» » Mendengarkan untuk Memahami Anak

Mendengarkan untuk Memahami Anak

Penulis By on Monday, January 7, 2013 | No comments




Ketika anak-anak berbicara, mereka tidak selalu mengatakan sesuatu dalam cara-cara yang sama seperti halnya orang-orang dewasa berbicara. Jika kita ambil semua kata-kata yang mereka sampaikan, sangat besar kemungkinannya kita memiliki kesalahan dalam memahami apa yang sedang mereka katakan.
Untuk mencegah kesalahpahaman semacam ini, kita bisa mengungkapkan kembali dalam kata-kata kita sendiri apa yang kita pikir mereka ingin mengatakannya kepada kita. Berusahalah menahan diri untuk tidak tergoda mengatakan sesuatu yang bersifat menghakimi atau melakukan sejumlah usaha untuk mendisiplinkan mereka. Dengan cara-cara seperti ini, kita akan bisa  memastikan bahwa kita memahami inti apa yang sedang coba mereka sampaikan.
Sebagai contoh, ketika anak kami yang paling besar di suatu sore mengatakan,”Kadang-kadang aku benci sama Hasany” ada dorongan yang kuat untuk segera untuk menegur dia dari mengatakan seperti itu dan mengatakan padanya bahwa kami tidak bisa menerima komentar-komentar seperti itu. Yang perlu kita lakukan adalah pertama, kita menerima terlebih dahulu apa yang mereka katakan. Jangan  tergoda untuk segera menegurnya atas apa yang dia katakan atau cara dia mengatakannya. Kita bisa mengatakan sesuatu padanya seperti,” Sungguh?” atau ”Aulia benar-benar membeci Hasany?”dan kemudian tenang.


Dengan melakukan hal seperti ini kita memberi anak-anak kesempatan untuk berbicara apa yang sesungguhnya mereka rasakan tentang saudaranya pada saat mereka mengatakan hal tersebut. Tanggapan seperti ini sangat menolong kita terhindar dari kesalahpahaman terhadap mereka dan membantu mereka merasa lebih nyaman untuk mengungkapkan lebih jauh apa-apa yang berkecamuk dalam pikirannya. Jika mereka tidak  ingin melanjutkan percakapannya, jangan dipaksa dan kita bisa meninggalkan mereka sendirian.
Menjadi tidak mengherankan  jika suatu saat kita mendapati perilaku  mereka terhadap saudaranya telah berubah  menjadi lebih baik  daripada sebelum percakapan mereka dengan kita. Mereka berubah menjadi lebih baik karena mereka merasa didengarkan, meskipun sangat mungkin perilaku saudaranya tersebut tidak berubah.
Menanggapi setiap komentar yang dibuat anak-anak sesungguhnya tidak diperlukan. Sebagaimana halnya kita sebagai orang dewasa yang kadang-kadang melampiaskan perasaan dengan mengatakan hari-hari belakangan ini sungguh melelahkan atau sedang berada dalam minggu-minggu yang sulit, anak-anak juga seringkali mencari orangtua mereka bukan untuk meminta bantuan orangtuanya untuk mengatasi masalah mereka dengan menanggapi setiap pernyataan yang mereka buat. Mereka hanya butuh didengarkan. Berbagi perasaan-perasaan mereka dengan orang dewasa yang mendengarkan tanpa menghakimi atau ”langsung menyimpulkan” memberi anak-anak peluang untuk merasa didengarkan. Sebagaimana halnya kita semua juga merasa senang untuk melampiaskan perasaan-perasaan kita tanpa dinasehati, dipertanyakan, dihakimi, atau bahkan mungkin dihibur.
Jadi, jika suatu saat anak-anak mengatakan mereka tidak ingin lagi bermain dengan temannya, kita dapat mengatakan,”Benar?” atau mengungkapkan kembali apa yang dikatakan mereka—”Kalian tidak ingin bermain lagi dengan Fulan.” Jika mereka berhenti membicarakannya, kita juga harus berhenti. Jika kita memaksanya berbicara dan kemudian kita memberikan ceramah tentang menjadi teman yang baik atau seberapa suka mereka terhadap Fulan atau kita mengamati bahwa situasinya tidaklah seburuk yang mereka katakan, maka kemungkinan besar mereka tidak mau curhat pada kita dan tidak mau berbagi kekecewaan yang dialaminya di masa datang karena takut dievaluasi dan dihakimi.
Jika selama situasi-situasi seperti di atas kita dapat mendisiplinkan diri sendiri untuk bersungguh-sungguh belajar mendengarkan anak-anak tanpa menanggapi secara langsung setiap kali mereka bicara, insya-Allah kita akan lebih mampu untuk mengatakan dengan lebih mendalam, apakah mereka menyebutkan hal yang sama beberapa kali  atau mereka baru mulai mendiskusikannya, kapan sebuah topik pembicaraan mereka sukai dan kapan itu hanya sebuah komentar yang berlalu begitu saja. Jika anak-anak tampak serius tentang sebuah topik, pastikan waktu yang tepat untuk menanggapi keprihatinannya melalui pertanyaan-pertanyaan lanjutan.

 oleh DR. Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi.
sumber gambar : parenting.koranpendidikan.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya