Memeriksa Iman Kita


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim
Belum tibakah masanya bagi kita untuk belajar memegangi agama ini? Apa yang kita alami belumlah seberapa. Kelak akan ada masa yang semoga Allah ‘Azza wa Jalla selamatkan darinya, masa yang sangat berat, amat jauh lebih berat dibandingkan keadaan kita sekarang. Hari ini kita masih dapat memesan makanan melalui layanan online atau menghubungi kenalan yang jualan. Akan tetapi di masa itu, kelak akan terjadi, orang-orang beriman hanya berharap dapat menegakkan punggung untuk taat kepada-Nya dan menahan nyerinya lapar dengan memuji Allah ‘Azza wa Jalla. Tiap kali lapar yang amat sangat itu mendera, maka ia basahi lisannya dengan membaca “subhanaLlah…. subhanaLlah…. subhanaLlah….” Seraya sungguh-sungguh memuji Allah Ta’ala dan mengharap kasih-sayang-Nya.
Belum tibakah masanya kita untuk kembali menundukkan hati dan jiwa kita kepada agama ini? Atas sebab apakah hati kita begitu keras? Menyeru manusia untuk berlemah-lembut, mengharap orang lain dapat meneduhkan hati, tetapi hati kita keras kepada mereka.
Aku teringat seruan Allah ‘Azza wa Jalla di dalam kitab suci-Nya yang mulia. Allah Ta’ala berseru:
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran, 3: 104).

Tentang apakah ia? Orang-orang dari dua suku yang senantiasa bermusuhan satu sama lain, hampir tak mengenal kata damai. Lalu iman Islam ini masuk ke dalam dada mereka. Allah persatukan hati mereka sehingga mereka layaknya orang yang bersaudara, dan sesungguhnya mereka bersaudara atas dasar iman ini. Padahal sebelumnya hampir-hampir saja mereka terjatuh ke jurang neraka.

Lalu kemanakah iman kita sehingga hati kita begitu kerasnya? Ataukah kita yang tak lagi berpegang teguh kepada tali Allah, sehingga mudah bercerai berai? Mudah lisan membantah dengan bantahan yang mencerca meski ilmu tak seberapa. Mudah pula hati kita goyah sehingga setiap kali ada yang datang membawakan beberapa baris kalimat yang tampak hebat, tak mau kita menengok apa yang dituntunkan agama. Tak sedikit yang menggunakan duga-duga, atau datang dengan membawa berita yang seolah nyata. Padahal bukankah agamamu ini telah mengajarkan agar memeriksa dulu setiap berita yang datang dari orang fasik? Maka apatah lagi dengan berita yang tak jelas asal muasalnya, lebih terlarang lagi mengambilnya sebelum jelas shahihnya.

Belum tibakah masanya bagi kita untuk memeriksa iman kita? Masih adakah meskipun hanya secuil? Atas sebab apakah engkau mengurung diri di rumahmu? Jika engkau tinggal di rumah karena takut kematian, sungguh kematian itu dapat terjadi kapan saja, dimana saja, meskipun di tempat yang paling tersembunyi. Ataukah engkau berdiam di rumah karena besarnya rasa takutmu menyelisihi nasehat para ulama? Jika ini yang terjadi pada dirimu, semoga Allah Ta’ala muliakan hidupmu, limpahkan barakah bagi keluarga dan keturunanmu. Ataukah engkau menahan dirimu untuk tinggal di rumah disebabkan takut menzalimi orang lain dan untuk menjauhkan mafsadat? Jika ini yang menggerakkanmu, semoga Allah ‘Azza wa Jalla terangi hidupmu, keluargamu dan keturunanmu selama di dunia hingga di Yaumil Qiyamah kelak.

Di saat yang sama, aku lihat banyak yang tetap melangkah keluar rumah seperti biasa. Salahkah mereka jika tidak tinggal di dalam rumah, sementara seharian keluar rumah pun kadangkala hanya menguras airmata? Tak ada yang mereka makan. Tak ada yang dapat mereka harapkan, meskipun sekedar untuk mempertahankan hidup, kecuali harus keluar rumah bertarung nyawa demi sesuap nasi. Maka bagi mereka yang memberanikan diri karena tidak ada pilihan lain kecuali harus keluar rumah, semoga Allah ‘Azza wa Jalla berikan penjagaan dan keselamatan dari segala macam fitnah. Semoga pula Allah Ta’ala karuniai keselamatan dan kemuliaan kepada mereka yang tidak bisa tidak kecuali harus keluar rumah karena pada dirinya ada fardhu kifayah sehingga sekiranya ia tidak melakukan, niscaya tidak ada yang dapat bertahan untuk tinggal di rumah saja.

Yang buruk ialah, mereka yang keluar karena meremehkan seraya mengolok-olok seruan untuk tinggal di rumah saja. Baginya tak ada kebaikan. Dan ini bukanlah keberanian. Ini merupakan kesombongan yang beriring sikap meremehkan. Semoga bagi mereka yang seperti itu, segera menginsyafi buruknya sikap yang ada pada dirinya. Ingatlah, sesungguhnya Iblis pada awalnya adalah ahli ‘ibadah. Tetapi ia meremehkan Adam, menyombongkan diri darinya dan menolak tunduk karena merasa lebih baik.
Tak setiap saat ahlul ‘ilmi bersepakat dalam satu pendapat. Itu hal yang biasa terjadi sejauh adab masih dijaga dan penghormatan kepada saudaranya masih dijunjung tinggi. Tetapi ada yang sibuk berbantah-bantahan hanya mengandalkan praduga; persangkaan-persangkaan yang entah datang darimana, atau hanya menyandarkan pada logika yang lemah dan qiyas yang fasid. Ada pula juhala yang lantang menentang para fuqaha. Yang demikian inilah bukanlah termasuk perbedaan pendapat. Ini adalah musibah yang semoga kita dijauhkan darinya sejauh-jauhnya. Sungguh berat tanggung-jawab mereka.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku

Ceritakan PadaNya


Oleh : Rostika Hardiyanti, S.Si.

Ceritakan semua sakitmu kepada-Nya. 

Adakah yang dapat menyembuhkan luka selain Dia?

Bergegas kembali untuk menghamba. Karena kita hakikatnya bukan siapa-siapa tanpa-Nya. 


Segala musibah, semoga hendak membawa kita pada jalan-jalan cahaya kebenaran, gerbang keadilan, dan kemerdekaan iman.

Jika hati terasa hampa, mungkin jeda antara hati seorang hamba dengan Tuhan-Nya terlalu lama. 


Sebelum semuanya berakhir, jangan mengutuk takdir atas segala yang terjadi. Mari melangkah berbenah wahai diri dan bangkitlah untuk berbagi manfaat lebih banyak.
Rostika Hardiyanti, S.Si., Penulis Lepas

Againts Covid-19: Antara Wabah dan Cinta

“JIKA kalian mendengar tentang tho’un (wabah menular) di suatu tempat maka janganlah mendatanginya, dan jika mewabah di suatu tempat sementara kalian berada di situ, maka janganlah keluar karena lari dari tho’un tersebut.” (HR. Bukhari-Muslim)
Prinsip menghadapi wabah yang diajarkan Rasulullah saw tampak jelas dan tegas. Tapi dasarnya adalah cinta. Tanda cinta adalah peduli.
Pesan cinta dalam larangan masuk bagi yang berada di luar area wabah adalah agar dia tidak tertular, sehat dan selamat. Orang yang sakit itu tidak akan dapat menikmati karunia dan kalau sampai mati berarti tidak lagi dapat beribadah.
Dan kalau sudah tertular, pasti akan menulari. Wabah semakin meluas. Karena itu, ”Larilah dari orang yang kena kusta (penyakit menular) sebagaimana engkau lari dari singa,” tegas Nabi saw.
Tidak perlu nekat dan berlagak. Itu bukan bentuk heroism, tapi egoisme yang hanya akan menyulut amarah orang sekitar. Jika amarah berkuasa, maka cinta dan ukhuwah akan melemah.
Sedangkan pesan cinta bagi yang berada di dalam wilayah wabah adalah:
Pertama, agar tidak menulari yang lain. “Jangan membawa onta yang sakit ke kawanan onta yang sehat,” qiyas Nabi saw. Kalau kaidah ini dilanggar, bisa bangkrut dan bubar dari tingkat keluarga hingga negara.
Cinta itu menyatukan, bukan membubarkan. Karena itu dengan keras Rasulullah saw bersabda, “Orang yang lari keluar dari (wilayah) wabah tho’un seperti orang yang lari dari medan pertempuran”. Lari dari medan pertempuran itu termasuk dosa besar.
Kedua, agar yang mampu dan yang sehat menolong yang tidak mampu dan merawat yang sakit. Andai saja diberi kelonggaran pilihan untuk keluar, maka pasti yang merasa mampu dan merasa sehat akan meninggalkan wilayah itu, karena memang tidak ingin tertular.
Sedang yang tidak mampu dan yang sakit akan tetap tertinggal. Yang mampu keluar nanti akan mengatakan, “Seandainya kita tetap di dalam, kita pasti akan tertular.” Sedang yang tidak mampu keluar akan mengatakan, “Andai kita bisa keluar, tentu kita tidak akan tertular”.
Tentu saja hal itu akan membuka peluang bagi setan untuk melahirkan egoism dalam diri yang mampu dan membunuh semangat hidup dalam diri yang tidak mampu. Rasa iri mulai tumbuh. Jika rasa iri semakin membesar, cinta dan ukhuwah melayu.
Ketiga, dalam salah satu haditsnya di atas Rasululllah saw menyamakan prinsip menghadapi wabah ini dengan prinsip berperang melawan musuh. Dalam menghadapi musuh ini ada tiga pilihan sikap yang bisa diambil. Pertama, lari dari medan. Apakah dengan lari ada jaminan untuk selamat ? Tidak. Kedua, menyerah kepada musuh. Apakah dengan menyerah ada jaminan untuk selamat ? Tidak. Ketiga, berjuang sampai ajal menjemput. Apakah pilihan ketiga ini ada jaminan untuk selamat ? Tidak juga.
Tapi pilihan sikap ini penuh kemuliaan. Kalau menang ia dapat memelihara kehidupan atau kalau mati berarti ia mati syahid yang tidak kalah mulianya. Rasulullah saw mengatakan bahwa sesiapa yang tetap bertahan di dalam wilayah wabah, kemudian ia meninggal, atau tetap hidup, maka telah tetap baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mati syahid.
Demikianlah, selalu ada rahmah –cinta-Nya, yang universal untuk seluruh makhluk – dalam setiap tindakan dan putusan-Nya. Rahmah inilah energi yang menggerakkan seluruh alam semesta menuju kesempurnaannya. Dia pun berpesan kepada utusan-Nya : “Dan tidaklah Aku utus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmah bagi seluruh alam.”
Nabi saw kemudian meneruskan pesan cinta ini kepada umatnya dengan berpesan : “La dharara wa la dhirara” – Jangan meminta bahaya dan jangan memberi bahaya.
Dalam kasus wabah ini kita dapat mengadopsi pesan cinta itu dengan mengatakan kepada orang-orang sekitar kita: “Jangan minta ditulari dan jangan menulari”. Agar kehidupan tetap sehat dan lestari.
Sesiapa yang mencintai mereka yang ada di bumi, maka dia akan dicintai mereka yang ada di langit. Wallahu’alam bishshawab. (Sumber: Posdai.or.id)

Melubangi Kapal Kehidupan

Oleh : Fahmi Salim

Al-Quran pernah menceritakan kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam, yang melebungi perahu yang dinaikinya.
فَانْطَلَقَاۗ حَتّٰٓى اِذَا رَكِبَا فِى السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَاۗ قَالَ اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَاۚ  لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا اِمْرًا
Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?” Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar.” (QS: Al-Kahfi: 71)
Dalam konteks saat ini, kita pun tak tahu, penyebaran wabah Covid-19 ini begitu cepat. Semua rencana manusia berubah total seketika. Bursa saham rontok. Ekonomi global kolaps. UKM terimbas perlambatan ekonomi, industri pariwisata dan kuliner tertekan, Ketahanan nasional hancur dibuatnya.
أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَٰكِينَ يَعْمَلُونَ فِى ٱلْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا
“Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut, aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu.”  (Qs: Al-Kahfi [18]: 79).
Takdir Pertama, ketika Musa dan Khidir menaiki perahu, takdir itu seolah-olah mengatakan bagaimana nanti kalau dalam perjalanan hidup Allah berkuasa untuk melubangi atau mencederai perahu kehidupanmu?
Artinya, tidak mesti perahu kehidupan kita ini selalu berjalan mulus. Pasti ada cacat. Ada gangguan-gangguan. Bisa jadi juga karena adanya pihak yang zalim.
Hikmah dari pelubangan kapal tersebut adalah, kita harus siap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Di sini ilmu tidak bisa menangkap hal itu.
Ilmu tidak bisa berhadapan dengan fakta dan realitas; bahwa menurut logika, jika kapal itu dilubangi, maka akan bocor dan tenggelam. Itu jika menurut ilmu kita. Namun, menurut takdir yang nanti akan dihadapi itu, pelubangan kapal tersebut harus dilakukan. Jadi, kita tidak harus memandang sesuatu dalam ukuran jangka pendek.
Maka, perbuatan itu harus ada langkah preventifnya. Kita harus sadar—berdasarkan takdir yang disimbolkan oleh Khidhir—bahwa bisa jadi Allah akan “melubangi” kehidupan kita. Itu ada hikmahnya untuk kebaikan kita ke depan. Kita mendapatkan cobaan, tantangan yang besar, kadang membuat kita tersungkur, tetapi hal ini justru membuat kita mau bangkit. Dan ternyata, melubangi perahu itu supaya kita selamat, yaitu selamat dari penjarahan oleh seorang raja yang zalim.
Misalkan saat ini pemerintah dihadapkan pada dilema pilihan yang sulit secara ekonomi menangani pandemi Covid-19:
Pertama, social distancing, murah di depan, tetapi belakangannya bagaimana? Bisa jadi akan jauh lebih mahal. Keselamatan nyawa rakyat jadi korban.
Kedua,  lockdown , mahal di depan (menutup seluruh sentra kehidupan) tetapi murah di belakang. Nyawa rakyat bisa diselamatkan. Dan lebih memberikan kepastian. Keselamatan manusia harus lebih diutamakan, karena jika manusia binasa tak ada perekonomian yang bisa diselamatkan.
Takdir Kedua, tentang Nabi Khidhir yang mebunuh anak kecil tak berdosa. Ini sesungguhnya berbicara tentang kematian. Mengapa setiap yang bernyawa selalu takut dengan kematian? Mengapa yang hidup—kadang—tidak terima dengan yang namanya kematian?
Saat keluarga kita ada yang meninggal, anak kita dicabut nyawanya, tetangga kita terbunuh, terkadang muncul sikap tidak terima dengan kenyataan yang ada sehingga terus meratapi dan menyesali. Makanya, ada satu tindakan yang dikecam oleh Rasulullah ﷺ yaitu tindakan jahiliyah, berupa meratapi mayat yang sudah meninggal dunia, merobek-robek baju, menyayat-nyayat tubuh, menampar-nampar pipi, dan sebagainya. Meratapi orang yang mati tidak diperbolehkan karena merupakan simbol menolak takdir yang telah ditetapkan Allah Swt.
Saat pandemi Covid-19 menyerang dunia dan juga Indonesia, tidak sedikit korban nyawa berjatuhan baik itu masyarakat, pejabat pemerintah, ataupun paramedis. Banyak anak yang kehilangan ayah/ibunya, suami kehilangan isterinya, isteri kehilangan suaminya, dsb.
Kematian yang tak terduga, merenggut semua bentuk kelezatan dan kenikmatan. Banyak yang tertegun sedih, bahkan untuk menyalatkan jenazah kawan atau keluarga sendiri harus dengan shalat ghaib.
وَأَمَّا ٱلْغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَآ أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَٰنًا وَكُفْرًا
Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orangtuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orangtuanya kepada kesesatan dan kekafiran.” (QS: Al-Kahfi [18]: 80)
Pada ayat di atas dikatakan hikmah membunuh anak kecil yang dianggap tidak berdosa. Kalau kita artikan dalam perspektif personifikasi takdir, sebenarnya bukan Nabi Khidhir yang membunuh, melainkan kehendak Allah untuk mencabut nyawa anak itu.
Khidhir hanya sebagai wasilah, yaitu melalui tangannya. Allah berkehendak untuk mencabut nyawa anak tersebut karena Allah mempertimbangkan kedua orang tuanya adalah orang yang beriman. Khawatir jika anak tersebut tadi tumbuh menjadi dewasa, justru dia akan menyengsarakan dan menyulitkan orang tuanya; akan menyusahkan orang tuanya di dunia dan akhirat. Karena itulah Allah menggantinya dengan anak yang lebih baik dan lebih shalih. Wallahu a’lam.
Demikian pula Covid-19  dia hanyalah alat. Hanya Allah-lah yang berkehendak mencabut nyawa orang yang kita cintai. Kita tidak tahu kapan, di mana dan bagaimana rencana Allah itu diwujudkan.
Kepada anak yang kehilangan ayahnya, atau orang tua yang kehilangan anaknya, Nabi Muhammad ﷺ: “Wabah Tho’un adalah mati syahid bagi setiap Muslim.” (HR. Bukhari-Muslim).
Saudaraku, kematian itu kepastian yang pasti kita alami (QS. Al-Jumu’ah: 8,  An-Nisa: 78, Alu Imran: 185, Al-Anbiya: 35, Al-‘Ankabut: 57). Kematian adalah gerbang pertama menuju alam akhirat. Kematian adalah haq seperti halnya akhirat, Surga dan Neraka itu haq. Ajal kematian tak menunggu harus sakit lebih dulu atau usia lanjut.
Sebagaimana ia tak membedakan kelas sosial. Orang kaya pasti mati, orang miskin juga. Penguasa pasti mati, rakyat jelata juga. Jangan risaukan kematian yang sudah pasti, namun risaukan diri kita dengan cara seperti apa kita akan mati kelak? Membawa bekal apa untuk menghadap Allah nanti? Akankah kita husnul khatimah atau malah su’ul khatimah? Mati dalam keadaan taat atau sedang maksiat? Itu semua tergantung tekad dan ikhtiar kita untuk memperbaiki hati dan amal.
ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ
”(Allah) Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS: Al-Mulk: 2).
Mahluk Lemah
Dengan pandemi global Covid-19 manusia disadarkan bahwa kekuatan manusia tak ada apa-apanya di hadapan makhluk Allah yang super kecil. Ia mampu menggoncang tatanan kapitalisme global. Virus ini sanggup menghentikan roda kehidupan dunia yang telah rapuh, dan menyingkap kepalsuan para pemimpin dunia dengan vulgar. Ia berhasil mengembalikan manusia kepada fitrahnya, yang menghamba dan berharap kepada Allah ta’ala sebagai tempat bersandar.
Itulah gambaran bahwa sebenarnya ada hikmah di balik takdir Allah. Di awal mungkin kita dibuat susah, membahayakan, begitu keras angin menerpa kita, cobaan—baik dalam rumah tangga maupun kehidupan bermasyarakat—tetapi kita harus mengambil langkah-langkah yang tepat meski dirasakan ekstrim. Ini perlu dilakukan agar ke depan justru kita akan lebih kuat.
Maha benar firman Allah,
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
”….tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS: Al-Baqarah: 126). Wallahu a’lam.
Saudaraku, Jangan pernah meratapi kematian karena pasti ada rahasia yang tidak kita ketahui di sebaliknya. Kita harus kuat menghadapi takdir karena kita percaya bahwa apa yang Allah gariskan terhadap hamba-Nya pastilah yang terbaik. Sungguh, dalam Al-Qur`an disebutkan bahwa Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya sedikit pun. Manusialah yang zalim karena tidak kuasa menyikapi takdir secara bijak.”/Fahmi SalimIG: @ufsofficial 

Kebosanan Perkawinan, Periksa Apa Sebabnya



Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Begitulah dunia, ia sangat sementara. Yang dulu dipuja-puja, bahkan diperjuangkan sekuat tenaga, begitu berlalu masanya akan segera ditinggalkan orang, teronggok tanpa makna. Kehadirannya menjadi beban, kepergiannya memberi rasa senang.
Dunia itu sementara. Maka segala sesuatu yang diikat dengan hal-hal yang bersifat keduniaan alias kesementaraan, ia akan cepat berakhir. Tak sanggup mengikat kuat-kuat hingga ujung hidup kita. Apalagi sampai akhirat.

Kecantikan itu sementara. Kekayaan itu sementara. Ketenaran juga sangat sementara, sebagaimana jabatan itu sementara. Kebugaran sementara, seperti halnya kekuasaan juga sementara. Maka jika engkau menikahinya karena sebab-sebab yang hanya menawarkan kesementaraan, engkau pun menarik perhatian dan meraih kesediaannya berumah-tangga dengan kesementaraan pula, sangat wajar jika usai bulan madu tinggallah bulan-bulan empedu.

Alasan dunia menjadikan sesuatu mudah sirna, meskipun itu amal akhirat. Sebaliknya dunia yang engkau genggam dan perjuangkan dalam rangka akhirat, maka ia menjadi pembuka pintu-pintu barakah.

Maka jika baru beberapa hari di rumah, sebulan pun belum, selalu bersama dengannya telah membuatmu jengah, segera periksa. Jangan-jangan ada yang salah. Boleh jadi yang engkau kira amal akhirat, dunia juga tujuan sesungguhnya. Umrah, haji, puasa maupun shadaqah itu amal akhirat, tetapi jika dunia yang menjadi tujuan, maka akhirat terlepas, sementara dunia belum tentu didapatkan. Mendengarkan istri seraya memperhatikannya, mengenakan wewangian yang ia suka, bercanda dengannya atau berbagai hal yang tampak dunia, jika kita melakukannya sungguh-sungguh dalam menegakkan perintah mempergauli istri dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf), sungguh itu semua mendatangkan kebaikan yang besar dari sisi-Nya serta kebahagiaan sebagai dampaknya.

Tetapi jika kebaikan-kebaikan itu dilakukan bersebab takut kepadanya, bersegera melakukan hal-hal yang menyenangkannya semata agar tidak muncul kemarahannya, atau berbuat baik hanya untuk dapat bersenang-senang dengannya, maka hanya beberapa hari bersama di rumah sudah cukup untuk menciptakan kebosanan yang susah dihilangkan. Padahal semakin tua usia kita akan semakin banyak waktu kita bersamanya. Berdua saja. Meskipun boleh jadi di rumah banyak yang menemani kita.

Bukankah setiap orang pasti mengalami kebosanan perkawinan? Tidak. Jika engkau mengalaminya, bukan berarti setiap orang pasti pernah mengalaminya dengan kadar yang berbeda-beda. Kalau saat ini engkau merasakan kebosanan perkawinan, berhentilah sejenak, periksa apa sebabnya.

Masih belum menemukan jawabnya? Tengoklah tuntunan agama ini. Periksa dengan seksama dan jernih. Tetapi berhati-hatilah dengan apa-apa yang disangka dari agama, padahal sebenarnya tidak ada. Agama hanya menjadi stiker saja. Sementara isi dan ruhnya justru bertentangan dengan agama.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting

Sorga atau Neraka karena Rahmat-Nya


Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi.

Masih malas beribadah dan beramal shalih hanya karena dan untuk-Nya semata-mata?
Andaikan saja semua nikmat Allah yang terdapat dalam tubuh kita membutuhkan minimal satu jam sujud kepada-Nya di setiap harinya agar nikmat-nikmat itu dapat terus melakukan fungsinya, maka di sini kita tinggal memilih antara sujud satu jam dan nikmat-nikmat terus berlanjut atau enggan bersujud dan nikmat-nikmat terputus: jantung berhenti, mata tidak mampu melihat, hati tidak berfungsi, ginjal tidak lagi menyaring cairan-cairan tubuh, tulang punggung tidak lagi memproduksi sel-sel darah, sel-sel tubuh tidak lagi menyedot gula, air seni tertahan, darah tidak beroksidasi, kelenjar-kelenjar berhenti berproduksi, kita tidak bisa mendengar, berbicara, mencium, atau meraba, lambung menolak menerima makanan, otot-otot melemah, dan tidur tidak lagi mau datang.

Kemudian jika kita andaikan seperti itu pada seluruh nikmat yang telah dilimpahkan Oleh Allah kepada kita,sungguh kita akan butuh beratus-ratus, bahkan beribu-ribu jam untuk bersujud kepada Allah setiap harinya untuk menunaikan secuil hak-Nya atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita. Itu baru pinjaman sejumlah itu, bagaimana lagi dengan 'pinjaman' Allah kepada kita, yang di luar kemampuan otak manusia atau lainnya untuk menghitung jumlahnya?

Masihkah menyangka bahwa berbagai amal shaleh yang dilakukan membuatmu merasa akan mendapatkan kedudukan di sisi Allah, membuatmu terasa berhak masuk surga dan mencapai tingkat-tingkatnya yang tinggi?

Padahal jelas-jelas Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan setiap orang, termasuk Beliau sendiri, tidak akan diselamatkan oleh amalnya, kecuali bila Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. (HR Bukhari dan Muslim). Jadi, keselamatan kita dari neraka-Nya dan keuntungan memperoleh surga-Nya bukanlah ganti rugi dari seluruh amal dan kesungguhan beramal yang kita lakukan, melainkan karena rahmat-Nya semata-mata. Semua amal dan kesungguhan beramal tidak akan pernah cukup untuk memenuhi hak syukur satu nikmat-Nya pun dan masih teramat banyak nikmat yang belum dibalasnya dengan syukur.

Ataukah sebaliknya, kita akan terus mengerjakan amal-amal shaleh, lalu memohon ampun kepada-Nya karena meyakini bahwa sebenarnya hak Allah Ta'ala atasnya jauh lebih besar daripada yang telah amal-amal shaleh yang kita lakukan. Jika rahmat dan ampunan-Nya tidak datang menyelamatkan kita, sungguh kita akan celaka. Oleh karena itu, tidak ada yang bisa kita harapkan selain rahmat-Nya dan ampunan (magfirah)-Nya beserta keridhaan-Nya untuk tidak menuntut hak-Nya dan tidak menghisab kita atas dasar nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita (Majdi Al-Hilali, 2006)

رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh (QS An-Naml: 19)

رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" (QS Al-Ahqaf:15)

Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Pimpinan Redaksi Majalah Fahma

Memahami Pola Asuh Anak


Oleh: Indayana Ratna Sari, S.Si.

Menjadi orangtua bukanlah perkara remeh. Ada suatu anugerah dan amanah besar yang harus ditanggung, yaitu anak. Anak adalah amanah dari Allah untuk mereka yang disebut orangtua. Oleh karena itu orangtua mempunyai tanggungjawab yang besar terhadap anak-anaknya. Dalam menjalankan tanggungjawabnya tersebut, orangtua harus memahami kewajiban mereka terhadap anak dan paham bagaimana menjadi orangtua yang baik bagi anak.

Pemahaman orangtua akan kewajibannya terhadap anak kadang perlu untuk selalu disadarkan dan diingatkan. Sebab saat ini banyak orangtua lupa dan melalaikan kewajibannya tersebut. Adapun dalam islam diajarkan hak-hak anak yang wajib dipenuhi oleh orang tuanya adalah pertama, memberikan nama yang baik. Kedua, memilihkan ibu yang baik untuknya. Ketiga, mengajarkan anak Al-Qur’an. Keempat, memberikan nafkah dan makanan yang baik lagi halal. Kelima, Menikahkannya terutama anak perempuan dengan pasangan yang baik.

Hal lain yang harus diperhatikan oleh orangtua ialah memahami bagaimana menjadi orangtua yang baik bagi anak-anaknya. Orangtua yang baik adalah mereka yang paham bagaimana mendidik anak dengan baik, paham dan bijak dalam memilih pola asuh anak sehingga anak merasa dihargai dan dicintai.

Pendidikan yang diberikan oleh orangtua akan berdampak terhadap kepribadian kemudian akan membentuk karakter anak. Oleh karena itu orangtua perlu memahami bagaimana pola asuh yang bijak bagi anak. Menurut penelitian ada 3 pola asuh dominan yang sering dilakukan oleh orangtua terhadap anak, yaitu :

Pertama, pola asuh otoriter, pola asuh yang terlalu menuntut terhadap anak. Pola asuh ini memerankan dominannya peran orangtua terhadap anak, mengkerdilkan peran anak, sehingga anak akan merasa terbatas dalam berbicara dan mengambil keputusan. Sikap otoriter akan mengesankan keegoisan orangtua. Menuntut anak untuk melakukan hal-hal yang diperintahkan orangtua, memberikan aturan-aturan yang memaksa tanpa menanyakan apakah anak bersedia dan senang melakukan hal tersebut justru akan menekan psikis anak. Dampak negatif yang mungkin akan anak alami akibat dari pola asuh orangtua yang otoriter ialah anak akan mudah merasa cemas dan khawatir, kurang mandiri, sulit mengambil keputusan dan sulit untuk bersosialisasi.

Kedua, pola asuh yang permisif. Pola asuh seperti ini memperlihatkan peran orangtua yang kurang terlibat dalam kehidupan anak, sikap orangtua yang dingin, tidak terlalu ingin ikut campur urusan anak, membiarkan anak mengambil keputusannya sendiri tanpa kontrol orangtua, dan membebaskan anak bersikap dan berpikir sesuai kehendaknya sendiri. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi anak yang kurang disiplin karena kurangnya aturan yang diberikan oleh orangtua. Selain itu anak akan bersikap seenaknya  terhadap lingkungan di sekitarnya. Bahkan anak akan tumbuh menjadi anak yang berakhlak buruk karena kurangnya aturan dan longgarnya kontrol dari orangtua.

Ketiga adalah pola asuh yang otoritatif. Pola ini termasuk pola yang bijak, di mana orangtua tidak menuntut dan tidak permisif kepada anak. Orangtua yang otoritatif memerankan peran orangtua yang tidak dingin dan cuek namun juga tidak mengekang dan memaksa. Anak diajarkan bagaimana mengambil keputusan yang baik, anak diberi aturan yang tidak memberatkan, anak didorong untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, diberi hadiah ketika mematuhi aturan yang ditetapkan, anak diarahkan dan diberikan sanksi berefek jera ketika anak melakukan kesalahan dan melanggar aturan yang diberikan..

Maka sebagai orangtua, tentunya kita harus mempersiapkan dan memahami peran kita sebagai orangtua, terutama dalam hal kewajiban sebagai orangtua, dalam hal mendidik dan memilih pola asuh yang bijak bagi anak, sehingga kelak akan tumbuh anak-anak yang berkarakter.||

Penulis : Indayana Ratna Sari, S.SiMahasiswi Pendidikan Kimia Pascasarjana UNY
Foto     : Google 

Menanamkan Konsep dan Sikap Compassion , Perlukah?



Oleh: Netti Ermawati

Berbagai tagline mengenai perundungan di sekolah sangat marak terjadi. Kasus dan kejadian terjadi nyata dalam lingkungan masyarakat maupun sekolah begitu memprihatinkan sehingga menimbulkan kekhawatiran dan ketidakpercayaan para orangtua terhadap keamanan anak-anak mereka. Terpikir dalam benak mereka, bagaimana kualitas dan kapasitas guru dalam menciptakan dan memelihara lingkungan belajar berkualitas tinggi yang mampu mendukung perkembangan anak secara optimal dan nyaman.

Berbagai hasil riset penelitian mengenai perundungan, latar belakang dan dampak terhadap kesehatan mental pada korban perundungan telah banyak dikaji. Dibutuhkan sebuah kerja keras dan komitmen bersama untuk memutus mata rantai fenomena tersebut, sehingga kemudian muncul satu pertanyaan, seberapa besar peranan guru dan sekolah sebagai sebuah lembaga yang mempunyai peranan penting dari keberlanjutan hidup anak-anak kita?.

Mampukah sekolah dan guru menciptakan sebuah konsep compassion sebagai salah satu kontribusi penting dalam mendidik dan mengajar?  Menurut Dalai Lama (1995), compassion adalah keterbukaan terhadap penderitaan orang lain dengan memunculkan komitmen dalam diri untuk membantunya. Konsep pengenalan compassion sangat dibutuhkan bagi anak-anak dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungannya. Sikap yang berdasar pada rasa empati kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Sikap yang diharapkan muncul tidak hanya ketika mereka di lingkungan sekolah namun juga ketika berada di lingkungan masyarakat yang plural dan egois, mereka mampu mempertahankan sikap tersebut dan secara tidak sadar muncul secara alamiah, sikap kasih dan sayang tanpa membedakan  ras, yang pada akhirnya muncul kebutuhan ingin membantu dan menolong.

Konsep compassion adalah sikap yang tidak hanya ditanamkan dalam diri anak-anak namun juga perlu ditanamkan dalam diri guru sebagai seorang pengajar. Model teori prososial mengusulkan bahwa guru yang lebih kompeten secara sosial dan emosional memiliki hubungan suportif dengan siswanya, guru terlibat aktif dalam membuat strategi bagaimana membuat manajemen kelas yang lebih efektif, sehingga mencipatkan hubungan yang nyaman, dan terbuka, hubungan siswa dan guru yang saling mendukung, yang pada akhirnya berdampak pada terciptanya sebuah lingkungan yang mampu  membangun karakter yang penuh empati, dan belas kasih.

Konsep compassion adalah cerminan dari ajaran Islam, sesuai dengan nama lain Allah ar Rahman dan ar Rahim. Perhatikanlah firman Allah berikut ini: “Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (At-Taubah: 117). Konsep compassion ini dapat ditemukan di sekolah, suatu lembaga pendidikan yang dirancang khusus untuk mendidik siswanya dalam pengawasan para pengajar atau guru,  sedangkan guru  adalah pendidik dan pengajar. Sekolah adalah lingkungan kedua setelah keluarga. Seandainya lingkungan keluarga dan sekolah berkolaborasi maka bayangkan seberapa kuat dampaknya pada anak-anak kita, tidak hanya pandai secara intelektualitas, namun juga moral yang tercermin dalam konsep compassion.

Bagaimana Islam memandang konsep compassion? Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin atau rahmat bagi seluruh alam, mengajarkan bahwa kasih sayang tidak hanya berlaku pada manusia, melainkan juga pada hewan, tumbuhan dan lingkungan di sekitarnya. Pernah diceritakan Abu Bakar as Shiddiq berpesan kepada pasukan Usamah bin Zaid,Janganlah kalian bunuh perempuan, orang tua, dan anak-anak kecil. Jangan pula kalian kebiri pohon-pohon kurma, dan janganlah kalian tebang pepohonan yang berbuah. Jika kalian menjumpai orang-orang yang tidak berdaya, biarkanlah mereka, jangan kalian ganggu”. Untuk mewujudkan bentuk kasih sayang dalam Islam, manusia diajarkan untuk melakukan perbuatan yang nyata, salah satunya menerapkan konsep compassion (kasih sayang) dalam mendidik, mengajar, dan berinteraksi sosial.||


Penulis: Netti Ermawati, Penulis Lepas
Foto    : Google 

Membangun Akidah Calon Pemimpin



Oleh: Drs. Slamet Waltoyo

Pemimpin adalah wakil dari anggotanya. Pemimpin umat adalah wakil dari umat. Hal paling menonjol yang dituntut dari seorang pemimpin adalah tanggungjawab. Sebagaimana sabda Rasulullah; “ Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. Maka seorang pemimpin harus kuat. Kuat dalam memegang amanah. Karena kepemimpinan adalah amanah dari Sang Maha Pengatur, Allah Ta’ala.

Pemimpin umat harus mempunyai ikatan yang kuat terhadap ketauhidan. Tauhid yang mengikat visinya, tauhid yang mengikat tujuan dan cita-cita umat, tauhid yang mengikat gerak langkah kegiatannya, tauhid yang mengikat tutur katanya. Inilah yang kita maksud dengan Aqidah Pemimpin. Ada ikatan tauhid yang kuat pada dirinya.

Sekolah atau madrasah sebagai pencetak kader pemimpin harus memberikan ruang dan perhatian dalam mengisi kompetensi inti (KI) yang pertama dan yang kedua (Kompetensi Spiritual dan Kompetensi Sosial). Sehingga mampu terajud, terpilin dan menjadi ikatan yang kuat terhadap tauhid.

Sangat penting untuk dihidupkan pembiasaan dan pemaknaan dari dua kalimat doa yang populer yaitu;
1.       Rodhitu billahi robba wabil islamidina wabi muhammadin nabiyya barasula
2.       Innashalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘alamin

Selalu diikrarkan dengan penuh penghayatan dan dimaknai. Ridho Allah Ta’ala sebagai Rabb-nya. Ridho adalah penerimaan dengan tulus dan siap sedia melaksanakan segala konsekwensinya. Mengakuai hanya Allah sebagai Tuhan yang mencipta, mengatur, memelihara seluruh alam semesta. Dengan konsekuensi sebgai calon pemimpin yang siap diatur dan menjalankan semua aturan. Terutama aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala.

Ridho mengambil Islam sebagai agamanya. Menerima dengan keyakinan hanya Islam agama yang Allah ridhoi. Yakin kebenarannya. Dengan konsekuensi sebagai calon pemimpin siap sedia menjaga, memperjuangkan dan mengamalkan Islam sebagai agamanya.

Ridho akan Muhammad sebagai nabi dan utusan Allah Ta’ala. Dengan konsekwensi sebagai calon pemimpin yakin bahwa apa yang dibawa Muhammad pasti benar dan siap sedia mengikuti dan meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari. Serta menjunjung tinggi sebagai penghormatan sebagai manusia pilihan.

Semua konsekuensi di atas mendapat perhatian sebagai program pembelajaran dari guru. Berupa penilaian dalam bentuk pengamatan sikap. Sebagai konsekuensi program penilaian adalah adanya penghargaan atau apresiasi bagi murid yang menjalankan pada kriteria tertentu.

Kalimat kedua selalu diikrarkan sebagai janji. Janji di hadapan Allah, janji kepada orang lain, dan janji kepada diri sendiri sebagai calon pemimpin. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, hingga matiku semata untuk Allah Penguasa alam semesta. ikrar ini menuntut adanya komitmen dari calon pemimpin. Komitmen tentang sholat, komitmen tentang pengabdian, komitmen tentang kehidupan dan kemtiannya yang hanya tertuju untuk Allah semata.

Untuk mempermudah pengamatan dalam penilaian, kalimat ikrar ini sebaiknya diperinci lagi dalam bentuk indikator-indikator nyata yang mudah dideteksi. Misalnya komitmen dari pelaksanaan shalat adalah; calon pemimpin sholat lima waktu tidak boleh bolong, sholat lima waktu selalu berjamaah, hafal semua bacaan sholat, memahami syarat, rukun dan yang membatalkan shalat, membangun jamaah (tim) dalam bekerja.

Komitmen pengabdian hanya kepada Allah Ta’ala adalah; lisan dengan ringan selalu mengucap kalimah thoyyibah, misalnya selalu mengawali dengan basmalah, mengakhiri dengan hamdalah, terucap tasbih, takbir, istighfar pada saat kondisi tertentu, bekerja dengan ikhlas yang ditunjukkan dengan kesungguhan dalam belajar, suka membantu teman, disiplin pada peraturan, dan sebagainya.

Komitmen dari “hidup dan mati hanya untuk Allah” adalah calon pemimpin harus mempunyai visi dan tujuan hidup yang jelas. Mengisi hidup dengan kegiatan yang mengarah pada visi dan tujuan hidup.||


Penulis: Drs. Slamet Waltoyo, Redaktur Majalaj Fahma
Foto    : Google

Bertanyalah Kepada Dirimu

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Belum tibakah masanya bagi kita untuk belajar memegangi agama ini? Apa yang kita alami belum seberapa. Kelak akan ada masa yang semoga Allah ‘Azza wa Jalla selamatkan darinya, masa yang sangat berat, amat jauh lebih berat dibandingkan keadaan kita sekarang. Hari ini kita masih dapat memesan makanan melalui layanan online atau menghubungi kenalan yang jualan. Akan tetapi di masa itu, kelak akan terjadi, orang-orang beriman hanya berharap dapat menegakkan punggung untuk taat kepada-Nya dan menahan nyerinya lapar dengan memuji Allah ‘Azza wa Jalla. Tiap kali lapar yang amat sangat itu mendera, maka ia basahi lisannya dengan membaca “subhanaLlah…. subhanaLlah…. subhanaLlah….” Seraya sungguh-sungguh memuji Allah Ta’ala dan mengharap kasih-sayang-Nya.

Belum tibakah masanya kita untuk kembali menundukkan hati dan jiwa kita kepada agama ini? Atas sebab apakah hati kita begitu kerasnya? Menyeru manusia untuk berlembut-lembut, mengharap orang lain dapat meneduhkan hati, tetapi hati kita keras kepada mereka.

Aku teringat seruan Allah ‘Azza wa Jalla di dalam kitab suci-Nya yang mulia. Allah Ta’ala berseru:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran, 3: 104).

Tentang apakah ia? Orang-orang dari dua suku yang senantiasa bermusuhan satu sama lain, hampir tak mengenal kata damai. Lalu iman Islam ini masuk ke dalam dada mereka. Allah persatukan hati mereka sehingga mereka layaknya orang yang bersaudara, dan sesungguhnya mereka bersaudara atas dasar iman ini. Padahal hampir-hampir saja mereka terjatuh ke jurang neraka. 

Lalu kemanakah iman kita sehingga hati kita begitu kerasnya? Ataukah kita yang tak lagi berpegang teguh kepada tali Allah, sehingga mudah bercerai berai? Mudah lisan membantah dengan bantahan yang mencerca meski ilmu tak seberapa. Mudah pula hati kita goyah sehingga setiap kali ada yang datang membawakan beberapa baris kalimat yang tampak hebat, tak mau kita menengok apa yang dituntunkan agama. Tak sedikit yang menggunakan duga-duga, atau datang dengan membawa berita yang seolah nyata. Padahal bukankah agamamu ini telah mengajarkan kepadamu agar memeriksa dulu setiap berita yang datang dari orang fasik? Maka apatah lagi dengan berita yang tak jelas asal muasalnya, lebih terlarang lagi mengambilnya sebelum jelas shahihnya.

Belum tibakah masanya bagi kita untuk memeriksa iman kita? Masih adakah meskipun hanya secuil? Atas sebab apakah engkau mengurung diri di rumahmu? Jika engkau tinggal di rumah karena takut kematian, sungguh kematian itu dapat terjadi kapan saja, dimana saja, meskipun di tempat yang paling tersembunyi. Ataukah engkau berdiam di rumah karena besarnya rasa takutmu menyelisihi nasehat para ulama Rabbani? Jika ini yang terjadi pada dirimu, semoga Allah Ta’ala muliakan hidupmu, limpahkan barakah bagi keluarga dan keturunanmu. Ataukah engkau menahan dirimu untuk tinggal di rumah disebabkan takut menzalimi orang lain dan menjauhkan mafsadat? Jika ini yang menggerakkanmu, semoga Allah ‘Azza wa Jalla terangi hidupmu, keluargamu dan keturunanmu selama di dunia hingga di Yaumil Qiyamah kelak.

Di saat yang sama, aku lihat banyak yang tetap melangkah keluar rumah seperti biasa. Salahkah mereka jika tidak tinggal di dalam rumah, sementara seharian keluar rumah pun hanya menguras airmata? Tak ada yang mereka makan. Tak ada yang dapat mereka harapkan, meskipun sekedar untuk mempertahankan hidup, kecuali harus keluar rumah bertarung nyawa. Maka bagi mereka yang memberanikan diri, tidak ada pilihan lain kecuali harus keluar rumah, semoga Allah ‘Azza wa Jalla berikan penjagaan dan keselamatan dari segala macam fitnah. Semoga pula Allah Ta’ala karuniai keselamatan dan kemuliaan kepada mereka yang tidak punya pilihan lain kecuali harus keluar rumah karena pada dirinya ada fardhu kifayah sekiranya ia tidak melakukan, niscaya tidak ada dapat bertahan untuk tinggal di rumah saja.

Yang buruk ialah, mereka yang keluar karena meremehkan seraya mengolok-olok seruan untuk tinggal di rumah saja. Baginya tak ada kebaikan. Dan ini bukanlah keberanian. Ini merupakan kesombongan yang beriring sikap meremehkan. Semoga bagi mereka yang seperti itu, segera menginsyafi buruknya sikap yang ada pada dirinya. Ingatlah, sesungguhnya Iblis pada awalnya adalah ahli ‘ibadah. Tetapi ia meremehkan Adam, menyombongkan diri darinya dan menolak tunduk karena merasa lebih baik.

Tak setiap saat ahlul ‘ilmi bersepakat dalam satu pendapat. Itu hal yang biasa terjadi sejauh adab masih dijaga dan penghormatan kepada saudaranya masih dijunjung tinggi. Tetapi ada yang sibuk berbantah-bantahan hanya mengandalkan praduga; persangkaan-persangkaan yang entah datang darimana, atau hanya menyandarkan pada logika yang lemah dan qiyas yang fasid. Ada pula juhala yang lantang menentang para fuqaha. Yang demikian inilah bukanlah termasuk perbedaan pendapat. Ini adalah musibah yang semoga kita dijauhkan darinya sejauh-jauhnya. Sungguh berat tanggung-jawab mereka.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku, Orang awam yang memerlukan banyak nasehat