» » Menulis Yuk!

Menulis Yuk!

Penulis By on Tuesday, May 14, 2013 | No comments





Ketika saya menerima surat pemberitahuan tentang akan diselenggarakannya lomba menulis sinopsis cerita untuk anak didik saya di SD, maka saya mulai sibuk menilai siapa di antara anak didik saya yang cocok untuk mengikuti lomba tersebut. Di samping menulis sinopsis ternyata dalam lomba tersebut juga mengharuskan peserta menyampaikan kembali sinopsis cerita yang telah mereka tulis. Jadi, ada dua keterampilan yang harus dimiliki oleh peserta lomba, yaitu keterampilan menulis dan lisan, dan yang paling utama tentunya adalah keterampilan membaca.

Di sini saya ingin berbagi cerita, hal pertama yang sangat saya ingat adalah tulisan yang saya baca, kurang lebih seperti ini :
Suatu hari Noerhayati memberikan hadiah kepada Eliza dan adiknya. Masing-masing

sebuah buku harian. Buku berkulit tebal dengan warna-warni menarik dan hiasan

gambar-gambar lucu di masing-masing halamannya. ''Kamu bisa menulis apa saja isi

perasaan yang tidak bisa dikatakan dalam buku ini,'' katanya.

Noer tak pernah menyangka si kecil Eliza kelak memutuskan diri akan menjadi

penulis. Hadiah itu tak diniatkan untuk melatih anak-anaknya menulis. Ia cuma

ingin menjawab keingintahuan mereka yang sering bertanya kebiasaan yang sering

dilakukannya: menulis di diary dan mencatat di buku belanja.


Belum lama ini, sekitar sepuluh tahun kemudian, si kecil Eliza Handayani sudah menerbitkan novelnya Area X. Noerhayati tak pernah merasa punya andil

menyuburkan bakat menulis anaknya. Secara tak disadarinya, Noer mempraktikkan

cara-cara yang disarankan para pakar untuk mendorong anak gemar dan berlatih

menulis. Mulai dari membiasakan anak membaca hingga memberi berbagai kemudahan

untuk menulis.

Menulis dimulai dari membaca. Penulis-penulis besar pastilah suka membaca. Saat

anaknya masih kecil, Noerhayati suka membacakan dongeng. Saat cerita habis

dibaca, ia tetap membaca buku itu. Tapi, dengan ceritanya sendiri. Begitu Eliza

sudah bisa membaca, ia mencari cerita-cerita yang pernah dibacakan ibunya.

Ternyata sebagian tidak ada di toko mana pun.

Mengapa begitu? ''Buku itu karangan yang ditulis,'' jelas Noer, ''Kamu juga bisa

menulis sendiri karanganmu.''

Kegemaran membaca Eliza selalu terpenuhi. Apalagi ia kerap masuk ranking

tertinggi di kelasnya yang berarti mendapat hadiah buku banyak dari sang ibu.

Begitulah Eliza. Sejak tahu bahwa 'buku itu karangan yang ditulis', ia mulai

rajin menulis. Tulisan-tulisan pendek yang hanya ia tunjukkan pada adiknya. Sang

ibu dengan setia menyediakan buku dan kertas untuk mempermudah Eliza menulis.

Termasuk saat si sulung ini minta dibelikan sebuah komputer, ibu dan ayahnya

meluluskan.


Noer tak pernah mengritik saat awal Eliza menulis. Namun, diam-diam ia

memperhatikan gaya menulis anaknya yang 'melompat' jauh. ''Saat berlibur ke

Anyer, dia menulis berlibur ke Hawaii,'' katanya, mencontohkan.

Karyawati swasta berpendidikan apoteker ini selalu berusaha mengerti kebutuhan

sang anak. Ia tak pernah mengritik buku-buku pelajaran Eliza, yang meski rapi,

selalu dipenuhi tulisan di pinggir-pinggir halamannya. ''Sebab, kalau ide itu

muncul dan tidak langsung dituangkan bisa hilang,'' ujarnya.

Hingga tamat SMU, Eliza sudah menulis sekumpulan puisi, tiga naskah drama, satu

cerita film, dan tiga novel walaupun baru satu yang dibukukan. Ia kini kuliah di

jurusan studi film di Wesleyan University, Connecticut, AS. Sementara adiknya,

yang juga dibesarkan dengan cara yang sama baru masuk di Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia. Walaupun sama-sama suka menulis, ia tak berniat jadi

penulis


Cerita di atas cukup menginspirasi saya untuk membiasakan anak didik saya menulis mulai dari sekarang. Tentunya, harus menanamkan gemar membaca juga. Di samping peran guru di sekolah, para orang tua diharapkan turut andil dalam kegiatan pembiasaan ini, agar ada suatu kerjasama yang baik antara lingkungan di sekolah (dengan dukungan guru) serta lingkungan di rumah (dengan peran orang tua) untuk memperoleh hasil yang baik. Tapi, tak ada hal yang tidak mungkin bukan? Jadi, apa salahnya bagi kita untuk mencobanya? 


Uswatun Hasanah, S. Sos I. Wali Kelas IV SD Muhammadiyah Blunyahgede, Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya