» » Peran Sentral Guru dalam Pendidikan Karakter

Peran Sentral Guru dalam Pendidikan Karakter

Penulis By on Tuesday, January 15, 2013 | No comments



Pada Majalah Fahma edisi Oktober 2012, tepatnya rubrik Senggang, terdapat sebuah catatan yang menarik tentang pentingnya kita memahami proses belajar anak yang berbeda. Saya hanya ingin sekedar memberikan analisa tambahan, terutama dalam penerapannya saat proses kegiatan belajar dan mengajar di kelas. Seorang guru tentu harus paham bagaimana cara muridnya untuk menerima materi yang disampaikan, seperti dengan melihat, mendengar, membaca dan sebagainya. Pun demikian dengan orangtua. Saya akan menjelasan proses tersebut dalam, kaitannya dengan pendidikan karakter.
Pertama, Melihat dan Mendengar. Yakni proses belajar yang ada contoh dan ada pengajarnya. Seorang guru tentu harus memberikan contoh dan model karakter yang dikehendaki anak didiknya. Jadi pada dasarnya semua guru bisa menjadi guru pendidikan karakter. Tentu dengan catatan mau berkomitmen untuk menjadi contoh dan menjelaskan bagaimana agar siswa dapat memiliki karakter seperti gurunya. Demikian halnya dengan orangtua, anak hanya 30% waktunya di sekolah, 10-15 % lingkungan sosialnya dan sisanya di rumah. Maka porsi terbesar adalah orangtua yang menjadi guru pendidikan karakter bagi anaknya.


Kedua, Mengatakan dan Melakukan. Ini terkait dengan peraturan dan sistem yang berlaku lingkungan belajar. Peraturan di sekolah dan di rumah harus selaras dengan tujuan pendidikan karakter. Saya akan memberi contoh, di beberapa kota di Indonesia, kita masih bisa memberhentikan angkutan umum sembarangan. Jika kita berada di jalan raya, kemudian kita melihat ada angkutan umum, tinggal angkat tangan saja, maka amgkutan umum itu akan berhenti. Hal ini bisa berlaku di Indonesia, tapi tidak di Singapura. Di negeri itu, kita tidak bisa seenaknya saja memberhentikan angkutan umum. Ada tempat khusus di mana angkutan umum tersebut mau berhenti. Maka dapat kita simpulkan bahwa perilaku seseorang akan berubah mengikuti aturan yang berlaku.  Seperti yang terjadi dalam kisah di atas, jika berada di Singapura, kita harus ke halte jika ingin naik kendaraan umum.
Jadi dalam pendidikan karakter juga diperlukan seting lingkungan untuk mendukung perilaku Melakukan yang akhirnya akan terbiasa. Seperti ada pepatah bisa karena biasa’, sama seperti halnya aturan baru dalam berlalu-lintas. Belakangan ini banyak aturan baru sehingga jalan yang biasanya bisa 2 arah hanya satu arah untuk keefektifan pengguna jalan dan menghindari kemacetan. Jika kita langgar maka kena tilang. Awalnya pasti terasa berat, setelah 1 bulan sudah biasa, tidak ada beban lagi. Manusia adalah mahluk yang mudah beradaptasi, terasa berat jika itu dijalankan terus menerus, maka lama-lama terbiasa. Dalam melakukan pola ini, jangan lupa memberikan konsekuensi jika melanggar. Tentunya konsekuensi yang mendidik dan tidak merusak harga diri anak. Contoh: jika melanggar, maka mainan kesukaan anak akan disita 2 hari.
Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orangtua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, sebaiknya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak Play Group dan Taman Kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebutdigugu lan ditiru dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.||

Yusuf Sabiq Zainuddin
Pendidik di SDIT An Nida Sokaraja, Jawa Tengah

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya