» » Antara Saya dan Bapak

Antara Saya dan Bapak

Penulis By on Tuesday, July 9, 2013 | No comments



Sore itu sungguh kacau. Saya pulang dari kantor dalam kondisi suntuk. Ada beberapa hal yang kurang menyenangkan hari itu. Belum lagi situasi jalan raya pada jam sibuk pulang kerja membuat perjalanan saya tersendat. Badan rasanya capek dan kulit lengket oleh keringat.
Sesampai di rumah, seperti biasa anak-anak menyambut saya. Tapi itu hanya selintas, karena kemudian si Kakak terus mengganggu adiknya. Ada-ada saja ulah si kakak. Berebutan mainan, menggoda Adik, dan seterusnya. Si Adik menangis meraung-raung, tapi Kakak malah semakin provakatif. Kakak tidak mengindahkan perintah saya untuk berhenti mengganggu Adik.
Lalu,  lengkingan keras dari si adik membuat  kesabaran saya menguap. Tiba-tiba, tangan saya terayun dan, “plak”, telapak tangan saya mendarat di pantat si Kakak. Ia kaget dan memandang saya. Mungkin karena melihat monster di wajah saya, ia mulai menangis.
Sesungguhnya, saya pun amat kaget dengan tindakan saya. Rasa kaget itu kemudian berubah menjadi rasa bersalah. “Astaghfirullah hal ‘adzim”. Ya Allah, apa yang telah saya lakukan? Mengapa saya melakukan hal ini? Anak saya telah memberikan saya kebahagiaan yang tiada terhitung, tapi hanya karena ulah yang sepele itu, saya telah melakukan tindakan bodoh padanya.
Saya meminta maaf pada anak saya. Saya peluk tubuh mungilnya. Anak saya mengangguk dan membalas dengan pelukan yang erat. Tapi justru itu membuat perasaan bersalah saya semakin mendera. Sebagai dosen Ilmu Komunikasi, saya tahu bahwa komunikasi bersifat irreversible, tidak dapat dibalik. Begitu seseorang menyampaikan sesuatu, maka tidak bisa dibalik lagi. Permintaan maaf saya tidak bisa dianggap bahwa saya tidak pernah melakukan kekerasan pada anak saya.
“Karena komunikasi irreversible, hati-hatilah dalam berkomunikasi dan juga bertindak”, saya teringat ucapan saya di depan kelas dengan gaya yang amat bijaksana. “Ketika kita melakukan komunikasi yang buruk, misalnya verbal aggression atau hostility, maka kita seperti sedang memasang paku di batang pohon. Semakin banyak kita melakukannya, semakin banyak pula paku yang kita tancapkan. Ketika kita minta maaf, kita seperti sedang mencabuti paku-paku itu. Paku bisa terlepas. Tapi apa yang terjadi dengan batang pohonnya? Ia penuh luka.”
***
Istri menyarankan agar saya memaafkan diri sendiri, istighfar dan berusaha tidak melakukan lagi tindakan seperti itu. Hal itu cukup membantu dan membuat saya  lebih tenang.
Di keheningan malam itu, saya terpekur di atas sajadah. Dalam permenungan itu, tiba-tiba saya ingat Bapak. Sampai Bapak wafat ketika saya sudah dewasa, belum pernah sekali pun bapak melakukan kekerasan fisik pada saya. Marah pun amat jarang. Intensitas kemarahannya juga tidak “eksplosif”, sehingga ekspresi muka masam Bapak sudah cukup membuat saya tahu bahwa saya melakukan kesalahan.
Dari segi pendidikan, Bapak hanya menempuh pendidikan setingkat  Tsanawiyah plus beberapa tahun menjadi santri di pondok pesantren kampung. Sedangkan saya, yang katanya merupakan lulusan pascasarjana, tapi mengapa melakukan tindakan primitif pada anak? Bapak juga bukan penulis parenting seperti saya yang dengan fasih sering mengajarkan “do and don’t”  dalam mendidik anak.  Tapi, apa yang Bapak lakukan justru telah menerapkan prinsip-prinsip parenting. Kami, enam saudara kandung—yang  semuanya telah menjadi orangtua—masih sering bercerita tentang Bapak. Semua punya pengalaman indah dengan Bapak. Tidak ada yang merasa dinomorduakan. Semua merasa menjadi anak yang istimewa bagi Bapak.
Bapak sudah mendahului kami belasan tahun lalu. Tapi kasih sayangnya masih hangat menyelimuti kami, anak-anaknya. Kami pun tak putus mendoakan beliau (dan tentu saja dengan ibu). Apakah demikian pula dengan anak-anak saya kelak? Ataukah sebaliknya?
Rabbighfirli waliwalidayya warhamhumma kama rabbayaani saghiraa”.
Sesaat kemudian, sajadah di depan saya mulai kabur oleh air mata yang mengambang. Doa dan dzikir saya tercekat di tenggorokan. Di dada ini ada rasa ngilu yang menyayat
“Bapak, saya kangen Bapak”.

M Edy Susilo, Dosen FISIP UPN Veteran Yogyakarta
Foto dakwatuna.com

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya