Sehat dan Sukses Selamanya dengan Mengingat Mati

Oleh : Imam Nawawi Suradi
TIDAK sedikit orang beranggapan bahwa kematian adalah akhir dari kesuksesan seseorang. Terlebih kala dikaitkan dengan harta benda yang ditinggalkan. Namun, Islam tidaklah memandang demikian, orang sukses bisa berlanjut sampai ke akhirat.
Abdurrahman bin Auf misalnya, beliau tidak saja kaya raya di dunia, tetapi juga akan hidup bahagia di dalam surga. Mengapa, karena kekayaan yang digenggamnya tak menghalanginya mengingat mati, mengingat masa sulit perjuangan para sahabat Nabi, sehingga tak sempat dirinya berpikir bagaimana terus mengejar kekayaan. Justru kekayaan yang ada itu ia serahkan untuk Islam.
Demikian pula dengan putri Rasulullah 9 Fathimah Radhiyallahu anha, beliau rela hidup dengan kerja keras, hingga melepuh dua tapak tangannya di dunia, bahkan enggan meminta pertolongan dan bantuan dari sang ayah yang sejatinya bisa memberikan apa yang dibutuhkannya. Semua itu dijalani dengan ringan hati, mengapa, ada kematian yang akan mengakhiri perjuangan hidup yang sedemikian itu.
Hal ini menunjukkan bahwa kematian sejatinya adalah gerbang penentuan. Mereka yang ingin kematian menjadi gerbang indah maka bagiamanapun kondisinya di dunia, itu tidak akan pernah mengguncangkan imannya, apalagi sampai tercerabut sampai akar-akarnya.
Tetapi, orang yang melalaikan kematian, menjauhi dengan terus berpacu mengejar kekayaan dunia, maka ia akan mudah menggadaikan apapun yang dimilikinya, termasuk iman demi kenikmatan semu kehidupan dunia ini.
Orang-orang yang seperti itu yang tidak saja akan merugi di akhirat. Di dunia pun ia sudah kehilangan kesehatan berpikirnya, kehilangan kesehatan berakhlaknya, sehingga yang dilakukan dan diucapkan hanyalah kesia-siaan dan kebathilan demi kebathilan.
Oleh karena itu, islam mendorong umatnya untuk mengingat mati. Menurut Ustadz Omar Mita, mengingat mati bukanlah anjuran, melainkan ibadah kepada Allah Ta’ala. Seberapa sering seseorang mengignat mati, sepanjang itu Allah akan berikan pahala. Bahkan, setelah kematian itu, Allah akan sempurnakan pahala-pahala mereka yang menjaga diri kerusakan berpikir dan perilaku.
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185].
Mari garisbawahi, “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” Jadi, orang yang sukses selamanya itu ada dan mereka adalah orang yang Allah masukkan ke dalam surga-Nya.
Dalam pandangan materialisme, kala Muhammad belum menjadi Nabi, beliau dikatakan sukses karena berlimpah harta. Sedangkan ketika menjadi Nabi, semua kekayaan itu ludes untuk perjuangan. Tetapi, tidak dalam pandangan Islam. Ketiadaan harta karena berjuang di jalan Allah, itu adalah kemuliaan yang harus diperjuangkan untuk mendapatkan sukses yang abadi, sukses selamanya.
Tentu saja, satu di antara strategi agar diri dapat terus fokus pada kesehatan komprehensif dan kesuksesan selamanya, mengingat mati adalah jalan terbaik.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. (HR Ibnu Majah, no. 4.258; Tirmidzi; Nasai; Ahmad).
Mengingat mati bukan soal putus asa lalu menguras energi untuk berjuang. Sebaliknya, mengingat mati untuk menjadikan pikiran sehat, stabil, dan progressif, sehingga tak ada kesempatan diri mengeluh, lemah, dan malas. Tetapi sebaliknya, semakin ringan dan bergairah mengisi hidup ini dengan kebaikan terbaik yang bisa dilakukan.
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu.” (HR. Thabrani dan Hakim).
Jadi, mengingat mati adalah tradisi orang-orang sehat dan cerdas. Maka kita pun harus melakukannya agar terhindar dari penyakit dan kebodohan.
Suatu hari ada seseorang datang menjumpai Nabi, lantas bertanya. “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” (HR Ibnu Majah).
Dengan kata lain, semakin seseorang mengejar dunia untuk gengsi, berbangga-banggaan, maka semakin dekatlah ia dengan sakitnya akal, rasa, dan imajinasi kemudian sangat dekat kematian hati. Akibatnya ia tidak akan lagi mengerti mana halal, mana haram, semua dihantam.
Tetapi, semakin seseorang sering mengingat mati akan semakin hidup hatinya dan cerdas akalnya, sehingga tidak ada yang ia pilih di dalam kehidupan ini, selain menyiapkan bekal dengan amal-amal sholeh. Inilah orang yang di dunia pikiran dan perilakunya sehat, dan kesuksesan di dunia akan berlanjut hingga ke akhirat. Kematian menjadi momentum yang sangat membahagiakan bagi dirinya. Allahu a’lam.*
IMAM NAWAWI SURADI

Berbincang Saat Makan


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Ada yang semasa kecil diajarkan untuk tidak berbicara saat makan. Hening, sunyi hingga makan selesai. Kebiasaan ini berlanjut hingga dewasa karena memang demikianlah yang dicontohkan.

Ada pula yang belajar bahwa makan bersama adalah saat berbincang, merajut kedekatan berbagi cerita sekaligus saling bertutur menyampaikan kebaikan. Maka lauk sederhana pun tetap syahdu dan membangkitkan rindu karena kebersamaan saat makan, lebih berharga dibandingkan apa yang tersaji. Adapun tatkala terhidang makanan istimewa, nikmatnya makan tetap terasa, rasa syukur pun memenuhi dada, tetapi tidak menghilangkan bincang. Justru bincang saat makan itu agar yang menjadi perhatian terpenting kita bukanlah pada tana’um; sibuk bernikmat-nikmat, berorientasi pada kenikmatan.

Lalu apa sebab kita berbincang saat makan? Ikhtiar meraih barakah, mengikuti jalan RasuluLlah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Banyak riwayat yang dapat kita petik pelajarannya mengenai hal ini, di antaranya adalah sebagaimana disebut dalam hadis riwayat Muslim:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِىَّ سَأَلَ أَهْلَهُ الأُدُمَ فَقَالُوا مَا عِنْدَنَا إِلاَّ خَلٌّ. فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ وَيَقُولُ نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ

Dari Jabir ibn ‘Abdillah bahwa Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam meminta pada keluarganya lauk-pauk, lalu keluarga beliau menjawab, “Kita tidak memiliki apa pun kecuali cuka.” Maka beliau pun meminta cuka tersebut, lalu makan dengannya seraya bersabda, “Lauk yang paling baik adalah cuka, lauk yang paling baik adalah cuka.” (HR Muslim).

Imam Nawawi rahimahuLlah Ta’ala berkata dalam syarahnya, “Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk berbicara ketika makan, untuk membuat suasana akrab bagi orang-orang yang ikut makan.”

Beliau juga menjelaskan dalam Al-Adzkarun Nawawiyah, “Bab dianjurkannya berbicara ketika makan. Berkenaan dengan ini terdapat sebuah hadits yang dibawakan oleh Jabir radhiyaLlahu ‘anhu sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam “Bab memuji makanan”. Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Al-Ihya mengatakan bahwa termasuk etika makan ialah membicarakan hal-hal yang baik sambil makan, membicarakan kisah orang-orang yang shalih dalam makanan.”

Jadi, kalau sekarang banyak orangtua mengeluh anak-anaknya pelit bicara, ngobrol pun enggan, jangan-jangan karena meja makan kita hanya berisi makanan. Tidak berisi gagasan maupun cerita yang dapat saling kita tuturkan. Tidak pula menjadi saat untuk saling sapa dan memberi perhatian. Padahal kalau sekedar makanan, tak perlu meja yang tersusun rapi. Makanan mudah kita beli, tetapi bukan suasana makannya.

Really, money can buy food, but not eat.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku

Manusia Kuat, Siapa Mereka?

MANUSIA yang kuat, hanyalah kala keheningan, saat semua terlelap, ia terbangun, rukuk dan sujud kepada-Nya.
Orang-orang yang seperti itu setidaknya mengerti bagaimana memanfaatkan waktu. Bahkan ada harapan, cita-cita, dan pengaduan masalah yang ditumpahkan kepada Tuhan Semesta Alam.
Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk bangun pada sebagian malam agar mendapatkan tambahan (kebaikan) agar diri kita mendapatkan tempat yang terbaik dan terpuji di sisi-Nya.
Namun, perkara ini bukan semata soal kemampuan menahan kantuk, bukan semata soal lelah tidaknya tubuh dan pikiran. Tetapi juga pertolongan-Nya, yang dengan itu pula Allah memuji manusia-manusia itu.
كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]: 17-18).
Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan:
“Tak ada satu pun malam yang terlewatkan oleh mereka melainkan mereka melakukan shalat walaupun hanya beberapa raka’at saja.
Sungguh sangat beruntung hamba-hamba yang Allah mudahkan dirinya bangun kemudian tahajjud di sebagian malam”
Lantas siang harinya ia melakukan yang terbaik pada apa yang menjadi amanah, tanggungjawab, profesi, atau pun passion-nya yang bermanfaat. Sungguh, itulah manusia paling bahagia di muka bumi ini.
Tinggal, bagaimana sekarang diri ini merasakan a perintah Allah yang sangat spesial ini. Semoga Allah senantiasa mampukan kita untuk menjalankan-Nya.
IMAM NAWAWI SURADI

Sekda DIY Cabut Surat Imbauan Larang Peredaran Video Tepuk Anak Sholeh

Baru tiga hari Sekretariat Daerah (Setda DIY) menerbitkan Surat Imbauan ke Walikota dan Bupati tentang Larangan Peredaran Video “Tepuk Anak Sholeh”, Jumat (24/1/2020) ini surat tersebut resmi dicabut.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, R. Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan, sebenarnya substansi yang dilarang adalah penyebutan “Kafir”.
“Jadi intinya, kami ingin agar kita bisa menjaga kondusifitas, tidak ada intoleransi dan lain-lain,” kata Aji kepada wartawan di kantornya, Jumat (24/1/2020).
Namun, karena Tepuk Anak Sholeh itu masih multitafsir, dan mendapatkan masukan dari sebagian masyarakat, maka pihaknya memutuskan untuk mencabut surat imbauan tersebut.
“Daripada jadi polemik, makanya kemudian kami cabut,” tegas mantan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY ini.
Namun demikian Aji meminta agar Bupati dan Walikota bisa menjaga keharmonisan, keamanan, ketentraman di wilayahnya masing-masing.
Selain telah mencabut, Sekda juga mengaku telah mengundang Disdikpora selaku konseptor dari imbauan tersebut.
Sebelumnya, kabarkota.com menerima informasi terkait dengan beredarnya Surat Larangan Peredaran Video Tepuk Anak Sholeh, yang ditandatangani Sekda DIY, tertanggal 21 Januari 2020.
Dalam surat bernomor 420/1051 itu, Sekda DIY mengimbau kepada Walikota Yogyakarta dan Bupati se-DIY agar membatasi peredaran Video Tepuk Anak Sholeh di media sosial. Termasuk, melarang melakukan Tepuk Anak Sholeh pada kegiatan di sekolah-sekolah, baik itu kegiatan kurikuler, intrakurikuler, maupun ekstra kurikuler.
Sekda juga meminta agar Bupati dan Walikota tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan sikap intoleransi antar umat beragama.
Sementara dihubungi terpisah, Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti justru mengaku, pihaknya belum menerima surat edaran dari Sekda DIY tersebut. (Rep-02)

Anak-anak yang Mati Rasa


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Kelak akan tiba masanya, seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, orangtua berpayah-payah mendidik anak, tetapi anaknya memperlakukan emaknya seperti tuan memperlakukan budaknya. Dan aku takut peristiwa itu akan terjadi di masa ini, masa ketika anak-anak tak mengenal pekerjaan rumah-tangga, dan pesantren maupun sekolah-sekolah berasrama lainnya tak lagi menjadi tempat bagi anak untuk belajar tentang kehidupan. Anak-anak itu belajar, tetapi hanya mengisi otaknya dengan pengetahuan yang dapat diperoleh dari Google. Sementara tangannya bersih tak pernah mencuci maupun melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik lainnya, sehingga empati itu mati sebelum berkembang. Tak tergerak hatinya bahkan di saat melihat emaknya kesulitan bernafas seumpama orang hampir mati disebabkan ketuaan atau sakitnya kambuh, tetapi anak tak bergeming membantunya. Apalagi berupaya melakukan yang lebih dari itu.

Aku termangu mengingat nasehat Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengenai tanda-tanda hari kiamat, salah satunya dari hadis panjang yang kali ini kita nukil ringkasnya:

سَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتِ الْمَرْأَةُ رَبَّتَهَا

“Aku akan memberitahukan kepadamu tanda-tandanya; jika seorang (sahaya) wanita melahirkan tuannya.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Ibunya bukanlah seorang budak. Bukan. Ibunya orang merdeka. Tetapi anak-anak itu tak tersentuh hatinya untuk cepat tanggap membantu ibunya. Padahal membantu saat diminta adalah takaran minimal bakti kepada orangtua. Takaran di atas itu, tanpa diminta pun ia sudah tergerak membantu. Dan di atasnya lagi masih bertingkat-tingkat kebaikan maupun kepekaan seorang anak tentang kebaikan apa yang sepatutnya ia perbuat terhadap kedua orangtuanya.

Ada yang perlu kita renungi. Ada airmata yang perlu mengalir, menadahkan tangan mendo’akan anak-anak dan keturunan kita, menangisi dosa-dosa, berusaha memperbaiki diri dan tetap tidak meninggalkan nasehat bagi anak kita karena ini adalah haknya. Nasehat. Ia adalah kewajiban kita untuk memberikannya meskipun mereka tak memintanya. Kitalah yang harus tahu kapan saat tepat memberikan nasehat sebab semakin memerlukan nasehat, justru kerapkali semakin merasa tak memerlukan nasehat.

Hari ini, betapa banyak anak yang di sekolah berasrama tak diajari mengurusi kehidupan pribadinya karena makanan siap saji setiap waktu makan, hanya perlu berbaris untuk mengambilnya. Sedangkan pakaian pun tak perlu ia menyempatkan waktu mengatur jadwal agar bersih saat mau digunakan, sementara tugas sekolah tetap tertunaikan. Tidak terbengkalai. Maka di saat mereka pulang, kita perlu melatih tangan dan juga hatinya agar tanggap. Bukan menyerahkan begitu saja kepada pembantu. Tampaknya ini hanya urusan pekerjaan rumah-tangga yang sepele, tetapi di dalamnya ada kecakapan mengelola diri, mengatur waktu dan lebih penting lagi adalah empati.

Apakah tidak boleh kita menggembirakan mereka dengan sajian istimewa saat mereka pulang dari pesantren? Boleh. Sangat boleh. Tetapi hendaklah kita tidak merampas kesempatan mereka untuk belajar mengenal pekerjaan rumah-tangga, menghidupkan empati dan mengasah kepekaannya membantu orangtua. Liburan adalah saat tepat belajar kehidupan. Bukan saat untuk libur menjadi orang baik sehingga seluruh kebaikan yang telah biasa mereka jalani di sekolah, sirna saat liburan tiba. Mereka seperti raja untuk sementara, sebelum kembali ke penjara suci.

Diam-diam saya teringat, konon di sebuah sekolah bernama Eton College, semacam Muallimin di Inggris tempat anaknya raja maupun anak orang sangat kaya bersekolah, para siswa diharuskan mencuci dan menyeterika bajunya sendiri. Bukan bayar laundry. Ini bukan karena orangtua mereka fakir miskin. Bukan. Tetapi karena dalam urusan sederhana itu ada kebaikan yang sangat besar bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang, termasuk dalam hal kepemimpinan. Mereka menjadi lebih peka tentang apa yang seharusnya dilakukan saat menjadi pemimpin perusahaan, termasuk dalam mengelola waktu.

Apa yang dilakukan di Eton College sebenarnya bukan barang baru, tetapi saya merasa perlu menghadirkan kisah ini selintas hanya untuk menggambarkan betapa anak-anak memerlukan latihan untuk mengasah kepekaannya, menghidupkan empatinya dan meringankan langkahnya membantu orangtua. Mereka sangat perlu memiliki semua itu karena dua alasan. Pertama, ketiganya (kepekaan, empati dan kemauan untuk meringankan langkah) sangat mereka perlukan dalam menjalani kehidupan bersama orang lain, baik ketika berumah-tangga maupun berdakwah dan mengurusi ummat. Artinya, minimal semua itu mereka perlukan untuk meraih kehidupan rumah-tangga yang baik, tidak terkecuali dalam mendidik anak.

Kedua, ketiganya mereka perlukan untuk dapat berbuat kebajikan bagi kedua orangtua (birrul walidain) dengan sebaik-baiknya. Dan birrul walidain merupakan salah satu kunci kebaikan yang dengan itu anak dapat berharap meraih ridha dan surga-Nya Allah ‘Azza wa Jalla.

Jadi, urusan terpentingnya bukan karena kita kewalahan lalu perlu bantuan mereka. Bukan. Bukan pula karena kita repot sehingga memerlukan kesediaan mereka untuk meringankan tugas-tugas kita. Tetapi hal terpenting dari melibatkan anak membantu pekerjaan di rumah dan tanggap terhadap orangtua justru untuk keselamatan dan kebaikan anak kita di masa-masa yang akan datang. Kejamlah orangtua yang tak melatih anaknya untuk berbakti kepadanya hanya karena merasa orangtua tak perlu menuntut anak membantunya. Ingatlah, kita latih, dorong dan suruh mereka agar cepat tanggap dan ringan membantu bukanlah terutama untuk meringankan beban orangtua, tetapi justru agar anak-anak kita memperoleh kemuliaan dan kebaikan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dengan birrul walidain. Sekurang-kurangnya tidak menyebabkan mereka terjatuh pada perbuatan mendurhakai orangtua. Dan ini merupakan serendah-rendah ukuran.

Ada yang perlu kita khawatiri jika lalai menyiapkan mereka. Pertama, anak-anak merasa berbuat kebajikan kepada kedua orangtua, termasuk membantu pekerjaan di rumah, bukan sebagai tugasnya. Mereka tak membangkang, tetapi lalai terhadap apa yang sepatutnya mereka kerjakan. Ini merupakan akibat paling ringan.

Kedua, anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang durhaka kepada orangtua. Dan karena kedurhakaan itu bersebab kelalaian orangtua dalam mendidik, maka di Yaumil Qiyamah mereka menjatuhkan orangtua di mahkamah Allah ‘Azza wa Jalla sehingga justru orang yang merasakan azab akhirat.
Ketiga, sebagaimana disebut dalam hadis di atas, anak-anak berkembang menjadi pribadi yang memperbudak orangtua, bahkan setelah mereka mempunyai anak. Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Ada yang perlu kita renungkan tentang bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Saatnya kita kembali kepada tuntunan agama ini, bertaqwa kepada-Nya dalam urusan mendidik anak dan berusaha menggali tentang apa saja yang harus kita bekalkan kepada mereka.

Tulisan ini dimuat di Majalah Hidayatullah edisi Desember 2019

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting

Guru

Penulis : Salim Afillah

Seperti apakah kedudukan seorang guru di hatimu?

“Dia yang mengajariku seayat ilmu”, begitu dikatakan oleh Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, “Sungguh memiliki hak untuk memperbudakku.”

“Seseorang bertanya pada Iskandar Al Maqduni, murid Aristun”, demikian dikisahkan oleh Imam Ibn Rusyd, “Mengapa kau doakan gurumu dua kali sedangkan ayahmu hanya sekali?” Dia menjawab, “Karena Ayahku menjadi wasilah bagi kehidupanku di dunia. Sementara Guruku menjadi perantara bagi hidupku di akhirat nanti. Seandainya Ayahku sekaligus menjadi Guruku, pastilah akan kudoakan dia tiga kali.”

Betapa mulia dia yang memegang saham keberhasilan kita, tanpa pernah mengambil bagi hasil di dunia. Dia yang meniupkan nafas cintanya, hingga kuncup-kuncup jiwa kita mekar menjadi bunga.

Siapakah sejatinya Guru?
Guru adalah insan yang tak henti belajar, bahkan pada yang jauh lebih muda dan tentang apa yang telah diketahuinya. “Kusimak tiap riwayat ilmu dengan sepenuh hormat”, ujar Imam Atha’ ibn Abi Rabah, “Meski sebenarnya aku telah menghafalnya, jauh sebelum penyampainya lahir ke dunia. Penghormatannya pada ilmu, menepikan segala rasa bangga.

Guru adalah yang paling bersemangat mendapatkan pemahaman seperti dikatakan Imam Asy Syafi’i, “Aku terhadap ilmu seperti seorang ibu yang mencari anak semata wayangnya yang tersayang dan hilang. Dan ketika menyimak ilmu, sungguh aku berharap bahwa seluruh tubuhku adalah telinga.”

Demikianlah sebab guru yang mandeg belajar adalah murid yang paling gagal. Berhenti memburu ilmu adalah cela bagi yang tua dan celaka bagi yang muda.

Tapi ilmu bagi Guru seakan penghias bagi sesuatu yang lebih tinggi nilainya: Adab. “Jadikan ilmu sebagai garamnya, dan Adab itulah tepungnya”, kata Imam Asy Syafi’i menggambarkan “roti” penopang kehidupan. “Hampir-hampir Adab itu senilai dua pertiga agama”, kata Imam Ibn Al Mubarak.

“Pada seorang Guru yang sebenarnya berilmu”, ujar Ibn ‘Athaillah As Sakandary,

“‘Akan kau reguk Adab yang tak disediakan oleh buku-buku.”

“Aku lebih menyukai santri yang ahli khidmah”, demikian disimpulkan oleh salah seorang junjungan ummat, Sayyid Muhammad ‘Alawy Al Maliki Al Hasani, Ayahanda dari Abuya Sayyid Ahmad yang berkenan menyuapi kami di gambar ini, “Daripada yang sekedar pandai. Karena dengan khidmahnya dia belajar Adab. Adab itulah yang akan menjadikan ilmu memiliki makna.”

Walau telanjur kita dianggap berilmu, jangan malu untuk berkata “Aku tak tahu”, dengannya Allah-lah yang kan jadi Seagung Guru, membimbing kita selalu.

Salim Afillah, Penulis Buku
Foto Anik Maendra

Berlindung dari Kejahatan yang Sangat Dekat



Oleh : Mohammad Fauzil Adhim 

Pada mulanya adalah keluarga, kemudian pendidikan yang membentuknya. Ada masa yang disebut thufulah. Masa kanak-kanak. Inilah masa yang sangat penting. Masa untuk mempersiapkan anak-anak kita agar pada usia 6 tahun, selambatnya 7 tahun, benar-benar telah menjadi mumayyiz. Siapa itu mumayyiz? Orang yang memiliki tamyiz, yakni kemampuan membedakan baik dan buruk serta benar dan salah dengan akalnya. Kemampuan ini sendiri bertingkat-tingkat.

Ada thufulah, ada thufuliyah alias sifat kekanak-kanakan. Secara sederhana, thufuliyah dimaknai sebagai karakteristik kanak-kanak yang melekat pada orang yang seharusnya sudah dewasa. طفولية: صفات الطفولة عند الكبار (sifat kekanak-kanakan yang melekat pada diri orang yang sudah besar).

Kanak-kanak itu masa penuh harapan, tetapi kekanak-kanakan merupakan petaka yang menyedihkan. Yang lebih buruk lagi ialah sifat kebayi-bayian. Jika melekat pada pemimpin, secara pasti akan melahirkan kejahatan. Maka kita semua harus berusaha keras dan memohon perlindungan dari para pemimpin yang kebayi-bayian (imaratish shibyaan). Istilah ini senantiasa dalam bentuk jama'. Kita memohon perlindungan baik di masa penentuan pilihan maupun masa-masa sesudahnya.

Rasulullah ShallaLlahu alaihi wa sallam menyatakan kepemimpinan seperti itu sebagai kejahatan. Jika menaati mereka akan menjerumuskan ke dalam neraka. Jika tidak taat, akan dipersulit hidupnya, dipersekusi, sehingga mati pelan-pelan dengan menderita.

RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
.
وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ: إمَارَةُ الصِّبْيَانِ إنْ أَطَاعُوهُمْ أَدْخَلُوهُمْ النَّارَ, وَإِنْ عَصَوْهُمْ ضَرَبُوا أَعَنْاقَهُمْ
.
Celakalah orang Arab dari kejahatan yang telah dekat, yaitu imaarat ash-shibyaan (pemimpin yang kebayi-bayian), yakni kepemimpinan yang jika rakyat mentaati mereka, mereka akan memasukkan rakyatnya ke dalam neraka. Tapi jika rakyat tidak mentaati mereka, mereka akan membunuh rakyatnya sendiri.” (HR Ibnu Abi Syaibah).


Dari hadis ini kita mengambil pelajaran, yakni sangat pentingnya berlindung dari kejahatan yang sangat dekat (مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَب). Apa itu? Para pemimpin yang kebayi-bayian. Dan Rasulullah ShallaLlahu 'alaihi wa sallam memperingatkan dengan perkataan "celaka". Apalagi jika mereka sekaligus dungu. Sungguh, ini bukan musibah yang sederhana.

Maka sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah ShallaLlahu 'alaihi wa sallam, hendaklah tidak putus-putus berdo'a dan berusaha konsekuen terhadap do'a yang kita mohonkan. Kita berlindung dari kejahatan yang sangat dekat, dari pemimpin yang mati nuraninya. Semoga tak ada di Indonesia. Kita menadahkan tangan untuk meminta dengan do'a yang diajarkan langsung oleh Rasulullah Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
اللهم إني أعوذبك من إمارةِ الصبيان والسفهاء
Ya Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kebayi-bayian dan dari pemimpin yang dungu.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).
.
Nah, sudahkah kita berdo'a memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan mereka?

Penulis : Mohammad Fauzil AdhimPenulis buku Segenggam Iman Anak Kita
Foto        : Google 


Lahirkan Kembali Anakmu, Allah Akan Jadikan Bibit Unggul


Oleh : Imam Nawawi 

Beberapa waktu yang lalu, Allah mudahkan langkah kaki saya memenuhi undangan aqiqah teman untuk anaknya yang keempat. Sengaja saya datang lebih awal agar bisa menyimak taushiyah atau hikmah aqiqah. Bagikuini penting untuk membuat konten blog lebih variatif.

Subhanalloh, ternyata yang membawakan materi hikmah aqiqah adalah Ustadz Zainuddin Musaddad. Sosok ayah yang sukses menjadikan ke enam anaknya menjadi penghafal Qur’an.

Seperti biasa, saya juga dag-dig-dug kalau beliau bicara. Bukan apa-apa, nama saya sering beliau sebut. Bukan soal enak atau tidak enak, khawatir yang muncul pertanyaan sementara fokus kemana-mana, maklum banyak yang datang belakangan dan tentu saja saya juga mesti ikut menawarkan tempat duduk yang baik.

Aha, ternyata benar, di sebut juga namaku, pertanyaan lagi yang disampaikan. “Jadi, apa tadi, Pak, Imam Nawawi?”

“Apa sudah kujawab ini,” batinku. Beruntung beliau sekedar ingin mengabsenku nampaknya

“Lahirkan saja lagi (anak) karena Allah sudah memberikan nama kepada tempat di mana janin tumbuh dengan namanya, yakni Rahim. Jadi, lahirkanlah bibit-bibit unggul.

Allah lahirkan Rahim itu untuk melukis. Dan, lukisan Allah tidak pernah jelek. Laqod kholaqnal insana fii ahsani taqwim. Satu,” ucap beliau dengan tekanan suara yang begitu kuat.

Secepat kilat mataku menyisir wajah para hadirin, rata-rata tersenyum. Entah apa maknanya. Tapi yang jelas menambah anak nampaknya menjadi tantangan tersendiri, terlebih di zaman now. Dimana ungkapan banyak anak banyak rezeki sudah tak lagi diyakini sebagai aksioma.

Bahkan di awal ini telah didobrak oleh pria yang di Balikpapan itu akrab disapa, Abah.
“Jadi, untuk orang yang beriman itu, (anak) empat, masih sedikit. Karena Allah menyiapkan bibit unggul. Sampai namanya diberi nama Rahim.

Saya perlu sampaikan ini, karena menghadapi akhir zaman, pikiran kita sepertinya mengatakan, Allah itu tidak akan mampu lagi memberi kita makan. Dan, itu berbahaya,” tegasnya.

Sekitar sebulan sebelum hikmah aqiqah ini saya dengarkan, seorang pria yang kira-kira hampir 60 tahun mengungkapkan perasaannya.

 “Anak dua itu kurang. Tapi itu bisa Anda rasakan ketika sudah tidak muda lagi dan anak-anak mulai belajar untuk mandiri baik pergi jauh karena kuliah, lebih-lebih kala telah berumah tangga. Anda akan merasa kehilangan dan kala itu kesepian telah menjadi pakaian Anda.”

Harus jujur diakui secara terbuka, kebanyakan orang saat ini, takut memiliki banyak anak. Rasional mungkin sepintas jika dihubungkan dengan situasi ekonomi yang belum pernah benar-benar memihak rakyat.

Tetapi, apakah iya, kondisi yang demikian adalah alasan yang benar untuk tidak punya banyak anak? Padahal, soal rezeki, Allah telah jamin, ada.

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’: 24).

Bahkan, jika pun miskin, Allah akan berikan kecukupan.
 “Artinya : Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan (kamu). Kami akan memberi rizki kepada kamu dan kepada mereka.” (QS. Al-An’aam:151).

 “Artinya : Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepada kamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang sangat besar.” (QS. Al-Israa : 31).

Kemudian, Ustadz Zain melanjutkan. “Begitu bayi lahir, Allah sediakan Air Susu Ibu (ASI). Miskiiin sekali, tapi karena tetesan Air Susu Ibu itu bagus dengan kasih sayang bapaknya, maka cukup untuk melahirkan generasi jenius.

Ini dibuktikan. Sahabat-sahabat Rasulullah yang “sangat miskin” seperti Abu Musa Al-Anshori, Abu Hurairah, Amar bin Yasir, Zaid bin Haritsah, ini kan manusia yang miskin-miskin yang ada di Ahlus Suffah. Tapi dari mereka lahir manusia-manusia besar.

Jadi, ASI itu adalah super nutrisi (bagi bayi) yang tidak perlu merepotkan orang tua dengan makanan-makanan tambahan apapun selama dua tahun,” ucapnya mantap.

Maha Memberi Rezeki Allah Ta’ala, maka jangan sedikit pun keimanan kita kepada-Nya tergeser karena alasan rasional, empiris atau apapun.
Sungguh Allah Maha Adil dan mustahil Allah akan menelantarkan makhluk yang Allah ciptakan sendiri, sedang Dia adalah Ar-Rozak, yang Maha Memberi Rezeki. Dan, jika kita luangkan waktu sejenak, pernahkah dalam sedetik kita bernafas tanpa rezeki dari-Nya??? Allahu a’lam.||

Penulis : Imam Nawawi, Penulis Lepas 
Foto      : Google 

Adab Sebelum Ilmu


Oleh : Indayana Ratna Sari, S.Si.

"Ketahuilah, sesungguhnya seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula bermanfaat ilmunya, kecuali dengan mengagungkan ilmu dan ahli ilmu, mengagungkan gurunya dan menghormatinya"

-Imam Az-Zarnuji-

Jika dilihat dari para ulama terdahulu, kenapa ilmu mereka bermanfaat hingga sampai saat ini adalah karena mereka tidak melupakan adab, yaitu mereka belajar adab terlebih dahulu sebelum berilmu.

Bagaimana dengan kita sekarang? Apakah lebih memilih berilmu dulu kemudian belajar adab ataukah berilmu saja tanpa peduli adab?

Mari belajar bersama dan ajarkan ke generasi muda kita untuk belajar adab-adab menuntut ilmu terlebih dahulu, sebelum menuntut ilmu.


Indayana Ratna Sari, S.Si., Mahasiswa S2 UNY
Sumber IG @indayanar96

Cara Berterimakasih Paling Sederhana



اَفَلَا يَنۡظُرُوۡنَ اِلَى الۡاِ بِلِ كَيۡفَ خُلِقَتۡ
“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?”

وَاِلَى السَّمَآءِ كَيۡفَ رُفِعَتۡ
“Dan langit, bagaimana ditinggikan?”

وَاِلَى الۡجِبَالِ كَيۡفَ نُصِبَتۡ
“Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?”

وَاِلَى الۡاَرۡضِ كَيۡفَ سُطِحَتۡ
“Dan bumi bagaimana dihamparkan?”

فَذَكِّرۡ اِنَّمَاۤ اَنۡتَ مُذَكِّرٌ
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan.”

(Al Ghasyiyyah:17-21)

Dari ayat tersebut, pantaslah manusia takjub dengan tanda-tanda kebesaran Allah. Bagaimana tidak, gunung sebesar itu menjadi kawan kita sehari-hari, padahal bisa saja dia meletus kapan saja, sejak statusnya waspada, dia menjadi "momok" bagi penghuni Kota Yogyakarta dan sekitarnya.

Namun, pagi itu aku melihat dia (Gunung Merapi) begitu gagah dan anggun dengan segala tipu daya yang ada. Warnanya yang tampak indah bisa dilihat dari kejauhan, bersih seperti gambar yang tidak akan mungkin bisa bergejolak.

Kegagahan itu bukan untuk dinikmati saja keindahannya, tapi juga agar manusia ber iqro' (membaca) kepada alam, bahwa Allah Taala telah menciptakan segala sesuatu tanpa sia-sia. Menjadikannya begitu bersahabat dengan warga Yogyakarta meski beberapa kali mengakibatkan keresahan yang tiada tara.

Allah, bersyukurnya aku hari ini dan seterusnya, semoga Engkau memberikan kenikmatan Islam ini terus menghujam dalam diri. Agar senantiasa mampu per iqro' dan memahami apa yang ada di alam tanpa menyiakan yang ada. Tanpa menganggap remeh nikmat walau hanya sekecil biji Zarrah. Nikmat nafas yang gratis pun tak mampu kita bayar dengan apapun. Maka, memperbaiki segala yang ada, adalah ikhtiarku untuk berterimakasih kepada-Mu.

Allah... Thank U so much for my life. I'm so blessed everytime.

Prihatiningsih, Redaktur www.majalahfahma.com

Jalan Panjang Anak Kita


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Apakah yang kita harapkan dari anak-anak kita? Apakah yang ingin kita petik dari upaya kita mendidik anak-anak? Umur belum tentu panjang. Begitu pula umur anak-anak kita. Tetapi yang pasti, kita semua akan mati dan menuju kehidupan abadi sesudah langit digulung dan bumi dilipat. Jika kita salah niat dalam mendidik anak, maka letih lelah kita mengasuh kita hanya menjadi kepayahan yang tidak membawa kebaikan sama sekali di akhirat. Apalagi jika niat salah, berpayah-payah pun enggan bersebab lebih menyukai jalan pintas yang instant.

Apakah yang kita rindui dari anak-anak kita? Penat berpeluh kita merawat dan mengasuh mereka, akan sia-sia tak berguna jika salah niat kita mendidik mereka, salah pula langkah kita dalam menjalankannya. Maka memperbaiki niat dan terus-menerus saling mengingatkan antara suami dan isteri, sangat penting untuk menjaga arah. Juga, agar tidak mudah rontok tatkala menghadapi kesulitan dalam proses mendidik anak. Kita perlu ingat, setiap perjuangan memang memerlukan kesediaan untuk berpayah-payah. Bahkan kita kadang harus sakit. Tapi jika kita punya cita-cita kuat, maka sungguh sakit yang mendera badan itu akan lebih ringan kita rasakan di hati.

Ingatlah tidak ada kedewasaan yang bersifat instan. Tidak pula ada keshalihan yang instan. Itu pun, proses menuju ke sana tidak instan. Maka, mengapakah kita menginginkan perubahan yang terjadi dalam sekejap dalam mendidik anak-anak kita, padahal kita mengharapkan manfaatnya untuk masa yang sangat panjang?

Mari sejenak kita bertanya pada diri sendiri, atas berbagai hal yang kita lakukan terhadap anak, termasuk les yang kita berikan kepada anak-anak kita, sebenarnya untuk kepentingan mereka atau demi memuaskan keinginan kita?

Jadi, yang pertama perlu kita benahi dan senantiasa kita perbaiki adalah niat kita mendidik anak. Tak putus-putus kita berupaya menata niat kita, meluruskannya agar tidak salah arah. Kita kuatkan niat beriring dengan menjaga khasy-yah, yakni rasa takut kita kalau-kalau meninggalkan generasi yang lemah dibelakang kita sebagaimana Allah Ta’ala telah serukan di dalam Al-Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 9:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka merasa takut terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” *(QS. An-Nisaa’ [4]: 9).*

Ini berarti, rasa takut yang menjadikan kita senantiasa berhati-hati merupakan bekal penting mendidik anak, lebih penting daripada pengetahuan kita tentang teknik berkomunikasi maupun cara mengajari anak membaca. Bukan saya menyepelekan manfaat mengajari anak membaca. Saya bahkan menulis buku berjudul _Membuat Anak Gila Membaca._ Tetapi sebelum itu semua, yang harus kita miliki adalah rasa takut; rasa khawatir tentang masa depan anak sepeninggal kita yang membuat kita selalu berbenah dan menambah bekal mendidik.

Nah.

Bakda niat yang terus perlu kita perbaiki dengan saling mengingatkan antara suami dan isteri, hal berikutnya yang perlu kita pegangi adalah ikhlas dalam mendidik. Ikhlas sebenarnya merupakan bagian dari niat.

Apakah ikhlas itu? Melakukan amal dan ibadah semata-mata untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Meskipun merasa berat dengan kebaikan yang patut kita lakukan, tetapi jika kita tetap mengerjakannya demi untuk meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla, maka sesungguhnya itulah ikhlas.

Tetapi…

Keinginan saja tidak cukup. Kita dapat mengatakan bahwa jerih-payah kita mendidik anak hanyalah untuk meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Tetapi apakah cara yang kita tempuh dalam mendidik anak? Adakah cara kita merupakan cara yang Allah Ta’ala ridhai; cara yang Allah Ta’ala sukai? Adakah cara itu bersesuaian dengan tuntunan Rasulullah _shallaLlahu ‘alaihi wa sallam_ ataukah justru menyelisihinya? Inilah yang perlu kita telisik pada diri kita. Bagaimana kita akan mencari ridha Allah ‘Azza wa Jalla jika cara kita mendidik anak justru menyelisihi sunnah? Apalagi jika sampai nyata-nyata bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah.

Ini berarti kita perlu berusaha untuk mengilmui tuntunan mendidik anak. Kita perlu berusaha membekali diri dengan ilmu sebelum Allah Ta’ala karuniai keturunan kepada kita. Bukan tidak boleh belajar psikologi maupun pengetahuan parenting lainnya, tetapi terlebih dahulu membekali diri dengan pemahaman terhadap tuntunan agama dan mengokohkan _iltizam_ (komitmen) terhadapnya. Dan sekiranya kita belum membekali diri dengan tuntunan agama, maka sekarang inilah saatnya memperbaiki bekal ilmu kita.

Ini semua perlu kita lakukan agar langkah kita mendidik anak sejalan dengan niat. Sekali lagi, bagaimana kita akan mengatakan bahwa kita benar-benar ikhlas mendidik anak; benar-benar mencari ridha Allah Ta’ala sedangkan cara yang kita tempuh justru menyelisihi agama?


*Jangan Keburu Berbangga Diri*

Kita perlu terus membekali diri dengan ilmu sebelum mendidik seraya berusaha memperbaiki keadaan jiwa kita. Kitalah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala atas pendidikan anak-anak kita. Karena itu, kitalah yang harus menyibukkan diri dengan mencari ilmu. Berbekal ilmu, kita akan lebih mudah mengasuh dan mendidik anak-anak kita.

Akan tetapi, setiap keberhasilan dalam mendidik yang kita patut bersyukur dengannya, janganlah menggelincirkan kita ke dalam ‘ujub (berbangga diri). Sebanyak apa pun ilmu yang telah kita kuasai, sungguh hanya Allah Ta’ala Yang Menggenggam Jiwa Manusia. Kepada-Nya kita meminta dan memohon pertolongan, termasuk untuk kebaikan anak-anak kita. Ingatlah, sesungguhnya ‘ujub termasuk satu dari tiga perkara yang membinasakan.

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهُوَيَ مُتَبَعٌ وَإِعْجَابٌ اْلمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan: suh (شُحٌّ: rakus sekaligus bakhil pada saat yang sama) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya.” (HR. Thabrani).

Betapa pun anak-anak kita tampak baik dan cemerlang prestasinya, andaikan begitu, tetap saja kita perlu senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala dan menjaga diri kita dari berlepas diri terhadap Allah Ta’ala bersebab demikian pekatnya ‘ujub menutupi diri kita.

Marilah sejenak kita ingat do’a yang dituntunkan oleh Rasulullah _shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:_

"اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ"

"Ya Allah, rahmat-Mu yang kuharapkan. Maka janganlah Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun hanya sekejap mata. Dan perbaikilah seluruh keadaanku. Tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Engkau." Do'a dari *hadis shahih riwayat Abu Dawud.*

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat. Kepada Allah Ta’ala kita meminta pertolongan. Semoga Allah Ta’ala limpahi kita semua dengan husnul khatimah. Semoga pula Allah Ta’ala baguskan keturunan kita. _Allahumma aamiin._

Wallahu a’lam bish-shawab.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buki

Pentingnya Dialog dengan Anak



Oleh: Suhartono

Dialog merupakan salah satu metode mendidik yang sangat baik. Dengan dialog seseorang tidak merasa digurui. Dengan dialog, akan terungkap motif atau faktor dilakukannya sebuah perbuatan. Dialog selalu dibutuhkan dalam sebuah proses pendidikan. Tanpa dialog sebuah pendidikan tidak akan lancar dan sulit membuahkan hasil yang diharapkan.

Allah Ta’ala lewat Al-Quran telah memberikan pelajaran berharga bagi manusia. Ayat ayat ini sering dibaca dan diulang-ulang namun belum banyak yang mengetahui mutiara darinya yaitu kisah dialog antara Allah Ta’ala dan Iblis la’natullah ‘alaih.

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. 13. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. 14. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. 15. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”. 16. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Qs. Al-A’raf [07]: 12-16)

Allah yang Maha Tinggi saja mau berdialog dengan makhluk yang hina seperti Iblis, lalu jika kita tidak mau berdialog dengan anak atau murid apakah mereka lebih hina dari Iblis? Tentu tidak bukan. Lewat ayat ini Allah ingin memberikan pelajaran agar manusia mau berdialog dengan orang yang lebih rendah sekalipun sebagaiamana Allah berdialog dengan Iblis.

Demikian pentingnya dialog, maka dalam banyak kesempatan Rasulullah menggunakan metode ini dalam mendidik para sahabatnya.

Karena itu, penting rasanya bagi orangtua untuk membuka ruang dialog dengan anak. Di antara dalil (kisah) yang menunjukkan pendapat dan pandangan anak yang lebih tepat dibandingkan orangtuanya adalah firman Allah Ta’ala:

“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu yang berbeda memberikan keputusan tentang tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami Menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. M alias Kami telah memberikan pemahaman tentang Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). Dan bagi masing-masing mereka , telah Kami berikan hikmah dan ilmu.” (QS. Al – Anbiya’: 78-79 )

Perlu diketahui, Nabi Sulaiman adalah anak dari Nabi Daud ‘alaihimassalam. Demikian pula, dalam Shahih Bukhari melalui jalur periwayatan Abu Hurairah ra dhiyallahu ‘anhu
“Dahulu ada dua orang wanita yang bersama dua orang anak. Seekor serigala datang dan memangsa salah satu dari anak salah. Salah satu wanita ini berkata kepada wanita yang hanya, “Serigala sejati itu telah memangsa anakmu.” Wanita ini pun menjawab, “Bukan, yang dia mangsa adalah anakmu.”

Lalu tanggapan pun meminta keputusan hukum kepada Nabi Daud ‘alaihissalam . Nabi Daud memberikan keputusan tentang anak tersebut milik perempuan yang lebih tua umurnya. Kedua perempuan itu pun pergi untuk Nabi Sulaiman bin Daud ‘alaihimassalam.

Dia berkata, “Bawakan kepadaku belati, agar aku membelah dua anak itu.” Mudah-usaha Allah merahmatimu. Dia adalah kambing (perempuan yang usianya lebih tua). “Lalu Nabi Sulaiman pun memutuskan bahwa anak itu milik perempuan yang lebih tua.” (HR. Bukhari)

Di antara hikmah dan orangtua meminta pendapat anak dalam diskusi yang membahas sang anak meminta keluarga tidak dibangun model komando diktatoris, namun lebih ke pola argumentatif. Oleh karena itu, perlunya orangtua tidak selalu percaya dengan pendapatnya.

Akan tetapi, orangtua akan mau mendengarkan saran dan pendapat anak-anak, meminta jika didukung dengan argumen dan argumentasi yang jelas, sesuai dengan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh oleh sang anak.||

Penulis : SuhartonoPemerhati dunia anak
Foto        : Google