» » Sabar Menjaga Amal Kebaikan

Sabar Menjaga Amal Kebaikan

Penulis By on Wednesday, April 17, 2013 | No comments



Bagi manusia ada  malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya secara bergiliran. Malaikat itu berposisi di muka dan di belakangnya. Para malaikat itu menjaganya atas perintah Allah. Mereka disebut malaikat hafadhah. Ada juga beberapa malaikat yang Allah tugaskan mencatat amalan yang dikerjakan oleh manusia. Tentu saja, malaikat pencatat ini terus menerus mengawasi gerak-gerik manusia lalu dengan teliti melakukan dokumentasi amal perbuatan manusia itu. Tidak ada kata ceroboh pada cara kerja malaikat itu. Karena itu, tidak ada amal seorang hamba Allah yang luput dari pengawasannya.
Sesungguhnya Allah tidak merobah apa-apa yang  terdapat pada sesuatu kaum sehingga mereka merobah apa-apa  yang ada pada diri mereka sendiri. Allah tidak akan merubah nikmat yang telah Ia berikan kepada seseorang menjadi azab jika orang itu tidak merubah ketaatan yang dilakukannya menjadi pembangkangan terhadap Allah. Maka jika seorang berkebutuhan mengawetkan nikmat yang ia sudah terima, seharusnya ia senantiasa menjaga amal kebaikan yang sudah dikerjakannya. Jika ia meninggalkannya dan bahkan menggantinya dengan kemaksiyatan, bersiap-siaplah menerima perubahan yang akan menyedihkan dan mencelakakannya.
Apabila Allah menghendaki untuk menimpakan keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya. Jika ada siksa ditimpakan kepada seseorang, baik di dunia apalagi di akhirat maka tidak ada satupun kekuatan yang bisa menggagalkan dan menghalangi siksa Allah itu. Sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Allah Ta’ala.
Allah menasihati kita, janganlah kita bertindak seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Perempuan itu sudah melewatkan banyak waktu yang lama dan tenaga yang banyak untuk memintal dan menjalin benang menjadi kain lalu ia obrak abrik lagi hasil jerih payahnya itu. Semestinya, perempuan itu menjaga hasil tenunannya dan terus melanjutkan amalan baik yang sudah ia kerjakan. Jika ia lakukan hal ini, kain yang ia hasilkan akan bermanfaat dan ia akan menghasilkan lagi tambahan kain yang berguna.   .
Jangan pula kita menjadikan sumpah perjanjian yang kita buat sebagai alat penipu di antara kita, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Kita mesti mempunyai kehormatan diri dengan menjaga komitmen terhadap sumpah yang sudah dibuat. Sungguh, Allah hanya menguji kita dengan hal itu. Di hari kiamat nanti akan dijelaskan-Nya kepada kita segala apa yang dahulu kita perselisihkan itu.
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka. Menjauhkan diri dari kesombongan yang menyebabkan berani menolak petunjuk SangPencipta alam semesta. Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab yang berisi petunjuk kebenaran kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras serta mereka meninggalkan ilmu. Mereka tidak lagi menjaga ketundukan dirinya kepada kebenaran dan tidak lagi menjaga amal kebaikan yang pernah dijalaninya. Kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

Kepada kaum terdahulu, Allah kirim para rasul ganti berganti. Hingga pengiriman  dengan Isa putra Maryam; Allah berikan kepadanya Injil dan Allah jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah yaitu tidak beristri atau tidak mau bersuami dan mengurung diri dalam biara. Padahal Allah tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi mereka sendirilah yang mengada-adakan cara beribadah semacam itu dengan alasan untuk mencari keridhaan Allah. Lantas datanglah kejelekan yang lain, yakni mereka tidak memelihara tuntunan para rasul dan tidak memelihara amalan bikinan mereka dengan pemeliharaan yang semestinya.
Memang, meninggalkan amal kebaikan yang semestinya dijaga akan menghasilkan celaan dan kerendahan diri. Menghentikan aliran manfaat dan kemuliaan diri.
Kita bertekad menjaga kebaikan?

R. Bagus Priyosembodo, Redaktuh Ahli Majalah Fahma
sumber gambar : cahayamu-abadi.blogspot.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya