Minimalkan Nonton TV, Maksimalkan Waktu Bersama Keluarga



TV merupakan media yang paling banyak dimiliki masyarakat. TV sudah bukan lagi barang mewah. Hampir setiap rumah terdapat TV. Bahkan ada yang memiliki lebih dari satu TV di rumah. Saking susah lepasnya dari TV, terkadang aktivitas sehari-hari pun tidak pernah bisa lepas dari TV. Kebersamaan dengan keluarga pun terkadang harus tetap dibersamai oleh TV. Ini masih mending, ada pula yang waktu bersama keluarga terampas oleh kotak hitam tersebut.
Terampas di sini bukan berarti sama sekali tidak ada waktu untuk keluarga. Ada kalanya sebuah keluarga sama-sama sedang menyaksikan TV, akan tetapi mereka hanya dekat secara fisik, tidak dekat secara hati. Pikiran dan fokus mereka tertuju pada kotak ajaib yang mereka saksikan. Apalagi jika dalam satu rumah terdapat lebi dari satu TV yang terletak di masing-masing kamar. Sudah pasti para penghuninya akan lebih memilih mengurung diri di kamar masing-masing sambil menyaksikan ‘sahabat’ setia mereka ini.
Teringat saya dengan penelitian ekonom dari MIT, Benjamin Olken, tentang pengaruh tayangan TV terhadap keluarga di Indonesia. Olken pernah mensurvei lebih dari 600 desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dalam penelitiannya, Olken membandingkan antara desa yang bisa menjangkau sedikit dengan desa yang bisa menerima banyak saluran televisi. Hasilnya cukup menarik. Setiap bertambah satu channel televisi yang bisa dilihat, maka rata-rata mereka menonton televisi lebih tujuh menit lebih lama. Perlu diingat, survei ini dilakukan saat hanya ada 7 stasiun televisi nasional waktu itu. Jadi bisa kita bayangkan jika survey tersebut dilakukan saat ini, maka durasi menyaksikan TV akan jauh lebih lama.
Namun ada lagi temuan yang tidak kalah menarik. Olken menemukan fakta bahwa di pedesaan dengan penerimaan sinyal televisi yang lebih bagus menunjukkan adanya tingkat partisipasi kegiatan sosial yang lebih rendah. Artinya, orang lebih suka menonton televisi daripada terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Selain itu, di pedesaan tersebut juga memperlihatkan tingkat ketidakpercayaan yang lebih tinggi di antara penduduk yang berakibat pada lesunya kerjasama perekonomian dan perdagangan.
Olken sebetulnya adalah orang yang sangat jarang menonton televisi. Akan tetapi dia merasa sangat heran ketika melihat tingginya adiksi dan betapa kecanduannya orang Indonesia terhadap kotak hitam tersebut. “I’ve been in many, many households in Indonesia that have a dirt floor, but they also have a television.” itulah salah satu ucapan yang mencerminkan keheranannya. Ironis memang.
Melalui hidup tanpa TV sama sekali mungkin memang bukan hal yang mudah. Namun bukan berarti mustahil. Jika meniadakan sama sekali memerlukan waktu yang relatif lama, maka setidaknya kita harus memulainya dengan mengurangi konsumsi nonton TV. Maksimalkan waktu untuk memperkuat kebersamaan dengan keluarga. Banyak orangtua memakai TV sebagai ‘pengasuh’ yang paling murah. Saat anak menangis, atau orangtua sedang repot, maka TV pun dijadikan teman agar anak diam dan kondusif. Ya, mereka memang diam kala menyaksikan TV. Namun tahukah kita jika saat itu kita sedang menjejalkan berbagai info kepada anak yang tidak kita seleksi baik dan buruknya?
Maka dari itu, cari kegiatan alternative yang dapat mengalihkan perhatian kita dari hasrat ingin nonton TV. Bisa dengan membaca bersama, pergi ke perpustakaan, berkebun, olahraga, menulis dan sebagainya. Atau kegiatan lain yang mampu mengasah kebersamaan, misalnya memasak, bertamasya, membersihkan rumah, menyelesaikan sederet aktivitas lain yang tertunda dan lainnya.||

Laylatul Fajriyah, Ibu rumah tangga, tinggal di Yogya
gambar : gambar.co

Tanamkan Tauhid Sejak Dini



Menurut Rousseau yang menjadi salah satu rujukan dunia pendidikan, anak tidak layak dikenalkan tentang ketuhanan kecuali jika telah mencapai usia 18 tahun. Mencermati pendapat Rosseau ini, tentu dahi kita akan berkerut dan dengan tegas menyatakan konsep ini salah. Tauhid merupakan pondasi paling penting di dunia pendidikan Islam. Inilah pondasi kebesaran Islam dan muslimin. Maka, harus menjadi target. Keluarga muslim tidak boleh terbalik lagi cara berpandangnya.
Pendidikan anak (tarbiyatul aulad) bukanlah dimulai dari semenjak kandungan, sejatinya ia dimulai semenjak kita mencari pasangan hidup (suami/istri). Salah satu pondasi pendidikan tauhid dimulai dari penanaman nilai-nilai tauhid kepada sang anak, dan salah satu kunci keberhasilan pendidikan anak adalah tepatnya metode yang diberikan saat mengenalkan sang anak kepada penciptanya, Allah Ta’ala. Selain itu, teladan orangtua juga berperan penting mengantarkan anak menjadi anak yang sholeh. Pendidikan tauhid tidaklah mudah, terutama di zaman ini yang semakin tidak kondusif. Orang-orang semakin semakin mengutamakan tontonan ketimbang tuntunan.
Masa usia dini sendiri merupakan masa keemasan (golden age) bagi perkembangan intelektual seorang manusia. Masa usia dini merupakan fase dasar untuk tumbuhnya kemandirian, belajar untuk berpartisipasi, kreatif, imajinatif dan mampu berinteraksi. Bahkan, separuh dari semua potensi intelektual sudah terjadi pada umur empat tahun. Oleh karena itu, pendidikan dalam keluarga adalah madrasah yang pertama dan utama bagi perkembangan seorang anak, sebab keluarga merupakan wahana yang pertama untuk seorang anak dalam memperoleh keyakinan agama, nilai, moral, pengetahuan dan keterampilan, yang dapat dijadikan patokan bagi anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya. 
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh penanaman tauhid yang kokoh ketika beliau mengajari anak paman beliau, Abdullah bin Abbas, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan, Ibnu Abbas bercerita : “Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah”.
Adapula teladan lain yang diabadikan dalam Alquran adalah Luqman. Kita akan ingat bagaimana Luqman Al-Hakim mengajarkan anaknya agar tidak menyekutukan Allah. Disebutkan kisahnya oleh firman Allah Ta’ala dalam surat Luqman ayat 3: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya : ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’” Ibnu Katsir juga telah mengatakan dalam kitab tafsirnya bahwa Luqman berpesan kepada putranya sebagai orang yang paling disayanginya dan paling berhak mendapat pemberian paling utama dari pengetahuannya. Oleh karena itulah, Luqman dalam wasiat pertamanya berpesan agar anaknya menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Syirik disini diungkapkan dengan perbuatan zhalim, mereka mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman, yakni dengan kemusyrikan atau menyekutukan Allah dengan yang lain. Selanjutnya, Luqman mengiringinya dengan  pesan yang lain, yaitu agar anaknya menyembah Allah semata dan berbakti kepada kedua orang tua sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya di surat al-Israa’ ayat 23:“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” ||

Arif Budiman, Pemerhati dunia pendidikan
gambar : kolom.abatasa.co.id


AGAR ANAK SUKA KE MASJID


“Faza ini selalu shalat jama’ah di masjid lho Pak,” demikian kata seorang bapak. Ia  membanggakan putranya kepada guru di sekolah tempat anaknya belajar. Faza yang masih kelas tiga SD ini juga pernah bercerita kepada gurunya bahwa ia senang sholat di masjid dekat rumahnya. Ia selalu datang paling awal sehingga bisa bermain sebelum azan. Kemudian ia mengumandangkan azan maghrib dan berdzikir sepuasnya.
Kalimat “Saya senang di masjid” yang datang dari seorang anak, adalah kalimat yang sangat diharapkan oleh orangtua. Kalimat yang bisa dibanggakan. Itu hidayah, tetapi kita percaya, pasti ada kondisi yang melatarbelakangi sehingga anak senang berada di masjid. Ya, senang di masjid. Karena mungkin juga anak senang di masjid bukan karena mengejar keuntungan duapuluh tujuh derajad. Tetapi karena ia memang merasa nyaman di masjid.
Guru di sekolah, orangtua di rumah, dan anggota jama’ah masjid di masyarakat adalah para pencipta kondisi. Ketiganya sangat menentukan bagi anak-anak untuk senang berada di masjid. Pada tulisan ini, kita akan lebih menyoroti peranan masjid agar anak-anak merasa nyaman di dalamnya.
Takmir masjid atau Badan Kesejahteraan Masjid setempat hendaknya mempunyai visi pendidikan, yakni bagaimana agar anak tidak asing dengan masjid, suka ke masjid, sehingga terbiasa beraktivitas di masjid. Beberapa di antaranya yang bisa diupayakan adalah;
Pertama, ada yang menarik bagi anak-anak. Misalnya di halaman masjid ada sarana bermain,  seperti ayunan, jungkat-jungkit. Ada perpustakaan dengan koleksi bacaan anak-anak. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan oleh anak di sekitar waktu sholat sehingga tidak membutuhkan pengawas atau penjaga yang selalu ada sepanjang waktu.
Kedua, penerimaan  jama’ah dewasa. Seluruh anggota jama’ah dewasa memahami tentang visi pendidikan, bahwa sejak kecil anak perlu dibiasakan berada di masjid.  Mungkin ada jama’ah yang merasa ibadahnya terganggu oleh keberadaan anak-anak. Anak membuat gaduh di masjid. Menerima keberadaan anak berarti menerima suara dan tingkahnya. Yang diperlukan adalah kerjasama atau pengertian dari orangtua anak. Ketika shalat berlangsung, orangtua bertanggung jawab atas anak masing-masing agar tidak menimbulkan kegaduhan. Berarti keberadaan anak di masjid harus disertai orangtuanya atau familinya yang dewasa.
Penting memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengumandangkan azan. Muadzin masjid harus bias mendorong anak-anak untuk berlatih azan dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengumandangkan azan.
Ketiga, sarananya sesuai untuk anak. Jika masjid bervisi pendidikan, maka fasilitas yang disediakan pun bisa dimanfaatkan oleh anak dengan nyaman dan tidak membahayakannya. Beberapa di antaranya: anak tangga masuk masjid tidak terlalu tinggi sehingga mudah dilalui anak dan tidak membahayakan, fasilitas wudu yang terjangkau anak, tidak licin, dan dapat mencegah anak membawa najis serta alat-alat pengeras suara yang harus aman dari jangkauan anak-anak.
Keempat, ada temannya. Teman merupakan daya tarik yang kuat. Beberapa kepala keluarga yang mempunyai anak-anak seusia hendaknya bersepakat membawa anak-anaknya ketika ke masjid sehingga anak-anak lebih bersemangat karena ada teman “bermainnya”.||

Slamet Waltoyo, Kepala Sekolah MI Al Kautsar Sleman Yogyakarta
gambar : merdeka.com


   

Di Masjid Hatiku Tertaut


Dengan kedua anaknya dibonceng di jok belakang, Pak Saiful mengayuh sepeda kumbangnya penuh semangat. Anak beranak itu begitu ceria menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Sesampai di masjid, tak banyak jamaah yang ada di sana. Hampir selalu begitu. Menurut pengamatannya, jumlah jamaah yang minim bukan hanya terjadi di masjid dekat rumahnya, melainkan menjadi gejala yang umum di banyak masjid lainnya.
Di sisi lain, ia melihat bahwa dibanding masa lalu, masjid-masjid kini memiliki bangunan yang lebih megah dan tidak jarang dengan arsitektur yang indah. Namun, dalam keindahan itu,  masjid  menjadi tempat yang sunyi dari jamaahnya sendiri. Ia hanya ramai satu tahun sekali pada (awal) Ramadan dan satu pekan sekali saat shalat Jumat.
Dulu ia sering menggerutu dengan kondisi yang ada. Ia bertanya setengah menggugat, ke manakah umat yang lain? Di manakah umat yang dulu amat gigih mencari dana pembangunan masjid ini, bahkan sampai meminta bantuan yayasan luar negeri? Sedang apakah para haji yang  sering begitu heroik menceritakan perjuangannya untuk mendapatkan sejengkal tempat shalat di Masjidil  Haram?
Selain mengenai jumlah jamaah, ia juga menggelisahkan hal lain seperti organisasi takmir yang semrawut, bacaan imam yang tidak lepas dari surat “triple Qul”, kegiatan masjid yang jumud dari tahun ke tahun dan sebagainya. Bagaimana masjid menjadi pusat kegiatan pembinaan umat kalau keadaannya seperti itu? Kemakmuran masjid tampaknya menjadi sebuah idiom yang indah diucapkan tapi begitu jauh dari kenyataan.
Namun, lama kelamaan ia menyadari bahwa keluhannya tidak akan mengubah apa pun, malah mungkin bisa berdampak mengotori hati. Lalu, ia menyederhanakan cara berpikir untuk meringankan langkah ke masjid tanpa beban apa pun. Tanpa keluhan apa pun. Ia hanya ingin dirinya dan keluarganya, yang amat ia kasihi, selamat dunia akhirat. Sebuah ayat menyadarkannya. “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan(QS At-Tahrim: 6). Mengajak keluarganya memakmurkan masjid adalah salah satu cara menjauhkan mereka dari siksa api neraka.
Kini Pak Saiful telah memiliki “proyek” dengan anak-anaknya untuk memakmurkan masjid. Ia memilih untuk memulai dari dirinya sendiri. Tautan hatinya pada masjid  ia yakini akan dirasakan pula oleh anak-anaknya.  Keteladanan berkali-kali lipat lebih baik daripada ucapan tanpa tindakan. Tak perlu kiranya menghamburkan pernyataan verbal untuk menyuruh anak ke masjid tanpa ia sendiri melakukannya. Ia hanya perlu mengajarkan adab bagi anak-anak ketika di masjid agar kehadirannya tidak mengganggu kekhusyukan beribadah.
Ia tanamkan pada anak-anaknya bahwa pergi ke masjid adalah sesuatu yang menyenangkan. Di tempat ini, kebutuhan dasar manusia untuk berinteraksi secara transendental maupun sosial bisa terpenuhi. Perasaan bahagia, sebuah pencarian universal tiap manusia, bisa diperoleh di sini. Kadang manusia menempuh perjalanan panjang nan melelahkan untuk mencari kebahagiaan, sementara sebenarnya kebahagiaan itu begitu dekat dengan dirinya.
Ia juga melatih anak-anaknya untuk mengakrabkan diri dengan masjid di luar waktu shalat, seperti merawat tanaman hias atau membersihkan masjid untuk persiapan shalat jumat.
Tak pernah sekalipun ia memaksa anaknya untuk pergi ke masjid. Paksaan atau ancaman hanya akan membuat anak menjadi resisten dan memberontak. Lagi pula, bagaimana harus dipaksa kalau ketika waktu sholat tiba justru si anak yang lebih dulu berlari mengambil sarung dan pecinya?
Menjumpai masjid yang masih sunyi, kini pak Saiful tak lagi menggerutu.
Ia sangat berharap agar dapat istiqomah dan berdoa supaya saudaranya yang lain juga merasakan nikmatnya menautkan hati ke masjid.
Ia terus mengayuh sepedanya sembari bersenandung riang untuk dua buah hatinya...
 M. Edy Susilo
foto : panoramio.com

Memakmurkan Masjid dengan Ikhlas



Masjid itu termuliakan. Tinggi derajatnya dan agung kedudukannya. Sesungguhnya masjid itu hanyalah kepunyaan Allah. Sesiapa mendatanginya bagaikan tamu bagi Allah. Hendaklah ia berlaku amat sopan di dalamnya.
Janganlah seorangpun mengibadahi  siapapun selain Allah di dalam masjid.
Di masjid-masjid yang Allah perintahkan agar dibangun dan dimuliakan, serta banyak disebut nama-Nya di sana, lewat tasbih dan shalat di pagi maupun petang hari. Merekalah lelaki sejati yang tidak tersibukkan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah dan mendirikan shalat (An Nur: 36-37)
Membangun dan memuliakan masjid itu diperintahkan. Juga dijanjikan balasan sangat menguntungkan bagi yang melakukannya. Tidak hanya membangunnya dari tiada. Termasuk di dalamnya, menguatkan, membangun, membersihkan, memperbaiki dan menghindarkannya dari segala sesuatu yang bisa merusak masjid. Memuliakan dengan menghilangkan najis pengotor darinya. Meredam berbagai hiruk pikuk pengganggu ibadah di dalamnya. Menyingkirkan berbagai barang dan amalan yang mengotori keagungan masjid sebagai baitullah.
Menyebut Asma Allah di masjid adalah pilar memakmurkan masjid. Mengumandangkan azan penanda shalat lima waktu, menyerukan iqomah tanda segera dilaksanakan shalat, penegakkan shalat jama’ah nan khusyuk. Membaca kitabullah, mengajarkan cara membaca Alquran yang benar. Penelaahan makna firman Allah Ta’ala dan tentu saja seruan untuk meninggalkan segala bentuk kemusyrikan.
Di dalam masjid itu ada orang-orang yang bertasbih memujinya di pagi dan sore hari. Karena hati mereka selalu terpaut dengan masjid. Mereka mengetahui kedudukan dan hak-hak rumah Allah ini. Mereka senantiasa menjaga apa yang harus ditegakkan di dalamnya.
Orang-orang yang tidak beriman tidak patut memakmurkan masjid. Hati mereka sama sekali tidak menghormat kepada pemiliknya. Tidak menyakini adanya balasan kebaikan pada segala bentuk upaya memuliakan masjid.
Yang sepatutnya memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At Taubah: 18)
Iman menjadikan mereka terdorong memakmurkan masjid. Demikian juga sebaliknya, ketekunan memakmurkan masjid semakin menjaga dan menguatkan iman.
Mereka beriman bahwa Allah sebagai Rabb, Pencipta, Pemberi rezeki, Pemberi nikmat dan Pemberi karunia. Dia beriman kepada nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Dia beriman bahwa Allah-lah satu-satunya sesembahan yang berhak disembah, tak ada sesembahan lain yang berhak disembah selain dia. Dia tunduk dan bersandar kepada-Nya. Dia pun meminta segala kebutuhan dan keinginan kepada-Nya, yakin bahwa tidak ada jalan keluar kecuali kepadaNya, tidak berdoa kecuali kepada-Nya, tidak meminta kecuali kepadaNya, tidak beristighatsah kecuali kepada-Nya, tidak berkurban kecuali untuk-Nya, tidak meminta pertolongan dan perlindungan kecuali dari Allah.
Maka generasi berakidah yang rusak, madzhab yang rusak, pemikiran yang menyimpang, sejatinya dia tidaklah suka memakmurkan masjid. Demikian juga generasi pencinta syahwat dunia mesti sulit menjadikan dirinya betah di masjid. Pantatnya bagaikan dicocok duri dan kulitnya seperti digerah api ketika di masjid.

Generasi yang tumbuh terasing dari lingkungan masjid akan mudah mendekat kepada majelis senda gurau dan hiburan. Merasa jengah dan kurang nyaman mendekat kepada baitullah. Tentunya kita sepakat untuk tidak mendapat penerus macam begini. Jika begitu tidak ada jalan lain kecuali memberi teladan, membiasakan, memotivasi, dan mementingkan upaya pendidikan kader masjid bagi anak-anak kita. 

Bagus Priyosembodo, Redaktur Senior Majalah Fahma
gambar : islampos.com

Antara Kejujuran dan Kepercayaan



Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jujur adalah lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus ikhlas. Sedangkan kejujuran merupakan sifat jujur, ketulusan hati, kelurusan (hati). Oleh karena itu, pengertian kejujuran atau jujur adalah tidak berbohong, berkata atau memberikan informasi sesuai kenyataan. Kejujuran adalah investasi yang sangat berharga, karena dengan kejujuran akan memberikan manfaat yang sangat banyak dalam kehidupan kita di masa yang akan datang.
 Kejujuran adalah dasar dari komunikasi yang efektif dan hubungan yang sehat. Hal ini membuktikan bahwa kejujuran merupakan elemen yang sangat penting, supaya hubungan anak dan keluarga dapat terjalin dengan harmonis. Kejujuran juga akan menciptakan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak dan akan terciptanya rasa kepercayaan. Anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap ransangan-ransangan yang berasal dari lingkungan luar. Dengan demikian, pada masa anak sangat ideal untuk orang tua menanamkan nilai kejujuran pada anak-anaknya.
Kejujuran sangat berkaitan dengan kepercayaan. Dalam hubungan apapun, kejujuran dan kepercayaan sulit bahkan tidak bisa dipisahkan. Sebuah kejujuran dapat menimbulkan rasa kepercayaan, demikian pula kepercayaan biasanya lahir dari adanya kejujuran. Oleh karena itu, hendaknya para orangtua sudah menanamkan nilai kejujuran pada anak sejak usia dini untuk menciptakan hubungan keluarga yang harmonis dan membuat anak bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
Bagaimana mungkin kita sebagai orangtua menanamkan kejujuran kepada anak-anak, sementara kita juga masih sering berbohong? Misalnya, hal yang sederhana seperti mengiming-imingi anak hadiah, tetapi tidak kita kabulkan sebenarnya tidak ada bedanya dengan sebuah kebohongan.
Banyak sekali perilaku buruk yang berawal dari ketidakjujuran, seperti menipu teman, berbuat curang, menyontek atau  menutupi kesalahan. Begitu pentingnya kejujuran sehingga sejak dini anak-anak harus ditanamkan nilai-nilai kejujuran. Orangtua di rumah dan guru di sekolah merupakan dua figur yang berperan besar dalam memupuk nilai kejujuran.
Karena itu, salah satu langkah awal yang harus kita lakukan adalah tidak membohongi anak.
Bila kita menjanjikan anak-anak sesuatu, misalnya hadiah saat nilai rapotnya baik, patuhilah janji itu. Begitu pun guru di sekolah, bila memang menjanjikan sesuatu, misalnya saat kelas meraih juara lomba kebersihan, penuhi janji itu. Jangan malah tidak dikabulkan, yang pada gilirannya berujung pada kebohongan. Anak-anak bisa saja belajar dari kebohongan ini. Kelak saat mereka dewasa, mereka bisa memakai cara yang sama. Maka, orangtua atau guru perlu berhati-hati dalam mengucap janji. Bila memang tidak bisa menjanjikan, sebaiknya tak menjanjikan apa pun.
Di sisi lain, kadang mungkin kita sudah menangkap basah anak-anak kita telah melakukan sesuatu yang tidak jujur. Jangan langsung menghardik anak sebagai pembohong. Hal ini justru membuat mereka takut untuk jujur. Mereka akan belajar lebih keras untuk mencari cara menutupi kesalahan. Tetapi, cara-cara lain yang lebih halus, seperti pertanyaan. Misal, saat kita tahu anak-anak kita membuat PR dengan menyalin jawaban teman, katakanlah, "Sayang, kok bisa dapat jawaban seperti itu caranya bagaimana?" Mungkin selanjutnya anak akan kebingungan atau memberikan jawaban yang kurang jelas. Kita bisa beri pertanyaan lanjutan, "Sayang, itu hasil kerjaan kamu sendiri atau dapat dari teman ya?" Jadi, daripada langsung melabeli anak sebagai pembohong, baiknya kita coba dorong anak untuk berterus terang sendiri.
Penting pula bagi orangtua dan guru untuk menjelaskan dengan bahasa sederhana kepada anak-anak bahwa kejujuran itu penting. Salah satunya adalah mudah mendapatkan teman.  Bila anak mengakui dengan jujur kesalahan yang ia perbuat, beri penghargaan. Sederhana saja, seperti acungan jempol, pujian bahwa anak kita telah melakukan tindakan yang terpuji. Bukan sebaliknya malah tambah keras kepada anak-anak kita.||


Arif Wicaksono, Pendidik, tinggal di Yogya


Orangtua Sahabat Anak

  
Menjadi orangtua di zaman jahiliyah modern saat ini sungguh tidak mudah. Tantangannya semakin canggih. Bukan hanya dari personel sang buah hati, tapi juga pengaruh luar. Lingkungan pergaulan, teknologi informasi hingga media massa tak henti-hentinya menjajah pemikiran anak-anak. Tak mudah bagi orangtua untuk senantiasa memahami isi kepala ananda tercinta.
Salah satu strategi untuk selalu bisa mengawasi perkembangan anak adalah dengan menjadi sahabat anak. Ini karena sebagai pribadi yang masih labil, dalam kesehariannya anak-anak sangat membutuhkan figur orang tua. Orangtua adalah rote model bagi mereka.
Tapi, di sisi lain, dengan perkembangan usia, anak membutuhkan sosok sahabat yang bisa menjadi partner dalam dunianya. Nah, sebagai orang terdekat anak, orangtua harus bisa berperan sebagai sahabat bagi anak. Sebagai sahabat, orangtua hendaknya menempatkan diri sejajar dan partner anak. Bagaimana caranya?
Pertama, jadilah pendengar yang baik dan aktif. Siapkan telinga untuk mendengar celotehnya. Berikan respons positif dan logis ketika anak curhat. Ajukan pertanyaan- pertanyaan seputar ceritanya, tapi jangan membuat privasinya merasa terusik dan terganggu. Berikan anjuran atau pendapat yang bisa ia mengerti, tapi jangan menekankan keharusan yang terkesan mendikte. Kembangkan inisiatif dan kreavitasnya. Ajak dan latih anak untuk selalu berani mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan kata-kata. Adakan kontak mata setiap kali berkomunikasi dan berikan perintah yang spesifik agar anak tidak bingung.
Kedua, libatkan diri dalam kegiatan anak. Pahami apa yang disukai dan tidak disukai anak. Selami dunia si kecil.Temani dan dampingi anak ketika bermain. Pahami kebiasaan-kebiasaan yang ia lakukan saat beraktivitas. Perhatikan kreativitasnya terhadap mainan dan ajaklah berbicara secara aktif agar kecerdasannya terstimulasi secara efektif. Dengan melakukan ini, orang tua dapat memahami kelebihan dan kekurangan anak, serta tidak selalu memaksakan kehendak terhadap anak. Manfaatkan setiap kesempatan untuk mendekatkan diri dengan anak. Tanamkan dalam setiap kesempatan itu untuk memberi pengarahan nilai-nilai pada anak.
Ketiga, berikan pujian dan teguran secara jujur, tulus, proporsional dan rasional. Ketika anak berbuat salah, tegur ia dengan sikap tidak menghakimi. Jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan. Berikan pujian untuk setiap keberhasilan yang diraihnya agar ia merasa dihargai dan termotivasi, tapi jangan berlebihan. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur, tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.
Keempat, berikan kepercayaan pada anak. Sesekali biarkan anak mencoba sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya asal tidak membahayakan. Misal mandi dan makan sendiri atau mencoba permainan baru. Cara ini dapat menumbuhkan kepercayaan dirinya, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Dengan penghargaan dan kepercayaan, kemampuan kreatifnya pun akan lebih berkembang
Kelima, kenali pribadi anak. Mengenali pribadi anak sangat penting, dengan memahami situasi ini maka orangtua dapat menyesuaikan diri. Jika anak lebih dari satu kenali karakter masing-masing dan didiklah sesuai karakternya. Menjadi orangtua memerlukan kesabaran ekstra. Hindari melampiaskan kemarahan pada anak, selesaikan masalah disaat kepala dingin. Hal ini untuk menghindari tindak kekerasan dan mengeluarkan kata-kata menyakitkan yang nantinya bisa membekas pada anak.
Keenam, beri contoh yang baik. Anak merupakan duplikator terbaik dari orangtuanya. Anak belajar berbagai hal dari pengamatannya terhadap lingkungannya terutama orangtua. Jika menginginkan anak yang baik jadilah panutan yang baik pula..
Ketujuh, tunjukkan kasih sayang dengan porsi yang tepat. Kasih sayang harus diungkapkan dengan tindakan bisa dengan kata-kata atau sekedar pelukan atau ciuman. Untuk menghinadari dalam memanjakan anak maka kasih sayang yang ditunjukkan harus sesuai porsi atau tidak berlebihan. Wallahu ‘alam bish shawab.||

Ali Rahmanto,
Pendidik, tinggal di Yogya

The Power of Words



Ada pemandangan yang mencuri perhatian kala pertama kali mengajar. Di deretan bangku depan duduk seorang siswa. Sekilas tak ada masalah dengan murid tersebut: diam dan tak banyak gerak. Tetapi, setelah diamati beberapa saat, tampak ada yang berbeda. Batinya bergejolak. Wajah anak itu pucat. Tatapannya jugajauh ke depan. Kosong.
Tak begitu lama, tiba-tiba teman di belakangnya usil. Teman itu bermaksud mengejeknya. Rona wajah murid itu mendadak memerah. Dia tampak kalut. Ada gejolak amarah yang menggelora yang tertahan. Namun, ketik adalam ‘bendungan’ amarah, tiba-tiba teman tadi menjebolnya dengan ‘peluru’ kedua. Benteng pun jebol sambil bereaksi. Ucapan pedas mengalir deras dari mulutnya. Matanya memerah. Nafasnya tersengal. Suasana kelas diam sesaat. Belum cukup di situ, tiba-tiba murid lain melemparkan potongan kertas ke arah kepalanya. Sempurnalah. Amarahnya tumpah. Dia menggerung dan membentak. Tangannya menggepal dan menggebrak meja. Brakkkk! 
Pertanyaan tadi terjawab dengan ‘drama’ lima menit yang baru saja terjadi. Siswa tadi diintimidasi. Murid tadi digoncang jiwanya. Ketenangannya diusik. Karena itu, dia merasa tidak nyaman berada di kelas. Hatinya sumpek. Pikirannya kalut. Pikirannya ingin terbang jauh meski tubuhnya masih ‘terpenjara’ dalam kelas. Efeknya, dia tidak bisa berpikir jernih. Suasana kelas tak ubahnya seperti terminal yang penuh calo dan kernet bus yang teriak-teriak. Benar saja, ketika saya mengajukan pertanyaan yang sederhana, dia tidak bisa menjawab. Bahkan agak tergeragap. Bingung. Padahal pertanyaan itu mudah: “Siapa namamu?”
Suatu saat, saya bertanya padanya akan apa yang dirasakannya. Jawabanya bisa ditebak. “Nggak tahu Tadz. Saya seolah memiliki masalah yang begitu besar. Saya tak sanggup memikulnya,” kata anak itu dengan mata berkaca-kaca. 
Apa karena ejekan itu? Apa karena intimidasi teman-temannya itu? Jawabanya satu: Ya. Anak seusia dia, mustahil punya masalah besar layaknya presiden yang memiliki seabrek masalah dari Sabang sampai Merauke. Dia seharusnya hidup riang gembira seperti kanak-kanak yang lainnya. Belajar dengan tenang. Tersenyum dan tertawa.
Apa yang terjadi pada anak tersebut tidak lain adalah karena kata-kata. Ya, kata-kata negatif yang setiap hari, setiap dia belajar di kelas dikonsumsinya dari teman yang mengusiknya. Menu tak sedap itu pun kini telah menjadikannya sebagai sosok yang penakut, minder, dan tak percaya diri. Jangan salah, setiap ucapan akan membekas. Terlebih kepada anak kecil yang sedang mengalami pertumbuhan psikologis. Kata-kata itu akan merubah karakternya. Itu adalah kekuatan kata-kata. The power of words. Kata-kata bisa merubah segalannya.
Penelitian di Institute of Psychiatry di London, Inggris menunjukkan anak-anak yang diganggu dan diejek teman-temannya mengeluarkan sedikit hormon kortisol. Hormon yang berhubungan dengan tingkat stres. Anak yang mendapat perilaku bullying tersebut akan lebih memiliki banyak masalah dengan interaksi sosial dan perilaku agresif. Penurunan kortisol bisa terjadi pada anak 12 tahun yang mengalami perubahan struktur gen yang mengatur serotin, sebuah neurotransmitter yang terlibat dalam perubahan suasana hati dan tingkat depresi.
Sebagai seorang guru, kita tentu tahu bagaimana karakter anak didik. Hampir setiap hari kita berinteraksi dan mengetahui pertumbhan psikologi, dan intelektual mereka. Karena itu, kata-kata yang harus keluar dari mulut harus yang membuat anak didik dekat dan termotivasi untuk beribadah pada Allah Ta’ala. Kita harus sering mengucapkan kalimat yang indah, memotivasi, dan memberi semangat. Bukan justru mencemooh, dan menurunkan percaya diri mereka. Hal itu juga harus disampaikan pada anak didik agar mereka bisa menjaga pergaulan dan kata-kata mereka terhadap sesama.
Banyak kata motivasi yang bisa diberikan kepada anak. Kita bisa menggunakan mahfudhot (kata mutiara  Arab), seperti yang sering didengar: “Man Jadda Wajada.” Siapa yang bersungguh-sungguh pasti dia dapat. Nah, anak didik yang mendengar ini, pasti akan timbul motivasi mereka untuk sukses, mencapai cita-cita yang diinginkan di masa depan. Insya Allah.||

Syaiful Anshor, Guru Madrasah, Tinggal di Yogya


Dengan Siapa Anak Kita Berteman?



Berteman merupakan suatu hal yang wajar dilakukan, apalagi oleh anak-anak. Namun, jika tidak hati-hati, anak bisa terjerumus dengan pergaulan teman-teman yang berakhlak buruk. Mereka bisa tertular perangai teman yang berakhlak buruk tersebut. Bahkan pengaruhnya bisa mengalahkan pengaruh orangtua. Karena itu, orangtua bisa membantu anak-anaknya dengan mencarikan dan mengarahkannya kepada teman-teman yang baik agar dapat dijadikan teladan baginya dan dapat dicontoh.
Ada beberapa aspek penting yang patut diperhatikan dalam mengarahkan anak agar mendapatkan teman yang baik. Pertama, pentingnya pembekalan ilmu agama. Agama memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan individu dan sosial, bahkan dia juga merupakan peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak dan mendorongnya kepada kebaikan. Tanpa agama, pendidikan akan terasa hampa dan tidak berpengaruh.
Mengajak anak untuk mencintai masjid sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan pribadi dan sosial. Masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, namun juga bisa dijadikan sebagai tempat perkumpulan lainnya, sebagaimana pada masa Rasulullah dan sahabat, masjid bisa berfungsi sebagai sarana untuk belajar dan sebagainya, seperti perkumpulan untuk menghafal Alquran, belajar ilmu fiqih dan ilmu-ilmu agama lainnya, bahkan juga berfungsi sebagai tempat sebuah perkumpulan seperti haflah maulid nabi dan sebagainya. Sebagaimana masjid juga digunakan untuk shalat jum'at yang di dalam khutbahnya banyak mengandung ajaran-ajaran Islam dan sebagainya. Selain itu, kecil kemungkinan anak-anak yang akrab dengan masjid memiliki perangai buruk.
Sebuah kesalahan fatal jika orangtua melarang anaknya untuk bersentuhan dengan masjid, mereka tidak paham dan tidak mengetahui bahwa mereka telah mendidik anaknya untuk meninggalkan shalat, karena anak jika tidak dibiasakan melaksanakan shalat ketika kecil maka akan sulit untuk melaksanakannya ketika besar nanti, dalam hadist dikatakan : Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat di usai tujuh tahun dan pukullah mereka jika sudah 10 tahun -jika tidak mau melaksanakannya.
Sesungguhnya membawa anak ke dalam masjid tidaklah dilarang, bahkan dianjurkan untuk membiasakan mereka shalat dan cinta dengan masjid, jika mereka masih kecil di bawah usia tujuh tahun hendaklah diberikan arahan kepada mereka agar tidak menjadikan masjid sebagai tempat bermain dan mengajarkan mereka adab duduk yang baik di dalam masjid. Dengan demikian anak akan terbiasa dengan masjid , berteman dengan teman-teman yang gemar ke masjid, dan gemar menghadiri majelis ilmu di masjid. Dengan demikian anak pun akan terlindungi dari pergaulan-pergaulan yang tidak baik.
Keluarga juga memegang peranan yang signifikan. Orangtua yang mengetahui anaknya bergaul dengan teman yang tidak baik dan ingin menjauhkannya karena khawatir anaknya akan terjerumus kelembah kehinaan ataupun menyimpang dari ajaran-ajaran Islam yang hanif hendaklah mencarikan pengganti teman yang baik bagi anaknya, yang masih ada hubungan darah dengan anak, seperti pamannya, kakak sepupunya dan sebagainya dari orang-orang yang disegani oleh anak.
Sanak saudara menurut mereka tidak memiliki tanggung jawab khusus kepada anak dan perkataan mereka betul-betul diyakini sebagai sebuah nasihat dan arahan bukan sebuah perintah dan larangan. Dengan demikian mereka lebih berpengaruh bagi anak daripada kedua orangtuanya. Inilah hikmah dari adanya silaturrahmi dengan sanak keluarga, karena sekiranya tidak ada harmonisasi dengan sanak keluarga jika orangtua tidak mampu menangani anaknya sendiri, maka siapakah yang membantunya untuk memperbaiki anaknya? Hubungan antarkeluarga pun sangat membantu dalam memperbaiki anak. Anak akan lebih meluas pergaulannya karena di sana banyak anak pamannya dan lainnya yang tentunya mereka lebih aman untuk bermain daripada dengan orang lain.||

M Abdurrahmahman, Pemerhati dunia anak

Membentuk Mindset Positif



Mindset adalah cara berpikir, yakni keyakinan seseorang yang mempengaruhi perilaku (behavior) dan sikap (attitude) seseorang, yang akhirnya akan menentukan level keberhasilan hidup (baca: nasib) seseorang.  Karenanya mindset sering dimaknai dengan kepercayaan (belief), atau sekumpulan kepercayaan (set of belief). Mindset, baik yang disadari ataupun tidak, akan menentukan cara berpikir, berkomunikasi, dan bertindak. Membentuk belief atau mindset positif menjadi kebutuhan bagi setiap orangtua/guru yang menghendaki kesuksesan bagi anak-anaknya.
Betapa pentingnya membentuk mindset positif, karena akan membentuk perilaku yang positif, dan betapa berbahayanya jika mindset negatif yang terbentuk pada seorang anak, karena akan membentuk prilaku yang negatif. Allah Ta’ala berfirman dalam Alquran, QS Ar Ra’du ayat 11, yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa-apa yang pada diri mereka”.
Mengubah apa-apa yang pada diri mereka, dapat diartikan merubah mindset atau belief, dan mengubah mindset berarti mengubah nasibnya. Setelah diketahui betapa pentingnya mindset positif bagi kesuksesan seseorang dan betapa berbahayanya mindset negatif jika terbentuk pada diri anak, maka perlu adanya upaya-upaya untuk membentuk mindset positif sejak masa usia dini.
Untuk mempermudah pemahaman tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh pendidik atau orangtua, perlu diketahui terlebih dahulu tiga masa penting dalam pembentukan mindset sebagai berikut:
Pertama, masa dalam kandungan. Banyak kasus-kasus trauma mental dalam praktek-praktek hypnosis dan hipnotherapi diketahui penyebabnya adalah sejak masa dalam kandungan/prenatal. Hal ini dimungkinkan karena memori secara utuh telah terbentuk sejak usia kehamilan 3 bulan. Hal-hal yang dapat diupayakan untuk membentuk mindset positif pada masa ini antara lain: menjaga kestabilan emosi ibu, memberi stimulasi pendidikan, antara lain: diperdengarkan musik yang memiliki ritme-irama baroque, atau jenis stimulan audio lainnya seperti lantunan bacaan Alquran, atau bahkan, lagu nina bobok, hafalan, dasar-dasar bahasa dan lain-lainnya. Rangsangan pendidikan lainnya dapat diberikan melalui sentuhan secara fisik.
Kedua, Masa Kritis I Pembentukan Mindset (masa lahir sampai usia 3 tahun). Pada masa ini fungsi pikiran sadar anak belum terbentuk, sehingga filter mental terhadap segala rangsangan dari luar sama sekali belum berfungsi. Hal ini menyebabkan hampir seluruh  pengalaman inderawi yang melibatkan emosi intens sepenuhnya diserap dan disimpan di pikiran bawah sadar. Maka dapat dipastikan pengalaman postif maupun negatif yang diterima anak-anak pada masa ini akan membentuk belief.
Upaya yang dapat dilakukan agar terbentuk belief/mindset positif pada anak, antara lain: 1) menerima anak apa adanya dengan segala keunikan yang dimilikinya; 2) menjalin komunikasi yang positif dan hangat; 3) tidak menuntut anak secara berlebihan; 4) memahami setiap tahap dalam perkembangannya, serta 5) mendoakannya selalu.
Ketiga, Masa Kritis kedua Pembentukan Mindset (usia 3 sampai 8 tahun). Pada masa ini telah terbentuk fungsi pikiran sadar anak yang berimplikasi pada pembentukan filter mentalnya. Dalam pembentukan nilai dan keyakinan, masa ini termasuk dalam fase tanam, yaitu fase dimana terjadi penyerapan pengalaman inderawi yang melibatkan emosi intens ana-anak terutama dari orangtuanya sebagai pendidik pertama dan utama.
Pada fase ini upaya pembentukan belief positif mulai menghadapi perlawanan dari pikiran bawah sadarnya, terutama setelah anak berusia 3 tahun. Untuk mengurangi perlawanan tersebut,  proses stimulasi  perlu melibatkan emosi yang sangat intens atau dalam suasana tenang dan menyenangkan.
Beberapa upaya yang bisa dilakukan dalam membentuk belief positif pada masa ini antara lain: 1) Melibatkan anak-anak dalam kegiatan hoby, 2) membacakan cerita-cerita imajinatif dan inspiratif, 3) menciptakan lingkungan literacy dengan gambar, simbol, maupun tulisan, 4) membangun forum diskusi keluarga, 5) membiasakan diri melakukan aktivitas sesuai prinsip dan aturan yang dibuat bersama dalam keluarga, 6) menerapkan reward (hadiah) dan punishment (hukuman) secara proporsional, 7) terapi dengan ahlinya.
Besarnya pengaruh belief dalam kehidupan kita, menuntut kita untuk benar-benar mengerti dan memahami mekanisme atau cara kerjanya. Beberapa prinsip kerja belief sebagai berikut: a) Begitu belief terbentuk, maka semakin lama akan semakin kuat efeknya, b) Subconscious/otak bawah sadar akan menjalankan apa yang telah tertulis dalam belief saja, c) Belief akan mempertahankan eksistensinya atau kehidupannya dengan segala cara, d) Beberapa belief mengkristal menjadi value, yakni apa yang kita yakini sabagai sesuatu yang berharga, bernilai, penting atau signifikan dalam hidup kita. Penting dan berharga ini bersifat sangat subyektif, sehingga setiap orang bisa memiliki value yang berbeda-beda pula. Value disebut juga sebagai core belief.
Dari uraian di atas, makin jelaslah bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) memiliki peran yang sangat kuat dalam membentuk karakter dan kepribadian anak, bahkan menuntun pada pencapaian kesuksesan nasib mereka. Dengan pembiasaan-pembiasaan yang positif, dari ucapan, tindakan dan penampilan, akan membentuk cara berfikir mereka sampai pada akhirnya membentuk karakter dan kepribadian mereka.|| 

Umi Faizah, S.Ag., M.Pd, Ketua STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta.

Hukuman yang Menggoda



Menjadi orangtua sungguh membutuhkan begitu banyak bekal dan kemampuan. Termasuk seni dalam  memberi umpan balik pada perilaku anak-anak. Tidak sedikit orangtua yang direpotkan dengan pertengkaran-pertengkaran anak-anak mereka. Bahkan kehebohan kadang sampai  memuncak. Saya jadi teringat cerita salah satu mahasiswa, yang kebetulan tim saya, di lembaga psikologi terapan yang saya pimpin waktu itu. Ia menceritakan tentang sakit hatinya jika mengenang sikap-sikap ayah-ibunya yang dirasa tidak adil dan berbeda perlakuan terhadap dirinya dan Kakaknya. Ia bercerita tentang jatah ‘lungsuran’ yang harus ia terima dari sang Kakak, sementara sang Kakak bisa meminta apa saja. Ia juga bercerita betapa dendamnya ia karena setiap ada pertengkaran, Kakaklah yang selalu dibela, diunggulkan dan dimenangkan. Tak jarang ia harus menerima hukuman fisik karena dipersalahkan oleh sang Ayah. Jelas saya menangkap gurat ‘dendam’ itu masih ada, bahkan di saat ia mulai memasuki usia dewasa. Yang berarti ia mulai harus menyusun langkah ke masa depan, meniti pejalanan karir, dan membangun rumah tangga serta siap melanjutkan peran sosial yang lebih luas, menjadi suami dan ayah. Sungguh disayangkan, jika berbagai efek di masa lalunya mengkontaminasi peran-perannya di saat mulai dewasa.
Layak untuk disadari oleh para orangtua, bahwa memberikan umpan balik pada perilaku yang tidak menyenangkan pada anak-anak layak dilakukan dengan cara-cara yang elegan, terhormat, dan mematangkan. Bukan dengan cara-cara yang justru semakin melemahkan dan memberi dampak merugikan di masa mendatang. Bukan berarti lantas kelihatan lemah dan tidak tegas, bukan! Salah satu hal yang penting diperhatikan dan dipahami, terkadang anak-anak menjadi bertingkah tidak menyenangkan dan cenderung tidak mentaati orangtua karena suatu masalah yang sedang dia alami. Anak dan kita sama-sama membutuhkan jeda. Ambil kesempatan untuk berbicara dengan dia dari hati ke hati. Mungkin ada keinginan dan harapan mereka yang tidak terungkap dengan kata-kata sehingga mewujud menjadi perilaku yang tidak kooperatif, cenderung mencari perhatian, dan sekan-akan memancing masalah. Menghargai keinginan dan harapan anak-anak menjadi pekerjaan yang layak diagendakan. Hal mendasar lain yang layak dipertahankan saat berkomunikasi dan memberi umpan balik adalah keyakinan positif tentang anak, keyakinan bahwa mereka memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik, keyakinan bahwa mereka memiliki potensi positif untuk belajar dan berkembang. Husnudzon (berpra sangka baik) pada anak-anak, bahkan di saat mereka tampak tidak menyenangkan. Hmm... sebuah tantangan yang tidak mudah namun sangat berdampak terhadap perubahan ke arah yang lebih baik. “Bunda percaya kamu bisa membedakan mana tontonan yang membuatmu mulia dan mana yang membuat hina. Dengan ilmu dan perasaanmu Nak, kamu dapat membedakan keduanya. Sekarang silahkan cari tayangan yang layak dilihat, terimakasih!” Semisal kalimat ini memiliki basis husnudzon yang cukup kuat di saat anak salah menentukan pilihan tayangan televisi yang ditontonnya.
Hal lain, memberikan umpan balik untuk perilaku yang tidak diharapkan membutuhkan kesabaran, ketenangan, kekuatan kata-kata bahkan yang lebih penting adalah  kesadaran akan tujuan respon yang kita berikan. Ambil waktu jeda untuk memusatkan peristiwa di hadapan kita dengan tujuan-tujuan terbaik. Terlebih dalam kerangka mewariskan nilai-nilai tauhid dan kebaikan ajaran Islam. Saya jadi geli ketika teringat suatu episode ‘umpan balik’ yang ‘menggoda’ terjadi di antara kami bertiga. Saya dan dua anak saya. Si Adik saat itu sedang begitu asyiknya memainkan lego barunya. Saat asyik-asyiknya, Kakaknya datang menggoda dengan gayanya yang membuat si Adik ‘kheki’. Sempat terjadi dialog di antara mereka, sampai kemudian si Adik setengah berlari sambil berteriak memanggil saya, “Bunda, Kakak ini loh, nakal, nggodain aku main.” Menyadari kalau si Kakak memang menggoda Adiknya, saya menyahut sambil menyambut si Adik, “Ya udah dek, Kakak DIJAUHIN dulu aja, sini Adek main dekat bunda ya.” Kata saya. “Rasain kamu Kak, tak JAUHIN!” Kata si Adek dengan garang dan sangat yakin bahwa ‘dijauhin’ olehnya adalah benar-benar sebuah hukuman yang menyiksa. Saya sempat melirik si Kakak yang bengong sebelum kemudian mengatakan, “Jangan ya Dek.. mau temenan sama Kakak ya..Kakak minta maaf ya,” melasnya. Aku tahu meski tampak lucu, si Kakak bersungguh-sungguh dengan perasaannya. “Tapi kamu yang baik ya sama aku”, Kata si Adek. Dan mereka mulai bermain dalam damai. Sesaat setelah mereka bermain aku tergoda untuk menggali dari Kakak tentang perasaan yang dialaminya. “Kak, gimana rasanya waktu Adek bilang, ‘Rasain kamu, tak jauhin!” tanyaku tenang. Sambil senyum  Kakak menjawab “ Ya gitu deh Bunda, rasanya gimana gitu..”. Ah, sepertinya aku tahu… || 

Pihasniwati, Direktur Lembaga Psikologi Terapan Metamorfosa, Yogyakarta, Dosen Prodi Psikologi Fakultas Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.