» » Dunia Sekolah : Uang

Dunia Sekolah : Uang

Penulis By on Thursday, July 11, 2013 | No comments



Sudah menjadi kebiasaan Bu Ilhan, setiap kali ada kata-kata yang tadinya terasa asing, kata-kata itu justru akan sering diucapkannya. Terkadang pas, kadang kurang pas. Itulah Bu Ilham.
Please Bu Ruslina, pagi ini perut saya perlu input. Menggoreng pisang kan?”
Bu Ruslina mengernyitkan dahi. Pak Ruslan tersenyum lebar.
“Perut Bu Ilham memerlukan input, maksudnya ada sesuatu yang harus dimasukkan ke situ …,”terang Pak Ruslan kepad Bu Ruslina, istrinya.
Please ya, Bu …,”rajuk Bu Ilham sambil memonyongkan bibirnya.
Bu Ruslina tersenyum. “Sekalian teh hangatnya kan Bu?”
“Wah, itu juga input yang baik. Terimakasih …”
Pak Ruslan tak bisa menahangeli.
“Pagi-pagi begini tidak ada acara Bu?”
“Pagi ini acara saya ya kesini. Tadi saya suda siapkan sarapan untuk Abror. Sekarang Abror sudah berangkat sekolah. Acara berikutnya memang mencari input
di sini. Tadi saya sudah minta input ke Bu Ruslina. Sekarang, please, dari Pak Ruslan. Kalau hari Rabu, Pak Ruslan berangkat kesekolah jam 10.00 kan? Berarti masih ada waktu untuk memberi input …”
Diam-diam Pak Ruslan agak terkejut juga. Ternyata Bu Ilham menghafal jadwal mengejarnya. Sampai-sampai., Bu Ilham hafal bila hari Rabu Pak Ruslan berangkat ke sekolah pukul 10.00.
Input apa yang Bu Ilham butuhkan pagi ini?”
“Please, kelanjutan yang Pak Ruslan terangkan beberapa waktu yang lalu: tentang input sekolah …”
“Oh ya, kita sudah mempelajari input sekolah yang pertama: manusia. Yang kedua adalah uang …”
“Uang? Wah ini menarik. Erat hubungannya dengan jabatan saya di komite sebagai bendahara …Lanjutkan Pak, please.”
“Bagaimana juga seluruh proses pendidikan disekolah membutuhkan biaya. Sesungguhnya untuk terlaksananya pendidikan yang bermutu, input uang ini tidak bisa dipungngkiri. Untuk membiayai semua program sekolah memang diperlukan uang …”
“Tapi ini sering adi sumber kecurigaan lho, Pak Sebagai bendahara sya juga sering takut kalau dislah-salahkan …”
Tiba-tiba wajah Bu Ilham tampak menegang.
“Tidak perlu khawatir, Bu. Untuk menghindari  fitnah biasana disekolah sudah ada prosedur dan mekanisme yang disepakati bersama. Pada tahap perencanaan pengumpulan dan penggunaan uang, kan ada RAPB S: Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah. RAPBS dibicarakan dan disepakati bersama antara pengelola sekolah dengan pengurus Komite Sekolah. Bila perlu komite sekolah mendorong pengelola sekolah untuk menyelenggarakan program-program peningkatan mutu. Konsekuensinya …ya … biayanya diupayakan oleh komite …”
Bu Ilham menghelanafas. “Tapi, tetap sja ada orang yang bawaannya curiga, Pak  …,” ujar Bu Ilham sambil memonyongkan bibirnya yang tebal.
“Bila sudah soal uang memang begitu, Bu. Karena itu, kita harus mengupayakan agar dalam mengelola uang semuanya dapat diupayakan secara jujur, terbuka, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Agar tidak ada kecurigaan, ada mekanisme pengawasan dan audit …”
“Wah apa itu, Pak? Diterangkan sedikit please …”
“Diaudit artinya diperiksa dan dicocokkan. Tapi Bu Ilham tidak perlu takut. Diperiksa tidak berarti dicurigai ada kesalahan atau penyelewengan. Ini justru bagus untuk kepercayaan orang lainnya. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan secara rutin dan periodik. Insya-Allah terhindar dari fitnah …,”tandas Pak Ruslan.
Bu Ilham tampak manggut-manggut.”Pak, apa sekolah yang bermutu itu selalu membutuhkan uang yang banyak? Bayar sekolahnya mahal?” tanya Bu Ilham. Wajahnya tampak serius.
Pak Ruslan tersenyum. “Yang jelas, agar sekolah bermutu, banyak program harus dilakukan. Peningkatan kualitas guru, agar mereka mendapat kualitas guru harus diprogramkan. Kesejahteraan guru, agar mereka dapat mengajar dengan tenang, juga penting. Sarana sekolah harus diupayakan memadai. Kegiatan untuk siswa pun, baik yang kurikuler maupun yang ekstrakurikuler harus diperhatikan  …..Nah, semua kan butuh uang, Bu. Hanya saja, Komite Sekolah bersama-sama pengelola sekolah perlu berupaya agar tidak semuanya dibebankan kepada  orang tua siswa secara pukul rata. Pengelola sekolah juga arus melakukan penghematan agar semua program yang direncanakan benar-benar penting dan berdampak pada peningkatan mutu. Bukan malah menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yaang kurang penting ..’
“Untuk uang sekolah, mungkin bisa pakai sistem subsidi silang. Yang mampu ya bayar agak besar untuk membantu yang kurang mampu Yang tidak mampu, apalagi yang berprestasi, malah bisa mendapat keringanan atau beasiswa. Selain itu, Komite sekolah dapat melibatkan pihak-pihak lain untuk membantu. Misalnya dunia usaha, alumni yang sudah berhasil, dan usaha-usaha lain yang halal …”
“Duh…duh..duh…Berat juga memajukan sekolah ya, Pak. Butuh uang banyak …!”
Pak Ruslan tersenyum melihat ekspresi wajah Bu Ilham yang tampak serius, tapi malah kelihatan …lucu.
Tiba-tiba Bu Ruslina muncul membawa nampan berisi 3 gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng yang masih panas ….”Ini Bu, input-nya  sudah jadi …Silahkan dinikmati …,” seloroh Bu Ruslina dengan suara lembutnya.
Wajah Bu Ilham sontak berubah berbinar-binar. “Wah, kalau mikir input uang capek saya, Bu. Kalau input yang ini, memang sudah dari tadi saya tunggu …..terima kasih ya, Bu….”
Pak Ruslan dan Bu Ruslina tersenyum menyaksikan tamu istimewa mereka yang satu ini lahap menikmati pisang goreng. “Oh ya, sudah hampir jam sepuluh lho, Pak. Siap-siap berangkat ke sekolah. Please …pisang gorengnya biar saya bantu menghabiskannya …!”
Itulah Bu Ilham ….

RUA Zainal Fanani, Ketua Yayasan SPA Yogyakarta
Foto beritaislamonline.blogdetik.com

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya