Perjalanan


Oleh : Imam Nawawi


Sejak media sosial menjadi bagian kehidupan umat manusia, istilah otw (on the way) menjadi status yang “pantas” dipublikasikan. Hal ini bisa dilihat dari banyak sudut pandang. Mulai dari mereka yang memang pekerjaannya otw, hingga mereka yang otw merupakan satu momen istimewa.
Tetapi, sadar atau tidak, hidup ini sendiri hakikatnya juga otw, ya, otw kepada Allah di akhirat. Karena otw, maka sudah barang tentu ada jalan, ada rambu dan ada sisi penting yang harus disiapkan. Otw dengan sepeda motor saja sudah jelas apa yang harus dipersiapkan. Apalagi otw menuju Allah.
“Agama itu sesungguhnya seperti safar (bepergian) menuju Allah Subhanahu wa Taala. Dan, salah satu pilar bersafar adalah berbaik hati ketika berteman,” demikian pernyataan Imam Ghazali dalam Arbain fii Ushuluddin, yang dijadikan status seorang sahabat di status fb dan wa-nya.
Perjalanan hakikatnya memang menghubungkan dua titik, yakni berangkat dan tujuan. Pada titik berangkat kita meninggalkan teman, dan pada titik tujuan kita menuju teman. Jika teman-teman itu kita perlakukan dengan baik, sudah barang tentu, perjalanan kita adalah perjalanan yang indah, ,menyenangkan dan tentu saja inspiratif.
Allah Taala juga secara gamblang mendorong agar kita melakukan perjalanan.
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15).
Adalah benar saat ini, hampir setiap perjalanan mudah dilakukan, mulai dari keliling dalam negeri hingga melancong ke seluruh dunia. Terlebih umroh dan ibadah haji, subhanalloh. Tapi ingat, perjalanan bukan untuk dibangga-banggakan tapi dijadikan media untuk semakin dekat kepada-Nya dengan senantiasa mengambil pelajaran dari setiap perjalanan yang kita lakukan.
Menariknya, kalau kita lihat sejarah, orang terdahulu, sekalipun tak mengenal mobil, kereta dan pesawat, semangat bepergiannya tinggi sekali, terutama dalam urusan ilmu.
Sa’id bin Al Musayyab juga mengatakan, “Saya terbiasa melakukan rihlah berhari-hari untuk mendapatkan satu hadits.” (Al Bidayah Wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/100).
Sekarang, ada reporter sepakbola menyiarkan bahwa suporter bola suatu negara berasal dari berbagai negara. Andai, kita paham sejarah, tak patutlah kita senang mendengar berita yang seperti itu. Apa hebatnya, jauh-jauh sebatas untuk ke stadion. Sekalipun tentu saja, itu tidak keliru.
Nah, sekarang sahabat pasti juga telah, sedang dan akan emlakukan perjalanan, entah mudik atau balik. Niatkanlah untuk mendapatkan hikmah dan lakukanlah perjalanan dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah berkahi setiap perjalana hidup kita.
Gambir, 5 Syawal 1439 H
Imam Nawawi >>> twitter @abuilmia

Misk Aswad Thaharah


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Hajar Aswad? Bukan. Parfum Al-Hajar Al Aswad yang terbaik diracik dari bahan utama parfum ‘oud tua dengan sedikit minyak mawar dan misk. Sama-sama ‘oud, berbeda sekali antara ‘oud yang sudah tua, dari pohon gaharu alami usia puluhan atau bahkan ratusan tahun, dengan oud yang dihasilkan dari gaharu budidaya dan baru berusia beberapa tahun. Sedangkan minyak mawar adalah parfum dari bunga mawar; yang terbaik adalah mawar Damascus, baik yang asli Damascus maupun mawar Damascus (Rosa Damascena) Turki yang berpusat di Isparta, disusul mawar Thaif dari Arab Saudi. Sedangkan misk berasal dari rusa jantan. Jadi, parfum dasar Hajar Aswad adalah ‘oud. Bukan misk.

Berbeda perusahaan dapat menghasilkan parfum Hajar Aswad yang lain pula, tergantung campuran yang dipakai serta kualitasnya. Ada yang menambahkan campuran za’faran semisal pada Al-Hajar Al-Aswad keluaran Abdul Samad Al-Qurashi (ASQ). Sedangkan untuk Al-Hajar Al-Aswad yang menjadi unggulan ASQ menggunakan campuran wewangi fol Damascus sebagai pengganti za’faran. ASQ menamainya خلطة الحجر الأسود الملكية dan mematok harga 3000 riyal per tola (12 ml) atau sekitar 12 juta rupiah. Belum termasuk pajak 5%. Jauh lebih mahal dibandingkan Hajar Aswad sintetis roll on yang per botol (biasanya ukuran 15 ml) dijual seharga 12 ribu rupiah.

Apakah ini Misk Ka’bah alias Ka’bah Perfume? Juga bukan. Misk Ka’bah merupakan campuran antara misk dan parfum yang dibuat dari cedarwood, agarwood, anyelir serta nilam (patchouli). Khusus minyak wangi nilam, banyak kita temukan di Sulawesi Selatan. Tetapi biasanya dipakai sebagai campuran untuk beragam parfum semisal Al-Hayat. Unsur misk pada Misk Ka’bah tidak dominan. Karena itu, parfum ini sering disebut tanpa menyertakan kata misk (musk) karena bukan bahan utama.

Jadi, apa itu Misk Aswad Thaharah? Misk murni alami yang berasal dari rusa jantan. Sangat mirip dengan Misk Abyadh, tetapi mewanginya jauh berbeda. Awalnya tajam, kemudian pelahan berubah menjadi lebih lembut. Setelah cukup lama, aroma yang dihasilkan lembut dan kuat, selain dipengaruhi oleh interaksinya dengan tubuh tiap-tiap pemakai. Jadi tak perlu baper jika aromanya serasa berbeda dengan orang lain setelah memakainya 1 atau 2 jam.

Tak sebanyak yang menjual misk abyadh untuk keperluan thaharah, misk aswad alias misik hitam untuk bersuci ini antara lain dapat kita temukan di Makkah. Anda dapat memasukkannya ke dalam daftar belanja bernilai sunnah saat umrah. Bukan sekedar oleh-oleh biasa.

Jika sesudah bersuci atau memakainya untuk keperluan lain tidak merencanakan keluar rumah, misk aswad thaharah dapat menjadi pilihan. Tetapi jika sesudah bersuci segera ada kegiatan di luar rumah, sebaiknya memilih misk thaharah dari jenih abyadh (putih). Mewanginya lebih lembut, tak tercium oleh yang agak jauh, meskipun kita lewat di depannya.

Apa keistimewaan Misk Aswad Thaharah saat dipakai bersuci? Ia membangkitkan semangat, selain tetap penuh manfaat sebagaimana Misk Abyadh. Apa saja manfaatnya? Insya Allah lain waktu kita bincang.

Pelajaran dari Gagalnya Penalti Lionel Messi


Oleh : Jamil Azzaini

Salah satu yang menjadi sorotan banyak orang saat ini adalah Piala Dunia, saya pun ikut menonton beberapa pertandingan melalui layar televisi. Salah satu yang saya tonton adalah pertandingan antara Argentina dan Islandia. Saya dan anak-anak saya yang menonton semuanya menjagokan Argentina menang. Menariknya, Islandia mampu menahan Argentina. Dan yang lebih menarik lagi, Messi gagal melakukan tendangan penalti, padahal penjaga gawang Islandia bukanlah penjaga gawang top.

Saya kemudian mencari tahu, kaitan antara tendangan penalti dengan kehidupan. Dari pencarian ini, saya menemukan buku Think Like a Freak Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner (2016) yang mengungkap perilaku seorang kiper saat menghadapi penalti. Sang penulis merujuk sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa 57% kiper akan melompat ke arah sebelah kiri, 41% ke arah kanan, dan hanya 2% kemungkinan seorang kiper tidak beranjak dari posisinya di tengah gawang saat akan menghalau tendangan penalti.

Lantas, apakah sang eksekutor akan menendang ke arah tengah sebagai arah yang paling jarang dipilih oleh seorang kiper? Ternyata, jawabannya adalah tidak. Hanya 17% kemungkinan tendangan akan mengarah tepat ke tengah gawang. Dan, Messi masuk ke dalam 83%-nya dengan memilih untuk tidak menendang ke arah tengah. Bukan tanpa alasan. Pasalnya, ketika sang eksekutor menendang ke arah tengah dan kiper mampu membacanya dia akan mendapat ejekan yang lebih berat ketimbang jika gagal saat menendang ke arah kanan atau kiri gawang.

Hal inilah yang menyebabkan banyak pemain sepakbola enggan mengambil resiko tersebut. Karena ternyata bagi kebanyakan orang menyelamatkan reputasi pribadi jauh lebih penting ketimbang memaksimalkan peluang. Ketika seseorang fokus menjaga reputasi pribadi, boleh jadi ia tidak mampu menangkap peluang besar yang ada di sekelilingnya. Anda

Messi telah mengajarkan kepada saya bahwa hidup itu perpaduan antara menjaga reputasi pribadi dan memaksimalkan peluang yang ada. Keduanya penting, khususnya bagi para pebisnis. Tanpa reputasi pribadi sulit mengembangkan dan membesarkan bisnis. Begitu pula ketidakmampuan memaksimalkan peluang juga bisa membuat bisnis kita stangnan, jalan di tempat bahkan bisa tertinggal oleh kompetitor.

Mengelola reputasi pribadi dan memaksimalkan peluang adalah seni yang terus perlu dipelajari dan dipraktekkan. Dalam proses menjalaninya berpeluang untuk gagal atau berhasil, layaknya tendangan penalti. Saat berhasil tidak boleh membuat kita jumawa karena “kejuaraan” belum berakhir. Saat gagal, ambil pelajaran agar tidak terulang di pertandingan berikutnya.

Semoga kita semua tetap menjadi Messi, meski “gagal” dalam keputusan bisnis tapi terus ikut melanjutkan permainan dibandingkan menjadi penonton atau komentator yang hanya bisa berkomentar dan menganalisa kegagalan namun dia sendiri tidak pernah melakukannya. Merasakan dan mengalami jauh lebih penting dibandingkan hanya berkomentar yang seolah terlihat pintar namun miskin pengalaman nyata di lapangan. Setuju?

Salam SuksesMulia
Jamil Azzaini

Melatih Berpikir


Oleh : O. Solihin

Betul. Kita emang kudu melatih otak kita untuk berpikir. Karena apa? Karena kita punya akal. Oya, sebenarnya definisi akal sendiri itu apa sih? Kita kudu tahu dengan jelas definisinya. Yup, definisi emang penting banget, itu sebabnya Ibn Sina pernah berkomentar: “Tanpa definisi, kita tak akan pernah bisa sampai kepada konsep.” Karena itu, definisi, menurut filsuf Iran itu, sama pentingnya dengan silogisme (baca: logika berpikir yang benar) bagi setiap proposisi (dalil atau pernyataan) yang kita buat.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi ketiga, cetakan III, 2003, hlm. 18), akal adalah daya pikir (untuk memahami sesuatu dsb.); pikiran; ingatan. Bisa juga diartikan sebagai jalan atau cara untuk melakukan sesuatu; daya upaya; ikhtiar.
Nah, Islam juga ternyata menjelaskan tentang definisi akal. Menurut Islam, akal pengertiannya sama dengan pemikiran dan kesadaran. Akal, pemikiran, atau kesadaran ini adalah penangkapan suatu kenyataan dengan perantaraan indera ke otak disertai informasi sebelumnya tentang fakta tersebut yang berfungsi menafsirkannya. Ini menurut pendapat Muhammad Muhammad Ismail, dalam bukunya yang berjudul Bunga Rampai Pemikiran Islam (silakan cek di halaman 149).
Contohnya seperti apa? Misalnya aja nih, ketika kita pertama kali melihat sebuah benda, katakanlah botol. Kita pasti heran dan mungkin bingung. Sekadar contoh nih, kamu mungkin pernah melihat film The Gods Must Be Crazy (1981) hasil garapan sutradara Jamie Uys. Ehm, tuh cerita unik juga. Lucu dan menarik. Dikisahkan bahwa Xixo (yang diperankan oleh N!xau), penduduk salah satu suku primitif (suku Bushman) di Gurun Kalahari, Afrika, menemukan sebuah botol bekas minuman cola yang jatuh dari atas pesawat. Karena menurutnya aneh dan baru pertama kali melihat, ia menganggap bahwa itu pemberian dari Dewa. Maka harus diistimewakan dan dijaga. Kisah Xixo untuk menjaga botol dan bahkan ingin mengembalikannya kepada Dewa jadi begitu menarik dan lucu. Supaya nggak penasaran tonton aja filmnya. Hehehe…
Nah, belajar dari cerita di film itu, maka bagi mereka yang baru pertama kali melihat benda. Tentu saja belum ada informasi sebelumnya tentang benda itu, maka dia hanya menyangka atau menebak-nebak aja. Dalam Islam ini disebut proses tamyiz ghariziy alias indentifikasi berdasarkan naluri. Baru sebatas itu. Belum lengkap. Meskipun panca indera udah memberikan informasi tentang ‘penangkapan’ objek berupa botol tapi belum bisa menentukan nama benda itu dan fungsinya. Nah, baru setelah kita tahu dari berbagai informasi bahwa benda seperti itu namanya botol, fungsinya untuk menyimpan benda cair. Baru deh kita ngerti nama dan fungsinya. Jika sudah sampe dengan tahap ini maka kita sudah bisa disebut berpikir atau memiliki akal dan punya kesadaran. Begitu. Moga kamu paham ye. Yakin deh, kalo mau belajar, insya Allah bisa.
Sobat, kalo otak nggak dilatih untuk berpikir, diasah akalnya dan dipoles kesadarannya, maka akan terhenti tuh proses berpikirnya. Informasi yang masuk akan sedikit, jika nggak mau dikatakan terhenti. Maka, di sinilah kita mulai mengoptimalkan peran akal atau pemikiran dengan melatihnya untuk berpikir.
Oya, kenyataan atau objek itu nggak sebatas benda yang bisa dilihat aja lho, tapi juga kepada hal-hal yang tak terlihat (seperti pemikiran atau pendapat—ini tak terlihat bentuk pemikirannya, tapi bisa dirasakan akibat dari pemikirannya tersebut), bisa juga menjadi objek untuk proses berpikir. Akal insya Allah bisa mencerapnya melalui panca indera ke otak dengan disertai informasi sebelumnya (maklumat tsabiqah) dari fakta yang diindera, lalu menafsirkannya.
Itu sebabnya, cuma manusia yang bisa mengoptimalkan kemampuan otak dan akalnya untuk berpikir. Jadi nggak heran dong kalo manusia tuh bisa punya ilmu. Lagian, kalo kita melatih berpikir terus, bukan mustahil kalo kita-kita jadi pinter. Iya kan? Allah Swt. juga menghargai lho orang-orang yang memiliki ilmu. Misalnya aja dalam firmanNya (yang artinya): niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS al-Mujaadilah [58]: 11)
Jadi, yuk kita senantiasa melatih otak dan akal kita untuk berpikir. Tentunya, bukan asal berpikir, tetapi berpikir yang dituntun dengan ajaran Islam agar melahirkan produk pemikiran yang benar dan bermanfaat. Semangat!
Salam,
O. Solihin
Ingin berbincang dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

Bijak Memaknai Kegagalan


Oleh : Roidatun Nahdhah, MA.

Jelang tahun ajaran baru, para orangtua disibukkan dengan urusan kelanjutan pendidikan putera-puterinya. Khususnya para orangtua yang memiliki anak yang duduk di tahun terakhir semua jenjang pendidikan. Setiap orangtua pastinya berharap anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik, karenanya jauh-jauh hari segala macam persiapan dilakukan, mulai dari mencari data sekolah-sekolah terbaik, mendaftarkan sang anak mengikuti berbagai macam les, menabung persiapan biayanya, hingga melakukan pendekatan dengan relasi yang bisa mempermulus jalan sang anak bersekolah di sekolah incaran tersebut.

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa segala bentuk perencanaan dan persiapan haruslah beriring dengan usaha mendekatkan diri kepada Allah swt, sebab manusia boleh berencana yang terbaik, namun hasilnya Allah swt yang menentukan. Adapun ketika hasil yang diharapkan tidak menjadi kenyataan, maka disinilah kepiawaian orangtua diuji. Tidak dapat dipungkiri, kekecewaan menghampiri ketika nama sang anak tidak tercantum di daftar nama siswa yang lolos seleksi di sekolah idaman, namun orangtua harus mampu mengesampingkan kekecewaannya dan lebih memerhatikan sang anak. Jangan sampai karena kegagalan anak memenuhi ekspektasi dan keinginan orangtua, lantas orangtua menyalahkan anak, merendahkan usahanya, dan membanding-bandingkannya dengan anak-anak lain. Hal ini menjadikan anak kehilangan semangat belajarnya, lebih parah lagi, anak kehilangan kepercayaan dirinya.

Bagaimanapun caranya orangtua harus mampu memotivasi anak sehingga tidak berlarut-larut dalam kekecewaan. Orangtua harus mampu membangkitkan lagi kepercayaan diri sang anak. Momen ini bisa menjadi momen mengajarkan anak tentang takdir, memaknai jatuh bangunnya kehidupan. Bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai yang kita inginkan, hari ini mungkin gagal, namun bisa jadi ada skenario yang lebih indah yang Allah swt siapkan untuk kita kelak.

Berikut beberapa kiat bagi orangtua ketika sang anak menemui kegagalan:
1- Berikan pemahaman kepada anak bahwa takdir Allah itu harus diyakini dan setiap takdir Allah pasti ada hikmahnya.

2- Ajarkan kepada anak bahwa manusia memang akan selalu diuji, sesuai dengan tingkatan imannya.

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.

3- Bisikkan kepada anak kita bahwa di balik kegagalan pasti ada kesuksesan.
Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy Syarh: 5)

4- Tuntun anak agar mampu menghadapi kegagalan dengan bersabar.
‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
 Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.” (Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, Ibnu ‘Abdil Barr, hal. 250, Mawqi’ Al Waroq)

Yang dimaksud dengan bersabar adalah menahan hati dan lisan dari berkeluh kesah serta menahan anggota badan dari perilaku emosional seperti menampar pipi dan merobek baju. (Lihat ‘Uddatush Shobirin wa Zakhirotusy Syakirin,  hal. 10)

5- Beri keyakinan kepada anak bahwa pahala besar di balik kesabaran adalah surga.

Ingatlah janji Allah,
 Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). As-Sudi mengatakan, “Balasan orang yang bersabar adalah surga.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/117, Muassasah Qurthubah)

6- Ucapkanlah “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa”, pasti ada ganti yang lebih baik.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.

So, Don’t give up! Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Kegagalan adalah jalan untuk meraih kesuksesan.

Semoga Allah memberikan taufik untuk bersabar ketika menemui hasil yang tidak sesuai harapan.

Penulis : Roidatun Nahdhah, MA (Guru SDIT Hidayatullah)

Kecantikan Bukan Jaminan


Oleh : Salim A. Fillah

Konon, cantik itu relatif. Ia nisbi. Sebakda pesona yang telah diambil banyak bagiannya oleh Sarah dan Khadijah,

Itulah mengapa orang-orang yang jatuh dalam goda biasanya dimukadimahi masalah yang tak terurai di rumahtangganya. Lalu yang di luar tampak lebih kemilau, hanya karena debu menutup yang dimiliki. Bahkan, bagi seorang pangeran dari kerajaan adidaya, istrinya yang muda jelita kalah memikat dari seorang janda tua.

Cantik itu relatif. Rumput tetangga terlihat lebih hijau seringkali disebabkan terbuat dari plastik. Cantik sejati, berpangkal dari hati.

Betapapun jua, mata manusia tak bisa menafikan tarikan jasadi. Tapi lagi-lagi nisbi; warna kulit, bentuk rahang, kurva hidung, ketebalan alis, kelentikan bulu mata, juga skala berbagai sudut dan lekuk; masing-masing insan punya takrifnya.

Uniknya, sebagian yang dianggap cantik dan menarik dalam pandangan umum kadang justru bersumberkan ketaksempurnaan. Orang yang berlesung pipit, bergigi gingsul, berdagu belah, bertahi lalat di tempat tertentu; semua ‘cacat’ itu bisa jadi tambahan pancaran kerupawanan.

Konon, para bangsawan Mataram menggunakan falsafah itu untuk mengonsep arti keindahan bagi mereka. Alih-alih membuat benda seni dari bahan mewah lagi mahal seperti emas atau gading, mereka justru memilih kayu.

Kayu Timoho (Kleinhovia hospita) yang banyak dipilih sebagai bahan warangka keris ini juga cantik karena cacatnya. Luka-luka yang dialami pohonnya selama hidup lah yang menyebabkannya memiliki bercak tua yang membentuk aneka pola. Pola ini disebut pelet. Ada banyak jenis pelet; yang terkenal di antaranya kendhit, nyamel, ngingrim, tulak, dhoreng, ceplok, dan sembur.

Kayu Cendana, Trembalo, Kemuning, Jati Gembol, hingga Pakel Alas yang pula banyak dipakai biasanya juga dipilih dari pohon yang tumbuhnya penuh hambatan dari habitat hingga iklim. Keindahan berasal dari pohon-pohon yang bertahan hidupnya tak mudah. Pohon yang berjuang.

Pejuang itu pasti cantik.
Ada pula wewangian gaharu, yang pohonnya makin dilukai kian wangi dan kayunya pun berpola bagus. Dalam batik gagrak Yogyakarta, untuk unsur kukilanya yang mewakili “falyaqul khairan aw liyashmut”, berkatalah yang baik atau diam; dipilih merak, sebab ia mewakili falsafah menampakkan kecantikan paripurna bila diganggu. Kesemua ini persis sifat ‘Ibadurrahman dalam Surat Al Furqan.

Luka bisa menimbulkan kecantikan. Tapi kita berlindung pada Allah, agar cantik tak mengantar pada luka.

Tapi kecantikan bukan jaminan cepat datangnya pasangan atau langgengnya kebersamaan.

Seperti #warangka kayu Timoho ini yang akhirnya dilabuhi sebilah #keris tinangguh HB VIII setelah perjalanan panjang hidupnya, bagai perahu menemukan nakhoda yang siap mengemudi, berlayar bersama menuju keridhaan Allah.

Sumber : www.salimafillah.com

Menyiapkan Anak Shalih, Jalan Kemuliaan di Akhirat


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Apakah yang paling patut kita harap dari anak-anak sesudah kita tiada? Keshalihannya. Bukan semata do’a. Andaikan anak-anak kita mendo’akan kedua orangtua hingga matanya bengkak, tetapi mereka memperbuat ‘amalan yang menjadikan do’a-do’a mereka pasti ditolak oleh Allah ‘Azza wa Jalla, maka tak ada manfaat yang dapat kita raih dari do’a mereka. Bahkan boleh jadi mereka akan menyusahkan kita di Yaumul Hisab.

Apalagi kalau mendo’akan pun tidak, sementara mereka memperbuat hal-hal yang mendatangkan murka Allah ‘Azza wa Jalla. Na’udzubiLlahi min dzalik. Dan alangkah banyak manusia yang mengharapkan kebaikan bagi kedua orangtua, sementara mereka enggan menadahkan tangan untuk berdo’a. Berduyun manusia datang memenuhi undangan untuk mendo’akan kedua orangtuanya, sementara ia mengaminkan do’a-do’a itu pun tidak. Ia sibuk menyiapkan konsumsi yang asal hartanya untuk membeli konsumsi itu pun syubhat.

Maka menyiapkan anak-anak agar mereka menjadi orang-orang yang shalih adalah jalan awal meraih keselamatan dan kemuliaan di akhirat. Pada awalnya adalah memperbaiki istri atau suami kita, kemudian menata anak-anak kita sehingga bukan hanya pada generasi anak, di generasi-generasi berikutnya pun mereka menyejukkan mata hati kita dunia hingga akhirat. Bukankah itu yang sepatutnya senantiasa kita mohonkan kepada Allah Ta’ala? Kalau kemudian ada orang-orang lain yang turut mendo’akan, mereka pun dari golongan orang-orang yang shalih; golongan yang Allah Ta’ala merasa malu apabila tidak mengabulkan do’a mereka, padahal mereka telah menadahkan tangan untuk meminta kepada Allah Rabbul ‘Alamin.

Sepeninggal kita, sungguh, tak ada lagi yang bermanfaat kecuali tiga perkara saja. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak shalih yang mendo’akan.” HR. Muslim

Anak shalih yang mendo’akan. Bukan sekedar do’a anak.

Semoga Allah Ta’ala jadikan anak-anak kita termasuk golongan orang-orang yang shalih dan senantiasa mendapatkan penjagaan serta ampunan dari-Nya. Mereka amat takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bagus ‘ibadahnya, senang memperbuat ‘amal shalih yang Allah ridhai, serta tak putus mendo’akan kedua orangtuanya. Semoga.

Sebuah Renungan Ustadz Felix Siauw : Amal yang Tertukar


Oleh : Felix Siauw

Ini orang yang dulu pernah saya benci, tak terhitung berapa kali amarahnya mendarat di badan saya, membekas di hati saya. Waktu-waktu bersamanya adalah siksaan, dia ayah saya

Tapi itu dulu, setelah saya dewasa dia banyak berubah, dan setelah saya masuk Islam, saya diajari cinta, termasuk pada orangtua, maka saya mencintainya sepenuh hati

Bahkan darinya saya belajar banyak berfikir kritis, yang jadi jembatan bagi saya mengenal Islam, beroleh hidayah. Maka sekarang saya terus mendoakannya juga beroleh hidayah

Bagaimana tidak, kediaman dan kendaraan saya diberi olehnya dan umrah saya dan istri kali pertama ditanggungnya, tak terhitung support Papi dalam dakwah saya

Pernah dia bilang, "Lix, bensin biar Papi yang tanggung, jangan pernah minta uang sama orang dari dakwahmu". Ratusan juta uangnya untuk @ummualila bangun @hijabalila

Papi belum Muslim, tapi keberpihakannya pada Islam sudah ada, Papi simpatik pada mereka yang taat. Kemarin saja baru fasilitasi 50 orang lebih Umrah plus Istanbul bareng saya

Sebagai direktur di perusahaan pestisida, Papi aktif sediakan panggung untuk kajian, minta saya yang memberi kajian pada para petani, sampai ke pelosok desa

Papi juga selalu update dengan dakwah saya, kemungkinan besar tulisan ini juga dia baca. Tiap saya ke Jatim atau Jateng, selalu ditanya "Lix, ada persekusi lagi nggak?", begitu

Dia banyak makan asam garam hidup. Saya sebenarnya malu menceritakan siapa yang suka bubarkan kajian saya dan apa sebabnya, tapi dia tidak perlu, dia sudah tahu

Papi sudah tahu anaknya sangat ingin syariat Islam tegak, dan dia tak ada masalah. Suatu kesempatan, malah dia kepergok sedang jelaskan koleganya tentang Khilafah

Katanya, "Jadi Khilafah itu kayak kita orang Kristen, kesatuan spiritual, tapi Khilafah ini juga kesatuan politik, ummat Islam kan satu", saya juga heran, yang Muslim saja mungkin tak paham

Satu saat, saat sedang belanja bersama, Mami saya protes, "Lix, udahlah, jangan terlalu ekstrim, Mami sudah tua, nanti kalau kamu ketangkep polisi gimana?", katanya

Saya jawab, "Polisi baik-baik orangnya mi, kecuali beberapa aja yang sering muncul hehehe.. Felix nggak salah apa-apa, kenapa ditangkep?" Saya balas dengan elegan

Selepas itu saya dan Mami berdebat, Papi menengahi. "Lix, Papi sudah belajar ikhlas kalau harus kehilangan kamu, kamu mungkin benar tapi jalanmu bahaya", tegasnya

Papi lanjut, "Abdul Somad kalau ada apa-apa, orang Melayu maju, Habib punya FPI, kamu kalau ada apa-apa, siapa yang bela, orang kita lari duluan". Saya tertawa, benar juga

Afterall, saya hanya ingin beritahu. Ada yang belum Muslim seperti Papi, tapi fasilitasi dakwah, senang melihat orang taat, bangga punya anak yang berdakwah

Dia pernah punya pandangan negatif tentang dakwah, tapi dia mau tanya, dia mau diskusi, toleransi sama pandangan yang tidak sesuai dengan dia, kasih sayang meski beda agama

Tapi

Ada yang Muslim, kerjanya membubarkan kajian, tebar fitnah sana dan sini akan dakwah, tak suka menerap syariat, tak suka Al-Qur'an ketika jadi pedoman, model begini banyak

Teriak toleransi pada yang kafir, intoleran pada sesama Muslim, merasa Islamnya paling hebat sedunia, paling asli, lebih hebat dari Islam Arab yang katanya penjajah

Sementara mereka bersalam mesra, riang gembira bersama Israel, penjajah paling biadab di muka bumi, mempermalukan diri dan negeri, katanya ini rahma dan damai

Papi tak perlu dalil "Musa menemui Fir'aun" untuk tahu Israel itu biadab. Papi tak perlu merasa paling NKRI dan Pancasila untuk adakan kajian bukan membubarkannya

Bukankah ini amal yang tertukar?
Sengaja saya upload fotonya Papi, saya mohon keikhlasan doa teman-teman sekalian, agar Papi dibukakan jalan hidayah. Saya yakin teman-teman sekalian doanya diterima Allah.

Sumber Facebook Ustadz Felix Siauw

Saling Menghormati Kunci Harmoni


Oleh : Imam Nawawi

Sahabat, libur kadang membuat kita lebur, ya lebur dengan beragam agenda yang menjadi arus di tengah masyarakat, sehingga banyak suami-istri gagal ,memanfaatkan momentum kebersamaan untuk memupuk keharmonisan.
Kehidupan keluarga adalah inti, yang semestinya setiap jiwa memahami dan karena itu memperjuangkannya. Karena dalam Islam pun, salah satu ciri seseorang mendapatkan kebahagiaan besar manakala rumahnya bak surga. Bukan berarti rumah yang secara fisik laksana istana, tetapi para penghuni rumah itu sendiri memiliki iman dan taqwa.
Mereka yang memiliki iman dan taqwa tentu akan berupaya menjadikan rumah mereka taman dari taman surga, dimana akhlak, adab dan sikap positif tumbuh subur di dalamnya.
Kala saya masih mahasiswa (2007) saya mendapati seorang istri datang ke kantor untuk menemui sang suami dan meminjam kunci motor.
Subhanalloh, istri itu datang, lantas menyalami sang suami, cium tangan dan berkata dengan sangat sopan kepada sang suami. Kini, pada 2018 saya mendapati berita, kedua putra suami-istri itu sedang belajar di Al-Azhar Kairo dengan beragam prestasi.
Lebih dari itu, saat sang istri izin undur diri, sang suami mendoakan dan memberikan nasihat agar berhati-hati dalam menjalankan urusannya.
Sikap demikian tak sebatas pada sisi formalitas karena kejadian itu melibatkan orang lain (di kantor). Tetapi saling menghormati, komitmen memberikan yang terbaik juga terjadi di ruang paling privat mereka berdua, sehingga keharmonisan bukan lagi hal yang perlu diperjuangkan, tetapi telah berjalan sedemikian rupa.
Pentingnya hal ini sampai-sampai Rasulullah mencegah seseorang atas nama ibadah lantas mengabaikan hak-hak istri.
“Wahai Abdullah, benarkan aku dapat kabar darimu bahwa engkau terus-terusan puasa dan juga shalat malam?”
Abdullah bin Amr bin Al Ash menjawab, “Iya betul wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda, “Jangan lakukan seperti itu. Engkau boleh berpuasa, namun ada waktu tidak berpuasa. Engkau boleh shalat malam, namun ada waktu untuk istirahat tidur. Ingat, badanmu punya hak, matamu punya hak, istrimu juga punya hak yang mesti engkau tunaikan. Begitu pula tenggorokanmu pun memiliki hak.” (HR. Bukhari No. 1975).
Bahkan tatkala istri dalam kondisi berhalangan, suami tidak harus meninggalkannya.
اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ
“Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian) kecuali nikah.” (HR. Muslim 302).
Berdasarkan petunjuk tersebut, tersirat pesan bahwa suami istri sebisa mungkin tetap berkomunikasi, terhubung, dan senantiasa berinteraksi dengan sebaik-baiknya sesuai tuntunan Islam.
Andai ini diamalkan, maka apakah masih bisa suami-istri berselisih paham, kemudian tinggi-tinggian suara dan merasa diri benar lantas yang lain salah?
Jadi, mari perbaiki interaksi kita bersama keluarga (suami-istri). Jadilah yang terbaik untuk istri atau suami. Dan, lakukanlah apa yang diperintahkan serta jauhi yang dilarang, hiduplah saling menghormati. Karena tugas terberat suami istri adalah bagaimana rumah tangga selamat dari api neraka. Allahu a’lam.
Imam Nawawi >>> twitter @abuilmia

Istighfar

Oleh : Salim A. Fillah
Maksiat adalah api; ia menunggui dan kan menyambut ahlinya di akhirat nanti. Taubat adalah air; sederas hujan, selembut embun, sesejuk salju.

Dan kita adalah tanah. Yang dengan siraman hujan menjadi subur. Yang dengan tetesan embun menjadi berkilau. Yang dengan selimut salju menjadi berrehat.
“Al Quran telah menunjukkan pada kalian penyakit kalian dan obatnya”, ujar Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib. “Penyakit kalian adalah dosa. Obatnya adalah istighfar.”
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Beristighfarlah, mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untuk kalian sungai-sungai.”
(QS Nuh: 10-12)
Bahkan sebelum soal ia jadi pembuka segala karunia; istighfar sudah seharusnya jadi kawan akrab kita. Sebab kita wajib beristighfar saat merasa berdosa, dan berlipat perlunya istighfar itu saat kita tak merasa berdosa. Maka taubat kita masih perlu ditaubati, bahkan istighfar kita masih perlu diistighfari.

Hati-hati dengan Sum’ah

Oleh : O. Solihin

Apa arti sum’ah? Kamu udah tahu? Yup, sum’ah itu adalah sikap atau sifat senang dan gemar memperdengarkan amal perbuatan yang telah ia lakukan kepada orang lain dengan harapan agar orang lain menyanjung dan memujinya. Sum’ah ini sebenarnya bagian dari penyakit riya’, ‘ujub, dan takabur. Tapi dengan fokus penjelasan yang sedikit berbeda.
Sobat, sikap sum’ah ini memang nggak kerasa banget ya menyusup dalam hati dan pikiran kita. Kalo kita kebetulan pernah menolong orang, lalu orang bercerita tentang kebaikan kita, kita senang banget mendengarnya dan bahkan dengan sengaja kita berusaha mengungkit-ungkit masa lalu tersebut dan memancing-mancing agar orang yang tahu masalahnya untuk bercerita kepada orang lain di hadapan kita dengan harapan kita akan merasa bangga mendengar hal itu. Waduh, kalo sampe kayak gitu, berarti kita udah kena tuh penyakit sum’ah ini. Waspadalah!
Contoh lainnya adalah ketika kamu pandai membaca al-Quran dengan tajwid yang benar dan suara yang merdu. Nah, karena ingin agar orang-orang di sekitar kamu mendengar bacaan kamu itu, lalu kamu keraskan suaramu sambil berharap orang-orang yang ngedengerin tersebut berdecak kagum dan memuji amalan kamu itu. Ini sifat sum’ah sobat, nggak baik kamu melakukannya. Memang sih ada manfaatnya yakni kamu bisa dikenal dan dipuji oleh orang lain karena kelebihan yang kamu miliki. Tapi, manfaat itu jadi nggak ada artinya karena keikhlasanmu ternoda sifat itu, dan tentu aja Allah Swt. nggak suka kita berbuat demikian. Bahkan konsekuensinya, amalan kita terancam sia-sia karena berbuat bukan atas keikhlasan karena Allah Swt. Sayang sekali bukan?
Kalo faktanya memang kamu bisa seperti itu. Nggak usah mikir akan dipuji orang lain. Lurus-lurus saja, toh kalo pun memang mereka memujimu, anggap saja bagian dari “efek samping” perbuatan baikmu itu. So, jagalah hati dan pikiranmu agar keikhlasanmu tak ternoda sikap sum’ah ini.
BTW, sedikit melenceng dari pembahasan tapi masih ada hubungannya yakni ketika kamu merasa bangga dengan dosa-dosa yang telah kamu perbuat. Kalo sikap sum’ah itu kan senang mendengar atau memperdengarkan amalan baik yang pernah kita lakukan. Nah, lebih parah kalo ada orang yang merasa bangga ketika perbuatan maksiatnya disebut-sebut orang dan dia berusaha untuk memberikan imej bahwa dirinya memang pernah berbuat dosa dan merasa bangga dengan dosa-dosa tersebut. Bangga ketika ada orang yang menyebut dirinya pezina, sering nenggak minuman keras, aktif sebagai pengunan narkoba dan jenis maksiat lainnya. Bukan hanya itu, ia merasa harus memancing-mancing perkataan kawan-kawannya agar membicarakan dosa yangtelah diperbuatnya agar orang lain tahu. Waduh, itu sih sama dengan membuka aib sendiri. Harusnya dia menyesal dan bertobat bukan malah bangga dengan dosa. Udah gitu, masih jadi pelaku aktif lagi. Ih, naudzubillahi mindzalik.
Oke deh, hati-hati ya dengan sum’ah ini. Sebab, bisa merusakan keikhlasan kita dalam beramal shalih.
Salam,
O. Solihin
Ingin berbincang dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

Media Cetak, Jangan Ditinggalkan

Oleh : Imam Nawawi
Apakah media cetak masih akan ada pada 2022? Pertanyaan ini saya ajukan sendiri, mengingat belakangan, orang lebih suka membaca di layar handphone dari pada memegang majalah, koran atau media cetak lainnya.
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Pada 2008 majalah CosmoGirl AS mengeluarkan edisi cetak terakhirnya, sementara majalah Elle Girl AS terakhir terbit pertengahan 2006. Artinya, dibelahan bumi lain, media cetak sudah berguguran.
Di Indonesia juga sama, terlebih media cetak Islam, tepatnya majalah, banyak yang jatuh bangun sebelum kedatangan android. Bahkan majalah yang populer di kalangan anak uda kala itu,, seperti Aneka Yess!, KaWanku, Hai, setelah 40 tahun terbit, pada Juni 2017 telah mengakhiri penerbitannya, demikian lansir youthmanual.com.
Data The Nielsen Company, lembaga independen yang memantau industri media merinci jumlah media yang berguguran sepanjang tahun 2015 menyebutkan, bahwa dari 117 surat kabar yang dipantau, 16 unit media telah gulung tikar. Sementara untuk majalah dari 170 kini menyisakan 132 majalah.
Memang harus diakui, orang lebih suka membaca secara digital, terutama konten-konten berita. Jadi, jika ada media cetak, masih mengandalkan konten berita, jelas “ditenggelamkan” sama teknologi informasi yang sangat massif.
Tetapi, kenapa saya ulas masalah ini?
Ya, karena ada majalah Islam yang berupaya tetap hadir menemani umat Islam dalam mendapatkan literasi berkualitas perihal apa yang terjadi dalam dunia Islam, tidak lagi dalam bentuk berita, tetapi kajian yang kontinyu. Bukankah ini sebuah kabar gembira?
Dalam majalah tersebut disajikan beragam kajian dan kondisi terkini umat Islam, seperti saudara kita di Palestina, Masjidil Aqsha, kemudian beragam kajian penting perihal keluarga. Misalnya, edisi Juni 2018 ini, Majalah Hidayatullah mengupas perihal bagaimana orang tua mendidik anaknya yang autis sampai sukses. Bacaan seperti ini jelas memberikan pengalaman dan perspektif baru kepada kita.
Jika Anda mau searching di google, uraian yang menyeluruh seperti itu, jelas tidak mudah. Informasi singkat, mungkin banyak. Tapi agak mendalam, di Majalah Hidayatullah kita bisa mendapatkannya.
Selain itu, sisi-sisi aktual juga tetap disajikan. Misalnya, bagaimana sukses Ramahdan sampai akhir. Jadi, saya berpendapat membaca media cetak, dalam hal ini Majalah Hidayatullah sangat relevan, sekaligus untuk mempertahankan budaya membaca kita secara agak serius dan berkesinambungan.
Harganya pun saya pikir tidak mahal, dibanding dengan membeli paket data internet. Sementara literasi yang tersaji memberikan manfaat tanpa kenal istilah “basi” seperti koran atau berita di internet.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini, saya mengajak seluruh pihak, terutama kaum Muslimin, untuk tetap membaca media cetak, dalam hal ini adalah Majalah Hidayatullah. Majalah yang telah 30 tahun membersamai negeri ini dengan kebaikan dakwah.
Teknologi biarkan berkembang, tapi tradisi literasi kita jangan sampai berkurang. Bahkan harus ditingkatkan secara lebih serius dan mendalam. Majalah Hidayatullah saya pikir pilihan tepat untuk membantu niat kita tetap menjaga budaya membaca dengan baik sekaligus tetap menjaga semarak dakwah literasi di bumi pertiwi ini. Adakah tekad di hatimu?
Jakarta, 16 Ramadhan 1439 H
Imam Nawawi >>> twitter @abuilmia