» » Cerdas Mengelola Kegagalan

Cerdas Mengelola Kegagalan

Penulis By on Monday, September 16, 2013 | No comments


 Barangkali setiap orang pernah merasakan kegagalan. Ketika gagal, orang akan merasa kecewa, sedih atau bahkan marah. Reaksi semacam itu adalah sesuatu yang manusiawi. Sebab, sebelum kegagalan terjadi, biasanya orang sudah memiliki rencana tertentu. Tetapi reaksi atas kegagalan sebaiknya tidak berlarut-larut karena hanya akan membuat kita terjerumus dalam perasaan putus asa.
Sesungguhnya, sama seperti dalam urusan apa pun,  tidak ada rumus jitu dalam menghadapi kegagalan selain kembali pada panduan yang ditentukan oleh Allah Ta’ala. Kalaupun dalam mengelola kegagalan memerlukan kecerdasan, maka para cerdik pandai mengistilahkannya sebagai “kecerdasan spriritual”. Kegagalan yang terjadi adalah sebuah ketentuan yang tidak bisa dihindarkan. Apalagi yang bisa dilakukan selain bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Sang Maha Pemilik segala sesuatu.
Namun, orang yang mengalami kegagalan perlu melihat kegagalan tersebut bukan sebagai tembok tebal yang membuat segala langkah harus terhenti. Kegagalan akan lebih baik dianggap sebagai sebuah etape perjalanan di mana kita perlu istirahat sejenak, introspeksi dan mengumpulkan energi untuk melanjutkan perjalanan kembali.
Terkait dengan kegagalan yang menimpa anak-anak, maka peran orangtua amat penting dalam membesarkan hati anaknya agar tidak terpuruk dalam keputus asaan atau nglokro (Jawa). Anak-anak bisa gagal dalam mendaftar di sekolah baru, dalam mengikuti pelajaran di sekolah, dalam suatu kompetisi atau bahkan merasa gagal dalam sebuah permainan bersama teman-temannya. Reaksi tiap anak terhadap kegagalan tidaklah sama. Orangtua perlu mengenali karakter masing-masing anak sembari mengarahkan mereka supaya bisa menerima kegagalan. Terdapat anak yang easy going dalam menerima kegagalan. Ada pula yang mudah tertekan dalam menghadapi kegagalan.
Orangtua yang cerdas mengelola kegagalan akan lebih mudah memberikan pengertian kepada anak-anak yang mengalami kegagalan. Ada beberapa langkah yang dapat dikembangkan ketika menerima kegagalan. Pertama, mengembangkan sikap khusnudzon pada Allah Ta’ala.  Kita harus yakin bahwa Allah sudah tahu mana yang terbaik buat kita. Mengenai hal yang baik dan buruk bagi manusia, kita bisa mencermatinya pada Surat Al Baqarah ayat 216.
Kedua, introspeksi diri. Kita perlu mengkaji kembali perencanaan yang telah dilakukan.  Begitu pentingnya perencanaan yang baik sehingga orang bijak mengatakan “gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan”. Rencana yang matang perlu diiringi dengan doa dan usaha sekuat tenaga.
Pada tahap perencanaan, kita perlu  menyusun “Plan B”, untuk mengantisipasi jika rencana pertama gagal. Seyakin-yakinnya kita dengan sebuah perencanaan, sebaiknya tetap memberi ruang di batin kita jika rencana tersebut gagal. Plan B membuat kita tidak terlalu “terjatuh” ketika gagal. Sikap roja’ (berharap) dan khauf (takut) pada Allah perlu kita kembangkan seperti burung-burung mengepakkan kedua sayapnya.
Ketiga, tidak putus asa dan terus melanjutkan perjalanan hidup. Dalam kegagalan, kita perlu tetap bersyukur karena ajaran agama kita mengajarkan sikap untuk tidak putus asa dan selalu optimis. Ayat 87 dalam Surat Yusuf “...Tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir” perlu terus kita gemakan di dada.  Kegagalan dan kesuksesan adalah dua hal yang akan senantiasa dihadapi oleh manusia. Ketika gagal, kita harus optimis untuk bangkit lagi. “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”, firman Allah pada Surat Al Insyiroh ayat 5. Bahkan Allah mengulangnya kembali pada ayat berikutnya “sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.  Pelangi yang indah baru akan muncul setelah hujan. Kadang kesuksesan yang manis bersembunyi di balik kegagalan yang pahit. Namun, kita juga perlu sabar karena mungkin bertahun-tahun kemudian, kita baru mengetahui hikmah dari kegagalan.

Pada intinya,  berserah diri kepada Allah menjadi kunci dalam mengelola kegagalan. Karena, kalau sudah berserah, apalagi yang kita risaukan?

M Edy Susilo, Dosen Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta

gambar : melindahospital.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya