» » Membiasakan Anak Memuliakan Tamu Sejak Dini

Membiasakan Anak Memuliakan Tamu Sejak Dini

Penulis By on Monday, March 18, 2013 | No comments



Sore itu kami sekeluarga sedang duduk santai di sofa. Anak-anak kami tampak antusias mau mendengarkan ibunya mendongeng. ”Ayo dong Bu, kapan ceritanya dimulai?” tanya Hasany. “Oke, siapa takut! Kalau semua sudah siap, ibu akan bercerita sekarang.”Jawab ibunya anak-anak penuh semangat.
Dikisahkan dalam sejarah bahwa Nabi Sulaeman ‘Alaihissalam pernah ditegur oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Pada saat Nabi Sulaeman ‘Alaihissalam didatangi tamu dari kaum kafir, beliau tidak sepenuh hati memuliakan tamunya itu. Nabi Sulaeman ‘Alaihissalam merasa tidak perlu memuliakan dan menghargai tamunya itu seperti beliau memuliakan dan menghargai tamunya dari sesama muslim. Toh dia bukan ummatku yang beriman, begitu yang ada dalam pikiran beliau. Nabi Sulaeman ‘Alaihissalam hanya memberinya minum dan berkata seadanya.
Setelah tamu itu pulang, datanglah malaikat Jibril menyampaikan teguran Allah.  "Wahai Nabiullah, Allah menegurmu mengapa engkau perlakukan tamu seperti itu" "Bukankah dia (tamu itu) dari golongan kafir?" Nabi Sulaeman menjawab. "Wahai, Nabiullah. Siapakah yang menciptakan Langit dan Bumi ini?" Malaikan Jibril bertanya. "Allah!" Jawab Nabi Sulaeman yakin. "Siapakah yang menciptakan malaikat, jin dan manusia?"  "Allah!" "Siapakah yang menciptakan tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan?" "Allah!" "Siapakah yang menciptakan orang kafir itu?" "Allah!" "Lalu, berhakkah engkau berlaku tidak adil terhadap ciptaan Allah? Sementara Allah adalah zat Yang Maha Adil?" Nabi Sulaeman ‘Alaihissalam terdiam dan langsung bersujud. "Ya, Allah! Ampunilah hambaMu yang sudah berbuat zalim ini" "Wahai nabiullah, datangilah dan minta maaflah pada orang itu. Ampunan Allah tergantung maafnya" ujar Malaikat Jibril menyampaikan wahyu Allah.
Maka, bergegaslah Nabi Sulaeman ‘Alaihissalam mencari tamunya tadi. Setelah bertanya-tanya dan mencari-cari, ternyata, tamunya tadi sudah jauh berjalan meninggalkan kota. Nabi Sulaeman ‘Alaihissalam dengan bergegas mengejar tamunya tadi. Setelah bertemu, masih dengan nafas yang terengah-engah, beliau berkata:
"Saudara, tunggu...!"Tamunya tadi menoleh dan heran melihat Nabi Sulaeman.
"Ada apa?" "Saudara...sudikah engkau memaafkan perlakuan saya, saat saudara menjadi tamu di rumahku?"
Orang itu diam. Dalam hatinya, sebenarnya dia merasa pantas diberlakukan seperti itu, karena dia memang bukan masuk dalam golongan Nabi Sulaeman. Dia tidak masuk ke dalam ajaran Tauhid yang dibawa Nabi Sulaeman. Dia dari golongan lain. Tapi dia bertanya: "Kenapa, wahai Sulaeman?"  "Allah menegurku, setelah engkau pulang dari kediamanku." "Allah? Siapakah dia?" orang itu masih bertanya. "Allah adalah Tuhan, Tuhan Kami dan Tuhan Engkau, Yang menciptakan langit dan bumi, dan semua isinya. Dia yang menciptakan malaikat, jin dan manusia. Dia Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya." "Lalu, kenapa Dia menegurmu?" "Allah menegurku, karena aku sudah tidak berlaku adil terhadapmu. Aku tidak memuliakanmu. Allah yang Maha Kuasa selalu bersifat adil terhadap semua hamba dan ciptaanNya, mengapa aku berlaku tidak adil terhadapmu?" "Sebegitukah Tuhanmu wahai Sulaeman, memperlakukan aku, walaupun aku bukan dari golonganmu?" Orang itu bertanya meyakinkan. "Iya...! Maafkan sikapku tadi wahai Saudara, ampunan Allah tergantung maafmu" Nabi Sulaeman meminta. "Saksikanlah, wahai Sulaeman! Ashaduallah ila ha illallah, Wa anta Rasulullah!" Orang itu memeluk nabi Sulaeman AS. Nabi Sulaeman pun memeluk dengan haru saudara barunya itu...
”Nah, begitu cerita yang minggu kemarin Ibu janjikan untuk kalian.” Ujar ibunya anak-anak menutup dongengannya. ”Bu, jadi kita harus memuliakan tamu yang datang ke rumah kita, ya? Meskipun mereka datang tiba-tiba ke rumah dan tidak kita undang?” tanya Aulia penasaran. ”Seperti pengemis yang suka datang ke rumah, ya, Kak?” Ucap Hasany menegaskan pertanyaan kakaknya. ”Alhamdulillaahi rabbil’aalamiin, anak ibu semuanya memang shaleh dan pintar. Pengemis itu datang ke rumah kita itu diutus oleh Allah Ta’ala untuk mengambil hak mereka yang ada pada harta yang diamanahkan Allah Ta’ala kepada kita.  Mungkin selama ini kita tidak bersegera membersihkan harta yang diamanahkan ke kita. Jadi, ya salah satu jalanya Allah Ta’ala mendatangkan pengemis ke rumah kita.”
”Bu, bu, aku juga pernah diberitahu Bapak Ibu guru di sekolah bahwa memuliakan tamu itu bukti keimanan kita Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Benar, Bu?” Tanya anak kami yang paling besar. ” Benar, sayang. Beriman tidaknya kita kepada Allah Ta’ala dapat dilihat apakah kita memuliakan tamu kita atau tidak. Sebagaimana hadits Bukhari Muslim, dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu,  Rasulullah SAW telah bersabda,”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”
”Nah, Hasany kan ini disayang sama Allah Ta’ala dengan jalan memuliakan tamu, Bu. Bagaimana caranya ya, Bu, kita memuliakan tamu? ” Hasany bertanya dengan penuh semangat. ”Banyak sekali caranya, nak. Kira-kira, apa yang perlu kita lakukan kalau tiba-tiba ada tamu datang ke rumah kita? Membiarkannya menunggu sampai urusan kita selesai atau bagaimana?” Segera menyambutnya, Bu” jawab Aulia, Hasany, dan Rasikh kompak.” Kan kasihan ya Bu, kalau tamu dibiarkan menunggu, membuat tamu kita cemas karena tidak ada jawaban dari kita. Siapa tahu juga tamu tersebut juga punya kepentingan lain yang sama-sama mendesak. Apalagi kalau tamunya mengucapkan salam, kita kan wajib menjawabnya segera, ya Bu.” Jawab Aulia. ”Alhamdulillaahi rabbil’aalamiin, anak-anak ibu shalih dan pintar semuanya. Selain itu, kita layani tamu kita dengan perkataan yang baik dan wajah yang cerah. Terus Mbak Lia, Mas Hasany, dan Mas Rasikh membantu ibu menyajikan makanan dan minuman untuk tamu kita. Jika tamu tersebut bermaksud menginap di tempat kita, kita sediakan tempat istirahat yang baik untuk tamu kita.”Jawab Ibu menutup perbincangan sore yang menyenangkan ini.

Dr. Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi. Dosen Universitas Islam Indonesia. Redaktur Majalah Fahma
sumber gambar : radiodaqu.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya