Empat Pemisah


Oleh : Cahyadi Takariawan

Menurut John M. Gottman, ada empat perilaku interaksi yang potensial memisahkan jarak antara suami dan istri semakin jauh.

Perilaku pertama adalah banyak mengkritik pasangan.

Semua orang tentu memiliki harapan kepada pasangan, yang terkadang tidak bisa menjadi kenyataan.

Kondisi yang tidak sesuai harapan ini biasa memunculkan banyak kritik terhadap pasangan, yang ditujukan kepada pribadi atau sifat tertentu.

Semakin sering pasangan dikritik, semakin tidak nyaman dirinya. Kritik terhadap pasangan akan semakin menjauhkan hubungan, semakin memisahkan jarak di antara mereka berdua.

Perilaku kedua adalah banyak mencela pasangan.

Apabila kritikan dirasa tidak mempan, biasanya meningkat menjadi banyak mencela. Suami atau istri mencela, mencibir, menghina, mengejek, dan merendahkan pasangan.
Ini menjadi racun yang sangat mematikan dalam membangun kelekatan dengan pasangan.

Banyak kritik terhadap pasangan saja bisa menjauhkan hubungan, apalagi ketika diteruskan dengan banyak mencela.

Perilaku ketiga adalah menyalahkan pasangan.

Kritik dan celaan tidak menunjukkan hasil perubahan seperti yang diharapkan, maka mulai semakin berani dan sering bersikap menyalahkan pasangan. “Ini semua salahmu”, atau “Semua gara-gara kamu”.

Sikap dan perilaku yang selalu menyalahkan pasangan, membuat suasana semakin runyam dan tidak nyaman. Hubungan mereka semakin menjauh, ada jarak yang bertambah lebar memisahkan mereka.

Perilaku keempat adalah membangun benteng.

Yang dimaksud adalah perilaku untuk menyatakan “aku tidak seperti yang engkau kira”, atau “aku tidak seperti itu”, atau “terserah apa katamu, aku tidak begitu”, atau “aku memang seperti ini dan tidak akan berubah”.

Seperti tembok atau benteng yang berdiri kaku, untuk menyatakan keakuan diri. Setelah banyak mengkritik, banyak mencela, banyak menyalahkan pasangan, ujungnya adalah membangun benteng untuk menunjukkan eksistensi diri di hadapan pasangan.

Empat perilaku inilah yang akan memisahkan jarak psikologis antara suami dan isteri.

Model @amar_hadid
@deniarshaputri

Sumber IG Cahyadi_Takariawan

Hasil jepretan @azkaluna

Cermin

Anak-anak itu ibarat cermin, ia akan menirukan orang-orang dewasa dalam bersikap dan bertindak. Anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua yang profinya guru, ada kemungkinan besar menjadi guru. Anak-anak yang diasuh oleh orangtua tentara, ada banyak kemungkinan ia pun menjadi tentara. Anak seorang pengusaha, ada kemungkinan besar akan didik menjadi pengusaha.

Walau ini tidak 100% tetapi kecenderungan orang kebanyakan seperti itu. Namun tidak menutup kemungkinan yang lainnya. Karena banyak anak petani yang tidak menjadi petani, banyak pula anak guru yang tidak menjadi guru, bejibun pula ada pengusaha yang tidak menjadi pengusaha.

Anak-anak itu ibarat cermin dia menjadi peniru ulung. Anak-anak yang bergaulnya dengan anak perokok, lambat laun akan menjadi perokok, anak-anak yang berteman dengan pemabok, lambat laun menjadi pemabok. Itulah anak-anak, mereka akan menjadi seperti apa yang diajarkan.

Alangkah bijaknya yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa orangtuanya lah yang menjadi anak itu Yahudi, Nasrani, atau majusi. Artinya orang tuanya lah yang berperan besar dalam menentukan visi hidup anak-anak.

Maka, jadilah teladan kebaikan bagi anak-anak kita, jadilah uswatun hasanah bagi buah hati dan anak-anak pada umumnya. Karena mereka akan bercermin dengan perilaku, tindakan, dan akhlak orang dewasa.

Tidak ada cermin yang buruk, sehingga cermin itu harus dipecahkan. Karena hakikatnya cermin adalah memantulkan semua hal dari kenyataan.

Wallahu a'lam.

TMT

Mengelola Rasa Cemburu

Oleh : Cahyadi Takariawan

Rasa cemburu kepada pasangan adalah hal yang wajar dalam kehidupan berumah tangga.

Namun harus waspada, karena cemburu memiliki dua wajah sekaligus.

Pertama, cemburu menjadi bukti cinta kepada pasangan.

Ketika kita mampu mengolah rasa cemburu secara positif, ini menandakan adanya cinta yang kuat kepada pasangan.

Seorang suami bisa merasa tersanjung ketika istri menunjukkan tanda cemburu yang proporsional. Karena ini membuktikan sang istri benar-benar menyayangi dirinya.

Kedua, cemburu menjadi tanda ketidaknyamanan dan kerusakan hubungan dengan pasangan.

Ketika kita melarang pasangan untuk berteman dengan orang lain, memata-matai kegiatan pasangan, atau bertindak kasar pada pasangan karena menuduhnya selingkuh tanpa bukti, ini semua bisa berdampak destruktif.

Cemburu seperti ini berpotensi merusak hubungan dengan pasangan.

Seseorang yang terlalu mengekang pasangannya, seperti tindakan istri yang terus menerus menelpon suami ketika jam kerja untuk memantau keberadaan dan kegiatan suami. Hal ini dapat mengganggu kinerja suami.

Terlebih lagi, jika istri bersikap memaksa atau menuntut suami untuk mengikuti keinginannya. Dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin suami merasa lelah dan justru menjauh dari istri. 

Rasa memiliki yang terlalu kuat (posesif) bisa membuat seseorang tidak dapat berpikir secara proporsional, dan memudahkan munculnya “cemburu buta”. Reaksi yang dimunculkan sering berlebihan.

Orang yang posesif menganggap pasangan sebagai miliknya sendiri sehingga tidak membiarkan pasangan untuk bersosialisasi atau mengembangkan diri bersama orang lain.

Orang yang terlalu posesif justru akan merusak hubungan dengan pasangannya sendiri.

Maka cemburulah dengan wajar dan berusahalah untuk mengolah rasa cemburu secara positif.

Bagaimana cara mengelola cemburu secara positif?

Tahap pertama adalah mengenali rasa cemburu itu sendiri.

Kita harus mengenali akar dari munculnya rasa cemburu itu,
mengenali mengapa bisa muncul rasa cemburu dan mengganggu pikiran dan perasaan.

Tahap kedua, hadapi ketakutan akan kehilangan cinta dari pasangan, dengan jalan mengenal pasangan lebih mendalam.

Kenali pasangan secara baik agar lebih dekat dan lebih memahami jati dirinya.

Tahap ketiga, ekspresikan rasa cemburu dengan cara yang baik.

Cobalah bicarakan dan ungkapkan perasaaan cemburu kepada pasangan secara bijak. Tidak perlu membuat asumsi yang berlebihan terhadap pasangan.

Misalnya, jika pasangan mengatakan akan pulang terlambat karena lembur, coba tanyakan berapa lama waktu yang akan dihabiskan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Tahap keempat, ubahlah kecemburuan dengan mengolahnya secara baik.

Berusahalah untuk tetap tenang dan tidak emosional. Hindari kemarahan atau rasa malu atas adanya situasi yang tidak menyenangkan tersebut.

Tahap kelima, perhatikan dan perbaiki penampilan serta pelayanan terhadap pasangan.

Pikatlah hati pasangan agar hanya akan tertambat kepada anda saja. Tunjukkan rasa percaya diri anda terhadap pasangan.

Tahap keenam, meminta bantuan konselor

Jika semua tahap telah ditempuh tetapi anda tetap mengalami cemburu berlebihan, mungkin perlu mencari bantuan psikolog atau konselor pernikahan untuk mengatasi perasaan dan pikiran irasional tersebut.

Cahyadi Takariawan, Motivator dan Penulis Buku
Sumber : fb Cahyadi Takariawan

Antara Tegas dan Keras


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Usai bincang parenting di SD MBS Prambanan, Yogyakarta. Judulnya “Anakku Tidak Nakal Kok!!!”, tetapi saya berusaha menyajikan pembahasan ringkas mengenai perilaku wajar yang tidak patut, perilaku mengganggu serta kerentanan yang bersumber dari rumah. Masih banyak orangtua yang sulit membedakan antara tegas dan keras serta lemah dan lembut. Akibatnya kadangkala orangtua inginnya bersikap lembut, tetapi dia keliru bersikap lemah. Sebagaimana sikap tegas kadang berubah menjadi ngawur dan bahkan beringas.

Islam menyuruhkan orangtua memukul anaknya apabila meninggalkan shalat di usia 10 tahun. Tetapi bukan berarti orangtua merdeka untuk memukul setiap kali anak melakukan kesalahan, sebab aturan ini terikat oleh beberapa hal. Pertama, hukuman hanya boleh untuk kesalahan paling mendasar, yakni tarkush shalah (meninggalkan shalat). Kedua, anak harus sudah memiliki pengetahuan memadai tentang hukum-hukum dasar yang berhubungan dengan ibadah sehari-hari sekaligus memahami apa yang dapat menyebabkan ia dapat dikenai hukuman. Jika anak belum memilikinya karena orangtua lalai, maka orangtua tidak dapat memukulnya meskipun anak meninggalkan shalat berkali-kali. Tetapi membiarkan anak melakukan kesalahan juga tindakan yang salah. Ketiga, orangtua harus memenuhi hak anak untuk memperoleh nasehat, pengingat maupun peringatan sebelum orangtua bertindak lebih keras. Keempat, orangtua harus bertindak secara terukur dan menunjukkan iktikad baik sekaligus rifq (kelembutan) sebagai bentuk kecintaan terhadap anak sekaligus memuliakan tuntunan dalam mendidik anak.

Disebut tegas itu ialah apabila ada aturan yang jelas dan anak memahami. Jika tidak ada aturannya, bukan tegas namanya. Itu beringas.

Kesalahan yang juga sering dilakukan orangtua adalah menghukum yang benar dan memberi hadiah kepada yang bersalah. Misalnya sudah ada kesepakatan mengenai tujuan wisata keluarga. Pagi hari semua anak siap, kecuali satu yang tidak mau bersiap karena menginginkan wisata di tempat yang berbeda. Karena menginginkan harmoni tetapi mengabaikan rasa keadilan, maka anak-anak yang sudah siap diminta mengalah dengan mengalihkan tujuan wisata demi agar anak yang membangkang mau segera bergegas bersiap melakukan perjalanan wisata keluarga. Tampaknya sepele, tetapi orangtua baru saja merusak integritas dan mengajari anak untuk tidak menghargai aturan maupun jerih payah serta kebaikan orang lain.

Mohammad Fauzil Adhim, Motivator dan Penulis Buku

Muslim United #2; Kebangkitan Muslim di Tanahnya sendiri

Oleh   : Abu Rizqi 

Energi Yang Tersalurkan
Even yang terselenggara dan diprakarsai anak-anak muda ini adalah sebuah energi yang terpendam lama dari sebuah sejarah panjang perjalanan Islam di Indonesia, negeri yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, negara yang seharusnya menjadi rumahnya sendiri

Dengan tajuk Lelah Berpisah Mari Berjamaah sebagai bentuk kerinduan muslim untuk bersatu bangkit bersama pada even #1 dan alhamdulillah berjalan sukses, tapi tidak demikian dengan even #2 Yang bertajuk Sedulur Saklawase ini

Mulai dari tempat, acara hingga pressing kepada tokoh-tokoh Islam begitu terasa pada even yg diselenggarakan 11-13 Oktober 2019 yang lalu.

Romantika dakwah
Rintangan pertama adalah tidak di berikannya ijin dari pihak otoritas yang dipegang oleh Sultan; raja muslim, penguasa dan pelindung serta penjamin nilai-nilai keislaman bagi rakyatnya, dengan alasan yang absurd ,"tidak mau adanya pengerahan massa serta menjaga wibawa Sultan"

Padahal acara dangdutan di perbolehkan sepekan sebelumnya di alun-alun utara, area yang juga menjadi titik spot ke 2 untuk MU setelah area masjid

Sedangkan untuk Kemuliaan, Islam adalah sumbernya, hingga Umar bin khottob ra pernah berkata "Sesungguhnya kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka tidaklah kami mencari kemuliaan dengan yang selainnya".

Bahkan sampai manusia tak mengenalmu, kebenaran itu tetap memuliakan pemiliknya

Begitupun alasan absurd kita dengarkan dari rintangan lainnya. Penolakan UAS di UGM, dengan alasan "tidak sesuai jati diri UGM"

Padahal ditempat yang sama, mereka mengundang AFI, anak muda pegiat plagiat, padahal tidak mungkin civitas UGM sebagai kampus ternama berjatidiri plagiat

Penolakan kepada tokoh-tokoh islam lainnya yang seharusnya sebagai pembicara juga didapatkan dengan alasan yang tidak kalah absurd, hanya dengan karena adanya pro dan kontra

Tentara Islam
Alhamdulillah, dengan adanya upaya pembungkaman dakwah ini; yang mulai terbuka dan masif, semakin membuka wawasan dan hati masyarakat, tentang pentingnya syariat yang dipeluk secara kaffah

Ya, keindahan syariat Islam yang rahmatan lil alamin  sebagai penebar rahmat , pelindung akan dakwah dan jiwa muslim mulai banyak di elukan

Terbukti dengan kehadiran ormas yang mempersiapkan laskarnya; Laskar Mujahidin dari Majelis Mujahidin, FKKAU yaitu Forum Komunikasi Komunitas Alun-Alun utara, Brigade Masjid Jogokaryan dari Masjid Jogokaryan, Harokah Islamiyah, Front Jihad Islam, KOKAM dari Muhammadiyah, Laskar Sayyidina Ali, serta Pandu hidayatullah dari Hidayatullah sebagai bagian dari tim keamanan MU #2, menjadikan salah satu faktor kesuksesan acara ini

Hal ini juga menjadi bentuk kesiapan bersama  menghadapi upaya pihak-pihak yang menghadang dakwah dalam acara ini. Mereka harus berpikir ulang, dan tidak berani untuk melakukan kontak fisik dalam upaya ini

Tak terbayang jika tidak adanya pasukan laskar ini, seperti di uyghur dan rohingnya, bisa jadi Indonesia akan menjadi kashmir lainnya

Kemuliaan Islam
Muslim United adalah satu diantara tanda kebangkitan Islam, karena masih banyak acara serupa yang alhamdulillah menggeliat di negeri ini dan dihadiri banyak jamaah
Begitu juga kajian-kajian Islam yang semakin semarak dan dipadati masyarakat luas

Persatuan Islam adalah awal dari sebuah peradaban, dan peradaban akan menjadi sebuah sejarah perjuangan, dan abdullah Azzam pernah berkata:
Sejarah Islam hanya tertulis dalam dua warna tinta, Hitam dan Merah

Tinta Hitam telah ditorehkan oleh tinta para Ulama, dan Tinta Merah yang telah ditorehkan oleh darah para Syuhada.
Maka, dimanakah anda berada?

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi"
(Al-Anfaal:60)

Abu Rizqi

Masihkah Engkau Usap Anakmu?

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Kalau hari ini anak-anak itu menangis, apakah yang akan mereka harapkan tatkala berlarian mendekat kepadamu? Adakah engkau tawarkan kepada mereka setangkup roti ataukah engkau bentangkan tanganmu untuk mendekapnya dengan penuh ketulusan dan kehangatan?

Berbincang tentang ibu, apakah yang mengantarkan orang-orang besar itu meraih kemuliaan dan kehebatannya? Apakah karena cerdasnya seorang ibu dalam mengasuh ataukah tulusnya cinta mereka sehingga bersedia berpayah-payah dan berletih-lelah mendampingi buah hatinya mempelajari kehidupan? Ataukah karena ibu yang mengikhlaskan rasa sakitnya untuk mendidik dan mengasuh anaknya?

Pertanyaan yang sama juga patut kita ajukan ketika kita mendapati kisah orang-orang jenius. Darimanakah mereka berasal? Apakah dari rahim para ibu yang jenius dan mengerti betul tentang kecerdasan maupun bakat anaknya? Atau, pertanyaan itu perlu kita balik sejenak, perlukah seorang ibu mengetahui bakat dan kecerdasan anaknya agar mampu mengantarkan sang buah hati menjadi manusia jenius?

Ini memang pernyataan konyol, tetapi saya serius mengajak Anda untuk menjawab secara jujur seraya merenung; sebelum ada tes bakat, sudah pernah adakah orang-orang yang dikenal luas karena kemampuannya yang cemerlang? Sebelum ada tes IQ, adakah jenius-jenius besar yang mewarnai sejarah? Kita tak dapat mengelak bahwa amat banyak, bahkan amat sangat banyak sosok cemerlang yang pemikiran, temuan dan usaha gigihnya berpengaruh besar terhadap sejarah peradaban manusia hingga hari ini. Sebaliknya, kita masih menunggu –jika benar sesuai klaim mereka—manusia-manusia jenius yang terlahir dari musik Mozart atau pendekatan instant lainnya?

Sejak tahun 1996, telah ratusan ribu kopi keping CD, kaset maupun file digital musik Mozart beredar demi memenuhi mitos bahwa musik Mozart menjadikan anak kita jenius. Tetapi sampai hari ini, tak satu pun jenius yang terlahir darinya. Hasil paling nyata dari mitos tentang musik Mozart yang didengung-dengungkan tanpa pijakan riset ilmiah memadai adalah industri musik dengan keuntungan besar tanpa perlu banyak biaya promosi.

Teringatlah saya dengan pernyataan Alex Ross sebagaimana dapat kita baca pada buku Talent is Overrated karya Geoff Colvin. Ross menyatakan, “Orangtua yang ambisius dan sekarang ini sedang mempertontonkan video “Baby Mozart” kepada bayinya bisa kecewa tatkala mempelajari bahwa Mozart menjadi Mozart karena kerja keras yang luar biasa.”

Cukuplah bagi kita peringatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menampik mitos tentang musik Mozart. Cepat atau lambat, segala yang bertentangan dengan syariat akan tampak kelemahan dan kekeliruannya.

Mari sejenak kita mengingat sabda Nabi, “Kelak akan ada sekelompok kaum dari umatku yang akan menghalalkan zina, kain sutra (bagi lelaki), khamr, dan,  alat-alat musik.” (Riwayat Bukhari)

Bagaimana mungkin kita akan mencetak generasi Muslim yang tangguh dan jenius, sementara jalan yang kita tempuh justru bertentangan dengan agama ini?

Di luar itu, buku Colvin sendiri –sebagaimana tercermin dalam judulnya– menunjukkan betapa kita sering berlebihan menilai (overrated) bakat. Kita sibuk mengejar, mengetahui, dan meyakinkan diri tentang bakat anak kita. Sesudahnya kita bersibuk memenjarakan anak dengan hanya memberi rangsangan pada apa-apa yang kita yakini sebagai bakatnya. Padahal boleh jadi, apa yang sekarang tampaknya merupakan bakat anak kita, hanya merupakan bekal awal untuk menuju keunggulan berikutnya yang saat ini justru menjadi titik lemahnya. Banyak dari kita yang meyakini anak memiliki kecerdasan majemuk, tetapi memperlakukannya seakan berbakat tunggal (single talent treatment), yakni hanya menempa apa yang kita anggap sebagai bakatnya berdasarkan hasil tes bakat yang reliabilitas dan validitasnya amat sangat perlu dipertanyakan.

Ironis.

Tetapi, marilah kita kembali pada pertanyaan, perlukah kita mengetahui IQ anak? Pentingkah orangtua memahami bakat anak? Rasanya sedih ketika saya harus menyampaikan bahwa pengetahuan tentang bakat anak hampir tidak ada manfaatnya. Menelusuri hasil-hasil riset yang diungkap oleh Andrew Robinson dalam bukunya bertajuk “Sudden Genius?”, kita terhenyak bahwa pemahaman tentang bakat tak banyak berperan mengantarkan anak menjadi manusia-manusia brilian. Sebaliknya, kita mendapati betapa banyak orang-orang sukses yang justru lahir dari ibu-ibu lugu. Carl Frederich Gauss yang berjuluk “The Princes of Mathematics” lahir dari orangtua tak berpendidikan. Ibunya bahkan buta huruf. Begitu pula sejumlah jenius lain.

Apakah Imam Syafi’i Rahimahullah menjadi sosok yang sangat fenomenal dengan kepakaran yang nyaris tak tertandingi hingga hari ini, lahir dari ibu yang mendalami bakat anak? Tidak. Tes bakat bahkan belum ada saat itu. Apakah Imam Ahmad Rahimahullah yang hafal dan paham puluhan ribu Hadist lahir dari ibu yang telah belajar tentang teknik mengingat instant? Tidak. Tetapi mereka memiliki ketulusan, penerimaan tanpa syarat, cita-cita besar, dan kesediaan untuk berpayah-payah mendampingi anaknya. Mereka tak letih memberi usapan sayang dan sentuhan penuh perhatian kepada buah hatinya. Mereka tak putus-putus mendoakan anaknya. Yang mereka bangun bukan percaya diri anak, tetapi keyakinan yang kuat kepada Allah ‘Azza wa Jalla semenjak hari-hari awal kehidupan anak.

Pertanyaan, masihkah engkau mengusap anakmu ketika mereka sedang gelisah? Masih adakah ketulusan itu di hatimu? Adakah kerelaan untuk berpayah-payah mengasuh dan mendampingi mereka? Ataukah kita cukup mempercayakan pendidikan mereka kepada sekolah saja? Padahal kelak kitalah yang akan ditanya atas iman anak-anak kita. Ataukah untuk menyiapkan anak-anak agar menjadi pribadi yang cerdas dan cemerlang, kita cukup mengandalkan lembaga bimbingan belajar atau bisnis kecerdasan ajaib yang tak pernah melahirkan manusia jenius?

Menerima secara tulus berarti ridha atas apa yang dikaruniakan kepada kita melalui anak-anak kita. Maka kita bersungguh-sungguh mengasuh mereka, menyayangi mereka, memberi dukungan tatkala mereka menghadapi kesulitan dan bukannya mengambil alih kesulitan tersebut. Semoga dengan demikian anak-anak itu kelak memiliki kesanggupan menghadapi tugas-tugas berat demi memperjuangkan agamanya.

Semoga kelak mata kita disejukkan oleh hadirnya anak-anak yang merelakan keringatnya, hartanya dan letih-lelahnya untuk menolong agama Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka berpenat-penat karena amat sangat mengingini akhirat. Bukan karena terpukau gemerlap dunia.

Masalahnya, dimanakah kita harus menyekolahkan anak-anak kita agar mereka memperoleh pendidikan yang menghidupkan jiwa mereka, menegakkan iman mereka, dan membangkitkan tekad yang kuat untuk senantiasa memperjuangkan agamanya?

Mohammad Fauzil Adhim, Motivator dan Penulis Buku

Membersamai dalam Belajar

Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Betapa diri ini merasa malu, betapa aku merasa menyesal, betapa aku merasa terlambat. Namun, itu semua kembali berbalik saat aku melihat semangat kalian, mengahafal kata demi kata, ayat demi ayat, surat demi surat, juz demi juz  yang akhirnya aku pun kalah dengan kalian.

Nak, ketahuilah, segala lelah kalian, aku tau, segala payah kalian aku lihat, sampai saat ini, sampai detik ini, masih sangat terasa saat menegur kalian, ada yang sampai menangis, kadang aku belajar lagi bagaimana seharusnya aku bersikap.

Waktu kian berlalu sayang. Kini, aku merasa "kalah" dari kalian, aku merasa kalian begitu menarik semangatku kembali. Kalian begitu memompa ghirah ini lagi.

Membersamai kalian belajar, bukan berarti aku lebih pandai dari kalian. Bukan nak. Bukan. Bahkan aku masih belajar sampai saat ini, aku masih terus mencoba memperbaiki itu.

Membersamai kalian belajar, begitu terasa dari awal ا ب ت hingga kini sudah menyelesaikan jilid 6 plus hafalan yang, maasyaAllah.

Saat aku di usia kalian, apa yang aku kerjakan? Bermain, menangis, mengompol, marah marah sama ibu, nakalin teman, sekolah sekedarnya, bahkan nilaipun standar-standar saja


Membersamai kalian belajar, adalah waktu yang tepat untuk aku belajar ke dua kalinya.

Jazakumullah khairan shalih-shalihahku yang sudah membuat diri ini tersadar, bahwa usia bukan menjadi dispensasi kita untuk terus dan terus belajar.

Prihatiningsih, S.Si., Redaktur Majalah Fahma Online

Jauhkan Anak dari Asap Rokok

Oleh : Arhie Lestari

Rokok memiliki efektivitas yang sangat tinggi dalam menyebarkan bahan kimia beracun. Jika dihisap di dalam rumah, maka seluruh rumah Anda akan penuh dengan zat beracun, seperti nikotin, karbon monoksida, dan zat pemicu kanker (karsinogen).

Hal ini bisa lebih parah jika semua zat tersebut tidak hanya ada di lokasi merokok. Seluruh ruangan di dalam rumah, termasuk kamar anak dan bayi, berisiko tercemar oleh berbagai zat yang berbahaya bagi tubuh. Selain jangkauan yang luas dan penyebarannya yang cepat, asap rokok juga dapat bertahan di udara dalam waktu yang lama. Asap rokok bisa bertahan di udara hingga 2 - 3 jam, bahkan saat ventilasi rumah atau jendela terbuka.

Lalu bagaimana cara terbaik agar buah hati kita terhindar dari asap rokok? Stop merokok!
Kondisi tubuh bayi dan anak-anak masih mengalami tumbuh kembang. Jangan heran jika bayi rentan mengidap gangguan pernapasan. Asma, radang paru-paru, bronkitis, pneumonia, dan penurunan fungsi paru-paru adalah beberapa gangguan yang bisa dialami buah hati Anda, jika terpapar oleh asap rokok dalam jangka panjang.

Selain itu, bayi dan anak yang sering terpapar asap rokok juga rentan terkena radang sinus dan infeksi telinga. Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin mereka akan terkena komplikasi yang bisa berujung kepada hilangnya kemampuan pendengaran.

        Bayi yang memiliki ibu perokok berisiko lebih tinggi mengalami kematian mendadak. Selain itu, anak-anak atau bayi yang terpapar asap rokok juga memiliki risiko terkena meningitis lebih tinggi. Batuk dan pilek juga akan lebih mudah menyerang anak-anak dan bayi yang terpapar asap rokok. Jika anda perokok pasif dan dalam suatu acara tertentu terpaksa harus terpapar asap rokok perokok aktif, maka sebelum berinteraksi dengan anak dan istri, sebaiknya ganti semua baju anda. Kalau perlu mandi untuk memastikan tubuh anda bersih dari aroma rokok.||

Oleh      : Arhie Lestari --> Pemerhati Dunia Anak 
Foto by : google 

Do'a Berhubungan dengan Istri


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Titik awal upaya memperoleh keturunan yang shalih penuh barakah dan menjaga mereka agar tetap dalam keadaan fithrah adalah saat suami-istri berhubungan intim. Ada yang mengingini anak yang shalih, tetapi mengawali dengan cara yang salah. Ada yang sangat berharap keturunan penuh barakah, tetapi memulainya dengan cara yang menyelisihi tuntunan.

Mari kita ingat sejenak hadis mursal tetapi berderajat hasan riwayat ‘Abdur Razaq:

إِذَا أَتَى الرَّجُل أَهْله فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقَتْنَا وَلَا تَجْعَل لِلشَّيْطَانِ نَصِيبًا فِيمَا رَزَقْتنَا، فَكَانَ يُرْجَى إِنْ حَمَلْت أَنْ يَكُون وَلَدًا صَالِحًا

“Jika seseorang mendatangi istrinya (berhubungan intim), maka ucapkanlah ‘Dengan menyebut asma Allah. Ya Allah, barakahilah kami dan keturunan yang dihasilkan dari hubungan intim ini, dan jangan jadikan setan menjadi bagian pada keturunan kami’. Dari do’a ini, jika istrinya hamil, maka anak yang dilahirkan adalah anak yang shalih” (HR. ‘Abdur Razaq).

Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Hendaklah seorang muslim bersemangat mengamalkan do’a ini ketika berhubungan intim hingga menjadi kebiasaan. Hendaklah ia melakukannya dalam rangka mengamalkan nasehat Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan demi menghasilkan keturunan yang terjaga dan terlindungi dari gangguan setan, juga supaya mendapatkan kebarakahan dari do’a ini.”

Perkataan Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan yang saya nukil dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. ini memberi pelajaran berharga bahwa upaya menjaga fithrah anak itu bahkan harus kita semenjak anak belum lahir. Sesudahnya, kelak ketika anak telah lahir, maka kita menjaganya antara lain dengan memperhatikan ucapan yang kita ajarkan serta ucapan yang sampai kepadanya. Sesungguhnya setiap bayi yang baru lahir tetap dalam keadaan fithrah, yakni tetap tegak di atas tauhid, sampai kelak lisannya memalingkan ia dari fithrah itu.

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ حَتّىٰ يُعَبِّرَعَنْهُ لِسَانُهُ

"Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali tetap pada fithrahnya, sehingga lidahnya memalingkan padanya." (HR. Muslim).

Jadi tantangan paling awal mendidik anak adalah menjaga fithrahnya, sebab ia bukan semakin kokoh seiring bertambahnya umur. Ketika Dr. Khalid Asy-Syantut mengatakan bahwa pemuda adalah sosok yang paling dekat dengan fithrah, maknanya ialah ia (sepatutnya) belum bergeser jauh dari fithrah dibandingkan orang-orang yang telah lebih berumur. Ini semua menunjukkan bahwa fithrah itu hanya berhubungan dengan tauhid. Bukan sekedar kecenderungan maupun bakat. Secara lebih khusus, pelajarannya bagi kita ialah, upaya melahirkan anak yang shalih bermula dari saat bertemunya suami-istri saat berhubungan dan kita terus menjaganya setelah anak lahir.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Nah, mari kita ingat kembali do'a berhubungan dengan istri:
بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقَتْنَا وَلَا تَجْعَل لِلشَّيْطَانِ نَصِيبًا فِيمَا رَزَقْتنَا
BismiLlah. Allahumma baariklanaa fiimaa razaqtanaa wa laa taj'al lisy-syaithaani nashiibaan fii maa razaqtanaa.

Jangan salah. Ini bukan do'a mau makan.

Yogyakarta, 9-10-2019

MASJID MILIK SIAPA?


Oleh : Salim Afillah

Keraton Baghdad di zaman Harun Ar Rasyid berbentuk melingkar dengan jari-jari 40 mil. Bentengnya berlapis 7 dengan dinding terluar setinggi 40 kaki dan tebal bagian atasnya seukur bisa dilewati 4 kereta berjajar sekaligus. Sungai Tigris dialirkan mengelilingi benteng sebagai pertahanan.

Makin ke lapis dalam, benteng Keraton makin tinggi. Puncak benteng lapis ke-7 membuat Sang Khalifah bisa berkata pada awan yang melintas, "Hai awan, pergilah ke manapun kau suka, jatuhlah di manapun kau mau; nanti pajak hasil buminya akan tetap mendatangiku."

Berapa lama perjalanan dari bagian terdalam Keraton-nya Harun Ar Rasyid yang berpenduduk 3 juta orang itu hingga mencapai benteng terluarnya? Sehari-semalam perjalanan. Wow sekali, bukan? Inilah yang suatu hari menimbulkan masalah.

Alkisah, Harun marah pada permaisuri tersayangnya, Ratu Zubaidah. Lalu keluarlah sumpahnya, "Jika malam ini kau masih di Keratonku hai Zubaidah, maka otomatis kau ter-thalaq dariku!"

Repotnya, beberapa saat kemudian Baginda menyesali kata-katanya. "Aku tadi bicara apa? Ya Allah. Tidak. Aku tidak ingin berpisah darimu, Zubaidah!"

Apa solusinya?

Jika Zubaidah bisa keluar dari Keraton Harun Ar Rasyid malam itu, maka dia takkan tercerai. Masalahnya ya itu tadi; perlu sehari semalam untuk keluar dari Keraton Harun. Saat malam  berakhir, Zubaidah pasti belum berhasil keluar dari Keraton suaminya.

Masalah ini lalu ditanyakan pada 'Ulama besar, 'Abdurrahman ibn Mahdi, atau dalam riwayat lain Imam Asy Syafi'i. Jawab Sang Mufti; "Hendaklah Zubaidah malam ini menginap di Masjid. Karena Masjid bukanlah bagian Keratonnya Harun Ar Rasyid. Maka dengan begitu, dia tidak terkena sumpah suaminya."

Dalilnya?

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا (18)

"Dan sesungguhnya Masjid-masjid itu semata milik Allah, maka janganlah kalian ibadahi di dalamnya selain Allah." (QS Al Jinn: 18)

Meskipun dibangun oleh Khalifah yang rajin ibadah, dan berada di dalam kompleks Keratonnya, tapi Masjid bukanlah bagian dari Keraton itu. Pemilik Masjid itu adalah Allah. Demikian hakikatnya.
_____
Bahagia sekali tempo hari sempat mengunjungi Masjid Shizuoka.

Muslim United 2, Gelaran Super "Radikal"


Oleh: Puspita Satyawati

Diawali di Masjid Gedhe Kauman. Rencana dipindah ke UAD. Hingga berlabuh di Masjid Jogokaryan. Inilah lika-liku perjalanan Muslim United (MU) kedua. Yang berlangsung 11, 12, 13 Oktober 2019 di Yogyakarta.

Beberapa hari sebelum digelarpun, batu sandungan telah datang.

Tersebar kabar jika Kagungan Dalem selaku pemilik masjid Gedhe tidak berkenan masjid tersebut dipergunakan. Meski takmir dan masyarakat sekitar tidak mempermasalahkan.

Bahkan putri bungsu Raja dalam akun Instagram beliau, menghimbau warga Jogja agar tidak hadir di MU  karena "keliatannya ada unsur kesengajaan dan provokasi." Di bawahnya diberi hastag #jogjacintadamai #jogjatoleran

Meski tidak clear alasan pihak keraton tidak mengizinkan penggunaan masjid, namun, menurut panitia pelaksana dari presidium Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY, bapak Syukri Fadholi menduga penolakan itu karena pihak keraton menerima informasi salah.

Sebab banyak beredar informasi yang menyebutkan bahwa kegiatan MU diisi oleh orang-orang berpaham radikal. Bahkan ada beberapa ustaz yang diminta untuk tidak tampil karena dianggap radikal.

***

Hmm.. Radikal lagi. Lagi-lagi radikal. Ada kelompok Islam radikal. Ustaz radikal. Masjid radikal. Dosen radikal. Guru besar radikal. Mahasiswa radikal. Universitas radikal. Opo maneh?

***

Tapi, okelah. Jika dipandang radikal, gelaran MU memang super "radikal" kok. Gimana nggak "radikal," coba?

1. Peserta hadir dari berbagai penjuru Nusantara.

Ada yang jauh hari sudah booking hotel. Ada yang menginap di tempat saudara, dll. Perjalanan jauh lewat darat dan udara tak mengapa demi bersua saudara.

Sedulur saklawase. Saudara selamanya. Seperti judul tausiyah Ustaz Oemar Mita: Bertemu di Dunia, Bertetangga di Surga. Maa syaa Allah.

2. Kajian nonstop dari ba'da Subuh hingga malam pukul sepuluh.

Ada sekitar sepuluh forum kajian berturut-turut digelar tiap harinya. Bagi pecinta ilmu, gimana nggak serasa dimanjakan coba? Asyiknya, bisa bersua lama dengan taman surga.

3. Panitia yang tangguh dan solid.

Gimana nggak tangguh? Beberapa waktu sebelum hari H, isu MU batal kian santer. Izin masih menggantung. Panitia berupaya terus meyakinkan masyarakat, bahwa apapun yang terjadi, MU tetap berlangsung. Silakan tetap hadir. Takbir!!!

Di hari pertama MU, sejumlah insiden terjadi. Travo meledak, air wudlu menipis, tekanan aparat kian kritis. Tapi, the show must go on, Gaes! Demi satu tujuan, tegaknya syiar Islam dan hukum Allah. Apapun diupayakan.

4. Peserta pecah! Tumpleg bleg. Tumpah ruah!

Di hari pertama, membludag dari Masjid Gedhe hingga Alun-alun Utara. Dan hebatnya, jamaah putra terus diupayakan terpisah dengan putri. Agar tidak terjadi campur-baur.

Pindah ke Masjid Jogokaryan ternyata tak memadamkan hasrat untuk hadir. Bahkan antusiasme peserta lebih tinggi. Ratusan meter sebelum masjid, jalan dari berbagai arah penuh peserta. Hingga masuk ke gang-gang dan halaman rumah penduduk sekitar masjid. Maa syaa Allah, terharuuu.

5. Apapun harokahmu, kau tetap saudaraku.

Adeemm! Seluruh elemen umat bersatu. Bahu-membahu saling membantu. Petugas keamanan saja dari berbagai kelompok: Kokam, Harokah Islamiyah, FUI, FPI, FJI, hingga santri Hidayatullah.

Panitia bidang lain juga gabungan dari berbagai lembaga, komunitas, dan kelompok Islam. Tanpa melihat latar belakang dan perbedaan masing-masing. Pokoknya, Islam bersatu tak bisa dikalahkan, bukan sekadar slogan deh.

6. Manis dan kentalnya nuansa ukhuwah ngalahin teh nasgitelmu (panas, legi, kenthel) wis. 

Berbagi senyum, berbagi tempat duduk, memberi akses jalan. Jama'ah mudah sekali diarahkan panitia. Para pedagang juga legawa, lapaknya berhimpit dengan tempat duduk peserta.

***

Yah, gimana nggak radikal coba, suasana romantisme ukhuwah kayak gini nih. Nggak salah, jika umat Islam sebagai umat terbaik, memiliki karakter radikal (RAmah, terdiDIk, dan beraKAL). Atau radikalis. Ada manis-manISnya gituh.

Jika RADIKAL bermakna amelioratif (positif) ini ditanyakan ke Antum. Siapa pengen jadi Muslim radikal? Pasti Antum sambil tunjuk satu jari ke atas akan katakan, "Saya!"

So, lawan narasi radikal yang bermakna peyoratif (buruk) ala rezim dan segenap kroninya dengan lisan kita. Sampaikan bahwa itu hanyalah narasi basi dan ngapusi. Untuk membasmi kalangan Islam (politik) yang amat mereka takuti.

Pun, perlawanan secara efektif kita lakukan dengan pembuktian melalui tindakan. Terselenggaranya MU dengan indah tanpa kekerasan, sejatinya telah menjadi bukti bahwa Islam bukanlah ajaran radikal bermakna kekerasan. Umat Islam pun bukanlah kelompok radikal bermakna kekerasan.

***

Alhamdulillaah 'alaa kulli haal. Allah telah beri ujian untuk kita saling menguatkan. Berbagai tekanan dari sana-sini, justru kian menyulut bara semangat umat. Pun, umat kian paham di mana dia akan berdiri dan memberikan dukungan.

Akhir kata, selamat untuk seluruh panitia dan peserta MuslimUnited#2. Baarokallaahu fii kum. Kalian juara!

Dikutip dari WAG yang beredar
Foto via IG Ustadz Ridwan Hamidi

Yuk, Berbagi Mainan !

OlehNur Muthmainnah

Belajar berbagi memang menjadi sebuah hal yang sangat baik untuk ditanamkan sejak usia dini, khususnya anak-anak. Perkembangan untuk saling berbagi akan menjadikan rasa syukur pada kehidupan ini akan semakin terasa. Pendidikan berbagi yang dikenalkan sejak anak-anak khususnya di sekolah akan mambawah dampak positif bagi si anak di masa yang akan datang atau dewasa. Salah satu hal yang dapat kita mulai bersama dalam mengajarkan konsep berbagi ini adalah dengan berbagi mainan. Lalu bagaimana cara mengajarkan anak berbagi?

Pendidikan anak yang dulu diberikan orangtua kepada kita akan kita rasakan juga pada masa usia tua, misalnya anak akan enggan berbagi sesuatu dengan orang tua, malas membantu dan menolong.

Kebiasaan baik perlu kita mulai dari sekarang kepada anak, ibarat sebuah tanaman kita menyirami sebuah tanaman tersebut dengan air yang baik akan menghasilkan buah yang manis pula. Ada beberapa cara dalam mendidik anak, simak beberapa tips yang mungkin bisa Anda gunakan dalam mendidik anak Anda.

Sekalipun tujuan ini baik, namun hasilnya tidak akan baik bila Anda melakukannya dengan paksaan. Memaksa anak berbagi mainan hanya akan membuat mereka tantrum, kehilangan otoritas dan tidak mampu mempertahankan dirinya sendiri. Lantas bagaimana cara yang tepat untuk mengajarkan anak agar mau berbagi mainan? Dr. Laura Markham, psikolog klinis yang mendirikan Aha! Parenting sekaligus penulis Peacefull Parent, Happy Kids Workbook membagikan caranya

Tips mengenalkan anak konsep berbagi: 
  Ø  Tekankan prinsip “giliran”.
Ajarkan anak-anak tentang arti giliran dan praktikkan di rumah. Sebagai contoh, Anda bisa mengajaknya bermain dengan prinsip giliran. Biasanya dengan alasan karena “masih kecil”, anak-anak mendapat giliran duluan atau sesuka hatinya. Nah, hilangkan cara ini dan ikuti aturan tentang siapa dulu yang boleh bermain dan berapa lama. Contohkan pula bila gilirannya habis, maka ia harus memberikan mainan itu pada Anda, begitu juga sebaliknya. Dengan begini, ketika sedang bermain dengan anak lain, anak Anda akan terbiasa dengan prinsip giliran. Ia akan dapat mengendalikan impulsnya untuk tidak merebut mainan yang dipegang temannya hanya karena ia menginginkannya. Ia juga bisa memperlakukan temannya yang menginginkannya mainannya dengan cara yang sama

  Ø  Ajari anak membela diri.
Anak-anak tidak perlu diberi tahu kapan giliran mereka habis dan harus segera berbagi mainan mereka dengan orang lain. Jika orangtua terlalu cepat dan banyak ikut campur, kesempatan anak-anak untuk belajar membela diri sendiri dan berkompromi akan hilang. Oleh karenanya, ajarkan mereka untuk membela diri dengan mengucapkan kalimat yang tepat saat temannya meminta mainannya. Mengajari anak cara meminta giliran, cara menunggu, dan cara bergiliran adalah pengalaman belajar. Ketika mereka tidak dipaksa untuk berbagi, kesabaran, empati, dan keterampilan sosial mereka akan terlatih. Mereka akan menangani situasi yang lebih kompleks secara emosional ketika mereka tumbuh dewasa.

  Ø  Mendorong membuat aturan
      Ajarkan anak untuk membuat aturan tentang giliran bila bermain bersama. Anda bisa mencontohkan kalimat berikut, “Gantian ya. Kalau aku udah selesai, kamu boleh pinjam.”

  Ø  Ajak sharing cerita.
Saat waktu luang ajak anak untuk berbagi masalah kisah yang sudah dilakukannya pada hari ini. Ajakan seperti ini mungkin akan Anda anggap biasa saja, namun kondisi ini akan membentuk karakter anak yang terbuka kepada orangtua saat dia dewasa nanti. Sehingga Anda tidak perlu kawatir akan pergaulan anak saat remaja.  

Ø Main berbagi. 
Bermain adalah hal yang sangat disukai oleh anak-anak, saat bermain coba. Anda ajarkan kepada anak Anda cara-cara berbagi misalnya berhitung, mainan pasir, dan beberapa benda untuk sebagai contoh. Misalnya saja kue, 1/2 untuk si Ibu, dan 1/2 untuk ayah. Kondisi ini akan mengajarkan anak berbagi dan menjadikan belajar matematika.

Kini mulai ubah cara Anda dalam mengajarkan Anak Anda berbagi dengan kondisi si Anak. Karena proses ini adalah proses untuk masa depan si Anak dan Anda sendiri.
Oleh : Nur Muthmainnah, Pemerhati Dunia Anak 
Foto by : Google 

Obsesi Tujuh Abad Sang Sultan dan Doa Guru yang Sholih

Oleh Galih Setiawan 

Ketika hendak mengawali tulisan ini, tiba-tiba saya teringat dengan kisah yang dituliskan Ustadz Salim A Fillah di buku Jalan Cinta Para Pejuang. Kisah tentang obsesi tujuh abad yang bergemuruh di dada seorang Sultan muda yang baru 21 tahun usianya.

Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Dia tahu, hanya seorang yang paling bertaqwa yang layak menanggungnya. Dia tahu, hanya sebaik-baik pasukan yang layak mengembannya.

Maka di sepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu, Sang Sultan tegak di atas mimbar, dan meminta semua pasukannya berdiri.

“Saudara-saudaraku di jalan Allah”, ujarnya. “Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya. Kini kita harus memilih insan terbaik pula untuk memimpin semua.”

 Siapakah di antara kalian yang sejak remaja, sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan meninggalkan shalat wajin lima waktu, silakan duduk! Seru sang Sultan. Tak seorangpun pasukan muslim yang duduk. Semua tegak berdiri.

“ Siapa di antara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rawatib silakan duduk!” ujar Sang Sultan lagi.  Sebagian lainnya perlahan duduk dengan muka sedih.  Sang Sultan mengedarkan matanya ke seluruh rakyat dan pasukannya Kembali dia bertanya: “ Siapa di antara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!

Kali ini semua terduduk lemas. Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia, sang sultan sendiri. Namanya Muhammad Al Fatih. Dan obsesi tujuh abad itu adalah Konstantinopel.

Ada satu lagi kisah tentang Al Fatih yang sering terlewat dari benak kita. Sebab kesuksesan ini juga tak lepas dari peran sang guru, Syaikh Aaq Syamsuddin. Dini hari ketika itu, jelang pertempuran, Al Fatih berniat menemui sang guru. Namun, pasukan pengawal Syaikh Aaq Syamsuddin tidak mengizinkan Al Fatih menemui gurunya.  Rupanya, Syaikh Aaq Syamsuddin ingin khusyuk mendoakan muridnya dalam sujud panjang qiyamul lailnya. Inilah salah satu rahasia lain keberhasilan membebaskan Konstantinopel. 

Usai qiyamul lail, Syaikh Aaq Syamsuddin memberikan nasehat agar Al Fatih dan seluruh pasukannya berpuasa pada esok hari, senin 28 Mei 1453. Malamnya melaksanakan qiyamul lail berjama’ah, berzikir, dan berdoa memohon pertolongan kepada Allah. Semua nasehat gurunya disampaikan dalam pidatonya yang berkobar-kobar kepada semua pasukannya. 

Maka, pada malam 29 Mei 1453, usai menunaikan qiyamul lail, Al Fatih mengobarkan semangat jihad pasukan Janisarinya untuk menuntaskan misi memindahkan kapal-kapal perang lewat jalan darat dan bukit untuk bisa masuk selat tanduk emas. Karena itulah, titik terlemah benteng Konstantinopel. 

Misi itu pun tertuntaskan. 70 puluh kapal perang berhasil dipindahkan lewan jalan darat dan masuk selat tanduk emas. Babak akhir pembebasan Konstantinopel pun dimulai. Berbagai gempuran dan serangan bertubi-tubi akhirnya mampu menjebol benteng Konstantinopel. Pada 29 Mei 1453 Konstantinopel berhasil dibebaskan oleh seorang pemuda belia nan saleh berusia 21 tahun. 

Dalam konteks pendidikan, ada pesan penting dalam perjuangan heroik membebaskan Konstantinopel, yaitu doa tulus dan khusyuk dari seorang guru sholih untuk muridnya yang sholih. Doa itu melesat menembus langit ketujuh, menggetar Arsy, dan sampai kepada Allah. Allah pun mengijabah doa tulus nan khusyuk dari guru saleh dan bertakwa. Konstantinopel pun berhasil dibebaskan.

Maka, kita bertanya adakah para guru mendoakan murid-muridnya dalam sujud panjang tahajudnya? Adakah para guru bersungguh-sungguh men-sholih-kan dirinya agar doanya menembus langit ketujuh dan menggetarkan Arsy?

Galih Setiawan, Redaktur Majalah Fahma




Membangun Karakter Melalui Tahajud



Oleh : Abu Fatih

Malam itu, terasa dingin. Ian, seorang mahasiswa yang tengah berjuang menyelesaikan skripsi terbangun karena alarm di hp menyala. Dengan berat, ia terbangun, mematikan alarm, lalu berselimut lagi melanjutkan tidur. Tak lama kemudian, sebuah pesan WA datang.“Selamat menunaikan tahajud. Jangan lupa doakan kebaikan untuk kedua ” Antara sadar dan tidak, dilihatnya, ternyata yang mengirim pesan tersebut adalah dosen pembimbing skripsinya. Sontak ia terbangun. Tak terasa lagi dingin yang menggigit tulang. Ditunaikannya shalat tahajud malam itu.

Dalam konteks pendidikan, apa yang dilakukan oleh sang dosen merupakan cerminan seorang dosen yang bukan hanya sebagai pihak yang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menginternalisasikan nilai-nilai kebaikan. Sang dosen bukan hanya menginginkan para mahasiswanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga religius, dan memiliki budi pekerti yang baik.

Ajakan sang dosen mengerjakan shalat tahajud merupakan bagian dari pendidikan karakter. Sang dosen mengharapkan mahasiswa bukan hanya menjadi orang yang cerdas secara intelektual, tetapi juga secara spiritual dan sosial. Selain itu, kesholihan yang dimiliki oleh mahasiswa bukan hanya sholih secara ibaah spiritual, tetapi juga sholih sosial, yakni berbuat baik kepada sesama manusia. Bukan hanya menguasai hard skill¸ tetapi juga soft skill. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Howard Gardner menyimpulkan bahwa kesuksesan seseorang 20% ditentukan oleh hard skill dan 80% ditentukan oleh soft skill.

Soft skill meliputi intrapersonal skill dan interpersonal skill. Intrapersonal skill adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri seperti mengendalikan emosi, murah senyum, ramah, sopan, santun, dan karakter yang baik lainnya. Sedangkan interpersonal skill adalah kemampuan seseorang dalam membangun relasi sosial yang baik dengan orang lain. Orang yang memiliki soft skill yang baik pada umumnya memiliki gaya komunikasi yang baik, supel, mudah bergaul dengan orang lain, serta mampu bekerja dalam tim.

Ajakan-ajakan mengerjakan kebaikan yang dilakukan sang dosen tersebut memiliki kekuatan karena beliau terlebih dahulu telah melakukannya, alias telah memberikan keteladanan kepada para mahasiswanya. Sang dosen telah melakukan dakwah dengan perbuatan, sehingga setiap pesan  yang masuk ke HP mahasiswanya memiliki wibawa, membuat mahasiswa yang membaca pesan tersebut termotivasi dan malu jika tidak melakukan ajakan sang dosen.

Sang dosen telah memberikan inspirasi dan motivasi untuk sama-sama melakukan kebaikan dan saling berbagi kebaikan. Komunikasi yang dijalin sang dosen dengan mahasiswa bukan hanya komunikasi formal antara dosen dan mahasiswa, tetapi juga sebagai teman, seorang kakak dan adik, dan sebagai orang tua kepada anaknya. Dengan gaya komunikasi seperti itu, maka hubungan antara mahasiswa dengan dosen menjadi lebih erat dan lebih dekat, walau tentunya ada etika dan batas-batas tertentu yang perlu diperhatikan.

Chat WA ajakan qiyamullail yang dilakukan oleh sang dosen, walau pun merupakan hal yang sederhana, tetapi berdampak luar biasa. Jika ada sekian orang yang saja tergerak melakukan qiyamullail tentunya hal tersebut menjadi pahala bagi yang mengajaknya.

Di dalam kehidupan sehari-hari, sudah banyak komunitas yang menggunakan media sosial WA sebagai sarana membangun karakter. Ada komunitas tahajud (Kutub), komunitas membaca Al Qur’an (ODOJ), komunitas dhuha (Kodham) dan sebagainya.

Dalam konteks sosial, ajakan-ajakan sederhana tersebut berkontribusi terhadap perubahan sosial, khususnya menciptakan masyarakat yang agamis dan berbudi pekerti luhur, karena masyarakat yang baik berawal dari pribadi-pribadi yang baik. Perubahan sebuah masyarakat berawal dari perubahan individu-individunya. Sebuah perubahan besar berawal dari yang hal yang kecil atau sederhana.||

Foto by : Google