» » Menumbuhkan Kesantunan dan Kepedulian dari Sekolah

Menumbuhkan Kesantunan dan Kepedulian dari Sekolah

Penulis By on Friday, September 20, 2013 | No comments



Pada suatu malam, istri saya bercerita bahwa siang tadi, dia pulang dari kampus naik bis kota, karena anak bungsu yang biasa menjemput masih ada kuliah tambahan. Ketika dia berjalan hampir sampai halte bis, terlihat sudah ada beberapa siswa sekolah menengah atas yang menunggu bis sambil senda gurau. Ada yang duduk dan ada yang berdiri. Ketika istri sampai di halte, semua siswa tadi terdiam, yang duduk dengan serempak berdiri dan mempersilahkan istri duduk di tempat yang semula mereka pakai. Sambil mengucapkan terima kasih, istri saya memandang mereka, Subhanallah, kesantunan dan kepedulian terpancar dari wajahnya. Istri saya merasakan kesejukan sikapnya, dari sekolah mana mereka?

Bagaimana sekolah bisa membentuk siswa-siswa seperti ini? Sebuah pertanyaan yang sangat wajar dikemukakan pada saat ini, karena yang sering terdengar adalah perkelahian dan tawuran, serta kurang peduli lingkungan. Kami jadi teringat ketika harus memilih sekolah dasar untuk anak kedua kami yang lahir di Perancis. Dia mempunyai karakter yang sedikit berbeda dengan kakaknya. Sifatnya lebih terbuka sehingga kami khawatir pengaruh dari luar akan lebih mudah masuk
.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa masa depan anak-anak sangat dipengaruhi oleh pendidikan dasarnya, sehingga dalam memilih sekolah dasar harus hati-hati. Sekolah yang menjadi pilihan kami, bukanlah sekolah yang di ruang tamunya berderet piala kejuaraan. Bukan pula sekolah yang dijaga oleh petugas dengan pakaian rapi, namun berwajah tidak bersahabat, atau sekolah dengan halaman yang asri, namun para tukang kebunnya tidak jujur dan senang menghasut. Kami tidak ingin menyekolahkan anak kami di sana. Akhirnya untuk anak kedua kami memilih sekolah yang berbasis agama yang mempunyai guru, penjaga sekolah dan tukang kebun yang berkomitmen melaksanakan ajaran tauhid, yang selalu mengajarkan kesantunan.

Alhamdulillah, pilihan kami tidak terlalu salah. Rasa syukur ini kami rasakan ketika suatu hari pada saat saya menjemput anak, guru kelasnya menceritakan tentang apa yang telah dilakukan oleh anak-anak pada hari itu. Mereka yang baru kelas dua telah mempunyai empati dan rasa sosial yang peka. Ternyata mereka telah berinisiatif untuk menghimpun dana dari sebagian uang sakunya untuk disumbangkan kepada seorang tukang kebun yang masuk rumah sakit, kepalanya luka kejatuhan benda yang berasal dari kelas yang sedang diperbaiki. Kami bangga, bagaimana anak-anak seusia mereka sudah punya keinginan untuk meringankan penderitaan orang lain. Saya yakin mereka tidak akan melakukan tindakan solidaritas itu kalau memang para guru tidak pernah mengajarkan atau mencontohkannya. Mereka tidak akan melakukannya kalau tidak ada kedekatan dengan tukang kebun yang selalu memberikan keteladanan. Kami yakin pasti dalam kesehariannya mereka bergaul dengan akrab penuh dengan rasa saling memiliki.

Kebiasaan baik yang ditanamkan oleh guru beserta yang lain tidak hanya empati, rasa sosial, tapi juga rasa penyerahan diri pada Allah Ta’ala. Hal ini kami saksikan pada saat anak tersebut dikhitan beberapa bulan kemudian. Kebetulan khitan dilakukan seorang dokter teman ibunya sehingga suasananya bisa lebih santai. Sering terjadi, ketika dokter mempersiapkan peralatan dan akan mulai menjalankan tugasnya, anak yang akan dikhitan sudah mulai gelisah, takut dan tidak sedikit yang akhirnya menangis, bahkan ada yang lari tidak jadi khitan. Sehingga kami juga sedikit khawatir jangan-jangan dia akan takut atau menangis karena yang kami amati selama ini, dia bukan termasuk anak pemberani.

Namun yang kami temui jauh dari itu semua, ketika dokter akan mulai melaksanakan tugasnya, dia kelihatan sedikit gelisah, namun tidak menangis dan justru kami lihat mulutnya komat-kamit, dia berdzikir. Subhanallah, kami tidak heran kalau dzikir tadi keluar dari bibir orang dewasa yang sedang mengalami kegelisahan atau ketakutan, namun ini keluar dari mulut anak kelas 2 SD yang berada dalam suasana tidak menentu. Dokter sempat berhenti sejenak sambil tersenyum dan bergumam “Baru kali ini saya punya pasien kecil berdzikir ketika dikhitan, di mana sekolahnya?”Alhamdulillah, Allah telah memilihkan sekolah yang baik untuk anak kami. Wallahu a’lam bish-shawab.||

Prof. Dr. Ir. Indarto, DEA
Pimpinan Umum Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya