Sadarlah

Oleh :  Ustadz Felix Siauw

Banyak Muslim, tapi sedikit yang ter-Install Islam didalamnya.
Banyak yang ngaku Tuhannya Allah, tapi menolak diatur Allah.

KTP nya sih Muslim, tapi kata-katanya "semua agama itu sama", bila semua agama adalah sama, maka nggak perlu repot2 memeluk Islam.

Katanya sih Muslim, tapi giliran dibacain Ayat dan Hadits, dia Protes "nggak usah terlalu fanatik lah ! Indonesia kan bukan negara Islam !"

Muslim itu mesti berani sampaikan apa yang nabi Muhammad SAW sampaikan   bahwa Islam itu tertinggi dan tiada yang lebih tinggi selain Islam.
"Dia-lah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya (Muhammad) dengan membawa petunjuk dan agama (Islam) yang benar" (QS 61:9).

"Agar Dia (Allah) memenangkannya (Islam) di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci".  (QS 61:9)

Jadi Muslim kok minder !
Bangga dong punya Islam !
Islam itu makin banyak dipelajari makin membuat Orangnya Tawadhu !

Baru belajar liberal dikit aja sudah bikin angkuh nggak ketulungan, merasa lebih tahu dari ayat Allah, lalu bilang "itu kan tekstual"

Merasa lebih pinter dari Muhammad lalu bilang "itu kan zaman dulu"

Syahadat itu artinya meniadakan selain Allah, mengakui Allah bahwa selain Allah itu #Nothing dan #NggakPenting !

Jadi selain yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur'an dan perintahkan pada manusia, itu #Nothing dan #NggakPenting.

Saya sudah pengalaman jadi tukang sinis pada Islam, Alhamdulillah Allah beri jalan kebaikan & jalan perubahan.
Saya sangat bersyukur bisa mengenal Islam dan jadi Muslim.
Bisa berubah dari Pembenci Islam jadi -Insya Allah- Pembela Islam !

AYO ! Kita do'akan saja yang masih sinis pada Islam justru jatuh cinta pada Islam, layaknya Umar bin Khaththab dan Khalid bin Walid

Bagi Allah tiada yang mustahil. Tugas kita hanya menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik dan selesailah tanggung jawab kita.

Sama seperti penolakan kita terhadap #MissWorld sebagai kampanye penolakan terhadap #PerangPemikiran.

Yang penting dakwah sudah ditunaikan. Adapun semua hasilnya itu urusan lain. Proses dakwah bukan membalik telapak tangan ! Ummat masih perlu banyak di-edukasi !

Rasul mengharap pada Makkah, namun pertolongan datang dari Madinah.
Yang kita yakini sama, darimanapun itu, pertolongan Allah pasti datang !

Tugas kita kini adalah berbisik mesra dengan ukhuwah, agar turun pada kita kecintaan dari Allah !

Meminimalkan dosa lalu bersemangat berdakwah,  karena dakwah ini masalah siapa yang bertahan lebih lama.

Akan datang masa dimana Allah menolong ummat ini, dengan Mengubah Para Pembenci Islam Menjadi Penolong Agama Ini !

AYO ! Jangan bosan berdakwah !
Karena itulah sebab utama turunnya hidayah..

Merubah yang sinis jadi suka, yang benci jadi sayang, yang memusuhi jadi pembela..

Yes I am a Muslim and Very Proud of Islam

Felix Siauw, Penulis dan Dai

Ketika Cinta Membara dan Rindu Menderu


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Bukan jalinan kalimat romantis tandanya cinta. Bukan pula tutur kata mendayu penanda rindu. Ibarat secangkir kopi, nikmatnya bukan karena hadirnya gula, bukan pula karena tuangan krimer. Boleh saja keduanya ada, tetapi bukan itu penakar yang kualitas yang pas.

Ada ungkapan Bugis yang menarik untuk direnungi, "Tellu ronna sitinro’, cinna-e udaani-e, napassengereng. Tiga tak dapat dipisah; cinta, rasa rindu yang memanggil-manggil dan kenangan indah." 

Maka tak mungkin ada cinta jika perpisahan tak membangkitkan kerinduan. Tak mungkin disebut cinta jika bersamanya senantiasa membosankan. Bukan mengukir kenangan yang indah, meski hanya bincang sederhana.

Adakah suami-istri yang tak saling merindu saat berpisah? Ada. Yang lebih ironis manakala ada penantian tentang kembalinya, tetapi kerinduan itu kepada sosok orangnya.

Kapankah suami-istri tak saling merindu? Jika akhlak yang baik tercabut di antara mereka berdua; keduanya atau salah satu di antara mereka. Sebab, "Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja." Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tiada akhir.


Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting

Jadilah Orangtua yang Kuat


Oleh : Imam Nawawi

MERASA benar kerap kali membuat kita kehilangan kendali atas emosi dan perilaku buruk. Bahkan sekalipun lisan ini kerap meluncurkan kata-kata buruk, diri tetap merasa baik-baik saja, sebab sistem kesadaran kita telah menyatakan, bahwa yang dilakukan, seluruhnya benar.

Perasaan semacam inilah yang membuat pendidikan orangtua terhadap anak tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Perasaan itulah yang menjadikan komunikasi pasangan dalam rumah tangga lebih sering memicu perdebatan daripada saling memahami, sehingga kian hari kasih sayang terus tergerus, yang pada akhirnya, emosi terus membara.

Semua itu membuat seseorang lupa bahwa tujuan baik, tak bisa dicapai dengan cara yang tidak baik. Termasuk ketika ingin memiliki anak yang sholeh, tetapi setiap anak tidak sesuai harapan, lisan langsung menembakkan kata-kata buruk.

Dorothi Law Nolte mengatakan bahwa anak yang dibesarkan dengan caci maki akan tumbuh menjadi pribadi rendah diri. Anak yang dibesarkan dengan cercaan dan hinaan, akan tumbuh menjadi sosok yang jiwanya kerdil dan menjadi pribadi yang suka menyesali diri.

Oleh karena itu, kendalikan diri, jangan merasa benar, cobalah introspeksi diri. Jangan sampai maksud baik diwujudkan dengan cara yang salah, sehingga tanpa sadar justru kita sendiri yang membentuk alam bawah sadar anak sedemikian buruk.

Sekarang coba kita cek dalam hati sendiri, apakah mau kita dicaci maki? Andai diri kembali menjadi seperti anak-anak, apakah rela kita dicaci maki. Mungkin akan muncul pertanyaan dalam hati, jika orangtuaku sering mencaciku,untuk apa mereka melahirkan dan memelihara diriku.

Di sinilah kita dapat mengamalkan apa yang Allah sebutkan sebagai salah satu sifat insan bertaqwa, yakni memaafkan kesalahan manusia, siapapun itu, terlebih buah hati sendiri.

Ada kisah menarik yang dialami oleh Ustadz Haikal Hasan, dimana perilaku buruk dirinya ketika masih remaja ternyata disikapi dengan sangat bijaksana oleh sang ibu.

Ketika itu, sepulang sekolah, ia lemparkan tas sekolahnya, kemudian bergegas keluar main bola dari siang hingga petang. Pulang dalam keadaan basah kuyup, baju penuh lumpur. Dan, dirinya bersama teman-temannya pulang dengan cara mengendap. Temannya mendapat perlakuan hampir sama dari ibunya, dimarahi dan dipukuli.

Menyaksikan itu, ustadz yang dikenal dengan panggilan babeh itu merasa gugup dan gemetar untuk segera sampai di rumah.

Tetapi, luar biasa. Ustadz Haikal Hasan mendapati ibunya menyambut dengan penuh kasih sayang, tanpa ada kata marah, raut benci dan sebagainya. Malah menyuruhnya segera mandi dan telah disediakan air hangat. Kejadian itu membekas betul dalam benak ustadz yang dikenal humoris itu, hingga akhirnya beliau menjadi terdorong belajar dan berbakti kepada orangtua.

Didik Anak Bisa Berpikir
Mohamed A. Khalfan dalam bukunya Anakku Bahagia Anakku Sukses menjabarkan bahwa setiap anak mesti dididik untuk bisa berpikir.

“Ajarlah anak unutk bisa berpikir. Sekali kemampuan berpiir itu dikuasai, dia akan berbuat lebih banyak lagi daripada sekadar berpikir.”

Nampaknya hal itulah yang terjadi pada Ustadz Haikal Hasan, dimana perilaku sang ibu yang berbalik 180 derajat dari apa yang dibayangkannya, mendorongnya sadar, mengerti, dan yakin bahwa orangtuanya benar-benar mencintai dan berharap dirinya tumbuh menjadi pribadi bertanggungjawab dan bermanfaat bagi umat.

Jika merujuk dalam Al-Qur’an, metode mendidik anak bisa berpikir bisa dilihat dari cara para Nabi berkomunikasi dengan anak-anaknya. Nabi Ibrahim mengajak dialog anaknya. Nabi Ya’kub juga mengajak dialog anak-anaknya. Bahkan Luqman Al-Hakim mengajak sang anak tak sekedar dialog, tetapi terjun ke masyarakat kemudian menghadirkan banyak hikmah secara langsung kepada anaknya.

Dengan kata lain, memang tidak diperlukan ungkapan penuh kemarahan dan kekesalan ditumpahkan oleh orang dewasa atau orangtua kepada anak-anaknya. Berkatalah yang lembut, biasakan berdialog, dan yang terpenting pahami tingkatan psikologi anak, sehingga kita tidak mengharapkan, kecuali batasan yang sanggup dicapai anak kita sendiri.

Dalam hal ini, Mohamed A. Kholfan kembali menegaskan, “Seorang anak yang tidak terlatih untuk berpikir – dan karenanya ia akan gagal dalam melakukan penalaran – biasanya akan melibatkan emosinya untuk menutupi kekurangannya.”

Tidakkah hari ini kita bertemu dengan sosok orang yang emosinya lebih didahulukan daripada akalnya? Boleh jadi, orang yang demikian besar dalam cara didikan yang keliru, sehingga kala tumbuh dewasa, ia gagal menjadi pribadi yang mengedepankan akal di atas emosinya.
Dengan demikian, mari bersabar, mari lebih teliti, jangan mudah untuk mengumbar amarah, sekalipun terhadap anak-anak sendiri.

Sebab cara demikian selain tidak diajarkan oleh Islam juga akan membawa dampak negatif yang serius bagi pertumbuhan kepribadian anak-anak kita.

Jadilah pribadi yang kuat, orangtua yang kuat dalam beragam hal, terutama dalam mendidik anak-anak, membina keluarga, yang dianjurkan dengan sangat oleh Nabi Muhammad ﷺ.
“Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Malik).*

Rep: Imam Nawawi



Tak Ada Kata Berhenti Belajar Walau Dikejar Ajal

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Namanya Arata Isozaki. Usianya sudah cukup tua ketika mendapat medali perunggu Pritzker Architecture Prize, penghargaan tertinggi bidang arsitektur. Di usia 87 tahun, Isozaki terbang ke Perancis untuk menerima penghargaan tersebut di Château de Versailles (Istana Versailles).

Isozaki memang bukan penerima medali emas. Tetapi ada yang istimewa dari sosok kakek yang telah bekerja sebagai arsitek selama lebih dari 6 dasawarsa ini. Isozaki yang memulai karier sebagai arsitek lokal di Jepang ini memiliki kegairahan belajar yang luar biasa dan terus-menerus meningkatkan kapasitas dirinya sehingga, sebagaimana dikatakan oleh dewan juri, karya arsitektur Isozaki melampaui zamannya. 


Kakek yang telah mendesain 100 bangunan penting di seluruh dunia ini disebut-sebut memiliki pengetahuan mendalam tentang sejarah dan teori arsitektur, dan mencapai derajat avant-garde." Apa yang istimewa dari Arata Isozaki? Pembelajar yang tak pernah hanya meniru status quo dan tidak berhenti pada pencapaian terbaik yang sudah ia raih. Tetapi Isozaki terus melakukan pencarian untuk arsitektur yang bermakna. Ini tercermin dari berbagai karya arsitekturnya yang sekaligus menabrak kategorisasi gaya arsitektur.

Sebagaimana dinukil oleh Al-Jazeera, Martha Thorne, direktur eksekutif Pritzker Architecture Prize mengatakan, "Isozaki selalu mencari makna yang mendasari arsitektur atau tempat arsitektur dalam sejarah, budaya dan teori dan itu cukup unik."

Sebuah pelajaran, tak ada kata berhenti untuk berbenah dan belajar meski sudah dikejar ajal.



Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
Sumber : IG Mohammad Fauzil Adhim

Ini Tentang Adab

Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)

Ini tentang adab. Terkadang hal ini menjadi sepele, karena menganggap itu hanya sunnah, tak dikerjakan pun tak akan mendapat dosa.


Eittsss... tunggu dulu... 

Kenapa harus mengambil konsekuesi terburuk jika yang terbaik mampu kita ambil? 

Bahkan si anak ini sempat bertanya, "Lenapa Si Mbak nya minum sambil berdiri? Kan Allah sudah kasih tahu kalau kita minumnya harus duduk." 

Juga saat dia memakan permen, hal yang ditanyakan adalah, "Tong sampahnya mana? (Sambil dia bawa kemana pun dia pergi si sampah itu sampai ia menemukan benda berharga yaitu tong sampah)
 

Yaa... ini tentang adab. 

Pertanyaan itu tak akan pernah muncul begitu saja tanpa ada ma'lumat yang pernah dia peroleh sebelumnya.
 

Tidak mudah menanamkan adab, perlu pembiasaan yang membutuhkan waktu lama dan tidak cukup sekali dua kali. Tapi, semua itu bisa rusak karena sedikit contoh-contoh perilaku dari orang-orang dewasa yang kurang menjaga adab. 

MaasyaAllah... barakallahufiikum...  

Semoga Allah menjaga kita semua dalam sebaik-baik penjagaanNya.

Prihatiningsih, S.Si., Pendidik di SDIT Hidayatullah Yogyakarta
Sumber Instagram : @atinprihatiningsih15 

Meniru Tapi Jangan Tasyabbuh


Prinsip belajar yang paling mendasar adalah meniru (imitation). Guru cukup memberikan contoh apa yang dimaui guru dari murid, kemudian murid tinggal meniru.

Cara yang mudah dan mendasar dalam belajar. Cara belajar yang paling tua pun dilakukan dengan prinsip meniru. Ketika Qobil putra Adam  tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap jenazah adiknya (Habil). Maka Allah Taala mengutus burung gagak, dan menunjukkan contoh memperlakukan gagak yang mati dengan cara menguburkannya. Qobil pun belajar dengan meniru burung Gagak.

Prinsip belajar dengan meniru adalah cara yang paling mudah dilakukan oleh murid, dibanding cara belajar yang lain. Seperti mencoba-coba (trial and error), berpikir, dan pengkondisian. Anak-anak adalah peniru yang hebat. Entah dari hal yang sengaja dicontohkan atau tidak.

Orangtua sering dibikin kaget dengan ucapan dan perilaku anak. Tidak menyangka bisa melakukan sesuatu. Dari mana ia dapatkan itu? Kalau yang ditiru adalah hal yang baik, tentu membuat orangtua bangga. Tetapi kalau sesuatu yang tidak baik, apalagi tidak pantas. Tentu membuat hati orangtua duka.

Guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru (dipatuhi dan diikuti) tidak akan lekang digerus masa. Itulah yang melekat sepanjang zaman. Karena itulah guru dan orangtua harus hati-hati. Karena anak adalah peniru dan ada meniru yang tidak diperbolehkan, yaitu tasyabbuh. Apakah tasyabbuh itu?

Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili menyampaikan bahwa yang tergolong tasyabbuh adalah melakukan perbuatan yang tidak dilakukan kecuali oleh orang kafir bukan karena kebutuhan manusia.

Sedangkan Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa yang tergolong tasyabbuh kepada orang kafir adalah seorang muslim melakukan hal yang merupakan ciri khas kafir.
Adapun jika hal itu tersebar antara kaum muslimin dan bukan ciri khas kaum kuffar maka bukanlah tasyabbuh.

Bagaimana agar anak tidak terjerumus dalam tasyabuh? Pertama, sejak dini anak harus diberi pengertian tentang tasyabbuh yang dilarang. Tentu dengan cara dan bahasa yang sesuai dengan usianya saat diberikan. Sehingga dirasa anak lebih alami dan tidak membebani. Diimbangi dengan memperkuat kebanggaan menggunakan identitas diri sebagai muslim. Terutama dalam berucap, bersikap, dan berpakaian.

Kedua, orangtua dan guru harus sering mengkonter propaganda orang Yahudi, Nasrani, dan kafir melalui media massa. Melalui media massa, terutama televisi, anak mudah sekali meniru. Dan di situ tersiar gaya hidup orang-orang kafir yang sengaja dipropagandakan. Berarti orangtua dan guru juga harus mengikuti media massa yang menyiarkan propaganda gaya hidup orang kafir. Dengan mengetahui bahannya, maka orangtua dan guru bisa mengkonter dengan tepat dan cepat.

Ketiga, orangtua dan guru tidak mentolerir turunan dari gaya hidup orang kafir. Misalnya, ada kejadian seorang guru menemukan botol minum yang bentuknya tidak lazim sebagaimana anak membawa bekal minum. Botol yang ditemukan di kelas lima SD itu terbuat dari kaca dan berbentuk sebagai kemasan minuman keras. Minuman yang dilarang. Setelah diusut, diketahui bahwa pemilik botol itu ketika minum memang bergaya seperti orang yang minum khomr. Ia dengan bangganya memamerkan kepada teman-teman bagaimana ia minum sebagaiman yang ia lihat di televisi. Meskipun minuman yang ada dalam botol itu berupa air teh atau jus buah, tetapi cara atau gaya minum seperti itu tidak boleh ditolerir.||

Antara Pekerjaan dan Dakwah

Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Hidup dalam cengkraman kapitalis sudah terbukti sulit dan penuh dengan krisis. Negeri kaya berlimpah sumber daya alam tak mampu menyejahterakan rakyatnya. Kesalahan paradigma pengelolaannya menghantarkan pada minimnya lapangan kerja. Yang sudah bekerjapun tak sedikit yang terkena PHK. Akhirnya pengangguran kian meluas.

Mencari kerja bukanlah perkara yang mudah, apalagi bagi para pengemban dakwah yang memiliki kesadaran lebih. Memilih pekerjaan bukan hanya sebatas untuk menghasilkan uang, tapi paling tidak ada 2 yang harus dipertimbangkan: pertama apakah pekerjaannya halal dan mendatangkan berkah atau justru haram, seperti berkaitan dengan riba atau akad nya tidak syar’i. Kedua, apakah pekerjaannya tidak menghalangi aktivitas dakwah?

Pejuang andalan tidak akan mengorbankan dakwah demi sebuah pekerjaan sekalipun boleh jadi menjanjikan kesuksesan secara materi. Pilihan pekerjaan seorang pengemban dakwah kadang tidak mampu dipahami oleh kacamata para kapitalis. Maka mereka dianggap aneh dan terlalu membawa-bawa agama dalam ranah pekerjaan, padahal sejatinya agama adalah pedoman hidup, ideologi yang harus dipegang oleh setiap umat muslim dalam setiap keadaannya. Apalah arti harta jika dia tak mendatangkan keberkahan? Pun harta tidak dibawa mati. Dibalik ini semua, ada sosok yang sangat saya kagumi, yaitu ibunda Khadijah.

Ketika menikah dengan Rasulullah SAW, ibunda Khadijah sudah menjadi pengusaha yang berlimpah kekayaan. Anugrah harta tersebut tidak lantas menjadikan beliau sombong dihadapan suami, apalagi merendahkan eksistensi sang suami. Ia tetap menunjukkan rasa hormat dan taat bahkan seluruh harta beliau di dedikasikan seluruhnya untuk dakwah Rasulullah SAW, maasyaAllah. Bahkan beliau rela hidup dalam kesulitan sebagai konsekuensi dakwah pada masa pemboikotan oleh kafir Quraisy.

Seorang pengemban dakwah akan senantiasa menghiasi dirinya dengan sifat qana’ah. Terkait masalah rezeki, ia menyadari betul bahwa pekerjaan bukan sebab datangnya rezeki, namun hanya merupakan salah satu jalan sampainya rezeki itu di tangan kita. Adapun penyebab rezeki itu hanya satu, yaitu Allah Ta’ala.

Ia juga sangat meyakini firman Allah dalam surat Ath Thalaq ayat 3 yang artinya “ dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” Allah pasti akan mencukupkan kebutuhan bagi hambaNya yang bertakwa. Salah satu wujud takwa adalahtetap istiqomah di jalan dakwah apapun resikonya.

Banyak yang mempertanyakan, kenapa kuliah mu tak sesuai dengan pekerjaan mu saat ini? ( for ex : kuliah di teknik kerja di ponpes, atau pertanian kerja sebagai guru) it’s okay dear,  Ini hanya salah satu wasilah kerja sambil berdakwah kok. Yakinlah semua itu sudah jalan dari Allah. Yang menentukan perkerjaan itu tidak sepenuhnya jurusan saat kuliah atau lulusan apa dirimu. Tapi sekuat apa kamu teguh dalam pekerjaan dan mengemban amanah kerjamu sambil berdakwah.

Penulis : Prihatiningsih, S.Si., Guru SDIT Hidayatullah Yogyakarta
Foto by Atin

Menjadi Anak Emas



Oleh : Tuswan Reksameja

Anak emas, hampir dipastikan setiap keluarga, setiap kelas, atau bahkan setiap dusun ada yang namanya ‘anak emas’. Kalau secara definitif, anak emas adalah anak yang selalu digadang-gadang, ditimang-timang, atau anak yang selalu dilebihkan dalam segala hal. Biasanya anak emas ini identik dengan hal-hal yang negatif. Karena ada istilah anak emas untuk anak yang selalu mendapatkan kasih dan sayang lebih dari yang lain.

Sebagai contoh anak emas adalah kisah Nabi Ayub as, karena beliau, menurut anak-anaknya, lebih menyayangi, lebih mencintai nabi Yusuf dan Bunyamin, maka anak-anaknya yang lain menjadi iri, akhirnya mereka mencelakai Nabi Yusuf dengan dibuang di hutan. Mengapa Nabi Ayub lebih mencintai Yusuf dan Bunyamin? Tentunya ada kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh keduanya.

Oke, penulis berlepas dari anak emas yang bersifat negatif, mari kita fokus kenapa seseorang itu mencintai lebih, menyayangi lebih, memberi perhatian lebih kepada si anak emas. Manusiawi memang, ketika di dalam kelas ada anak yang paling cantik wajahnya, pasti si cantik akan jadi pusat perhatian oleh guru dan teman-temannya, ia dijadikan ikon di kelasnya, bahkan pasti ada salah satu atau lebih guru menjadi si cantik itu sebagai anak emas karena kecantikannya. Mungkin segala perilaku, model pakaian, model rambut yang dikenakan si cantik akan menjadi tren di kelasnya. Itulah, dia menjadi anak emas karena rupa wajahnya.

Mungkin di kelas yang lain ada anak-anak yang selalu nangkring di rangking satu setiap akhir semester, dan bisa dipastikna juga ada satu atau lebih guru di kelas tersebut menjadikan dia sebagai anak emas karena kecerdasannya. Si cerdas ini biasanya tidak menjadi ikon dalam hal apapun di kelasnya, dia hanya terkenal karena kecerdasannya. Dampaknya memang tidak terlalu besar, karena biasanya si cerdas ini temannya tidak terlalu banyak. Itulah, dia menjadi anak emas karena kecerdasannya.

Nah, kalau ada si cantik tentu juga ada si ganteng bagi laki-laki dan tentu saja ada si buruk rupa, seseorang yang tidak diberi Allah kelebihan dalam hal kerupawannya. Tentulah dia menjadi ikon keburukkan di kelasnya, biasanya teman-temannya akan membuat olok-olok dengan menjodohkan dengannya. Kalau pernah melakukan hal ini, sepatutnya kita meminta maaf kepada teman kita yang satu ini, karena tidaklah pantas hal ini dilakukan. Tapi itulah kenyataan, si buruk rupa akan selalu menjadi bahan ejekkan. Nasib si buruk rupa tidak sebaik si cantik atau si ganteng, dia menjadi lebih sulit untuk menarik simpatik guru-gurunya dengan bermodal wajahnya, jadi untuk menjadi anak emas, si buruk rupa harus menjadi cerdas baru dia bisa menjadi anak emas.

Kalau ada si cerdas, tentu ada si bodoh. Nah si bodoh ini bisa saja menjadi anak emas, jika dengan modal yang pertama, cantik atau ganteng. Jika tidak ada, maka hal yang mustahil untuk menjadi anak emas di kelasnya.

Dari sekumpulan cerita di atas, anak emas identik dengan kelebihan yang dimiliki. Jadi mudah saja untuk menjadi anak emas, punyalah nilai lebih dalam hal kebaikan. Jika yang ada hanya kelebihan keburukkan, maka anak emas sulit didapatkan.

Nah, menjadi anak emas harus berprestasi, bukan hanya modal wajah cantik atau rupa yang ganteng. Berprestasilah, menjadi anak emas. 

Tuswan Reksameja, Redaktur Majalah Fahma

Beramal, Jalan Meraih Rahmat Allah


Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi., M.Psi.

Anda merasa mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh Allah Ta'ala untuk amal-amal shaleh yang telah Anda kerjakan padahal hak Allah Ta'ala kepada Anda terlampau besar sehingga niscaya Anda tidak akan pernah mempunyai kesanggupan untuk memenuhinya, padahal nikmat-nikmat-Nya terlampau banyak sehingga niscaya Anda tidak akan pernah mampu menghitungnya?

Jabir radhiyallahu'anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dari Jibril 'alaihissalam, katanya, 'Seorang abid (ahli ibadah) melakukan ibadah di atas puncak sebuah gunung di tengah lautan selama 500 ratus tahun, lalu ia memohon kepada Rabb-nya agar nyawanya dicabut dalam keadaan sujud.' Jibril 'alaihissalam juga menuturkan, 'Jadi kami selalu mengunjunginya setiap kali kami turun dan naik.' Dan kami mendapatkan dalam ilmu (yakni pengetahuan yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepada kami) bahwa hamba tersebut nantinya akan dibangkitkan di Hari Kiamat dan dihadapkan ke hadapan Allah Azza wa Jalla. Maka berfirmanlah Allah Azza wa Jalla, 'Masukanlah hamba-Ku ini ke surga dengan rahmat-Ku.' Namun si hamba meminta, 'dengan amalanku, wahai Rabb-ku.' Hal itu dilakukannya sampai tiga kali. Maka Allah Ta'ala memerintahkan para malaikat-Nya, 'Bandingkanlah (ukurlah) antara nikmat-Ku kepada hamba-Ku ini dengan amalannya. Para malaikat pun akhirnya mendapatkan bahwa nikmat penglihatan saja telah sebanding dengan ibadahnya yang lima ratus tahun. Karena itu, abid (ahli ibadah) tersebut memelas penuh harap, 'Dengan rahmat-Mu, masukanlah aku ke surga!. Dengan rahmat-Mu, masukanlah aku ke surga!' Lalu Allah Ta'ala pun memasukannya ke surga.' Jibril 'alaihissalam lalu menambahkan, 'Segala sesuatu hanya berkat rahmat Allah, wahai Muhammad.'

Jadi, bagaimana pun amalan dan kesungguhan kita, keselamatan dari neraka dan keuntungan memperoleh surga bukanlah sebagai ganti rugi daripada semua itu. Untuk itulah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabat beliau, "Setiap kamu tidak akan diselamatkan oleh amalnya." Para sahabat bertanya, "Sekalipun engkau, ya Resulullah?" Resulullah pun menjawab, "Sekalipun aku, kecuali bila Allah melimpahkan Rahmat-Nya kepadaku." (HR Bukhari dan Muslim)

Setiap individu dituntut untuk mensyukuri berbagai nikmat yang telah dilimpahkan Allah Ta'ala kepadanya, sekalipun seluruh amalnya pasti tidak akan cutup untuk memenuhi hak syukur satu nikmat pun--Masih teramat banyak nikmat yang belum dibalasnya dengan syukur dan oleh karena banyak sekali nikmat yang tidak disyukurinya, maka tentulah pantas ia mendapatkan adzab dari Allah Ta'ala. Jadi, sekalipun Allah Ta'ala menyiksa seluruh penghuni langit dan bumi-Nya, maka sesungguhnya siksa-Nya itu bukan merupakan kezhaliman terhadap mereka.

Ibnu Umar radhiyallahu'anhu meriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Seorang laki-laki datang pada Hari Kiamat dengan membawa amalan yang sekiranya diletakkan di atas sebuah gunung, sungguh gunung itu akan morasa berat. Lantas diajukanlah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Allah Ta'ala yang telah diberikan kepadanya, maka nyaris satu nikmat tersebut menghabiskan semua amalnya, sekiranya Allah Ta'ala tidak melimpahkan rahmat-Nya." (HR Thabrani).

Jadi,beramal dan kesungguhan dalam berbuat kebaikan sesungguhnya merupakan jalan untuk meraih rahmat dan amputan Allah Ta'ala. "Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-'Araaf:56). Jika rahmat dan ampunan-Nya telah diperoleh, maka dengan seizin-Nya, hal itu akan disusul dengan masuk surga, sebagai anugerah dan kemurahan-Nya. "

Barangsiapa menganggap besar amal-amalnya serta melihat dirinya punya hak yang harus diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya, maka Allah Ta'ala juga akan menuntut hak-Nya kepada orang tersebut. Orang yang datang menghadap Allah Ta'ala dengan membawa laporan amalan-amalan yang telah diperbuat serta mengharap gantinya, maka orang itu telah mengajukan dirinya uituk dihisab lewat cara keadilan, karena ia mempersoalkan hisab Allah, bakhan adzab-Nya. Na'uudzubillahi.

Adapun orang yang menghadap Allah Ta'ala dengan keyakinan bahwa ia sama sekli tidak punya amalan apa-apa yang bisa diandalkan, bahkan sangat menyadari bahwa banyak hak Allah Ta'ala yang telah diabaikan, merasa tidak memiliki hak sama sekali yang harus diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya dan tidak dapat pula ia meminta surga sebagai keuntungan dari amalannya, maka orang tersebut telah mengajukan dirinya untuk mendapatkan kemurahan dan rahmat Allah Ta'ala kepadanya, tanpa mempersoalkan atau mendebat hisab-Nya. 

(Majdi Al-Hilali, 2006, Adakah Berhala pada Diri Kita?)

Antara Keinginan dan Kebutuhan



Oleh : Tuswan Reksameja

Ada beberapa orangtua yang ingin membahagiakan anak-anaknya sehingga terlalu memanjakan mereka. Anak menginginkan ini diberi, anak menginginkan itu diberi. Pokoknya ia tidak rela melihat anaknya bercucur air mata hanya karena tidak mendapati yang diingini. Ia tidak rela jika anaknya harus susah payah mendapatkan sesuatu yang ingin dimiliki.

Tidak sedikit pula suami istri yang tidak sepaham dalam membahagiakan anak-anak. Yang satu berperinsip kalau menuruti seluruh permintaan anak-anak adalah wujud dari membahagiakan mereka. Yang satunya berprinsip setiap permintaan anak tidak harus dituruti.

Nah, tentu jika kedua orangtua berbeda prinsip dalam mendidik anak-anak mereka, mereka akan menjadi anak yang tumbuh dalam kebingungan, besar dalam kebimbangan. Karena anak-anak mendapati orangtua yang berbeda prinsip.

Penulis tidak akan membahas lebih detail tentang perbedaan prinsip orangtua dalam mendidik anak-anak mereka. Penulis akan lebih fokus bahwa terkadang sebagai orangtua kita lebih sering membelikan anak-anak kita sesuatu yang seharusnya tidak dibutuhkan mereka.

Cobalah kita tengok berapa losin alat permainan yang sudah kita beli untuk anak-anak kita? Sesekali coba kita kumpulkan alat permainan anak-anak kita. Alasan orangtua memang bermacam ketika membelikan mainan kepada mereka, ada yang karena mainannya rusak, ada yang karena anak sudah bosan, dan lain sebagainya.

Tentu membeli alat-alat permainan anak, jika itu tidak berlebihan tidaklah mengapa. Tapi yang sering kita dapati adalah segunung alat permainan anak yang terus dan terus kita beli, sehingga sebenarnya banyak alat permainan lama yang bisa dipakai tetapi karena ada yang baru anak-anak enggan menyentuh apalagi memainkannya.
Jika hal ini dilakukan terus menerus, secara tidak sadar orangtua mengajarkan kepada anak berbuat boros. Di mana mereka membeli sesuatu yang sejatinya tidak terlalu dibutuhkan oleh anak-anak.

Karena pada prinsipnya, satu rupiah yang dikeluarkan jika itu untuk sebuah kesia-siaan atau lebih jauh utk kemaksiatan adalah pemborosan. Tapi lebih dari satu rupiah pun jika itu untuk sesuatu yang dibutuhkan atau untuk kebaikan bukanlah perbuatan boros.

Jika sikap kita terhadap harta ini boros, maka akan menghasilkan sesuatu yang mubadzir, sesuatu yang sia-sia. Hanya memenuhi keinginan nafsu saja, bukan kebutuhannya. Padahal dalam isi kepalanya ada banyak sekali keinginan yang melebihi kebutuhan.

"Sungguh mubadzir itu adalah teman dari syetan" begitu Al-Quran menggambarkannya.

Maka sebagai orangtua, mari berpikir ulang untuk selalu berbuat mubadzir ini. Cobalah mengajak anak-anak untuk berpikir tentang kemubadziran. Dialog dan diskusi dengan mereka bagaimana sebaiknya harta yang dipunyai digunakan.
Sesekali ajak mereka ke tempat-tempat anak yang kurang beruntung, anak-anak yang tidak pernah mendapatkan banyak fasilitas kemudahan. Anak-anak yang kalau menginginkan sesuatu harus kerja keras dahulu. Harus mencari dengan susah payah. Ajak anak-anak itu bercengkrama dengan mereka. InsyaAllaah jika sering dilakukan akan mengajarkan kepada anak-anak bagaimana ia memperlakukan harta dengan bijak.

Beri motivasi mereka untuk memberikan bantuan akan barang-barang yang dimiliki, harta yang bukan sekadar dinikmati sendiri namun bisa ia bagi kepada yang membutuhkan. Ajak mereka untuk berpikir, apakah yang ia beli itu sesuatu yang diinginkan atau sesuatu yang dibutuhkan? 

Wallahu a'lam

Tuswan Reksameja, Redaktur Majalah Fahma

Menyemai Masa Kecil dengan Cinta


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Jika engkau tak menyemai rindu pada anak-anakmu dengan menyisihkan waktumu untuk berbincang sejenak dan menemani mereka, maka hari tua adalah masa-masa penantian yang hampa. Kering. Ingin menanti, tapi tak tahu kapan anak-anak itu akan tergerak hatinya untuk pulang dan berkenan duduk di samping kita.

Tanpa balutan cinta dan takzim kepada orangtua, rumah besar tidaklah menawarkan kelapangan yang melegakan. Tidak bagi kita, tidak pula bagi anak-anak. Rumah yang luas hanya menyisakan kelengangan. Sepi. Sementara kamar anak-anak adalah kisah sedih di masa lalu; sedih bukan karena buruknya mereka, tetapi sedih karena lupa tak menyemai masa kecil mereka dengan cinta, kasih-sayang, perhatian, penjagaan, pengawasan, pengajaran, pendidikan dan penempaan. Semua itu terangkum pada kata tarbiyah. Inilah yang membedakan nilai do'a tiap-tiap anak bagi orangtuanya. Do'a mereka mungkin sama, tetapi seperti apa kita mentarbiyah mereka di waktu kecil, itulah yang menentukan nilai do'a mereka bagi kita.

Ingatlah, sesungguhnya do'a anak adalah do'a yang bersyarat:

.
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْراً

“Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku, dan kasih-sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mentarbiyahku di waktu kecil.”

Ada kata كَمَا (sebagaimana) pada do'a mereka. Maka bagaimana kita mentarbiyah mereka, akan menentukan nilai do'a mereka. Sesungguh-sungguh apakah kita mengasuh-mendidik mereka?

Jika hubungan kita dan anak-anak sangat dekat, maka mereka akan senantiasa hadir, meskipun boleh jadi mereka tak bisa sering pulang karena banyaknya amanah kebaikan yang harus mereka tunaikan.

Ada orangtua yang senantiasa teduh hatinya menjumpai jejak-jejak masa kecil anaknya, mengingat kesukaan mereka dan penuh semangat menuturkan masa kecil mereka. Selalu ada yang bercahaya. Di saat seperti itu, rumah yang sempit pun terasa melegakan. Sementara luasnya memberi kelapangan. Selalu ada tempat untuk anak-anak.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting

Menjaga, Menata, lalu Bercahaya


Oleh : Salim A. Fillah


Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. 

Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.

Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
♥♥♥

Tak mudah menjadi lelaki sejantan Salman. Tak mudah menjadi sahabat setulus Abud Darda’. Dan tak mudah menjadi wanita sejujur shahabiyah yang kelak kita kenal sebagai Ummud Darda’. Belajar menjadi mereka adalah proses belajar untuk menjadi orang yang benar dalam menata dan mengelola hati. Lalu merekapun bercahaya dalam pentas sejarah. Bagaimanakah kiranya?

Ijinkan saya mengenang seorang ulama yang berhasil mengintisarikan Ihya’ ‘Ulumiddin karya Imam Al Ghazali. Ustadz Sa’id Hawa namanya. Dalam buku Tazkiyatun Nafs, beliau menggambarkan pada kita proses untuk menjadi  orang yang shadiq, orang yang benar. Prosesnya ada empat, ialah sebagai berikut,

1.    Shidqun Niyah
Artinya benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus sum’ah dan ‘ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.

2.    Shidqul ‘Azm
Artinya benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam pekik semangat. Benar dalam menemukan motivasi setiap kali. Benar dalam mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memikirkan langkah-langkah pasti. Benar dalam memantapkan jiwa.

3.    Shidqul Iltizam
Artinya benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar dalam memaksa diri. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqamahkan dzikir, fikir, dan ikhtiyar.

4.    Shidqul ‘Amaal
Artinya benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar Ilahi. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal. Benar dalam tiap gerak anggota badan.

Nah, mari coba kita refleksikan proses menjadi orang benar ini dalam proses menuju pernikahan. Seperti Salman. Ia kuat memelihara aturan-aturan syar’i. Dan mengharukan caranya mengelola hasrat hati. Insyaallah dengan demikian keberkahan itu semakin mendekat. Jikalau Ash Shidq berarti kebenaran dan bermakna kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia.
♥♥♥

Apa kiat sederhana untuk menjaga hati menyambut sang kawan sejati? Dari pengalaman, ini jawabnya: memfokuskan diri pada persiapan. Mereka yang berbakat gagal dalam pernikahan biasanya adalah mereka yang berfokus pada “Who”. Dengan siapa. Mereka yang insyaallah bisa melalui kehidupan pernikahan yang penuh tantangan adalah mereka yang berfokus pada “Why” dan “How”. Mengapa dia menikah, dan bagaimana dia meraihnya dalam kerangka ridha Allah.

Maka jika kau ingin tahu, inilah persiapan-persiapan itu:
1.    Persiapan Ruhiyah (Spiritual)
Ini meliputi kesiapan kita untuk mengubah sikap mental menjadi lebih bertanggung jawab, sedia berbagi, meluntur ego, dan berlapang dada. Ada penekanan juga untuk siap menggunakan dua hal dalam hidup yang nyata, yakni sabar dan syukur. Ada kesiapan untuk tunduk dan menerima segala ketentuan Allah yang mengatur hidup kita seutuhnya, lebih-lebih dalam rumahtangga.

2.    Persiapan ‘Ilmiyah-Fikriyah (Ilmu-Intelektual)
Bersiaplah menata rumahtangga dengan pengetahuan, ilmu, dan pemahaman. Ada ilmu tentang Ad Diin. Ada ilmu tentang berkomunikasi yang ma’ruf kepada pasangan. Ada ilmu untuk menjadi orangtua yang baik (parenting). Ada ilmu tentang penataan ekonomi. Dan banyak ilmu yang lain.

3.    Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Jika memiliki penyakit-penyakit, apalagi berkait dengan kesehatan reproduksi, harus segera diikhtiyarkan penyembuhannya. Keputihan pada akhwat misalnya. Atau gondongan (parotitis) bagi ikhwan. Karena virus yang menyerang kelenjar parotid ini, jika tak segera diblok, bisa menyerang testis. Panu juga harus disembuhkan, he he. Perhatikan kebersihan. Yang lain, perhatikan makanan. Pokoknya harus halal, thayyib, dan teratur. Hapus kebiasaan jajan sembarangan. Tentang pakaian juga, apalagi pada bagian yang paling pribadi. Kebiasaan memakai dalaman yang terlalu ketat misalnya, berefek sangat buruk bagi kualitas sperma. Nah.

4.    Persiapan Maaliyah (Material)
Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan & penegasan kepemimpinan suami. Persiapan finansial #Nikah sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, & kendaraan yang harus kita punya. Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas menghasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, & kemampuan mengelola sejumlah apapun ia.

Maka memulai per nikahan, BUKAN soal apa kita sudah punya tabungan, rumah, & kendaraan. Ia soal kompetensi & kehendak baik menafkahi. Adalah ‘Ali ibn Abi Thalib memulai pernikahannya bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dan lain-lain dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.

Maka sesudah kompetensi & kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: pernikahan itu jalan Allah membuka kekayaan (QS 24: 32). Buatlah proyeksi nafkah rumahtangga secara ilmiah & executable. JANGAN masukkan pertolongan Allah dalam hitungan, tapi siaplah dengan kejutanNya.
Kemapanan itu tidak abadi. Saat belum mapan masing-masing pasangan bisa belajar untuk menghadapi lapang maupun sempitnya kehidupan. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite, signifikan memperkuat ikatan cinta. Ketidakmapanan yang dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung dan meningkatkan angka harapan hidup.

5.    Persiapan Ijtima’iyyah (Sosial)
Artinya, siap untuk bermasyarakat, faham bagaimana bertetangga, mengerti bagaimana bersosialisasi dan mengambil peran di tengah masyarakat. Juga tak kalah penting, memiliki visi dan misi da’wah di lingkungannya.

Nah, ini semua adalah persiapan. Artinya sesuatu yang kita kerjakan dalam proses yang tak berhenti. Seberapa banyak dari persiapan di atas yang harus dicapai sebelum menikah? Ukurannya menjadi sangat relatif. Karena, bahkan proses persiapan hakikatnya adalah juga proses perbaikan diri yang kita lakukan sepanjang waktu. Setelah menikah pun, kita tetap harus terus mengasah apa-apa yang kita sebut sebagai persiapan menikah itu. Lalu, kapan kita menikah?

Ya. Memang harus ada parameter yang jelas. Apa? Rasulullah ternyata hanya menyebut satu parameter di dalam hadits berikut ini. Satu saja. Coba perhatikan.


“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian telah bermampu BA’AH, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Hanya ada satu parameter saja. Apa itu? Ya, ba’ah. Apa itu ba’ah? Sebagian ‘ulama berbeda pendapat tetapi menyepakati satu hal. Makna ba’ah yang utama adalah kemampuan biologis, kemampuan berjima’. Adapun makna tambahannya, menurut Imam Asy Syaukani adalah al mahru wan nafaqah, mahar dan nafkah. Sedang menurut ‘ulama lain adalh penyediaan tempat tinggal. Tetapi, makna utamalah yang ditekankan yakni kemampuan jima’.

Maka, kita dapati generasi awal ummat ini menikahkan putra-putri mereka di usia muda. Bahkan sejak mengalami ihtilam (mimpi basah) pertama kali. Sehingga, kata Ustadz Darlis Fajar, di masa Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, tidak ada kenakalan remaja. Lihatlah sekarang, kata beliau, ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh menyejarah menikah di usia belasan. Yusuf Al Qaradlawi menikah di usia belasan, ‘Ali Ath Thanthawi juga begitu. Beliau lalu mengutip hasil sebuah riset baru di Timur Tengah, bahwa penyebab banyaknya kerusakan moral di tengah masyarakat adalah banyaknya bujangan dan lajang di tengah masyarakat itu.

Nah. Selesai sudah. Seberapa pun persiapan, sesedikit apapun bekal, anda sudah dituntut menikah kalau sudah ba’ah. Maka persiapan utama adalah komitmen. Komitmen untuk menjadikan pernikahan sebagai perbaikan diri terus menerus. Saya ingin menegaskan, sesudah kebenaran dan kejujuran, gejala awal dari barakah adalah mempermudah proses dan tidak mempersulit diri, apalagi mempersulit orang lain. Sudah berani melangkah sekarang? Apakah anda masih perlu sebuah jaminan lagi? Baik, Allah akan memberikannya, Allah akan menggaransinya:

“Ada tiga golongan yang wajib bagi Allah menolong mereka. Pertama, budak mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Dua, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya dari ma’shiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah.” (HR At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Pernah di sebua milis, saya juga menyentil sebuah logika kecil yang pernah disampaikan seorang kawan lalu saya modifikasi sedikit. Apa itu? Tentang bahwa menikah itu membuka pintu rizqi. Jadi logikanya begini. Jatah rizqi kita itu sudah ada, sudah pasti sekian-sekian. Kita diberi pilihan-pilihan oleh Allah untuk mengambilnya dari jalan manapun. Tetapi, ia bisa terhalang oleh beberapa hal semisal malas, gengsi, dan ma’shiat.

Kata ‘Umar ibn Al Khaththab, pemuda yang tidak berkeinginan segera menikah itu kemungkinannya dua. Kalau tidak banyak ma’shiatnya, pasti diragukan kejantanannya. Nah, kebanyakan insyaallah jantan. Cuma ada ma’shiat. Ini saja sudah menghalangi rizqi. Belum lagi gengsi dan pilih-pilih pekerjaan yang kita alami sebelum menikah. Malu, gengsi, pilih-pilih.

Tapi begitu menikah, anda mendapat tuntutan tanggungjawab untuk menafkahi. Bagi yang berakal sehat, tanggungjawab ini akan menghapus gengsi dan pilih-pilih itu. Ada kenekatan yang bertanggungjwab ditambah berkurangnya ma’shiat karena di sisi sudah ada isteri yang Allah halalkan. Apalagi, kalau memperbanyak istighfar. Rizqi akan datang bertubi-tubi. Seperti kata Nabi Nuh ini,

 “Maka aku katakan kepada mereka: “Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh 10-12)

Pernah membayangkan punya perkebunan yang dialiri sungai-sungai pribadi? Banyaklah beristighfar, dan segeralah menikah, insyaallah barakah. Nah, saya sudah menyampaikan. Sekali lagi, gejala awal dari barakahnya sebuah pernikahan adalah kejujuran ruh, terjaganya proses dalam bingkai syaria’t, dan memudahkan diri. Ingat kata kuncinya; jujur, syar’i, mudah. Saya sudah menyampaikan, Allaahummasyhad! Ya Allah saksikanlah! Jika masih ada ragu menyisa, pertanyaan Nabi Nuh di ayat selanjutnya amat relevan ditelunjukkan ke arah wajah kita.

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (Nuh 13)

Begitulah. Selamat menyambut kawan sejati, sepenuh cinta.

Manusia Maju



Oleh : Imam Nawawi

Manusia dikatakan maju jika apa dan bagaimana? Kebanyakan orang menilai manusia maju karena tinggal di negara A, B, atau C. Sebaliknya, manusia tidak maju karena di negara D,E, dan F tidak seperti negara, A,B, dan C.

Jika standar kemajuan manusia diukur dari capaian teknologinya, itu tidak salah. Tetapi tidak berarti negara yang teknologinya maju, maju seluruhnya.
Indonesia, apakah negara maju atau berkembang?

Dalam tinjauan ekonomi dan pembangunan, Indonesia berkembang. Tetapi, dalam sisi adab, sopan santun, akhlak, apakah Indonesia lebih buruk dari bangsa lain, bahkan bangsa yang maju tapi pernah berlumuran darah sejarahnya karena gemar sekali menjajah?

Dengan kata lain, kita butuh alat ukur yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan untuk bisa mengukur manusia maju atau sebaliknya.

Mari sejenak menengok ke masa Nabi Muhammad. Di masa itu, bangunan belum seperti sekarang, sekolah tidak ada, perpustakaan apalagi, tetapi budaya ilmu itu luar biasa. Tidak ada cerita penduduk Madinah yang tidak mendapatkan ilmu yang disampaikan oleh Nabi, meskipun semua penduduknya tetap sibuk dengan aneka rupa mata pencahariannya.

Di masa itu juga belum ada pengadilan, tetapi keadilan nyata terasa.

Di masa itu juga belum ada rumah sakit, tetapi budaya hidup sehat itu berlangsung, sehingga sahabat yang sepuh sekalipun tak mau ketinggalan turun ke medan jihad.

Bandingkan dengan sekarang! Ketika perpustakaan mewah, buku tinggal download, menulis sangat mudah, sekolah dimana-mana, apakah tradisi membaca masyarakat meningkat?

Dengan demikian, maju tidaknya manusia tidak bisa diukur dari apa capaian teknologinya, berapa besar kekuatan ekonominya, tetapi sejauh mana ketundukannya kepada Tuhan, sehingga dalam segala sisinya, manusia senantiasa bisa menghidupkan budaya ilmu, kondisi yang penuh keadilan, dan kesehatan kehidupan warga negara.

Dan, yang paling penting, apakah manusia masih bersikap dan berperilaku sebagai manusia. Atau malah telah lebih buruk dari binatang ternak?

Jakarta, 2 Jumadil Akhir 1440 H
Imam Nawawi, Pemimpin Redaksi Majalah Mulia