» » Dunia Sekolah : Hakikat Belajar

Dunia Sekolah : Hakikat Belajar

Penulis By on Monday, February 11, 2013 | No comments



RUA Zainal Fanani

Sore itu Bu Ilham tampak begitu gembira. Senyumnya yang khas terus mengembang.
“Wah …wah …wah, bahagianya Bu Ilham hari ini…. Dapat anugrah besar dari Allah ya, Bu?” tanya Bu Ruslina, melihat wajah Bu Ilham yang berbinar-binar. “Kalau mendapat nikmat dari Allah, bagus lho kalau dikabar-kabarkan…. Itu kata Nabi …”
“Iya… iya, saya datang kerumah Bu Ruslina memang mau menyampaikan kabar bahagia tentang anak saya  Abror.”
“Abror?”
“Iya… Abror. Dia naik kelas dengan nilai yang bagus-bagus. Memang, saya perhatikan bulan-bulan terakhir ini Abror mengalami kemajuan yang sangat pesat. Nilai-nilainya makin bagus. Boleh kan bu kalau saya membanggakannya. Soalnya dia benar-benar mirip almarhum ayahnya…”ada kebahagian diwajah Bu Ilham, namun juga tersembul sedikit kesedihan .”Kalau ayahnya masih hidup, pastilah dia bangga..”
“Pak Ilham pasti juga bangga punya istri seperti Bu Ilham yang bisa membimbing Abror dengan baik. Punya istri yang tegar dan begitu menyanyangi Abror…,” ujar Bu Ruslina sambil terseyum.
Mata Bu Ilham tampak berkaca-kaca. “Ini juga berkat bimbingan almarhum suami saya. Allah memang tidak mengaruniai usia yang panjang kepadanya. Tapi berkat dia, saya banyak berubah. Sebenarnya saya bukan wanita yang penyabar, Bu. Bawaan saya marah-marah melulu. Tapi suami saya selalu mengingatkan, pikiran anak yang buntu tak akan tertolong dengan dimarah-marahi. Kata suami saya, kalau anak terlalu sering dimarah-marahi ketika belajar, dia akan malas belajar. Bahkan dia bis benci dengan belajar. Yag lebih buruk lagi, katanya, bila Abror merasa dirinya lemah, dan akhirnya dia tumbuh jadi anak yang minder…na’udzubillah…”
Mendengar kisah Bu Ilham, Bu Ruslina diam-diam banyak belajar. Bu Ruslina menjadi semakin paham mengapa Pak Ruslina selalu mengingatkan untuk bersabar ketika mendampingi Angga belajar. Bila Angga tampak mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal atau pekerjaan rumah, kita harus menahan, kita harus menahan diri dari sikap jengkel. Malah dengan tegas Pak Ruslan mengatakan, “Sabar itu letaknya disitu. Ketika anak kita menghadapi kesulitan, meskipun itu bagi kita mudah saja, itulah saatnya kita membimbing dengan sabar. Jangan sampai anak kita yang tidak tepat. Marah-marah atau kasar, itu jelas sikap yang tidak tepat. Itu malah akan memadamka semangat belajar…”
“Lho…Bu Ruslina kok malah melamun…Tidak suka kalau saya kesini ya, Bu?”
“Oh… astagfirullah… tidak, saya senang Bu Ilham kesini kok bu…”Bu Ruslina tersadar dari lamunannya. Wajahnya memerah. Tersipu-sipu.
Tiba-tiba terdengar suara motor memasuki pekarangan .
“Alhamdulillah, kelihatannya Pak Ruslan sudah pulang, Bu?”
Bu Ruslina terseyum lebar. Dugaan Bu Ilham tidak salah, itu memang suara motor butut Pak Ruslan. Bu Ruslina segera berdiri, siap menyambut suami tercinta. “Sebentar ya Bu…Maaf…”
Tak lama kemudian Pak Ruslan masuk ke rumah, setela mengucapkan salam. “Wah, ada tamu istimewa rupanya ….”
“Pak Ruslan bisa saja … Menyindir ni ye … Saya memang tetangga yang paling bawel dan paling sering main ke sini …”
“Lho kok marah begitu … Justru Bu Ilham itu teladan bagi kami. Rajin bersilaturahmi. Kata Nabi, usianya akan bertambah dan rejekinya akan melimpah …! Ujar Pak Ruslan.
Bu Ilham tersenyum lebar. “Amien …!”
“Ini lho, Bi. Bu Ilham tadi cerita, Abror, putranya nilainya sekarang bagus-bagus …”
“Alhamdulillah. Dulu kan Bu Ilham pernah mengeluh, katanya nilai Abror kurang begitu bagus. Sekarang sudah banyak berubah rupanya …”
“Saya takut sekali dengan guru-guru Abror di sekolah. Anak saya sekarang banyak sekali mengalami perubahan. Di rumah saya merasakan sekali. Semangat belajarnya meningkat, disiplin sekolahnya juga bagus. Saya senang sekali melihat perkembangannya …” Bu Ilham tampak tak dapat menyembunyikan rasa bangganya.
“Kalau Abror mengalami banyak perubahan bagus, itu namanya Abror benar-benar belajar. Hakekat Belajar memang perubahan …,” komentar Pak Ruslan.
Bu Ilham dan Bu Ruslina mengernyitkan dahi. “Maksudnya, orang dikatakan belajar bila dirinya terjadi perubahan. Paling tidak, yang tadinya tidak tahu menahu, yang kurang terampil menjadi mahir, yang tidak bisa menjadi bisa. Itu kan perubahan namanya. Itulah hakekat belajar. Tapi bukan hanya itu, belajar juga berarti yang dulunya kurang teratur menjadi teratur, yang tidak disiplin menjadi disiplin, yang kurang bersemangat menjadi bersemangat, yang tidak shalat menjadi rajin shalat, yang kurang rapi menjadi rapi, dan sebagainya. Kalau mendengar cerita Bu Ilham, berarti Abror belajar begitu banyak di sekolah dan di rumah ..”
“Alhamdulillah Pak Ruslan. Saya salut pada guru-guru di sekolah …”
“Saya juga salut pada guru besarnya di rumah : Bu Ilham!” ujar Pak Ruslan sambil mengacungkan jempolnya.
Bu Ilham memonyongkan mulut sambil memejamkan matanya. Kedua telapak tangannya ditutupkannya ditelinga. Lucu dan ekspresif sekali …
“Begitulah tugas guru dimana-mana. Setiap guru harus tahu perkembanganya murid-muridnya. Ia harus merencanakan perubahan-perubahan apa yang harus dilalui ole murid-muridnya, memikirkan langkah-langkahnya, bagaimana membimbingnya, bagaimana mengukur keberhasilannya, dan sebagainya. Yang jelas, perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang disengaja, disadari atau diprogram. Dalam istilah pendidikan hal itu disebut perubahan yang internasional…”
“Istilahnya kok sulit diingat sih, Pak.”
“Istilahnya saja ang kelihatan keren.Tapi maksudnya ya seperti saya jelaskan tadi. Selain itu, perubahan yang terjadi harus positif, harus baik.Kalau berubah menjadi lebih buruk, itu bukan belajar yang kita maksudkan. Perubahan juga harus diusahakan terjadi atas usaha murid sendiri, yang disebut perubahan aktif …”
“Lalu?”
“Perubahan itu harus efektif, membawa manfaat yang bermakna bagi murid. Kalau tidak bermanfaat, buat apa susah-susah belajar. Dan yang lebih penting perubahan itu harus fungsional. Maksudnya, perubahan itu bersifat menetap pada diri murid sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan dapat digunakan. Apalagi bila perubahan baik itu lantas menjadi kepribadiannya. Itu benar-benar hebat …! Seperti Abror. Ya kan, Bu?”
“Iya, itu betul Pak. Tapi Pak Ruslan jangan pakai istilah yang sulit-sulit dong …”
“Tapi maksudnya Bu Ilham mengerti kan?”
“Oh mengerti, Pak. Istilahnya memang agak sulit. Tapi maksudnya jelas sekali …!”
“Nah itu berarti Bu Ilham sudah belajar dengan baik. Tadinya tidak paham sekarang merasa jelas sekali. Hebat ,,,!!!”ujar Pak Ruslan sambil ngeloyor masuk ke kamar.
Bu Ilham dan Bu Ruslina tampak bengong.

sumber gambar : nadhirroh.tumblr.com

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya