» » Dunia Sekolah : Kompetensi Guru

Dunia Sekolah : Kompetensi Guru

Penulis By on Monday, February 11, 2013 | No comments



RUA Zainal Fanani

Ini adalah sore yang agak santai.
Kebetulan, Pak Ruslan dan Bu Ruslina sama-sama tidak ada acara. Seperti biasa, bila tidak banyak kesibukan Pak Ruslan memilih untuk menggunting-gunting koran, membuat kliping.
Ada artikel di koran yang menarik untuk dikliping ya, Bi?”
“Wah ya jelas banyak. Kan Abi sudah tiga minggu ini tidak membuat kliping …” Pak Ruslan sibuk membolak-balik koran-koran bekas untuk dipilih yang layak dikliping. “Artikel bagus-bagus begini sayang kan bila terbuang. Suatu saat nanti pasti banyak gunanya untuk dibaca lagi ….”
Bu Ruslina sendiri sangat mendukung hobi suaminya itu. Selain mengasyikan, hasil kliping itu juga sering dibaca di sela-sela kesibukannya mengatur rumah. Seperti biasa, ketika Pak Ruslan sibuk menggunting-gunting, tanpa diminta Bu Ruslina membuatkan secangkir teh hangat. Sore itupun Bu Ruslina melakukan hal yang sama. “Teh hangatnya, Bi …”
“Syukron …. Ummi memang istri teladan …, goda Pak Ruslan.
Bu Ruslina tersenyum sambil tak lupa sedikit memonyongkan bibirnya.
Pak Ruslan tertawa lebar.
Sejurus kemudian, baik Bu Ruslina maupun Pak Ruslan terlihat suntuk membaca dan memilih-milih isi koran yang menarik.
Tiba-tiba Bu Ruslina mengerutkan keningnya. “Lho Pak, ini kok ada berita tentang demo para calon guru di luar negeri … calon guru kok demo …”
“Oh itu. Itu berita tentang demo mahasiswa akademik kependidikan di sebuah negara di Amerika Latin,” jawab Pak Ruslan. “Ya, siapa saja boleh demo. Asal caranya santun …”
Bu Ruslina menggeleng-gelengkan kepalanya.” Abi ini nggak baca, kok bisa tahu isinya ….”
“Lho, itu kan berita beberapa hari yang lalu. Abi juga sudah baca.”
“Isi berita lengkapnya apa sih, Bi?” Bu Ruslina tampak tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
“Mahasiswa calon guru itu memprotes pemerintah negaranya karena syarat menjadi guru ditingkatkan dari lulusan akademik diploma menjadi sarjana, yah maksud pemerintah di sana baik juga, meningkatkan kompetensi para gurunya …” jawab Pak Ruslan.
“Kompetensi Guru? Lho, kemarin kan Abi baru menerangkan pada Ummi tentang kompetensi siswa. Ini kok sekarang kompetensi guru …”
“Iya dong, Mi. Setiap profesi apa saja kan harus ditangani oleh orang yang benar-benar kompeten, orang-orang yang memiliki wawasan, pengetahuan, kemampuan, mentalitas, ketrampilan, dan penguasaan atas segala aspek yang berkenaan dengan profesi itu. Guru juga begitu. Tidak semua orang bisa menjadi guru. Pasti ada syarat-syaratnya. Pendidikan di suatu negara pasti akan rendah kualitasnya bila para gurunya mempunyai kompetensi yang rendah dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu sangat masuk akal bila pemerintah sebuah negara mendorong pada guru dan calon gurunya untuk meningkatkan kompetensinya …”
“Abi kok jadi panjang begitu jawabannya. Sewot ya Bi?”
“Ah nggak. Abi kan paling bersemangat kalau diajak bicara tentang peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi guru dalam mengajar.”
“Bu Ruslina terdiam sesaat. Ia mencoba mencermati isi berita tentang demo calon guru itu. “Hubungannya kompetensi guru dengan calon guru ini apa, Bi?”
“Meningkatkan kualifikasi pendidikan adalah salah satu cara untuk meningkatkan kompetensi guru. Dulu misalnya, para guru kita cukup lulusan SPG atau PGA yang setingkat SLTA. Sekarang guru SD pun harus lulusan S1 alias sarjana. Kalau jenjangnya lebih tinggi, ilmu dan bekalnya akan lebih banyak dan lebih komplit.”
“Tapi kan itu tidak jaminan, Bi. Ada juga loh sarjana pendidikan yang mengajarnya nggak bagus. Itu Ummi dengar-dengar dari orang loh …”
“Tentu saja kemungkinan itu ada, oleh karenanya, yang Abi dengar dari para petinggi Departemen Pendidikan, kedepan akan diadakan uji kompetensi untuk para guru secara periodik.”
“Yang tidak lulus?”
“Yang tidak lulus harus mengikuti pendidikan, pelatihan, atau pembinaan khusus sehingga mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan.”
“Wah, Ummi ini pengandai-andainya kok sampai begitu. Ya, meski tidak kita inginkan, memang itu bisa saja terjadi. Kalau sudah dilakukan berbagai prosedur peningkatan kualifikasi pendidikan tetap tidak memenuhi standar kompetensi, ya dengan terpaksa dinyatakan tidak kompeten sebagai guru. Apa boleh buat …”
“Selain dengan peningkatan kualifikasi pendidikan dan uji kompetensi, Bi?”
“Masih banyak pendekatan yang akan ditempuh. Misalnya dengan pembinaan internal di sekolah, dengan supervisi profesional, baik dari para pengawas maupun dari kepala sekolah. Evaluasi dari lembaga independen, komite sekolah, masyarakat, dan sebagainya. Para guru juga harus mengikuti forum MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) dan KKG (Kelompok Kerja Guru). Banyaklah, Mi”
Mendengar penjelasan Pak Ruslan, Bu Ruslina tampak manggut-manggut. “Berat juga ya Bi, tantangan para guru kita di masa depan.”
“Kita tidak punya pilihan lain, pendidikan adalah masa depan sebuah bangsa. Karenanya, harus ditangani oleh orang-orang yang memenuhi syarat. Selain itu, ilmu pengetahuan dan teknologi juga makin maju. Para guru kita dituntut untuk terus menerus menyesuaikan pengetahuannya dengan perkembangan jaman. Kita harus ingat, bangsa kita juga harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Semua tugas berat itu harus dibebankan kepundak para insan pendidikan, memang idealnya yang menjadi guru dan para pendidik itu adalah orang-orang yang beriman, berkarakter, cerdas dan penuh dedikasi …”
Bu Ruslina kembali terdiam. Ia memahami kebenaran kata-kata Pak Ruslan. “Bi, berarti suatu saat nanti Abi juga harus uji kompetensi? Wah, jangan sampai tidak lulus ya, Bi. Nanti Ummi jadi ikut malu …”
Dan Pak Ruslan tertawa …

sumber gambar : kemdiknas.go.id

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya