» » Prinsip Dasar Kemitraan

Prinsip Dasar Kemitraan

Penulis By on Friday, July 19, 2013 | No comments



Hari Raya Idhul Fitri disambut dengan suka cita oleh segenap umat Islam. Setelah menjenguk orang tua masing-masing. Pak Rusan dan Bu Ruslina, tentu bersama Angga putri mereka, kembali lagi ke rumah. Mereka harus bersiap-siap menyambut banyak tamu. Pak Ruslan dan Bu Ruslina pun telah merencanakan bersilaturahmi ke beberapa sahabat mereka. Salah satunya, tentu saja Bu Ilham.
Sore harinya, mereka pun bersialturahmi ke rumah Bu Ilham. Kebetulan di rumah Bu Ilham sudah ada Pak Haji Ilyas yang disertai istrinya ….
“Ini berkah jadi bendahara Komite Sekolah, Pak. Saya nggak mimpi lho didatangi temantin baru pengusaha krupuk yang sukses.” Seloroh Bu Ilham. Bu Ratmi, istri Pak Haji Ilyas, tersenyum agak malu. “Lha, sekarang malah yang datang mitra lama .. Silahkan Pak Ruslan, Bu Ruslina …”
Suasana akrab langsung terasa. “Mari .. silakan dimakan kuenya. Saya dan Abror yang membuatnya. Cuma ini adanya. Kalau mau krupuk super gurih, nanti di rumah Pak Haji Ilyas. Kalau pengin pisang goreng paling lezat di dunia, ya di rumah Bu Ruslina …”
Di tengah obrolan yang penuh canda, sekali waktu muncul juga diskusi tentang Komite Sekolah. “Saya senang sekali bisa berkenalan dengan Pak Ruslan ..”
“Jangan lupa profesornya, Pak Ilyas,” sergah Bu Ilham sambil memonyongkan bibirnya.
Pak Haji Ilyas, Pak Ruslan dan Bu Ruslina tertawa. Hanya Bu Ratmi yang terlihat kurang begitu mengerti.
“Penjelasan Bapak tentang sifat dasar kemitraan tempo hari terus saya renungkan. Kadang saya berpikir, bagaimana ya caranya agar kemitraan itu bisa terus berjalan dengan lancar? Apa yang harus kami lakukan?
“Betul, Pak. Saya kadang juga khawatir, jangan-jangan kemitraan dengan sekolah yang awalnya tampak menyenangkan, lama-lama jadi tidak harmonis ….”
“Nah, dalam hal ini masing-masing pihak yang bermitra harus mengikuti prinsip-prinsip kemitraan ….,” ujar Pak Ruslan.
Ada beberapa prinsip, Pak?” tanya Bu Ilham. Kali ini tampak serius. Tapi mimik wajahnya malah tampak lucu.
“Dalam teori disebut ada 5 prinsip. Dikenal dengan singkatan PACTS. Sebenarnya “pacts” sendiri dalam bahasa Inggris juga punya arti kesepakatan  ….”
“Wah, harus diterangkan satu persatu, Pak. Ini enting buat saya. Bukan hanya untuk menjalankan amanah sebagai pengurus Komite Sekolah, tapi juga berbisnis krupuk …”Pak Haji Ilyas terlihat begitu semangat. Kacamata minusnya yang melorot langsung dinaikkan kembali. Bu Ratmi tersenyum-senyum melihat tingkah suaminya yang tampak melotot tak berkedip.
“Aduh, Pak Ruslan mulai pakai istilah yang sulit-sulit ya …”Bu Ilham merengut.
“P…A…C…T…S… Yang pertama huruf P, kepanjangannya participation atau partisipasi. Kemitraan hanya dapat terjadi bila masing-masing bersedia dan berkesempatan untuk berpatisipasi secara aktif dan iklas …”
“Benar sekali, Pak. Ini prinsip. Kalau tidak saling berpatisipasi pasti kemitraan tak akan berjalan,” timpal Pak Haji Ilyas dan antusias. “Lalu, yang kedua?’
“A…..acceptable atau saling menerima. Maksudnya, masing-masing pihak harus menerima kehadiran dan fungsi masing-masing. Kehadiran pihak lain tak boleh dilihat sebagai penghalang atau pengacau. Sebaliknya, tak boleh ada niat atau upaya untuk menghambat atau mengacau fungsi pihak lain. Masing-masing harus mencari titik temu untuk kemajuan bersama …”
“Wah, bagus sekali itu, Pak,” celetuk Bu Ratmi. Pak Haji Ilyas tersenyum bangga.
“Ini justru sulitnya. Untuk bisa terus saling menerima kan butuh saling berprasangka baik …Istilahnya apa itu? Khusnul Khotimah …?”Bu Ilham angkat bicara.
Pak Hji Ilyas dan Pak Ruslan tertawa.”Khusnudzdzon, Bu…”
Bu Ilham kembali merengut. Bibirnya dimonyongkan. Panjang sekali …
“Lalu berikunya huruf C, communication, komunikasi. Ini prinsip yang penting. Banyak masalah didunia ini ternyata adalah masalah kurang atau buruknya komunikasi. Kemitraan di komite sekolah juga begitu. Masing-masing pihak harus aktif menjalin komunikasi. Caranay pun harus baik dan saling menjaga martabat …”
“Nah ini, martabat bendahara komite juga harus dijaga. Tidak boleh ditertawakan. Kalau soal bibir, itulah kelebihan saya. Jangan dihina …”Bu Ilham tersenyum-senyum.
“Memang betul, Pak. Kalau pengurus komite tidak aktif, komunikasi jadi kurang lancar. Akibatnya, perannya jadi sedikit. Yang lebih buruk, kalau ada yang mudah menyalahkan, lebih percaya dengan isu, atau menduga-duga tanpa dilandasi pengetahuan akan keadaan yang sebenarnya. Di usaha krupuk saya, ini juga pernah terjadi …”
Semua menggut-manggut. “T-nya apa, Pak?”
“Nah ini prinsip yang sangat penting: Trust, artinya percaya. Selain itu, semua keputusan dan tindakan harus bisa dipercaya. Kemitraan akan terganggu bila salah satu pihak atau masing-masing sudah curiga-mencurigai, saling menjatuhkan, ada yang mengkhianati amanah, membuat kubu-kubu untuk mencari kesalalan atau aib kubu lain …”
“Wah, kalau sudah begini runyam, Pak. Bisa hancur bersama. Mana mugkin sekolah bisa maju …”Pak Haji Ilyas tampak berapi-api.
“Contohnya yang bagus, ya Pak Ruslan dan Bu  Ruslina. Karena saling percaya, jadi pasangan super-harmonis, super-akur, dan super-kompak …”ujar Bu Ilham.
“Ah, Bu Ilham bisa saja. Sampai pakai super-super segala …Bisa saya kan Cuma bikin pisang goreng, Bu …”Bu Ruslina tampak tersipu-sipu.
“Nah ini yang saya lupa: pisang goreng super…!
“Yang terakhir S.S-nya “super” ya, Pak?” seloroh Pak Haji Ilyas.
Pak Ruslan tersenyum. “S-nya adalah Share,  artinya berbagi. Prinsipnya kemitraan harus dibangun diatas kesediaan untuk berkorban, salingmemberi dan menerima. Termasuk memberi masukan dan menerima kritik, demi kemajuan bersama. Yang penting sama-sama harus tulus…,”tandas Pak Ruslan.
“Betul. Nah ini kuenaya juga saya sediakan dengan niat tulus untuk berbagi. Lain hari saya iklas menerima pisang gorengnya Bu Ruslina …”.
Pak Ilyas tertawa. “Saya dengan istri saya juga selalu Sharing. Saling memberi dan menerima masukan. Makanya kami kelihatan selalu mesra …”
Bbu Ratmi pun mencubit lengan Pak Haji Ilyas dengan manja.

RUA Zainal Fanani, Ketua Yayasan SPA Yogyakarta
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya