» » Berkata Jelas dan Mudah Dipahami

Berkata Jelas dan Mudah Dipahami

Penulis By on Thursday, March 28, 2013 | No comments




Kita senantiasa berkebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Ada begitu banyak kebaikan yang hanya kita bisa hasilkan apabila berhubungan dengan orang lain. Untuk itulah, jika ingin sukses menghasilkan kebaikan yang banyak maka wajiblah bagi kita meningkatkan keterampilan diri dalam berkomunikasi. Keterampilan yang rendah dalam berkomunikasi betul-betul akan memperlambat kesuksesan upaya menyampaikan maksud baik kita kepada orang lain atau menerima maksud baik orang lain yang disampaikan kepada kita.
 Jika berbicara dengan orang lain, seseorang hendaklah berbicara dengan kata-kata yang jelas. Tidak terburu-buru dalam pengucapan kata dan kalimat. Tidak menyembunyikan sesuatu yang mestinya ia jelaskan. Hendaklah ia mengusahakan ucapan yang rinci dan jelas sehingga kawan bicara mengerti tanpa adanya kesulitan dan hambatan yang berarti.
Tidak jarang kita saksikan orang yang bicara dengan begitu cepat. Kata-kata yang keluar terdengar seperti orang bergumam. Kawan bicaranya berkata, ”Apa yang baru saja kamu katakan?” Cara seperti ini bukanlah cara yang baik. Tidak selaras dengan cara yang diajarkan dan dicontohkan Nabi. Beliau mencontohkan dengan baik berbagai upaya berkata yang jelas dan indah hingga mudah dipahami kawan bicara.
Aisyah memberi kesaksian tentang cara berbicara Rasulullah. Pembicaraan Rasulullah adalah rinci. Tidak ada huruf yang tumpang tindih dengan huruf yang lain. Tidak ada kalimat yang menjadi samar karena bercampuran tumpang tindih dengan kalimat lain. Jika ada tukang hitung hendak menghitung kata-kata yang beliau ucapkan niscaya ia akan bisa hitung kata-kata yang terucapkan oleh lisan Nabi. Beliau begitu berhati-hati dan lihai dalam bicara.
Demikianlah seharusnya kita bicara. Isinya bermutu, pengucapannya jelas, indah, memahamkan pendengar dan mempengaruhi kebaikan. Begitulah, maksud pembicaraan tercapai. Karena maksud pembicaraan adalah memahamkan orang yang mendengarkannya. Jika ada cara yang memudahkan pembicaraan dipahami maka itulah cara yang lebih baik dan lebih utama.
Pemilihan kata dalam bahasa yang kita gunakan untuk berkomunikasi dengan suatu kaum begitu penting kita perhatikan. Agar pembicaraan kita terasa terang dan jelas bagi pendengar. Tidaklah cukup seorang pembicara berupaya mengucapkan kata-kata dengan jelas. Pendengar tetap saja akan kesulitan jika kalimat yang terdengar, tersusun oleh kata-kata dari bahasa yang ia tidak mengerti.
Sebagian pembicara tidak peka dan tidak menghayati keadaan pendengar. Ia berbicara dengan gaya bahasa dan pilihan kata yang cocok untuk suatu kaum padahal ia sedang bicara dengan kaum yang tidak pandai memahami kata-katanya. Saat ia bicara dengan penduduk desa yang tidak lulus SD atau SMP, tetap saja banyak istilah keinggris-inggrisan yang biasa ia gunakan di forum diskusi para sarjana. Para pendengar terangguk-angguk tapi tidak paham apa yang ia dengar. Ia dianggap pintar tapi maksud pembicaraannya tak tercapai.
Sebagian pembicara tidak fasih mengucapkan kata-katanya. Tidak jelas hingga sebagian pendengar berkerut dahi dan menduga-duga apa sebenarnya kata yang ia dengar.
Nabi mencontohkan pengulangan kata-kata hingga tiga kali sebagai usaha untuk memahamkan pendengar. Jika sekiranya perkataan sudah dipahami maka tidaklah perlu dilakukan pengulangan. Kita mendapati bahwa sabda beliau di begitu banyak khutbah di hadapan berbagai kelompok masyarakat tidak diulang-ulang pengucapannya. Tetapi jika pendengar belum paham karena tidak mengetahui arti kata dengan baik maka beliau mengulangi hingga orang tersebut paham. Atau jika disebabkan sulit didengar karena jarak ataupun karena adanya kebisingan maka beliau mengulanginya.
Jika memberi salam, beliau ulang hingga tiga kali. Tidak lebih dari tiga kali. Jika sudah mendatangi suatu rumah dan telah memberi salam tiga kali namun tidak mendapat jawaban maka beliau pergi meninggalkan.
Demikian juga ketika meminta ijin untuk memasuki rumah seseorang. Beliau mengetuk pintu dan meminta ijin tiga kali. Jika tidak ada jawaban beliau pergi meninggalkan.
Begitulah upaya memperjelas pesan komunikasi kepada kawan bicara. || 

Bagus Priyosembodo, Penulis Kajian Utama Majalah Fahma.
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya