Tak Ada Kedewasaan yang Instant


Makanan dan minuman boleh instant. Tanpa bersusah meracik, setiap orang bisa membuat mie dengan rasa yang sama. Tak ada bedanya kopi bikinan anak kecil dengan hasil seduhan orang dewasa. Sebabnya, mereka sama-sama pakai kopi instant. Tanpa perlu memahami karakter kopi, setiap orang bisa menghidangkan kopi dengan rasa yang cukup enak di lidah karena bahannya instant. Tetapi, samakah kopi instant dengan kopi yang diracik secara khusus oleh koki berpengalaman? Sangat berbeda. Sebagaimana berbeda sekali nilai dan harga sebuah jam tangan yang dibuat oleh tangan seorang ahli yang terampil dan berpengalaman dengan arloji pabrikan yang dalam waktu sehari bisa memproduksi ratusan dan bahkan ribuan keping.

Tak ada kecerdasan instant. Apalagi kedewasaan. Kita mungkin bisa menjadikan seorang anak tiba-tiba tampak hebat karena mampu menggambar, menulis atau membaca dengan mata tertutup. Tetapi sangat berbeda kemampuan menebak, menginderai dan mengenal dengan kemampuan mencerna, memahami, memikirkan dan mengembangkan sebuah konsep. Hari ini, banyak orangtua yang bersibuk-sibuk menjadikan anaknya tampak hebat, tetapi lupa membangun pilar kehebatan itu sendiri.
Sesungguhnya, taraf kemampuan kognitif anak bertingkat-tingkat secara hierarkis. Dan pendidikan berkewajiban mengantarkan setiap anak agar mampu mencapai taraf kognitif yang setinggi-tingginya. Taraf paling rendah adalah pengetahuan. Ini merupakan kemampaun untuk mengetahui, mengenal dan mengingat apa-apa yang sudah ia pelajari. Ia bisa mengulang kembali dan menyampaikan kepada orang lain. Di negeri ini, pelajaran di kelas dan ujian di sekolah kerapkali hanya menakar kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan.
Berbagai teknik atau trik yang banyak diperkenalkan (lebih jelasnya: dijual) kepada masyarakat umumnya sebatas membantu anak mencapai kemampuan kognitif terendah. Bukan mengembangkan kemampuan berpikir. Lebih-lebih cara berpikir, umumnya hampir tak tersentuh. Tetapi inilah yang paling mudah kita lihat: atraksi kebolehan dan demonstrasi yang menunjukkan perubahan cepat luar biasa. Karena terpukau, kita kemudian kehilangan daya berpikir kritis tatkala para trainer itu mengatakan bahwa trik-trik tersebut membangun karakter anak! Padahal yang dimaksud bukan karakter. Yang dimaksud hanyalah sebatas kemampuan kognitif. Paling jauh keterampilan sosial yang bernama sopan santun.
Sungguh, sopan santun sangat berbeda dengan karakter. Sebagai keterampilan, sopan santun merupakan bagian dari kecakapan sosial. Sementara karakter lebih banyak berkait dengan kualitas personal pada diri seseorang. Karakter bermula dari kesadaran terhadap nilai-nilai (bukan sekedar tahu atau bahkan paham), partisipasi atau kesediaan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai dan barulah kemudian sampai pada tingkat karakterisasi diri. Yang dimaksud dengan penghayatan nilai adalah kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya. Sedangkan pengorganisasian nilai merupakan kemampuan untuk memiliki sistem nilai dalam dirinya. Sampai pada tingkat ini, karakter masih belum terbentuk. Karakterisasi baru terjadi apabila seseorang telah mampu memilih nilai sebagai gaya hidup(life style) dimana sistem nilai yang terbentuk mampu mengawasi tingkah lakunya.
Jadi, ada proses panjang sebelum terbentuk dalam diri seseorang. Ia bukan sekedar keterampilan. Ia merupakan perwujudan nilai-nilai yang mempengaruhi pikiran, cara pandang, penghayatan dan gaya hidup kita. Ia menjadi penakar dalam menentukan sebuah tindakan terkait dengan patut atau tidak, mulia atau hina. Ia berangkat dari kesadaran. Bukan pengetahuan. Kesadaran merupakan tingkat terendah dari kemampuan afektif. Sedangkan tingkat terendah kemampuan kognitif adalah pengetahuan (knowledge). Ini berarti, sekedar pintar tak berpengaruh pada karakter.
Setingkat di atas pengetahuan adalah pemahaman (understanding). Pada tingkat ini –tingkat terendah kedua dalam kemampuan kognitif—anak mengerti dengan baik apa yang dipelajari. Kemampuan ini bukan semata karena anak belajar, tetapi karena pendidik memang memahamkan. Bukan sekedar menyampaikan sejelas-jelasnya sehingga anak mengingat dengan baik dan mampu menyampaikan kembali secara gamblang. Pendidik perlu secara serius merangsang kemampuan berpikir anak sehingga mereka memahami dengan baik apa yang diterangkan.
Yang perlu kita catat, pemahaman tidak berpengaruh terhadap perilaku. Pemahaman baru akan bermanfaat menuntun dan mengarahkan perilaku anak-anak kita jika mereka telah menghayati nilai-nilai agama ini dengan baik. Sangat berbeda, menghayati dengan memahami.
Itu pula yang menerangkan mengapa anak yang telah memahami baik-buruknya sesuatu, tidak berubah perilakunya. Kecerdasan mempengaruhi kemampuan mengingat, mencerna dan memahami sesuatu. Sedangkan keyakinan mendorong orang untuk menggunakan seluruh kemampuannya agar bisa melakukan apa yang telah menjadi keyakinannya, meskipun bertentangan dengan pemahamannya.
Kembali pada jenjang-jenjang kemampuan kognitif. Setingkat di atas pemahaman adalah penerapan (aplikasi), yakni kemampuan menggunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata. Ini bukan berurusan dengan keyakinan. Ini erat kaitannya dengan kecakapan untuk menerapkan apa yang telah ia ketahui. Shalat misalnya. Anak bisa melakukan shalat dengan sangat baik bukan karena yakin dan suka, tetapi karena ia memahami betul tata-cara shalat yang baik.
Jenjang kemampuan berikutnya adalah analisis. Berbekal pemahaman yang baik dan mendalam atas berbagai pengetahuan yang telah ia dapatkan sekaligus (pernah) ia praktikkan, seseorang bisa mencapai kemampuan analisis. Ia  mampu menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Jika kemampuan ini berkembang lebih lanjut, ia akan sampai pada taraf kognitif yang lebih tinggi, yakni sintesis. Ini merupakan kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi keseluruhan yang berarti. Ia mampu menemukan benang merah berbagai pengetahuan yang berserak menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermakna.
Tingkat tertinggi kemampuan kognitif adalah penilaian. Bukan menilai orang dari apa yang tampak, melainkan kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan yang ditetapkan terlebih dahulu, baik bersifat internal maupun eksternal. Di tingkat inilah seseorang mencapai tingkat pemahaman yang mendalam. Kemampuan ini barangkali lebih dekat dengan makna faqih. Bukan sekedar faham. Dan amat sedikit orang yang mencapai kemampuan ini. Lebih-lebih sekolah –begitu pula orangtua—lebih banyak menyibukkan diri untuk memacu kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan atau paling jauh pemahaman. Kita sudah cukup bangga jika anak mengingat dengan baik, mampu menirukan secara sempurna dan menerangkan secara gamblang pelajaran yang telah mereka terima. Kita telah menganggap jenius anak-anak yang hanya menggunakan kemampuan kognitif terendah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
oleh Mohammad Fauzil Adhim
www.kupinang.com

Mengawali Ta’dib



Adab pilarnya, aqidah landasannya. Kuatnya fondasi memudahkan kita membangun apa saja, setinggi apa pun di atasnya. Tegaknya pilar mengokohkan bangunan yang kita dirikan, baik melebar maupun meninggi, tanpa menjadikannya retak, rapuh dan goyah. Lemah pilar tapi kuat fondasi, menyebabkan sulitnya kita membangun sesuai harapan. Fondasi tetap ada, tetapi makin tinggi makin berat beban yang harus ditanggung.


Maka pilar dan fondasi harus sama-sama kita perhatikan dengan baik. Kuat pilar lemah fondasi, menjadikan mereka tahu dan bersemangat terhadap kebaikan, tetapi mereka sulit mewujudkan apa yang menjadi keyakinannya. Kuat pilar lemah fondasi menjadikan perilaku mereka tampak baik, sikap mereka mengagumkan, tetapi ia sesungguhnya lemah. Mudah merobohkan apa yang telah ada. Jika pun kebaikan itu tetap mereka kerjakan, boleh jadi tak bernilai karena berbagai kebaikan itu tanpa niat yang lurus semata-mata untuk Allah Ta’ala dan karena Allah Ta’ala.
Karenanya, ta’dib (proses pembentukan adab) di sekolah menjadi keharusan, sebagaimana tidak adanya tawar menawar dalam masalah penanaman ‘aqidah. Ini berlaku untuk jenjang TK maupun SD, lebih-lebih SLTP-SLTA. Dan yang paling mendesak sekaligus mendasar untuk dibangun adalah tauhid dan niat.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin? Bukankah anak-anak usia TK dan SD kelas bawah merupakan usia bermain? Jawabnya, jika anak telah memiliki antusiasme belajar, punya gairah bersekolah yang sangat tinggi, apakah belajar menjadi beban baginya? Lihatlah, adakah anak-anak mengeluh ketika mereka menirukan orang dewasa berdemonstrasi atau melakukan long march? Tidak. Kenapa? Karena mereka bersemangat. Maka manakah yang kita pilih? Membangun ketertarikan karena cara mengajar yang menarik dan materi yang ringan-ringan sekaligus penuh permainan, ataukah menumbuhkan dalam diri mereka semangat yang menyala sehingga mereka tetap antusias meski pelajarannya menuntut keseriusan tinggi? Tetapi inilah agaknya yang sering kita lalaikan. Kita lebih sibuk memukau mereka dengan fun teaching, tapi lupa membangun jiwa mereka.
Mari kita ingat sejenak nasehat Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Dalam Tuhfat al-Maudud bi Ahkam Al-Maulud mengatakan, “Diawal waktu, ketika anak-anak mulai bisa bicara, hendaknya mendiktekan kepada mereka kalimat laa ilaha illa llah muhammadurrasulullah, dan hendaknya sesuatu yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah laa ilaha illallah (mengenal Allah) dan mentauhidkan-Nya. Juga ajarkan kepada mereka bahwa Allah bersemayam di atas singgasana-Nya yang senantiasa melihat dan mendengar perkataaan mereka, senantiasa bersama mereka dimanapun mereka berada.”
Catatan penting, menanamkan tauhid dan membangun niat yang lurus dan kokoh pada anak bukan berarti penyampaian secara kognitif agar mereka memahami dengan baik. Pada usia TK dan SD kelas bawah, belum saatnya memberi pembelajaran ‘aqidah dengan penekanan secara kognitif. Yang mereka perlukan adalah dorongan, motivasi dan sentuhan hati agar mereka mengingini, mencintai dan bersemangat memegangi sekaligus melakukan apa-apa yang diserukan oleh agama. Ini yang paling pokok.
Mari kita ingat ketika Rasulullah saw. menasehati Ibnu ‘Abbas ra. yang ketika itu masih kecil. Apa hal pokok yang beliau tanamkan ke dalam dada Ibnu ‘Abbas ra.? Tauhid. Keyainan yang kuat bahwa tidak ada yang dapat memberikan maslahat dan madharatkecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Ini pula yang seharusnya kita bekalkan kepada anak-anak kita. Di sekolah, guru-guru TK dan SD paling bertanggung-jawab dalam menumbuhkan keyakinan –bukan hanya pemahaman—tentang kekuasaan Allah Ta’ala yang tiada sekutu baginya.
Mari kita renungi pesan Rasulullah saw. kepada Ibnu ‘Abbas ra.:
ياغلام ! إني أعلمك كلمات: احفظ الله يحفظك، احفظ الله تجده تجاهك، إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن
بالله، واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعواعلى أن يضروك بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحف
“Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah.
Dan ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu.Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR. At-Tirmidzi).
Apa yang dapat kita petik? Keyakinan kepada Allah Ta’ala, menyandarkan diri hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga tidak merasa lemah di hadapan manusia, serta mengikatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagai penentu takdir.
Pada jenjang selanjutnya, pembelajaran secara kognitif untuk memahamkan mereka tentang tauhid dan niat mulai perlu kita berikan. Tetapi kita harus tetap ingat bahwa ta’limitu bukan hanya memahamkan secara kognitif dan memberi gambaran yang jelas kepada anak. Kita harus ingat bahwa ‘alim adalah seorang yang apabila semakin bertambah ‘ilmunya, semakin bertambah pula rasa takut sekaligus kecintaannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ini berarti, ta’lim itu merupakan paket yang memuat pembelajaran secara kognitif,tadabbur untuk menyadari dan menghayati kebesaran serta nikmat Allah, sekaligusnashihah agar mereka merasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mencintainya dengan penuh keimanan.
Allah Ta’ala berfirman:
ومن الناس والدواب والأنعام مختلف ألوانه كذلك إنما يخشى الله من عباده العلماء إن الله عزيز غفور
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Faathir, 35: 28).
Maka, apakah yang terjadi jika berbagai ilmu pengetahuan diajarkan tanpa membimbing para murid untuk mengenali pencipta-Nya? Bukan perasaan takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang bertambah, melainkan semakin menguatkan keyakinan bahwa penentu segala sesuatu, termasuk atas takdirnya sendiri, adalah kemauan dan kemampuan diri sendiri. Dan inilah yang sedang terjadi.
Ini berarti, harus ada langkah penting dalam mendidik anak-anak kita di sekolah. Sekedar perubahan pada mata pelajaran, tak berpengaruh besar pada diri murid. Tanpa guru-guru yang terasah imannya, pelajaran aqidah hanya akan bersifat kognitif saja. Dan ini tidak dapat menjadi landasan yang kokoh bagi proses ta’dib.
Maka, kita memerlukan guru-guru yang mencintai dien ini dan bersemangat belajar dien. Kita memerlukan guru yang meyakini dien ini dan menjadikannya sebagai penimbang, penakar dan penentu apakah gagasan, teori maupun metode yang muncul belakangan dapat kita terima, harus kita tolak seluruhnya atau kita ambil sebagian. Bukan sebaliknya, menakjubi segala hal yang tampak hebat, lalu mencari pembenarannya dalam dien ini. Sebab jika kita salah dalam bersikap terhadap dien, maka terbuka jalan lapang untuk menyelisihi agama ini dengan mengambil nash tanpa mengambil maksudnya.
Jika kita sudah menanamkan tauhid dan membangun niat yang lurus dan kokoh, barulah kita berbincang tentang ruang lingkup adab. Kita melakukan ta’dib sembari terus memberi pendidikan (tarbiyah) untuk masalah tauhid dan niat ini.
Lalu apa saja ruang lingkup ada yang harus kita perhatikan? Secara sederhana, kita memberikan ta’dib yang mencakup seluruh adab (manner & etiquettes) yang dituntunkan oleh dien ini. Tetapi pada saat awal, yang pertama kali kita tumbuhkan adalah adab terhadap guru, orangtua, orang yang lebih dewasa serta terhadap teman sebaya. Ini yang terkait dengan obyek adab, yakni kepada siapa kita harus menegakkan adab. Adapun dalam hal apa saja adab yang harus bangun, salah satu hal pokok adalah adalah adab menuntut ilmu.
Semoga dengan ini, bekal sukses sebagai murid dapat mereka miliki, yakni percaya kepada guru, menghormati (memuliakan) guru serta memiliki ikatan emosi yang sangat kuat terhadap guru.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh Mohammad Fauzil Adhim
www.kupinang.com

Pendidik dan Komunikasi Empatis



Awalnya, tak adanya yang istimewa dengan Erin Gruwell. Seorang guru yang ingin mendedikasikan hidupnya untuk mendidik. Hingga suatu saat Ia merasa tertantang karena ditempatkan di sebuah kelas yang dianggap “bodoh” karena berisi siswa-siswa bermasalah. Murid-muridnya adalah kumpulan anak yang sangat nakal, bahkan cenderung kriminal. Erin Gruwell tak menyerah. Ia mulai menangani dengan cinta, bukan dengan prasangka.

Di kelas, Gruwell lebih menempatkan dirinya sebagai bagian dari murid-muridnya. Apa yang dialami siswa-siswinya adalah bagian dari masalahnya sendiri. Setelah berhasil meraih hati mereka, Ibu guru itu memberikan murid-muridnya bacaan-bacaan bergizi, seperti biografi para tokoh yang memberi inspirasi. Tak lupa setiap anak diminta membuat buku harian. Mereka diminta menulis kisah hidupnya, apa saja, secara bebas. Ajaib, setelah beberapa waktu, murid-murid nakal itupun ber-evolusi menjadi lebih baik. Kisah inspiratif itu kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul ”Freedom Writers”.

Apa yang dikedepankan Erin Gruwell mirip dengan penggalan hidup Ibu Muslimah dengan 10 murid miskin ”Laskar Pelangi”-nya. Ia berhasil menanamkan sikap hidup di benak murid-muridnya : Keterbatasan tak harus jadi alasan untuk takut punya cita-cita. Walaupun murid-murid yang dihadapi berbeda, –Erin dengan siswa-siswa nakal nan bermasalah, Muslimah dengan murid-murid miskin tapi punya mimpi besar—keduanya sama-sama mengedepankan empati dalam mendidik.

Empati sering diartikan sebagai keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Empati juga dimaknakan sebagai kegiatan berpikir individu mengenai “rasa” yang dia hasilkan ketika berhubungan dengan orang lain. Kemampuan seseorang untuk mengenali, mempersepsi, dan merasakan perasaan orang lain adalah bentuk dari empati.

Sifat inilah yang seharusnya mendominasi pendidik dalam kiprahnya. Pendidik, tentu saja termasuk orang tua dan guru, yang berempati memiliki kemampuan menyelami perasaan anak dan siswanya. Orang tua dan Guru harus mampu mengenali dan merasakan kondisi siswa sehingga menjadi bagian dari persoalan, bukan menjadi pengamat berdiri di tempat yang jauh.

Selanjutnya, empati perlu dipadukan dengan keterampilan seorang pendidik yang tidak kalah pentingnya : komunikasi. Sebagian besar waktu yang dihabiskan seorang guru di sekolah, bahkan dalam hidupnya secara keseluruhan adalah untuk berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi secara efektif mutlak diperlukan pendidik. Bukankah esensi pendidikan adalah mengkomunikasikan pengetahuan dan nilai-nilai ? Komunikasi efektif diantaranya dibangun oleh penghargaan (respect), kejelasan (clarity) dan sikap rendah hati (humble). Penghargaan akan membangkitkan antusiasme. Kejelasan berarti keterbukaan, tak ada kesalahan interpretasi. Sikap rendah hati yang akan memunculkan komitmen melayani dan tidak memandang rendah.

Dari kata empati dan komunikasi itulah kita mengenal istilah Komunikasi Empatis (emphatetic communication). Komunikasi jenis ini adalah komunikasi yang serius, penuh perhatian, bukan komunikasi yang mengabaikan. Komunikasi empatis dilakukan dengan terlebih dahulu menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Mampu untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Rasa empati dengan sendirinya akan menghasilkan strategi komunikasi (cara menyampaikan pesan, dan memilih media yang digunakan) efektif. Termasuk memberikan respons yang tepat, memberi penghargaan, dan siap mendengar.

Seorang guru yang tak mencoba berempati terhadap persoalan yang dihadapi siswanya, sulit membangun komunikasi yang efektif, karena halangan psikologis atau penolakan akan lebih banyak muncul. Menempatkan diri sebagai satu pihak di sisi sebelah sini, dan para siswa di sisi sebelah sana, jelas akan menyulitkan komunikasi.

Guru yang empatis akan menerima siswa apa adanya, mencoba untuk mencari potensi dan kelebihan, karena semua anak pada dasarnya cerdas dan berbakat. Kejelasan visi sang guru akan menjalar melalui komunikasi yang tepat pada siswa untuk memperjelas arah hidup. Dalam kesehariannya, guru seperti ini akan memberi dukungan, bukan sibuk mencari kelemahan. Kehangatan komunikasi sang guru dirasakan para siswa yang merasa terayomi. Suasana batinnyapun akan terpancar dari karisma, karena do’a cinta sang guru seolah langsung terasa. Inilah ciri guru yang akan menjadi inspirasi kehidupan, tidak hanya bagi siswanya, tapi juga untuk dunia. Wallahu’alam
sumber www.subhanafifi.com 
foto anak-anak TPA Masjid At Taqwa Kawedan Turi Sleman

7 M untuk Anak



Komunikasi esensinya adalah memuaskan semua pihak. Sayangnya, dalam komunikasi ada saja pihak yang merasa puas, sepuas-puasnya, tetapi yang lain tidak terpuaskan, atau bahkan tertekan. Komunikasi orang tua dan anak seringkali menunjukkan kecenderungan ini.
Orang tua dan anak jelas-jelas memiliki dunia sendiri. Dunia anak adalah dunia bermain, berkembang, kreatif, suka meniru, dan lebih jelas lagi, anak-anak bukan “orang dewasa mini”. Orang tua dunianya keras, ingin semua serba teratur, penuh kompetisi, ingin disiplin, ingin anak pintar dan penurut, dan seterusnya. Orang tua dan anak memiliki kerangka berfikir (frame of reference) dan medan pengalaman (field of experience) yang berbeda.
Disinilah persoalannya. Komunikasi tak akan jalan jika tak ada pemahaman. Dalam berkomunikasi, orang tua sering kali mengabaikan perasaan anak. Padahal jika anak merasa tidak nyaman, bisa merusak harga dan kepercayaan dirinya. Jika cara berkomunikasi orang tua masih banyak yang keliru, pesan tidak akan sampai. Anak-anak akan menyerap pesan apapun dengan mudah bila mereka dalam kondisi senang, dan tidak tertekan.
Bagaimana dengan gaya komunikasi keseharian kita dengan para permata hati yang luar biasa itu ? Para orang tua yang tidak bijaksana, semoga kita tidak termasuk di dalamnya, seringkali menerapkan rumus 7M untuk anak ketika berkomunikasi. Apa itu ?

MEMERINTAH. Betapa sering, kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir ayah bunda yang mulia melulu berjeniskan kalimat perintah. Hampir tanpa variasi. “Andi, mandi cepat !,” “Nabila, Bajunya pakai yang biru saja, jilbabnya juga yang ini !”, “Ayo..makannya dihabiskan !”, “ Sepatunya taruh di rak sepatu !, koq dibuat berantakan begini !” dan seterusnya. Kalimat-kalimat bernada perintah jika terlalu mendominasi pendengaran anak akan membuat jiwanya kerdil. Kelak jika dewasa, sulit mengharapkannya menjadi penyelesai masalah (problem solver), karena otaknya biasa bekerja di bawah perintah, tidak ada alternatif. Berikanlah kalimat-kalimat yang lebih rendah tekanannya, mengandung alternatif, dan melatih anak untuk mengambil keputusan sendiri. “Ayo..mau mandi jam berapa ?”, “Coba dipilih sendiri dech baju mana yang Nabila suka, pasti cantik..” “Kira-kira kalau makannya nggak dihabiskan, gimana coba…mubazir kan..” kalimat-kalimat seperti ini lebih membangkitkan jiwa daripada melulu perintah.
MENYALAHKAN. “Mama kan udah bilang, kalau main, jangan panjat-panjatan begitu..Jadi jatuh kan..!”, atau “Makanya, kalau pulang sekolah langsung pulang, nggak usah mampir dulu, jadi keserempet sepeda kan…!”. Anak sering kali diposisikan dalam posisi serba salah. Padahal belum tentu mereka yang salah. Kalaupun benar-benar salah tidak selayaknya mereka terus dipojokkan. “Ya sudah, nggak apa-apa, lain kali hati-hati ya…” kalimat ini lebih menentramkan hati anak.

MEMBERI CAP. “Kamu memang selalu mengganggu adikmu!”, “Koq lambat banget sih..Selalu begitu. kapan sih bisa cepat?” . Labelling atau pemberian aneka sebutan negatif pada anak berpengaruh pada jatidirinya kelak. Gantilah kata-kata negatif dengan kata-kata yang lebih positif seperti : “bodoh” dengan “harus banyak belajar”, “tidak bisa” dengan “pasti bisa”, “gak pede” dengan “pede aja lagi…” dan seterusnya.

MENGANCAM. Merasa memiliki otoritas penuh, orang tua seringkali main kuasa dan main ancam. “Awas ya..kalau nggak garap PR uang jajanmu nanti ayah potong,”, “Nanti nggak diajak Mama lho..kalau nonton teve terus…” Sebaiknya kalimat-kalimat bernada ancaman dihindari. Karena anak akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena “takut”. Tentu hal ini tidak mendidik. Bangkitkanlah kesadarannya dengan kalimat-kalimat yang inspiratif dan menggerakkan.
MEMBOHONGI. “Ibu sedang nggak punya uang…” kata seorang Ibu ketika anaknya ingin dibelikan buku, padahal baru saja sang ibu terlihat membeli baju baru. Berbohong, sekecil apapun, tak layak dilakukan orang tua pada anaknya.
MENYINDIR. “Katanya sekolahnya di SD Islam …masa’ shalatnya ditunda-tunda…”,”Katanya
 juara kelas, masa’ gitu aja nggak bisa..” Sindiran-sindiran seperti itu lebih bersifat memojokkan dan melemahkan dibanding membangkitkan semangat.

MEMBANDINGKAN. Sengaja atau tidak, orang tua sering mencari pembanding bagi anak, bisa kakak, adik, atau temannya yang dianggap lebih baik. Jika tidak bijak, membanding-bandingkan ini bisa menjatuhkan harga diri anak, dan akan berakibat fatal. “Coba tuh lihat, adikmu, selalu patuh, rajin juga!”. “Waduh, nilai raportmu koq jelek begini sih, banyak main game sih, coba liat si Ahmad itu, belajarnya rajin, pantas aja jadi bintang kelas…”

Jika diteruskan, maka akan muncullah rentetan “M” negatif yang lain, yang lebih banyak lagi. Gaya komunikasi 7M ini bisa berkembang lagi jadi 10 M, 12 M, 14 M dan seterusnya.Padahal sejatinya, anak hanya butuh 2M saja, sebagai wujud penghargaan dan kasih sayang : “Makasih..ya Mas !” atau “Makasih ya..Mbak”. Bukankah di balik sikap dan perilaku anak yang membuat ayah dan bunda mengelus dada, terdapat lebih banyak lagi perbuatan mereka yang menentramkan jiwa. Selayaknya kita berterimakasih pada mereka. Atau, si kecil itu juga memerlukan 2 M yang sederhana :” Maafkan ayah ya Mas..,” atau “Maafkan Ibu ya..Mbak..”. Bukan mereka yang selalu berbuat salah sehingga layak diberi 7M tadi. Tapi justeru, kita, ayah bunda-nya, punya potensi berbuat salah lebih banyak lagi dari mereka. Sungguh, mereka begitu hebat dan berharga….! (***)

Catatan : tulisan ini pernah dimuat di Majalah Fahma, Cerdas di rumah Cerdas di Sekolah, edisi September 2009
Dr. Subhan Afifi, M.Si | Pimred Majalah Fahma | Dosen Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta | Ayah 3 anak | 
Berbincang melalu twitter follow https://twitter.com/subhanafifi

Mendidik dengan Keteladanan



Januari lalu saya berkesempatan mengunjungi TKIT Ya Bunayya dan SDIT Al Madinah, Hidayatullah Kebumen untuk berdiskusi tentang Strategi Public Relations Sekolah. Selain terkesan dengan bersih dan asrinya lingkungan kampus yang membuat para siswa betah belajar dan bermain serasa di rumah, saya menaruh apresiasi mendalam dengan tagline sekolah itu “Mendidik dengan Keteladanan”.
Sebuah cita-cita dan komitmen, sekaligus janji yang harus ditepati. Para ahli pemasaran menyebutnya dengan istilah positioning. Bagaimana pengelola suatu lembaga ingin memposisikan produk, merek dan lembaganya dalam benak pelanggan yang menjadi target pasar. Positioning adalah “janji” yang akan ditagih, sekaligus merupakan “reason for being” bagi lembaga. Pilihan positioning itu sangat tepat. Di saat orang tua dan masyarakat resah dengan semakin susahnya mencari sosok teladan sejati, bukan sekedar formalitas, sekolah itu menyodorkan secercah harapan untuk “Mendidik dengan Keteladanan.” Satu keteladanan lebih dahsyat pengaruhnya dibanding seribu nasihat. Itu kata orang bijak Walau para pendidik berbuih-buih berkhotbah tentang kejujuran, tapi perilaku menipu berjamaah dalam ujian nasional misalnya, ditampakkan secara kasat mata, anak didik justeru akan menyerap lebih cepat pelajaran tentang korupsi. Pendidikan tak kan pernah mencapai kesejatiannya tanpa keteladanan.
Bicara tentang keteladanan, saya jadi ingat peran keayahan (fatherhood), yang saya dan para ayah lain jalankan. Menjadi teladan, adalah salah satu soal ujian tersulit yang dihadapi para ayah. Bicara dengan fasih tentang ini itu, adalah salah satu keterampilan utama para ayah yang sejak lama dikenal sebagai komunikator hebat. Tapi mewujudkannya dalam bentuk riil, mudah dilihat dan dijadikan sebagai model hidup, tanpa perlu teori panjang lebar, masih perlu banyak latihan. Para ayah yang perokok berat, tentu tak berharap anak-anaknya kelak menjadi “ahli hisab” (gemar menghisab asap, maksudnya). Nasehat “Jangan sekali-sekali merokok ya Nak, nggak baik untuk kesehatan, boros juga, kan boros teman syetan, ” yang diberikan kepada sang anak dengan lemah lembut tapi di bibir masih terselip lintingan tembakau 9 cm, tentu hanya akan dianggap lelucon. Petuah untuk rajin belajar, gemar membaca dan mengurangi menonton televisi akan terasa hambar, bila sang ayah justeru tak boleh terganggu sedetikpun dari tayangan kegemarannya, dan jarang terlihat membuka buku. Ajakan ayah untuk bersikap sabar dan menghindari marah, pada kakak dan adik yang sedang bertengkar, tapi disampaikan dengan mata melotot, suara keras, dan gerakan tangan untuk menjewer, tentu susah dipahami substansinya oleh sang anak.
Adil Fathi Abdullah dalam “Kaifa Tushbihu Aban Naajihan (Menjadi Ayah yang Sukses)” menekankan bahwa faktor keteladanan ayah sangat berpengaruh pada pendidikan anak, karena pada tahap awal anak belajar dengan cara meniru. Ayah lah yang pertama menjadi teladan untuk urusan akidah, ibadah, akhlak, muammalah, dan segala hal yang ingin diajarkan pada anaknya. Keteladanan sangat membantu dalam pembentukan karakter, dan bisa jadi sangat menghemat tenaga. Tak perlu banyak cakap, anak adalah peniru yang hebat. “Pengaruh perbuatan satu orang terhadap seribu orang lebih besar daripada pengaruh ucapan seribu orang kepada satu orang,” tulis Abdullah menggambarkan kekuatan keteladanan.
Dorothy Law Nolte juga telah lama mengingatkan bahwa “Children Learn What They Live”. Anak belajar (terutama) dari kehidupan yang dijalaninya. Bukan sekedar dari untaian kata-kata dan nasehat. “If children live with criticism , they learn to condemn”, kata Dorothy. Jika anak dibesarkan dengan celaan, mereka belajar memaki. Atau, “if children live with hostility, they learn to fight,” jika anak dibesarkan dengan permusuhan, mereka belajar berkelahi. Bukankah sikap kita yang sering menyalahkan, membandingkan, mencela, bahkan sering menunjukkan sikap yang tidak bersahabat tanpa sebab terhadap mereka, adalah pelajaran efektif yang siap ditelan?
Ah, saya jadi malu dengan belum satunya kata dan perbuatan dalam mendidik para anugerah terindah itu. Tapi, rasanya belum terlambat untuk bergegas. Minimal berusaha menjadi sahabat dengan persediaan kasih sayang tak terbatas yang bisa dipercaya oleh mereka. “If Children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live”, masih kata Dorothy yang terngiang-ngiang di telinga saya. Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, mereka belajar bahwa dunia adalah tempat yang indah untuk ditinggali. Mereka juga belajar menemukan cinta dalam kehidupan. Jika para ayah sudah jadi teladan, tentu para bunda akan tersenyum lebih lebar, bulan pun akan terasa lebih terang. Anda Setuju? (***)

Dr. Subhan Afifi, M.Si | Pimred Majalah Fahma | Dosen Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta | Ayah 3 anak | 
Berbincang melalu twitter follow https://twitter.com/subhanafifi