» » » Interaksi Positif

Interaksi Positif

Penulis By on Monday, January 7, 2013 | No comments


  
Bersamaan bunyi bel tanda masuk, Pak Hardi sudah berada di depan kelas empat. Jam menunjukkan pukul 13.30. Pak Hardi masuk jam terakhir di kelas empat untuk mata pelajaran Sains. Sebagian anak bergegas masuk berusaha mendahului Pak Hardi. Sebagian lagi masih ke sana-ke mari dan baru masuk ke kelas setelah Pak Hardi menyuruhnya masuk. Tujuh menit telah berlalu namun Pak Hardi belum memulai pelajaran. Tidak satu pun anak yang bertatapan dengan Pak Hardi, meskipun kelas tidak gaduh. Keadaan ini membuat Pak Hardi tidak nyaman. Ia tidak ingin waktunya terbuang percuma tetapi Pak Hardi juga sadar jika memaksakan untuk memulai pelajaran maka tidak akan efektif. Ia harus tetap mengoreksi kondisi kelas terlebih dahulu.
Pak Hardi berada dalam situasi kelas yang tidak efektif. Situasi yang tidak memungkinkan terjadinya interaksi positif. Jika Pak Hardi bukanlah guru yang efektif maka ia akan segera memulai pelajaran. Toh semua anak sudah berada dalam kelas. Tidak mau tahu apa yang dirasakan anak, yang penting materi ajar harus tersampaikan. Anak cukup menjadi pendengar.
Interaksi guru dan murid adalah inti dari proses pembelajaran. Jika Anda guru yang efektif, menghadapi situasi sebagaimana yang dihadapi Pak Hardi, maka yang mula-mula harus dibangun adalah rasa empati pada diri Anda. Bahwa anak harus dapat belajar dengan baik. Anak tidak cukup menjadi pendengar tetapi harus mampu memahami apa yang dipelajari. Sehingga ada upaya sungguh-sungguh mengoreksi kelas agar terjadi interaksi yang positif. Interaksi positif adalah interaksi yang terjadi antara guru dan murid dan antar sesama murid secara aktif, spontan, dan fokus pada tema pembelajaran.
Ada tiga hal yang menjadi sarat terbangunnya interaksi positif, yaitu (1) kelas terorganisir dan bebas kekacauan,(2) guru suportif dan sabar, yang tidak akan mempermalukan murid karena kesalahannya, dan (3) adanya tugas atau pekerjaan yang menantang tetapi terjangkau.
Kelas terorganisir dan bebas kekacauan adalah prasarat kondisi. Situasi kelas berada pada kendali guru. Situasi tidak efektif yang dihadapi Pak Hardi karena pengaturan jadwal pelajaran yang beresiko. Yaitu menempatkan mata pelajaran sains pada jam terakhir pada sekolah full day. Jika ini yang harus diambil oleh sekolah untuk mata pelajaran matematika dan sains, maka harus dicari guru yang mempunyai kelebihan mampu mengembangkan komunikasi efektif.
Guru berkemampuan mengembangkan komunikasi efektif adalah guru yang mempunyai kelebihan; (a) Mampu berekspresi secara verbal dan non verbal dengan jelas, tepat dan menarik. (b) Mampu berkomunikasi dengan jelas dan tidak bertele-tele. (c) Bahasa dan isi pembicaraan tidak melampaui pemahaman murid. (d) Mampu menjadi pendengar yang baik. Murid merasa bahwa ia bukan sekadar pendengar tetapi mempunyai peran dalam pembelajaran karena ide-idenya didengarkan oleh guru.
Guru yang sabar dan suportif, tidak mempermalukan murid karena kesalahannya. adalah sarat kedua untuk membengun interaksi positif. Sabar berarti mampu menahan diri ketika ada intervensi yang akan mengganggu skenario pembelajaran. Baik intervensi dari dalam maupun dari luar kelas. Ia mampu merespon secara tepat kejadian yang dapat mengacaukan rencana pembelajaran. Seperti kenakalan anak, pengumuman dengan pengeras suara, interupsi oleh orangtua atau guru lain, berbagai argumentasi siswa, dan sebagainya.
Guru suportif adalah guru yang mampu membangkitkan mood kelas yang mulai surut. Dengan kelihaiannya mampu memelihara interaksi positif dan kooperatif di antara murid. Selalu mengapresiasi ide-ide murid. Meskipun berlawanan dengan idenya, ia tidak akan mempermalukannya. Ia menikmati wacana kelas yang interaktif dan spontan.
Memberi pekerjaan yang menantang tetapi terjangkau, adalah sarat ketiga yang disarankan. Jika kelas telah teroganisir dengan baik. Jika kelas telah bebas dari kekacauan, maka tugas atau pekerjaan yang menantang akan memberi gairah terjadinya interaksi positif. Anak merasa tertantang untuk melakukan sesuatu, atau untuk memecahkan sesuatu dengan ide-idenya, atau untuk menginovasi sesuatu yang telah dimilikinya.||
oleh Drs. Slamet Waltoyo
Kepala Sekolah Dasar Islam Al Kaustsar
sumber gambar : zainulwahid.blogspot.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya