Mendidik, Cinta yang Tulus


Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

 
Mendidik, Cinta yang Tulus. Aku yang juga masih belajar tentang itu. . Yang aku tahu, mendidik itu memberikan contoh yang terbaik, terhadap siapa saja dan tentunya sambil belajar, belajar memahami, belajar "legowo", belajar sosialisasi, belajar berkomunikasi. Tidak berdiam diri dengan zona nyaman diri sendiri

Tanggungjawab seorang pendidik memang sangat besar. Bagaimana tidak? Ia diamanahkan sebegitu besarnya sama Allah untuk memegang seseorang agar ia sukses melalui tangan tangan unikmu, tentunya dengan Izin Allah.


Masih ingatkah kita dengan guru kita waktu kelas 1 SD atau guru yang paling kita sayang sampai saat ini? Pasti ada kan yaa. 


Pasti ada moment special dong dengan Beliau sampai kita masih ingat dengannya. Pendidik yang dikenang pasti adalah ia yang special. Seperti aku yang selalu ingat dengan salah satu guru matematika SMP ku yang sampai saat ini masih akrab. Kenapa? Karena aku terkesan dengan cara mendidik Beliau menyampaikan ilmu pada kita, siswanya. Sangat enjoy, ringan, lucu, asik dan mudah diingat.

Salah satu yang saat ini aku berusaha untuk membawa suasana menjadi tidak kaku. Kelas ini adalah kelas percobaan aku di tahun pertama aku ngajar... dan banyak sekali pengalaman yang aku peroleh. 
Pelajaran yang aku dapatkan, sembari aku mendidik, ternyata aku juga dididik secara tidak langsung oleh mereka.

Dididik agar senantiasa sabar, tidak emosian, ramah, dll.. 💕💕 maasyaAllah, Tabarakallah anak-anakku.

Mendidik dengan tulus memang memiliki jiwa tersendiri 😊😊 dan aku menikmatinya


Prihatiningsih, S.Si., Seorang Pendidik tinggal di Yogyakarta

Ayah Tidak Berintegritas Melahirkan Anak Atheis


Oleh : Jamil Azzaini

Perilaku ayah bisa berdampak besar kepada anak. R.C. Sproul dalam bukunya Objections Answered memberi contoh tentang hal ini.

Ada seorang anak muda Yahudi dibesarkan di Jerman. Anak kecil ini sangat kagum dengan ayahnya yang mengajarkan bahwa semua hal harus berpusat kepada kegiatan relegius, sesuai keyakinan mereka. Sang ayah pun sering mengajak anak muda ini ke tempat ibadah mereka, Sinagog.

Saat sang bocah berusia 10 tahun, keluarga mereka pindah ke kota lain yang tidak memiliki Sinagog, hanya ada sebuah gereja Lutheran. Kehidupan orang di kota ini sangat relegius dan terikat dengan gereja. Orang-orang terbaik di kota ini tergabung menjadi jamaah gereja.
Tanpa diduga, sang ayah mengajak keluarganya untuk meninggalkan tradisi Yahudi dan beralih serta bergabung dengan gereja Lutheran. Ketika anggota keluarganya bertanya mengapa harus berpindah tradisi? Sang ayah menjelaskan bahwa itu akan menguntungkan bisnisnya.

Si bocah kecil kecewa. Ia merasa orang tuanya tidak memiliki integritas, plin-plan. Apa yang diyakini dan dilakukannya berbeda. Pikiran dan tindakan sang ayah tidak selaras. Si bocah kecil marah dalam waktu yang lama.

Saat tumbuh dewasa, sang bocah ini melanjutkan studi ke Inggris. Ia akhirnya menulis sebuah buku yang memperkenalkan ide dan gagasan bahwa agama sebagai candu masyarakat. Ia membuat gerakan yang mengajak orang lain untuk tidak percaya dengan Tuhan. Idenya kini tersebar ke berbagai penjuru dunia. Nama si bocah atheis itu adalah Karl Marx, pendiri gerakan komunis.

Anak ini akhirnya menjadi tidak percaya dengan Tuhan karena dipengaruhi oleh seorang ayah yang tidak punya integritas.

Ya, integritas yang hilang bisa melahirkan kebencian dan ketidakpercayaan serta perlawanan dari orang-orang di sekitarnya baik di rumah maupun perusahaan tempat orang tersebut bekerja.

Waspadalah, jangan sampai integritas kita luntur karena lingkungan yang berubah.

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator

Segel Ganda

Oleh : Salim Afillah

Kemaluan dan mata", demikian menurut Al Imam As Suyuthi, "Dikancing Allah dengan masing-masingnya sepasang anggota badan. Kemaluan dengan sepasang kaki, dan mata dengan sepasang kelopak."

"Tapi lisan dikunci Allah dengan segel ganda. Sepasang bibir sekaligus sepasang deretan gigi di atas gusi. Sebab betapa banyak manusia ditelungkupkan ke dalam jahannam hanya oleh lisannya. Karena kata-katanya."

Maka benarlah Imam Asy Syafi'i. "Apa yang tangan kita tak terlibat di dalamnya, jangan sampai lisan kita berdosa karenanya."

Di dunia nyata dan maya, ada banyak hal yang menarik untuk ditanggapi. Tapi cerdaslah memutuskan; kata-kata atau justru diam kita yang akan mengantar ke surga.

Salim Afillah, Motivator dan Penulis Buku

Menerima yang Tidak Mudah

Oleh : Imam Nawawi

Menerima ternyata bukan perkara mudah. Kecuali yang umum dilakukan oleh banyak orang setiap bulan, yakni menerima gaji, menerima hadiah, atau menerima apapun yang menyenangkan.
Menerima yang sulit di sini adalah menerima ketentuan Allah berupa hal-hal yang mengharuskan diri manusia bersabar.
Seperti menerima rasa sakit dengan ikhlas. Jelas ini tidak mudah. Jangankan manusia awam, orang terdidik pun tidak banyak yang bisa lolos.
Terlebih kala harus menerima cacian, padahal diri sedang mengajak manusia ke jalan kebenaran, jelas lebih butuh jiwa besar dan iman yang tidak kacangan.
Hal demikian juga dialami oleh Rasulullah.
فَلَعَلَّكَ تَارِكٌ بَعْضَ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَضَائِقٌ بِهِ صَدْرُكَ أَنْ يَقُولُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ كَنْزٌ أَوْ جَاءَ مَعَهُ مَلَكٌ ۚ إِنَّمَا أَنْتَ نَذِيرٌ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
“Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu.” (QS. Hud [11]: 12).
Menerima sekali lagi memang tidak semuanya mudah.
Dalam konteks sejarah, kita bisa bayangkan betapa beratnya seorang ibu merelakan anaknya dihanyutkan ke sungai. Tetapi itu harus dilakukan, karena ia sudah menerima perintah Allah. Itulah ibunda Nabi Musa ‘alaihissalam.
Hal berat juga harus diterima oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Dirinya cerdas, rupawan, dan kesayangan seorang ayah yang luar biasa tetapi mesti menerima kenyataan dibuang, dijual, dan dipenjara.
Jadi, menerima hal yang tidak mudah itu harus kita jalani dan alami dalam perjalanan episode kehidupan fana ini. Meski demikian, jangan pernah bersedih hati jika ada keharusan menerima yang tidak kita sukai, sebab boleh jadi itu adalah kebaikan yang tepat untuk kita sendiri.
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).
Kemudian, kita harus sadar, memahami, dan meyakini bahwa apa pun yang Allah tetapkan adalah baik, betapa pun itu tidak mudah kita jalani.
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memelihara hamba-Nya yang beriman dari kesenangan dunia, karena Dia mencintainya, seperti manusia yang menjaga beberapa jenis makanan dan minuman karena takut akan menimbulkan penyakit.” (HR. Imam Ahmad dan Hakim dari Abu Sa’id).*
Sukabumi, 8 Syawal 1440 H
Imam Nawawi

Menuju Ampunan Allah


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Sebaik apa pun manusia, selagi ia bukan Nabi yang ma'shum, pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Tidak ada orang yang selama hidupnya terhindar dari berbuat dosa, sekecil apa pun, meskipun kebaikan amalnya menghiasi seluruh hidupnya. Maka tidak ada manusia yang hidup di dunia hingga dewasa, kecuali ia memerlukan ampunan Allah 'Azza wa Jalla.

Jika orang yang sangat baik saja tidak terhindarkan dari salah dan dosa, apatah lagi orang-orang seperti saya, jauh lebih menghajatkan pertolongan, ampunan dan maaf dari Allah Azza Wa Jalla. Soal dosa, jangan ditanya, pasti bertumpuk. Tetapi merasa berdosa, itu hal yang berbeda. Padahal menyesali dosa merupakan salah satu pintu taubat.

Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Setiap anak Adam (pasti pernah) berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat." (HR. Tirmidzi).

Inilah peluang kita: berusaha menjadi sebaik-baik orang yang bersalah, yakni segera bertaubat kepada Allah 'Azza wa Jalla. Kita menangisi dosa, memohon ampunan dan memperbaiki diri. Tetapi alangkah kerasnya hati ini.

Padahal pilihan kita cuma dua. Bersungguh-sungguh memohon ampunan kepada Allah Ta'ala. Sesungguhnya ampunan Allah Ta'ala sangat luas. Ia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Atau mengabaikan dosa. Padahal azab Allah sangat pedih.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr, 15: 49-50).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala jadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertaubat, memperoleh ampunan-Nya yang sempurna dan kelak mendapatkan karunia surga-Nya yang tertinggi.

Mohammad Fauzil Adhim, Motivator dan Penulis Buku

Hubungan Alquran dan Ketakwaan


Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al Quran dan kitab lainnya. Allah menetapkan syariat puasa dalam Q.S Al Baqarah ayat 185. Orang yang berpuasa belum tentu menjadi orang yang bertaqwa. Allah menyebut orang yang bertaqwa menjadi orang yang memperoleh kemenangan (terdapat dalam surat An-naba). Balasan bagi para pemenang adalah surga. Allah memberikan malam yang lebih baik dari 1000 bulan yaitu malam Lailatul Qadar.

Al Quran diturunkan di 2 kota yaitu Kota Mekah dan Kota Madinah. Kedua kota itu sampai sekarang menjadi kota yang diberkahi oleh Allah. Al Quran diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Shalallahualaihi Wasallam yang menjadi sebaik-baik ciptaan Allah dan diutus untuk semua manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai peringatan.

Salah satu keistimewaan Al Quran adalah rumah yang dibacakan Al Quran setiap hari memiliki perumpamaan seperti manusia melihat bintang di langit yang sinarnya membawa kesejukan dan nampak terang walau dilihat dari kejauhan. Sebaliknya, rumah yang tidak pernah dibacakan Al quran seperti perumpamaan kuburan yang sepi, gelap, dan mencekam.

Al Quran, perintah puasa dan hubungan dengan ketakwaan memang tidak dapat dipisahkan. Agar orang yang berpuasa menjadi orang yang bertakwa, maka kita perlu memahami, Apa itu takwa?

Ada 3 makna takwa dalan Al-Quran :
Takut kepada Allah dan pengakuan superioritas Allah. Hal ini seperti kalam-Nya yang artinya, Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus bertakwa. (Al-Baqarah: 41)
Bermakna taat dan beribadah, sebagaimana kalamnya yang berarti, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah denan sebenar-benar takwa. (Ali-Imran: 102)

Dengan makna pembersihan hati dari noda dan dosa. Maka inilah hakikat dari makna takwa, selain pertama dan kedua. Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya; Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertakwa, maka itulah orang-orang yang beruntung. (An-Nur: 52)

Ciri orang yang bertakwa :
1. Menjadikan Al quran sebagai petunjuk. Allah akan memuliakan apapun dengan Al quran. Rugi orang yang bertemu dengan ramadhan jika tidak mendapat apa-apa.

2. Mereka orang yang beriman kepada yang ghaib.

3. Mereka yang mendirikan shalat. Shalat adalah ibadah yang paling penting, amal yang pertama kali dihisab di hari kiamat nanti. Apabila shalatnya baik maka baik semua amalnya, shalatnya tidak baik maka tidak baik pula amalannya. Ulama mengumpamakan Shalat itu seperti bejana dan ibadah yang lain adalah airnya.

4. Dermawan. Sebaik baik sedekah adalah di bulan ramadhan. Tidak ada sejarahnya orang yang sedekah itu menjadi miskin.

5. Orang Yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada nabi Muhammad dan sebelumnya.

6. Orang yang bersedekah diwaktu lapang dan sempit.

7 Orang yang paling kuat menahan amarah.

8. Orang yang mampu memaafkan orang lain.

9. Ketika melakukan Hal yang keji maka langsung mengingat Allah. Dan berhenti melakukan dosanya. (Bertaubat kepada Allah. Berpuasa ramadhan dengan iman maka akan diampuni dosa yang terdahulu).

Prihatiningsih, S.Si., Pendidik Al Quran

Tak Ada Jaminan Sejahtera dengan Meninggalkan Dakwah

Oleh : Iwan Yanuar 

Hari itu saya bertemu dengan kawan lama. Ia yang sudah keluar dari barisan perjuangan. Keluar karena merasa langkah perjuangan tak memberikannya ‘apa-apa’. Apa ‘apa-apa’ yang ia maksud? Kesejahteraan dan kemakmuran.

Masih terngiang di telinga saya perkataannya, “Ketika saya kumpul dengan kawan-kawan sekolah, mereka lebih baik dari saya.” Baik yang ia maksudkan adalah memiliki kehidupan yang mapan dan keberlimpahan dunia.

Saat itu ia tengah meratapi nasib. Kesulitan demi kesulitan hidup mendera. Ia merasa kawan-kawan seperjuangan tak mendukung dan memberi apa-apa. Ia gelisah waktu itu. Berada di persimpangan. Meski saya tahu arahnya, separuh langkahnya sudah menuju jalan keluar dari barisan perjuangan.

Saya katakan dengan lembut. Engkau tidak sendirian. Banyak pejuang yang juga pernah merasakan kegetiran sementara orang lain ada dalam manisnya dunia. Mereka pun pernah hampir tergoda untuk sesali pilihan hidup. Memilih untuk menunda punya ‘apa-apa’ karena sebuah obsesi. Obsesi yang seringkali sulit dipahami logika manusia biasa.

Sejujurnya, pejuang syariah dan khilafah adalah manusia. Mereka pun bisa terpukau melihat insan lain menggenggam dunia yang berkilau. Ketika orang-orang yang kau kenal bertanya; kenapau engkau memilih hidup seperti ini? Mata mereka memandang apa yang kau punya, lalu mereka bandingkan dengan apa yang ada dalam saku mereka, rekening mereka, dan hati mereka. Terkadang nafas seorang hamba Allah bisa tercekat di tenggorokan melihat dirinya sendiri. Ada sedikit perasaan nelangsa di sudut hati yang kering.

Tapi mari ingatlah pesan Sang Pemilik Alam, Penggenggam Segala Kekayaan, karena Dialah Yang Maha Kaya dan Mengayakan hamba-hamba-Nya:

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (QS. Asy-Syura[42]: 20).

Jalan hidup ini memang pilihan. Tak ada yang memaksakan, kitalah yang memilih dengan kesadaran dan kehangatan iman. Maka sang Pemilik Alam akan memenuhi janji-Nya sebagaimana telah Ia firmankan. Maka jangan pernah sesali pilihan hidup ini, karena di ujung jalan ada gerbang kebahagiaan sejati. Telah banyak pejuang sejati yang nyaris tak mendapatkan apa-apa di dunia untuk menggenggam ridlo Tuhan mereka. Bahkan mereka mengorbankan apa yang mereka punya untuk bisa berada di jalan ini.

Syahdan Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah saw. Ia diutus oleh Allah untuk menanyakan keadaan Abu Bakar ra. yang kala itu berada di sebelah sang Nabi. Ia mengenakan jubah yang tak layak disebut jubah, karena hanya sehelai kain panjang yang dibelah dua lalu ia kenakan pada tubuh kurusnya yang menjulang.

Jibril bertanya kepada Rasulullah saw., mengapa pakaian itu yang dikenakan oleh Abu Bakar. Tentu sebuah pertanyaan retoris karena Allah telah tahu jawabannya. Sang Nabi menjawab hal itu dilakukan Abu Bakar karena semua hartanya telah dihabiskan sebelum penaklukkan Mekkah.

Jibril lalu berkata, “Katakan padanya, duhai Muhammad; ‘Rabbmu menanyakan kepadanya ‘apakah ia ridlo kepadaKu dengan kefakirannya ataukah ia marah?’.”

Rasulullah saw. meneruskan perkataan Jibril kepada Abu Bakar. “Duhai Abu Bakar, ini Jibril membacakan salam untukmu dari Allah Ta’ala, dan Dia berkata, ‘Apakah engkau ridlo kepadaKu dalam kefakiranmu, ataukah engkau marah?’.”

Abu Bakar terhenyak mendengar ucapan Rasulullah saw. Sambil bercucuran air mata ia menjawab, “Apakah kepada Rabbku aku marah? Aku ridlo pada Rabbku, aku ridlo pada Rabbku.”(Hilyatul Auliya, juz &, hal 105, Maktabah asy-Syamilah).

Janganlah ratapi apa yang sedang kita dapatkan hari ini, lalu mata terpaku pada apa yang orang lain punya. Apa yang kita punya saat ini hanyalah sementara, bukan sebenarnya kepunyaan kita. Di sisi Allah jualah sebenarnya yang kita minta.

Siapa yang menginginkan bagiannya di dunia, maka akan Allah berikan bagiannya tapi tak ada untuknya di akhirat. Tapi siapa yang menginginkan bagian di akhirat, akan Allah tambahkan bagiannya. Allahu Akbar! Belum cukupkah janji Allah itu menggetarkan hati kita?

Sungguh yang dicemaskan para waliyullah, para salafus sholeh, adalah ketika rizki mereka berlipat-lipat di dunia, dan bukan sebaliknya. Rasa takut menjalar ke pembuluh darah mereka, khawatir keberlimpahan ini adalah istidraj dari Allah, bukan nikmat yang sebenarnya.

Kawan saya itu saya temui sekarang dalam keadaan yang berbeda. Saya tak melihat kesegaran dan cahaya benderang yang dulu saya lihat padanya. Ia nampak kusam. Ketika saya tanyakan dunianya, ternyata juga tak jua beranjak dari keadaan saat masih berjuang. Tetap sama.

Ah, andaikan ia mau bersabar dan merenung, ia akan paham, bahwa keadaannya jauh lebih mulia di sisi Rabbnya saat berada dalam perjuangan. Andaikan ia ridlo dengan qodlo Allah, bersabar, dan tetap berjuang, pasti Allah muliakan kedudukannya.

Barakallahu fiikum Akhwatifillah.

Cinta Karena Allah

Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Dari ‘Ali dari Rasulullah s.a.w. yang bersabda: “Ada enam kebaikan dalam interaksi antara muslim dengan muslim : Mengucapkan salam bila bertemu, mendoakan kalau dia bersin, mengunjungi kalau sakit, memenuhi undangan kalau diundang, menjadi saksi (mengiring) kalau dia meninggal, serta mencintainya seperti mencintai diri sendiri dan menasihatinya.” (H.R. Ahmad).

Jika kalian mencintai saudara kalian, bentuk ekspresi paling sederhana tentang perasaan adalah mengungkapkan. “Aku mencintai kalian karena Allah.”

Mencintai tanpa alasan rasanya akan sulit, yaa karena yang namanya cinta pasti ada sesuatu yang mendorong dari luar maupun dalam, Gharizah Na'u namanya, adalah salah satu naluri yang pasti dimiliki setiap insan. 

Semoga ini akan menjadi hujjah di hadapan Allah bahwa aku pernah berjalan bersama orang-orang yang dicintai karena Allah, bergandengan dan menjadi bagian dari cinta kalian hingga menyebabkan cinta itu kian tumbuh.

Semoga kalian, sahabat ku mampu memberikan syafaat kelak di hari akhir saat tak ada lagi naungan kecuali naungan dan syafaat dari sahabat" dan amal kita. 


Prihatiningsih, S.Si., Seorang Pendidik

The Power of Istighfar

Oleh : Syaiful Anshor

Pagi ini saya melihat tadabbur ayat Al-Quran yang disampaikan gurunda, ustaz Bachtiar Nashir. Tadabbur ini disiarkan oleh stasiun TV Saling Sapa. Temanya tentang istighfar. Dampak istighfar, kata ustaz Bachtiar sangat luar biasa.

Ketika Hasan Al Bashri ditanya oleh tiga orang dengan berbagai macam masalah hidup, jawabannya cuma satu: istighfar. Masalah tidak punya anak (mandul), istighfar. Masalah kemarau dan kekeringan, istighfar. Masalah ekonomi atau gagal karier, istighfar.

Hampir semua problem hidup solusinya istighfar. Bukan ustaz Bachtiar Nashir kalau tidak mengaitkan materi ceramahnya dengan ekonomi, dan politik. Bangsa yang tidak mau beristighfar ekonominya akan sulit. Para politisi yang tidak beristighfar kondisi politiknya tidak akan stabil.

Istighfar itu menentramkan. Bersebab dia mengakui segala kesalahan dan meminta agar Allah mengampuni dosa-dosa yang dilakukan. Bukan sekadar istighfar, tetapi juga berusaha menjadi orang baik yang tidak mengulangi kesalahan.

Karena itu, istighfar bukan lip service. Tapi dijiwai, dirasakan, dan diamalkan. Baru ampunan Allah dan pertolongan-Nya datang. Proses mengakui kesalahan dengan ekspresi verbalistik istighfar ini cara menjernihkan dan mensucikan hati.

Sebaliknya, orang yang tidak beristighfar, hidupnya tidak akan tentram dan tenang. Sebab, hatinya kotor dan terhalang cahaya Ilahi. Hatinya pasti selalu diliputi gundah gulana, dan kegersangan jiwa. Kenapa?  Karena dia menikmati dosa dan kesalahan yang dilakukan.

Syaiful Anshor, Penulis Buku, tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur

Ungkapan Cinta, Nabipun Mencontohkannya

Oleh : Cahyadi Takariawan

Nabi Saw mengungkapkan cinta dengan bahasa verbal kepada Aisyah:

“Aku bermimpi melihatmu di dalam tidur. Engkau dibawa oleh malaikat dengan sepotong kain sutra yang sangat bagus. Lalu malaikat itu berkata kepadaku, ‘Ini (calon) istrimu. Setelah aku buka kain itu, tampaklah wajahnya, dan ternyata adalah engkau.’ Maka aku berkata, ‘Kalau hal ini dari sisi Allah pasti akan terlaksana’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ungkapan verbal Nabi Saw dalam hadits di atas menunjukkan unsur pujian dan sanjungan kepada istri beliau, Aisyah r.a., “Engkau dibawa oleh malaikat dengan sepotong kain sutra yang sangat bagus.”

Kalimat indah seperti ini jelas membuat sang istri bahagia karena merasa dicintai oleh suami.

Selain verbal, cinta perlu diungkapkan dengan nonverbal.

Senyuman, belaian sayang, kemesraan hubungan, wajah ceria, intonasi kalimat yang lembut, dan mimik muka ceria adalah contoh ungkapan nonverbal.

Semestinya tidak boleh ada pertentangan antara ungkapan verbal dengan bahasa nonverbal yang dimunculkan. Suami yang senantiasa bersikap lembut dengan istri, banyak belaian dan senyuman, akan senantiasa menenteramkan hati istri.

Suami yang mengatakan ”I love you” namun sambil menampar wajah istrinya adalah sikap paradoks. Yang akan lebih terasakan oleh istri adalah sakitnya ditampar wajah, bukan kemesraan ucapan ’I love you’.
.
Maka suami hendaknya berusaha menghadirkan cinta dengan tindakan nyata, tidak hanya dengan kata-kata.

Bentakan, pukulan, tamparan, tendangan suami kepada istri jelas bukan tindakan yang bisa dirasakan sebagai cinta.

Teladanilah Nabi mulia Saw. Beliau pandai membahagiakan istri .


Sumber : IG Cahyadi_Takariawan

Dampak Negatif Jika Anak Merasa Orangtuanya Pilih Kasih


Sumber : www.sekolahdasar.net

Seringkali orangtua yang memiliki anak lebih dari satu memperlakukan anaknya secara tidak adil atau istilah lainnya adalah pilih kasih. Jika hal ini terus saja dilakukan, maka dampak negatif orangtua pilih kasih pada anak bisa sampai ia dewasa. Ada beberapa dampak negatif yang bisa terjadi pada anak jika merasa orangtuanya pilih kasih. Mari kita ulas perlahan-lahan. 

Orangtua mempunyai kasih sayang kepada anaknya tidak terbatas. Apalagi jika orangtua mempunyai anak dengan jumlah lebih dari satu. Setiap orangtua selalu berusaha untuk memberikan perlakuan kepada semua anaknya dengan adil. Namun, ada juga sebagian orangtua yang sengaja memperlakukan anaknya dengan cara yang berbeda atau tidak adil. 


Hal tersebut bisa membuat anak menjadi berfikir bahwa orangtua mereka pilih kasih. Dampak negatif orangtua pilih kasih ini bisa membuat anak trauma hingga ia dewasa. Perasaan orangtua yang lebih menyukai anak tertentu akan membuat anak berperilaku demikian juga secara tidak sadar ketika kelak menjadi orangtua. Faktor Penyebab Orangtua Pilih Kasih pada Anak 

Orangtua menjadi pilih kasih terhadap anaknya bukanlah tanpa penyebab. Ada salah satu faktor yang menyebabkan orangtua memperlakukan anaknya secara demikian adalah karena sedang mengalami kondisi stres. Orangtua bisa saja berperilaku tidak adil secara tidak sengaja ketika pikirannya sedang kacau. 


Jika hal tersebut terjadi, maka bisa membuat mereka tidak dekat dan menimbulkan keretakan antara saudara kandung. Perasaan perpecahan serta keterasingan bisa berlanjut sampai anak menjadi dewasa. Jadi, dalam keadaan apapun sebisa mungkin orangtua memperlakukan anaknya secara adil. 

Pilih Kasih Pilih kasih yang dilakukan oleh orangtua terhadap anak bisa terjadi karena beberapa hal. Bisa karena proses kehamilan, fisik anak, harapan orangtua terhadap anak, temperamen anak maupun berbagai hal lainnya. 

Dampak dari orangtua yang pilih kasih terhadap anak tidak bisa dianggap sepele dan remeh. Bahkan bisa berisiko menghancurkan anak. 

Beberapa dampak negatif pada anak jika merasa orangtuanya pilih kasih: 

Anak merasa tidak disayangi oleh orangtua. 
Padahal sebagai seorang anak sangat membutuhkan yang namanya kasih sayang. 

Anak menjadi kurang nyaman berada di tengah keluarga dan bingung hendak menceritakan masalahnya ke siapa. Padahal sangat penting bagi orangtua mengetahui masalah apa yang sedang dirasakan oleh anak. 

Anak merasa tidak berharga ataupun tidak penting. Hal ini akan membuat anak menjadi tidak mensyukuri apapun yang dimilikinya. Ia akan tumbuh menjadi anak yang pesimis dalam menjalani hidup. 

Pada saat anak membandingkan hidupnya dengan teman-temannya akan membuatnya menjadi merasa kurang puas dengan hidupnya. 

Anak akhirnya bisa saja mengalami kondisi depresi dan menjadi anak yang pemarah. Selain itu anak juga akan diliputi oleh perasaan kecemburuan dan kebencian. 

Anak mungkin akan mengalami kecemasan serta perasaan tidak aman hingga ia menjadi dewasa. Kecemasan tersebut bisa saja malah membuatnya berfikiran bahwa semua orang sama saja, pilih kasih terhadap dirinya dan tidak menyayanginya. 

Sikap pilih kasih bisa menimbulkan adanya perselisihan antara orangtua dengan anak. 

Anak lebih mungkin mengalami masalah pada kesehatan mental daripada saudaranya yang memperoleh perlakuan lebih baik dari orangtuanya. 

Jadi, janganlah Anda pilih kasih terhadap anak. Perlakukan dan sayangi semua anak Anda secara adil. Jangan sampai karena Anda lebih menyukai anak tertentu malah membuat anak Anda yang lainnya menjadi pribadi yang tidak baik. Jangan sampai dampak negatif orangtua pilih kasih di atas terjadi pada anak Anda.

Sumber: https://www.sekolahdasar.net/2019/06/dampak-negatif-jika-anak-merasa-orangtuanya-pilih-kasih.html

Agar Istri Tak Futur Berdakwah




Oleh: Ustadz Iwan Januar

Agama itu nasihat. Begitulah sabda Nabi SAW. Artinya setiap muslim – termasuk muslimah – membawa kewajiban untuk saling memberikan nasihat. Termasuk istri-istri kita. Selain berperan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, seorang muslimah adalah da’iyyah bagi umat. Partisipasi mereka dalam membangun dan menyelamatkan umat amat ditunggu.

Allah SWT. memberikan sifat orang-orang beriman lelaki dan perempuan sebagai kelompok manusia yang gemar beramar maruf nahiy munkar. FirmanNya:

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana(TQS. at-Taubah: 71)

Bukan hal yang baru bagaimana kaum perempuan sudah banyak menorehkan tinta emas dakwah tauhid ini di muka bumi. Di masa Fir’aun ada Asiyah dan Masyitoh, dua wanita mulia penegak kalimat tauhid di era dakwah Nabi Musa as. Tak ada yang meragukan ketegaran iman dua perempuan agung ini.

Di masa Rasulullah SAW. ada Khadijah binti Khuwailid ra. yang dengan kematangan emosionalnya, kecerdasannya bahkan hartanya, digunakan untuk menjaga dakwah suaminya tercinta, Rasulullah SAW.

Lalu ada Fatimah binti Khaththab ra. yang berhasil mengantarkan hidayah pada kakaknya, Umar bin Khaththab ra., meski saat itu Fatimah sudah babak belur akibat pukulan demi pukulan dari kakak kandungnya itu. Tak sia-sia, karena kemudian kakaknya menjadi sahabat mulia dan salah satu dari Khulafa ar-Rasyidin.

Ada Sofiyah binti Abdul Muthalib ra. yang dengan kekuatan bujukannya bisa mengantarkan kakak kandungnya, Hamzah bin Abdul Muthalib yang kala itu belum masuk Islam, mau menolong Nabi yang tengah disiksa kaum kafir Quraisy. Bujukan itu ternyata juga membuat Hamzah memeluk Islam dan menjadi Singa Padang Pasir yang disegani kaum kuffar.

Tak ada alasan bagi muslimah untuk tak berdakwah. Juga tak pantas para suami membuat-buat alasan untuk menghalangi dakwah istri-istri mereka. Allah Ta’ala sudah membagi waktu untuk setiap muslim; waktu untuk ibadah, waktu untuk dunia, waktu untuk keluarga, dan juga waktu untuk berdakwah. Seorang istri juga punya kewajiban mengemban amanah dakwah.
Namun ada kalanya istri yang awalnya – atau sejak gadis – giat berdakwah mengalami fase futur. Menghentikan kegiatan dakwah bahkan kemudian hilang sama sekali dari amal yang mulia ini.

Sebagai suami, semestinya peka dengan kondisi demikian. Ini bukanlah keadaan yang positif, apalagi bila melihat istri dalam keadaan lapang, tak ada uzur syar’iy. Meski mungkin ada sisi yang dirasa menguntungkan suami, yakni istri jadi sering di rumah. Namun, bagaimana dengan kegiatan dakwah yang membutuhkan peran perempuan? Bukankah itu juga kewajiban?

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan suami agar istri dapat terlepas dari fase futur berdakwah:

PERTAMA, ingatkan lagi akan kewajiban dakwah, kewajiban menuntut ilmu, dan betapa umat membutuhkan kehadiran para da’iyyah. Ingatkan bahwa pernikahan yang dibangun bersama diantaranya karena komitmen pada dakwah. Sampaikan dengan halus dan hati-hati karena tabiat perempuan yang seperti kaca dan tulang rusuk yang bengkok.

KEDUA, adakalanya istri sudah kelelahan dengan aktifitas di rumah sehingga berdampak pada berkurangnya aktifitas dakwahnya. Dalam keadaan ini maka bantulah meringankan tugas rumah tangga istri; bila ada rizki berlebih maka belilah mesin cuci, mempekerjakan khadimah, dan tak mengapa sesekali suami membantu pekerjaan rumah tangga termasuk mengasuh anak. Itu tak akan mengurangi kewibawaan suami di mata Allah SWT.

KETIGA, cobalah suami juga introspeksi diri. Jangan-jangan suamilah penyebab istri futur dalam berdakwah. Ya, ada suami yang ketat dalam mengatur kegiatan istri, termasuk melarang istri beraktifitas di luar. Benar, suami wajib ditaati, dan besar pula fadilah istri yang menaati suami, namun disinilah suami perlu merenungi lagi; bahwa istri pun punya kewajiban menuntut ilmu dalam majlis ta’lim dan juga kewajiban menyampaikan ilmu pada sesama muslimah. Dengan memberikan izin pada waktu tertentu tidak akan mengurangi ketaatan istri pada suami. Apalagi bila ternyata di rumah istri pun tak ada kegiatan selain hanya nonton televisi belaka.

KEEMPAT, Tetap jaga dan bantu kegiatan istri dalam berdakwah. Bagaimanapun suami adalah pemimpin dalam keluarga. Bila dirasa ada kegiatan dakwah yang menelantarkan kewajiban di rumah, membuat istri jadi memprioritaskan agenda di luar rumah ketimbang keluarga, sudah semestinya suami mengingatkan. Membiarkan istri menelantarkan kewajiban pada suami dan anak-anak adalah dosa. Bantu istri untuk menata prioritas amal.

Amal sebagai ibu dan pengatur rumah tangga tetap nomor satu, dakwah bisa berjalan bersama dengannya. Adakalanya muslimah kecanduan dengan kegiatan di luar rumah, bahkan seolah dakwah jadi ‘karir terselubung’, hingga akhirnya merusak keharmonisan rumah tangga. Anak-anak tak terjaga keimanannya dan akhlaknya, bahkan akhirnya membenci dakwah ibunya. Sedangkan suami kesal karena istri menjadi membangkang akibat merasa statusnya sudah tinggi karena dibutuhkan umat. Andai suami membiarkan hal ini terjadi maka ia berdosa. Dan muslimah yang tak cepat menyadari bahaya ini, ia akan terperosok dalam kemungkaran. Wal iyyadzu billah[]
------------
https://www.facebook.com/Dunia-Parenting-754865644854443/

Optimalkan Pribadi Anak di Usia Tamyiz

Oleh: Iwan Januar 

Pola pendidikan anak dalam Islam memang berbeda dengan pola pendidikan selain Islam. Dalam agama kita, ada prinsip pendidikan yang disebut masa mumayiz pada anak. Hal ini tidak dikenal dalam sisteaam pendidikan manapun.

Dalam pendidikan sekuler misalnya, hanya dikenal masa anak-anak lalu remaja dan dewasa. Sedangkan dalam Islam ada satu keadaan dimana anak belum mencapai usia aqil baligh, tapi ia telah memiliki sejumlah kecerdasan sehingga disebut sebagai anak yang mumayiz.

Mumayiz berasal dari kata mayyaza yang berarti membedakan sesuatu dari yang lain. Adapun pengertian mumayiz dijelaskan oleh Prof. DR. Rawwas Qal’ahji dalam bukunya, Mu’jam Lughah Lil Fuqaha, sebagai anak yang belum balig yang bisa membedakan antara bahaya dan manfaat.

Mengenai usia anak masuk usia mumayiz memang menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun kami ketengahkan pendapat Imam an-Nawawi yang berpendapat; “Anak yang mumayiz adalah yang telah memahami khitob (seruan hukum Islam) dan menjawab, tidak ditentukan dengan usia melainkan dengan perbedaan pemahaman (lihat an-Nawawi, Tahrir Alfadz at-Tanbih, hal. 116, bab Haji).

===

Oleh karena itu orang tua harus cermat melihat perkembangan putra-putrinya, apakah mereka sudah terkategori mumayiz ataukah belum. Bila anak-anak kita sudah memahami tatacara shalat, misalnya, atau aturan shaum Ramadhan, juga batasan aurat, itu menjadi indikasi bahwa mereka sudah masuk kategori mumayiz.

Pada masa mumayiz, sudah saatnya orang tua mengembangkan lagi kemampuan anak sebagaimana tuntunan syariat. Hal ini penting karena pada masa itu akal anak tengah menuju kesempurnaan sebagai orang dewasa. Sel-sel otaknya sudah siap untuk belajar lebih tinggi lagi dibandingkan anak balita.

1. PEMBELAJARAN AGAMA LEBIH INTENS.

Di fase tamyiz anak sudah bisa memahami banyak hal. Selain menghafal ayat al-Qur’an, ananda juga mulai dapat diberikan pemahaman kandungan al-Qur’an seperti ketentuan halal-haram, batasan aurat, pergaulan pria-wanita, dsb. Mulailah untuk menanamkan pemahaman agama lebih dalam lagi pada anak tentu dengan tetap memperhatikan bahasa pengantar yang mudah ia mengerti.

Misalnya orang tua mulai bisa menerangkan Islam sebagai agama sempurna, tujuan hidup kita adalah mardlotillah, kewajiban melaksanakan syariat Islam, dsb.

===

2. KENALKAN DENGAN SOSOK ORANG SOLEH

Dan bandingkan dengan musuh-musuh Allah subhanahu wa ta'ala. seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dll., agar tergambar perbedaan kebaikan dan keburukan padanya. Berikan gambaran manusia yang dekat dengan Alah subhanahu wa ta'ala. sebelum memberikan gambaran tokoh umum semisal pengusaha, ilmuwan, dsb.

===

3. BERLATIH UNTUK MANDIRI

Para ulama bersepakat bahwa saat sudah memasuki fase mumayiz, maka anak sah untuk melakukan berbagai muamalah pada batas tertentu. Misalnya jual-beli dalam jumlah tertentu, menitipkan pesan, menjaga adik, dsb. Di fase ini mulailah melatih kemandirian anak juga tanggung jawab sesuai kadar kemampuan mereka. Latihan ini amat penting untuk persiapan mereka memasuki masa pubertas/aqil baligh.

===

4. TINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI

Tingkatkan kepercayaan diri pada anak seperti bicara di depan saudara-saudaranya, di depan kelas, memimpin teman-teman di sekolah. Bahkan mazhab Imam Syafi’i membolehkan anak yang sudah tamyiz untuk mengimami shalat orang dewasa.

Pendapat ini disandarkan pada hadits shahih riwayat Imam Bukhari, bahwa salah seorang sahabat yang masih kecil, Amr bin Salamah ra., pernah mengimami kaumnya shalat berjamaah. Hal itu karena Amr bin Salamah yang berusia tujuh tahun punya hafalan lebih banyak dibandingkan kaumnya. Maka ia pun menjadi imam shalat.

Dalam kitab Subulus Salam dijelaskan lagi;

عَمْرُو بْنُ سَلِمَةَ أَدْرَكَ زَمَنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ يَؤُمُّ قَوْمَهُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ لِأَنَّهُ كَانَ أَقْرَؤُهُمْ لِلْقُرْآنِ

“Amru bin Salamah ra. pada zaman Nabi ﷺ mengimami kaumnya karena ia yang membacakan al-Qur’an pada mereka.”

===

5. JAUHKAN DARI KONTEN NEGATIF

Jauhkan dari konten negatif seperti pornografi, tahayul, kekerasan, dsb. Sebagaimana anak yang telah tamyiz cepat merespon kebaikan, demikian pula halnya terhadap konten negatif. Anak-anak di usia ini cepat dalam menduplikasi dan mencerna konten-konten negatif.

Karenanya orang tua wajib menjaga adab tutur kata dan pergaulan bersama keluarga, menjaganya dari pergaulan negatif kawan-kawannya, termasuk melindungi anak dari tayangan negatif dari bacaan, televisi dan internet. Minimalisir kebolehan menonton tv apalagi menggunakan ponsel berinternet, karena mereka rentan terkontaminasi konten negatif dan dapat menimbulkan kecanduan.

===
Sumber: https://www.iwanjanuar.comhttps://www.iwanjanuar.com 

Anak Sukses Berawal dari Bangun Pagi

Oleh : Ust. Bendry Jaysurahman

1| Perbaikan kualitas generasi selayaknya
dimulai dgn kebiasaan bangun di pagi hari. Sebab generasi unggul bermula dari pagi yg masygul (sibuk)

2| Kebiasaan bangun pagi hendaklah dimulai dari usia dini. Peran Ayah amat dinanti. Ayah yg peduli tak abai dalam urusan bangun pagi buah hati

3| Jika anak terbiasa bangun siang. Maka keberkahan hidup melayang. Aktivitas ruhani menjadi jarang. Perilaku menjadi jalang

4| Mulailah dengan malam yang berkualitas. Anak tidak terjaga di ambang batas. Harus buat peraturan tegas. Kapan terjaga dan kapan pulas.

5| Sehabis isya jangan ada aktivitas fisik berlebihan. Upayakan aktivitas yang
menenangkan. Membaca atau bercerita yg berkesan

6| Biasakan berbagi perasaan. Mulai dengan cerita aktivitas harian. Evaluasi jika ada yang
tidak berkenan. Sekaligus sarana pengajaran

7| Buat kesepakatan bangun jam berapa. Lantas anak mau dibangunkan bagaimana. Jadikan ini sebagai modal membangunkan di pagi harinya Tutuplah aktivitas malam dengan dengarkan tilawah. Agar anak tidur membawa kalimat Allah Pemberi Rahmah. Terekam dalam memorinya sepanjang hayah

9| Pagi pun datang. Jalankan kesepakatan yang dibuat sebelum tidur menjelang. Bangunkan anak penuh kasih sayang. Bangunkan dengan cara yg ia bilang

10| Jika anak menolak tuk beranjak, ingatkan akan kesepakatan semalam. Anak siap terima konsekuensi tanpa diancam. Batasi kesenangan yg ia idam

11| Bangunkan anak dengan kalimat Ilahi. Agar paginya diberkahi. Jika perlu adzan di telinga kanan dan kiri. Bisikan dengan lembut tembus ke hati

12| Jika ia segera bangun, jangan lupa apresiasi. Hadiahi dengan doa dan kecupan di pipi. Tak lupa bertanya tentang mimpi. Anak butuh transisi

13| Jika anak telah terjaga, siapkan aktivitas olah jiwa dan raga. Agar fisik anak bergerak tak kembali ke kasur yg menggoda. Mudah-
mudahan jadi pola

14| Jalankan pola ini minimal 2 pekan. Agar lama-lama jadi kebiasaan. InsyaAllah anak
bangun pagi dengan kesadaran. Sebab tubuhnya telah menyesuaikan

15| Jika ayah tak sempat membangunkan, karena harus segera ke kantor kejar setoran, mintalah ibu berganti peran. Agar anak tak merasa diabaikan

16| Jangan sampai anak tumbuh remaja, punya kebiasaan yang tidak mulia. Bangun pagi selalu tertunda. Sholat shubuh di waktu dhuha. Banyak melamun tak ada guna

17| Jika terlanjur anak bangun kesiangan. Buatlah rencana bersama pasangan. Konsisten dan tidak saling menyalahkan. Fokus kepada upaya perbaikan

18| Sebelum terlambat, segera bertindak cepat. Agar masa depan anak selamat. Fokuslah kepada perbaikan pola tidur yg sehat

19| Jika anak terbiasa bangun pagi sedari dini, itu ciri anak berprestasi. Tak mudah dipengaruhi berbagai pergaulan yg tidak islami

20| So, tunggu apalagi. Jangan cuma bisa marah dan mencaci. Segera bertindak untuk buah hati. Fokuslah kepada bangun pagi.

Semangat beraksi,  Barakallahu fiikum... Aamiin

Ust. Bendry Jaysurahman, Motivator