» » Strategi, Kerja Keras dan Istiqomah

Strategi, Kerja Keras dan Istiqomah

Penulis By on Sunday, July 7, 2013 | No comments



Saat finishing dokumen untuk akreditasi, kami pulang menjelang tengah malam. Dari kampus kami melewati daerah pemondokan mahasiswa. Ada beberapa warung makan yang masih buka, di depan dan di dalamnya penuh dengan mahasiswa. Sudah selarut malam ini mereka masih ngobrol santai di warung. Padahal saat itu bukan malam week-end, bukan malam Sabtu atau Minggu. Dengan kebiasaan seperti inikah mereka akan menguasai ilmu pengetahuan dan bersaing dengan bangsa lain?
Melihat situasi seperti ini saya lalu teringat pada saat menjalankan tugas belajar di Perancis. Kalau saat itu ritme belajar saya seperti mereka, maka selamanya saya tidak akan bisa menyelesaikan program S2 dan S3. Kebetulan waktu itu saya didaftarkan oleh CESMECA (lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah Perancis untuk mengurusi mahasiswa asing bidang mekanikal) di sebuah perguruan tinggi yang termasuk papan atas di Lorraine - Perancis Timur, di École Nationale Supérieure d'Électricité et de Mécanique (ENSEM). Sampai saat itu belum pernah ada satupun orang Indonesia yang berhasil menyelesaikan studi lanjut di tempat tersebut. Beberapa orang dari Indonesia dikeluarkan karena melewati batas waktu. Hal ini bagi saya merupakan sebuah tantangan, saya harus kerja keras untuk bisa lolos.
Saya coba mempelajari penyebab kegagalan mereka. Kalau dilihat kapasitasnya, tidak meragukan, mereka dari perguruan tinggi berkualitas di Indonesia. Ternyata kelemahan mereka adalah, meskipun mereka ada di Perancis, namun gaya belajarnya belum seperti mahasiswa Perancis, kurang kerja keras, banyak waktu terbuang sia-sia. Selesai makan malam mereka mengobrol, membicarakan permasalahan Indonesia. Lagi pula mereka menggunakan bahasa Indonesia sehingga kemajuan berbahasa Perancisnya juga terhambat. Dengan keterbatasan ini saya yakin materi pelajaran yang bisa mereka serap di ruang kuliah sangat terbatas. Bahasa Perancis tidak sesederhana bahasa kita, bahkan bila dibanding dengan bahasa Inggris sekalipun masih lebih sulit, karena ada pembedaan kata benda laki-laki dan perempuan (meskipun belum sesulit bahasa Arab).
Melihat kenyataan ini, saya harus berstrategi, saya tidak boleh mengulang kegagalan mereka. Kalau gagal, yang rugi bukan hanya saya dan keluarga, negara juga akan ikut rugi. Saya sudah menderita karena berpisah dengan keluarga yang masih di Indonesia. Saya harus kerja keras dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Untuk sementara saya harus menghindari berbahasa Indonesia. Agar berhasil saya harus istiqomah dengan tujuan semula, yaitu tugas belajar - menuntut ilmu.
Strategi pertama adalah mengupayakan agar bisa menyerap materi saat kuliah sebanyak mungkin. Untuk itu, selain meningkatkan kemampuan berbahasa Perancis, saya juga harus bisa mendapatkan catatan materi pelajaran sebelum mengikuti kuliah. Saya meminjam catatan dari peserta kuliah tahun sebelumnya, dari kakak angkatan, orang Perancis meskipun saya belum kenal sebelumnya. Saya juga mencari buku pegangan dosen pengampu kuliah.
Saat itu, kuliah baru akan dimulai bulan Agustus, setelah libur musim panas dua bulan. Selama liburan, kampus sepi sekali. Namun justru situasi ini dapat saya manfaatkan sebaik mungkin untuk mempelajari materi-materi kuliah agar saya sudah mempunyai gambaran sebelumnya.  Harapannya, saya akan mampu menyerap dan memahami lebih baik ketika dosen memberi kuliah.
Strategi kedua, agar kemampuan berbahasa Perancis tidak terlemahkan, maka pada hari Senin sampai Jumat, saya berusaha menghindari bertemu dengan teman dari Indonesia, termasuk tidak membaca koran dan majalah kiriman dari keluarga. Namun pada saat week-end saya bersilaturahmi, ngobrol seperti biasa dengan mereka.
Kebiasaan tersebut saya lakukan selama sepuluh bulan. Alhamdulillah, karena Allah Ta’ala pun mengizinkan hambanya yang telah mencoba istiqomah dan berstrategi untuk bisa menyelesaikan program master (DEA – Diplome Etude Approfondie) dalam waktu kurang dari satu tahun. Pengalaman ini saya sampaikan pada anak-anak sebagai contoh, bahwa Allah Ta’ala pasti akan mengabulkan doa hambanya asal disertai dengan usaha sungguh-sungguh, kerja keras dan istiqomah. Wallahu a’lam bish-shawab.||

Penulis Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Pimpinan Umum Majalah Fahma
foto : nunucumi.blogspot.com

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya