» » Dunia Sekolah : Kompetensi Siswa

Dunia Sekolah : Kompetensi Siswa

Penulis By on Monday, February 11, 2013 | No comments



RUA Zainal Fanani

Ihwal sekolah yang harus pandai-pandai merancang pengalaman belajar bagi siswa-siswinya sudah mulai dipahami oleh Bu Ruslina. Bahkan Bu Ruslinapun juga mulai paham, di rumahpun orangtua dapat melakukan hal yang sama. Orangtua dapat memanfaatkan berbagai kejadian, atau sesuatu yang disaksikan bersama, sebagai pengalaman belajar bagi putra-putrinya.
“Bi, kalau misalnya Uminya mau mengajarkan kepada Angga pentingnya menguasai keterampilan mengelola rumah, berarti Ummi harus memikirkan pengalaman belajar apa yang akan diberikan kepada Angga, ya Bi?”
“Betul. Tapi Umi perlu menyesuaikan dengan tingkat usia Angga,” jawab Pak Ruslan. “Ummi sudah paham, Bi. Kalau Cuma menyapu lantai, mengelap meja kursi atau mencuci gelas, rasanya Angga sudah bisa …”
Pak Ruslan tersenyum. “Di jaman ini, banyak lho, orangtua yang lupa mengajarkan hal semacam itu. Banyak yang berpendapat, itu pekerjaan pembantu. Akibatnya bukan saja anak-anak mereka jadi tidak mapu melakukan hal yang sangat sederhana seperti itu, tetapi juga malah mengajari anak-anak mereka kemalasan. Yang lebih buruk secara tidak langsung mereka mengajarkan bahwa pekerjaan-pekerjaan seperti itu adalah pekerjaan hina, pekerjaan yang kurang berharga. Dan ini jelas keliru.” Urai Pak Ruslan.
“Iya ya, Bi. Banyak juga lho Ibu-ibu yang berpandangan, sebaiknya anak-anak disuruh belajar dan mengaji saja. Soal bersih-bersih rumah, cuci baju, memperbaiki genting bocor, memasakkan dan yang semacamnya sudah ada yang mengerjakan : simbok …”
Pandangan mata Bu Ruslina terlihat menerawang jauh ke masa kecilnya. Waktu sang bunda banyak melatihnya membereskan pekerjaa rumah.bunda pula yang mengajarinya memasak hingga sekarang ini Pak Ruslan selalu memuji-muji lezatnya masakan Bu Ruslina. Bu Ruslina juga meiliki ayah penuh kasih sayang, namun tegas dan disiplin. Soal shalat, ngaji, berangkat ke sekolah di awal waktu, kerapian pakaian benar-benar tidak bisa ditawar-tawar. Mengingat semua itu membuat mata Bu Ruslina berkaca-kaca. Meskipun dulu kadang terasa sedikit menyebalkan, tapi kini semua terasa manfaatnya.
“Kok Ummi mau menangis?” tanya Pak Ruslan yang melihat perubahan mimik Bu Ruslina.
“Ummi jadi ingat Bunda dan Ayah almarhum. Mereka telah memberikan pengalaman belajar yang luar biasa kepada Ummi. Ummi juga harus melakukan hal yang sama pada anak kita; Angga. Meski pengalaman belajar yang kita ajarkan harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan jaman ini dan jaman yang akan datang …”
Para pengelola sekolah sebenarnya melakukan hal yang sama. Mata pelajaran boleh sama, tapi masing-masing sekolah memikili kemampuan memberikan pengalaman belajar yang berbeda. Sekarang ini, melalui kurikulum yang baru, pemerintah telah menentukan berbagai kemampuan yang harus dimiliki oleh para siswa. Mulai dari kemampuan yang bersifat umum untuk masing-masing jenjang, hingga kemapuan yang bersifat khusus untuk masing-masing mata pelajaran beserta rinciannya. Berbagai kemampuan itulah yang disebut kompetensi …”
Rupanya Pak Ruslan sengaja membelokkan ke dunia sekolah, supaya bu Ruslina tidak semakin sedih.
“Oh apa itu sebab kurikulumnya disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bi?” tanya Bu Ruslina agak serius.
“Benar. Nama resminya kurikulum 2004, tapi lebih kita kenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi),” jawab Pak Ruslan.
“Yang disebut kompetensi itu meliputi kemampuan apa saja sih, Bi?”
“Ya meliputi pengetahuan, sikap, keterampilan, pola pikir, pola pandang dan sebagainya. Dan kompetensi inilah yang kemudian ditentukan oleh pemerintah agar dapat dikuasai secara tuntas oleh para siswa melalui kegiatan pembelajaran. Adapun kegiatan pembelajaran itu ya … pemberian pengalaman belajar …”
Kali ini Bu Ruslina merasa agak kurang nyaman. Abi kok bicaranya kayak penatar saja. Santai dikitlah, Bi”
“Ya … ya … ya, kalau ada yang belum jelas, mana yang mau ditanyakan?”
“Jadi, … bagaimana caranya supaya guru-guru dapat memberikan pengalaman belajar kepada murid-muridnya, Bi”
“Tentu saja para guru dituntut untuk membuat perencanaan pembelajaran. Mereka harus merancang pemberian pengalaman belajar itu secara tertulis, lalu harus mengevaluasi ketercapaiannya sesuai dengan kompetensi yang dikehendaki.”
“Lalu … bagaimana caranya para guru tahu bila kompetensinya telah tercapai, Bi?”
“Dalam rencana pembelajaran yang disusun itu, para guru sudah menentukan hal-hal apa saja yang menunjukkan bahwa pembelajaran mencapai hasil yang baik. Tanda-tanda keberhasilan itu disebut indikator keberhasilan. Jadi, kalau para siswa dalam evaluasinya menunjukkan telah mampu memenuhi indikator yang telah ditetapkan, ya pembelajaran disebut berhasil atau tuntas …” jawab Pak Ruslan.
“Wah, tugas guru itu ternyata cukup rumit dan berat ya, Bi.”
Pak Ruslan tersenyum. “Yah, tugas profesional seorang guru memang seperti itu. Itupun masih harus ditambah dengan kewajiban-kewajiban lain seperti memberi keteladanan, dan sebagainya. Itulah sebabnya tidak semua orang bisa menjadi guru di sekolah. Bukan hanya untuk para siswa, untuk menjadi guru juga ada standar kompetensinya …”
Bu Ruslina manggut-manggut tanda semakin mengerti. Tiba-tiba wajanya berubah ceria.
Pak Ruslan terlihat heran. “Ada apa, Mi?”
“Kalau Ummi, sebagai istri dan ibu sudah memenuhi standar kompetensi belum ya, Bi?” tanya Bu Ruslina sambil nyengir. Awas kalau Abi bilang belum ..!
“Nanti dulu, Abi kan belum menyusun indikatornya …”
Mereka berduapun tergelak []

sumber gambar : nonaelissa.blogspot.com

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya