Memegang dan Menjalankan Prinsip



Alkisah, ada seorang ayah dan anak melakukan sebuah perjalanan. Mereka mempunyai seekor keledai kecil yang membersamai mereka dalam perjalanan tersebut.

Suatu hari, ketika Sang Ayah menaiki keledai mungilnya, dan anaknya berjalan mengiringinya, mereka berpapasan dengan seseorang. Orang tersebut berkomentar, "Bapak nggak tahu malu, anaknya malah disuruh jalan sementara dia enak-enak duduk di atas keledai."

Mendengar seloroh orang tersebut, akhirnya setelah beberapa meter perjalanan, Sang Ayah berhenti dan menyuruh anaknya menaiki keledainya.

Ketika melewati segerombol orang kembali, ada yang berkomentar, "Anak durhaka, ayahnya malah dibiarkan jalan sementara dia enak-enak  naik keledai."

Anak dan bapak itu saling berpandangan, bertambah bingunglah mereka. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menaiki keledai kecil tersebut bersama-sama.

Selang beberapa saat kemudian, mereka melewati gerombolan orang, dan ada yang berkata, "Bapak dan Anak gila, masak keledai sekecil itu dinaikin berdua."

Makin bingunglah anak dan bapak tersebut. Sehingga diputuskanlah mereka untuk menuntun keledai kesayangan mereka.

Nah, ketika sedang asyik menuntun keledai tersebut, mereka melewati gerombolan orang. lagi-lagi ada yang beseloroh, "Duh aduh emak, emak. Ini ayah dan anak sama-sama goblok, masa punya keledai kok dianggurin gitu."

Makin pusinglah itu kepala bapak dan anak. Mendengar komentar orang-orang yang mereka lewati.

Lalu, ada pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita tersebut di atas?

Hendaklah manusia itu punya prinsip, mereka tidak melulu mendengarkan apa yang dikatakan kepadanya. Karena prinsip inilah yang akan menguatkan setiap yang dilakukannya. 

Tentulah prinsip ini tidak boleh bertentangan dengan norma-norma agama, norma-norma hukum yang berlaku.

Nah, sudahkah kita memiliki prinsip yang kuat dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Berprinsiplah, dan pegang dengan kuat prinsip tersebut.

TMT

Teman dalam Kebaikan

Oleh : Indayana Ratna Sari

Ikhwah fillah, kalau ada yang menasehati kita karena lisan, pikiran maupun perbuatan kita yang salah, mengajarkan kita kebaikan, berhenti ucapkan kalimat: "Gak usah ikut campur urusanku, aku begini terserah aku, dosaku aku sendiri yang nanggung, ini hakku, aku melakukan ini terserah aku dong, kok kamu yang rempong, merasa paling bener aja hidupmu."

Nah, kalimat-kalimat seperti itu alangkah baikya dihindari. Kenapa? Karena itulah yang membuat kita jauh dari rahmat dan hidayah Allah. Boleh jadi Allah mengingatkan dan menegur kita atas kesalahan yang kita perbuat melalui orang lain. Allah datangkan orang-orang yang baik kepada kita supaya kita bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Kurang baik apa Allah sama kita?

Ikhwah fillah...
Andai kita tahu bagaimana manisnya Iman dan mahalnya hidayah Allah itu, maka kita  pasti  akan sangat bersyukur dikelilingi teman-teman yang senantiasa menasehati dan mengingatkan kita kepada kebaikan, kita pasti akan meminta kepada Allah agar senantiasa dikelilingi teman-teman yang shalih dan shalihah, yang bersama mereka kita bersama-sama menuju Taat.

Ikhwah
Orang yang mencintai kita itu ialah dia yang mengajak kita kepada kebaikan. Merugilah kita yang Mempunyai banyak teman namun tak satupun yang mengajak kita kepada ketaatan.

Dakwah itu wajib. Setiap muslim mempunyai kewajiban menasehati saudara muslim yang lain. Itulah sebabnya mengapa saudara kita terus menerus menasehati kita kepada kebaikan, karena mereka ingin menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang muslim/ah, bukan karena mereka ingin dipuji, ingin dibilang ustadz/ah, atau ingin terlihat mulia di depan manusia. Mereka ingin Taat kepada Allah, maka mereka menasehati kita tatkala salah, mengarahkan kita tuk berubah lebih baik, serta mengajak kita tuk bersama-sama berdakwah, menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim/ah.

Semoga kita senantiasa diberikan keistiqomahan oleh Allah untuk melakukan dan mengajak kepada kebaikan serta mencegah keburukan. Menunaikan kewajiban kita sebagai seorang hamba serta menunaikan Hak-hak Allah. Aamiin

Indayana Ratna Sari, Mahasiswa S2 Universitas Negeri Yogyakarta
Foto : Atin

Empat Unsur Cinta, Kamu Sudah Punya?


Oleh : Cahyadi Takariawan

Salah satu kelebihan manusia dibanding makhluk lainnya adalah perasaan cinta, yang muncul sebagai pemberian dari Allah Ta’ala. Namun tahukah kamu, apa saja unsur yang membentuk rasa cinta itu?

Ternyata, cinta bukan unsur tunggal, namun tersusun dari berbagai komponen dasar yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Unsur-unsur dasar cinta ---menurut Erich Fromm--- adalah:

1. Perhatian (Care)

Tidaklah kamu dikatakan mencinta, jika kamu tidak memiliki perhatian terhadap apa yang kamu cintai. Dalam dimensi Ketuhanan, jika kamu cinta kepada Allah, pasti akan memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap ---bukan saja perintah-Nya, namun bahkan isyarat-isyarat dari-Nya.

Dalam dimensi kemanusiaan, cinta adalah perhatian aktif pada kehidupan dan pertumbuhan dari apa yang kamu cintai. Hal ini terlihat jelas dari perhatian tulus seorang ibu kepada anaknya, atau perhatian penuh terhadap kekasih hati dari dua orang yang saling mencinta.

Jika kamu mencintai pasangan hidupmu, harus kamu tunjukkan dalam perhatian yang tulus kepadanya. Perhatian terhadap kondisinya, perhatian terhadap perasaannya, perhatian terhadap keinginannya, perhatian terhadap keluarga besarnya, perhatian terhadap aktivitasnya, perhatian terhadap hobinya, dan lain sebagainya.

2. Tanggungjawab (Responsibility)

Bagaimana kamu mengatakan cinta, jika tidak memiliki rasa tanggung jawab? Dalam dimensi Ketuhanan, cinta menuntutmu untuk memiliki tanggungjawab pembelaan terhadap Allah. Kamu tidak rela ketika agamamu dilecehkan dan dinistakan.

Dalam dimensi kemanusiaan, jika kamu benar mencintai kekasih hatimu, maka kamu sangat bertanggung jawab atas keselamatan dan kebahagiaan dirinya. Tanggung jawab dalam arti sesungguhnya adalah suatu tindakan yang sepenuhnya bersifat sukarela.

Bertanggungjawab berarti siap berkorban demi sesuatu atau orang yang dicintai, secara sepenuhnya sukarela. Jika kamu mencintai Indonesia, maka kamu rela untuk berkorban dalam menjaga keutuhannya.

Jika kamu mencintai pasangan hidupmu, harus kamu tunjukkan dalam tanggungjawab yang tulus. Tanggungjawab untuk menafkahinya, tanggungjawab untuk melindunginya, tanggungjawab untuk menjaganya, juga tanggungjawab untuk membahagiakannya.

3. Rasa Hormat (Respect)

Saat kamu memiliki respect maka itulah tanda bahwa kamu memiliki rasa cinta. Dalam dimensi Ketuhanan, ini adalah pengagungan. Jika kamu cinta Allah, kamu harus mengagungkan Allah.

Dalam dimensi kemanusiaan, respect bukanlah merupakan perasaan takut dan terpaksa. Rasa hormat merupakan kemampuan untuk melihat seseorang sebagaimana adanya, menyadari individualitasnya yang unik. Rasa hormat berarti kepedulian bahwa seseorang tumbuh dan berkembang secara unik, dan mungkin saja berbeda dengan dirinya.

Bagaimana kamu mengatakan cinta, namun selalu melecehkan, menghina dan mengejek orang yang kamu cintai? Kamu bahkan tidak memiliki rasa hormat sama sekali. Itu artinya kamu tidak cinta.

Jika kamu mencintai pasangan hidupmu, harus kamu tunjukkan dalam sikap menghormati, menghargai, memuliakan, juga mengagumi. Jika kamu mencintai pasangan hidupmu, kamu tidak akan menghina, melecehkan, merendahkan, menistakan dan mengejeknya.

4. Pengetahuan (Knowledge)

Cinta itu “ilmiah”, ada unsur ilmu dan pengetahuan yang menyertainya. Dalam dimensi Ketuhanan, keimanan kepada Allah harus berlandaskan ilmu yang benar, maka “fa’lam annahu laa ilaha illallah”. Fa’lam adalah perintah untuk mengilmui.

Dalam dimensi kemanusiaan, cinta pun harus dibangun dengan ilmu, tidak boleh membabi buta. Mengetahui koridor, batasan dan pedoman mencintai. Mengetahui sesuatu yang dicintai. Mengenali orang yang dicintai ---bahwa dirinya memang layak dicintai.

Jika kamu mencintai pasangan hidupmu, kamu harus mengenalinya dengan baik. Mengenali kepribadian, mengenali karakter, mengenali kondisinya, termasuk mengenali perubahan dalam dirinya.

Keempat unsur cinta ----perhatian, tanggungjawab, rasa hormat dan pengetahuan--- mempunyai keterkaitan satu sama lain. Semuanya merupakan sindrom sikap yang terdapat dalam pribadi yang dewasa, yaitu dalam pribadi yang mengembangkan potensi dirinya secara produktif.

Cahyadi Takariawan, Penulis Buku dan Motivator
Sumber : pakcah.id

Minuman Ideologis Bernama Kopi



Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Pertanyaan tentang Baba Budan pada akhirnya membawa saya untuk menelusuri juga bagaimana kopi ditemukan. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai asal muasal nama kopi. Sebagian ulama menyebutkan bahwa “إسم القهوة مأخوذ من كلمة (كافا caffa) وهى قرية فى الحبشة” (Nama kopi diambil dari kata Kaffa, sebuah desa di Ethiopia). Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa nama qahwah berasal dari kata quwwah, yakni kekuatan, yakni minuman berasal dari al-bunn (diserap dalam bahasa Inggris menjadi bean) yang menghalau kantuk serta kehilangan gairah sehingga menimbulkan kekuatan untuk qiyamul lail, munajat dan telaah kitab.

Pada awalnya kopi ditemukan oleh Khalid, seorang ahlur ribath di Gisya (kelak lebih dikenal dengan ejaan Geisha) setelah proses panjang mencari zat yang menguatkan ibadah sekaligus menyegarkan mata dan pikiran saat berjaga, tetapi tidak bersifat khamr (memabukkan, merusak akal pikiran). Khalid yang apabila malam melakukan ribath, siang hari sering melakukan pekerjaan menggembala. Ia pun mencobakan berbagai tetanaman kepada kambingnya, sehingga melihat bahwa ada satu tanaman yang menjadikan kambing lebih energetic. Kelak tanaman inilah yang dinamai qahwah alias kopi.

Agar dapat memahami lebih utuh, kita perlu mengetahui siapakah yang dimaksud dengan ahlur ribath. Secara umum, ahlur ribath adalah orang yang memiliki tugas berjaga di garis depan. Ia dipilih dari orang yang memiliki kepekaan tinggi untuk memetakan, memiliki ilmu yang memadai, daya tahan fisik yang bagus, kuat berjaga semata-mata untuk ketaatan kepada Allah, sigap dalam menyampaikan informasi kepada pihak yang bertanggung-jawab serta tidak mudah tergoda oleh kenikmatan sesaat yang bersifat segera. Ini menunjukkan bahwa ahlur ribath memiliki kualifikasi yang ketat dan berat.

Ahlur ribath juga menjadi istilah dalam dunia sufisme dan tetap merujuk kepada orang yang pada pokoknya memiliki kualifikasi sangat ketat, khususnya terkait dengan daya tahan untuk berjaga semata-mata untuk meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla.

Dari sini kita dapat memahami bahwa ketika seorang Khalid atau populer disebut Khaldi melakukan pencarian terhadap tetumbuhan yang menguatkan berjaga dan menyegarkan pikiran, maka urusannya bukanlah dengan tana’um (gaya hidup yang orientasinya bernikmat-nikmat). Al-bunn (bebijian kopi) hanyalah wasilah; sarana untuk menguatkan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk untuk berjaga, duduk berlama-lama di majelis ilmu serta qiyamul lail.

Pendapat lain menyatakan bahwa kopi pada mulanya berasal dari Sana’ah, sebuah wilayah di Yaman, yang kelak penyebaran kopi tersebut melalui pelabuhan utama di kota Mocha (المخا). Dari nama kota inilah kita mengenal Mochacino. Titik persamaannya, kopi dikembangkan untuk menguatkan seseorang menegakkan punggung dalam rangka thalabul ‘ilmi, qiyamul lail dan beragam ketaatan lain sebagai ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Jadi, pada awalnya kopi merupakan minuman yang bersifat ideologis. Wajar kalau kemudian juga mendapat perlawanan ideologis sehingga gereja menyebutnya minuman iblis dan orang-orang kafir

Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku, Motivator
Foto      : Google  

Kurikulum 2013 Menumbuhkan Sikap Muraqabah



Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Antara kesal dan memaklumi. Demkian itu sikap yang ada pada guru maupun orangtua menghadapi perilaku anak-anaknya. Fenomena yang terjadi; ketika jamaah sholat Dzuhur di sekolah. Susahnya mengatur anak untuk duduk, diam, mendengarkan dan menjawab suara adzan yang baru dikumandangkan. Susahnya mengatur anak untuk segera berdiri dengan tenang mengatur shof dengan lurus, rapi, dan rapat setelah iqomah dikumandangkan. Susahnya meminta anak ketika sholat sunah qobliyah dan ba’diyah dengan tenang, tertib dan tidak cepat-cepat. Selalu saja ada yang bermain di sana sini. Kesal, jauh dari sikap yang diharapkan. Maklum, namanya masih anak-anak.

Haruskah kesal atau memaklumi? Kesal akan membuat jiwa tidak sehat dan terlalu memandang negatif terhadap semua anak. Memaklumi? Karena ini di lingkungan pendidikan, jika mamakluminya akan menjadi preseden yang tidak baik. Seperti beranggapan bahwa anak tidak mungkin memiliki kesadaran. Padahal kesadaan ini (dalam bahasa kurikulum 2013) merupakan sikap spiritual yang harus dikembangkan.

Maka sekolah sebagai lembaga pendidikan , yang melaksanakan Kurikulum tahun 2013 harus mengembangkan Kompetensi Inti yang pertama (KI-1) yaitu sikap spiritual. KI-1 dalam Kurikulum tertulis: “Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya”. Adapun Kompetensi Dasar dari sikap spiritual yang harus dikembangkan untuk kelas 3 SD adalah; (1) Menunaikan shalat secara tertib sebagai wujud dari pemahaman Q.S. Al-Baqarah (2): 3. (2) Terbiasa berzikir dan berdoa setelah selesai shalat sebagai wujud dari pemahaman Q.S. Al-Kautsar dan (3) Meyakini adanya Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Kompetensi Dasar yang ketiga, yaitu meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah Maha Mengetahui, Maha Melihat dan Maha Mendengar adalah dasar dari sikap Muraqabah

Muraqabah adalah sikap merasa selalu diawasi oleh Allah Ta’ala. Sikap ini mendorong  kesadaran  manusia untuk senantiasa melaksanakan kebaikan sebagaimana yang Allah Ta’ala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sesungguhnya pada diri manusia sudah tertanam sikap spiritual. Manusia memiliki sikap hanif. Manusia hakikatnya selalu berhasrat dan ingin kepada kebaikan dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan, meskipun tidak ada orang yang melihatnya. Itulah fitrah manusia.

Maka sekolah dan orangtua tinggal menjaga dan mengembangkan sikap muraqabah yang sudah menjadi sikap dasar pada setiap diri manusia. Adapun mengembangkan sikap yang efektif adalah dengan membangun keyakinan dan menunjukkan bukti. Keyakinan akan menjadi dasar dari sikap. Tanpa keyakinan orang akan mudah goyah dalam memegang sikap. Dan keyakinan ini ditanamkan melalui doktrin-doktrin dengan kesungguhan secara bertahap. Adapun bukti yang harus ditunjukkan adalah dengan dilakukannya dalam kehidupan sehari hari berdasarkan sikap yang dikembangkan. Artinya perilaku yang berdasarkan sikap muraqabah itu harus dijalankan oleh semua warga sekolah/madrasah. Sehingga bisa dilihat dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan: ”Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian. Pertama, hendaknya kamu memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah Ta’ala, kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak didalam perilaku lahiriahmu sehari-hari”.

Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang sehingga ia menjadi manusia yang jujur. Seharusnya engkau malu terhadap Allah Ta’ala dalam setiap kesempatan dan seyogyanya hukum Allah Ta’ala menjadi pegangan dalam keseharianmu. Janganlah engkau turutkan hawa nafsu dan bisikan syaitan.

Dengan kesadaran sikap muraqabah anak akan malu terhadap Allah Ta’ala pada saat beribadah menghadap-Nya. Mendengar seruannya dan melaksanakan  perintah-Nya dengan segera.||

Penulis : Drs. Slamet Waltoyo, Redaktur Majalah Fahma
Foto      : Google 

Ada ‘Kebaikan’ di Balik Dosa

Oleh : Syaiful Anshor

Sungguh perbuatan maksiat adalah dosa. Tetapi, bukan berarti orang-orang yang bermaksiat, termasuk koruptor, penenggak miras, dan sebagainya itu tidak punya peluang kebaikan. Mereka juga punya kebaikan dan surga yang sama. ‘Aidh Al-Qarni dalam buku fenomenalnya, La Tahzan menulis, banyak hal yang dianggap berbahaya tetapi justru mendatangkan manfaat. Setiap qadha’ pada dasarnya baik, termasuk kemaksiatan yang dilakukan. Dalam al-Musnad karya Imam Ahmad, disebutkan, “Allah tidak memberlakukan sebuah qadha’ kepada hamba-Nya kecuali itu menjadi kebaikan baginya.”

Ketika ditanyakan kepada Ibnu Taimiyyah, “Sampai pun kemaksiatan?” Ibnu Taimiyyah menjawab, “Ya, jika kemaksiatan itu dibarengi dengan taubat dan penyesalan, istighfar, dan kesadaran. Mari renungi ayat Al-Qur’an berikut ini. “Jika mereka menganiaya dirinya, mereka datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” QS. An-Nisa: 64.

Jangan putus asa atas bertumpuknya dosa yang telah diperbuat. Sebesar apa pun dosa itu. Meski sebesar dan setinggi gunung. Meski sedalam samudera. Meski setinggi langit pun. Janganlah pernah berputus asa. Tetaplah berharap kasih sayang dan ampunan Allah Swt. Selama tidak menyekutukan-Nya. Tuhan akan sangat berbahagia sekali menyambut hamba-Nya yang mau kembali kepada-Nya. Bahkan, kebahagiaan Tuhan lebih daripada seorang orangtua yang menemukan kembali anaknya yang telah lama hilang.

Bersedih boleh. Sesekali menangislah. Keluarkan air mata itu sambil menyesali dosa, nista, keburukan, dan kemaksiatan yang pernah diperbuat di masa lalu. Senista dan sebesar apa pun dosa itu. Temuilah Tuhan di sepertiga malam. Shalat tahajudlah dan memohon ampunan dan kasih sayang-Nya. Mintakan ampun atas selaksa dosa yang telah diperbuat. Bertaubatlah dengan sebaik-baik taubat. Taubatlah dengan taubatan nasuha. Sungguh pintu ampunan Tuhan amatlah luas. Namun, jangan pernah lakukan kembali dosa yang pernah dilalui.

Syaiful Anshor, Penulis Buku, Wartawan, dan Pendidik

Memilih Sekolah Terbaik Bagi Anak

Oleh : Indayana Ratna Sari

Bagi guru, tetaplah mendidik. Memberikan pendidikan terbaik untuk menelurkan generasi-generasi hebat dan cemerlang.

Seorang pendidik tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, namun juga memberikan contoh atau teladan yang baik.

Anak akan melihat dan mendengar apa yang ada di sekelilingnya kemudian menirukannya.

Maka memberi contoh dan teladan yang baik berupa akhlak yang baik bagi anak adalah yang utama.

Bagi orang tua, tetaplah berusaha memberikan pendidikan terbaik bagi anak. Pendidikan agama yang utama. Karena anak adalah investasi orang tua. Ketika kita menginvestasikan kebaikan maka kebaikan itulah yang akan kita tuai, pun sebaliknya.

Memilihkan tempat sekolah yang baik adalah cara memenuhi hak anak terhadap pendidikannya. Anak berhak diberi pendidikan terbaik. Maka orang tua berkewajiban memenuhi hak anak tersebut.

Jika orang tua telah sepakat memilihkan lembaga pendidikan anaknya di suatu sekolah, berarti bahwa orang tua telah yakin memilih pendidikan terbaik dan memilihkan pendidik bagi anaknya. Sehingga orang tua dan anak punya kewajiban untuk mematuhi aturan yang telah disepakati sekolah tersebut.

Indayana Ratna Sari, Mahasiswi S2 Universitas Negeri Yogyakarta

Allah Tahu Yang Ada Dalam Hatimu!



Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi. 

Nak, muraqabah itu merasa diawasi Allah, kamu tahu sekaligus yakin terus menerus bahwa bahwa Allah Ta’ala melihat apa-apa yang nampak dan apa-apa yang tidak nampak pada dirimu, bahwa Allah Ta’ala itu mengawasimu, melihatmu, mendengar ucapanmu, mengetahui apas semua amalan yang kamu dilakukan di setiap waktu, di setiap kesempatan di setiap individu, dan di setiap kedipan matamu. Dalam hadits shahih tentang ihsan, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda, “Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, bila engkau tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu” (HRBukhari dan Muslim).

Nak, mengutamakan apa-apa yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla, mengagungkan apa-apa yang diagungkan oleh-Nya, memandang kecil apa-apa yang dipandang kecil oleh-Nya, itulah sebagian tanda-tanda sikap muraqabah telah ada pada diri seorang hamba—sikap demikian dapat memotivasimu untuk melakukan ketaatan, rasa takut dapat menjauhkanmu dari kemaksiatan, dan muraqabah dapat membimbingmu menuju jalan kebenaran. Belajar konsisten untuk terus merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam perjalanan menuju kepada-Nya. Pengagunganmu kepada Allah Ta’ala dapat memalingkanmu dari pengagungan kepada selain-Nya, dari memandang sesuatu selain-Nya, dan untuk tidak mengisi hatimu dengan selain-Nya. Merasakan kehadiran-Nya akan melahirkan rasa dekat dan cinta kepada-Nya. Senangnya hatimu kepada Allah Ta’ala, kebahagiaan dan merasa tentram dengan-Nya, akan mendorongmu untuk senaniasa berjalan menuju Allah Azza wa Jalla, mengerahkan usahamu untuk mendapatkannya, dan mendapatkan keridhaan-Nya.

Nak, termasuk bentuk muraqabah yang baik adalah jika engkau mengerjakan sesuatu dengan anggota tubuhmu, maka ingatlah bahwa Allah Ta’ala itu melihatmu. Jika engkau mengatakan sesuatu dengan lisan, maka ingatlah bahwa Allah itu mendengarkan hal itu. Jika engkau diam atau menyembunyikan sesuatu, maka ingatlah pengetahuan dan padangan Allah Ta’ala kepadamu. Segala sesuatu tidak bisa tersembunyi dari-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Dan tidaklah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Quran, dan tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS Yunus: 61).”

Nak, janganlah engkau tertipu  dengan berkumpulnya manusia di hadapanmu, karena mereka hanya mengawasi apa-apa yang Nampak darimu, sedangkan Allah Ta’ala  mengawasi apa-apa yang ada dalam hatimu. Ketaatan yang paling istimewa adalah perasaan bahwa Allah Ta’ala senantiasa mengawasi kita di setiap kesempatan. Nak, engkau harus merasa diawasi oleh Allah, yang mana tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Mengarahkan keinginanmu hanya kepada-Nya, yang senantiasa menepati janji-Nya. Senantiasa menghadirkan rasa ikhlas di setiap keadaan, menghadirkan semua hal yang dapat mendatangkan keridhaan Allah, mengganti apa-apa yang dapat membuat-Nya murka dengan apa-apa yang mendatangkan kecintaan-Nya, menghilangkan kemauan dirimu menuju kemauan-Nya meskipun kemauan-Nya tersebut sangat tinggi bagimu.

Nak, janganlah dirimu berpaling dari syariat dan perintah Allah Ta’ala dengan menggunakan pendapat-pendapat dan logika-logika yang mengandung unsur penghalalan apa-apa yang diharamkan oleh-Nya, dan pengharaman apa-apa yang dihalalkan oleh-Nya. Janganlah dirimu berpaling dari hakikat yang ada dalam syariat, keimanan dengan menggunakan perasaan-perasaan dan pandangan-pandangan batin yang mengandung persyariatan agama atau ajaran tertentu yang tidak pernah diizinkan oleh-Nya, kemudian menganggap salah agama yang disyariatkan oleh-Nya.||



Penulis    : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Pimpinan Redaksi Majalah Fahma , Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia
Foto         : Google

Mencapai Kemenangan Cinta dalam Kehidupan Pernikahan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Di antara faktor yang menghadirkan kebahagiaan dalam kehidupan pernikahan adalah kondisi jiwa suami dan istri, sebagai pembentuk utama sebuah keluarga.

Sebagaimana ditemukan oleh John Defrain dalam studinya tentang Strong Family (1999), hubungan yang kuat antara suami dan istri adalah hal sentral dalam banyak keluarga. Jika kondisi jiwa suami dan istri baik, akan menghasilkan kualitas hubungan yang juga baik.

Saya ingin mengajak berbincang tentang ruang-ruang dalam jiwa manusia. Saya melihat bahwa banyak masalah dan konflik dalam pernikahan, disebabkan oleh tidak lengkapnya ruang dalam jiwa suami maupun istri.

Mereka hanya memiliki ekspektasi, namun tidak mau beradaptasi dan berkompromi. Dampaknya, hidup berumah tangga diwarnai oleh tegangan tinggi. Konflik meledak setiap hari. Saling menyalahkan, saling menyerang, saling melukai, saling menyakiti.

Seperti apa kondisi jiwa suami dan istri yang akan menghadirkan kebahagiaan dalam pernikahan? Jika jiwa manusia berbentuk kotak, maka dalam kotak tersebut hendaknya terdapat enam ruang sekaligus, dengan fungsi yang berbeda-beda.

Pertama, Ruang Ekspektasi

Setiap laki-laki dan perempuan yang hendak menikah, pasti memiliki sejumlah ekpektasi terhadap pasangan, maupun terhadap kehidupan rumah tangganya kelak.

Mereka juga memiliki cita-cita, harapan, dan keinginan akan kehidupannya di masa yang akan datang. Mereka sama-sama menghendaki calon pendamping yang bersedia menemani proses menuju tercapainya cita-cita masing-masing.

Kedua, Ruang Diskusi

Setelah menikah, suami dan istri harus bersedia melakukan dialog atau diskusi atas segala sesuatu yang menjadi ekspektasi dan impian pribadi masing-masing.

Sediakan ruang untuk berdialog, bahkan mendialogkan hal-hal yang sudah menjadi mimpi yang dibangun selama ini.

Pada saat masih lajang, tentu tidak masalah menetapkan ekspektasi setinggi langit. Namun setelah menikah, semua ekspektasi harus melewati proses dialog dengan pasangan.

Model @amar_hadid
@deniarshaputri

Foto @azkaluna

Cahyadi Takariawan, Penulis Buku dan Motivator Pernikahan
Sumber : IG Cahyadi_Takariawan

Karena Kamu Ada Di Hati

Ada sepasang suami isteri tergesa-gesa berlari menuju ke HELIKOPTER di PUNCAK GEDUNG HOTEL untuk menyelamatkan diri, pada saat terjadi KEBAKARAN .

Tetapi saat sampai di atas sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa.

Dengan segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu, sementara sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum HELIKOPTER menjauh .

Kejadian Berikutnya, api SEMAKIN MEMBESAR dan MENGHANGUSKAN seluruh nya (termasuk sang ISTRI)

DOSEN yang menceritakan kisah ini bertanya pada mahasiswa-mahasiswanya, menurut kalian, apa yang sang istri itu teriakkan?

Sebagian besar mahasiswa-mahasiswi itu menjawab : Kamu jahat, aku benci kamu, kurang ajar, kamu egois, gak tanggung jawab, gak tahu malu kamu, dan sebagainya.

Tapi ada seorang mahasiswi yang hanya diam saja, dan dosen itu meminta mahasiswi yang diam itu menjawab,
Kata si mahasiswi, Saya yakin si istri pasti berteriak, "Tolong jaga anak kita baik-baik."

Dosen itu terkejut dan bertanya, apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?

Mahasiswi itu menggeleng, belum, tapi itu yg dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.

DOSEN  itu menatap seluruh kelas dan berkata :

Jawaban ini benar, HOTEL itu kemudian benar-benar terbakar habis dan
sang suami harus kembali ke kota kecil nya dengan air mata yang terus menetes karena harus menjemput anak-anak mereka yang masih TK dan BALITA, dan mengasuh anak-anak mereka sendirian, dan kisah tragedi tersebut di simpan rapat-rapat, tanpa pernah dibahas lagi.

Bertahun-tahun kemudian, anak-anak itu sudah dewasa. Ada yang menjadi pengusaha, ada yang menjadi dokter dan 1 lagi masih bekerja sambil kuliah.

Pada suatu hari ketika anak bungsunya bersih-bersih kamar sang Ayah, anak itu menemukan buku harian ayahnya.

Dia menemukan kenyataan bahwa saat orang tuanya ke hotel itu, mereka sedang berobat jalan karena sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan akan segera meninggal.

Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup.

Dan dia menulis di buku harian itu, betapa aku berharap untuk sang istri yang naik ke helicopter itu.

Isteriku sayang, tapi demi anak-anak kita, terpaksa dengan hati menangis membiarkan kamu terbakar sendirian.

Si anak bungsu kemudian menceritakan  kapada kedua kakak nya dan mereka bertiga segera menyusul sang Ayah di kampus.

Mereka sujud mencium kaki sang Ayah Bergantian (mengucap syukur atas perjuangan sang Ayah membesarkan mereka semua. Sekalipun dengαn beban mental yαng demikian berat)

Cerita itu selesai dan seluruh kelas pun terdiam. Dosen itu kemudian berkata;
Siapakah sang Ayah?

Sang Ayah Itu saat ini lah yαng ada di hadapan kalian. Mahasiswa dan mahasiswinya segera berlarian memeluk sang DOSEN.
           
Mereka sekarang mengerti hikmah dari cerita nyata tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yαng kita pikirkan, ada berbagai macam komplikasi dan alasan dibaliknya yαng kadang sulit dimengerti.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain bukan berarti kaya, tapi karena lebih menghargai hubungan dari pada uang.

Mereka yαng bekerja tanpa ada yαng menyuruh bukan karena bodoh, tapi karena lebih menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar bukan karena bersalah, tapi karena lebih menghargai orang lain.

Mereka yαήg mengulurkan tangan untuk menolongmu bukan karena merasa berhutang, tapi karena menganggap kita adalah sahabat.

Mereka yαήg sering mengontakmu, dan mengajakmu reuni atau silahturahmi bukan karena tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya.

Sumber WAG

Kesadaran Bertanggungjawab


Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A

Hari itu, kira-kira di pertengahan tahun 2019, ketika saya sedang mengajar salah satu mata kuliah semester lima, tiba-tiba ada seorang peserta kuliah masuk ke ruang, padahal saat itu kuliah sudah berlangsung selama tigapuluhan menit.

Bagi saya keterlambatan sampai tigapuluh menit itu tidak wajar. Karena pada saat pertemuan yang pertamakali, sudah ada kesepakatan bersama yang dituangkan dalam kontrak pembelajaran. Disepakati keterlambatan maksimal sepuluh menit, kalau lebih akan dikenai sanksi termasuk terhadap dosennya. Kalau seorang mahasiswa terlambat sampai 30 menit berarti dia belum membaca kontrak pembelajaran yang sudah disepakati  dua minggu sebelumnya. Karena penasaran, sebelum dia duduk saya tanya “Tahukah saudara sanksi bagi mahasiswa yang datang terlambat lebih dari 10 menit”.  “Tidak tahu Pak, saya tidak hadir di pertemuan pertama.”  
        
Benar dugaan saya, karena jawaban yang seperti ini sudah sering saya dengar dari mereka yang terlambat. Namun yang menjadi keprihatinan saya adalah tidak adanya kesadaran mereka terhadap tanggung jawab dan komitmen sebagai mahasiswa. Seharusnya kalau mereka tidak masuk, menanyakan ke temannya apa saja yang disampaikan oleh dosennya, termasuk tugas-tugas kalau ada. Sehingga mereka tetap bisa mengikuti perkembangan kuliah meskipun berhalangan hadir. Namun mereka tidak peduli dengan hal ini, padahal kuliah sudah berjalan selama dua minggu. Barangkali mereka akan berkilah bahwa materi kuliah bisa diambil dari tempat lain. Memang ini benar, namun dia harus tetap menjalankan tugas sebagai mahasiswa dengan mengikuti perkembangan perkulihaannya.

Hal ini nampaknya sangat berbeda dengan mahasiswa pada beberapa dekade sebelumnya. Ketika ada mahasiswa yang tidak masuk kuliah, pasti hari berikutnya dia sudah kesana kemari mencari pinjaman catatan kuliah, bahkan ada yang meminjam lebih dari satu sumber catatan kuliah, agar catatannya lengkap. Padahal kala itu belum ada mesin fotokopi, atau kalaupun sudah ada, biaya setiap lembarnya masih sangat mahal, sehingga dia harus menulis kembali dengan tangan catatan temannya itu. Bagi mahasiswa yang tulisan tangannya bagus dan catatannya rapi dan lengkap pasti catatannya laris.

Memang dengan kemajuan teknologi informasi seperti sekarang ini, telah memungkinkan seseorang belajar dari berbagai sumber, tidak harus dari dosennya. Namun sebenarnya saat tatap muka dengan dosen, tidak hanya materi kuliah yang dibicarakan, tidak hanya proses transfer of knowlegde atau proses pembelajaran, namun juga proses pendidikan. Seperti halnya kesepakatan yang saya buat dengan mahasiswa bahwa keterlambatan maksimal 10 menit tersebut, juga dalam rangka membiasakan mereka untuk berdisiplin dan bertanggung jawab, karena setelah lulus mereka akan memasuki dunia kerja yang mana kedua hal tersebut menjadi salah parameter penting yang dinilai oleh atasan.

Memang saat ini jamannya sudah berbeda, namun saya rasa yang namanya tanggung jawab tersebut harus selalu ada, bahkan di era industri 4.0 ini tanggung jawab tetap diutamakan, hanya apa yang dikerjakan saat dulu dan sekarang berbeda.  Bahkan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini, seseorang dapat menyelesaikan tugasnya tanpa harus masuk ke kantor. Mereka dapat menyelesaikannya dari mana saja, namun komitmen dan tanggung jawab tetap yang utama.  

Kesadaran, kepekaan dan komitmen seseorang terhadap apa yang harus dilakukan, tidak muncul begitu saja dalam diri mereka. Kesadaran tanggung jawab ini akan mudah muncul ketika sudah menjadi kebiasaan, dan hal ini akan terbentuk ketika dilakukan berulang-ulang.

Ketidakpekaan ini jelas akan merugikan diri mereka sendiri, sehingga kita sebagai orangtua maupun pendidik harus mengkondisikan anak-anak didik kita dengan kebiasaan ini, dan harus ditanamkan sedini mungkin.    

Dalam hal penanaman rasa tanggung jawab ini, secara pribadi saya setuju dengan sistem pendidikan dasar yang lebih mengedepankan penanaman kesadaran tanggung jawab dari pada kesadaran akademik. Memahamkan ilmu pengetahuan jauh lebih mudah dari pada membentuk karakter terpuji. Wallahu A’lam Bishawab.||

Penulis : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A, Pimpinan Umum Majalah Fahma, Guru Besar Teknik Mesin Universitas Gajah Mada 
Foto        : Google  

Jangan Berhenti Mengajak Kebaikan


Oleh : Romi Padli, SEI, ME

Pernahkah kita merasakan sedih ketika kita melihat ada sebagian teman atau tetangga kita yang belum melaksanakan sholat.

Atau ada saudara dan tetangga kita yang belum melaksakan kewajiban untuk berhijab dengan sempurna!

Kadang mereka dengan santainya memperhatikan kita dengan seksama. Dan merasakan keanehan kita karena pakaian atau kebiasaan kita yang sering ke masjid. Bahkan mereka ketika mendengarkan adzan-pun biasa saja.

Perasaan sedih melihat peristiwa ini adalah bentuk keimanan kita kepada Allah. Karena mereka yang yakin akan hari pembalasan adalah mereka yang mendapatkan petunjuk dari Allah.

Namun, hidayah dan petunjuk tidak akan bermanfaat ketika kita menjadi orang yang tidak melaksankan apa yang di perintahkan Allah melalui kitab suci yang mulia.

Oleh sebab itulah penting untuk kita ketahui bahwa, menjadi kebaikan untuk orang lain adalah hal yang sangat di sukai oleh Allah.

Bukankah Rasulullah pernah berpesan. Sampaikanlah dariku walau satu ayat. Hadis ini menunjukan kepada kita bahwasanya. Apapun profesi kita. Apapun posisi kita dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Maka wajib bagi kita untuk selalu menyampaikan kebaikan.

Entah itu dengan lisan, tulisan maupun dengan perbuatan. Walaupun dirimu belum baik atau di dalam keluargamu ada yang belum baik. Maka mengajak kebaikan itu tetap menjadi prioritas utama kita.

Dalam sejarah islam. Pada masa khalifah umar bin khatab ada peristiwa yang menarik untuk kita ambil hikmahnya.

Di kisahkan pada waktu itu. Ada seorang laki-laki yang membawa minuman keras di dalam kantong air yang ia bawa. Namun dalam perjalanan ia bertemu dengan khalifah Umar. Maka tak heran hati dan perasaannya menjadi gelisah.

Namun dengan izin Allah. Ketika khalifah Umar bertanya. Wahai fulan apa yang engkau bawa. Tanya Umar! Dengan tegar orang itu berkata. Ini madu wahai Umar. Maka sang khalifahpun melihat isinya. Dan benar ternyata ia memang madu.

Sahabatku, orang yang berniat akan melakukan kebaikan dengan melaksankan apa yang Allah perintahkan. Maka Allah akan memberikan petunjuk dan jalan keluar.

Oleh sebab itulah marilah kita renungkan, apa yang bisa kita lakukan untuk kebaikan.

Romi Padli, SEI, ME, Pendidik di Ponpes Ar Riyadh Palembang

Tentang Cinta



Oleh : Syaiful Anshor

Jatuh cinta tidak pernah salah. Dianya anugerah terindah dari yang Maha Kuasa. Cinta tidak akan pernah mendatangkan petaka. Justru berlimpah selaksa bahagia. Sebab cinta adalah energi, sebuah proses yang tidak akan pernah berakhir yang selalu hadir untuk membahagiakan.

Tengoklah cinta Nabi Muhammad kepada umatnya. Tiadalah yang dipikir adalah umatnya. Bahkan, sesaat sebelum menutup usia, ada ungkapan yang penuh gelisah, "Ummati." Kata itu diucapkan tiga kali. Berharap Allah melimpahkan rahmat kepada umatnya.

Cinta itu membahagiakan. Cinta itu menggelorakan. Cinta itu menjadi hidup lebih hidup. Bahkan bukan hanya untuk sesaat, seribu tahun. Tapi cinta itu mengabadi hingga akhirat nanti. Sungguh orang yang saling mencinta di dunia akan dikumpulkan di akhirat. Sama-sama. Seperti yang dituturkan oleh Nabi, "Anta ma man ahbabta ilaihi. "

Maka, perhatikanlah kepada siapa Anda melabuhkan cinta!

Syaiful Anshor, Penulis Buku, Wartawan, dan Pendidik

Bermaksiyat di Kala Sepi




Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh

Ada sebagian orang yang ketika di hadapan orang banyak terlihat alim dan shalih. Namun kala sendirian, saat sepi, ia menjadi orang yang menerjang larangan Allah. Ketika bersama khalayak ramai, dia seakan menjadi orang yang ahli ibadah dan takut pada Allah. Namun ketika sedang bersendirian, dia menjadi orang yang meremehkan larangan Allah.

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Majah membawakan hadits di atas dalam Bab “Mengingat Dosa”.

Padahal Allah itu memiliki sifat Al-Khabiir, yang memiliki makna bahwa Allah mengetahui berbagai rahasia yang tersembunyi, apa yang ada dalam batin secara detail diketahui oleh Allah, dan segala sesuatu secara rinci diketahui oleh Rabb kita.

Imam Ibnu Jarir menyebutkan bahwa Al-Khabiir maksudnya adalah Allah Maha Mengetahui segala rahasia hamba, Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati, dan segala sesuatu tidak samar bagi Allah. Lihat Jami’ Al-Bayan, 28:103, dinukil dari AnNahju Al-Asma’ fi Syarh Asma’ Allah Al-Husna, hlm. 187.

Semoga kita tidak termasuk dalam golongan yang terdapat dalam hadits di atas. Aamiin...||

Wassalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh
Redaksi