» » Belajarnya Anak, Ya Bermain

Belajarnya Anak, Ya Bermain

Penulis By on Wednesday, September 25, 2013 | No comments





Bu Nani, salah seorang guru Play Group dalam rapat harian melapor pada kepala sekolah, “Bu, tolong dalam pertemuan wali murid besok, dibahas tentang hakikat pendidikan pra sekolah ya, terutama dipahamkan pada ibu-ibunya. Saya sering melihat ibu yang memaksa, bahkan mencubit anaknya karena tidak mau terlibat dalam pembelajaran dan asyik bermain balok,”
Bu Ida, guru lain menambahkan,”Iya Bu, sepertinya harus segera dijelaskan. Ada kasus lain. Ketika saya menanyakan pada mama Aldi kenapa Aldi tidak bisa ikut tamasya minggu depan, alasannya, karena Arif ikut les privat membaca dan matematika.”
Tidak bisa dipungkiri, cerita di atas, walau fiktif, namun merupakan realita yang kerap terjadi di sekitar kita. Di saat para pendidik berusaha menanamkan pembelajaran pada anak melalui bermain, justru banyak orangtua yang terlalu memaksakan anaknya untuk ”belajar” sesuatu dengan metode konvensional yang diterapkan untuk orang dewasa saja sudah tidak efektif lagi.
Berbagai teori menyatakan bahwa anak-anak diibaratkan seperti kertas kosong yang bisa diisi apapun. Ya, memang benar, demikian luar biasanya anak-anak, sampai-sampai mereka bisa menghafal banyak hal di luar kepala. Pada masa inilah, anak berada dalam fase golden age (usia emas). Karena itu, kemampuan dan keterampilan anak harus segera ditumbuhkan sejak dini. berbagai les dan kursus pun diujicobakan pada anak. Pada akhirnya, anak-anak pun tumbuh seperti kertas berisi berbagai ilmu yang kumpulannya bisa membentuk sebuah buku.  Orangtua outsourcing, istilah inilah yang digunakan Muhammad Edy Susilo dalam tulisannya di Majalah Fahma beberapa edisi yang lalu untuk menyebut tipe orangtua seperti ini.
Anak bukanlah pembelajar pasif. Tapi mereka pembelajar aktif. Tahukah wahai para orangtua, banyak teori belajar lain yang lebih modern telah dilahirkan. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa anak adalah pembelajar aktif. Mereka senantiasa merekam apa yang mereka lihat, dengar, sentuh dan rasakan. Mereka juga sudah mampu menganalisis setiap interaksi mereka dengan lingkungannya. Tapi sayang, kehebatan itu kita sia-siakan. Kita patahkan dengan teknik belajar yang tidak sesuai. Mereka kita bentuk, bukan kita arahkan. Mereka kita isi, bukan kita fasilitasi. Strategi belajar terbaik bagi mereka adalah apa yang kita namakan dengan bermain. Bukan duduk, diam, dengarkan, dan hafalkan.
Memang, sebagai orangtua, kita pasti bangga ketika anaknya yang masih usia TK sudah bisa membaca dan berhitung. Orangtua pasti semakin bangga ketika anaknya yang masih kecil itu bisa menghafal berbagai kosakata dalam bahasa Inggris. Orangtua pasti lebih bangga lagi jika memiliki anak yang selalu menurut ketika disuruh duduk di meja belajar menghafalkan segala sesuatu yang dianggap perlu. Mengikuti berbagai les yang melelahkan. Tapi tahukah kita, bahwa kebanggaan kita, bahwa kebahagiaan kita sungguh membuat anak-anak kita menderita!
Mungkin banyak orangtua yang jengkel ketika anaknya sangat aktif bergerak, menaiki meja, memegangi benda yang menarik dan baru dilihatnya, menggigit dan mengulumnya atau membongkar mainan yang baru dibeli. Ada pula orangtua yang jengkel ketika ada anaknya yang menggambar tidak sesuai dengan perintah ibu gurunya. Pun demikian ketika ada anaknya yang terus menerus bertanya tentang sesuatu yang dia lihat. “Itu apa, Ma…?”, “Ini namanya apa, Ayah…?”. Sampai ada orangtua yang menghardik, “Sudah diam…, jangan banyak bertanya…!” Astaghfirullah….
Ada lagi kejengkelan orangtua ketika melihat rumah berantakan setelah anaknya dan teman-temannya bermain dokter-dokteran. Orangtua pasti sangat lebih jengkel lagi ketika anaknya lebih asyik bermain galah di lapangan atau sekedar bermain sepak bola dari pada duduk di meja belajar dan membaca.Tapi tahukah Anda, wahai para orangtua, bahwa seharusnya kita berbahagia karena anak bahagia karena kelak dia akan tumbuh menjadi individu yang kreatif dan cerdas. Karena sesungguhnya ketika dia sedang membuat Anda jengkel, dia sedang belajar. Sebenar-benarnya makna belajar bagi dia.||


Nur Muthmainnah,
Pendidik, tinggal di Yogya
foto lubi4stock.blogspot.com


Baca Juga Artikel Terkait Lainnya