» » Kesalahan Lazim Orangtua dalam Mengasuh Anak

Kesalahan Lazim Orangtua dalam Mengasuh Anak

Penulis By on Wednesday, February 20, 2013 | No comments



Anak adalah amanah Allah Subhanallah Wa Ta’ala. Agar kita amanah, kita perlu tahu apa kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan orangtua ketika mengasuh anak sehingga dapat menghindarinya. Setidaknya ada 6 kesalahan yang biasa dilakukan oleh orangtua, yaitu :
Pertama tidak konsisten. Konsistensi atau keajegan adalah kunci penting dalam mengasuh anak. Orangtua seringkali tidak konsisten dalam mengasuh anak mereka, terutama terkait dengan penerapan aturan. Misalnya, suatu saat ketika anak tidak shalat orangtua memarahi anak, tetapi di saat yang lain anak dibiarkan saja ketika tidak mengerjakan shalat. Contoh lain, orangtua mengatakan akan menghukum anak ketika anak shalatnya main-main, tetapi ketika anak benar-benar shalatnya main-main tidak dihukum. Ketidakkonsistenan dalam menerapkan aturan kadang juga terjadi karena perbedaan penerapan aturan antara ayah dengan ibu. Misalnya ketika bersama ayah anak dihukum ketika melanggar aturan, sedangkan ketika bersama ibu anak tidak dihukum meskipun melanggar aturan. Ketidakkonsistenan ini akan menyebabkan kebingungan pada anak. Anak menjadi binggung, ”perilaku apa diperbolehkan dan tidak diperbolehkan.”
Kedua tidak memberikan teladan. Semua orangtua pasti menginginkan anaknya berperilaku baik, bahkan seorang penjahat ingin anaknya berperilaku baik. Akan sulit bagi orangtua untuk mendapatkan anaknya berperilaku baik ketika dirinya tidak memberikan contoh nyata pada anak. Hal ini dikarenakan ”meniru” adalah cara belajar yang sejak bayi dikaruniakan pada Allah Subhanallah Wa Ta’ala pada seorang anak manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi yang tuli, tidak mampu mengoceh karena ia tidak mampu mendengar suara manusia, bayi yang tuli tidak mampu meniru  pembicaraan orang dewasa. Selain itu, perkembangan kognitif anak yang belum mampu berpikir abstrak, tidak akan mampu mencerna kata-kata tetapi mampu mencerna perilaku yang nyata. Oleh karena itu, perilaku orangtua cara paling efektif membentuk perilaku anak daripada ribuan kata nasehat.  
Ketiga tidak menspesifikkan perilaku buruk anak. Seringkali ketika orangtua mendapati anaknya berperilaku buruk, hanya mengatakan jangan ”nakal”. Kata ”nakal” adalah kata yang membingungkan anak, bahkan jika orangtua ditanya apa arti ”nakal” orangtua juga akan mengalami kesulitan untuk menjelaskannya. Kata ”nakal” merupakan kata yang memiliki variasi perilaku yang sangat luas, kata nakal biasanya digunakan untuk menggambarkan perilaku mulai dari perilaku usil sampai dengan perilaku membahayakan nyawa orang lain. Arti kata ”nakal” yang luas akan sulit dipahami oleh anak. Sebaiknya orangtua menghindari penggunaan kata ”nakal” untuk memperbaiki perilaku anak. Misalnya ketika anak memukul temannya, orangtua dapat menggunakan kata”memukul teman” untuk menggantikan kata ”nakal” dalam memperbaiki perilaku anak. Penggunaan kata yang spesifik akan diterima jelas oleh anak dan orangtua juga menjadi lebih fokus dalam memperbaiki perilaku anak.
Keempat tidak serius untuk menangani perilaku buruk anak. Hampir semua orangtua menginginkan anaknya berperilaku baik, tetapi sangat sedikit orangtua yang berusaha secara serius memperbaiki perilaku buruk anak. Hal ini dapat dikarenakan kurangnya waktu yang dimiliki oleh orangtua untuk memperhatikan perilaku anak ataupun karena ketidaktahuan orangtua mengenai bagaimana cara memperbaiki perilaku anak. Usaha serius orangtua dalam memperbaiki perilaku anak dapat dilihat dari apa yang dilakukan oleh orangtua untuk menghentikan perilaku buruk anak. Orangtua yang serius pertama-tama akan menetapkan perilaku buruk apa yang akan diubah (misalnya: memukul teman), setelah itu orangtua akan mencari tahu sebab anak melakukan hal tersebut, menyusun cara/metode untuk menghentikan perilaku tersebut, menerapkannya, dan kemudian mengevaluasi cara/metode yang digunakan. Hal ini sangat jarang dilakukan orangtua, yang paling sering dilakukan oleh orangtua adalah marah/menasehati anak ketika anak berperilaku buruk, nasehatpun kadang cuma sesekali dilakukan oleh orangtua.  
Kelima terlalu berlebihan dalam merespon perilaku anak. Orangtua kadangkala tidak memahami tahap perkembangan anak sehingga dalam mendidik perilaku anak menggunakan standar orang dewasa, sehingga yang terjadi kemudian adalah anak dituntut orangtua untuk berperilaku seperti orang dewasa. Tuntutan yang terlalu tinggi ini akan membuat anak tertekan, sehingga bukannya anak menjadi berperilaku baik, tetapi malah berperilaku buruk karena stress dengan tuntutan orangtua. Misalnya, anak usia prasekolah dituntut oleh orangtua untuk selalu duduk manis, tidak boleh berlarian, tidak boleh naik-naik meja/pohon. Contoh yang lain, anak usia sekolah SD sudah dituntut untuk mampu bekerjasama dengan teman-temannya, dituntut untuk memahami teman-temannya. Seorang remaja SMP dituntut untuk tidak terpengaruh temannya, ini juga sebuah tuntutan yang akan sulit dipenuhi oleh remaja. Oleh karena itu, orangtua perlu memahami perkembangan anak sehingga tidak berlebihan dalam merespon perilaku anak.
Keenam memiliki harapan yang tidak realistis terhadap anak. Orangtua yang tidak memahami karakteristik anaknya seringkali memiliki harapan yang tidak realistis terhadap anak. Orangtua lupa bahwa anaknya merupakan pribadi unik yang tidak bisa dibandingkan dengan orang lain. Anak yang banyak aktivitas (overaktif) akan tidak realistis bila diminta untuk diam, sebaliknya anak yang pendiam tidak realistis jika diminta untuk banyak beraktivitas. Sebagian orangtua di Indonesia pada khususnya memiliki anggapan anak yang baik adalah anak yang pintar dan menurut, sedangkan anak yang pintar tapi kritis dianggap anak yang nakal/bermasalah. Sebagian orangtua juga menganggap bahwa anak yang pandai adalah anak yang kemampuan akademiknya baik, sedangkan anak yang punya kemampuan di bidang yang lain dianggap bodoh bila kemampuan akdemiknya tidak baik. Ini artinya banyak dari kita sebagai orangtua tidak mampu memahami dan menghormati karakteristik anak yang unik. Allahu’alam bis shawab. || 

Dr. Hepi Wahyuningsih, Dosen Fakultas Isipol Universitas Islam Indonesia.
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya