» » Menyisipkan Pesan Positif Ketika Anak Pergi Bermain

Menyisipkan Pesan Positif Ketika Anak Pergi Bermain

Penulis By on Thursday, January 24, 2013 | No comments



Sore hari Afi minta ijin Bundanya untuk pergi bermain ke rumah Reza. Dua orang temannya sudah menunggunya di teras untuk rencana bermain sepak bola di halaman depan rumah Reza.
”Bunda,  aku sudah shalat Asar. Sekarang, aku boleh ikut  bermain bola di depan Reza  kan?” kata Afi.
”Boleh Nak. Tapi ingat pesan Bunda ya. Batas bermain jam 16.30, kamu segera pulang untuk mandi.   Saat bermain bicara yang sopan. Gunakan kata-kata yang baik. Kamu jaga kerukunan dengan teman-teman, main bersama dan bergantian. Dan, berhati-hati saat menyeberang jalan, tengok kiri kanan dulu. Kalau sudah sepi boleh menyeberang. Oke?”
”Oke.. aku berangkat dulu Bunda. Assalaamu’alaikum.”
”Wa’alaikumussalaam.” Afi pun keluar dengan gembira bersama temannya.
Bermain. Bagi anak adalah suatu aktivitas yang sangat menyenangkan. Apalagi bersama teman-temannya. Bermain merupakan kegiatan yang  menjadi media untuk menumbuhkembangkan berbagai perkembangan kejiwaan anak. Ada berbagai faktor pendukung pembelajaran bagi anak ketika ia bermain bersama temannya. Dengan bermain bersama temannya, anak akan belajar bagaimana hidup bersosialisasi. Ada nilai kebersamaan, berbagi, antri, menolong, memaafkan, memberi, menerima, menunggu, menghibur, dan sebagainya.
Orang tua memiliki amanah untuk membimbing anak, agar mereka tumbuh dengan sehat saat bermain dengan temannya. Agar anak lebih terarah perkembangannya. Selami dan pahami apa yang anak inginkan dengan bermain. Lebih tepat jika orang tua memposisikan diri dengan dunia sosial anak sebagai pengendali mereka. Menjadi orang tua yang  perhatian pada permainan anak, teman-teman anak maupun kegiatan mereka. Memperhatikan pribadi teman-teman anak, keluarga mereka atau akhlak mereka agar kita bisa bertindak lebih tepat untuk mengarahkan atau mengendalikan anak.
Nasihat adalah satu bentuk pengarahan kepada anak agar tumbuh kembang kepribadiaan anak lebih terarah. Nasihat bisa berupa perintah, anjuran, saran, motivasi berbuat kebaikan ataupun berupa larangan. Pengarahan positif pada umumnya akan lebih mudah diterima anak. Dan anak pun menjadi tahu apa yang kita harapkan kepada mereka. Pengarahan positif menanamkan gagasan kepada anak bahwa mereka tidak memiliki keraguan untuk melakukan hal yang tepat. Anak menjadi mudah mengetahui tingkah laku mana yang diijinkan mana yang tidak.
Orangtua yang bijak akan lebih bijak lagi, jika ia mengkomunikasikan perilaku yang tepat kepada anak dengan meminta anak melakukan sesuatu yang diinginkan. Bukan dengan memberitahukan apa yang tidak boleh dilakukan. Jika memotivasi, utamakan dengan menyampaikan keutamaan yang akan didapatnya jika melakukan tindakan yang diharapkan. Sisipkan pesan positif saat anak sedang memperhatikan pembicaraan dengan orang tua.
Dari penggal percakapan paragraf di atas, salah satu kebiasaan Bu Hasna kepada anaknya yang minta ijin untuk bermain dengan temannya adalah menyisipkan pesan positif  untuk diterapkan saat bermain. Bu Hasna tidak membiasakan dengan mendahulukan menyampaikan perilaku yang dilarang. Akan tetapi, memilih dengan mengatakan perilaku apa yang ingin dilakukan anaknya. Sebelum Afi berangkat bermain dengan temannya, Bu hasna sudah memperkirakan kira-kira perilaku apa yang tidak diinginkan dilakukan oleh anaknya saat bermain.  Misalnya berkelahi. Biasanya sebelum terjadi peristiwa perkelahian, telah terjadi suatu perilaku yang tidak menyamankan pihak tertentu. Bisa karena mengejek, berebutan, berteriak, tidak mau antri dan sebagainya.
Bu Hasna mengarahkan anaknya dengan berusaha menghindari kata-kata negatif, misalnya ’jangan!’, ’tidak boleh!’ atau kata-kata hardikan. Bu Hasna memilih kata-kata positif, misalnya :
’Jam 16.30 kamu segera pulang untuk mandi.’ Bukan dengan, ’Jangan lama-lama!’ 
’Gunakan kata-kata yang baik’. Bukan, ’Jangan mengejek!’
’Jika menyeberang jalan hati-hati. Tengok....’, bukan ’Jangan teledor di jalan’.
Sebagai renungan untuk orang tua, khususnya yang telah dibesarkan dengan pengarahan ”kata-kata negatif”, semoga hal itu tidak mewariskan pola asuh untuk anak generasi kita berikutnya. Semoga dengan semangat ibadah dalam mendidik anak, kita diberi kekuatan untuk memilih dan melakukan yang lebih baik dan tepat. Sehingga anak kita diberi kemudahan melakukan kebaikan dan kebenaran karena Allah. || 

Asnurul Hidayati, ibu rumah tangga tinggal di Sleman.
sumber gambar : benteng-id.blogspot.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya