» » Dahsyatnya Motivasi Sang Bunda

Dahsyatnya Motivasi Sang Bunda

Penulis By on Wednesday, February 6, 2013 | No comments


        

Seorang bocah laki-laki datang ke ladang menemui ayahnya untuk meminta didaftarkan ke SD. Dengan wajah sedih sekaligus berbinar, Sang Ayah mendekati anak ini “Nak, hari ini Ayah belum punya uang, tapi besok semoga kita bisa jual ayam agar kamu bisa sekolah”, ujar Sang Ayah. Esok paginya, Sang Ayah meminta Bunda untuk menjual ayam kepada tetangga yang akan digunakan mendaftar sekolah. Waktu itu, masih sekitar tahun 1990-an. Bisa lulus SD merupakan prestasi yang luar biasa di desa anak ini, mengingat kebanyakan warga desa adalah orang yang tidak berpendidikan.
Dengan baju seadanya, tanpa seragam, dan sepatu, sang bocah ini bisa bersekolah. Masa kecil anak ini banyak digunakan untuk membantu orang tua mengembala kambing dan sapi. Sementara sore hari  digunakan untuk belajar di mushola. Untuk bisa menikmati bacaan, ia biasa membeli buku-buku bekas di pasar. Tatkala duduk di jenjang SMP, Sang Ayah meninggal. Alhasil, anak ini pun ikut bekerja keras membantu Bundanya.
Sepulang sekolah, ia mengembalakan sapi milik tetangga. Selama tiga tahun dijalaninya pekerjaan itu dengan upah satu ekor anak sapi. Biarpun setelah SMP tidak bisa langsung sekolah, ia tetap belajar. Sambil menggembala di hutan, anak ini tidak pernah lepas dari buku. Pernah suatu kali sang kakak mengira dia telah gila karena kalau di hutan, anak ini sering bicara sendiri. Padahal sebenarnya dia sedang menghafal bacaan. Baru setahun setelah lulus SMP, dia bisa masuk SMA dengan biaya sendiri melalui menggembala.
Singkat cerita, selepas SMA, anak ini bercita-cita bisa kuliah. Semenjak itu ia memutuskan untuk hijrah ke kota, bekerja di tempat orang China. Namun tidak lama kemudian, dia keluar karena tidak cocok dengan pola hidup mereka yang suka bermain, mabuk-mabukan, dan kesehariannya makan daging babi. Setiap kali pulang ke desa, Sang Bunda menangis terharu melihat begitu beratnya beban Sang Anak untuk dapat mewujudkan cita-citanya.
Di sepertiga malam terakhir, Sang Bunda bercucuran air mata, melihat sambil memijat-mijat Sang Anak ketika tidur. Kata mutiara yang menghujam sanubari Sang Anak adalah pesan bunda “Nak, raihlah cita-citamu. Ibu hanya membantu doa. Ibu tidak meminta apa-apa, ibu yakin kamu pasti berhasil, Nak,” Sepertiga malam terakhir menjadi hujan tangis antara Sang Anak dengan Sang Bunda. Entah berapa kali kata-kata itu diucapkan, mungkin puluhan kali bahkan terasa ratusan setiap kali Sang Anak pulang dari kota. Bahkan, sampai detik ini, kata-kata itu selalu terngiang di telinganya. Di saat sedang bersedih, kata-kata itu selalu mengingatkan untuk pantang menyerah. Bahkan ketika kondisi lemah, banyak ujian dan cobaan, kata-kata itu seperti mengingatkan untuk tetap tegar dan terus berjuang dalam hidup ini.
 Dengan menyambi jadi guru SD swasta dengan honor Rp 5.000,- perbulan dan menjadi guru les ngaji, dia berhasil meraih gelar sarjana. Bahkan atas izin Allah, ia juga berhasil menyelesaikan pendidikan pascasarjana dan kini sedang bersiap-siap untuk mengambil program Doktor.
Kisah nyata ini hendaknya menjadi inspirasi bagi para orang tua, khususnya ibu, untuk menanamkan kata-kata motivasi kepada Sang Anak yang kelak akan menjadi bekal menghadapi berbagai tantangan dalam hidup. Menjelang detik-detik ujian sekolah, setiap sekolah memberikan bekal atau motivasi kepada para murid agar memiliki sikap mental pantang menyerah.
Hubungan emosional antara anak dengan bunda akan mampu membangkitkan semangat juang anak. Anak yang memiliki kelekatan hati dengan sang bunda akan lebih mudah dibangkitkan motivasinya daripada anak yang memiliki pengalaman hubungan emosional negatif dengan ibunya.
Karena itu, para bunda jangan remehkan kata-kata mutiara untuk sang buah hati karena kata-kata itu mampu menundukkan gunung yang tinggi dan samudera yang sangat luas. Kata-kata yang menggugah semangat anak bukanlah kata-kata yang disusun bagaikan menyusun sebuah syair, akan tetapi kata yang keluar dari hati sanubari dengan penuh keikhlasan.[]

Usman Wakimin,
Ketua Yayasan An-Nashr, Jepara, Jateng 
sumber gambar : proudtobeamuslimah.wordpress.com

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya