Mendamaikan Remaja dengan Orangtua⁣⁣

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Melanjutkan cerita kemarin pagi ketika seorang ayah mengajak anaknya ke rumah agar saya nasehati. Apa yang saya lakukan terhadap remaja tersebut?⁣⁣

Setelah mendengarkan kecewa, jengkel dan marahnya kepada kedua orangtua, terutama bapaknya, maka salah satu hal penting yang saya lakukan adalah membantu remaja tersebut memilah dan menilai tindakan. Bagaimana prosedurnya?⁣⁣

Pertama, saya berusaha mendengarkan segala keluh-kesahnya, kejengkelan, kecewa dan marahnya itu. Mendengarkan itu artinya memperhatikan. Tanda memperhatikan pembicaraan adalah memahami, setidaknya mengingat dengan baik, apa saja yang dibicarakan. Ini saya tunjukkan kepada remaja tersebut dengan mengulang bagian-bagian penting perkataannya. Cara ini juga bermanfaat untuk membantunya meluruskan kesalahannya sendiri tanpa perlu saya koreksi. Misalnya ketika dia mengatakan, “Bapak saya tidak pernah peduli dengan saya…”, maka saya mengulang lagi perkataannya dengan menekankan ungkapan, “Oh, jadi bapakmu tidak pernah peduli?”⁣⁣

“Tidak pernah,” kata dia, “Sama sekali tidak pernah.”⁣⁣

“Sampai seperti itu, ya? Dia benar-benar tidak pernah…” Saya menanggapinya antara pernyataan dengan pertanyaan, dengan nada yang agak mengambang.⁣⁣

“Ya… Pernah sih, tetapi jarang. Lebih sering tidak peduli?”⁣⁣

“Jarang? Mungkin saya salah, berarti itu lebih dari satu kali? Bapakmu pernah peduli dan itu lebih dari satu kali?”⁣⁣

“Iya.”⁣⁣

“Boleh tahu nggak, kapan bapakmu peduli. Seingatmu, dalam keadaan apa bapakmu peduli? Terus, kok kamu bisa mengatakan bapakmu peduli, apa tindakan bapakmu yang membuatmu merasa bapakmu peduli?”⁣⁣

Dia kemudian bercerita mengenai apa saja perilaku bapaknya yang membuat dia merasa dipedulikan. Saat menceritakan, ia mulai bersemangat dengan semangat yang berbeda. Tadi pun bersemangat, tetapi semangat itu lebih ke arah menumpahkan kemarahan. Kali ini semangatnya mulai baik. Saat dia sudah tampak mulai merasakan kepedulian bapaknya, saya pun berusaha untuk mengajaknya kembali berpikir, “Menarik… Sangat menarik. Ternyata bapakmu juga peduli kepada kamu. Tindakan-tindakan itu membuatmu merasa bapakmu peduli. Itu yang membuatmu merasa bapakmu peduli, karena tindakannya ataukah karena kepeduliannya?”⁣⁣

Setelah itu, saya lanjutkan lagi sesudah mendengarkan jawabannya, “Kira-kira, mungkin nggak bapakmu atau siapa pun itu salah memilih tindakan? Misalnya begini, kita punya maksud baik, tetapi orang lain malah salah paham karena tindakan kita tidak dipahami? Mungkin nggak terjadi seperti itu?”⁣

Refleksi mulai terjadi. Ia bercerita mengenai beberapa kejadian orang salah paham terhadap dirinya. Padahal maksudnya tidak seperti itu.⁣⁣

“Kira-kiranya,” saya bertanya, “mungkin nggak bapakmu pernah ingin menunjukkan kepeduliannya sama kamu, tetapi kamu malah merasa bapakmu nggak peduli? Barangkali pernah ada satu kali kejadian semacam itu, mungkin nggak?”⁣⁣

“Ya, sangat mungkin,” kata dia, “Atau sebenarnya bapak baik sama aku? Tetapi menurutku bapak lebih sering tidak peduli.”⁣⁣

“Wah, semakin menarik ini ceritanya. Kalau boleh saya memahami, kalau salah nanti koreksi saja, ya… Pertama, kamu bilang sangat mungkin. Maksudnya mungkin saja bapakmu salah memilih tindakan. Untuk kasus seperti ini, menurutmu masalahnya dimana? Bapakmu tidak punya kepedulian, ataukah bapakmu tidak dapat menunjukkan kepedulian sesuai mau kamu? Kedua, kamu bilang lebih sering tidak peduli. Boleh nggak saya menyimpulkan, bapakmu sering peduli, dan lebih sering tidak peduli?”⁣⁣

Dialog terjadi. Pada poin pertama, saya mengajak remaja tersebut untuk melihat bahwa salah memilih tindakan yang menunjukkan perhatian dan kepedulian itu, berbeda dengan tidak peduli. Saya juga mengajak dia untuk melihat dirinya sendiri, apakah dia sudah pernah menyampaikan kepada bapaknya dengan ungkapan yang dipahami bapaknya ataukah belum.⁣⁣

Selanjutnya, perbincangan hari itu dilakukan dengan proses:⁣⁣

1.  Deskripsi tindakan atau peristiwa.⁣⁣

2.  Apa yang dia pikirkan mengenai tindakan tersebut.⁣⁣

3.  Perasaan mengenai tindakan tersebut⁣⁣

4.  Sesudah itu barulah rekomendasi tindakan.⁣⁣

Agar remaja tersebut merasakan betapa mengajak dia ke rumah saya, menempuh perjalanan sangat jauh menggunakan mobil merupakan upaya sungguh-sungguh yang penuh perjuangan, kita perlu mengajak melihat nilai tindakan tersebut.⁣⁣

“Mohon maaf, kira-kira tepat nggak kalau saya menebak-nebak bahwa yang membuat bapakmu punya waktu longgar untuk ke sini karena bapakmu sedang sepi job?”⁣⁣

⁣⁣

Setelah mendengarkan cerita anak, menggali apa saja yang membuatnya merasa jengkel, kecewa dan marah kepada orangtua, terutama bapaknya, maka berikutnya kita perlu mengajak anak untuk memilah dan menilai tindakan. Ini merupakan langkah awal untuk membedakan tindakan dengan sikap orangtua.⁣⁣

___⁣

Berbeda dengan kemarin yang saya berusaha menulis prinsip-prinsip dalam mendamaikan remaja dengan orangtua, kali ini saya memilih untuk berbagi tulisan, semacam script, dari apa yang saya sampaikan tadi pagi agar lebih dapat merasakan suasananya.⁣

⁣Penyampaian dengan bercerita ini, sejujurnya, merupakan respon saya terhadap istri yang sering mengingatkan, "Orangtua itu perlu tahu, caranya bagaimana?" Saya akhirnya mencoba bercerita agar para orangtua, khususnya ibu-ibu, lebih dapat merasakan suasananya dan menangkap prinsipnya dengan lebih mudah dan menerapkannya di rumah dalam mengasuh anak sehari-hari.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku

Apa Yang Menjadi Fokus Anda, Menentukan Takdir Anda


Oleh : Jamil Azzaini

Dalam salah satu sesi training para pimpinan salah satu BUMN, ada yang mengajukan pertanyaan kepada saya “Pak, bagaimana agar saya tidak marah menghadapi karyawan yang bodoh, saya sudah memberitahu dia berkali-kali tetapi masih melakukan kesalahan yang sama. Bisakah saya menjadi pemimpin yang tidak banyak marah?”

Saya pun menjawab pendek “bisa ya, bisa tidak.” Sang pemimpin mendesak saya “koq jawabnya mendua pak, kurang tegas.” Saya pun melanjutkan “Saya termasuk percaya dengan apa yang disampaikan Henry Ford: Whether you think you can or you can’t, you are right.” Apabila Anda berpikir bisa atau tidak bisa, keduanya adalah benar.

Saya pun meneruskan penjelasan, apabila state atau kalimat yang kita ucapkan negatif maka hasilnya berpeluang besar negatif atau setidaknya hanya nol (netral). Apabila state atau kalimat yang kita lontarkan positif maka hasilnya berpeluang besar positif. Maka langkah penting yang perlu kita lakukan adalah biasakanlah diri untuk memunculkan state atau kalimat yang positif.

Contoh kalimat di atas bisa diubah dengan state positif : karyawan saya punya potensi yang perlu dikembangkan. Saya akan terus belajar bagaimana meningkatkan keahlian karyawan agar kualitas kerjanya terus meningkat. Sungguh merupakan kebahagiaan besar apabila saya mampu melatih karyawan saya dengan baik.    

Kalimat pertama yang disampaikan pemimpin di atas, fokusnya kepada hal yang negatif, sementara kalimat yang saya tawarkan fokusnya kepada hal yang positif. Sebagai pembaca, saya yakin Anda juga bisa merasakan perbedaan kedua kalimat tersebut.

State positif ini perlu terus dilatih, ibarat tanaman perlu sering dipupuk dan disiram agar akarnya kuat menghujam ke dalam bumi. Saat state positif sudah mengakar ke dalam diri, maka secara otomatis apapun yang terpikir dan terucap dari mulut kita cenderung positif. 

Ingatlah, mana yang menjadi fokus kita, dikemudian hari akan menjadi takdir kita. Berlatihlah sekuat tenaga agar kita terbiasa memiliki state positif dalam kehidupan sehari-hari. Kesedian kita untuk berlatih membuat state yang positif menjadikan hidup kita dikemudian hari akan semakin positif, produktif dan kontributif. Percayalah.

Hal itu berlaku untuk fokus-fokus yang lain. Saat Anda fokus mempelajari, memahami dan melatih kemampuan digital marketing, maka kelak Anda akan menjadi seorang expert di bidang digital marketing. Saat fokus Anda menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat maka dikemudian hari kehidupan Anda pun dipenuhi oleh hal-hal yang kurang bermanfaat.

Apa fokus Anda saat ini? Selama 24 jam, kegiatan apa yang menghabiskan banyak waktu Anda? Kira-kira apabila hal itu dipertahankan dan terus Anda lakukan, bagaimana kehidupan Anda 10 tahun yang akan datang?

Fokus Anda menentukan nasib Anda, mari kita mulai dari melatih fokus kepada state positif karena ini adalah pondasinya. Siap?

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator Kubik Sukses Mulia

Sumber : www.jamilazzaini.com

Pacaran Bukanlah Ajaran Islam

Oleh : O. Solihin

Ya, pacaran bukanlah ajaran Islam. Kalo pun sekarang banyak orang Islam yang melakukannya, bahkan ada di antaranya para aktivis dakwah, pastilah mereka sedang lalai dan wajib diingatkan. Sebab, pacaran hanya dilakukan oleh orang-orang yang udah kena bujuk rayu setan. Ujungnya bisa menyesatkan dan jauh dari ajaran Islam.

Singkat kata nih, kalo kamu punya pacar, putusin aja sekarang juga. Berat? Hmm.. hati-hati, itu tandanya kamu masih belum kuat imannya. Semoga kita semua dijadikan sebagai orang-orang yang beriman dan senantiasa taat kepada Allah Ta’ala. Pacaran? No way! Apapun bentuknya!

Sungguh, saya menulis agak keras begini bukan berarti saya sudah memaksakan kehendak dan galak sama kamu. Adakalanya, ketika kelembutan malah membuatmu pura-pura tidur dan merasa nyaman. Namun, saat dikerasin dikit baru belingsatan kaget bukan kepalang. Ini sekadar teknik komunikasi saja. Kalo kamu cukup tersentuh dengan nasihat dan kelembutan, ya alhamdulillah. Tapi perlu kamu ketahui, ada banyak pula orang baru sadar ketika digebrak terlebih dahulu.

O. Solihin, Penulis Buku dan Motivator Remaja

Puasa Arafah


Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu , ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, no. 1162)

Menjadi Dewasa yang Bijaksana


Oleh : Rostika Hardianti

Teringat dinamika masa kecil, dimana menjadi orang dewasa adalah suatu keinginan, harapan, dan impian. Diiringi bayangan bagaimana menakjubkannya berperan menjadi orang dewasa. Bertemu dengan berbagai kebebasan hidup untuk melangkah, menentukan pilihan, juga bersuara. Sayangnya, realita tak mengatakan bahwa menjadi dewasa selalu indah tanpa cobaan. Ketika tercapai masa dewasa, Quarter Life Crisis menjadi hal baru untuk dipelajari, dimengerti, dan akhirnya menemukan arah dari pilihan masing2 diri. Terdengar desus, "Rasanya ingin kembali menjadi anak kecil, dimanja, disayang, tidak disalah-salahkan. Tidak perlu ribet mengurus ini dan itu. Enaknya jadi anak kecil." Lalu apa?? 

Menjadi orang dewasa, kita juga akan belajar menjadi manusia bijaksana. Mampu mengendalikan diri pada situasi-situasi krisis dan tak terduga. Meski faktanya, menjadi bijaksana tidak selalu dan tidak setiap kondisi. Ada bagian, dimana kita lebih mampu bijaksana ketika menyangkut hidup orang lain dibandingkan hidup kita sendiri. Tidak selalu menjadi bijaksana, bukan berarti menghentikan langkah-langkah kita untuk belajar memahami orang lain, memandang situasi dengan pandangan yang lebih luas, merendahkan hati, dan adil. 

Menjadi bijaksana, berarti mempertimbangkan perspektif alternatif, menyadari keterbatasan diri, dan sadar bahwa situasi akan terus berubah. Ada fleksibilitas dan cara pandang untuk memahami perubahan demi perubahan di waktu yang berbeda. 

Kita belajar bahwa orang yang bijaksana dapat optimis terhadap ketidakpastian dan setiap permasalahan serta hambatan pasti ada solusinya. Segala permasalahan akan selesai pada masanya. 

Setiap diri dapat melatih kebijaksanaan. Namun, ada situasi dan peran diluar diri kita. Selayaknya kita juga menyadari bahwa prioritas dan tujuan masing-masing individu berbeda, Pun perihal bagaimana setiap individu merespons setiap situasi dan kondisi. Menjadi bijaksana artinya kita juga berusaha merefleksikan diri, beradaptasi dengan situasi saat ini dan merencanakan situasi yang akan kita bentuk dimasa yang akan datang. 

Pada akhirnya, akan kita dapati bahwa dari orang lain kita akan belajar, dan kepada orang lain kita bisa saling memberi kebaikan.

Rostika Hardianti, S.Psi., Penulis Novel

Di Antara Bentuk Membantu Orang Lain

Oleh : O. Solihin

Imam Ibnu Muflih rahimahullah menyebutkan bahwa Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

“Harun ar-Raqqi telah berjanji kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk tidak menolak seorang pun yang meminta syafaat kepadanya. Ia pasti akan menuliskannya. Seorang lelaki pernah menemuinya dan mengatakan bahwa anaknya tertawan di Romawi. Dia meminta Harun untuk menulis kepada Raja Romawi agar melepaskan anaknya.

Ar-Raqqi mengatakan, ‘Aduh kamu, dari mana Raja Romawi mengenalku? Jika ia bertanya tentang aku, dan dijawab bahwa aku seorang muslim, bagaimana dia akan mengabulkan hakku?!’

Orang tersebut mengatakan, ‘Ingatlah janjimu kepada Allah subhanahu wa ta’ala.’

Akhirnya, ar-Raqqi menuliskan syafaat untuknya kepada Raja Romawi.

Tatkala Sang Raja membaca tulisannya, ia bertanya, ‘Siapa orang ini?’

Dijawab bahwa ia adalah orang yang telah berjanji kepada Allah subhanahu wa ta’ala bahwa tidaklah dia diminta menuliskan syafaat kecuali dia akan menuliskannya, kepada siapa pun. Sang Raja berkata, ‘Orang ini berhak dikabulkan permintaannya. Lepaskanlah tawanannya.”

[Sumber: al-Adab asy-Syar'iyah, jilid 2, hlm. 172]

O. Solihin, Penulis Buku dan Motivator Remaja

Tak Ada Suami yang Tak Retak

Oleh : Cahyadi Takariawan

Beginilah hidup. Selalu bercacat, tidak ada yang sempurna.

Istri menghendaki sosok suami yang jantan, macho, tegas, berwibawa, pandai mengambil keputusan, kreatif, inovatif, namun juga lembut, sabar, penyayang, romantis, kaya, baik hati, selalu mengajak musyawarah istri, penuh pengertian serta penuh perhatian.

Sayangnya, suami sempurna seperti itu, tidak ada lagi di muka bumi saat ini.

Beginilah hidup. Selalu bercacat, tidak ada yang sempurna.

Maka, fokuslah melihat sisi kelebihan dan kebaikan pasangan. Jangan hanya mencari sisi kekurangan dan kelemahannya. Karena suami Anda hanya manusia biasa, dari planet bumi yang sama dengan Anda.

Suami Anda hanya lelaki biasa, yang selalu memiliki kekurangan dan keterbatasan sebagai manusia.

Namun, kebahagiaan tetap bisa Anda dapatkan di tengah kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan tersebut.

Ingat, rumus kebahagiaan itu sederhana. Lelaki biasa saja, menikah dengan perempuan biasa saja, lalu mereka berdua selalu berusaha untuk menjadi lebih baik sesuai harapan bersama.

Reposted from @pakcah.id

Semoga bermanfaat, dan terus dukung konten positif pernikahan dan rumah tangga dari kami.

Like, save, share, & Follow IG kami @pakcah.id dan website kami www.pakcah.id

Masjid Al-Ahmar Diubah oleh Zionis menjadi Nightclub

Selamat pagi, Tuan⁣
Hari sudah siang. Masjid Al-Ahmar diubah oleh Zionis menjadi nightclub, mengapa kau diam, Sayang? Apakah begitu lelap tidurmu? Begitu lelapnya hingga kau mengigau, berteriak marah ketika Aya Sofya hendak dikembalikan menjadi masjid setelah selama 86 tahun menjadi museum. Begitu risaunya dirimu sampai-sampai suara-suara saudaramu di Palestina tak terdengar olehmu. Mereka menangis. Mereka bersedih. Masjid sangat bersejarah yang dibangun oleh Sultan Mamluk Al-Daher Baibars tahun 1276 itu dirampas oleh penjajah Israel dan diubah menjadi tempat maksiat.⁣
Selamat pagi, Tuan⁣
Masjid Al-Ahmar bukan satu-satunya. Masjidil Aqsha yang nyata kedudukannya dalam agama ini pun mereka injak-injak. Mereka menganiaya dan berusaha mengusir para pembelanya, lalu kau suruh mereka pergi membiarkan Masjidil Aqsha dijarah dan dijajah? Padahal Amirul Mukminin 'Umar bin Khaththab radhiyaLlahu anhu berjuang memerdekakannya, melanjutkan perjuangan semenjak masa Rasulullah shallaLlahu' alaihi wa sallam.⁣
Selamat pagi, Tuan⁣
Hari sudah malam. Masjid Al-Ahmar sekarang sudah diubah namanya menjadi Khan Ahmar. Mereka berjaga di malam hari, ramai hingar bingar. Bukan untuk qiyamul lail, tetapi bermaksiat menenggak khamr di gelas-gelas yang berjajar di atas tempat sujud muslimin.⁣
Lalu apakah kau akan gelar karpet merah kepada penjajah yang mengubah Masjid Merah (Ahmar) menjadi nightclub, Sayang? Mohammad Fauzil Adhim, Juru Bicara Sahabat Al Aqsha

Melatih Kepekaan Anak

Oleh : Supri Adi

Saat mengisi pengajian, seorang ustadz menceritakan pengalamannya. Sang ustadz mengisahkan bahwa suatu ketika dia pernah menyapu lantai rumahnya. Sang anak yang sudah kelas 1 SMP tampak sedan gasyik membaca koran di ruang tamu. Saat ustadz ini hendak membersihkan lantai di ruang tamu, sang anak masih terlihat asyik membaca koran. Sesekali ia melirik ke arah sang ayah. “Saya kira pas saya mau menyapu lantai di dekat dia duduk, dia segera bangkit dan menggantikan saya menyapu. Ternyata...., dia malah mengangkat kakinya agar saya tetap bisa menyapu lantai di dekat kursinya, hahaha....,” seloroh sang ustadz yang langsung disambut tawa jamaah.

Cerita di atas sekilas terlihat lucu. Namun sebetulnya menunjukkan kenyataan yang menyedihkan. Semakin dewasa usia anak, semestinya makin membuat dia belajar menjadi mandiri. Pada saat yang sama, dia juga perlu belajar peka terhadap orang lain, baik orangtuanya, gurunya atau temannya. Jika untukhal yang kecil seperti contoh di atas saja anak masih belum peka, apalagi untuk hal yang besar?

Di sinilah pentingnya melatih kepekaan sosialnya atau melatih kemampuannya dalam berinteraksi dengan orang lain. Itulah mengapa, kepekaan sosial penting ditanamkan semenjak kecil pada anak, agar kelak ia menjadi manusia dewasa yang peka dengan lingkungan sekitarnya. Adapun yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan kepekaan sosial pada anak adalah orangtua. Namun bukan berarti orangtua semata penentunya, karena lingkungan juga turut memberikan andil. Sebab, tingkah laku seseorang juga ditentukan oleh pengaruh-pengaruh dari luar.

Ada beragam kepekaan sosial yang penting ditanamkam semenjak dini, yang pada intinya bertujuan mengembangkan sikap empati kepada orang lain. Di antaranya berbagi dengan orang lain, berani meminta maaf bila melakukan kesalahan, bersedia membantu orang yang membutuhkan, dan kepekaan terhadap kemampuan fisik agar tidak melakukan tindakan yang menyakiti orang lain (umpama, main tarik temannya untuk bermain padahal badannya lebih besar, otomatis tenaganya lebih besar sehingga bisa menyakiti temannya), bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan masih banyak lagi.

Latih empatinya dengan membiasakan untuk peduli atau berbagi dengan orang lain di sekolah, katakanlah menemani anak menghadiri undangan ulang tahun temannya atau menjenguk yang sakit. Latih anak untuk mendukung kemajuan temannya atau mendorongnya  untuk belajar dari kelebihan teman, misalnya menyaksikan teman yang  tampil di panggung atau memfasilitasi kemajuan saudaranya di kampung

Ajari anak untuk berkomunikasi secara efektif, misalnya mengajari bagaimana mengungkapkan perasaan secara sopan, jelas, dan beralasan, bukan ngambek atau marah-marah. Ajarkan anak untuk mendengarkan pendapat orang lain, tidak langsung menyela, atau memprotes, atau inginnya selalu didengarkan saja. Tanamkan pada diri anak untuk menepati janji yang baik supaya tidak terbiasa mengecewakan orang lain. Ajarkan anak sopan santun, kasih sayang terhadap yang lebih kecil dan hormat terhadap yang lebih tua. Ajarkan pula pada diri anak untuk bisa melihat secara objektif sisi positif dan sisi negatif orang lain secara adil.

Yang sangat penting lagi adalah menjelaskan pada anak untuk menjadikan konflik atau gesekan dengan temannya sebagai latihan untuk mematangkan diri. 

Jangan sampai kita langsung menjauhkan anak dari konflik karena akan mungkin dia tidak terbiasa menghadapinya. Atau mengompori anak untuk  menang dalam konflik dengan kekerasan atau dengan menjajah.

Lebih baik diarahkan dulu untuk menggunakan diplomasi atau membicarakannya dengan guru. Baru ketika sudah ada tanda-tanda bullying,  tentunya tidak bisa lagi kita membiarkan anak mengatasinya.  Kita perlu turun tangan bekerjasama dengan guru atau orangtua lain.

Meski kepekaan sosial itu penting untuk kemajuan anak-anak nanti, tapi jangan sampai kita salah mengarahkannya sehingga dia menjadi orang yang ”terlalu baik” karena kelemahannya atau jati dirinya lemah lalu membuatnya mudah ditekan atau dijadikan korban temannya.

Supri Adi, Pemerhati Dunia Anak

Berkah

Oleh : O. Solihin

Kata para ulama, berkah itu artinya ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan). Itu sebabnya, banyak di antara kita sangat berharap dalam menjalani kehidupan dipenuhi dengan keberkahan. Siapa pula yang tak suka sepanjang hidup bertabur kebaikan? Semua orang ingin kebaikan.

Oya, lawan dari berkah (barokah) adalah laknat, yakni bertabur keburukan. Semua orang pasti tidak mau mendapat laknat, sebab akan rugi di dunia dan juga di akhirat.

Berkah (barokah), menurut Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah adalah kebaikan yang langgeng dan terus menerus. Beliau mengatakan, “Maksud dari ucapan doa “keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad karena engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrahim, doa keberkahan ini mengandung arti pemberian kebaikan karena apa yang telah diberi pada keluarga Ibrahim. Maksud keberkahan tersebut adalah langgengnya kebaikan dan berlipat-lipatnya atau bertambahnya kebaikan. Inilah hakikat barokah”.

Tentu saja, ketika mengetahui makna dari berkah (barokah), banyak orang ingin mendapatkannya. Namun, tak sedikit di antara kita yang tidak mengetahui bagaimana mencari keberkahan hidup. Itu sebabnya, antara keinginan mendapatkan keberkahan hidup dengan perilakunya tidak nyambung. Ingin mendapatkan keberkahan, tetapi shalat saja ditunda-tunda, menyepelekan amalan sunnah, ibadahnya kurang, ketakwaannya kepada Allah minim. Ingin mendapatkan sesuatu yang besar, tetapi syaratnya tidak dipenuhi.

Lalu bagaimana mencari keberkahan itu? Carilah keberkahan dengan beriman dengan bertakwa pada Allah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS al-A’raaf [7]: 96).

Yuk, kuatkan keimanan kita kepada Allah Ta'ala, kokohkan ketakwaan kita kepada-Nya. Insya Allah hidup kita akan senantiasa berkah. Kenikmatan dunia didapat, dan surga bisa diraih di akhirat. Insya Allah.

Foto: memotret rerumputan di kebun Pesantren Media. Sengaja 'melawan cahaya' untuk mendapatkan efek siluet, tetapi kurang bagus hasilnya.

O. Solihin, Penulis Buku dan Motivator Remaja

Berharap

Oleh : Jamil Azzaini

Mengapa ada orang sering kecewa? Mengapa ada orang yang merasa tidak dihormati? Mengapa ada orang yang mudah sekali tersinggung? Salah satu sebabnya, orang-orang tersebut memiliki mental berharap berlebihan.

“Berharap pujian berujung kepada kekecewaan
Berharap balasan akan mengurangi atau menghilangkan ganjaran
Berharap kaya cepat terjerumus di bisnis abal-abal

Berharap karir cepat melesat berujung kepada sikut-sikutan dan permusuhan
Berharap menjadi sholeh mendadak bisa berakibat menjadi sombong dan merasa suci
Berharap segalanya serba instant jsuteru menjadikan seseorang menjadi pecundang”

Semua perlu waktu dan berproses. Semua perlu upaya memantaskan dan mengasah diri. Hidup adalah akulturasi dari empat BER: berilmu, bersabar, bersyukur, berusaha. Jalani empat BER dengan sebaik-baiknya dan berharap Allah SWT menolong maka berbagai hal baik akan datang menghampiri Anda jauh melebihi yang Anda harapkan.

Berharaplah sewajarnya, berusahalah sekuat-kuatnya, bersyukur sebanyak-banyaknya, bersabarlah sekuat-kuatnya, belajarlah dengan enjoy dan sesungguh-sungguhnya dan biarkanlah tangan Allah SWT yang bekerja. Dengan cara ini, perasaan kecewa, mudah tersinggung dan hal-hal lain yang sering membuat kecewa dan luka akan pergi dengan sendirinya.

Cobalah

Jamil Azzaini, Penulis dan Motivator

Foto Atin

Sayangi Orang yang Berhutang Kepadamu⁣

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim
Ada orang berhutang karena sungguh-sungguh memerlukan dan ia segera membayarkan begitu ada sedikit saja kelapangan pada dirinya. Ia berusaha membayar lunas hutang-hutangnya dengan segenap kemampuannya, meskipun sangat terbatas. Inilah sebaik-baik orang yang berhutang. Ada pula yang berhutang karena suatu keperluan yang halal, bukan didesak kebutuhan yang amat penting, dan ia bersegera membayar hutang-hutangnya sesuai janji atau bahkan lebih awal lagi. Ini termasuk penghutang yang baik.⁣
RasuluLlah ﷺ bersabda:⁣
إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً⁣
“Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Bukhari).⁣
Paling baik ini terkait dengan melebihkan pembayaran, sepenuhnya atas kemauan sendiri. Bukan karena diminta atau didesak. Yang demikian ini termasuk riba. Bukan pula disindir-sindir oleh pemberi hutang sehingga tak enak hati apabila tak memberi tambahan. Dan pembayaran hutang yang baik adalah segera menunaikan manakala sudah ada kemampuan, meskipun belum jatuh tempo yang disepakati.⁣
Apa yang meringankan langkah untuk membayar hutang? Tekad kuat untuk melunasi. Sesungguhnya Allah Ta'ala bersama orang yang berhutang sampai ia melunasi. Yang dimaksud bersama ialah Allah Ta'ala memberi pertolongan, yakni kepada orang yang memiliki hutang dan ia berkemauan kuat melunasi hutang-hutangnya tersebut seraya jujur terhadap kemauannya. Bentuk kejujuran itu berupa kesungguhan mengupayakan. ⁣
Rasulullah ﷺ menyatakan:⁣
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ⁣
“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah).⁣
Semua itu bermula dari niat. Karena itu, berhati-hatilah terhadap niat saat mengambil harta orang lain, yakni berhutang. Sesiapa yang berhutang dengan niat mengembalikan, maka Allah Ta’ala akan menunaikannya. Allah Ta'ala berikan kemudahan baginya untuk memperoleh harta yang dapat dipergunakan untuk membayar lunas hutang-hutangnya.⁣
Nabi ﷺ memperingatkan:⁣
من أخذ أموال الناس يريد أداءها أدى الله عنه ومن أخذ يريد إتلافها أتلفه الله⁣
"Barangsiapa mengambil harta orang lain (berhutang) dengan niat mengembalikannya, maka Allah akan menunaikannya. Akan tetapi barangsiapa yang mengambil harta orang lain dengan niat merusaknya, maka Allah Ta’ala akan merusaknya." (HR Al-Bukhari).⁣
Termasuk merusak orang yang sengaja tidak membayarnya. Termasuk merusak yang lebih jahat lagi orang yang berhutang demi menguasai harta lebih banyak, mendatangkan tekanan kepada orang yang ia bermaksud berhutang kepadanya apabila tidak menghutangi dan lebih buruk lagi jika dimaksudkan untuk mengambil nikmat dari orang lain. Ia tidak berniat mengembalikan. Ia membayarkan sedikit di awal hanya sebagai jalan untuk menguasai harta yang ada pada orang lain tersebut. ⁣
Ada orang berhutang, sedikit atau banyak, tetapi ia lalai membayar hutangnya ketika telah ada padanya kemampuan. Yang demikian ini perlu kita ingatkan. Adapun jika ia tetap lalai, maka sesungguhnya ia akan membayar hutang-hutangnya dengan kebaikan amal 'ibadahnya di akhirat kelak. Jika tak mencukupi, maka keburukan amal orang yang kepadanya ia berhutang akan menjadi bagiannya.⁣
Rasulullah ﷺ bersabda:⁣
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ⁣
“Barangsiapa mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah).⁣
Dan keburukan yang menimpanya di akhirat kelak akan lebih besar lagi apabila semenjak awal memang telah berniat tidak mengembalikan pinjaman alias mengemplang. Ia akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta'ala dengan sebagai pencuri. Na'udzubiLlahi min dzaalik.⁣
Rasulullah ﷺ bersabda:⁣
أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا⁣
“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah).⁣
Terlepas apa niatnya, menunda-nunda membayar hutang merupakan suatu kezaliman. Ukuran menunda itu ialah adanya kemampuan, tetapi enggan menunaikan kewajibannya membayar hutang. Ia memiliki kecukupan, tetapi menggunakan untuk berbagai hal lain yang tidak syar'i. Kezaliman itu lebih besar lagi manakala pihak yang memberinya sangat memerlukan, sementara ia menunda pembayaran demi meraup kekayaan yang lebih besar.⁣
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْم⁣
“Menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu merupakan suatu kezaliman.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Majah).⁣
Alangkah buruknya kezaliman. Dan alangkah besar kengerian apabila orang-orang yang dizalimi itu mendo'akan keburukan baginya. Bukankah tak ada tabir antara orang yang dizalimi dengan Allah Ta'ala tatkala ia berdo'a?! Maka sungguh do'anya mustajabah.⁣
Ada sebuah nasihat yang patut kita renungkan. Saya tak tahu penggubahnya, tetapi saya terkesan oleh maknanya. Ia tidak menyelisihi agama. Mari kita renungi sejenak:⁣
نَامَتْ عُيُوْنُكَ وَالْمَظْلُوْمُ مُنْتَبِهُ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللهِ لَمْ تَنَم⁣
"Kedua matamu tertidur sementara orang yang engkau zalimi terjaga…⁣
Ia mendo'akan kecelakaan untukmu, dan mata Allah Ta'ala tidaklah pernah tidur."⁣
Astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullahal 'adziim.⁣
Begitu buruknya mengemplang hutang secara sengaja, padahal ia mampu membayarnya, sampai-sampai halal kehormatannya. Menggunjing itu dosa besar, kecuali terhadap mujahirin (orang yang berbuat dosa secara terang-terangan), penguasa yang zalim dan orang berhutang yang sengaja mengemplang, padahal sebenarnya ia mampu melunasi.⁣
Nabi ﷺ bersabda:⁣
لَيُّ الوَاجِدِ يَحِلُّ عُقُوْبَتَه ُوَعِرْضه⁣
“Menunda pembayaran bagi yang mampu membayar, (maka) halal ia dihukum dan (dijatuhkan) kehormatannya.” (HR. Bukhari).⁣
Ya Salaam.... Alangkah buruknya. Tidakkah kita semestinya takut dengan hal ini?⁣
Ada orang yang berhutang bukan karena didesak oleh kebutuhan yang tak sanggup ia penuhi, tetapi semata karena ingin memperbanyak harta. Ia memudah-mudahkan diri berhutang, namun enggan membayarnya. Ada orang berhutang karena sesak hatinya melihat orang lain mempunyai nikmat, lalu ia ingin memilikinya. Perih hati jika harta tersebut terlepas tanpa sanggup ia rebut. Ia memudah-mudahkan diri berhutang dan sengaja berkhianat atas hutangnya, yakni tidak membayarkannya.⁣
Mari kita renungi kembali sabda Rasulullah ﷺ:⁣
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ⁣
“Barangsiapa mengambil harta manusia, dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).⁣
Begitu besar ancaman dan keburukan bagi orang yang berhutang dan melalaikan kewajibannya. Lebih buruk lagi ancaman bagi yang semenjak awal telah meniatkan secara sengaja untuk berkhianat. Sungguh, tak ada yang dapat menolong apabila Allah Ta'ala telah menghancurkan dirinya, dunianya, nasibnya dan terlebih akhiratnya. Karena itu, sayangilah orang yang berhutang kepadamu dengan menagihnya ketika ia benar-benar mampu tetapi menunda-nunda menunaikan kewajiban. Kasihani dia. Jika tak cukup punya keberanian, ingatkan ia secara langsung atau melalui orang lain. Jika masih tak punya keberanian, tunjukkan ilmunya. Semoga Allah Ta'ala memberinya hidayah dan mencurahkan kebaikan kepada kita.⁣
Adapun jika ia tetap pada sikapnya, bahkan semakin keras menahan kewajibannya, maka kita sudah tak punya kewajiban untuk mengingatkan. Urusan dia dengan Allah Ta'ala.⁣
Adapun terhadap orang berhutang yang belum mampu membayar, menahan diri tidak menagihnya merupakan sikap yang sangat baik. Kita memberinya kelonggaran. Dan lebih sempurna lagi kebaikan tersebut apabila kita merelakan hutang tersebut dengan menghapuskannya.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting
Foto Atin

Dari Air yang Hina

Min maain mahiin, dari air yang hina, begitulah Al Qur'an menginformasikan tentang asal muasal penciptaan manusia.

Jika ditelusuri mendalam, maka manusia ini diciptakan dari tanah. Lalu kenapa dari air yang hina? Air hina apakah yang dimaksud?

Air yang hina ini adalah sebutan dari air mani. Dibahasakan dengan sesuatu yang hina, karena jika air mani ini mengenai tubuh seseorang, maka tentulah dia merasa jijik, jika air mani ini, misal dalam jumlah banyak, maka sungguh tidak ada yang mau meminumnya.

Lalu dari manakah air yang hina ini berasal? Disebutkan juga dari saripati tanah. Sungguh, makanan yang dikonsumsi oleh manusia ini adalah dari tumbuh-tumbuhan artinya tumbuhan itu tumbuh di tanah, sehingga wajar jika dimakan manusia maka saripati inilah yang akan membentuk air mani. Inilah yang disebut dengan saripati tanah.

Lantas kalau penciptaan manusia saja dari air yang hina apakah manusia pantas untuk berlaku sombong? Apakah pantas manusia bersikap angkuh? Apakah manusia layak membanggakannya? Ah sungguh tidak pantas. Mahkluk hina yang bernama manusia ini sungguh mahkluk yang lemah. Yang berhak sombong adalah Allah Yang Mahamenggenggam, yang pantas angkuh ini adalah Allah Yang Mahamemiliki, jika dilakukan oleh manusia, sungguh terlalu perbuatan manusia ini.

Tengoklah siapa manusia! Tengoklah dari bahan dasar apa penciptaan manusia! Jika karena rupa manusia bangga. Sungguh rupa ini cepat atau lambat akan sirna. Jika karena harta yaang dimilikinya manusia ini sombong, sungguh harta ini bersifat sementara, ia akan diambil olehNya. Jika karena jabatan manusia ini sombong, sungguh jabatan yang tidak dijaga dengan amanah kelak akan menghinakannya, jika karena istri-istri yang cantik manusia itu sombong, sungguh istri-istri itu akan meninggalkannya ketika nyawamu lepas dari raga.

Tengoklah, dari mana manusia dicipta!

Wallahu a'lam bishawab
TMT

Sebuah Cita-cita Emas

Oleh : Albarrahman

Kembali menyapa sahabat pena lagi, melewati masa pandemi tidak akan pernah menghalangi kita semua berjuang dan terus menanamkan cita-cita kepada pendidik. Selama dua tahun berkiprah mengajarkan anak-anak Sekolah Dasar selalu saya tanamkan cita-cita mulia sebelum membuka atau pun menutup pertemuan di kelas. Ya memang mereka masih anak SD tapi kita percaya mereka adalah pemilik saham kepemimpin untuk masa 20, 30 atau 40 tahun mendatang. Yuk semai benih cita-cita mulia ke mereka.

Mari melompat ke sejarah, masih ingatkah kita pada masa rainance atau masa pencerahan di Eropa kala bangsa itu masih gelap bahkan belum mengenal sebuah peradaban maju dengan budaya ilmu pengetahuan yang kuat. Nah, teramat banyak ilmuan muslim menyumbangkan kemajuan dan budaya ilmu bagi peradaban kala itu dan hingga kini masih bisa dirasakan sumbangsih mereka.

Ilmuan Islam turut mempelopori pelita peradaban kemajuan zaman. Paling populer di dunia sains kita kenal Aviciena dalam sebutan Eropa yang lebih lazim umat muslim mengenalnya Ibnu Sina nama sesungguhnya dari sang bapak peradaban ilmu kedokteran ini. Lalu, tak kalah penting ada nama Ibnu Khaldun seorang tokoh muslim abad pertengahan yang berhasil menyumbang pemikiran besar dalam ilmu sejarah dan sosial peradaban sejarah bangsa, teori dan gagasannya masih relevan hingga hari ini. Karya melegenda beliau berjudul Muqaddimah.

Menyajikan hal di atas adalah bentuk teladan besar, selanjutnya kita bisa melihat bagaimana Sulthan Al Fatih mendapat pendidikan dari Ayah dan Gurunya tentang arti sebah cita-cita dan tentu dengan Tsiqah keilmuan yang mendalam pula. Saat usia emasnya tepat kisaran 6-7, suatu hari dari kejauhan tembok Konstantinopel. Ayah dari Al Fatih kecil menunjuk dari kejauhan dan berkata, “kelak... taklukan dan jadilah engkau anakku sebaik-baik pemimpin yang memimpin pasukukan terbaik”. Inilah sekelumit cuplikan dialog yang sangat familiar dalam sejarah yang kita kenal.

Hal berharg dari dialog tentang arti sebuah cita-cita yang ditanmkan kepada generasi penerus meski berusia masih sangat belia. Tentu hal ini akan sangat melekat di benak mereka, layaknya kisah Al Fatih ini di masa golden Agen-nya lalu cita-cita itu kuat tertanam dalam sanubarinya.

Secara saintifik ini bisa dibktikan, semisal jika kita ingat lagi bahwa surah Al-Qur’an yang dihafalkan sejak kecil itu sangat kuat melekat dalam hafalan. Begitupun dengan cita-cita dan cinta yang ditanamkan sejak kecil akan kejayaan dan kemenangan dalam arti yang sesungguhnya. Maka hal
tersebut akan termat membekas dan menjadi ruh kuat bag jiwa.

Tanpa harus menyalahkan keadaan dan sulitnya kondisi saat ini, mari meyalakan cerahnya peradaban dengan menanamkan cita-cita luhur pada generasi penurus! Kita menantikan Aviciena baru, Ibnu Khaldun milenial dan sosok kuat layaknya Al Fatih. Dan harapan besar itu ada di generasi penerus.

Akhirnya sebagai penetup,
Kala mentari berufuk dari timur nun jauh
Tolong kembalikan segala hujjah
Betapa kami ingin menyemai cita-cita

Kami tak ingin hanya berlabu di sejarah
Tentang masa yang pernah jaya
Berjuang lalu merayakan cinta berbalut cita-cita

Yogyakarta, tertanggal cita-cita yang membara

Albarrahman, Pendidik dan Penikmat Sejarah, tinggal di Yogyakarta