» » Dunia Sekolah : Menanamkan Agama

Dunia Sekolah : Menanamkan Agama

Penulis By on Monday, March 18, 2013 | No comments



“Bi, kalau Umi membaca koran atau mendengarkan berita-berita di radio, rasanya kok Umi jadi sedih ya…. Banyak kejadian aneh-aneh…. Ya korupsi, ibu tega membunuh anak-anaknya sendiri, perzinahan dan perkosaan di mana-mana, pergaulan bebas, perampokan, penipuan… ih… ngeri…,” ujar Bu Ruslina di suatu sore.
Pak Ruslan tersenyum. “Yaah, namanya juga koran, Mi. berita-berita yang seperti itulah yang laku…” ujar Pak Ruslan sambil menyeruput teh hangat yang disajikan Bu Ruslina.
“Ya, tapi Umi jadi merasa was-was. Apalagi kalau Umi memikirkan masa depan Angga. Dia kan amanah Allah. Kita harus mendidiknya sebaik mungkin…”
Pak Ruslan mengangguk-angguk tanda setuju. “Kita harus…,”
Tiba-tiba terdengar suara salam yang cukup keras. Bu Ruslina terlihat agak kaget.
“Aduh, astaghfirullah, muaaaaaaf sekali… suara saya mengagetkan ya….” Ya suara yang sudah dikenal. Siapa lagi kalau bukan Bu Ilham. Suaranya keras, nadanya pun khas. “Saya mengganggu lagi ya?” tanyanya ketika muncul dari balik pintu.
“Kedatangan Bu Ilham selalu kami rindukan….”
Bu Ilham memonyongkan bibirnya. “Beginilah kalau punya tetangga Bu Ilham. Cerewet, bawel, dan menyebalkan…”
“Itu tidak benar Bu Ilham. Kami sangat senang punya tetangga yang selalu membuat suasana menjadi meriah, cerdas, dan … peduli pada dunia pendidikan…,” sergah Pak Ruslan.
Bu Ilham kembali memonyongkan bibirnya. Kali ini lebih panjang dari biasanya… lucu sekali.
Pak Ruslan dan Bu Ruslina tertawa geli. “Ya inilah yang selalu kami rindukan dari Bu Ilham. Selalu tampak ceria…”
“Ceria bagaimana? Saya justru sangat sedih kali ini. Saya buru-buru ke sini memang mau bertanya pada Pak Ruslan. Menurut saya ini sangat penting…,” katanya sambil duduk di kursi tamu. “Sekarang ini berita di koran kok ngeri-ngeri ya, Pak. Apa orang-orang yang menjadi pelakunya itu di sekolahnya dulu nggak menerima pelajaran agama ya Pak?”
Mendengar pertanyaan Bu Ilham, wajah Pak Ruslan terlihat sangat sedih. “Saya juga prihatin sekali, Bu. Sebagai seorang pendidik, kondisi masyarakat kita yang seperti ini benar-benar membuat saya sedih. Kalau soal pendidikan agama, sebetulnya undang-undang pendidikan kita sudah mewajibkan semua  jenjang pendidikan, dari yang terendah hingga tertinggi untuk memberikan pendidikan agama kepada para siswanya….”
“”Tapi kok…” Bu Ruslina tiba-tiba memotong. Seperi memendam ketidaksabaran.
“Betul, Bu. Saya juga sering jengkel. Tidak usah di koran-koran, di sekitar kita saja banyak kita saksikan hal-hal yang kurang beres. Banyak yang tidak shalat, kena narkoba, pergaulan bebas, penampilan remaja-remaja kita yang seronok. Seperti kambing dibedaki. Yang laki-laki pakaian dan rambutnya acak-acakan, pakai anting-anting segala. Malah saya lihat ada yang anting-antingnya di hidung. Ini kan generasi hidung sapi…!” seloroh Bu Ilham sambil memonyongkan bibirnya.
Pak Ruslan dan Bu Ruslina tergelak. Istilah-istilah yang pergunakan Bu Ilham memang menggelitik.
“Berarti pendidikan agama di sekolah-sekolah tidak berhasil ya, Pak?” tanya Bu Ilham.
“Yah, melaksanakan pendidikan agama memang tidak mudah, Bu Ilham. Pendidikan agama kan berbeda dengan pelajaran matematika atau sains. Pelajaran-pelajaran umum seperti ini kan lebih banyak berhubungan dengan pengetahuan…”
“Lebih banyak masuk ranah kognitif ya, Pak?” potong Bu Ilham.
“Subhanallah. Bu Ilham memang cerdas. Masih ingat rupanya…,” komentar Pak Ruslan.
Bu Ilham memonyongkan bibirnya. “Ya, ini karena gurunya yang pintar. Pak Ruslan….!”
Pak Ruslan tersenyum. “Nah, kalau soal pengetahuan dan hafalan-haafalan, atau sekadar menjawab soal-soal seperti ini tidak terlalu sulit. Yang tidak gampang ya yang tidak berhubungan dengan pendidikan watak, kepribadian, agama, dsb. Pendidikan yang baik tidak sekadar mencerdaskan otak, tetapi juga membangkitkan jiwa. Termasuk di dalamnya jiwa beragama….” Urai Pak Ruslan.
“Guru-guru agama kita itu bagaimana sih, Bi?” tanya Bu Ruslina.
“Untuk penanaman agama dan upaya membangkitkan jiwa seharusnya tidak hanya menjadi tugas dan tanggungjawab guru agama. Mestinya, ini menjadi sebuah system yang didesain dan dilaksanakan oleh semua komponen sekolah. Guru agama, karena keterbatasan waktu dan tenaga biasanya lebih berkonsentrasi pada aspek pengetahuan dan keterampilan keagamann saja…”
“Lho, Pak Ruslan, aspek-aspek dalam pendidikan agama itu apa saja sih?” tanya Bu Ilham yang tampak penasaran sekali.
“Menurut pendapat saya, khusus untuk pendidikan agama ada cukup banyak aspek yang harus dikuasai oleh siswa. Pertama, pengetahuan agama. Ini termasuk ranah kognitifnya. Lalu, kedua, keterampilan agama, misalnya anak bisa membaca Alquran, bisa melakukan gerakan-gerakan shalat, wudhu, dll…”
“Yang ini masih mudah diberikan ya, Bi,” ujar Bu Ruslina.
“Ya. Yang ketiga adalah keyakinan keagamaan. Ini mulai agak berat. Guru harus mampu meyakinkan para siswanya, sehingga mereka meyakini banar bahwa ajaran agamanya benar. Ini masuk pada aspek akidah. Akibatnya, bila sudah yakin, siswa akan bersedia membela dan memperjuangkan agamanya. Lalu, yang keempat adalah pengamalan agama. Maksudnya, siswa yang sudah diberi pendidikan agama mestinya dapat melaksanakan ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Dia rajin beribadah, akhlaknya bagus, dsb…”
“Nah, yang ini yang paling sulit, Pak.”
 “Oh, ada yang lebih berat lagi, yaitu yang kelima. Orang biasa menyebutnya sebagai rasa atau penghayatan keagamaan. Banyak orang tampaknya rajin beribadah tapi ternyata tidak tercermin dalam perilaku dan cara berpikirnya. Orang seperti itu hanya beribadah sebagai hal rutin, formalitas. Ibadahnya mungkin kurang terhubung dengan aspek rasa dan kurang dihayati bahwa semuanya terhubung kepada Allah Swt. kita ini kan seharusnya sadar bahwa Allah senantiasa mengawasi perilaku kita. Bahkan Allah juga membaca dan mendengar kata hati kita….”
Bu Ilham tampak manggut-manggut mendengarkan penjelesan Pak Ruslan. “Yah, kalau tugas dan tanggungjawab seberat itu, tidak masuk akal bila hanya dibebankan kepada satu dua guru ya, Pak. Alhamdulillah, saya tidak salah pilih. Sekolahnya Abror rasanya sudah berkesadaran seperti itu. Semua guru dan karyawannya bukan hanya guru, tapi juga ustadz, pendakwah, dan pemberi contoh. Program-programnya selalu terkait dengan agama. Saya juga salut. Mestinya semua sekolah seperti itu…,” ujar Bu Ilham.
“Guru-guru di sekolah Abror juga beruntung punya orangtua dan wali murid seperti Bu Ilham. Cerdas dan peduli…!”
Bu Ilham memonyongkan bibirnya, “Ah, ini ranah penggombalan…!”

RUA Zainal Fanani, Ketua Yayasan SPA Yogyakarta
sumber gambar : mamabunda.com

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya