Belajarnya Anak, Ya Bermain





Bu Nani, salah seorang guru Play Group dalam rapat harian melapor pada kepala sekolah, “Bu, tolong dalam pertemuan wali murid besok, dibahas tentang hakikat pendidikan pra sekolah ya, terutama dipahamkan pada ibu-ibunya. Saya sering melihat ibu yang memaksa, bahkan mencubit anaknya karena tidak mau terlibat dalam pembelajaran dan asyik bermain balok,”
Bu Ida, guru lain menambahkan,”Iya Bu, sepertinya harus segera dijelaskan. Ada kasus lain. Ketika saya menanyakan pada mama Aldi kenapa Aldi tidak bisa ikut tamasya minggu depan, alasannya, karena Arif ikut les privat membaca dan matematika.”
Tidak bisa dipungkiri, cerita di atas, walau fiktif, namun merupakan realita yang kerap terjadi di sekitar kita. Di saat para pendidik berusaha menanamkan pembelajaran pada anak melalui bermain, justru banyak orangtua yang terlalu memaksakan anaknya untuk ”belajar” sesuatu dengan metode konvensional yang diterapkan untuk orang dewasa saja sudah tidak efektif lagi.
Berbagai teori menyatakan bahwa anak-anak diibaratkan seperti kertas kosong yang bisa diisi apapun. Ya, memang benar, demikian luar biasanya anak-anak, sampai-sampai mereka bisa menghafal banyak hal di luar kepala. Pada masa inilah, anak berada dalam fase golden age (usia emas). Karena itu, kemampuan dan keterampilan anak harus segera ditumbuhkan sejak dini. berbagai les dan kursus pun diujicobakan pada anak. Pada akhirnya, anak-anak pun tumbuh seperti kertas berisi berbagai ilmu yang kumpulannya bisa membentuk sebuah buku.  Orangtua outsourcing, istilah inilah yang digunakan Muhammad Edy Susilo dalam tulisannya di Majalah Fahma beberapa edisi yang lalu untuk menyebut tipe orangtua seperti ini.
Anak bukanlah pembelajar pasif. Tapi mereka pembelajar aktif. Tahukah wahai para orangtua, banyak teori belajar lain yang lebih modern telah dilahirkan. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa anak adalah pembelajar aktif. Mereka senantiasa merekam apa yang mereka lihat, dengar, sentuh dan rasakan. Mereka juga sudah mampu menganalisis setiap interaksi mereka dengan lingkungannya. Tapi sayang, kehebatan itu kita sia-siakan. Kita patahkan dengan teknik belajar yang tidak sesuai. Mereka kita bentuk, bukan kita arahkan. Mereka kita isi, bukan kita fasilitasi. Strategi belajar terbaik bagi mereka adalah apa yang kita namakan dengan bermain. Bukan duduk, diam, dengarkan, dan hafalkan.
Memang, sebagai orangtua, kita pasti bangga ketika anaknya yang masih usia TK sudah bisa membaca dan berhitung. Orangtua pasti semakin bangga ketika anaknya yang masih kecil itu bisa menghafal berbagai kosakata dalam bahasa Inggris. Orangtua pasti lebih bangga lagi jika memiliki anak yang selalu menurut ketika disuruh duduk di meja belajar menghafalkan segala sesuatu yang dianggap perlu. Mengikuti berbagai les yang melelahkan. Tapi tahukah kita, bahwa kebanggaan kita, bahwa kebahagiaan kita sungguh membuat anak-anak kita menderita!
Mungkin banyak orangtua yang jengkel ketika anaknya sangat aktif bergerak, menaiki meja, memegangi benda yang menarik dan baru dilihatnya, menggigit dan mengulumnya atau membongkar mainan yang baru dibeli. Ada pula orangtua yang jengkel ketika ada anaknya yang menggambar tidak sesuai dengan perintah ibu gurunya. Pun demikian ketika ada anaknya yang terus menerus bertanya tentang sesuatu yang dia lihat. “Itu apa, Ma…?”, “Ini namanya apa, Ayah…?”. Sampai ada orangtua yang menghardik, “Sudah diam…, jangan banyak bertanya…!” Astaghfirullah….
Ada lagi kejengkelan orangtua ketika melihat rumah berantakan setelah anaknya dan teman-temannya bermain dokter-dokteran. Orangtua pasti sangat lebih jengkel lagi ketika anaknya lebih asyik bermain galah di lapangan atau sekedar bermain sepak bola dari pada duduk di meja belajar dan membaca.Tapi tahukah Anda, wahai para orangtua, bahwa seharusnya kita berbahagia karena anak bahagia karena kelak dia akan tumbuh menjadi individu yang kreatif dan cerdas. Karena sesungguhnya ketika dia sedang membuat Anda jengkel, dia sedang belajar. Sebenar-benarnya makna belajar bagi dia.||


Nur Muthmainnah,
Pendidik, tinggal di Yogya
foto lubi4stock.blogspot.com


Kacang Kapri





Kacang kapri memiliki nama latin Pisum sativum L. ssp. sativum dan masuk ke dalam suku Fabacea . Tanaman yang satu ini masih berkerabat dengan ercis dan terkadang banyak yang menganggap mereka sama. Berbeda dari jenis kacang lainnya, kacang kapri dipanen saat masih muda dan bagian bijinya belum berkembang sempurna. Jadi wajar jika kacang kapri ini lunak saat dikonsumsi.
Secara umum, terdapat dua varian kacang kapri yang bisa dan lazim dikonsumsi. Pertama, kacang kapri dengan biji pipih dan lebih dikenal dengan istilah Snow Pea. Ia merupakan kelompok budidaya Axiphium. Jenis ini yang paling populer di negara kita.  Kedua, Snap Pea. bentuknya lebih bulat dan masuk ke dalam kelompok budidaya macrocarpum.
Konsumsi kacang kapri dianjurkan sebab ia mengandung sejumlah senyawa yang penting bagi tubuh. Kacang ini mengandung sejumlah energi dengan rincian kilokalori, protein, fosfor, kalsium, karbohidrat, zat besi, sejumlah lemak, vitamin A, Vitamin B (riboflavin, asam folat, niasin, asam pantotenat, pyridoxine), Vitamin C , vitamin K, magnesium dan masih banyak lagi lainnya. Mengingat kandungannya yang kaya, kacang kapri ini sangat baik untuk dikonsumsi. Kandungan vitamin K-nya bisa mengaktifkan osteokalsin yang berepran dalam mengikat kalsium. Dengan demikian, kita akan terhindar dari osteoporosis.
Manfaat lain kacang kapri adalah sebagai senyawa anti radang atau dikenal dengan istilah anti-inflammatory terutama bagi mereka yang menderita penyakit asma, arthritis, IBS atau Irritable Bowel Syndrome juga asam urat. Bagi mereka yang terserang flu, konsumsi kacang kapri akan membantu mengurangi efek flu tersebut.


Ana Nurina, Ahli gizi, pemerhati dunia anak
foto saranaagri.wordpress.com


Menumbuhkan Kesantunan dan Kepedulian dari Sekolah



Pada suatu malam, istri saya bercerita bahwa siang tadi, dia pulang dari kampus naik bis kota, karena anak bungsu yang biasa menjemput masih ada kuliah tambahan. Ketika dia berjalan hampir sampai halte bis, terlihat sudah ada beberapa siswa sekolah menengah atas yang menunggu bis sambil senda gurau. Ada yang duduk dan ada yang berdiri. Ketika istri sampai di halte, semua siswa tadi terdiam, yang duduk dengan serempak berdiri dan mempersilahkan istri duduk di tempat yang semula mereka pakai. Sambil mengucapkan terima kasih, istri saya memandang mereka, Subhanallah, kesantunan dan kepedulian terpancar dari wajahnya. Istri saya merasakan kesejukan sikapnya, dari sekolah mana mereka?

Bagaimana sekolah bisa membentuk siswa-siswa seperti ini? Sebuah pertanyaan yang sangat wajar dikemukakan pada saat ini, karena yang sering terdengar adalah perkelahian dan tawuran, serta kurang peduli lingkungan. Kami jadi teringat ketika harus memilih sekolah dasar untuk anak kedua kami yang lahir di Perancis. Dia mempunyai karakter yang sedikit berbeda dengan kakaknya. Sifatnya lebih terbuka sehingga kami khawatir pengaruh dari luar akan lebih mudah masuk
.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa masa depan anak-anak sangat dipengaruhi oleh pendidikan dasarnya, sehingga dalam memilih sekolah dasar harus hati-hati. Sekolah yang menjadi pilihan kami, bukanlah sekolah yang di ruang tamunya berderet piala kejuaraan. Bukan pula sekolah yang dijaga oleh petugas dengan pakaian rapi, namun berwajah tidak bersahabat, atau sekolah dengan halaman yang asri, namun para tukang kebunnya tidak jujur dan senang menghasut. Kami tidak ingin menyekolahkan anak kami di sana. Akhirnya untuk anak kedua kami memilih sekolah yang berbasis agama yang mempunyai guru, penjaga sekolah dan tukang kebun yang berkomitmen melaksanakan ajaran tauhid, yang selalu mengajarkan kesantunan.

Alhamdulillah, pilihan kami tidak terlalu salah. Rasa syukur ini kami rasakan ketika suatu hari pada saat saya menjemput anak, guru kelasnya menceritakan tentang apa yang telah dilakukan oleh anak-anak pada hari itu. Mereka yang baru kelas dua telah mempunyai empati dan rasa sosial yang peka. Ternyata mereka telah berinisiatif untuk menghimpun dana dari sebagian uang sakunya untuk disumbangkan kepada seorang tukang kebun yang masuk rumah sakit, kepalanya luka kejatuhan benda yang berasal dari kelas yang sedang diperbaiki. Kami bangga, bagaimana anak-anak seusia mereka sudah punya keinginan untuk meringankan penderitaan orang lain. Saya yakin mereka tidak akan melakukan tindakan solidaritas itu kalau memang para guru tidak pernah mengajarkan atau mencontohkannya. Mereka tidak akan melakukannya kalau tidak ada kedekatan dengan tukang kebun yang selalu memberikan keteladanan. Kami yakin pasti dalam kesehariannya mereka bergaul dengan akrab penuh dengan rasa saling memiliki.

Kebiasaan baik yang ditanamkan oleh guru beserta yang lain tidak hanya empati, rasa sosial, tapi juga rasa penyerahan diri pada Allah Ta’ala. Hal ini kami saksikan pada saat anak tersebut dikhitan beberapa bulan kemudian. Kebetulan khitan dilakukan seorang dokter teman ibunya sehingga suasananya bisa lebih santai. Sering terjadi, ketika dokter mempersiapkan peralatan dan akan mulai menjalankan tugasnya, anak yang akan dikhitan sudah mulai gelisah, takut dan tidak sedikit yang akhirnya menangis, bahkan ada yang lari tidak jadi khitan. Sehingga kami juga sedikit khawatir jangan-jangan dia akan takut atau menangis karena yang kami amati selama ini, dia bukan termasuk anak pemberani.

Namun yang kami temui jauh dari itu semua, ketika dokter akan mulai melaksanakan tugasnya, dia kelihatan sedikit gelisah, namun tidak menangis dan justru kami lihat mulutnya komat-kamit, dia berdzikir. Subhanallah, kami tidak heran kalau dzikir tadi keluar dari bibir orang dewasa yang sedang mengalami kegelisahan atau ketakutan, namun ini keluar dari mulut anak kelas 2 SD yang berada dalam suasana tidak menentu. Dokter sempat berhenti sejenak sambil tersenyum dan bergumam “Baru kali ini saya punya pasien kecil berdzikir ketika dikhitan, di mana sekolahnya?”Alhamdulillah, Allah telah memilihkan sekolah yang baik untuk anak kami. Wallahu a’lam bish-shawab.||

Prof. Dr. Ir. Indarto, DEA
Pimpinan Umum Majalah Fahma

Kegagalan yang bukan Menghentikan….


Allah yang menjadikan mati dan hidup. Bagi setiap orang sudah ada ketentuan baginya mengenai waktu dan ketetapan kematian. Demikian juga awal kehidupan seseorang, Allah yang menetapkan berbagai keadaan yang ada padanya.
Allah menguji kita semua. Bagi setiap orang ada jenis ujian yang dia harus jalani. Tidak ada seorang pun yang tidak mendapat ujian. Setiap orang yang Allah hidupkan senantiasa akan diliputi keadaan demi keadaan yang merupakan ujian yang harus diselesaikannya.
Bagi setiap sikap terhadap ujian pasti ada hasil. Apapun hasil itu. Adapun hasil yang Allah jadikan ukuran kemuliaan dan keberhasilan bagi setiap orang adalah siapa di antara manusia yang lebih baik amalnya. Ulama memberikan penjelasan, perhatikanlah: bukan manusia yang lebih banyak amalnya. Karena yang banyak belumlah tentu berharga. Adapun amal yang berharga adalah amal yang benar dan ikhlas.
Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Allah tidak terkalahkan oleh siapapun. Tidak ada yang bisa melemahkan-Nya. Dia mengampuni setiap pendosa yang bersungguh bertaubat. Samudera ampunan-Nya lebih luas daripada banyaknya dosa para pendosa.
Allah menghamparkan kesempatan bertaubat dan memperbaiki diri di malam hari bagi orang yang   berbuat salah di siang hari. Dan menghampar di siang hari bagi yang memperbuat keliru di malam hari. Allah amat luas membuka kesempatan bertaubat bagi para pendosa.
Allah bersumpah: “Demi waktu.” Hal ini dijadikan sebagai sumpah karena hal diagungkan dan perlu diperhatikan. Dalam pergantian siang dan malamnya, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Apapun aktivitas dan di manapun tempatnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Mengerjakan yang benar itu mengandung beban. Maka tidak akan sukses orang yang tidak punya kemampuan bersabar. Akan gagal orang yang mudah berputus asa dan menyerah. Orang sukses itu bukan orang tidak pernah gagal.orang sukses itu adalah orang kuat bersabar untuk menyempurnakan amal shalih meski ada beban berat padanya.

Anak-anak usia dini memiliki sensitivitas tinggi terhadap kegagalan. Mereka cenderung mudah patah semangat. saat gagal, anak merasa cemas sehingga mudah tertekan. Anak-anak harus memerlukan bantuan agar  percaya diri untuk bisa bangkit lagi. Peran orangtua sangat besar dalam upaya menjadikan anak-anak bisa bersikap benar menghadapi kegagalan
Kegagalan atau ketidakberhasilan dalam suatu urusan merupakan kepastian bagi setiap orang. Tidak pernah ada orang yang menjalani hidup tanpa kegagalan. Maka tidak bisa menerima kegagalan adalah hal menyakitkan dan melemahkan yang tidak patut tumbuh dalam anak-anak kita. Mereka harus berlatih untuk siap menghadapi kegagalan dengan cara yang benar.
Demikian juga, anak-anak memerlukan pendampingan yang baik ketika mengalami ketertundaan keberhasilan itu.
Hal-hal harian yang kecil bisa menjadi sarana pendidikan sikap mental ini. Belum segera berhasil menali sepatu tidaklah perlu diomeli ataupun segera diambil alih oleh orangtua. Anak itu perlu terus mencoba dan akhirnya merayakan keberhasilannya menjadi terampil. Berikan kalimat indah penuh sayang di setiap keberhasilannya yang tertunda. Karena itudia akan terus mau mencoba.
Anak-anak yang diperlakukan seperti ini akan cenderung memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi dibandingkan dengan anak-anak lain yang selalu dibantu oleh orangtuanya dalam segala hal.
Terkadang kegagalan membuat anak merasa stres dan akhirnya menangis. Jika hal ini terjadi maka buatlah ia diam dari tangisannya. Kemudian contohkan cara melakukan yang baik dan benar secara perlahan. Ajak ia untuk mencobanya lagi. Katakan; keberhasilan itu dekat kala kita belajar terus. Mencoba lagi ketika belum berhasil.  

Kegiatan bermain juga merupakan pelajaran untuk menjadi tangguh, sabar, dan sportif menerima konsekuensi kekalahan. Anak-anak perlu mendapat perjanjian dan nasihat untuk bertekad tidak ngamuk dan terlalu bersedih ketika permainan akan dimulai. Hal ini akan membangun kesiapan mentalnya menghadapi kekalahan. Hal ini akan menguatkannya jika dia jalani terus menerus dalam bimbingan.||

Bagus Priyosembodo, Penulis Kajian Utama Majalah Fahma
foto : esq-news.com

Allah Menghendaki Kemudahan Bagimu



Ketika ungkapan-ungkapan, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu“; “Allah tidak membebani  seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya“, “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan“; “Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah! Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum kafir“; “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa-apa yang terjadi pada suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka“, demikian berulangkali diperdengarkan dan ditekankan kepada anak-anak dan murid-murid kita, maka mereka akan mengembangkan keyakinan bahwa kesulitan tersebut mampu diatasi. Mereka akan meyakini dampak tersebut bersifat terbatas, sesaat, sementara dan akan cepat berlalu.   
Ketika ungkapan-ungkapan, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar“; “Bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik“; “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu“; “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan“; “Barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik“; “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberi pahala tanpa dihitung (tidak terbatas)“ demikian lazim diperdengarkan dan ditekankan kepada anak dan murid kita, maka mereka memiliki modal yang memungkinkan masuk ke dalam kesesuaian nilai, moral, dan harapan sosial yang terstandar di lingkungannya. Mereka akan terjaga dari penyimpangan nilai dan norma di masyarakat karena mampu menahan diri dari dorongan nafsu amarah, mampu menahan nafsu birahi sehingga kemaluannya terjaga dari berbagai perbuatan terkutuk, mampu menahan diri untuk tidak makan secara berlebihan, dan mampu menahan diri untuk tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu.
Mereka tidak suka mencari kambing hitam karena mereka mampu menahan diri untuk tidak mengatakan apa yang seharusnya tidak dikatakan, tidak melemparkan hal-hal yang tidak disukai kepada orang lain, dan tidak kabur dari masalah. Mereka akan lebih bahagia dalam kehidupannya karena mampu menjaga diri dari berbagai kelebihan dunia dan sanggup menyepelekannya,—hanya mengambil sebagian kecil dari dunia untuk mencukupi kebutuhan—tidak pelit, tidak mengganggu orang lain, dan tidak berlaku malas.
Ketika ungkapan-ungkapan, ”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal”; ”Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”;”Barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”;”Maka berpalinglah kamu dari mereka dan bertawakallah kepada Allah”;”Janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung”; ”Dan bertawakallah kepada Allah dan cukuplah Allah sebagai pemelihara” demikian dibiasakan diperdengarkan dan ditekankan kepada anak dan murid kita, maka mereka akan mengembangkan kesadaran yang kokoh akan baiknya pilihan Allah, meyakini bahwa Allah tidak pernah menghendaki hamba-Nya menderita karena Allah Maha Penyayang kepada orang beriman dan Allah lebih menyayangi hamba-Nya yang beriman dibandingkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Rahmat Allah mengalahkan kemurkaan-Nya, ampunan-Nya mendahului hukuman-Nya, dan nikmat-Nya lebih dahulu daripada ujian-Nya. Allah Maha Penyayang dan Allah tidak melakukan sesuatu kecuali kebaikan.
Mereka percaya bahwa kesulitan yang diperjalankan Allah kepadanya demi karunia dan anugerah yang akan datang sesudahnya. Mereka yakin Allah menciptakan segala sesuatu yang menyakitkan bukan karena kezaliman. Namun Allah menciptakannya karena keadilan-Nya dan meletakkannya di tempat yang layak. Allah tidak menciptakan segala perkara yang menyakitkan  pada sesuatu yang ketiadaannya lebih baik daripada keberadaannya, dan jika tidak demikian maka akan menimbulkan keburukan.

Mereka meyakini sepenuhnya bahwa segala yang Allah ciptakan dan ingin Allah lakukan, maka penciptaan-Nya dan perbuatan-Nya itu akan lebih baik daripada jika Allah tidak menciptakan dan tidak melakukannya. Begitu pula sebaliknya. Apa pun yang ketiadaannya itu lebih baik daripada keberadaannya, maka keberadaannya adalah keburukan. Allah tidak menciptakan kecuali yang adil dan baik. Allah Maha Adil.||

Dr. Irwam Nuryana Kurniawan, M.Psi. Kepala Sekolah MI Darussalam Sleman Yogyakarta

Cerdas Mengelola Kegagalan


 Barangkali setiap orang pernah merasakan kegagalan. Ketika gagal, orang akan merasa kecewa, sedih atau bahkan marah. Reaksi semacam itu adalah sesuatu yang manusiawi. Sebab, sebelum kegagalan terjadi, biasanya orang sudah memiliki rencana tertentu. Tetapi reaksi atas kegagalan sebaiknya tidak berlarut-larut karena hanya akan membuat kita terjerumus dalam perasaan putus asa.
Sesungguhnya, sama seperti dalam urusan apa pun,  tidak ada rumus jitu dalam menghadapi kegagalan selain kembali pada panduan yang ditentukan oleh Allah Ta’ala. Kalaupun dalam mengelola kegagalan memerlukan kecerdasan, maka para cerdik pandai mengistilahkannya sebagai “kecerdasan spriritual”. Kegagalan yang terjadi adalah sebuah ketentuan yang tidak bisa dihindarkan. Apalagi yang bisa dilakukan selain bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Sang Maha Pemilik segala sesuatu.
Namun, orang yang mengalami kegagalan perlu melihat kegagalan tersebut bukan sebagai tembok tebal yang membuat segala langkah harus terhenti. Kegagalan akan lebih baik dianggap sebagai sebuah etape perjalanan di mana kita perlu istirahat sejenak, introspeksi dan mengumpulkan energi untuk melanjutkan perjalanan kembali.
Terkait dengan kegagalan yang menimpa anak-anak, maka peran orangtua amat penting dalam membesarkan hati anaknya agar tidak terpuruk dalam keputus asaan atau nglokro (Jawa). Anak-anak bisa gagal dalam mendaftar di sekolah baru, dalam mengikuti pelajaran di sekolah, dalam suatu kompetisi atau bahkan merasa gagal dalam sebuah permainan bersama teman-temannya. Reaksi tiap anak terhadap kegagalan tidaklah sama. Orangtua perlu mengenali karakter masing-masing anak sembari mengarahkan mereka supaya bisa menerima kegagalan. Terdapat anak yang easy going dalam menerima kegagalan. Ada pula yang mudah tertekan dalam menghadapi kegagalan.
Orangtua yang cerdas mengelola kegagalan akan lebih mudah memberikan pengertian kepada anak-anak yang mengalami kegagalan. Ada beberapa langkah yang dapat dikembangkan ketika menerima kegagalan. Pertama, mengembangkan sikap khusnudzon pada Allah Ta’ala.  Kita harus yakin bahwa Allah sudah tahu mana yang terbaik buat kita. Mengenai hal yang baik dan buruk bagi manusia, kita bisa mencermatinya pada Surat Al Baqarah ayat 216.
Kedua, introspeksi diri. Kita perlu mengkaji kembali perencanaan yang telah dilakukan.  Begitu pentingnya perencanaan yang baik sehingga orang bijak mengatakan “gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan”. Rencana yang matang perlu diiringi dengan doa dan usaha sekuat tenaga.
Pada tahap perencanaan, kita perlu  menyusun “Plan B”, untuk mengantisipasi jika rencana pertama gagal. Seyakin-yakinnya kita dengan sebuah perencanaan, sebaiknya tetap memberi ruang di batin kita jika rencana tersebut gagal. Plan B membuat kita tidak terlalu “terjatuh” ketika gagal. Sikap roja’ (berharap) dan khauf (takut) pada Allah perlu kita kembangkan seperti burung-burung mengepakkan kedua sayapnya.
Ketiga, tidak putus asa dan terus melanjutkan perjalanan hidup. Dalam kegagalan, kita perlu tetap bersyukur karena ajaran agama kita mengajarkan sikap untuk tidak putus asa dan selalu optimis. Ayat 87 dalam Surat Yusuf “...Tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir” perlu terus kita gemakan di dada.  Kegagalan dan kesuksesan adalah dua hal yang akan senantiasa dihadapi oleh manusia. Ketika gagal, kita harus optimis untuk bangkit lagi. “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”, firman Allah pada Surat Al Insyiroh ayat 5. Bahkan Allah mengulangnya kembali pada ayat berikutnya “sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.  Pelangi yang indah baru akan muncul setelah hujan. Kadang kesuksesan yang manis bersembunyi di balik kegagalan yang pahit. Namun, kita juga perlu sabar karena mungkin bertahun-tahun kemudian, kita baru mengetahui hikmah dari kegagalan.

Pada intinya,  berserah diri kepada Allah menjadi kunci dalam mengelola kegagalan. Karena, kalau sudah berserah, apalagi yang kita risaukan?

M Edy Susilo, Dosen Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta

gambar : melindahospital.com

Menjawab Pertanyaan Kritis Anak


“Ayah, mengapa mobil bisa berjalan?” celetuk ‘Aisyah yang baru berusia 4 tahun pada ayahnya.
“Karena mobil ada mesinnya, ada bahan bakarnya. Jadi bisa jalan,” sahut sang ayah.
“Memang bahan bakar mobil apa sih?”
“Bensin”
“Kalau manusia bahan bakarnya apa? Aku tetap bisa gerak dan bermain walau gak perbah dikasih bahan bakar,”
“Bahan bakar manusia ya makanan dan minuman. Bukan bensin atau solar, sayang. “

Pernahkah anda menghadapi situasi seperti di atas? Ya, menjawab pertanyaan anak memang gampang-gampang susah. Apalagi pertanyaan tersebut termasuk pada kategori pertanyaan kritis. Jika kita jawab, ada saja serentetan pertanyaan lain. Kalau mau ditulis, satu lembar kertas rasanya tidak akan cukup. Namun jika tidak dijawab, justru sangat berbahaya karena dapat menumpulkan rasa ingin tahu anak. 
Ada kiat-kiat yang bisa kita pelajari dalam menjawab pertanyaan kritis anak. Pertama, bersikaplah jujur. Ketika ditanya anak tentang suatu hal, orang tua harus bersikap jujur. Maksudnya, orang tua harus menjawab pertanyaan itu secara objektif terukur. Orang tua tidak boleh menolak pertanyaan anak. Mereka itu memerlukan jawaban segera. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh menyesatkan pikiran anak dengan jawaban yang mbulet alias bertele-tele alias berbelit-belit. Jawablah pertanyaan anak itu dengan jujur.
Kedua, gunakan bahasa analogi. Pikiran anak belum mampu memahami penalaran tingkat tinggi. Oleh karena itu, pikiran anak perlu dirangsang dengan penalaran analogi. Penalaran analogi adalah pola berpikir yang menggunakan objek lain sebagai pembanding untuk memudahkan pengembangan gagasan. Pernyataan awal tulisan ini dapat digunakan sebagai contohnya, yaitu penggunaan istilah kaset untuk menggantikan istilah otak atau pikiran anak
Ketiga, bersikap ramah. Anak sering bertanya tanpa mempertimbangkan kesopanan atau etika. Mereka hanya berdasarkan insting atau naluri keingintahuan. Jadi, mereka tidak pernah berpikir bahwa pertanyaan itu kurang etis ditanyakan. Namun, rasa ingin tahu membangkitkan keberaniannya untuk bertanya. Maka, orang tua tidak boleh menanggapi pertanyaan itu secara emosional. Orang tua harus bersikap ramah agar anak merasa dilayani.
Ada beberapa alasan mengapa anak usia prasekolah sangat gemar bertanya. Di antaranya: Pertama, menunjukkan minat mereka terhadap peristiwa atau pemandangan di sekitarnya. Kedua, belum paham. Keingintahuan yang belum terpenuhi akan membuat anak terus bertanya sampai ia mendapatkan jawaban. Ketiga, mencari perhatian, khususnya jika si kecil selalu mengajukan pertanyaan yang sama.

Tips menjawab pertanyaan kritis anak:
Ø  Hindari penjelasan yang berbelit-belit. Jawab dan jelaskan secara sederhana, dengan bahasa yang sesuai kemampuan berpikir anak.
Ø  Jika masih ragu dengan jawaban yang akan diberikan, jangan bersikap sok tahu. Alih-alih mendapat jawaban yang tepat, anak justru malah menelan informasi yang salah.
Ø  Ajak anak untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya yang sulit. Misalnya, dengan mengajak mereka membuka ensiklopedia atau mencari orang yang kira-kira bisa menjawab pertanyaannya.
Ø  Ajak anak belajar menganalisis hubungan sebab-akibat. Misalnya, ketika anak bertanya: “Ma, kenapa orang naik kuda? Kenapa enggak jalan kaki saja, kan punya kaki?” Cobalah pancing daya analisis si kecil dengan balik bertanya, “Menurut kamu, lebih cepat mana, orang sampai ke tujuannya apakah naik kuda atau jalan kaki?”
Ø  Untuk menjawab pertanyaan “mengapa”, sebaiknya orangtua jangan langsung menjawab. Biarkan si kecil berpikir mencari jawabannya. Maklumi jika jawabannya masih sangat sederhana, karena memang kemampuan berpikirnya masih terbatas. Dalam hal ini, orangtua berperan menambah atau menjelaskan sesuatu agar lebih jelas.


Ahmad Zaenuri,
Pendidik, tinggal di Bantul.

Mengurai Problematika Remaja

  
Sudah menjadi fitrah bahwa manusia di masa remaja akan mengalami pertumbuhan besar tubuh, pikiran dan akal. Karena masa remaja merupakan masa pertumbuhan, maka timbullah perubahan yang sangat cepat. Oleh karena itulah, dalam masa ini sangat dibutuhkan tersedianya sarana-sarana untuk membatasi diri, mengekang nafsu dan pengarahan yang bijaksana untuk menuntun ke jalan yang lurus.
Problematika remaja di zaman modern termasuk masalah terpenting yang dihadapi semua masyarakat di dunia, Hal ini dikarenakan para pemuda dalam masa pertumbuhan fisik maupun mental, banyak mengalami gejolak dalam pikiran maupun jiwa mereka, yang sering menyebabkan mereka mengalami keguncangan dalam hidup. Akibatnya, mereka berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari berbagai masalah tersebut.
Banyak di antara remaja yang memilih jalan pintas dalam mengatasi problem hidupnya. Ada yang memilih mengkonsumsi narkoba, terlibat pergaulan dan seks bebas, dan sederet perilaku negatif lainnya. Faktor yang menjadi penyebab penyimpangan dan problem  para  remaja ini sangat banyak dan beragam. Misalnya waktu luang yang tidak termanfaatkan. Jika diri manusia tidak beraktifitas, maka pikirannya akan beku, akalnya akan buntu dan aktifitas dirinya akan lemah, sehingga hatinya akan dikuasai bisikan-bisikan pemikiran buruk, yang terkadang akan melahirkan keinginan-keinginan buruk.
Untuk mengatasi hal ini, hendaknya seorang pemuda berupaya untuk mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang cocok dan bermanfaat untuknya, seperti membaca, menulis, berwiraswasta atau kegiatan lainnya, untuk menghindari kekosongan aktivitas dirinya, dan menjadikannya sebagai anggota masyarakat yang berbuat untuk dirinya dan orang lain.
Selain itu, kesenjangan dan buruknya hubungan antara pemuda dengan orangtua, baik dari kalangan keluarganya ataupun orang lain juga berpotensi menjadi faktor penyebab. Banyak orangtua yang menyaksikan penyimpangan akhlak pada pemuda di keluarganya atau selain keluarganya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya berdiri kebingungan dan tidak mampu meluruskan akhlaknya, bahkan dia berputus asa dari kebaikan pemuda tersebut. Hal ini menimbulkan kebencian dari pihak orang tua kepada para pemuda, bahkan ketidakperdulian dengan semua keadaan mereka yang baik ataupun buruk. Bahkan terkadang hal ini menjadikan para orangtua menilai negatif kepada semua pemuda, yang ini akan menyebabkan ketidakharmonisan hubungan mereka dalam masyarakat, karena masing-masing pihak akan memandang yang lainnya dengan pandangan kebencian dan melecehkan. Jika ini terjadi maka berarti bahaya besar sedang mengancam kelangsungan hidup bermasyarakat.
Dan sebab lain yang tidak kalah penting adalah seringnya bergaul dan menjalin hubungan dengan teman pergaulan yang menyimpang akhlaknya. Seperti yang telah diwasiatkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam,“Seorang manusia akan mengikuti agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang darimu melihat siapa yang dijadikan teman dekatnya”
Agar problematika ini tidak semakin kompleks, maka harus ada tindakan nyata untuk menyelamatkan para remaja. Buku berjudul Mendidik Remaja dengan Cinta yang ditulis oleh Yusuf Sabiq Zainudin ini memberi pengertian bahwa dalam mendidik remaja, haruslah dengan mengajak mereka kembali kepada ajaran agama dan akhlak Islam, yang keduanya merupakan penegak kebaikan dalam masyarakat. Agama Islam sangat memberikan perhatian besar kepada upaya perbaikan mental para pemuda. Karena generasi muda hari ini adalah para pemeran utama di masa mendatang, dan mereka adalah pondasi yang menopang masa depan umat ini.
Dalam buku yang diterbitkan oleh Fahma Media ini, Yusuf Sabiq menyajikan berbagai metode untuk membina dan mengarahkan para pemuda kepada kebaikan. Karena jika mereka baik maka umat ini akan memiliki masa depan yang cerah, dan generasi tua akan digantikan dengan generasi muda yang shaleh, insya Allah.||
Judul Buku              : Mendidik Remaja dengan Cinta
Penulis                    : Yusuf Sabiq Zainudin
Penerbit                  : Fahma Media
Tebal                      : 155 halaman
Cetakan                 : 2013
--------
Dwi Lestari W, Staf BPH LPIT Insan Mulia, Ganjuran, Bambanglipuro, Bantul