» » Biarkan Anak Belajar dari Konsekuensi

Biarkan Anak Belajar dari Konsekuensi

Penulis By on Tuesday, March 19, 2013 | No comments


     
Haqi kelas 4 SD dan Azam kelas 1. Mereka kakak adik. Di rumah mereka menghadapi aturan yang sama. Orang tuanya menetapkan setelah shalat Isya mereka harus belajar dan membereskan perlengkapan sekolah untuk esok hari. Haqi tergolong anak yang sudah bisa tertib. Setelah Isya ia belajar kemudian membereskan perlengkapan belajarnya. Di sekolah prestasinya cukup bagus. Sedang Azam tergolong belum setertib kakaknya. Dengan alasan tidak ada PR, masih lelah, ia cenderung menunda-nunda tugasnya. Belajarnya belum mapan. Juga belum terampil menyiapkan perlengkapan sekolahnya. Beberapa kali ada alat tulisnya yang tertinggal di rumah. Sehingga belajarnya di sekolah menjadi terganggu. Orang tuanya harus lebih banyak  memperhatikan dan terlibat dalam acara setelah shalat Isya. Agar Azam semakin mapan mengikuti aturan di rumah setelah shalat Isya. 

Dengan konsekuensi anak belajar memutuskan
Orang tua memiliki harapan pada anak-anaknya. Harapan  berupa kebaikan untuk dirinya dan anaknya. Baik keyakinannya, akhlak atau perilakunya, perbuatannya, cita-citanya, serta kebahagiaan hidupnya   Di masa sekarang maupun yang akan datang. Di dunia maupun di akhirat.  Ya, anak adalah dambaan orang tua. Keberhasilan anak adalah impian orang tua, sekaligus keberhasilan orang tua.
Mewujudkan harapan salah satunya dengan menerapkan peraturan. Dalam peraturan ada harapan. Peraturan inilah yang akan memberitahu anak bahwa orang tua mengharapkan cara hidup, perilaku, dan perbuatan tertentu pada mereka. Dengan harapan dan peraturan ini pula anak akan terarah dan terbimbing hidupnya.
Begitu seseorang telah memutuskan bersyahadat – mengikrarkan bahwa ’tidak ada sesembahan  yang hak selain Allah, dan Muhammad adalah rasul Allah,’ maka ikrarnya itu memberikan konsekuensi yang luar biasa. Dengan bersyahadat, maka idiologi, akhlak, cara hidup, peraturan dan cita-citanya akan berbeda dengan yang tidak mengikrarkan syahadat. Dengan  syahadat, ia memiliki peraturan yang syar’i. Dan ia paham ada konsekuensi yang akan diterimanya. Begitu pula sebaliknya, jika ia tidak bersyahadat pasti ada konsekuensi yang akan diterimanya pula.
Mengikuti peraturan akan mendatangkan konsekuensi positif. Dan tidak mengikuti peraturan akan mendatangkan konsekuensi negatif. Dengan pengetahuannya  orang akan memutuskan mengikuti aturan atau tidak. Jika keputusannya baik, akan mendapat konsekuensi positif. Sebaliknya, jika keputusannya buruk akan mendapat konsekuensi negatif. Begitu juga halnya pada anak. Peraturan yang diterapkan untuk anak juga mendatangkan konsekuensi. Jika anak mengikuti aturan akan mendapat konsekuensi positif. Jika tidak mengikuti aturan anak akan mendapat konsekuensi negatif. Dengan konsekuensi anak akan belajar memutuskan.
Ada banyak peraturan yang harus dihadapi anak. Dan ternyata tidak cukup mudah menjadikan anak selalu mentaati aturan. Bisa karena anak masih kesulitan mencerna dan menerima aturan itu. Bisa juga adanya masalah psikis yang kurang mendukung anak untuk menerima aturan itu. Agar anak lebih mudah menerima aturan, perlu penjelasan atau alasan yang perlu disampaikan pada anak. Penting untuk membuat perincian harapan dari aturan yang ditetapkan,  sesuai dengan tingkat usia dan perkembangan anak.
Paragraf awal mencontohkan orang tua yang menetapkan aturan agar malam hari setelah shalat Isya anak belajar dan membereskan peralatan sekolah. Jika anak belajar akan paham dan bisa mendapatkan nilai yang bagus. Jika tidak belajar menjadi tidak paham dan mendapatkan nilai jelek. Untuk membereskan peralatan sekolah, bagi anak kelas satu masih perlu bimbingan detail. Misalnya memasukkan buku sesuai jadwal pelajaran, pensil, penghapus, bekal minum, mukena ke dalam tas dengan pasti. Jika anak cenderung menggampangkan tugas menyiapkan perlengkapan sekolahnya, ia akan menundanya. Bisa jadi lupa. Akhirnya kalau ada peralatan yang tertinggal ia akan menanggung akibatnya sendiri di sekolah. Itu konsekuensinya.
Jika peraturan telah ditetapkan dan diperjelas harapannya, maka langkah berikutnya adalah menjelaskan konsekuensi dari keputusan. Anak akan mendapat konsekuensi positif atau negatif sesuai keputusan yang diambilnya.   Konsekuensi harus ditegakkan dan konsisten. Dengan begitu anak akan belajar menjadi terampil mengambil keputusan yang baik. Kecenderungan anak yang mengalami akibat keputusannya berupa konsekuensi negatif, akan lebih mudah menyadari untuk memilih keputusan yang baik. Karena ia telah mengalami ketidaknyamanannya, ia sendiri yang harus bertanggung jawab atas keputusannya. Selanjutnya ia tidak ingin mengulanginya lagi. Anak akan lebih nyaman mengikuti aturan. Memilih tingkah laku yang bertanggung jawab. Yang tidak menyusahkan dirinya sendiri.
Anak membutuhkan proses untuk bisa terampil memutuskan yang baik. Orang tua berkewajiban membimbing anak menjalani berbagai proses menuju cerdas dan terampil mengambil keputusan yang baik. Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang bertanggung jawab atas keputusannya sendiri. Siap dengan konsekuensi yang dihadapinya.  Dan yang ideal adalah anak-anak menjadi pribadi unggul yang mampu memutuskan yang baik dan benar. || 

Asnurul Hidayati, Kepala Sekolah MI Darussalam Sleman Yogyakarta.
Foto : Muhammad Syahid Askarullah
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya