» » Dunia Sekolah : Ketuntasan Belajar

Dunia Sekolah : Ketuntasan Belajar

Penulis By on Monday, February 11, 2013 | No comments



RUA Zainal Fanani

Seperti biasa, kehadiran Bu Ilham selalu membuat suasana berubah menjadi heboh. Ada saja ucapan dan pertanyaannya yang membuat Pak Ruslan dan Bu Ruslina tergelak.
“Eh, Pak Ruslan, anak saya kan baru saja menerima rapor. Tahu tidak kata apa yang paling banyak ada di rapor itu?” tanya Bu Ilham dengan wajah lucu.
“Wah, Bu Ilham ini paling pintar bikin tebak-tebakan. Saya saja yang guru tidak pernah terpikir membuat tebak-tebakan sekreatif Bu Ilham …” komentar Pak Ruslan.
“Pak Ruslan tidak usah memuji-muji. Ini kan Cuma cara Pak Ruslan untuk berkelit dari pertanyaan saya, kan? ujar Bu Ilham.
Pak Ruslan dan Bu Ruslina hanya bisa tersenyum kecut. “Kami nyerah deh, Bu. Apa coba, kata yang paling banyak tertulis di rapor ana-anak kita …?? Bu Ruslina akhirnya menyerah.
Kini Bu Ilham yang tersenyum. “Setelah saya perhatikan, yang paling banyak tertulis di rapor anak saya adalah kata TUNTAS. Setiap nilai mata pelajaran kok ada saja keterangannya yang menyebut-nyebut kata itu. Ada sudah tuntas, belum tuntas … Pokoknya tuntas … tas … tas …tas …! Ane-aneh saja rapor anak zaman sekarang ..”
Bu Ruslina tampak tertawa melihat gaya Bu Ilham dalam berbicara. Memang begitulah Bu Ilham, selalu ekspresif bila berbicara. Kata-katanya pun terkesan jenaka.
“Pak Ruslan, Bapak harus menjelaskan kepada saya. Segala macam tetek-bengek kata TUNTAS itu maksudnya apa? Lha saya kan kurang paham. Kan gak ada hubungannya dengan nama sebuah pil yang terkenal itu kan?” Pak Ruslan dan Bu Ruslina kembali tertawa.
“Ya tentu saja tidak, Bu. Istilah tuntas itu konsekwensi dari model pembelajaran tuntas yang dianut oleh kurikulum baru di sekolah. Istila asingnya mastery learning …” Pak Ruslan mulai menjelaskan.
“Oalah, saya ini kan kurang paham tentang pendidikan di sekolah. Pak Ruslan jangan pakai kata-kata yang malah membuat saya semakin bingung. Apa tadi master  … ah …kalau master of ceremony saya tahu …”
“Lha Bu Ilham belum-belum sudah memotong kata-kata saya. Kan saya belum selesai menjelaskannya …”
Bu Ilham tampak tersipu-sipu. “Jangan marah, Pak inilah Bu Ilham … Sabar ya, Pak … Kali ini Bu Ilham beracting seolah sangat bersalah.wajahnya memelas.
Bu Ruslina tidak bisa menahan rasa gelinya. “Ya Allah,Bu Ilham ini memang seperti pelawak saja …”
Dengan tersenyum-senyum Pak Ruslan meneruskan penjelasannya, “Kurikulum baru kita memang berbasis kompetensi. Maksudnya, semua pembelajaran ditujukan pada terkuasainya kompetensi tertentu oleh siswa, jadi guru tidak hanya bertugas menyapaikan materi pelajaran sehingga bahannya habis. Tapi, yang dituntut adalah penguasaan anak terhadap materi itu, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor, tentang yang tiga ini lain waktu saya jelaskan.
Yang jelas, agar siswa benar-benar kompeten dalam kompetensi yang telah ditentukan, siswa harus mencapai standar ketuntasan. Itulah sebabnya, ukuran keberhasilan belajar anak adapada tercapai tidakya ketuntasan anak dalam menguasai sebuah kompetensi …”
“Aduh … aduh … aduh, kalau begini Pak Ruslan tampak sangat pintar, dan saya … semakin gak tampak bodohnya … Eh, nggak juga, Pak. Saya sedikit-sedikit juga paham kok …”
“Masih lumayan kalau Bu Ilham paham. Saya malah bingung, Bu …” komentar Bu Ruslina.
“Tapi, ada yang masih mengganjal di benak saya, lha kalau ada anak yang kemampuannya tidak sama, katakanlah lebih lemah dari teman-temannya sekelas, lalu bagaimana? Dia kan tidak pernah mencapai ketuntasan … Ketinggalan terus …”
“Wah pertanyaan Bu Ilham bagus sekali. Memang ini sangat mungkin terjadi. Bahkan di setiap kelas hampir selalu ada siswa seperti ini.”
“Solusinya?”
“Guru harus menyediakan waktu tambahan kepada siswa-siswa istimewa ini, hingga mereka pun akhirnya mencapai ketuntasan juga, ini disebut pembelajaran remidial …” jawab Pak Ruslan. “Pada waktu yang sama, siswa-siswa yang lain boleh diberi materi pengayaan, sehingga ketuntasan belajarnya semakin mantap,” tambahnya.
“Wah, berarti ada anak-anak tertentu yang ikut remidial berlanggana ya, Pak.” seloroh Bu Ilham.
Pak Ruslan tertawa. “Begitulah. Itu sudah menjadi tugas guru untuk memberikan layanan belajar kepada siswa-siwanya yang memiliki kemampuan berbeda-beda. Tapi, tetap saja guru harus berusaha agar semua siswanya mencapai ketuntasan belajar ..”
“Apa ya bisa semua anak mencapai ketuntasan belajar 100% to, Pak? Walaupun anaknya cerdas, rasanya sulit mencapai ketuntasan seperti itu …” komentar Bu Ruslina.
“Memang tidak mungkin semua anak tuntas 100%. Dalam hal ini sekolah dan guru dapat menentukan berapa prosen penguasaan anak terhadap kompetensi tertentu dianggap tuntas. Sekolah yang bagus dan maju mungkin menentukan 80%, sekolah yang lain mungkin 60%. Sekolah dapat menentukan sendiri berdasarkan kondisi masing-masing. Tapi, bila standarnya terlalu rendah, sekolah itu akan dinilai oleh masyarakat sebagai sekolah yang rendah kualitasnya. Tapi tetap saja tidak boleh sembarangan menentukannya …”
Bu Ilham tampak manggut-manggut. “Saya kok jadi merinding ya, Pak. Tugas guru itu sekarang ini ternyata sangat berat. Menghadapi anak-anak yang bermacam-macam polah-tingkahnya, berbeda-beda kemampuannya. Tapi semuanya harus mencapai ketuntasan belajar. Untung saya sudah bukan anak sekolah lagi. Seandainya saya masih sekolah, gurunya pasti tambah pusing”.
“Kalau Bu Ilham masih sekolah, Bu Ilham harus sekolah di SMP terus …”
“Maksudnya …?” Bu Ilham mengernyitkan dahinya.
“Sekolah Menengah Pelawak …!”
Bu Ilham memonyongkan bibirnya. Derai tawa Pak Ruslan dan Bu Ruslina pun terdengar keras.

sumber gambar : iin-aina.blogspot.com



Baca Juga Artikel Terkait Lainnya