Ruang Kecil



Oleh : Abdul Muttaqin,
Penulis lepas, tinggal di Depok, Jawa Barat

Kita lanjutkan kisah yang telah kita baca edisi bulan lalu. Pada edisi yang lalu, kita sudah menyimak sebagian kisah Pak Munif Chatib tentang adanya ruang kecil di sekolah-sekolah di Finlandia yang tersedia untuk mengamankan guru yang mabuk akibat minum alkohol. Disediakan khusus untuk sementara waktu agar mereka tidak masuk kelas dan mengajar dalam kondisi mabuk. Di ruangan itu pula, guru yang sedang teler melakukan apa saja layaknya orang mabuk, seperti memukul apa saja di ruang itu.

Fenomena lain adalah saat memasuki musim dingin tiba. Saat musim dingin, siang lebih pendek, dan malam lebih panjang. Bahkan gelap bisa belangsung terus menerus selama 24 jam. Banyak yang depresi. Tidak sedikit yang merasa ketakutan dan terkurung tanpa bisa melarikan diri. Nah, memasuki musim dingin, mereka saling berpelukan dan meminta maaf. Nanti mereka akan berpelukan lagi saat mereka bertemu dengan teman, kolega atau tetangga setelah menghabiskan musim dingin yang panjang itu. Saat pertama kali mereka bertemu di musim panas, mereka berpelukan saling menyukuri masih bisa melihat matahari terbit. Mereka gembira karena masih bisa berjumpa lagi dalam keadaan masih sehat dan hidup. Sebab di Finlandia, banyak orang putus asa dan bunuh diri saat musim dingin itu dengan cara yang bermacam-macam. Satu di antaranya dengan cara menabrakkan diri mereka dengan kereta cepat di stasiun-stasiun kereta. Mereka gembira karena tadinya menyangka tidak akan pernah bertemu kembali karena bisa jadi salah satu di antara mereka menjadi korban pelaku bunuh diri.

Pak Munif speechless. Saya speechless lagi mendengar ceritanya.

Para guru itu bangga pendidikan mereka hebat dan gaji mereka besar, tetapi pada dua kasus cerita guru di atas, secara tidak langsung mereka mengakui ada problem dalam sekolah dan kehidupan mereka. Pada poin ini, saya kurang jeli menangkap, apakah guru-guru yang diundang dan curhat itu adalah guru-guru Dream School, sekolah terbaik di Finlandia yang dikunjungi Pak Munif atau bukan.

Dilihat dari kasat mata, terutama pada tingkat kemakmuran warga Finlandia, pendidikan mereka memang hebat, tetapi dalam sisi pendidikan ruhani, pendidikan mereka rapuh. Begitulah kira-kira simpulan Pak Munif. Namun secara fisik, kita memang harus mengakui hebatnya pendidikan di Finlandia. Kalo tidak percaya, hayo ongkosi saya kita ke sana liat dari dekat.
Cerita Finlandia Pak Munif saya selesai sampai di sini.

Sekarang terserah, percaya cerita Pak Munif ini yang saya ceritakan kembali, kagum dan terus muji-muji hebatnya pendidikan di Finlandia, mau ngelanjutin mendukung atau mengritik keras atau lembek Full Day School, atau setuju bahwa kita punya sistem nilai untuk pendidikan dalam bingkai worldview Islam bahwa pendidikan harus berbasis iman, Islam dan ihsan tanpa harus inferior dengan sistem pendidikan mana pun.

Islamic Worldview
Pendidikan Islam punya cara pandang yang sama sekali berbeda dengan Barat yang sekuler. Bagi seorang muslim, ilmu untuk mengenal Allah dan mengantarkan pada ketundukkan kepada-Nya, sementara bagi orang sekluer, ilmu tidak ada kaitannya dengan Tuhan. Ilmu bagi seorang muslim akan menuntunnya pada perilaku dekat kepada Allah. Tetapi tidak bagi Barat sekuler.

Saya kutip Dr. Hamid Fahmy Zarkasy tentang hipotesa penelitian tiga Profesor, Richard Lynn, Ulster University, Irlandia Utara, Helmuth Nyborg, Universitas Aarhus, Denmark dan John Harvey Sussex, Inggris. Mereka bertiga meneliti adanya korelasi negatif antara IQ dan Iman atau antara kecerdasan dan keimanan. Mereka berangkat dari hipotesa : “Semakin cerdas seseorang orang itu ia semakin sekuler dan bahkan ateis. Semain bodoh seseorang itu ia semakin religius.” Lebih lengkapnya bagaimana hasil dan problem metodologis riset tersebut bisa dibaca dalam Hamid Fahmi Zarkasy, Misykat, Refleksi Tentang Islam, Westernisasi & Liberalisme, hal 52 -60.

Lalu apa kaitannya dengan guru mabuk dan bunuh diri di atas? Kaitannya adalah cara pandang (worldview). Mabuk bagi guru di Finlandia bisa jadi tidak ada hubungannya dengan profesinya sebagai guru, tapi di Indonesia, atau di lingkup lembaga pendidikan Islam, ini problem serius.
Lawrence Kohlberg, tentu banyak orang tahu, dikenal sebagai Profesor dalam bidang psikologi sosial di Universitas Chicago. Selain itu Kohlberg juga terkenal sebagai pakar pendidikan di zamannya. Bahkan dialah yang menggagas pendidikan karakter. Namun kita terkejut karena penggas pendidikan karakter yang ahli psikologi ini, dililit depresi berkepangangan dan tidak banyak berjuang untuk bertahan. Ironisnya, Kohlberg justru terfikir untuk mengakhiri hidupnya. Tentu ini adalah sebuah aib bagi dunia psikologi yang mengajarkan perlawanan untuk keluar dari sebuah masalah. Kohlberg kabur dari rumah sakit di Cape Pod, Massachusetts tempatnya dirawat karena tidak kunjung sembuh.

Di Boston Harbor, sebuah daerah tepi pantai dekat Samudera Atlantik, pencetus pendidikan Karakter ini mati secara tragis. Kohlberg menenggelamkan tubuhnya ke dalam samudera bersama virus yang telah menggerogotinya dalam waktu sekian lama.Hingga akhirnya, jasad Kohlberg diketemukan pada April 1987 mengapung sekitar 1.000 meter ke arah selatan pantai. Dari hasil pemeriksaan medis, disimpulkan bahwa tenggelam adalah penyebab kematian seorang Kohlberg.

Lalu, maunya pendidikan kita bagaimana?||

Pentingnya Bisa Membaca di Kelas 1



oleh: Muhammad Mohtadin, S.Pd.I

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasaan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Suasana belajar harus dapat diciptakan melalui kegiatan permainan bahasa dalam pembelajaran membaca. Hal itu sesuai dengan karakteristik anak yang masih senang bermain. Permainan memiliki peran penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak.

Tujuan membaca permulaan di kelas 1 adalah agar siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat (Depdikbud, 1994/1995:4). Kelancaran dan ketepatan anak membaca pada tahap belajar membaca permulaan dipengaruhi oleh keaktifan dan kreativitas guru yang mengajar di kelas 1. Dengan kata lain, guru memegang peranan yang strategis dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa.

Peranan strategis tersebut menyangkut peran guru sebagai fasilitator, motivator, sumber belajar, dan organisator dalam proses pembelajaran. guru yang berkompetensi tinggi akan sanggup menyelenggarakan tugas untuk mencerdaskan bangsa, mengembangkan pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan membentuk ilmuwan dan tenaga ahli. Sedangkan menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung atau tanpa tatap muka.dengan orang lain, Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis, seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Keterampilan menulis tidak akan dimiliki seseorang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik secara terus-menerus. Dengan menulis secara terus-menerus dan latihan yang sungguh-sungguh, keterampilan tersebut dapat dimiliki oleh siapa saja.

Keterampilan itu juga bukanlah suatu keterampilan yang sederhana, melainkan menuntut sejumlah kemampuan. Betapapun sederhananya tulisan yang dibuat, penulis tetap dituntut memenuhi persyaratan seperti yang dituntut apabila menulis tulisan yang rumit.

Berdasarkan penelitian selama mengajar saat ini, alokasi waktu pembelajaran membaca dan menulis di sekolah-sekolah yang salah satunya di SD, relatif lebih kecil . Hal ini berdampak pada keterampilan mereka belum maksimal sehingga setelah para siswa menamatkan jenjang sekolah, dikhawatirkan belum mampu menggunakan keterampilan berbahasa secara baik dan benar. Oleh karenanya, kami akan membahas lebih lanjut tentang proses membaca dan menulis permulaan pada anak SD dikelas rendah.

Setidaknya, ada enam tahapan yang memudahkan anak untuk bisa dan senang membaca. Pertama, senam otak. Anak didik  diajak  untuk bernyanyi sambil menyebutkan huruf-huruf yang dibaca misalnya huruf a dan ba (dibaca dengan lagu balonku ada lima tanpa dieja). Kedua, remidi. Anak diajak untuk membaca kembali huruf-huruf yang telah dikuasai. Misalnya huruf yang sudah dikuasai a, ba, ca, dan da. Saat mau membaca ke huruf fa huruf sebelumnya harus dibaca dan betul-betul tahu ciri dan bentuk hurufnya. Ketiga, baca modul. Kita sebagai pengajar harus punya buku pegangan guru (modul) sehingga apa yang sudah kita ajarkan dapat dipertanggung jawabkan. Misalnya buku level 1 (Vokal a ), level 2 (Vokel i), level 3 (Vokal u) dst.

Keempat, pengayaan. Yaitu mengajarkan kepada siswa dari huru-huruf yang sudah di kuasai kemudian dirangkai menjadi kalimat-kalimat sederhana yang anak-anka mudah mengerti. Misalnya  : level 1 vokal a (a-ba-ta, ma-ma, pa-pa ) tanpa dieja. Level 2 vokal i  (bi-bi, mi-si, vi-vi )tanpa dieja dan seterusnya. Kelima, menulis. Dengan pembiasaan menulis, anak-anak akan terlatih otak kanan dan otak kirinya, sehingga mampu menyelesaikan tahapan menulis dengan baik dan benar. Keenam, permainan. Tanpa kita sadari bahwa dunianya  anak-anak kelas 1 adalah dunia permainan. sehingga ketika kita mengajarkan membaca kepada anak jangan sampai lupa kita berikan alat permainan berupa kartu game (kartu permainan huruf).

Penulis: Muhammad Mohtadin, S.Pd.I., Mahasiswa PPs MSI FIAI UII, Pendidik di SDIT Salsabila Klaseman, Sleman

Pahami Sosioemosional pada Anak



Oleh : M. Adam Mustaqim

Seorang anak, terkadang mengalami kondisi mood of fluctuation atau keinginan yang selalu berubah-ubah, emosi yang kurang stabil, dan labilitas sosial dalam berinteraksi. Jika sudah demikian, orang tua harus lebih dini untuk mengetahui apa ysng sebenarnya terjadi pada sang buah hati.    

Adalah sosioemosional, perkembangan dalam diri seseorang yang mencakup emosi, sosial, dan moral. Jadi, bila seorang anak mengalami kondisi seperti di atas, bisa dipastikan bahwa mereka sedang melalui tahap perkembangan sosioemosional.

Emosi mencakup adhesiveness atau hubungan emosional antara dua individu yang saling memiliki, menyayangi, dan memiliki kedekatan hubungan horizontal di atas rata-rata, seperti kedekatan seorang ibu pada anaknya. Watak dan harga diri juga termasuk pada kriteria emosi, namun antara keduanya memiliki perbedaan karakteristik. Jika watak memiliki ciri khas sebagai identitas seseorang secara holistik, harga diri memiliki spesifiksi dalam memilah antara positif dengan negatif.  

Adapun perkembangan sosial, mencakup pengetahuan sosial konvensional, dan perkembangan pengetahuan prosoial. Dalam perkembangan pengetahuan sosial konvensional, anak dilatih agar dapat memiliki hubungan interpersonal, yang tidak hanya berotasi pada sekelilingnya saja, akan tetapi agar dapat mejangkau pada semua lini sosial, baik lingkungan rumah, tempat ia menimba ilmu, hingga berinteraksi dengan alam.

Dilihat dari konteksnya, perkembangan pengetahuan prososial tidak jauh berbeda dengan perkembangan pengetahuan konvensional, hanya saja pengetahuan prososial lebih selektif, namun terbuka dengan lingkungan, tanpa merasa terbatasi dengan keadaan, dengan tujuan agar mendapatkan hasil yang diinginkan. Seperti arahan orangtua kepada sang anak yang lebih bertitik berat pada inteaksi terhadap masyarakat. Secara bertahap, orangtua tersebut mengharapkan sang anak agar kelak ia memiliki kecerdasan intrapersonal, sehingga output yang didapat, sang anak memiliki kepekaan ekstra terhadap mayarakat, memiliki jiwa pemimpin, dimensional, dan komunikatif terhadap lawan bicaranya. Pada sisi lain, prososial juga bisa diartikan sebagai bentuk empati diri terhadap linghungan sekitar, baik dengan sesama makhluk hidup, ataupun alam.

Sedangkan moral, mencakup tahapan zero moral, premoral dan moral realism. Tahapan zero moral, adalah ketika sang anak baru mengenal dunia, atau dari usia 0 hingga menginjak 2 tahun. Adapun premoral, adalah proses penanaman etika terhadap sang anak dari usia 2 hingga 6 tahun. Moralism adalah fase aplikatif dari kedua tahap perkembangan moral sebelumnya. Fase inilah yang menentukan karakteristik seorang anak, yang dipengaruhi oleh zero moral, dan premoral, karena fase ini bersifat doktrinal.   

Pada fase zero moral, seorang anak belum dapat merefleksikan perkataan atau tindakan yang diajarkan oleh orang tua. Namun jangan salah, karena di usianya yang baru mengenal dunia, sang anak dapat mereflesikan bunyi-bunyian, seperti musik, gemuruh air, getaran, dll, dan juga mampu merefleksikan pengliatannya, seperti melihat warna, benda bergerak, hingga pantulan cahaya. Bentuk refleksi tersebut tentunya belum dapat dirasakan atau dilihat oleh orang tua secara spontanitas, namun berkala, hingga sang anak menginjak fase premoral.

Ketika pada fase 0 hingga menginjak 2 tahun sang anak kerap kali mendengar bunyi-bunyian hyper sound, seperti musik rok, kebisingan lalulintas, atau suara frontal lainnya, kelak pada fase premoral ia cenderung enggan untuk menirukan apa yang orangtua arahkan, bertingkah semaunya, dan memiliki motoritas di atas rata-rata atau hyper active, sehingga pada fase isme, anak cenderung sulit untuk diarahkan, dan apatis terhadap keadaan.

Adapun tahapan moral realism, adalah bentuk doktrinasi realistis yang sebelumnya telah disematkan orang tua kepada sang anak pada fase permoral. Pada fase ini, anak-anak lebih mendapat penekanan pada tindakan nyata, sehingga pada jangka berkala, anak sudah benar-benar menemukan karakternya sebagai makhluk sosial dan bermoral.

Perlu diingat, bahwa ketiga fase perkembangan moral di atas, adalah suatu hal yang sangat sensitif, sehingga para orangtua dituntut agar memiliki kehati-hatian yang ekstra. Sebisa mungkin para orangtua agar dapat menjaga intonasi dalam berbicara, menghindarkan dari suara-suara yang frontal atau hyper sound, dan mencegah segala bentuk materil yang bersifat negatif, sehingga pada fase perkembangan moral selanjutnya, sang anak akan lebih mudah diarahkan, dan lebih mudah dibentuk karakternya, sesuai kehendak orang tua yang diinginkan. Wallahu a’lam.

Penulis: M. Adam Mustaqim, Pendidik di SDIT Salsabila Banguntapan
Yogyakarta

Menangani Tingkah Laku Buruk Anak




Oleh : Nur Muthmainnah

Dalam mendidik anak, orangtua seringkali menemui kesulitan untuk mengendalikan kebiasaan atau perilaku buruk anak yang tidak disukai. Menghadapi hal tersebut, seringkali orangtua menyikapi dengan amarah bahkan ada yang sampai menggunakan kekerasan fisik, namun nyatanya tidak menimbulkan efek jera pada anak.

Kebanyakan orangtua tidak menyadari bahwa ketika marah-marah, membentak, mengomeli anak, mereka sebenarnya justru sedang memberikan suatu bentuk perhatian kepada anak. Apabila orangtua mempunyai kebiasaan untuk memuji saat anak melakukan perilaku yang baik, maka bentuk perhatian negatif yang diberikan lewat amarah, omelan, atau bentakan itu sebenarnya tidak membuat anak tertarik. Akan tetapi, sayangnya, kesalahan ini banyak dilakukan orangtua, di mana orangtua membiarkan anak yang melakukan perilaku baik, tetapi segera menegur dan memarahi anak yang perilakunya buruk. Akibatnya, anak mencari perhatian orangtua dengan cara berperilaku buruk.

Cara yang paling sederhana untuk membuat anak mengurangi perilaku buruknya adalah dengan tidak memberikan perhatian dalam bentuk apapun saat anak melakukan perilaku buruk tersebut. Dengan kata lain, abaikan. Dengan cara ini, orangtua seolah-olah menyampaikan pesan kepada anak, “Kamu tidak akan mendapat imbalan apa-apa dengan melakukan perilaku seperti itu. Bunda tidak akan memberikan perhatian yang kamu inginkan”.

Saat anak melakukan perilaku yang buruk, palingkan wajah atau tubuh Anda, sementara itu, diam-diam Anda menunggu sampai anak mengganti perilakunya dengan perilaku yang baik atau yang Anda harapkan. Begitu anak memunculkan perilaku baik tersebut, berikan pujian kepadanya. Beberapa bentuk pengabaian yang bisa Anda pilih, antara lain: menoleh ke arah lain, atau memutuskan kontak mata dengan anak, mengubah topik pembicaraan (menghindari topik yang berkaitan dengan anak), tidak mengganti pembicaraan yang sedang Anda lakukan (bila saat itu Anda memang sedang berbicara tentang hal lain) atau kembali pada aktivitas/kesibukan yang sedang Anda lakukan

Meski demikian, ada hal yang harus tetap diperhatikan. Ekspresi wajah Anda harus tetap tenang dan netral. Jangan tunjukkan kemarahan atau frustasi yang sedang Anda rasakan. Bersikaplah tenang, seolah-olah anak mengatakan kepada Anda bahwa Anda tidak akan terpancing olehnya. Siap siagalah untuk memuji, begitu Anda menangkap perubahan perilaku anak dari yang jelek menjadi baik.

Kunci keberhasilan metode mengabaikan adalah  penggunaannya secara konsisten bersama-sama dengan metode memuji. Tanpa disertai dengan memuji perilakunya yang baik, metode ini tidak akan menghasilkan efek seperti yang diharapkan orangtua.

Pertama kali orangtua menggunakan metode mengabaikan, anak biasanya akan heran. Ia berpikir mengapa tidak seperti biasanya, mengapa Anda tidak melotot, tidak membentak, tidak mendesah. Rasa heran ini akan membuat anak tergoda untuk menguji kebenaran dari kenyataan baru yang sedang dihadapinya, sehingga anak melakukan perilaku buruk itu lebih hebat lagi. Seolah-olah anak berkata, “Mengapa tidak seperti biasanya? Biasanya ayah marah melihatku melakukan ini. Oh,…mungkin karena tidak melihat/mendengar aku tadi. Kalau begitu, aku akan mencoba melakukan lagi”.

Dalam situasi seperti ini, orangtua memang harus berjuang keras menahan diri untuk tetap mengabaikan. Jika Anda bertahan, berarti langkah Anda sudah semakin dekat pada tujuan, sebaliknya jika Anda menyerah di sini, berarti Anda semakin  menjauh dari tujuan yang ingin Anda capai.

Metode mengabaikan memang tidak langsung menghasilkan perubahan, akan tetapi apabila Anda menggunakannya secara konsisten, dalam arti Anda selalu tidak memberikan perhatian saat anak menunjukkan perilaku buruknya tersebut, Anda akan mendapati bahwa perilaku anak yang buruk yang Anda abaikan tersebut menjadi berkurang, hingga akhirnya hilang.

Penulis : Nur Muthmainnah, Pemerhati dunia anak

Kesadaran Metakognitif



Oleh : Dr. Ali Mahmudi,

Mengukur kemajuan belajar anak merupakan hal yang mendasar dalam proses pembelajaran. Namun, mendorong tumbuhnya kesadaran dan kebiasaan pada diri anak untuk secara mandiri memantau dan mengevaluasi proses berpikir dan kemajuan belajarnya sendiri dipandang jauh lebih penting. Kesadaran demikian disebut sebagai kesadaran metakognitif. Secara sederhana, kesadaran metakognitif merujuk pada kesadaran berpikir mengenai apa yang dipikirkan dan merefleksi atas tindakan-tindakan yang dilakukan (Baker dan Brown, 1985). Seorang anak dengan kesadaran metakognitif bertanggung jawab terhadap proses belajar yang dilakukannya. Ia secara sadar mengetahui tujuan belajarnya, mengetahui cara atau proses berpikir untuk mencapainya, dan mengetahui pula cara mengetahui bahwa tujuan tersebut telah tercapai. Anak dengan kesadaran demikian juga akan menyadari apa yang telah diketahui, belum diketahui, dan perlu diketahui, serta mengetahui pula kelebihan maupun keterbatasannya.

Kesadaran metakognitif akan mendorong tumbuhnya keingintahuan konstruktif pada diri anak. Dalam aktivitas penyelesaian masalah, misalnya, anak dengan kesadaran metakognitif tidak akan puas dan berhenti ketika jawaban atau solusi masalah itu telah ditemukan, melainkan akan senantiasa mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri (self-questioning) atau berdialog dengan diri sendiri (inner-dialogue) untuk memantau proses berpikirnya. Misalnya, ia akan bertanya mengapa jawaban ini telah sesuai?, apakah terdapat jawaban lain?, apakah ada strategi lain untuk menjawab masalah ini?, apakah strategi ini dapat diterapkan pada masalah lain?, dan sebagainya. Kesadaran demikian sangat penting dimunculkan dalam aktivitas penyelesaian masalah karena memang suatu masalah belum dikatakan telah diselesaikan hanya karena telah ditemukannya solusi dari masalah itu, melainkan jika anak telah menyadari sepenuhnya akan proses berpikir yang dilakukan untuk menemukan solusi itu.

Bagaimanapun juga, kesadaran metakognitif tidak akan terbentuk dengan serta merta pada diri anak. Untuk menumbuhkan kesadaran ini, guru dapat mendorong anak untuk mengemukakan secara verbal proses berpikirnya untuk memahami suatu materi tertentu, termasuk bagian-bagian yang sudah maupun belum dipahaminya. Selain itu, guru juga berperan sebagai model bagi siswa dalam mengembangkan kesadaran ini. Misalnya, ketika guru meminta anak untuk mengungkap pesan atau menarik simpulan terkait suatu bacaan tertentu, ia dapat mengemukakan secara verbal dialog diri (inner dialogue) mengenai proses berpikirnya sebagai berikut. Hal demikian dapat dijadikan model bagi anak untuk melakukan hal serupa.

”Saya diminta untuk mengidentifikasi pesan atau membuat simpulan dari bacaan ini. Hal ini berarti pesan atau simpulan itu tidak disajikan secara jelas dalam bacaan ini. Hmm …, lantas bagaimana saya menemukannya? Saya kira saya perlu membaca kalimat demi kalimat bacaan ini. Saya harus menemukan informasi penting yang disajikan secara eksplisit dalam bacaan ini. (Guru membaca teks itu). Apakah terdapat kata-kata atau frasa yang dapat memberikan petunjuk? Oh …, jika saya menghubungkan kalimat pertama pada paragraf 1 dan kalimat pertama pada paragraf kedua, saya dapat menyimpulkan bahwa …. (Guru menarik simpulan). Tapi, sebentar dulu. Apa betul ini simpulannya? Tampaknya, simpulan ini bertentangan dengan kalimat terakhir pada paragraf ketiga”, ….

Kesadaran metakognitif akan mendorong anak menjadi peka dan kritis terhadap kemajuan belajar yang telah dicapainya. Anak dengan kesadaran demikian akan senantiasa mengevaluasi diri (self-evaluation) mengenai kelebihan maupun keterbatasannya dalam mencapai suatu pemahaman tertentu. Selanjutnya kesadaran demikian dijadikan dasar untuk memperbaiki diri, yakni mengatasi keterbatasan dan memperkuat kelebihan yang telah dimilikinya. Ketika anak mengungkapkan secara verbal proses berpikirnya, maka saat itu ia telah menata ulang pemahamannya. Demikian pula, ketika ia memperhatikan ungkapan verbal proses berpikir temannya, ia juga akan mempertajam proses berpikirnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kesadaran metakognitif akan menunjang keberhasilan proses belajar anak.

Kesadaran metakognitif tidak hanya penting dalam menunjang keberhasilan proses belajar anak di kelas, melainkan juga akan menunjang kesuksekan individu dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam berbagai jenjang apapun, seseorang memerlukan kesadaran demikian untuk menentukan suatu program atau tujuan tertentu, termasuk tujuan hidup, menentukan strategi untuk mencapai tujuan itu, mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung atau menghambat pencapaian tujuan itu, dan mengevaluasi ketercapaian tujuan itu.  Dalam konteks ‘ubudiyah, kesadaran metakognitif bersesuaian dengan istilah muhasabah yang merujuk pada kesadaran untuk memeriksa atau mengevaluasi diri mengenai apa yang telah dan belum dilakukan, khususnya terkait dengan ketaatan atau kesalahan yang dilakukan. Muhasabah merupakan pangkal bagi perbaikan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Demikian pentingnya menumbuhkan kesadaran metakognitif pada diri anak, maka upaya berkelanjutan untuk menumbuhkannya perlu terus dilakukan.

Penulis: Dr. Ali Mahmudi, Dosen Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

Saling Menerima dan Menghargai


Oleh : Yulias Fita Ari Antika, S.Pd.

"Aku sebel banget. Apa-apa dikomentari. Pake baju ini di komentari pake itu di komentari. Kaya ga ada kerjaan lain."

Suatu waktu pernah seorang sahabat menceritakan kekesalan dalam hatinya yang merasa orang lain mengusik dirinya. Padahal tidak pernah mengganggu atau mengusik gantian.


"Sabar, mungkin maksudnya tidak begitu. Anggap saja beliau perhatian, " Ucapku saat itu.

Pun yang berkomentar. Selama yang memakai baju tidak mengusiknya kenapa harus dikomentari yang sejatinya itu tidak perlu. Malah bisa jadi justru dari koment kita itu menyinggunggya.

Terkadang begitulah kita. Terkadang maksud seseorang menyampaikan sesuatu seperti ini bisa diterima menjadi seperti itu oleh orang lain. Bahkan bisa jadi niat baik seseorang dianggap lain oleh orang lain. 

Jika sudah seperti ini, berat. Permusuhan, rasa benci, rasa tak suka dan muak, bahkan perpecahan bisa timbul terjadi. 


Jika apa? Sudah bisa ditebak dari judul di atas. Jika tidak ada rasa saling menerima dan menghargai. 
Sikap tidak mengenakan dan lisan yang menyakiti akan terus ada. Dan rasanya sakit.


Entahlah. Sering sekali diri ini berpikir. Mereka berilmu, mereka berpendidikan tapi kenapa menerima dan menghargai orang lain saja tak mampu. 


Pernahkah mereka berpikir sebelum bertindak dan berucap? Apakah menyakiti atau tidak? Apakah sudah tepat? Apakah bisa di terima? 


Bukankah segala perbuatan dan ucapan kelak akan di pertanggungjawabkan? Apakah ini tak cukup di jadikan pegangan? 


Terbayangkan jika semua makhlukNya bisa saling menerima dan menghargai. Ketika ada yang tidak cocok atau perbedaan tidak langsung menyiakiti dengan perbuatan dan lisan, namun di olah dulu, dicerna dulu, baru bersikap. Indahnya. 


Ada yang tidak kita suka dari orang lain bukankah itu hal yang pasti terjadi. Karena manusia itu bukan makhluk sempurna yang tanpa cela. Yang semua orang pasti suka. Dan itu semua tergantung bagaimana kita bersikap.

Manusia itu tidak ada yang sama. Terkadang kalimat ini yang menjadi motivasi diri ketika menemukan orang-orang di atas. Yang belum bisa saling menerima dan menghargai.

Allah, jaga diri ini dari menyakiti orang lain. 


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْ

Penulis : Yulias Fita Ari Antika, S.Pd., Redaktur Online Majalah Fahma 

Teman dalam Kebaikan



Oleh: Nur Fitriyana

Saat Sulaiman bin Abdul Malik menjadi khalifah, ia mendekati orang-orang yang shaleh untuk ia jadikan teman dekat yang mempengaruhi kebijakan-kebijakannya.

Di antara orang tersebut adalah gubernurnya Umar bin Abdul Aziz. Sulaiman menjadikan Umar sebagai teman dekat dengan beberapa alasan:
Pertama. Kepribadian Sulaiman sangat berbeda dengan saudaranya, al-Walid bin Abdul Malik, khalifah sebelumnya. Al-Walid adalah seorang yang ujub, bangga terhadap dirinya sendiri, hanya percaya pada pendapatnya sendiri, sedangkan Sulaiman adalah seorang yang rendah hati, tidak ujub dan tidak membangga-banggakan dirinya.

Kedua. Sulaiman meyakini bahwa Umar mempunyai pendapat-pendapat yang benar dan lurus.

Ketiga. Rasa terima kasih Sulaiman kepada sikap Umar tatkala al-Walid hendak menyingkirkan dirinya. Hal ini menimbulkan kedekatan secara personal di antara mereka berdua.

Ketika Sulaiman naik tahta menjadi khalifah, ia tidak melupakan kerabat sekaligus teman dekatnya Umar bin Abdul Aziz. Ia sering meminta nasihat dan tidak berkeberatan apabila diingatkan ketika pendapatnya tidak membuat maslahat.

Di antara contohnya Umar mempengaruhi Sulaiman untuk membuat kebijakan agar masyarakat menegakkan shalat tepat pada waktunya, dan jangan sampai aktivitas mereka melalaikan dari ibadah yang agung ini (Atsar al-Ulama fi al-Hayah as-Siyasiyah, Hal. 170).

Umar memberi masukan kepada Sulaiman terhadap Hajjaj bin Yusuf dan kroni-kroninya agar meerka dibatasi dan tidak bertindak sewenang-wenang (Atsar al-Ulama fi al-Hayah as-Siyasiyah, Hal: 169).

Sulaiman bin Abdul Malik juga terbuka dan menerima kritik. Umar bin Abdul Aziz mengkritik Sulaiman terkait surat wasiat Khalifah Abdul Malik tentang hak waris putri-putrinya. Sulaiman hendak melaksanakan wasiat sang ayah, Abdul Malik, yang menyatakan putri-putrinya tidak mendapatkan warisan. Lalu Umar menyanggahnya, kata Umar, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau meminta kitab Allah (sebagai putusan yang adil)?” Saat itu Ayyub bin Sulaiman menanggapi perkataan Umar, “Apakah salah seorang diantara kalian tidak takut mengucapkan kata-kata yang karenanya lehernya dipenggal?” Maka Umar menanggapi, “Jika perkara ini diserahkan ke tanganmu, maka apa yang menimpa kaum muslimin lebih besar daripada apa yang engkau katakan.” Sulaiman lalu membela Umar dan memarahi Ayyub (Sirah Umar bin Abdul Aziz, Hal: 31).

Suatu hari, Sulaiman bin Abdul Malik datang ke Mdinah, ia membagi-bagikan harta dalam jumlah yang besar kepada penduduk Madinah. Lalu ia bertanya kepada Umar, “Apa pendapatmu tentang apa yang telah kami lakukan wahai Abu Hafsh (kun-yah Umar)?” Umar menjawab, “Aku melihatmu membuat orang kaya semakin kaya dan membiarkan orang-orang miskin dengan kemiskinannya.” (at-Tarikh al-Islami, 15: 30-31).

Umar mengkritik sedekah yang dilakukan Sulaiman karena tidak tepat sasaran, dan penting bagi khalifah untuk membedakan antara sekedar berbuat baik biasa dengan berbuat baik dengan cara tepat sasaran sehingga memiliki manfaat yang jauh lebih besar.

Di hari Arafah, Sulaiman dan Umar wukuf di Arafah. Sulaiman merasa bahagia dengan banyaknya umat Islam yang berkumpul memenuhi panggilan Allah. Saat itu Umar bin Abdul Aziz berkata kepadanya, “Mereka adalah rakyatmu hari ini, tetapi besok kamu akan ditanya tentang mereka.” Dalam riwayat lain, “Mereka adalah orang-orang yang akan menuntutmu di hari kiamat.” Tiba-tiba Sulaiman menangis, nasihat Umar benar-benar menghujam di dadanya, ia berkata, “Hanya kepada Allah aku memohon pertolongan.” (al-Bidayah wa an-Nihayah, 12: 685).

Inilah profil pertemanan yang bermanfaat, pertemanan yang saling mengajak kepada kebaikan, bahkan sebelum wafatnya Sulaiman menunjuk Umar sebagai khalifah agar amanah kepemimpinannya bisa meringankannya.

Penulis: Nur Fitriyana, Pemerhati dunia anak


Hanya Bermodal Ikhlas dan Sabar



Oleh: Abu Thoriq

Ada sebuah fenomena menarik. Pada zaman dulu, orang terkadang  memiliki anak melebihi dua. Ada yang sebelas, dua belas bahkan lebih.

Mereka berhasil mendidik jumlah anak yang cukup banyak, padahal pendidikan orangtuanya tidak sekelas S1. Tapi mereka bisa mengantarkan putra-putrinya sukses meraih masa depan.

Modal apa yang mereka punyai? Bukan banyaknya uang dan harta, melainkan hanya bermodal  ikhlas dan sabar dalam mendidik anak.

Hal ini berbeda dengan zaman sekarang. Banyak orangtua muda yang memiliki anak dua saja menyisakan kerepotan. Apa sebabnya? Mungkin karena kurang ikhlas dan sabar dalam mendidiknya.

Ada sebuah nasehat menarik di buku Mengetuk Pintu Surga yang ditulis oleh Yusuf Sabiz Zaenudin ini. Dalam buku ini, Yusuf Sabiq mengingatkan bahwa anak-anak kita adalah permata yang tersimpan sebagai harta yang indah. Anak-anak adalah anak manusia bukan anak batu.

Tahukah batu? Batu adalah benda yang keras. Sekeras-kerasnya batu masih bisa ditetesi air. Batu yang begitu kerasnya bisa berlubang dengan tetesan air. Begitu juga seorang anak manusia yang terlahir dari rahim seorang ibu.

Tentu pendidikan anak kita tidak sekeras batu. Mereka punya hati yang terdalam seperti mutiara yang bersinar.
Janganlah menutup kebaikan dengan keburukan serta kepura-puraan. Katakan kalau kita suka atau tidak suka pada perangainya. Sama seperti ketika kita memberikan pelajaran kepada anak kita. Ini haram, ini halal, ini boleh dan ini tidak boleh. Nah, di situ letak batasannya.

Didik anak-anak kita penuh dengan kesabaran dan keikhlasan, disertai nasehat dan keteladanan. Karena itu adalah modal dalam mendidik anak-anak kita.

Semoga anak-anak kita bisa membanggakan orangtuanya, berguna dan berbakti kepada orangtuanya di setiap waktu dan saat, berguna bagi dirinya, masyarakatnya, negaranya dan selebihnya untuk akhiratmya. Cintailah anak-anak kita karena di dalamnya identik syurga.||

Belajar Dengan Sumber Belajar Primer di Luar Sekolah


Oleh: Salim Abu Hanan

Pada tahun pelajaran 2018/2019 ini hampir di setiap kelas sudah menerapkan Kurikulum 2013.

Penting diketahui bagi orangtua murid tentang pendekatan pembelajaran pada Kurikulum Nasional 2013 ini. Demi kelancaran pembelajaran dan terutama bagi keberhasilan anak dalam belajar.

Agar orangtua tidak sekedar tahu apa kurikulumnya tetapi harus pula memahami bagaimana proses belajarnya sehingga bisa mengambil peran dalam mendukungnya.

Pada Kurikulum 2013 tingkat Sekolah Dasar, proses pembelajarannya adalah terpadu (integrated instruction) dengan model tematik. Sistem pembelajaran yang memungkinkan anak (secara individu atau kelompok) aktif untuk menemukan konsep-konsep keilmuan secara holistik, bermakna dan autentik. Sehingga pembelajarannya berorientasi pada praktik sebagai bentuk pengalaman belajar.

Pembelajaran tematik terpadu menekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan dalam suasana yang alamiah (natural).

Keaktifan murid yang merupakan wujud dari rasa ingin tahunya sangat berperan dalam menunjang keberhasilannya sebagai pembelajar. Pendekatan pembelajaran ini sering disingkat dengan sebutan PAIKEM GEMBROT (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan Gembira dan Berbobot).

Berangkat dari tema yang telah ditentukan, murid bereksplorasi dengan cara mengamati, membaca, menanyakan, mencoba melakukan, dan sebagainya dari berbagai sumber belajar yang telah disiapkan dan diskenario oleh guru di sekolah.

Di sini kelengkapan sarana sekolah dan kreatifitas guru sangat berpengaruh. Karena keterbatasan waktu dan mungkin juga fasilitas sekolah, kegiatan eksplorasi menjadi terbatas. Ini disadari oleh guru. Maka guru sering memberi tugas kepada murid untuk melengkapi kegiatan eksplorasi di luar sekolah atau rumah.

Ini tantangan bagi orangtua.

Dengan memahami model pembelajaran pada Kurikulum 2013, paling tidak orangtua akan memaklumi jika anak akan melakukan banyak tugas bereksplorasi di luar sekolah. Selanjutnya orangtua tentu akan memberi dukungan terhadap tugas-tugas yang dilakukian anak. Maka penting bagi orangtua mengetahui informasi tentang tema, sub tema, dan bentuk aktifitas yang harus dilakukan pada setiap pekannya.

Kegiatan eksplorasi di rumah sangat penting karena dapat mengatasi keterbatasan di sekolah. Apalagi di lingkungan rumah banyak sumber belajar yang alamiah (natural). Sumber belajar yang tidak diskenario oleh guru sehingga bisa memberi pengalaman belajar yang autentik dan bermakna.

Misalnya di SD/MI kelas satu, tema 2 sub tema 3, ada kegiatan mengenal profesi. Sumber informasi di sekolah sangat terbatas. Paling guru akan menyajikan dalam bentuk gambar atau poster. Berbagai gambar orang sedang bekerja dengan menggunakan alat tertentu, menghasilkan karya tertentu dan keterangan nama profesinya. Atau dalam bentuk video. Dari sumber belajar ini anak mendapatkan banyak informasi ragam profesi.  Meskipun itu gambar asli tetapi anak tidak bisa terlibat langsung. Sehingga mengurangi nilai otentik, kebermaknaan serta orientasi prakteknya.


Jika orangtua mengetahui konsentrasi aktifitas belajar anak di sekolah maka orangtua dapat membantu dengan labih leluasa dibandingkan keterbatasan waktu anak di sekolah.

Misalnya sambil mengantar atau menjemput anak, orangtua dapat menunjukkan langsung berbagai profesi. Diajak mampir ke beberapa tempat misalnya ke bengkel, ke tukang jahit, ke toko buah dan sebagainya. Anak dapat berkomunikasi langsung dan mencoba alat yang digunakan. Maka akan memberi pengalaman belajar yang otentik, bermakna.

Orangtua juga perlu mengetahui bahwa proses pembelajaran di sekolah dengan pendekatan sain. Sehingga ketika mendampingi anak belajar di rumah akan melakukan dengan pendekatan sain juga. Praktisnya orangtua tidak akan langsung memberi ikan tetapi akan memberitahukan jalan agar anak bisa menangkap ikan sendiri.||

Penulis: Salim Abu Hanan, Pengasuh Madin Saqura Sleman

Aku Titipkan Pada Kalian....!



Oleh: Imam Nawawi

Alhamdulillah kesyukuran luar biasa atas karunia Allah Subhanahu Wa Taala, di mana pada hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 73 tahun, Agustus yang lalu, banyak sekali pelajaran, inspirasi, bahkan pengalaman, yang Allah hadirkan sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada kita semua.

Saya sendiri sangat bersyukur, terutama kalau melihat teman-teman yang berada di pengungsian korban gempa Lombok, masih bisa menjalankan upacara bendera. Dan, yang spesial upacara itu dipimpin oleh Ustadz Bachtiar Nasir (UBN).

Saya tidak hadir tetapi saya betul-betul bergetar dengan apa yang bisa dilakukan oleh teman-teman di sana.
“Allah sedang memuliakan bumi Lombok. Gempa ini harus membuat kita semakin dekat dengannya. Yakinlah akan ada hikmah terbesar di baliknya,” ungkapnya seperti dilansir www.hidayatullah.com.

Lebih jauh, UBN menanamkan keyakinan besar kepada para pengungsi. “Cara tercepat untuk mengembalikan harta kita adalah bersedekah meskipun dalam keadaan susah. Yakinlah, Allah pasti akan mengembalikan rumah kita yang hancur.”

Selanjutnya saya juga bersyukur, karena karunia Allah Subhanahu Wa Taala, melalui sahabat saya M. Deden Sugianto, menjadikan hari Jumat 17 Agustus 2018 sebagai hari penuh kebahagiaan.

Takdir Allah, membuat saya bisa berbagi cerita, semangat, dan inspirasi, dengan generasi muda yang menjadi tenaga pendidikan di Pesantren Hidayatullah Ruhama Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat.

Di sana saya mendorong agar teman-teman yang bergerak di bidang pendidikan, mendidik generasi penerus bangsa berkomitmen menjadi tauladan bagi murid-muridnya. Tidak mungkin akan lahir murid yang gemar membaca, jika gurunya lebih banya baca status. Tidak mungkin akan lahir murid disiplin, jika pelajaran disiplin tidak hadir dalam kenyataan.

Sadar silaturahim bukan amalan yang bisa dilakukan setiap waktu, maka saya pun meminta untuk bisa bersilaturahim dengan para santri, baik santri putra maupun santri putri.

Dalam pertemuan dengan santri putra, saya sedikit mengisahkan tentang bagaimana etos keilmuan Imam Bukhari yang sejak kecil memang telah memiliki cita-cita yang jelas, yaitu ingin menjadi ahli hadits. Cita-cita itu bukan tanpa hambatan, ada kekurangan, ada kendala.

Tetapi semua terjawab dengan doa yang tiada henti dan terus menerus dilakukan oleh sang ibu untuk tercapainya cita-cita sang anak. Sampai kemudian hadir keajaiban dari sisi Allah, di mana Imam Bukhari kecil yang sempat tak mampu melihat, kemudian bisa memandang dunia dengan mata kepalanya. Subhanalloh. Sejak itu, sejarah hidup Imam Bukhari sangat luar biasa.

Kemudian saya sampaikan pertanyaan kepada para santri putra. Mengapa seringkali orang dilanda kemalasan, lantas sulit untuk disiplin dan nyaman di dalam pelanggaran-pelanggaran yang ada di pesantren?

Mereka terdiam. Tetapi saya melanjutkan, sebenarnya bukan karena diri kalian yang nakal, malas, dan lain sebagainya. Tetapi boleh jadi karena belum hadirnya niat yang kuat, sehingga kalian tidak sadar dan tidak mengerti, apa yang semestinya dilakukan selama berada di pesantren.

Padahal menjadi anak-anak, menjadi remaja, menjadi pemuda, adalah momentum yang tidak bisa terulang di dalam kehidupan manusia.

Oleh karena itu selagi ada kesempatan menjadi generasi penerus bangsa, belajarlah sungguh-sungguh untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi bangsa, negara, agama dan peradaban Indonesia.
Adapun kepada santri putri saya berbagi tentang bagaimana cara meningkatkan semangat dan motivasi dalam belajar.

Kaum Hawa harus punya tekad untuk memiliki intelektualitas yang baik, juga memiliki komitmen yang tinggi, serta semangat beribadah.

Mereka nampak seperti menikmati paparan yang saya jelaskan. Namun sangat mengejutkan ketika dibuka sesi diskusi ternyata yang mereka tanyakan adalah bagaimana meningkatkan daya baca.

Daya baca di sini adalah yang dimaksud oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yaitu semangat untuk membaca buku, mencari ilmu dengan terus-menerus menelaaah buku atau pun beragam karya tulis yang ada di dunia ini. Bahkan kalau bisa juga membaca zaman (making sense of experience).

Saat membersamai santri putri Ruhama, Hidayatullah Gunung Sindur Bogor Jawa Barat (17/8/2018)
Menurut beliau orang Indonesia sudah cukup bagus minat bacanya. Terutama ketika membaca WA, membaca media sosial, atau membaca berita-berita online.
Akan tetapi itu tidak cukup untuk menjadikan kita memiliki bekal ilmu. Harus ada daya baca yang lebih tinggi, yaitu membaca buku.

Mendengar jawaban itu nampak ada pancaran kebahagiaan dari para santri.
Saya tegaskan di akhir, saya sangat berkepentingan bertemu kalian wahai generasi penerus bangsa dan negara, karena jika tidak kepada kalian, yang harus memburu ilmu, kepada siapa lagi cita-cita kemerdekaan dan semangat membangun peradaban mulia di negeri ini saya titipkan!

Hari ini kita merdeka yang ke 73 tahun. Tetapi, hari ini masih banyak cita-cita kemerdekaan yang belum menjadi kenyataan.

Akankah kalian bisa mewujudkan cita-cita kemerdekaan?

Dengan bekal ilmu, insya Allah bisa. Karena ilmu di dalam Islam tidak bisa dipisahkan dengan iman dan amal. Semangat memburu ilmu, jadilah pribadi merdeka untuk kemerdekaan hakiki bangsa Indonesia.||

Penulis: Imam Nawawi, Penulis lepas

Tingkatkan Nutrisi Otak dengan Minyak Ikan



Oleh: Arhie Lestari

Banyak faktor yang mempengaruhi kecerdasan otak anak diantaranya yaitu faktor lingkungan, genetik dan asupan nutrisi.

Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang dan kecerdasan otak anak, Anda harus mencukupi semua kebutuhan nutrisi dengan memberikan asupan makanan yang bergizi.

Salah satu sumber makanan yang mengandung nutrisi untuk menunjang kecerdasan otak anak yaitu minyak ikan. Seperti yang kita ketahui bahwa ikan adalah sumber makanan dengan kandungan asam lemak omega-3 yang berguna untuk kecerdasan otak anak.

Asam lemak omega-3 memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kecerdasan otak. Jenis ikan yang banyak mengandung omega-3 yaitu ikan tuna, ikan salmon dan ikan laut lainnya yang rendah merkuri.

Namun, terkadang Anda menghadapi kendala dimana anak tidak menyukai ikan. Untuk mengatasi hal tersebut Anda bisa menyiasatinya dengan memberikan minyak ikan untuk anak.

Kandungan nutrisi yang terdapat pada minyak ikan sangat bermanfaat sebagai nutrisi kecerdasan anak. DHA, vitamin A dan D yang terkandung didalam minyak ikan berguna untuk menjaga kesehatan mata, tulang dan kecerdasan otak.

Mengkonsumsi sumber makanan yang mengandung asam lemak omega-3 dalam jangka waktu yang cukup lama akan memberi dampak positif dalam menunjang kecerdasan anak.

Anak-anak yang mendapat asupan nutrisi seperti omega-3 dalam jumlah yang cukup akan memiliki tingkat kecerdasan yang lebih baik. Kandungan omega-3 pada minyak ikan bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Minyak ikan atau makanan yang mengandung omega-3 lainnya bisa Anda berikan dengan jumlah yang mencukupi ketika usia batita. Hal ini karena pada usia tersebut perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat.

Minyak ikan juga ternyata bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak. Menurut sebuah studi membuktikan bahwa anak-anak yang mendapatkan asupan minyak ikan secara rutin memiliki sistem kekebalan tubuh dua kali lebih baik daripada anak yang tidak mengkonsumsi minyak ikan.

Kandungan DHA yang terdapat di dalam minyak ikan ternyata tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kecerdasan otak saja, namun DHA juga berperan penting dalam menjaga kesehatan indera penglihatan pada anak.

Minyak ikan yang diberikan secara teratur akan bermanfaat untuk mempertajam penglihatan anak.
Anak-anak yang mendapat asupan minyak ikan memiliki fokus yang lebih baik. Selain itu, kandungan nutrisi minyak ikan dapat meningkatkan konsentrasi anak. Dalam hal ini tentunya nutrisi seperti DHA memiliki peranan yang sangat vital.||

Memilih Pondok Pesantren untuk Anak Kita



Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Penulis buku Segenggam Iman Anak Kita

Dari beberapa pembahasan sebelumnya (Kapan Sebaiknya Anak Mondok), ada yang harus kita ingat bahwa hal mendasar yang menjadi alasan memasukkan anak ke pondok pesantren adalah mempersiapkan mereka menjadi mukallaf.

Begitu mukallaf, mereka mempertanggung-jawabkan segala tindakan maupun ucapan mereka. Jika saat mukallaf baru kita persiapkan, boleh jadi banyak sekali perbuatan dosa yang kita ikut menanggungnya karena jika mereka tidak mengetahuinya disebabkan tidak kita persiapkan, kitalah yang akan dimintai pertanggung-jawaban.

Pada tahap ini, seseorang seharusnya memiliki ahliyah al-ada kamilah (اهلية الاداء كاملة), yakni orang yang memiliki kemampuan dan kecakapan untuk bertindak secara hukum, membelanjakan harta (tasharruf) serta memikul bebanan taklif secara sempurna dan menyeluruh.

Ini berarti, dalam mencari pondok pesantren perlu mempertimbangkan aspek ada tidaknya proses atau mekanisme untuk menjadikan anak mampu membelanjakan harta secara bertanggung-jawab, mengelola keuangannya, dan tidak justru manja.

Lalu, pesantren seperti apa yang kita pilih? Selain berkenaan dengan hidupnya suasana agama baik di dalam kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari di funduq (asrama), ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Apalagi jika anak kita sebelumnya sangat lekat dengan orangtua dan tingkat kemandiriannya kurang.

Ada perbedaan antara dekat dan lekat. Seorang anak yang memiliki kedekatan dengan orangtua, cenderung lebih aman secara mental pada saat tidak lagi bersama orangtua.

Sebaliknya, anak yang tingkat kelekatannya tinggi, berpisah dengan orangtua dapat merupakan ancaman. Jika pun ia termotivasi untuk masuk ke pondok pesantren, perlu ada yang dapat mendekat kepadanya dengan segera. Dalam hal ini orangtua dapat membantu, misalnya dengan mendekatkan satu anak dengan temannya yang lain sehingga memiliki rasa aman yang lebih besar, terutama saat-saat awal di pondok pesantren. Bisa juga dengan menitipkan anak tersebut sehingga anak memperoleh perhatian, meskipun sekedar sapaan, yang lebih sering dari salah satu pengasuh.

Sebagaimana sekolah secara umum, semestinya anak yang masuk pesantren perlu dipetakan. Ada anak yang termasuk student at risk (santri beresiko). Nakal? Bukan. Tetapi ia perlu memperoleh perhatian lebih, khususnya pada awal masa penyesuaian diri.

Apa yang diperlukan agar anak mudah menyesuaikan diri dan berkembang potensinya dengan baik selama di pondok pesantren?

Secara sederhana, apa yang diperlukan agar anak dapat berkembang secara optimal dan menghindarkan anak dari potensi-potensi penyimpangan?

Ada empat aspek yang diperlukan oleh anak. Pertama, hubungan yang ngemong (nurturing). Layaknya membesarkan anak sendiri, para pengasuh atau di antara pengasuh menjalin hubungan yang memperhatikan perkembangan anak. Ini terutama diperlukan di masa-masa awal, meskipun tetap sangat penting hingga anak mau lulus.

Kedua, hubungan yang responsif, yakni bagaimana pengasuh dapat mendengarkan (bukan hanya mendengar) anak, menanggapi anak dan menunjukkan antusiasme. Semakin responsif, anak cenderung semakin termotivasi meskipun tidak ada pujian. Mendengarkan dengan penuh minat sudah merupakan pengakuan tersendiri yang sangat bernilai harganya.

Ketiga, sedapat mungkin kita mencari pesantren dimana lingkungan psikisnya bersifat memberi dukungan. Apa indikasi sederhananya? Menunjukkan sambutan yang baik, sikap respek kepada orang lain, merasa senang jika temannya berhasil dan berempati kepada temannya yang sedang menghadapi masalah.

Dari pengalaman berinteraksi dari berbagai kunjungan, pesantren sebagai lingkungan yang mendukung atau suportif ini terwujud bermula dari adanya hubungan yang benar-benar ngemong antara para pengasuh dan bahkan seluruh pihak yang terkait (petugas kebersihan, misalnya) dengan para santri. Suasana yang memberi dukungan tinggi menjadi semacam iklim pesantren.

Iklim semacam ini biasanya tidak muncul dari model yang lebih menekankan pada mekanisme peraturan semata-mata, sementara interaksi yang hangat antara pengasuh dan santri kurang.

Bagaimana jika ada santri yang bermasalah?

Ada yang menekankan pada derajat kesalahan anak semata-mata, tanpa melakukan pendekatan kepada anak yang bersangkutan serta melaporkan progress kepada orangtua.

Ada pula yang lebih menekankan kepada pemberian dukungan secara emosional dan sosial kepada anak, mendengarkan masalah anak, membantu anak memecahkan masalahnya dan memberi penguatan sekaligus membangkitkan optimisme anak untuk mampu menyelesaikan masalah. Bukan sekedar memecahkan masalah, lebih dari itu mencapai yang terbaik.

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim, Penulis buku Segenggam Iman Anak Kita

Apa yang berbeda dari Guru Hebat



Oleh : Atiek Setyowati, S.Si

Apakah anda berprofesi sebagai seorang guru? Kalau ya. Selamat! Anda sedang menjalani sebuah profesi yang penuh tantangan. Bahkan, seluruh umat manusia di dunia ini menganggap guru adalah profesi yang mulia.  Guru itu membagikan ilmu kepada para siswanya tanpa kenal lelah. Kualitas pendidikan bangsa ini pun banyak ditentukan oleh kualitas para gurunya.

Pentingnya peranan seorang guru dalam mendidik para siswanya bepengaruh besar dalam kemajuan bangsa. Guru yang professional dan berkualitas pastinya akan selalu terus belajar dan bekerja dengan baik serta memiliki kemauan yang tinggi untuk bergerak maju. Seorang guru itu tidak hanya sekedar mengajar dan mendidik saja akan tetapi dapat mencintai dan dicintai murid-muridnya, sehingga kebaikan dan ilmu apapun yang ia sampaikan dapat menghunjam kuat ke dalam sanubari murid-muridnya.

Dalam sebuah seminar “Gurunya Manusia” Pak Munif mengatakan ada 3 jenis guru: pertama, “Guru Robot” yaitu guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk, mengajar lalu pulang. Mereka yang peduli kepada beban materi yang harus disampaikan kepada siswa. Mereka tidak mempunyai kepedulian terhadap kesulitan siswa dalam menerima materi. Apalagi kepedulian terhadap masalah sesama guru dan sekolah. Mereka peduli dan mirip seperti robot yang selalu menjalankan perintah berdasarkan apa saja yang sudah diprogramkan di sekolahnya. Guru jenis ini banyak sekali menggunakan ungkapan seperti ini: “wah…..itu bukan masalahku….itu masalah kamu. Jadi selesaikan sendiri saja..” atau “maaf aku tidak dapat membantu sebab ini bukan tugas saya..”

Kedua, “Guru Materialistis”, yaitu guru yang selalu melakukan hitung-hitungan mirip dengan aktivitas bisnis jual beli atau yang lainnya. Parahnya yang dijadikan patokan adalah hak yang mereka terima. Barulah kewajiban mereka akan dilaksanakan tergantung dari hak yang mereka terima. Guru jenis ini pada awalnya merasa professional, namun akhirnya akan terjebak dalam kesombongan dalam bekerja. Sehingga tidak terlihat benefitasnya dalam bekerja. Ungkapan-ungkapan yang sering kita dengar dari guru jenis ini antara lain : “Cuma digaji sekian saja kok mengharapkan saya total dalam mengajar, jangan harap ya” atau “percuma saja mau kreatif, orang penghasilan yang diberikan kepada saya hanya cukup untuk transport” dan lain-lain.

Ketiga, “Gurunya Manusia”yaitu guru yang mempunyai keikhlasan dalam hal mengajar dan belajar. Guru yang mempunyai keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswanya berhasil memahami materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas untuk intropeksi apabila ada siswanya yang tidak bisa memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar, sebab mereka sadar profesi guru adalah makhluk yang tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang berkeinginan kuat dan serius ketika mengikuti pelatihan dan mengembangkannya.

Gurunya manusia juga manusia yang membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bedanya dengan guru materialistis, gurunya manusia menempatkan penghasilan sebagai akibat yang akan di dapat dengan menjalankan kewajibannya yaitu keikhlasan mengajar dan belajar. Kita ketahui sudah banyak contoh yang mana rizki seorang guru tiba-tiba di kasih oleh Allah SWT dari pintu yang tidak terduga atau dari akibat guru tersebut terus menurus belajar untuk para siswanya. Allah maha melihat dan mengetahui apa yang diinginkan oleh hamba-hambaNya.

Guru hebat adalah gurunya manusia yaitu guru yang tanpa henti belajar untuk menginsipirasi para siswa agar berhasil di kemudian hari. Bukankah sementara kita berusaha mengajari anak-anak kita pelajaran tentang hidup, mereka pun mengajari kita apa kehidupan itu.

Mari sejenak tundukkan wajah, ambil nafas lalu lakukan intropeksi. Anda termasuk guru jenis yang mana ?

Penulis: Atiek Setyowati, S.Si., Guru Kelas SDIT Salsabila 3 Banguntapan

Jangan Matikan Potensi Anak



Oleh : Suhartono

Suatu ketika, seorang anak bermain di dapur dan tanpa sengaja memecahkan gelas kaca. Gelaspun hancur tak berbentuk lagi. Sontak sang ibu berteriak kuat sambil mengucapkan kata nakal yang membuat sang anak ketakutan. Hanya karena gelas saja ibunya rela menyakiti hati sang anak dan ditambah lagi dengan pukulan yang mendarat di kakinya. Sang anak hanya mampu berdiri di pojok ruangan dengan wajah memerah dan ketakutan. Hanya karena sebuah gelas seharga Rp. 10.000, sang ibu rela menyakiti hati sang anak yang mungkin saja dapat ia ingat sampai ia dewasa.

Pertanyaannya sekarang, nakalkah anak tersebut? Apakah pantas seorang anak yang memecahkan gelas tanpa sengaja atau sekadar melompat-lompat di kursi lantas kita sebut sebagai anak nakal?

Anak diciptakan dengan segudang potensi dan keunikan masing-masing. Namun, sadarkah kita, sebagai orangtua atau guru,  ternyata kita punya andil dalam mematikan atau membonsai potensi anak yang merupakan anugerah terbesar bagi dirinya. Kita terlalu cepat memberikan label kepada mereka dengan sebutan anak nakal.

Mereka sebenarnya anak yang kreatif dan memiliki kecerdasan yang luar biasa namun kreatifitasnya tak sejalan dengan pemikiran dan keinginan kita. Seorang anak yang ingin bermain di luar rumah dan sang ibu memaksanya untuk tidur. Akhirnya pintu dikunci dan tak lupa menyelot kunci pintu yang ditaruh paling atas pintu. Lalu, kuncinya digantung di atas tembok yang tak dapat terjangkau oleh sang anak. Apa yang terjadi? Sang anak mengangkat kursi dan naik di atasnya, lalu mengambil kunci yang digantung di tembok. Menyadari kunci sudah ada di tangannya sang ibu hanya memperhatikan saja. Dalam hati, mana bisa anak sekecil itu bisa membuka pintu. Anak pun memasukkan kunci ke lubangnya dan mencoba beberapa kali memutar-mutar kunci. “Klik….” bunyi kunci terbuka.

Anak tersebut memiliki kecerdasan yang luar biasa, ia mampu memikirkan cara untuk mengambil kunci yang tergantung di tembok dan membuka pintu. Tapi masalahnya adalah kecerdasan sang anak tidak sejalan dengan keinginan sang ibu yang menginginkan anaknya untuk tidur.

Anak kadang memiliki energi “ekstra” namun kita tidak dapat menyalurkannya dengan baik Masih ingatkah kita dengan sosok si jenius Albert Einstein? Anak yang bermasalah dari sekolah dasar. Selama sekolah, ia tidak mau mengikuti pelajaran selain matematika dan fisika. saat pelajaran sastra dan yang lainnya, ia memilih keluar dari kelas dan pergi ke danau untuk bereksplorasi dengan alam. Saat di sekolah, Einstein dikenal sebagai anak nakal. Alhamdulillah ia memiliki orang tua yang sangat mendukung keinginannya yang kuat untuk terus belajar matematika dan fisika dan memilih untuk tidak mempelajari ilmu lainnya. Orangtua dan guru memiliki tanggung jawab penuh untuk menyalurkan energi ekstra sang anak pada posisi yang tepat agar sang anak mampu untuk terus mengembangkan kemampuannya.

Sering pula anak yang memiliki ide yang ” tidak biasa” namun kita menganggapnya sebagai anak yang tidak bisa diatur. Proses belajar mengajar di kelas sering sekali terhambat karena adanya beberapa anak yang tidak mampu mengikuti prosedur yang diharapkan guru. Contohnya saja ketika melakukan praktikum. Sering sekali anak tidak mengikuti arahan dari guru dan melakukan kreasi sendiri. Kita sering sekali menganggap anak nakal hanya karena ia tidak bisa mengikuti arahan kita, padahal di luar dari itu, sang anak sedang mencoba ide kreatifnya yang muncul secara tiba-tiba dan mungkin tidak mendapatkan pengakuan di rumahnya. Seharusnya kita mampu melihat dan membimbing apa yang dikerjakannya dan memberikan apresiasi atas usahanya.

Apapun yang dilakukan seorang anak yang dinyatakan terlarang bagi anak dan merugikan bagi orang lain, sesungguhnya posisi anak tetap sebagai korban. Anak adalah korban kurangnya perhatian dan bimbingan orang tua, korban pendidikan yang belum memadai, korban perkembangan teknologi dan media massa dengan aturan yang tidak berpihak kepada kepentingan tumbuh kembang moralitas dan mentalitas anak. Karena apa yang dilakukan anak yang dipandang sebagai bentuk kenakalan itu, juga merupakan bagian dari kewajiban dan tanggung jawab perlindungan orangtua, keluarga, masyarakat, bahkan negara dan pemerintah.

Suhartono, Pendidik, tinggal di Yogya