Takdir. Bukan membiarkan diri kalian tenggelam kepada masa lalu dengan mengatakan “لَوْ”, sebab ini merupakan pembuka ‘amalan syathan.⁣
Jadi, apa pun yang terjadi, bergeraklah ke masa depan. Tataplah dengan tajam. Kerahkan upaya dengan sungguh-sungguh, sementara pada saat yang sama kalian meminta pertolongan sepenuh harapan kepada Allah Jalla wa ‘Alaa.⁣
Inilah jalan untuk membangkitkan himmah –tekad kuat beriring semangat menyala untuk suatu tujuan yang jelas. Himmah yang tinggi (himmah ‘aliyah) dan niat yang shahih itulah yang akan mengantarkan kalian meraih cita-cita, sebagaimana nasehat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Fawaidul Fawaid:⁣
المطلب الأعلى موقوف حصوله على همة عالية ونية صحيحة⁣
“Cita-cita yang tinggi tergantung kepada himmah 'aliyah (motivasi yang tinggi, luhur) dan niyyah shahihah (niat yang shahih)."⁣
Dan kalian tidak akan sampai kepada niat yang shahih kecuali dengan memperbaiki iman kalian dan berbuat kebajikan kepada kedua orangtua kalian karena ingin meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya do’a yang tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah Ta’ala adalah do’a orangtua untuk anaknya.⁣
Maka jagalah ucapan kalian, perbaiki akhlak kalian kepada kedua orangtua dan berusahalah untuk senantiasa mentaati mereka selama tidak melanggar larangan Allah ‘Azza wa Jalla.⁣
Selanjutnya, jagalah himmah kalian dengan tidak memperbuat perusak-perusaknya. Apa perusaknya yang paling besar? Banyak bicara yang remeh-temeh, tidak bermanfaat dan tidak menambah kebaikan apa pun.⁣
Hindari pula menjadi musafsaf. Siapa itu? Salah satu golongan yang dibenci Allah. Seperti apa musafsaf itu? Ada dua macam. Pertama, orang yang setiap hari banyak menghabiskan umurnya untuk hal-hal yang remeh-temeh, receh-receh; senang membicarakan yang receh-receh; أتباعُ كلِّ ناعقٍ (mengikuti setiap yang teriak, setiap yang viral meskipun sangat tidak ada manfaatnya). Kedua, orang yang menampakkan diri seolah-olah hebat, mengesankan sangat kaya padahal tidak, mengesankan jadi orang terpandang, padahal tidak.⁣
Terakhir, kepada Ayah Bunda, sepenat apa pun, jagalah agar tidak pernah berucap serampangan terhadap anak-anak yang akan menggenggam negeri ini 20 – 30 tahun yang akan datang. Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:⁣
لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ⁣
“Jangan kalian mendo’akan keburukan atas diri kalian. Jangan kalian mendo’akan keburukan atas anak-anak kalian. Jangan kalian mendo’akan keburukan atas harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah subhanahu wa ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim).⁣
Catatan:⁣
Pesan akhir tahun ajaran untuk murid-murid SDIT Hidayatullah Sleman, Yogyakarta pagi ini, in sya Allah.

Husnudzon kepada Allah

Oleh : Ulfah Hasanah

Dalam perjalanan pulang, ada dering telepon seluler yang mengganggu konsentrasinya mengemudi mobil.

Dering pertama, 'Ah siapa sih, nanti aja deh kalau di lampu merah', batinnya.

Dering kedua pun sama.

Dering ketiga, 'Iya iya sek tho', gumamnya sambil menepikan mobil.

Tak sampai 5 menit dia menjawab telepon tadi. Menutup telepon, ia melajukan mobilnya kembali. Sampai di lampu merah, kerumunan orang membuatnya penasaran. Kecelakaan lalu-lintas.

Allahu Rabbiii, hatinya mencelos. Kalau saja Allah tidak menghentikannya tadi, ia tidak tahu apakah bisa selamat dari musibah di depannya.

Muhasabah diri.

Selalu berprasangka baik kepada Allah dalam keadaan apapun.

Sebuah Sisa Luka

Oleh : O. Solihin

Paku yang ditancapkan di batang pohon ini, pasti menyisakan 'luka'. Setidaknya batang pohon ini tak lagi alami, ada benda lain yang sengaja ditusukkan. Jika suatu saat paku ini dicabut, pasti ada bekasnya.

Begitu pula dalam kehidupan kita. Pergaulan dengan sesama, seringkali menimbulkan gesekan, bahkan tusukan. Baik secara fisik maupun psikis. Berkelahi bisa saja diambil sebagai bentuk penyelesaian atas sebuah konflik. Bisa juga dihamburkannya sumpah serapah yang amat menyakitkan hati. Ada luka fisik, ada luka batin. Apalagi jika keduanya terluka.

Waktu mungkin saja akan menyembuhkan luka, tetapi kita tak akan pernah lupa pada sakitnya. Kata-kata kasar dan makian, yang sudah terlewat sekian tahun lamanya, bisa saja kita lupakan peristiwanya, bahkan kita maafkan. Namun, sakit hatinya masih terasa dan tak jua bisa dilupakan begitu saja. Itu kenangan yang menyakitkan dan membuat trauma.

Itu sebabnya, berhati-hatilah dalam bergaul dengan sesama. Berpikirlah sebelum bertindak. Pikirkan apa saja dampak yang akan terjadi jika kita melakukan sesuatu atau mengucapkan sesuatu kepada orang lain yang berinteraksi dengan kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencaci-maki seorang muslim adalah sebuah kefasikan, sedangkan memeranginya adalah sebuah kekufuran.” (Muttafaq ‘alaih)

Jika kita tak mampu berbuat baik kepada saudara kita, setidaknya kita tidak menyakitinya. Jika belum bisa membahagiakan saudara kita, setidaknya janganlah memberikan kesedihan kepadanya. Semoga kita menjadi orang yang senantiasa diberikan kemudahan untuk berbuat baik, bagi diri sendiri, juga bagi orang lain. Insya Allah.


O. Solihin, Penulis Buku dan Motivator Remaja

Billy Sidis, Tragedi Anak Berbakat

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Contoh paling sempurna tentang buta tarbiyah (الأمية التربوية) adalah apa terjadi pada Billy Sidis –panggilan akrab dari William James Sidis. Jangankan untuk akhirat. Sukses dunia pun tak cukup hanya berbekal cerdas dan bakat. Bahkan kejeniusan pun tak menolong mereka.

Mari kita ingat sejenak salah satu jenius besar yang pernah lahir di muka bumi. Namanya William James Sidis. Bapaknya –seorang profesor—adalah pengagum besar William James, tokoh psikologi behaviorisme yang yakin betul bahwa pembiasaan merupakan kunci terpenting pendidikan. Ia juga yakin bahwa cara paling tepat untuk memacu kecerdasan anak dengan memberi stimulasi maksimal di usia awal pertumbuhan anak.

Sejak usia 6 bulan, ayahnya telah mengajarkan kepadanya huruf-huruf sesuai urutan abjad. Sesudah itu, ayahnya mengajarkan ilmu bumi, ilmu ukur, ilmu tubuh manusia, dan bahasa Yunani berdasarkan buku ajar yang dipakai di sekolah. Hasilnya, usia 5 tahun William James Sidis telah mampu menyusun karya ilmiah tentang anatomi. Kejeniusannya berkembang sehingga pada usia 11 tahun ia telah menjadi mahasiswa di Harvard University dan usia 14 tahun telah mampu memberi kuliah.

Tetapi kecerdasan tanpa kemampuan mengelola diri, tak cukup untuk membuatnya bahagia. Ia kemudian melarikan diri dari lingkungan yang mengelu-elukannya. Ia lebih memilih menjadi buruh cuci piring di sebuah restoran karena kecerdasan tak bisa membuatnya bahagia.

Kecerdasannya dipacu, bakatnya diasah, tetapi lupa pada jiwa.

Sesungguhnya ada tiga potensi manusia yang berbeda-beda tingkat kemudahannya membentuk. Ini jika dilihat dari psikologi. Yang paling sulit adalah karakter, sesudah itu motivasi dan yang paling mudah adalah kemampuan kognitif serta keterampilan. Jika seseorang memiliki karakter yang kuat, mudah baginya untuk memperoleh kemampuan kognitif, mengembangkan “bakat” maupun keterampilan yang tinggi. Dan inilah yang harus kita perhatikan saat mereka belia. Inilah yang menjadi perhatian di berbagai belahan bumi yang menghargai betul arti sumber daya insani.

Bagaimana dengan Anda?

Tulisan ini saya ambil dari buku Segenggam Iman Anak Kita terbitan @proumedia Semoga bermanfaat dan barakah.

Liburan yang Menyenangkan

Oleh : Adi Sulistama 

Liburan adalah waktu yang selalu ditunggu dan dinantikan oleh sebagian besar anak-anak sekolah. Mereka sangat senang dengan liburan yang mereka jalani karena dengan liburan mereka bisa bermain bersama teman-teman lebih banyak waktu, selalu bersama keluarga, menyegarkan otak setelah belajar di sekolah selama semester, jalan-jalan atau rekreasi ke tempat bermain, hiburan atau bepergian ke rumah sanak saudara.

 

Namun bagi sebagian orangtua, waktu liburan yang cukup panjang justru jadi PR tersendiri bagi mereka. Sebab orangtua harus bisa mendampingi anak mengisi waktu liburan dengan berbagai hal. Bagi orangtua yang ingin serba instan, caranya sangat mudah. Tinggal berikan anak ponsel pintar milik orangtua, lalu biarkan anak asyik bermain. Sementara orangtua tetap bisa leluasa dengan aktivitasnya. Namun bagi orangtua cerdas, memanfaatkan waktu liburan anak harus diisi dengan bergagai aktivitas yang bermanfaat dan mencerdaskan.

 

Meski selama liburan, anak tidak melakukan kegiatan belajar seperti di sekolah, bukan berarti kegiatan mereka hanya dibiarkan tanpa pendampingan orangtua. Sebab mengisi liburan sekolah tetap membutuhkan perencanaan yang baik. Liburan tidak hanya diisi dengan sekedar pergi ke kebun binatang, kolam renang, atau game zone bersama anak-anak. Tapi lebih dari itu, mengisi liburan yang baik adalah bisa memberikan manfaat ganda buat sang anak yaitu refreshing, bermain dan belajar,

 

Sebelum menentukan kegiatan bermain yang menyenangkan bagi anak dalam mengisi liburan anak, ada beberapa hal yang bisa dijadikan pedoman. Pertama, kegiatan liburan hendaknya merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi anak atau sesuatu yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya sehingga anak dapat melakukannya dengan suka hati/tidak ada keterpaksaan. Kedua, kegiatan liburan yang dipilih harus dapat bermanfaat bagi perkembangan fisik dan mental anak. Ketiga, bila momen liburan ini melibatkan seluruh anggota keluarga, maka pemilihan alternatif kegiatan liburan hendaknya didasarkan pada musyawarah untuk mufakat. Misalnya orangtua bersama anak-anak bisa mendiskusikan tempat rekreasi yang akan dikunjungi. Dalam kesempatan ini, orangtua sekaligus bisa melatih kemampuan anak dalam membuat pertimbangan–pertimbangan logis, mengekspresikan keinginan atau ide, bertoleransi, memutuskan pilihan, merencanakan jadwal acara liburan, dan sebagainya.

 

Keempat, bila orangtua tidak mampu menyediakan dana yang cukup untuk liburan anak, maka sebaiknya orangtua dapat mencari alternatif kegiatan liburan anak yang tidak memerlukan biaya besar namun anak tetap dapat memperoleh manfaat dari kegiatan liburannya, seperti mengajak anak menginap ke rumah nenek/saudara sepupu anak, membuat kerajinan tangan dari barang bekas, lari pagi, main sepeda, mencoba resep masakan sederhana, membebaskan anak melakukan eksperimen sains sederhana dengan teman-temannya, atau mengajak anak membuat suatu karya yang hasilnya bisa dijual, dan sebagainya.

 

Kelima, bila orangtua tidak memiliki waktu yang cukup untuk bersama anak menikmati liburan akibat dari kesibukan kerjanya sehari-hari, maka sebaiknya orangtua tetap mencoba meluangkan waktu untuk menjalin kedekatan dengan anak, walaupun tidak sepanjang hari libur anak. Tunjukkan pada anak bahwa orangtua tetap memperhatikan anak, dengan terus mengusahakan terciptanya suasana liburan yang menyenangkan dan bermanfaat bagi anak.

 

Keenam, bila orangtua tidak memiliki waktu yang cukup untuk menemani anak berlibur, tapi mereka memiliki dana yang cukup untuk memfasilitasi liburan anak, maka orangtua bisa mengikutkan anak pada berbagai kegiatan liburan yang diselenggarakan oleh organisasi profesional yang bergerak di bidang paket-paket liburan sekolah, misalnya outbound, kelas memasak, kelompok eksperimen sains, dan sebagainya. Hal ini bermanfaat bagi anak dalam mengasah minat, keterampilan dan kemandiriannya.

Penulis : Adi Sulistama, Pemerhati dunia anak

Ulama Fiqih Asal Lasem

Oleh : Abu Alifah Muhana

Rentang waktu 1313 - 1365 H atau 1895 - 1946 H terdapati seorang Ulama di bumi nusantara, Beliau Alloohuyarham; Abdul Muhaimin bin Abdul Aziz bin Baidhawi bin Abdullathif Lasem Al Jawiy Al Makkiy.

Beliau berangkat menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu di tahun 1340 H/ 1922 M, belajar kepada para Ulama Mekah; Syaikh Umar Bajunaid, Syaikh Muhammad Sa'id Yamaniy, Syaikh Ahmad Nahrawiy Banyumas, Syaikh Muhammad Ali Al Malikiy, Syaikh Umar bin Hamdan serta bermulazamah pada Syaikh Muhammad Baqir Al Jugjawiy hingga beliau wafat.

Beliau pada tahun 1356 H / 1937 diamanahkan sebagai Kepala Madrasah Daar Al Ulum Ad Diniyah di kota Mekah yang merupakan madrasahnya para penuntut ilmu dari bumi nusantara, Indonesia.

Syaikh Abdul Muhaimin Lasem rahimahullah adalah seorang alim dan 'allamah yang diakui kepakarannya di bidang fiqh, khususnya fiqh mazhab syafi'iy. 

Akhirnya beliau wafat di tahun 11 Dzulhijjah 1365 H / 5 November 1946 M dan dimakamkan di pemakaman Ma'lah, Mekah, Arab Saudi.

Adapun penisbatan kata Lasem pada namanya adalah beliau dilahirkan di Kota Lasem, kota kecil pelabuhan pinggir pantai utara di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kota yang juga memiliki julukan "Tiongkok Kecil" di mana sejak tahun 1751 M ditetapkan sebagai Kota Kecamatan hingga saat ini.

Lasem, kota yang sejak dulu hingga kini selalu tumbuh silih berganti melahirkan para penuntut ilmu dan ulama-ulama. Walloohu a'lam

Catatan sederhana pencinta Ulama & Sejarah,
Penulis : Abu Alifah Muhana.

Sumber:
1. Buku: "100 Ulama Nusantara di Tanah Suci", Karya: Maulana La Eda, Juni 2020, Solo, Penerbit Aqwam.

2. Buku: "LASEM, Kota Tua Bernuansa Cina di Jawa Tengah, Karya: Handinoto, 2015, Yogyakarta, Penerbit Ombak Dua

Rangkuman Kemdikbud tentang Belajar


Sedikit rangkuman Jika Ada yg terlewat tidak nonton live :

Tahun ajaran baru : Juli 2020

Ketetapan Tatap Muka :
1. Zona kuning, Orange, dan Merah (94%) dilarang tatap muka. 
2. Zona Hijau (6%) boleh tatap muka. 
Zona ditetapkan oleh Gugus Tugas Covid.

Tatap Muka dengan syarat:
1. Kab/Kota zona Hijau
Pemda/Kanwil memberi izin
2. Satuan Pendidikan siap pembelajaran tatap muka (dengan protokol yg telah ditentukan)
3.Orangtua Setuju. (Jika ortu tidak nyaman, anak boleh tidak tatap muka)

Yang masih belum dijelaskan apakah jika tidak Tatap muka, sekolah menyediakan opsi belajar online ?

Tahapan mulai pembelajaran (hanya untuk zona hijau)

Tahap 1, Bulan 1-2 :
Mulai dari SMA,MA, SMK,MAK dan SMP,MTs

Tahap 2, Bulan ke 3-4 :
Bertambah SD,MI, dan SLB

Tahap 3, Bulan 5 :
Terakhir PAUD formal dan non formal

Protokol :
1. Toilet dan sarana cuci tangan bersih.
2. Ada faskes.
3. Wajib masker
4. Ada thermogun
5. Yg tidak boleh melakukan kegiatan di sekolah
- sedang sakit
- tidak memiliki transportasi yg memungkinkan penjagaan jarak.
- dari zona kuning, orange dan merah.
6. Membuat komite untuk kesiapan pendidikan.

Kondisi Kelas
- Pendidikan Dasar & Menengah max 18 anak per kelas. (Shift)
- SLB dan PAUD max 5 anak per kelas.

Tidak diperbolehkan pada Masa Transisi
- Kantin
- Kegiatan Olah raga
- Pertemuan Ortu, dan kegiatan berkumpul lainnya.

Jika zona hijau berubah menjadi kuning/orange/merah. Sekolah ditutup.
Demikian jika zona berubah ke hijau maka mengikuti tahapan di atas  

Pendidikan Tinggi 
Mulai Agustus 2020, Semua harus online

Sumber WAG

​Bayi Anda Sulit BAB? Jangan Khawatir

 

Oleh: dr. Nurlaili Muzayyanah, Sp.A, M.Sc.

 

Apa kabar Bunda dan putra putri tersayang? Semoga sehat selalu, tambah pintar semua.


Bunda yang punya bayi, pernahkah mengalami  si kecil tiba-tiba saja sulit buang air besar (BAB). Sehari dua hari bahkan ada juga yang sampai seminggu. Khawatir pastinya kan?

 

Sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir. Sulit BAB dalam kedokteran dikenal dengan istilah konstipasi. Untuk bayi hingga usia hingga 6 bulan yang masih minum ASI eksklusif, kalau tidak ada masalah sebelumnya, tidak perlu panik. 

 

Kemungkinan penyebabnya karena perubahan pola makan-minum ibu. Bisa karena mengkonsumsi makanan, minuman atau obat-obatan tertentu. Cara mengatasinya simpel saja : teruskan dan intensifkan pemberian ASI. Bunda juga perlu memperbanyak makanan yang mengandung serat, termasuk sayuran dan buah-buahan.  Jika si kecil sudah berusia di atas 6 bulan dan sudah makan minum selain ASI, konstipasi biasanya disebabkan makanan yang kurang serat. Jadi perbanyak juga  sayuran dan buah untuk si kecil. 

Bila konstipasi berlanjut hingga 1 minggu atau lebih konsultasikan segera ke dokter anak terdekat. Biasanya dokter anak akan memberikan obat untuk memperlancar BAB. Anak pun akan kembali ceria, InsyaAllah.

 

Penulis: dr Nurlaili Muzayyanah, Sp.A, M.Sc., Dokter Spesialis Anak di RS JIH Yogyakarta

Foto: google