Memperbaiki Diri



Oleh : Cahyadi Takariawan

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata, “Aku bertanya: wahai Rasulallah, apakah sebab keberhasilan?” Beliau menjawab, “Kuasailah lidahmu, hendaklah rumahmu luas bagimu, dan tangisilah kesalahanmu”. Hadits Riwayat Imam Tirmidzi, no.2406.

Ada tiga kunci keberhasilan atau keselamatan hidup berumah tangga, salah satunya kemampuan memperbaiki kesalahan

Nabi Saw menyatakan dengan “wabki ‘ala khathi-atika”, tangisilah kesalahanmu.

Salah satu sifat manusia adalah dhaif, lemah, mudah terjatuh ke dalam kesalahan serta dosa. Namun sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah ketika mereka menyadari, menyesali dan memperbaiki diri.

Rasulullah Saw bersabda:

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”. Hadits Riwayat Imam Ahmad (III/198); At Tirmidzi no. 2499; Ibnu Majah no. 4251 dan Al Hakim IV/244.

Suami dan istri pasti pernah berbuat salah terhadap pasangan. Maka sikap yang paling tepat adalah dengan menyesali, menangisi, dan memperbaiki diri.

Ketika suami berbuat salah kepada istri, segera menyesali kesalahan tersebut dan melakukan perbaikan.

Demikian pula ketika istri berbuat salah kepada suami, hendaknya segera menyesali kesalahan tersebut dan melakukan perbaikan.

Langkah seperti ini akan membuat suami dan istri sama-sama merasa nyaman. Walaupun pasangan pernah berbuat salah, namun ada penyesalan dan perbaikan.

Demikian pula dosa dan kesalahan kepada Allah, serta kepada sesama manusia. Sikap yang terbaik adalah dengan menyesali, menangisi, dan memperbaiki diri.

Manusia yang bertaubat kepada Allah, adalah manusia yang selalu berada dalam kondisi “orisinil”. Merekalah sebaik-baik makhluk yang bersalah, karena mau melakukan perbaikan.

Ini pula yang akan mendatangkan kebahagiaan dan kesuksessn kehidupan berumah tangga.


Cahyadi Takariawan, Penulis Buku dan Konsultan Pernikahan
Sumber : IG Cahyadi_Takariawan 

Memilih Caleg, Serupa Memilih Jodoh?




Oleh : Cahyadi Takariawan
 
17 April 2019 adalah hari dimana kamu harus menentukan pilihan. Masih ada waktu hingga besok hari untuk menimbang dan mempertimbangkan.

Apakah ada persamaan, memilih calon istri / suami dengan memilih calon anggota legislatif? Ada.

Ketika memilih calon istri atau suami, ada empat faktor yang perlu dipertimbangkan. Pertama, kecantikan atau ketampanannya. Kedua, kekayaannya. Ketiga, kedudukannya. Keempat, agamanya.

Nabi mengarahkan, “Pilih berdasarkan agama, kamu akan beruntung”.
.
Ada banyak caleg yang cantik jelita dan tampan menawan. Ada banyak caleg yang kaya raya dan sanggup memberikan serangan fajar terbaik untuk warga.

Ada banyak caleg yang memiliki kedudukan sosial tinggi, kalangan bangsawan, anak pejabat, kalangan artis yang sangat terkenal. Tapi itu semua tidak menjamin kebaikan.

Maka pilihlah berdasarkan kebaikan agamanya, karena ini yang akan menjamin keberhasilan membangun hidup berbangsa dan bernegara.

Dari mana kamu mengetahui kebaikan agama seseorang? Salah satunya, dari keberpihakannya.

Kebaikan agama, dimulai sejak dari KEJELASAN KEBERPIHAKAN kepada agenda keummatan. Menghormati dan memuliakan ulama. Membela kepentingan ummat. Tidak menistakan agama. Tidak melindungi penista agama. Ini semua adalah bab keberpihakan.

Hati-hati memilih. Anta ma’a man ahbabta. Kamu akan bersama dengan siapa yang kamu bela. Kamu akan bersama dengan siapa yang kamu cinta.

Kamu akan bersama dengan siapa yang kamu berikan loyalitas kepadanya.


Cahyadi Takariawan, Konsultan Pernikahan dan Penulis Buku
Sumber : IG Cahyadi_Takariawan

Jangan Merasa Lemah, Jangan Pula Berputus Asa

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim
Allah 'Azza wa Jalla sendiri yang memerintahkan kepada kita untuk memohon. Allah Ta'ala berseru, "قُلِ. Katakan!" Maka ungkapkan perkataan kepada-Nya. Allah Ta'ala pula yang mengajarkan kepada kita rangkaian bacaan do'anya. Artinya, inilah rangkaian do'a yang Allah 'Azza wa Jalla menyukainya.

Apa yang harus kita katakan? Do'a yang susunannya seperti ini:

اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Tetaplah memohon. Jangan surut. Kuatkan tawakkal. Jangan berputus asa. Ingatlah makar yang tipu daya yang telah berlalu di tahun 2017 yang kemudian Allah Ta'ala mentahkan. Laa ta'jiz (jangan merasa lemah dan sial). Pegangilah apa yang Allah Ta'ala nyatakan:

وَمَكَرُوا۟ وَمَكَرَ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَٰكِرِينَ

Ingatlah, kepada orang-orang fasiq, Allah Ta'ala larang kita husnuzhan. Apalagi langsung mempercayai. Perintah Allah ialah, memeriksa dengan teliti kebenaran informasi yang dibawa oleh orang-orang fasiq.

Ingatlah firman Allah Ta'ala di dalam Al-Qur'an:

ﻳَٰٓﺄَﻳُّﻬَﺎ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮٓا۟ ﺇِﻥ ﺟَﺎٓءَﻛُﻢْ ﻓَﺎﺳِﻖٌۢ ﺑِﻨَﺒَﺈٍ ﻓَﺘَﺒَﻴَّﻨُﻮٓا۟ ﺃَﻥ ﺗُﺼِﻴﺒُﻮا۟ ﻗَﻮْﻣًۢﺎ ﺑِﺠَﻬَٰﻠَﺔٍ ﻓَﺘُﺼْﺒِﺤُﻮا۟ ﻋَﻠَﻰٰ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠْﺘُﻢْ ﻧَٰﺪِﻣِﻴﻦَ

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka tabayyunlah (periksa dengan teliti), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujuurat, 49: 6).


Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku

Antara Adzan dan Iqomah

Oleh : Dr. Subhan Afifi, M.Si.

Ada momen yang sering terlewat begitu saja. Ya, antara azan dan iqomah. Ini waktu yang mustajab untuk berdo'a. Mintalah apa saja, untuk kebaikan dunia dan akhirat. Dari hal-hal yang "besar" dan mendasar, sampai perihal 'kecil" dan teknis yang jadi hajat dan keperluan.

Jika golden time ini nggak ingin terlewat, berarti datang shalat jama' ahnya gak boleh telat.

Saat atau sebelum adzan berkumandang, sudah melangkah. Tinggalkan urusan dunia yang nggak ada habisnya itu. Cobalah duduk di shof terdepan.

Setelah shalat sunnah yang dituntunkan, angkatlah kedua tangan, dan mintalah sepuasnya.

Sungguh, Dia Maha Pemurah, Maha Mendengar dan Mengabulkan.

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا

“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad)

Berdo'alah untuk Urusan Apapun


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Berdo'alah untuk urusan apa pun. Mintalah kepada Allah 'Azza wa Jalla apa saja yang engkau hajatkan. Tetapi jangan pernah lupa memohon hidayah. Sesungguhnya, ada empat hal yang perlu kita minta setiap hari. Dan hidayah ada di urutan pertama.

Sedemikian pentingnya hidayah, hingga satu-satunya permohonan dalam surat yang wajib kita baca dalam setiap shalat, dalam hal ini Al-Fatihah, adalah hidayah. Kita meminta dengan sangat hidayah secara lengkap dan sempurna. Kita memohon hal terpenting dalam hidup dan mati ini setelah memuji Allah 'Azza wa Jalla.

Berangkai pujian kita haturkan, lalu disusul pengakuan terhadap keagungan dan kekuasaan-Nya yang juga dalam berangkai kalimat, sesudah itu memohon hidayah. Mengharap jalan yang lurus. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai-Nya. Bukan pula jalan orang-orang yang sesat.

Inilah yang kita ikrarkan sekaligus mohonkan setiap hari. Tidak sah shalat tanpa Al-Fatihah. Akan tetapi alangkah banyak yang lalai dengan bacaannya. Ia mengucapkan kalimat pepujian, tetapi tak sadar sedang memuji. Hatinya juga tidak bermaksud memuji. Hanya menyelesaikan bacaan.

Seperti itu pula, sangat banyak yang melantunkan kalimat permohonan dalam bacaan Al-Fatihah, tetapi ia tidak merasa sedang memohon, tidak menyadari pula apa yang dimintanya kepada Allah 'Azza wa Jalla; tidak pula mengerti apa yang ia ingin dijauhkan oleh Allah dari dua keburukan, yakni buruknya menjadi golongan yang dimurkai serta nistanya menjadi golongan yang sesat.

Alangkah banyak yang sedang menghadap Allah Ta'ala; Tuhan Yang Maha Mulia, Penguasa Langit dan Bumi, tetapi ia membaca Al-Fatihah seperti orang sedang mengomel. Ia berdiri di hadapn Dzat Yang Maha Tinggi, tetapi sikapnya seperti sedang bermain-main. Maka bagaimana ia akan bersungguh-sungguh dengan permohonannya? Bagaimana ia berharap pintanya itu dikabulkan?

Tak heranlah jika kemudian orang mengerjakan shalat, tetapi tak risih dengan kesesatan. Bahkan menolak ungkapan dimurkai maupun sesat.

Selain ada di dalam kandungan surat Al-Fatihah, do'a memohon hidayah juga terdapat dalam bagian lain shalat. Ini menandakan betapa sangat pentingnya hidayah bagi manusia bagi keselamatan hidupnya di dunia dan lebih-lebih bagi kemuliaan hidupnya di akhirat kelak. Rugilah orang yang mendapatkan hidayah lalu meninggalkannya.
Begitu berharganya hidayah, sehingga kita pun dituntunkan untuk kembali memohon hidayah yang diikuti ketaqwaan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan.” HR. Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan lainnya.

Jadi, sesudah hidayah, yang paling perlu kita minta dan perjuangkan adalah taqwa. Sesudah itu, kita memohon keterjagaan diri sehingga kehormatan dapat senantiasa ditegakkan sebelum memohon kekayaan. Tanpa ‘iffah (kemampuan menjaga diri), maka bertambahnya harta menjadi pintu-pintu keburukan. Saat miskin dekat dengan kebaikan, begitu mulai kaya sedikit saja, telah banyak tingkahnya yang tercela menurut agama. Maka keterjagaan itulah yang awal kita mohonkan sekaligus perjuangkan, senantiasa. Sesudah itu baru karunia kekayaan. Jangan salah.

Tanpa keterjagaan, berlimpahnya harta yang tiba-tiba dapat menggelincirkan orang yang memiliki pengetahuan luas tentang agama. Bahkan pemahamannya pun mendalam.
Mohammad Fauzil Adhim, Motivator dan Penuls Buku

Satu Tahun Pertama Dalam Kehidupan Pernikahan


Oleh : Cahyadi Takariawan

Pasal Limapuluh : Berlomba Melakukan Hal Terbaik untuk Pasangan

Saya mengajak pasangan suami dan istri untuk berlomba melakukan hal terbaik untuk pasangan. Cobalah suami dan istri berlomba-lomba dalam kebaikan, pada beberapa aspek berikut ini:

Berlomba untuk memenuhi hak pasangan. Siapa yang lebih cepat memenuhi hak pasangan, dialah yang paling baik.

Berlomba untuk mengerti dan memahami pasangan. Siapa yang lebih cepat mengerti dan memahami pasangan, dialah yang paling baik.

Berlomba untuk meminta maaf kepada pasangan. Siapa yang lebih cepat meminta maaf kepada pasangan, dialah yang paling baik.

Berlomba untuk memaafkan pasangan. Siapa yang lebih cepat memaafkan pasangan, dialah yang paling baik.

Berlomba untuk mengalah demi kebaikan bersama. Siapa yang lebih cepat mengalah demi kebaikan bersama, dialah yang paling baik.

Berlomba untuk menyesuaikan dengan keinginan pasangan. Siapa yang lebih cepat menyesuaikan dengan keinginan pasangan, dialah yang paling baik.

Berlomba untuk setia kepada pasangan. Siapa yang lebih setia kepada pasangan, dialah yang paling baik.

Berlomba untuk memberikan yang terbaik bagi pasangan. Siapa yang lebih cepat memberikan yang terbaik bagi pasangan, dialah yang paling baik.

Tidak sulit menemukan chemistry penyatuan suami istri, apabila masing-masing pihak menjadi juara dalam delapan jenis perlombaan di atas.

Selamat berlomba, semoga Andalah juaranya. Anda yang menjadi pemegang kunci tercapainya chemistry penyatuan jiwa dalam keluarga.

-selesai-

Cahyadi Takariawan, Penulis Buku dan Pakar Parenting

Sumber : IG Cahyadi_Takariawan

Bagaimana Mungkin Kita Bangga?


Oleh: Irwan Nuryana Kurniawan

Sungguh sangat memprihatinkan menyaksikan masyarakat yang mayoritas beragama Islam senantiasa meniru Barat dalam segala hal, baik dalam ucapan maupun tindakan, aktivitas, dan sikap, tradisi dan pakaian, karena meyakini Barat merupakan sumber kebudayaan, pusat peradaban, dan jalan menuju kebangkitan.

Kehormatan dan kesucian wanita telah digantikan dengan keterbukaan dan perhiasan, sehingga kaum wanita membuka diri, telanjang, dan membuka aibnya.

Mereka menganggap kekejian dan keterbukaan (telanjang) sebagai mode yang lagi nge-trend, padahal Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam menegaskan, ”Wanita manapun yang melepaskan bajunya (menyingkapkan bajunya di hadapan orang asing, tidak menutupi auratnya) selain di rumah suaminya, maka sungguh ia telah membukan aib antara dirinya dan Allah Azza wa Jalla (Allah telah menurunkan pakaian untuk menutupi tubuhnya, yaitu pakaian ketakwaan, tidak menjaga pandangan, dan menghianati suaminya).”

Mode yang hina tersebut telah menjadikan kaum wanita menyerupai kaum lelaki, dan kaum lelaki menyerupai kaum wanita, padahal Rasul-Nya bersabda, “Allah melaknat kaum wanita yang menyerupai kaum lelaki, dan kaum lelaki yang menyerupai kaum wanita (penyerupaan dalam berpakaian, berjalan, atau ucapan).”

Nak, Allah Subhanahu wa Taala melarang kita meniru kaum kafir karena Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan kita untuk memohon kepada Allah di waktu siang dan malam sebanyak 17 kali supaya diberi petunjuk kepada jalan yang lurus,

“Yaitu jalan orang-orang yang Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat ” (QS Al-Fatihah:7)—padahal Rasul-Nya menjelaskan, “Kaum Yahudi merupakan kaum yang dimurkai, sedangkan Kaum Nasrani merupakan kaum yang sesat.”

Bagaimana bisa kita merasa biasa saja, nyaman, bahkan mungkin bangga bisa menyerupai kaum kafir padahal mereka dimurkai dan dinyatakan sesat, mereka akan jadi kayu bakar neraka jahanam?

Nak, Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengingatkan kita untuk tidak menyerupai kaum kafir karena “Sungguh kalian akan menjalankan tradisi kaum sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai seandainya salah seorang dari mereka masuk ke sarang biawak pun, niscaya kalian akan memasukinya. Sampai seandainya salah seorang dari mereka menggauli ibunya sendiri di tengah jalan pun, niscaya kalian akan mengerjakannya pula” dan pada akhirnya kita akan dihukumi sama seperti kaum kafir, dianggap termasuk golongan kaum kafir,

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum itu. Apabila pakaian menyerupai pakaian suatu kaum, maka akhlak pun akan menyerupai akhlak kaum tersebut—niscaya hatinya pun ikuti menyerupai hati kaum tersebut”, “Barangsiapa yang membuat perayaan dan festivalnya menyerupai Akhli Kitab, kemudian ia tetap dalam kondisi demikian sampai meninggal dunia—tidak bertaubat—maka ia akan dihimpun bersama Akhli Kitab itu pada Hari Kiamat.”

Nak, homoseksual atau lesbi merupakan warisan dari kaum Luth, mengambil kelebihan takaran di luar hak yang seharusnya dan menguranginya saat menjualnya merupakan warisan kaum Syuaib, berlaku sombong di muka bumi adalah warisan kaum Firaun, angkuh dan takabbur adalah warisan kaum Hud.

Jadi, siapa pun yang memiliki sikap seperti demikian, maka ia termasuk golongan mereka, kaum yang telah Allah musnahkan. Maka, jangan meniru mereka, Nak!||

Remaja dan Politik

Oleh : O. Solihin
Soal politik di negeri kita lagi panas-panasnya. Belum lama digelar Pilkada serentak di 171 daerah pada 27 Juni 2018 lalu. Sudah terpilih pula kepala daerah yang ikut berkompetisi di ajang pilkada tersebut. Tentu saja, karena dalam sistem demokrasi yang menjadi pemenang adalah yang terbanyak mendapatkan ‘suara’ pemilih, maka orang yang dianggap sudah cukup umur punya hak untuk menentukan pilihan politiknya. Nah, remaja termasuk yang diikutkan dalam proses mendulang suara, yakni minimal usia 17 tahun yang tercatat di KTP.
Memang sih, yang baca tulisan ini mungkin saja ada yang remaja di rentang usia 13-18 tahun. Jadi, tema pembahasan ini masih nyambung kok. Kalo yang udah ikutan ngasih hak pilih mestinya ngerti, ya. Buat kamu yang masih unyu-unyu perlu juga tahu. Why? Iya, soalnya nanti bisa jadi kamu juga ikutan ngasih hak pilih. Jadi perlu tahu juga pada akhirnya. Iya, kan? Eh, tapi sebelum ngasih hak pilih, baca dulu sampe tuntas pembahasan ini, ya!
Oya, kamu perlu tahu juga lho bahwa urusan politik sebenarnya bukan melulu kekuasaan yang digambarkan dari berlomba-lombanya beberapa orang untuk menjadi pemimpin daerah atau pemimpin negara (apalagi di 2019 negeri kita mau ngadain ‘hajatan politik’ dalam rangka nyari pemimpin negara, lagi). Nggak cuma itu, Bro en Sis.
Lalu apa? Begini, urusan politik itu amat luas. Memang, yang kamu atau para orangtua pahami saat ini bahwa politik itu identik dengan meraih kekuasaan. Nggak bisa disalahin seratus persen, karena memang faktanya demikian. Kita udah disuguhi bahwa politik itu adalah partai, kampanye, pemilu (pilkada), dan ujungnya ada yang disebut kepala daerah atau pemimpin negara. Seolah hanya dibatasi pada masalah itu saja. Bener nggak? Kalo kamu peka dalam merasakan, mestinya kamu menganggukkan kepala.

Apa itu politik?
Kamu tidak sepenuhnya salah dalam memahami politik selama ini. Mengapa? Karena menurut KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, politik diartikan sbb:
po·li·tik n 1 (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (spt tt sistem pemerintahan, dasar pemerintahan): bersekolah di akademi –; 2 segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dsb) mengenai pemerintahan negara atau thd negara lain: — dl dan luar negeri; kedua negara itu bekerja sama dl bidang — , ekonomi, dan kebudayaan; partai –; organisasi –; 3 cara bertindak (dl menghadapi atau menangani suatu masalah); kebijaksanaan. Catatan: yang ditulis “–“ diisi politik.
Nah, dengan penjelasan seperti ini, juga secara fakta bisa dengan mudah dilihat dalam kehidupan sehari-hari, maka politik lebih identik dengan meraih kekuasaan, paling nggak urusan negara, deh.
Itu sebabnya, kita bisa lihat sendiri saat ini, persaingan antar calon pemimpin berimbas juga kepada para pendukung masing-masing kubu. Akhir-akhir ini, kalo di media sosial sepertinya kamu udah hapal betul dengan istilah kecebong dan kampret, kaum bumi datar, bani taplak, bani serbet, golongan IQ 200 sekolam, dan segala sebutan yang bikin ubun-ubun ngebul dan kuping panas. Saya pribadi, walau belum pernah terlibat dalam dukung-mendukung pilihan politik, risih juga dengan sebutan-sebutan kayak gitu. Tapi, gimana lagi, sepertinya kedua kubu merasa puas dan bahagia sesuai hawa nafsunya. Hadeuuh, parah memang.
Kondisi seperti ini, bagi sebagian orang yang enggan terlibat dalam sebuah pemihakan, akan menilai bahwa itulah akibat pilihan politik yang tidak rasional atau kecintaan membabi-buta terhadap tokoh yang didukungnya. Bagi mereka yang bersemangat mendukung tokoh pilihannya, keberadaan fakta ini seperti kian menguatkan untuk terus saling menyerang. Bahaya juga sih. Kita seperti berebut pepesan kosong. Padahal, bisa jadi orang yang kita cinta dengan orang yang kita benci malah saling berpelukan. Kita yang di bawah malah doyan musuhan sesama pendukung. Ironi banget, kan? So, jangan cinta buta. Punya pilihan silakan, tapi bego jangan.

Politik menurut Islam
Sobat, setelah tahu pengertian politik menurut KBBI dan realita yang bisa kita saksikan di negeri ini, kita perlu pembanding lho, yakni pengertian politik Islam.
Bagaimana pengertian politik menurut Islam? Dalam kitab Mafahim Siyasiyahdijelaskan bahwa politik adalah ri’ayatusy syu’unil ummah dakhiliyan wa kharijiyan bi hukmin mu’ayanin (pengaturan urusan ummat di dalam negeri dan luar negeri, dengan hukum tertentu). Kalo kita bicara Islam, maka pengaturan tersebut menggunakan aturan Islam. Kalo bicara kapitalisme, maka hukum yang digunakan adalah kapitalisme. Begitu pula dengan sosialisme dan komunisme.
Nah, adapun pengaturan urusan umat tidak melulu urusan pemerintahan seperti sangkaan banyak orang selama ini, melainkan termasuk di dalamnya aspek ekonomi (iqtishadi), pidana (uqubat), sosial (ijtima’i), pendidikan (tarbiyah) dan lain-lain.
Buktinya apa tuh? Islam, udah ngatur masalah ini sejak pertama kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mendirikan pemerintahan Islam di Madinah, lalu dilanjut generasi Khulafa ar-Rasyidin, Tabi’in, Tabiut Tabi’in, salafus shalih sampe terakhir di Turki. Sepanjang rentang waktu itu, masyarakat dan negara diatur oleh Islam. Sayangnya, sejak tanggal 3 Maret 1924, yakni saat Musthafa Kemal at-Taturk, pria jahat dan ambisius keturunan Yahudi menghancurkan pemerintahan Islam di Turki atas bantuan agen-agen Inggris, Islam nggak lagi diterapkan sebagai sebuah ideologi negara. Sampe sekarang, lho. Kamu perlu catat ini.
Akibatnya, pemuda dan pemudi Islam masa kini nggak nyetel dalam memahami Islam sebagai sebuah ideologi negara. Generasi Islam kontemporer cuma mengenal dan memahami Islam sebagai ibadah ritual belaka. Jadinya, nggak ngeh kalo Islam tuh sebuah ideologi. Akibatnya, ketika memahami istilah politik dalam pandangan Islam aja suka kerepotan. Kalo udah gitu, pastinya juga nggak bakalan sadar politik. Beneran.
Bukti lainnya, ketika para ulama mencoba mengenalkan politik atau sebagian ada yang terjun dalam politik praktis (maksudnya jadi pengurus parpol atau dicalonkan jadi pejabat negara atau berkampanye melawan kezaliman penguasa), langsung dinyinyirin karena dianggap udah bermain politik. Menurut kalangan ini, ulama harusnya ngurus umat aja, ibadah, dan sejenisnya. Mungkin mereka khawatir ulama jadi ikut-ikutan rusak. Atau, bisa juga khawatir kalo ulama ikut terjun ke politik praktis bisa merusak rencana para politisi busuk. Wallahu a’lam.
Salam,
O. Solihin, Penulis Buku dan Motivator Remaja

Jadilah Lelaki yang Perkasa


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim,

Sebaik-baik suami adalah lelaki yang perkasa. Ayah terbaik juga lelaki yang perkasa. Maka laki-laki manapun yang tidak perkasa, hari ini juga kita perlu berusaha untuk memulai upaya agar Allah Ta’ala mampukan kita menjadi lelaki yang sangat perkasa. Tanpa keperkasaan, suami-istri akan mandul meskipun anaknya banyak.
.
Lalu, siapakah yang dimaksud dengan lelaki perkasa? 


‘Abdullah bin Mas’ud radhiyaLlahu ‘anhu menuturkan bahwa ketika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat radhiyaLlahu ‘anhum, mereka menjawab, “Orang perkasa itu ialah lelaki yang tidak terkalahkan.”
.
Tetapi tidak. Bukan itu. Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,


 “لَيْسَ بِذَلِكَ وَلَكِنَّهُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ. 

Bukan begitu. Tetapi (lelaki) yang perkasa itu adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Muslim).
.
Bersebab mudah baper, tidak mampu mengendalikan diri saat marah, maka sulitnya baginya berbuat baik kepada istri; berat dirinya bercanda dan mendengarkan celoteh anak-anak dan bahkan istrinya sendiri. Seringkali bukan masalah berat yang membuat kita marah meledak-ledak, tetapi lepasnya tali sepatu saat kita sedang terburu-buru, sementara kendali diri kita terlepas.

Mohammad Fauzil Adhim, Motivator & Penulis Buku-buku Parenting

8 Karakter Ayah Hebat

Oleh : Cahyadi Takariawan

Paling tidak ada delapan karakteristik yang diperlukan untuk menjadi ayah yang hebat.

KEPEMIMPINAN adalah salah satu karakter yang menonjol pada diri seorang ayah.

Ia harus memimpin anak-anaknya menuju kebaikan. Ia harus memimpin rumah tangganya menuju surga.

Di titik ini, ia dituntut memiliki KETELADANAN. Pemimpin tidak cukup hanya memerintah dan mengeluarkan arahan, namun ia harus memberikan contoh teladan kebaikan dalam keyakinan, pemikiran, perasaan, perkataan dan amal perbuatan.

Seorang ayah juga harus memiliki KEHANGATAN dalam pergaulan keseharian.

Ayah harus memiliki suasana jiwa yang hangat, yang menyebabkannya pandai bergaul dengan penuh keakraban dan persahabatan dengan anak-anaknya.

Suasana inilah yang menyebabkan anak-anak akan merasa betah tinggal di rumah dan nyaman berada di dekat ayah mereka.

Seorang ayah juga dituntut memiliki OPTIMISME dalam memandang dan mengarungi kehidupan.

Sebagai nakhoda kapal keluarga, ia harus mengajak semua penumpang kapal untuk melawan ombak dan badai di tengah lautan kehidupan.

Kendati ombak sangat besar dan badai datang silih berganti, seorang nakhoda harus tetap optimis akan bisa melalui semua rintangan tersebut dengan selamat dan sukses.

Seorang ayah dituntut memiliki KECERDASAN. Ayah yang cerdas, smart dan memiliki semangat menimba ilmu pengetahuan, akan membuat anak-anak bangga dan berbesar hati terhadap ayahnya.

Seorang ayah juga harus memiliki KEKUATAN. Jadilah ayah yang kuat, bukan ayah yang lemah.

Kuat bukan hanya dari segi fisik, namun juga kuat keimanan, kuat mental dan moral, kuat kemauan, kuat harapan dan cita-cita, kuat bekerja, kuat berkarya, kuat berproduksi dan kuat menafkahi.

Pada saat yang bersamaan, ayah juga harus memiliki KELEMBUTAN. Ayah yang lembut akan menyebabkan anak-anak merasa bahagia berada di sampingnya.

Dengan sikap yang lembut, seorang ayah akan sangat kuat membawa jiwa anak-anak untuk menuju kepada sifat-sifat mulia, tanpa perlu ada paksaan dan keterpaksaan.

Berikutnya, ayah juga harus memiliki KETEGASAN. Ayah tidak boleh lembek dalam menegakkan aturan. Ayah harus tegas dalam mengambil keputusan.


Sumber : IG @cahyadi_takariawan

Kekuatan Sebuah Senyum



Oleh : Tuswan Reksameja 

Hati terasa nyes, saat senyuman tulus mengawali perjumpaan. Suasana menjadi cair dan hangat saat senyum mengawalinya. Siapa tidak senang, tidak bahagia, tidak tersanjung saat bertemu siapa saja dan di sambut dengan senyuman? Semua akan bahagia. Itulah salah satu kekuatan senyuman, ia bisa memberikan suasana bahagia kepada orang lain.

Pun di sekolah, guru harus murah senyum, sehingga para siswa tidak tegang saat mengikuti pembelajaran. Saat siswa ‘menikmati’ suasana belajar, tentu pikiran mereka lebih mudah menerima pelajaran yang disampaikan. Berbeda jika guru mengawali pembelajaran dengan suasana cemberut, tentu para siswa ogah-ogahan atau terpaksa dan tersiksa batinnya dengan suasana yang ada.

Di kalangan guru ada yang beranggapan, agar berwibawa di depan siswa harus terlihat galak, terlihat killer, begitu sebutan guru ‘galak’ oleh siswa. Tentu tidaklah benar anggapan ini, ada banyak guru murah senyum begitu dicintai dan disegani oleh siswa-siswanya. Tidak sedikit pula guru killer yang diremehkan bahkan jadi bahan olok-olok siswa.

Senyum yang dipaksakan akan jauh berbeda dengan senyuman tulus dari hati. Dampaknya tentu berbeda di antara kedua senyum ini. Tips guru murah senyum adalah ikhlas. Guru yang sekadar memenuhi jam mengajar berbeda dengan guru yang berniat mengajarkan nilai-nilai kehidupan, guru yang sekadar mematuhi aturan akan berbeda dengan guru yang memahami aturan harus dipatuhi. Apalagi jika guru hanya mengajar dengan motivasi harta benda, tentu dampaknya tidak akan kentara.

Oleh itu, guru yang murah senyum harus membangun kewibawaannya dengan disiplin tinggi. Tegakkan aturan yang ada. Berikan kekuatan kepada siswa dengan senyum tulus seorang guru. Buktikan bahwa dengan senyum bisa meluluhkan hati para siswa. Itulah senyum yang mengandung kekuatan.

Tuswan Reksameja, Redaktur Majalah Fahma

Sadarlah

Oleh :  Ustadz Felix Siauw

Banyak Muslim, tapi sedikit yang ter-Install Islam didalamnya.
Banyak yang ngaku Tuhannya Allah, tapi menolak diatur Allah.

KTP nya sih Muslim, tapi kata-katanya "semua agama itu sama", bila semua agama adalah sama, maka nggak perlu repot2 memeluk Islam.

Katanya sih Muslim, tapi giliran dibacain Ayat dan Hadits, dia Protes "nggak usah terlalu fanatik lah ! Indonesia kan bukan negara Islam !"

Muslim itu mesti berani sampaikan apa yang nabi Muhammad SAW sampaikan   bahwa Islam itu tertinggi dan tiada yang lebih tinggi selain Islam.
"Dia-lah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya (Muhammad) dengan membawa petunjuk dan agama (Islam) yang benar" (QS 61:9).

"Agar Dia (Allah) memenangkannya (Islam) di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci".  (QS 61:9)

Jadi Muslim kok minder !
Bangga dong punya Islam !
Islam itu makin banyak dipelajari makin membuat Orangnya Tawadhu !

Baru belajar liberal dikit aja sudah bikin angkuh nggak ketulungan, merasa lebih tahu dari ayat Allah, lalu bilang "itu kan tekstual"

Merasa lebih pinter dari Muhammad lalu bilang "itu kan zaman dulu"

Syahadat itu artinya meniadakan selain Allah, mengakui Allah bahwa selain Allah itu #Nothing dan #NggakPenting !

Jadi selain yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur'an dan perintahkan pada manusia, itu #Nothing dan #NggakPenting.

Saya sudah pengalaman jadi tukang sinis pada Islam, Alhamdulillah Allah beri jalan kebaikan & jalan perubahan.
Saya sangat bersyukur bisa mengenal Islam dan jadi Muslim.
Bisa berubah dari Pembenci Islam jadi -Insya Allah- Pembela Islam !

AYO ! Kita do'akan saja yang masih sinis pada Islam justru jatuh cinta pada Islam, layaknya Umar bin Khaththab dan Khalid bin Walid

Bagi Allah tiada yang mustahil. Tugas kita hanya menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik dan selesailah tanggung jawab kita.

Sama seperti penolakan kita terhadap #MissWorld sebagai kampanye penolakan terhadap #PerangPemikiran.

Yang penting dakwah sudah ditunaikan. Adapun semua hasilnya itu urusan lain. Proses dakwah bukan membalik telapak tangan ! Ummat masih perlu banyak di-edukasi !

Rasul mengharap pada Makkah, namun pertolongan datang dari Madinah.
Yang kita yakini sama, darimanapun itu, pertolongan Allah pasti datang !

Tugas kita kini adalah berbisik mesra dengan ukhuwah, agar turun pada kita kecintaan dari Allah !

Meminimalkan dosa lalu bersemangat berdakwah,  karena dakwah ini masalah siapa yang bertahan lebih lama.

Akan datang masa dimana Allah menolong ummat ini, dengan Mengubah Para Pembenci Islam Menjadi Penolong Agama Ini !

AYO ! Jangan bosan berdakwah !
Karena itulah sebab utama turunnya hidayah..

Merubah yang sinis jadi suka, yang benci jadi sayang, yang memusuhi jadi pembela..

Yes I am a Muslim and Very Proud of Islam

Felix Siauw, Penulis dan Dai

Ketika Cinta Membara dan Rindu Menderu


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Bukan jalinan kalimat romantis tandanya cinta. Bukan pula tutur kata mendayu penanda rindu. Ibarat secangkir kopi, nikmatnya bukan karena hadirnya gula, bukan pula karena tuangan krimer. Boleh saja keduanya ada, tetapi bukan itu penakar yang kualitas yang pas.

Ada ungkapan Bugis yang menarik untuk direnungi, "Tellu ronna sitinro’, cinna-e udaani-e, napassengereng. Tiga tak dapat dipisah; cinta, rasa rindu yang memanggil-manggil dan kenangan indah." 

Maka tak mungkin ada cinta jika perpisahan tak membangkitkan kerinduan. Tak mungkin disebut cinta jika bersamanya senantiasa membosankan. Bukan mengukir kenangan yang indah, meski hanya bincang sederhana.

Adakah suami-istri yang tak saling merindu saat berpisah? Ada. Yang lebih ironis manakala ada penantian tentang kembalinya, tetapi kerinduan itu kepada sosok orangnya.

Kapankah suami-istri tak saling merindu? Jika akhlak yang baik tercabut di antara mereka berdua; keduanya atau salah satu di antara mereka. Sebab, "Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja." Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tiada akhir.


Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting

Jadilah Orangtua yang Kuat


Oleh : Imam Nawawi

MERASA benar kerap kali membuat kita kehilangan kendali atas emosi dan perilaku buruk. Bahkan sekalipun lisan ini kerap meluncurkan kata-kata buruk, diri tetap merasa baik-baik saja, sebab sistem kesadaran kita telah menyatakan, bahwa yang dilakukan, seluruhnya benar.

Perasaan semacam inilah yang membuat pendidikan orangtua terhadap anak tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Perasaan itulah yang menjadikan komunikasi pasangan dalam rumah tangga lebih sering memicu perdebatan daripada saling memahami, sehingga kian hari kasih sayang terus tergerus, yang pada akhirnya, emosi terus membara.

Semua itu membuat seseorang lupa bahwa tujuan baik, tak bisa dicapai dengan cara yang tidak baik. Termasuk ketika ingin memiliki anak yang sholeh, tetapi setiap anak tidak sesuai harapan, lisan langsung menembakkan kata-kata buruk.

Dorothi Law Nolte mengatakan bahwa anak yang dibesarkan dengan caci maki akan tumbuh menjadi pribadi rendah diri. Anak yang dibesarkan dengan cercaan dan hinaan, akan tumbuh menjadi sosok yang jiwanya kerdil dan menjadi pribadi yang suka menyesali diri.

Oleh karena itu, kendalikan diri, jangan merasa benar, cobalah introspeksi diri. Jangan sampai maksud baik diwujudkan dengan cara yang salah, sehingga tanpa sadar justru kita sendiri yang membentuk alam bawah sadar anak sedemikian buruk.

Sekarang coba kita cek dalam hati sendiri, apakah mau kita dicaci maki? Andai diri kembali menjadi seperti anak-anak, apakah rela kita dicaci maki. Mungkin akan muncul pertanyaan dalam hati, jika orangtuaku sering mencaciku,untuk apa mereka melahirkan dan memelihara diriku.

Di sinilah kita dapat mengamalkan apa yang Allah sebutkan sebagai salah satu sifat insan bertaqwa, yakni memaafkan kesalahan manusia, siapapun itu, terlebih buah hati sendiri.

Ada kisah menarik yang dialami oleh Ustadz Haikal Hasan, dimana perilaku buruk dirinya ketika masih remaja ternyata disikapi dengan sangat bijaksana oleh sang ibu.

Ketika itu, sepulang sekolah, ia lemparkan tas sekolahnya, kemudian bergegas keluar main bola dari siang hingga petang. Pulang dalam keadaan basah kuyup, baju penuh lumpur. Dan, dirinya bersama teman-temannya pulang dengan cara mengendap. Temannya mendapat perlakuan hampir sama dari ibunya, dimarahi dan dipukuli.

Menyaksikan itu, ustadz yang dikenal dengan panggilan babeh itu merasa gugup dan gemetar untuk segera sampai di rumah.

Tetapi, luar biasa. Ustadz Haikal Hasan mendapati ibunya menyambut dengan penuh kasih sayang, tanpa ada kata marah, raut benci dan sebagainya. Malah menyuruhnya segera mandi dan telah disediakan air hangat. Kejadian itu membekas betul dalam benak ustadz yang dikenal humoris itu, hingga akhirnya beliau menjadi terdorong belajar dan berbakti kepada orangtua.

Didik Anak Bisa Berpikir
Mohamed A. Khalfan dalam bukunya Anakku Bahagia Anakku Sukses menjabarkan bahwa setiap anak mesti dididik untuk bisa berpikir.

“Ajarlah anak unutk bisa berpikir. Sekali kemampuan berpiir itu dikuasai, dia akan berbuat lebih banyak lagi daripada sekadar berpikir.”

Nampaknya hal itulah yang terjadi pada Ustadz Haikal Hasan, dimana perilaku sang ibu yang berbalik 180 derajat dari apa yang dibayangkannya, mendorongnya sadar, mengerti, dan yakin bahwa orangtuanya benar-benar mencintai dan berharap dirinya tumbuh menjadi pribadi bertanggungjawab dan bermanfaat bagi umat.

Jika merujuk dalam Al-Qur’an, metode mendidik anak bisa berpikir bisa dilihat dari cara para Nabi berkomunikasi dengan anak-anaknya. Nabi Ibrahim mengajak dialog anaknya. Nabi Ya’kub juga mengajak dialog anak-anaknya. Bahkan Luqman Al-Hakim mengajak sang anak tak sekedar dialog, tetapi terjun ke masyarakat kemudian menghadirkan banyak hikmah secara langsung kepada anaknya.

Dengan kata lain, memang tidak diperlukan ungkapan penuh kemarahan dan kekesalan ditumpahkan oleh orang dewasa atau orangtua kepada anak-anaknya. Berkatalah yang lembut, biasakan berdialog, dan yang terpenting pahami tingkatan psikologi anak, sehingga kita tidak mengharapkan, kecuali batasan yang sanggup dicapai anak kita sendiri.

Dalam hal ini, Mohamed A. Kholfan kembali menegaskan, “Seorang anak yang tidak terlatih untuk berpikir – dan karenanya ia akan gagal dalam melakukan penalaran – biasanya akan melibatkan emosinya untuk menutupi kekurangannya.”

Tidakkah hari ini kita bertemu dengan sosok orang yang emosinya lebih didahulukan daripada akalnya? Boleh jadi, orang yang demikian besar dalam cara didikan yang keliru, sehingga kala tumbuh dewasa, ia gagal menjadi pribadi yang mengedepankan akal di atas emosinya.
Dengan demikian, mari bersabar, mari lebih teliti, jangan mudah untuk mengumbar amarah, sekalipun terhadap anak-anak sendiri.

Sebab cara demikian selain tidak diajarkan oleh Islam juga akan membawa dampak negatif yang serius bagi pertumbuhan kepribadian anak-anak kita.

Jadilah pribadi yang kuat, orangtua yang kuat dalam beragam hal, terutama dalam mendidik anak-anak, membina keluarga, yang dianjurkan dengan sangat oleh Nabi Muhammad ﷺ.
“Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Malik).*

Rep: Imam Nawawi