» » Tidak Harus Disalahkan

Tidak Harus Disalahkan

Penulis By on Monday, January 21, 2013 | No comments


 

“Anak Bapak dan Ibu tak punya inisiatif untuk belajar di kelas, tolong diberitahu ya!”
“Anak Anda nilainya jelek, jika ini terjadi ia bisa tidak naik kelas, tolong dinasehati ya!”
“Anak Bapak dan Ibu tidak punya motivasi dan kurang bertanggungjawab, tolong dilatih di rumah ya!”
“Anak Anda kurang percaya diri dan susah bicara kalau ditanya, perhatikan perkembangannya di rumah, kalau seperti ini terus ia bisa tidak naik kelas.”
“Anak itu suka berbohong, siapa sih orangtuanya?”
Itulah sederet komentar yang membuat orangtua menjadi merasa bersalah dan tak berdaya. Para guru, masyarakat dan mungkin juga para para pejabat sering menyalahkan orangtua atas kenakalan anak dan problem para remaja. Namun apakah mereka yang menyalahkan para orangtua itu memberikan jalan keluar yang memuaskan? Pada akhirnya orangtua menemukan jalan mereka sendiri, kebingungan dan tak berdaya atas apa yang terjadi pada anaknya. Mereka merasa telah berbuat banyak untuk anaknya namun hasilnya malah membuat para orangtua semakin bingung apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk mendidik anaknya.
Ya, para orangtua sering disalahkan namun kurang dilatih. Di Indonesia, setiap hari ribuan orang tiba-tiba memiliki pekerjaan dan predikat baru sebagai –orangtua– saat bayi pertama mereka lahir.  Para pasangan muda itu menyambut gembira kehadiran buah hati tercinta mereka. Mereka tak menyadari bahwa mereka sedang terseret ke dalam sebuah “badai” yang akan disebabkan oleh si mungil yang tampak tak berdaya itu. Tangisan tengah malam yang akan membangunkan mereka, tanggungjawab penuh atas kesehatan fisik dan emosi sang bayi yang akan beranjak menjadi anak-anak, remaja, dan orang dewasa, serta berbagai aturan atau strategi yang harus dipikirkan untuk mendidik “pendatang baru bumi” itu yang bisa memicu pertengkaran atau konflik baru di antara para suami dan istri.
Pekerjaan menjadi orangtua adalah pekerjaan tersulit di dunia namun tidak pernah ada sebuah informasi holistik untuk melakukan hal itu. Permasalahan yang disebutkan di awal tulisan ini hanyalah sebagian kecil masalah yang bisa menghambat potensi jenius seorang anak.
Kebanyakan permasalahan seperti di atas berasal dari hilangnya rasa aman yang dibutuhkan seorang anak. Sebagaimana kita ketahui rasa aman adalah kebutuhan mendasar dari setiap manusia. Jika rasa aman terganggu maka kita akan berusaha dengan sekuat tenaga mendapatkannya. Demikian juga dengan anak-anak. Sebagai lambang permintaan akan adanya rasa aman itu mereka “menunjukkan perilaku menyimpang” agar dapat perhatian dari orangtuanya.
Bagaimana membuat mereka merasa aman? Tidak terlalu sering mengkritik perilaku anak-anak. Kita sering terjebak dengan sebuah frase “saya tidak ingin kamu terperosok ke lubang yang sama”. Oleh karena itu mereka berusaha mencegah dan mengatur segala perilaku anak agar sang anak “tidak terperosok ke lubang yang sama”.
Namun cara kita melakukan hal ini sangat melukai hati mungil anak-anak mereka. Akhirnya para bayi tak berdosa itu tumbuh menjadi remaja yang mengatakan “ibu saya sebenarnya baik namun cerewetnya itu lho… mana tahan!”, “bapak saya itu sebenarnya penuh pengertian walau sering memaksakan pemikirannya sendiri seperti tidak pernah remaja saja” bahkan mungkin ada juga komentar “ibu itu seperti anak kecil, maunya semua keinginannya dituruti, apa dia pikir saya ini masih anak-anak yang harus diatur, saya kan punya pikiran sendiri.”
Semua komentar itu sebenarnya adalah perwakilan dari rasa tidak dipercaya seorang anak yang pada gilirannya mengusik rasa aman yang dibutuhkannya. Karena merasa tidak dipercaya oleh orangtuanya, maka dalam bertindak mereka menjadi ragu-ragu dan akhirnya pada satu titik sang anak tidak mengambil tindakan apapun karena mereka tahu pada akhirnya pasti ada yang kurang, disalahkan, dan dimarahi.
Mereka tidak merasakan penerimaan yang tulus dari orangtuanya. Penerimaan itu seringkali diukur dari prestasi akademiknya semata. Kita orangtua – tidak semua –  seringkali sibuk memerhatikan nilai dan nilai dan nilai, namun mengabaikan perasaan terdalam seorang anak.
Cobalah kita hitung berapa banyak kritikan yang kita lontarkan dan berapa ucapan terima kasih yang kita sampaikan dalam sehari pada anak tercinta. Kita akan kaget mengetahui bahwa kita ternyata lebih banyak memberikan kritikan daripada pujian. Tak heran banyak anak-anak tumbuh menjadi dewasa diliputi dengan banyak perasaan bersalah dan perasaan tak mampu. Jika sebagai orangtua kita juga merasa seperti ini cobalah tengok dan ingat kembali bagaimana cara kita dibesarkan dan perbaiki cara itu pada anak-anak tercinta kita sekarang ini. || 

Muhammad Nazhif Masykur, Direktur LPI Salsabila Yogyakarta.
sumber gambar : papadanmama.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya