» » Dulu, Indonesia Terkenal Bangsa Ramah

Dulu, Indonesia Terkenal Bangsa Ramah

Penulis By on Thursday, February 7, 2013 | No comments


Pada tahun delapan puluhan ketika kami tinggal di Perancis sebagai karya siswa, masyarakat di sana mengenal kami, orang Indonesia,  sebagai bangsa yang ramah, sopan, toleran dan mempunyai rasa persaudaraan yang kuat. Penerimaan mereka terhadap kami cukup baik. Mereka menghormati keberadaan kami, terutama mereka yang pernah berkunjung ke Indonesia, baik sebagai pekerja maupun sebagai turis. Komentar mereka selalu sama, Indonesia itu sangat indah pemandangannya, orang-orangnya ramah, bersahabat  dan murah senyum. Bahkan sikap baik mereka ini bisa berbeda ketika mereka berhadapan dengan orang asing yang berasal dari negara lain.
Meskipun negara Indonesia jauh lebih besar dibanding Perancis, baik dari luas maupun jumlah penduduknya, namun mereka banyak yang tidak tahu di mana letak Indonesia. Kami pernah punya pengalaman yang berkesan dan sekaligus membuat perasaan sedikit “dongkol”. Suatu saat saya dan istri berbelanja di supermarket Euromarche – St.Sebastian, Nancy. Ketika kami sedang antri di kasir, dari belakang sepasang suami-istri yang usianya jauh di atas kami datang akan antri juga. Untuk menghormati mereka, kami mempersilahkan mereka duluan antri di depan. Sambil mengucapkan merci mereka menanyakan asal negara kami. Kami jawab dari Indonesia dan pertanyaan selanjutnya, Indonesia itu dengan Bali sebelah mananya? Dekat atau jauh?  Dengan perasaan sedikit dongkol kami jelaskan bahwa Bali itu hanyalah salah satu dari 17 ribu pulau yang ada di Indonesia. Haah..incroyable! ..
mereka kaget. Kami yakin bahwa mereka berdua hanya salah satu contoh sekian banyak orang asing yang lebih mengenal pulau Bali dibanding Indonesia pada saat itu. Tidak mengapalah yang penting mereka mempunyai kesan bahwa orang Indonesia ramah-ramah.
Namun apa yang terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini? Dalam kurun waktu tiga dekade, karakter masyarakat sudah mulai bergeser. Terutama nampak pada anak-anak muda, kepedulian terhadap yang lain mulai luntur. Keramahan berkurang, terutama masyarakat  kota, mereka cenderung memikirkan diri sendiri. Hal ini dapat dilihat sepintas bagaimana mereka berperilaku di jalan raya, karena karakter suatu masyarakat dapat dilihat dari perilaku mereka di jalan raya. Etika berlalulintas dilanggar seenaknya.  Sudah jelas bahwa merekalah yang melanggar rambu-rambu lalulintas, ee.. malah mereka yang marah-marah ketika berpapasan dengan yang lain. Perangai anak-anak muda atau remaja juga semakin tidak terkendali. Hampir setiap hari media massa menampilkan peristiwa-peristiwa yang diakibatkan oleh pergeseran tersebut. Tawuran tidak hanya terjadi di lapangan sepakbola antar supporter, namun perkelahian antar pelajar juga terjadi di sekolah bahkan di jalan. Yang sangat menyedihkan lagi, sekelompok mahasiswa yang sering mendeklarasikan diri sebagai generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa juga melakukan tawuran di kampus, dan kejadian ini berlangsung di kota yang basis religinya dikenal cukup kuat. Berita serang-menyerang antar warga kampung juga mewarnai berita di media massa. Aparat keamanan harus turun untuk melerai mereka. Sering sekali pemicu dari peristiwa-peristiwa ini berawal dari sesuatu yang sangat sepele. Saat ini masyarakat mudah sekali di”kompori”, mereka tidak mampu atau tidak mau berpikir jauh ke depan.
Saya tidak bisa membayangkan lagi, bagaimana komentar masyarakat dunia yang selama ini mengagumi keramahan dan persaudaraan masyarakat Indonesia. Yang sangat memprihatinkan lagi, mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim, lalu sejauh mana Islam diimplementasikan sebagai way of life kita. Marilah kita tekankan pada anak-anak kita, betapa pentingnya rasa persaudaraan. Dalam Islam, persaudaraan selain dipakai sebagai salah satu ukuran kualitas ketaatan seseorang terhadap ajaran Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, juga merupakan salah satu kekuatan untuk memperkokoh kebersamaan. Rasa persaudaraan yang kuat dapat memberikan dorongan pada kita untuk memperkecil permasalahan, mengabaikan atau bahkan menghilangkannya.||
Prof Dr Indarto, DEA
Sekretaris Majelis Guru Besar Univ. Gadjah Mada Yogyakarta
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya