» » Istiqomah di Atas Pilihan

Istiqomah di Atas Pilihan

Penulis By on Tuesday, January 15, 2013 | No comments



“Ah, akhirnya tidur juga mereka,” desah ibu Ani, seorang ibu rumah tangga tulen saat malam hari. Saat ketiga putranya terlelap mengukir mimpi-mimpi mereka. Kini dia dihadapkan dengan pekerjaan baru, menyeterika pakaian sang suami dan ketiga anaknya.
Ya, pekerjaan mengurus keluarga memang tidak ada tanggal merah apalagi cuti bersama. Konon pekerjaan ini ada dan akan selalu ada dari sebelum matahari terbit sampai terbenamnya mata sang suami. Lho kok bisa? Ya, karena seorang istri akan mengurus semua urusan keluarganya, mulai dari cuci mencuci, memandikan anak-anak, menyiapkan makan, membersihkan rumah, dan tentunya melayani sang suami. Walaupun pekerjaan itu juga bukan kewajiban istri saja, sang suami sah-sah saja mengambil alih pekerjaan tersebut. Pekerjaan ibu rumah tangga ini dituntut keuletan dan kesabaran yang tinggi. Jika tidak sabar, yang keluar dari lisan sang ibu rumah tangga bukan kata-kata yang memotivasi, bukan kata-kata lembut yang mengandung kasih sayang, tapi bisa berubah menjadi kata-kata yang penuh dengan emosi, kata-kata keluh kesah, atau bahkan kata-kata keputusasaan karena banyaknya pekerjaan yang tiada habisnya.
Sangat tidak pantas memang, seorang ibu rumah tangga menghabiskan waktunya untuk melihat sinetron televisi sementara dia mengharap putra-putrinya rajin mengaji, rajin belajar. Sangat tidak layak pula ibu rumah tangga menghamburkan waktunya bersama tetangga hanya untuk membicarakan sinetron yang sama-sama mereka lihat dan pahami bersama atau bahkan yang lebih mengerikan mereka membicarakan keburukan orang lain dengan berghibah. Sementara ia berharap putra-putrinya akan menjadi anak-anak shalih. Sangat tidak pantas.
Tapi itulah kenyataannya, rutinitas yang menjemukan bagi seorang ibu rumah tangga akan membawa dia mencari hal-hal baru bersama tetangganya untuk dijadikan bahan berita dan cerita. Dia akan rela berjam-jam duduk bersama tetangganya agar tidak suntuk berada di rumah. Maka, menjadi ibu rumah tangga yang kreatiflah jalan keluarnya. Banyak kita jumpai ibu rumah tangga jaman sekarang yang kadang penghasilannya lebih banyak dari suaminya yang kerja ke kantor tiap pagi dan pulang menjelang malam. Tapi hal ini perlu diwaspadai, jangan sampai ketika penghasilan sang istri lebih besar dari sang suami, lantas sang istri memperlakukan suaminya dengan semena-mena. Dalam biduk keluarga, sang suami tetap menjadi pemimpin keluarga, sudah kewajiban bagi penghuni keluarga untuk selalu patuh kepada sang nahkoda, selagi dalam hal kebaikan.
Ibu rumah tangga kreatif akan selalu dicari setiap suami. Sang suami akan merasa bangga ketika mendapati sang istri bisa meracik kegiatan keluarganya menjadi hidup. Sehingga kadang pula sang suami harus berani repot dengan program-program sang istri. Dukungan suami, baik tenaga, ide kreatif, bahkan biaya dibutuhkan oleh istri. Jadikan momen liburan menjadi pengalaman yang berharga bagi sang buah hati. Ajak mereka ke tempat-tempat wisata edukasi, misal ke toko buku, ke pasar tradisional bagaimana mereka membeli-menawar barang dagangan, dan tempat-tempat lainnya.Wisata edukasi ini hendaknya menjadi kejutan-kejutan bagi putra-putrinya, sehingga tidak terlalu sering dilakukan dan tidak pula sangat jarang dilakukan.
Mengurus rumah tangga memang sebuah pilihan, bagaimana tidak, ketika sang istri, mungkin dengan pendidikan yang telah dicapainya setinggi mungkin, tapi dia harus memilih untuk menjadi ibu rumah tangga padahal banyak peluang-peluang mengejar karir pada dirinya. Sebagai guru misalnya, sebagai pegawai kantoran misalnya, atau bahkan menjadi pegawai negeri sekalipun. Sah-sah saja jika seorang ibu memilih mencari pekerjaan di luar rumah, apalagi jika dia masih mampu memegang kendali keluarganya, melayani suaminya dan mendidik putra putrinya. Tapi ketika pekerjaan di luar rumah sudah membuat bahtera keluarganya oleng, itulah yang harus dipikir ulang. Apakah dia masih mempertahankan karirnya, atau lainnya. Di jaman sekarang kalau hanya sekedar mencuci, menyeterika, mengepel, dan pekerjaan-pekerjaan fisik lainnya masih bisa ditangani, misal dengan mengangkat orang untuk membantu mengurus pekerjaan rumah tangganya, yang menjadi problem adalah saat seorang ibu harus menyerahkan semua pekerjaan kepada pembantu rumah tangganya, mulai dari mendidik anak-anak, mengurus suaminya, sampai pekerjaan fisik lainnya. Karena belum tentu pembantu tersebut bisa menyelesaikan semuanya. Mungkin untuk urusan pekerjaan fisik mampu dengan baik, nah untuk pekerjaan lainnya seperti memberi kasih sayang pada anak-anak? Memberi pendidikan pertama di rumah? Bersabar dengan tingkah polah anak-anak? Belum tentu mereka mampu. Mereka belum tentu bisa memberikan kasih sayang setulus yang kita berikan pada anak-anak.
Menjadi ibu rumah tangga memang pilihan. Maka yang sudah memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, bangga dan istiqomahlah, karena di tangan Anda kendali negeri ini akan lahir. Bagi yang memilih untuk berkarir, tetaplah selalu istiqomah untuk menjalankan dua pekerjaan Anda, berkarir dan mengurus rumah tangga. Wallahu a’lam bishawab. || Mahmud Thorif, Ayah 3 anak, tinggal di Sleman.

*) Sumber gambar tipsmu-tipsku.com 
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya