Mendidik Anak Menghargai Barang Pribadinya


      “Bunda, tas adik di mana, ya?” tanya Adik.
      “Coba dilihat di lemari,” jawab Bunda dari dapur.
     “Tadi sudah Adik lihat, tapi tidak ada, ” jawab Adik.
      “Kemarin tasnya ditaruh di mana setelah pulang sekolah?” tanya Bunda.
      “Sepertinya Adik bawa pulang, tapi di mana ya menaruhnya? Lupa,” kata Adik sambil mengernyitkan dahi sambil berusaha mengingat di mana ia menaruh tasnya.
      “Hmm….., Bunda harap kali ini Adik tidak lupa lagi meninggalkan barang di sembarang tempat ya,” ujar Bunda.
     “Sepertinya tidak tertinggal kok Bunda!” jawab Adik berusaha menyakinkan Bunda.
     “Bunda percaya pada Adik, yang lebih penting bagaimana Adik bisa merawat barang-barangnya. Sayang kan kalau tasnya hilang lagi? Coba Adik ingat, seminggu yang lalu sandal pandanya hilang. Padahal itu yang membelikan nenek. Belum lama juga kerudung kelinci adik juga hilang ketika bermain. Sayang kan? Uangnya sebenarnya bisa untuk hal lain yang lebih bermanfaat,” kata Bunda berusaha menasehati adik.
      “Iya bunda,” jawab Adik. Jawaban yang sering Adik ucapkan acap kali Adik mendapat nasehat dari Bunda.
      Sebagai orangtua, terkadang kita bingung menyikapi anak kita yang kurang menghargai barang-barang milik pribadinya. Ada saja barang yang tercecer atau hilang . Pernah ada barang  tertinggal di tempat ayunan, di tempat temannya bermain, di dapur, dan sebagainya. Bunda di buat pusing karena harus merogoh uang lebih dalam untuk membeli lagi barang barang yang hilang karena memang sangat di butuhkan untuk kegiatan kesehariaan anak.
Nasehat
      Memberi nasehat kepada anak supaya bisa menjaga barang-barang milik pribadinya, tentunya harus dengan cara yang bijak. Hindari kata kata negatif yang justru menambah parah kebiasaan buruk sang anak. Contohnya, “Kamu itu pasti meninggalkan barangmu kan…? Dasar anak teledor…!” Kata kata ini membuat anak semakin yakin bahwa ia memang anak yang teledor dan sering meninggalkan barang-barangnya di sembarang tempat. Kata-kata ini bisa melukai perasaan anak sehingga anak beranggapan wajar ia teledor. Bukankah ia memang sudah dicap sebagai anak yang teledor?
Menanamkan Nilai Suatu Benda
        Semakin anak memahami nilai suatu barang, maka anak akan semakin berhati-hati untuk menjaga barang pribadinya. Kiat ini bisa dicoba untuk diterapkan pada anak. Ketika anak kita meminta sesuatu benda, jangan langsung dituruti keinginannya. Berilah tempo, misalnya, ”Kamu bisa membeli buku matematika yang hilang  itu dengan menabung uang jajan yang bunda berikan kepadamu!”.
       Mungkin anak akan protes karena buku yang hilang akan segera digunakan. Di sini orangtua bisa bekerjasama dengan guru di sekolah. Caranya dengan memberi tahu alasan kita bersikap terhadap anak, yakni dalam rangka memberikan pendidikan pada anak.
      Ketika anak mengalami sendiri bagaimana rasanya tidak mempunyai uang    karena uangnya harus ditabung untuk membeli buku yang dihilangkan, membuat anak lebih berhati hati lagi untuk tidak menghilangkan buku atau barang barang pribadinya. Sebab nilai yang harus ia bayar sebanding dengan barang yang ia hilangkan.
Tidak Boleh Boros
        “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
  Sesungguhnya orang orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”(QS: Al Isra’: 26, 27)
Orangtua harus memberi pemahaman pada anak maksud ayat ini, yaitu Allah tidak suka orang yang berbuat boros. Salah satu perbuatan boros adalah tidak menjaga atau mengabaikan sehingga barang cepat rusak  atau sering meninggalkan barangnya sehingga hilang.
         Daripada uangnya digunakan untuk membeli barang yang hilang, tentu akan lebih bermanfaat bila uangnya diiinfakkan atau disedekahkan untuk orang yang lebih membutuhkan.[]

Menumbuh Kepatuhan tanpa Bentakan


Seringkali kita sebagai orangtua menghadapi sebuah situasi ketika anak melakukan sesuatu yang membuat kita marah. Ada kalanya kita mampu menguasai diri sehingga bisa menegur anak dengan cara yang baik. Akan tetapi tidak jarang pula di saat kita tidak mampu mengontrol diri, lalu terucaplah bentakan kepada anak kita. Bahkan banyak pula orangtua yang menjadikan membentak anak sebagai sebuah kebiasaan.  Saat melihat anak melakukan kesalahan, atau ketidakpatuhan, orangtua memang sering dibuat jengkel.
Secara refleks, karena emosi, orangtua sering bermaksud 'menasihati', tapi diucapkan dengan nada tinggi. Kebiasaan ini juga lebih sering dilakukan oleh orangtua yang temperamental. Pertanyaannya, efektifkah menasihati anak dengan bentakan? Tentu tidak, sebab kalau anak terlalu sering dibentak, maka ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang minder, tertutup, bahkan pemberontak. Ia pun bisa menjadi temperamental dan meniru kebiasaan orang tuanya, suka membentak. 
Sering membentak anak juga menimbulkan efek yang tidak baik pada perkembangan sikapnya. Ia bisa meniru orangtuanya dan akan berteriak sesuka hati baik kepada orangtua maupun orang-orang di sekitarnya. Tentunya kita tidak ingin anak kita bersikap demikian. Untuk itu sebaiknya hindari membentak meskipun kita sedang marah padanya. Membentak justru tidak akan efektif menimbulkan kepatuhan. Justru yang ada adalah makin tebalnya jiwa pemberontak dalam diir mereka.
Jika bentakan memang tidak efektif untuk menumbuhkan kepatuhan, bahkan berpengaruh negatif bagi kepribadian anak, lalu bagaimanakah cara yang baik untuk menumbuhkan kepatuhan?
Pertama, beri penjelasan pada anak. Jelaskan pada anak dengan bahasa yang ia mengerti, mengapa suatu hal diperintahkan dan hal lain dilarang. Jangan sekali-sekali memberi keterangan dusta dalam hal ini. Kedua, perintahkan sebatas kemampuannya. Ada pepatah mengatakan, "Jika engkau ingin ditaati, maka perintahkanlah apa yang dapat dipenuhi." Sebaiknya perintah itu dibagi-bagi dan tuntutan pelaksanaannya pun bertahap. Untuk mengetahui sampai di mana batas kemampuan anak sesuai perkembangan usianya, diperlukan pengetahuan tersendiri. Sebaiknya orangtua memahami perkembangan anak ini.
Ketiga, tidak berdusta dan menakut-nakuti. Kadang orangtua mengatakan akan membelikan sesuatu jika anak mematuhi perintahnya. Akan tetapi setelah anak patuh, orangtua tidak menepati janjinya. Itu berarti orangtua berdusta. Boleh jadi anak tidak akan percaya lagi pada orangtuanya. Selain itu, orangtua juga sering menakut-nakuti anak dengan sesuatu yang seharusnya berguna baginya. Hal itu dilakukan karena ingin anaknya segera memenuhi perintah mereka. Misalnya menakut-nakuti anak dengan dokter, suntikan, kena marah ayah dan sebagainya. Ketakutan anak pada hal-hal tersebut bisa terbawa hingga ia dewasa.
Keempat, jangan bertentangan dengan naluri anak. Maksudnya, janganlah orangtua melarang anak bermain, atau membongkar dan memasang sesuatu. Jangan pula melanggar kebiasaan anak kalau tidak ingin mereka menggunakan jerit tangis sebagai senjatanya. Lebih baik naluri anak itu diarahkan sedemikian rupa sehingga anak bisa mengatur dirinya sendiri. Misalkan diberi perintah, "TPA nanti mulai ba'da asar lho, sekarang kan udah setengah tiga. Adik udah aja ya mainnya, dilanjutin besok aja, sekarang mandi dulu, kan udah mau adzan…". Ungkapan itu tidak melarang anak bermain, dan tidak melanggar kebiasaan mereka bermain di tengah hari. Pemberian 'masa terbatas' ini dimaksudkan agar anak bisa mengatur jadwal kegiatannya sendiri, dan akan sangat menolong untuk melatih anak disiplin waktu. Selain itu mereka merasa dianggap mampu untuk mengatur dirinya sendiri tanpa harus didikte begini dan begitu.

Wallahu ‘alam bish showab.[]

Dwi Lestari W
Ibu rumahtangga, tinggal di Bantul


Membangunkan Anak di Pagi Hari


Banyak orangtua yang mengalami kesulitan saat membangunkan anak di pagi hari. Tak jarang ada orangtua yang frustasi sampai melakukan dengan berbagai cara, seperti diancam akan diguyur air, diteriaki, bahkan dibangunkan dengan paksa.
Sebenarnya, ada berbagai tips sederhana untuk membangunkan anak di pagi hari tanpa harus berteriak yang menguras tenaga. Pertama, kenali kebiasaan tidur anak. Anak yang sering sulit dibangunkan di pagi hari ada kemungkinan ia juga mengalami sulit tidur di malam harinya. Jika benar, usahakan agar ia tidak makan malam berlebihan, atau mengonsumsi minuman berkafein, seperti minuman bersoda, di malam hari. Kedua, pastikan anak tidur nyenyak. Jika anak tidak mengalami kesulitan tidur, mungkin ia membutuhkan waktu tidur tambahan. Mungkin anak Anda bisa bangun tidur dengan mudah jika Anda menambahkan waktu tidur sekitar 30 menit.

Ketiga, coba trik yang berbeda dari biasa. Beberapa anak bisa dengan mudah terbangun ketika lampu kamar dinyalakan. Tapi, sebagian anak lainnya perlu digoyangkan tubuhnya, atau mendengar bunyi jam weker atau alarm, baru bisa bangun. Dari berbagai cara tersebut, cari tahu apa cara mana yang paling jitu untuk anak. Keempat, jadikan tanggung jawab
Secara perlahan, mintalah anak untuk tidak terlalu bergantung pada Anda untuk membangunkannya. Ajarkan ia untuk bisa mendengar alarm atau jam weker. Ajarkan pula anak agar terbiasa bangun tidur sendiri. Jika tidak dimulai dari sekarang, kebiasaan sulit bangun pagi juga bisa dialami saat ia beranjak dewasa.

Inilah pembahasan singkat mengenai teknik membangunkan anak di pagi hari. Teknik membangunkan antara anak yang satu dengan yang lain tentu akan berbeda. Karena itu, sesuaikan dengan situasi dan kondisi buah hati Anda. []

Beta Haninditya, Apt
Apoteker RSKIA Sadewa, Sleman

Meraih Kemuliaan dengan Menjaga Lisan



Dalam QS Al-Ahzab: 70, Allah Ta‘ala memerintahkan kita untuk selalu bertakwa dan mengucapkan perkataan yang benar atau lurus (qaulan sadidan). Apa yang kita ucapkan selalu bernilai kebaikan. Semua didasari dengan ilmu dan bisa dipertanggungjawabkan. Tidak ada perkataan yang sia-sia, apalagi berbau kebohongan. Pokoknya, kita mesti berhati-hati dalam menjaga lisan.
Persoalan menjaga lisan tampaknya hal sederhana tapi sayangnya masih banyak yang lupa. Betapa banyak orangtua yang masih gagal menjaga lisan sehingga berakibat gagal pula dalam mendidik anak.
Sesungguhnya, perkataan kita akan banyak direkam oleh anak-anak. Jika kita selalu berkata yang baik-baik, insyaAllah anak-anak kita juga terbiasa demikian. Sebaliknya, jika kita tidak bisa menjaga lisan, bakal runyam jadinya. Anak-anak akan ikut-ikutan berkata tidak karuan.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam....” (HR. Bukhari dan Muslim).
Mari kita mencontoh Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam dalam menjaga lisan. Prinsipnya sederhana: ”berkata baik atau diam”. Saat dikencingi seorang anak kecil yang digendongnya, toh Nabi kita tidak marah, juga tidak mengomel.
Hal ini jelas beda dengan kebanyakan kita yang suka bilang, ”Nakal kamu!” atau ”Payah” ketika ada anak yang menurut kita berbuat kurang menyenangkan. Misalnya pipis semaunya, menarik-narik baju kita yang telah rapi, dan lainnya.
Bagaimana agar lisan selalu terjaga? Semua diawali dengan menjaga kebersihan jiwa. Membersihkan hati adalah upayanya. Sebenarnya apa yang diucapkan seseorang itu menggambarkan isi hatinya. Jika para orangtua berhati bersih maka kata-kata yang diucapkan adalah baik dan bermakna. Anak-anak pun akan mencontohnya.
 Sebaliknya, kata-kata yang kotor dan tanpa makna akan mudah meluncur dari mulut orang-orang yang kotor hatinya. Misalnya, memanggil anak dengan panggilan buruk, mengumpat anak dengan istilah-istilah kasar. Dan itu jelas berpengaruh buruk bagi anak-anak yang belum banyak dosa.
Persoalan menjaga lisan juga menyangkut kebiasaan. Kalau kita berusaha selalu berkata yang baik dan benar, insya Allah kita akan terbiasa dengan perkataan yang baik dan membawa kemanfaatan. Rasanya sangat berat untuk mengucapkan kata-kata jelek dan tidak beraturan. Adapun orang yang sudah terbiasa mengucapkan perkataan buruk dia akan enteng saja berkata yang jorok dan jauh dari kebaikan.
Mari kita berusaha membiasakan diri dengan kalimah thayibah (kata-kata yang baik). Anak-anak juga kita ajari demikian. Jika akan mengerjakan sesuatu, kita tuntun anak-anak membaca bismillah. Ketika mendapat nikmat: Alhamdulillah. Jika berjanji jangan lupa mengucap insyaAllah. Berbuat salah segera mengucapkan Astaghfirullah. Saat bersin membaca Alhamdulillah, ketika ada musibah mengucap Innalillahi wainna ilaihi rooji’uun. Begitu seterusnya.
Bagi yang terbiasa dengan kata-kata yang buruk, maka akan berat rasanya jika harus mengucap kalimah thoyibah. Malahan dia akan terasa ringan mulutnya saat mengucapkan kata-kata jorok, tanpa makna, dan bikin resah. Memanggil anak dengan nama hewan dianggap hal yang lumrah. Mengumpat sambil berkata-kata kasar seperti tiada masalah. Na’udzubillah.
Upaya menjaga lisan yang lain adalah dengan memperhatikan situasi dan kondisi serta tidak berlebih-lebihan. Kata-kata yang sebenarnya baik tapi jika diucapkan dalam situasi dan kondisi yang tidak tepat bisa bernilai buruk. Begitu juga dengan kata-kata yang berlebihan, kerapkali membuat anak-anak tidak nyaman.[]


M. Sutrisno
Ketua Komite Sekolah SDIT Insan Utama, Kasihan  Bantul
Aktivis Yayasan Pusat Dakwah & Pendidikan
“Silaturahim Pecinta Anak-anak” (SPA) Indonesia

Outbound Melatih kemandirian anak



Pembelajaran dalam usaha mengenali alam sekitar dapat dilaksanakan dengan suasana  menyenangkan, namun mampu menstimulasi kemandirian anak. Salah satunya adalah jelajah alam (penjelajahan dalam pramuka), outbound (fun outbound atau real outbound).  Kegiatan ini  dilaksanakan dengan tujuan mengenal lingkungan sekitar, adanya misi pendidikan sampai karena hoby seseorang . Sepintas kegiatan ini kurang memiliki tujuan yang jelas dan hanya sekedar berjalan-jalan yang kurang bermanfaat, apalagi jika dilakukan oleh sekelompok orang/remaja yang dilaksanakan tanpa koordinasi dan penanggungjawab yang jelas.
Outbound pada Pendidikan Anak Usia Dini (outbound kids), lebih mengarah kepada fun outbound dengan menggunakan fasilitas yang telah dipersiapkan sedemikian rupa, mulai dari memanfaatkan dan mendesain kondisi alam yang ada hingga membuat media menantang agar setiap individu mempunyai kemampuan untuk mengarahkan perilakunya secara mandiri dan juga bertanggungjawab pada dirinya sendiri.
Fun outbound hanya membutuhkan sebagian olah fisik dengan kegiatan yang relatif ringan dan menyenangkan atau dapat juga dikatakan semi outbound (bukan outbound yang sesungguhnya) namun kegiatannya tetap menyenangkan, dan bermanfaat untuk pengembangan diri, meningkatkan keterampilan social, maupun melatih kerjasama dalam kelompok, dan hanya beresiko kecil (low impact)
Konsep fun outbound tentu saja berbeda dengan real outbound yang diselenggarakan untuk orang dewasa (di perkantoran, kegiatan kelompok maupun individu). Biasanya fun outbound diadakan setiap satu semester atau satu tahun sekali (di Taman Kanak-kanak), yang teknik pelaksanaannya  memberikan keleluasaan kepada guru/pendamping untuk menentukan kemampuan apa yang akan dikembangkan; sosial emosional, fisik motorik, nilai agama dan moral dll.
Tujuan kegiatan merupakan hal yang urgen karena akan memberikan kesan pada output (positif atau negatif) bagi seluruh stakeholder sekolah maupun peserta didik. Oleh karenanya guru/pendamping dapat memasukkan nilai-nilai kemandirian sebagai tujuan dalam outbound diantaranya: Pertama, mandiri dalam beribadah.  Usahakan kegiatan dapat melewati satu waktu shalat dengan berwudhu di lokasi, misalnya di sungai yang mengalir dan shalat di tanah lapang (alam terbuka). Pembelajaran yang dapat diambil adalah pengetahuan tentang air yang dapat digunakan untuk berwudhu dan tempat shalat.
Kedua, bertanggungjawab sendiri dalam setiap kegiatan. Hal ini berkaitan dengan rancangan permainan yang akan dilaksanakan.  Stimulasi dapat diberikan usai satu permainan yaitu dengan memberikan kontra prestasi terhadap setiap usaha peserta didik. Kontra prestasi (hadiah dan hukuman) merupakan stimulasi kesungguhan dan kedisiplinan anak. Oleh karenanya, dalam merancang permainan hendaknya guru/pendamping dapat memperkirakan kemampuan anak, fisik dan psikisnya agar resiko (jatuh dan sakit) dapat diantisipasi sedini mungkin.
Ketiga, mandiri dalam mengurus diri sendiri. Biasanya kegiatan ini membutuhkan waktu seharian. Didampingi maupun tidak didampingi orangtua, tentu anak membawa perbekalan yang cukup, konsumsi, perlengkapan mandi, ibadah dan baju ganti. Orang tua perlu diberi pengertian untuk memberi kesempatan dan memotivasi peserta didik untuk membersihkan diri; mandi, menggunakan sabun, memakai handuk dan memakai baju sendiri, setelah selesai kegiatan dengan hanya sedikit bantuan saja
Keempat, menemukan sendiri hal-hal yang  baru (pengembangan intelektual). Menemukan sendiri pengetahuan di lokasi outbound. Guru/pendidik sekedar mendampingi dan memberi penjelasan sesuai dengan bahasa anak dan mereka sendiri yang akan menyimpulkan pengetahuan itu.
Demikian, fun outbound efektif untuk pembelajaran kemandirian anak, karena dapat dilaksanakan di tempat yang sederhana. Mudah-mudahan bermanfaat.[]

Ihda A’yunil Khotimah
Dosen STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta

Hadiah yang Mendidik


Saat mengikuti pertemuan warga, beberapa ibu saling bercerita tentang keadaan anaknya masing-masing yang masih usia TK dan Sekolah Dasar. Di antaranya ada yang bercerita kalau anaknya naik kelas dijanjikan akan diberi hadiah Play Station ( PS ), bahkan ada juga yang menjanjikan hadiah Handpone dan Ipad! Ya, dengan ceria dan bangga mereka bercengkerama.
Memberi hadiah kepada anak adalah sesuatu yang sah- sah saja.Terutama untuk anak usia TK dan SD. Karena pada usia ini anak lebih berpikir secara konkrit. Mereka akan merasa disayang dan diperhatikan ketika  diberi sesuatu secara nyata, bukan hanya motivasi berupa kata-kata. Bahkan dengan pemberian hadiah bisa untuk merangsang si anak agar lebih bersemangat dan lebih baik. Hadiah bisa melunakkan hati anak sehingga menjadi lebih senang dan menurut.
 Pemberian hadian kepada anak bisa diberikan pada moment tertentu atau ketika anak berhasil menyelesaikan sesuatu pekerjaan. Misalnya ketika hari kelahiran anak, ketika masuk sekolah baru, atau ketika naik kelas dengan nilai yang baik. Hadiah bisa juga diberikan, misalnya ketika anak sudah hafal bacaan sholat, naik tingkat dalam belajar Iqro’, sudah tertib menjalankan sholat, atau sudah bisa membaca Al-Qur’an.
 Namun orangtua harus bijak dalam memberikan hadiah untuk sang anak. Orangtua harus memahami perkembangan emosi dan perilaku anak. Jangan sampai karena terlalu sayang dengan anak, memberi hadiah apapun yang diminta oleh anak. Ya, meskipun orangtua mampu secara financial, tidak boleh memberi hadiah yang berlebihan. Karena hadiah pun dapat memberi efek ganda pada anak, yakni efek positif dan negatif. Orangtua harus jeli sehingga hadiah yang diberikan pada anak memberikan dampak positif bagi perkembangan dan perilaku anak.
 Banyak pilihan hadiah yang bersifat mendidik bagi anak. Misalnya ketika anak sudah lulus Iqro’ maka bisa diberi hadiah buku Juz ‘Amma atau Al-Qur’an. Ketika anak sudah bisa menggunakan komputer, dan orangtua mampu, maka anak bisa dibelikan CD media belajar. Hadiah juga bisa berbentuk mainan edukatif, yang saat ini mudah kita dapatkan di toko-toko buku. Orangtua juga bisa memberi hadiah berdasarkan minat dan bakat si anak. Misalnya anak suka bercerita, diberikan hadiah buku kumpulan cerita. Jika anak suka olahraga tertentu diberi hadiah sarana dan alat olahraga yang disenangi. Selain berupa barang, hadiah juga bisa diberikan, misalnya diajak rekreasi ke taman pendidikan, museum, masjid raya, atau tempat rekreasi alam.

 Begitulah, memberi hadiah jangan sampai hanya mengikuti trend dan termakan iklan televisi. Memberi hadiah juga tidak perlu barang yang mahal dan berupa barang berteknologi tinggi. Boleh jadi hadiah yang tidak tepat justru akan menjadi ‘ racun’ bagi anak yang kita cintai. Bayangkan jika diberi hadiah PS, lantas anak setiap hari asyik main PS dan akhirnya kecanduan. Maka anak hanya akan asyik dengan dunianya sendiri. Tidak akan peduli dengan sekelilingnya. Bahkan bisa jadi untuk sekolah jadi ogah-ogahan. Akhirnya anak yang kita gadang-gadang jadi generasi yang hebat tinggal impian. Jadi, marilah bijaksana dan hati-hati dalam memberi hadiah untuk si buah hati.[]  

Sumadi,
Motivator di IBS Darul Hikmah Pakem Sleman,
Wali murid SDIT Salsabila Klaseman Sleman

Memahami Sesuai Maksudnya


Jangankan soal agama yang jarak antara hidup kita dengan diturunkannya wahyu telah berabad-abad lamanya, untuk memahami maksud sebuah kata di sekeliling kita saja kita perlu tahu betul arti dan peruntukannya. Kita memahami maksud yang sesungguhnya, minimal peruntukannya, dan bukan mengandalkan persepsi kita tentang itu. Kita pahami dulu dengan benar agar memperoleh kebaikannya.

Apakah arti sakinah mawaddah wa rahmah? Ketahuilah maknanya terlebih dahulu, pahami maksudnya dengan bertanya pada mereka yang benar-benar mengilmui, bukan sekedar sekedar sering berceramah, tentang hal itu. Yang paling baik, tentu saja mempelajari tafsirnya dari orang yang memang memahami ilmu tafsir dan membaca dari kita tafsir yang dapat dipertanggungjawabkan. Inilah jalan untuk memperoleh petunjuk dan kebaikan dari ayat Al-Qur'an yang memuat ungkapan tersebut. Semoga Allah Ta'ala rahmati kita dengan Al-Qur'an.

Bersebab bermain dengan persepsi sendiri, berkembanglah fitnah syubhat tentang sakinah sehingga seakan ini merupakan perkara yang memerlukan persyaratan amat rumit dan perjuangan sangat berat. Saya sendiri juga sempat mengalami kekacauan pemahaman di sebagian periode kehidupan saya di Yogyakarta dan hampir saja pembahasan tentang itu terbit di salah satu penerbit buku terkemuka di Jakarta. Alhamdulillah, naskah itu dapat ditahan sehingga tidak terbit. Saya bersyukur kepada Allah Ta'ala yang mempertemukan saya dengan orang-orang yang berilmu sehingga saya justru kembali kepada apa yang saya pahami saat belajar di mushalla kecil di Jombang: sakinah itu sesederhana hilangnya rasa haus sesudah minum. Ketenangan itu datang bersebab menikah dengan sesama manusia.

Sakinah mawaddah wa rahmah memang istilah Al-Qur'an. Tetapi ketika ditambahkan pada frasa tersebut menjadi Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rahmah, akan lain ceritanya. Ini bukanlah istilah Al-Qur'an. Saya belum pernah mendapatkan istilah ini dalam buku-buku karya penulis Timur Tengah. Sahabat saya yang berpendidikan Timur Tengah dan akrab dengan beberapa ulama di Timur Tengah, juga menyatakan tidak mengenal istilah keluarga samara (sakinah mawaddah wa rahmah, bukan sama-sama menderita) kecuali di Indonesia atau negeri yang terpengaruhi penulis Indonesia.

Belakangan, penjelasan tentang sakinah mawaddah wa rahmah lebih jauh lagi meninggalkan agama. Banyak penceramah dan penulis menjelaskan masalah ini dengan menggunakan istilah passion, intimacy & commitment. Semula saya mengira ini pemaksaan istilah, tetapi setelah membaca sebagian penjelasan, terasa betul bahwa itu bukan penjelasan tentang makna sakinah mawaddah dan rahmah yang ada dalam Al-Qur'an, melainkan pemaparan asumsi Robert J. Sternberg tentang cinta yang dikenal dengan nama The Triangular Theory of Love. Padahal asumsi Sternberg tentang cinta justru sangat bertentangan dengan rumusan tentang pernikahan dalam Islam. Bukan hanya berbeda, tapi sangat bertentangan.

Ambillah contoh tentang komitmen misalnya. Sangat berbeda antara pengertian komitmen menurut Sternberg dengan iltizam (komitmen) dalam agama kita ini. Tetapi saya bukan bermaksud membahas detail tentang masalah ini. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk belajar memahami sesuai maksudnya agar kita tidak semakin menjauh dari agama, di saat kita justru ingin mendekat. Perbincangan kita kali ini adalah tentang istilah, betapa kita perlu mengetahui peruntukannya dan bukan mengandalkan persepsi kita tentang istilah itu.

Banyak lagi istilah agama yang perlu kita pahami kembali makna sesungguhnya. Silaturrahmi adalah contoh yang sangat populer. Ini sebenarnya istilah yang khusus merujuk pada pengertian upaya menyambung kembali ikatan kekeluargaan yang terputus, baik karena konflik maupun karena terlalu lama tidak bertemu atau karena sangat jarangnya berjumpa. Termasuk silaturrahmi adalah, berkunjung ke rumah kerabat atau keluarga yang sudah tidak saling mengenal agar saling kenal dan terjalin hubungan yang baik. Tetapi belakangan, silaturrahmi hanya bermakna kunjungan, meski tak memiliki hubungan kekerabatan sama sekali. Ini bukanlah silaturrahmi. Ini ziyarah (ziarah) biasa. Hanya saja di negeri ini, kata ziarah terlanjur lekat dengan kata kubur, sehingga ketika mendengar kata ziarah dianggap mengunjungi kubur. Padahal ke mall pun ziarah.

Seperti saya sampaikan di awal tulisan, jangankan soal agama, soal dunia saja kita perlu memahami peruntukan sebuah istilah. Bukan mengandalkan persepsi. Maaf, apakah Silititu? Di masyarakat Jawa, istilah ini memang jorok. Tapi ketika mendengarnya di tempat lain, maknanya tidak selalu demikian. Silit juga merupakan salah satu merek terkemuka untuk produk-produk peralatan dapur dan perlengkapan kuliner. Ini pabrikan asal Jerman yang berdiri sejak 1920. Produk Silit memiliki pasar cukup luas di Jepang dan beberapa negara lain. Di negeri kita, produk ini tidak masuk secara resmi, barangkali karena harganya yang cukup menakutkan.

Di Turki ada perusahaan makanan yang sangat terkemuka. Namanya Berrak Makarna, pemilik merek Berrak untuk produk-produk spaghetti, saos, makanan instant, asinan cabe jalapeno yang terkenal paling pedas sedunia hingga air minum. Contoh ini kalau diperpanjang akan lebih banyak lagi.

Jangankan begitu. Antara bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia saja, banyak sekali perbezaan. Akar bahasanya sama, tetapi perkembangan yang terjadi kedua negara menjadikan sebagian kata mengalami perubahan makna. Jika tak berhati-hati dan saling berprasangka baik, bisa runyam akibatnya. Seorang mahasiswa pasca sarjana asal Malaysia di Jepang menyampaikan kepada rekannya asal Indonesia bahwa ia hendak menjemputnya makan malam. Rekan kita ini pun bersedia dengan senang hati. Tetapi hingga lewat 1 jam dari yang disebutkan, rekannya yang asal Malaysia tak kunjung datang. Mengapa? Dalam bahasa Malaysia menjemput berarti to invite (mengundang), sementara rekan kita yang asal Indonesia memahaminya sesuai makna di Indonesia (to pick up). Untunglah mereka segera memahami perbedaan itu.

Mohammad Fauzil Adhim

Ibu, Mengapa Engkau Menangis?


Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita Nak". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."


Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis ? "Dalam mimpinya, Tuhan menjawab," Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, meski bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur. Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau seringkali pula ia kerap berulangkali menerima cercaan dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan pantang menyerah saat semua orang mulai putus asa. Pada wanita, Kuberikan kesabaran untuk merawat keluarganya meski letih, sakit sakit, meski lelah tanpa berkeluh kesah. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.


Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak ? Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. meski seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri sejajar saling melengkapi dan saling menyayangi. Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan". Maka,sayangilah dan dekatkanlah diri kita pada sang Ibu selama beliau ada.. 

(sumber: senandung di atas awan)
https://www.facebook.com/notes/sastriviana-wahyu-swariningtyas/ibu-mengapa-engkau-menangis/10150842403020224
foto rinduku.wordpress.com

Muridku Tidak Naik Kelas




Ah, betapa sedihnya muridku tahun ajaran ini. Terpaksa aku, sebagai guru kelasnya, mengambil keputusan yang sangat berat, tidak menaikkan ke kelas di atasnya. Bisa kubayangkan, betapa sedihnya nanti dia, pasti raut mukanya yang selalu ceria berubah menjadi muram tidak bersemangat. Aku bisa merasakan gejolak hatinya, aku bisa merasakan perasaan jiwanya. Pasti akan terpukul, sedih, malu, atau bahkan menangis.

Malu, begitulah pasti yang ada dalam benaknya. Malu kepada teman-teman sekelasnya yang naik ke kelas di atasnya dan tentu akan lebih malu kepada adik kelasnya yang sekarang menyusul dia. Ah, betapa canggungnya dia saat harus berbicara dengan teman sekelas yang sudah meninggalkannya dan betapa canggung pula tatkala harus bicara dengan adik kelas yang sekarang menjadi teman sekelasnya.

Aku juga bisa membayangkan di tempat tinggalnya, tentu akan menjadi bahan olok-olok teman-teman bermainnya. Ah, kalau mengingat itu semua, rasanya aku tidak tega meninggalkan dia di kelas lamanya. Belum nanti orangtuanya yang tentu marah besar karena anaknya tidak naik kelas. Mungkin hadiah yang sedianya dijanjikan oleh orangtuanya akan sirna gara-gara tidak naik kelas.

Begitu mungkin jalan pikiran seorang guru kelas disaat harus memutuskan anak didiknya tidak naik kelas. Ragu, bimbang, berat, tidak tega, dan entah apa saja yang ada di benaknya. Wajar saja, sangat manusiawi.

Perlu dipahami, terkadang keputusan tidak menaikkan atau menaikkan anak didik yang kompetensi akademiknya rendah adalah keputusan yang berat bagi sekolah. Berat karena hal ini tentu akan menyakitkan hati anak didiknya dan tentu juga orangtuanya. Berat kalau anak didik dinaikkan, akan semakin memberatkan anak tersebut di kelas barunya dengan beban-beban pelajarannya, padahal sebelumnya masih di bawah rata-rata. Bagaikan buah simalakama.

Nah, biasanya naik kelas itu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang anak didik. Jika syarat-syarat itu tidak terpenuhi, maka kemungkinan besar anak didik tersebut tidak naik kelas. Nah, syarat dan ketentuan naik kelas inilah yang menjadi pedoman seorang pendidik menaikkan atau tidak menaikkan anak didiknya. Jadi sekolah tidak serta merta menentukan syarat dengan main-main. Harus mempertimbangkan kemampuan anak didiknya. Misalnya penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam setiap kelas berbeda, karena mempertibangkan kemampuan setiap anak didiknya.

Tidak Sekadar Nilai Angka
Inilah yang sering dilupakan oleh sekolah-sekolah, sekolah Islam sekalipun. Iya, naik tidak naik kelas seorang anak didik hanya dilihat dari nilai-nilai angka semata, tanpa memperdulikan kepribadian mereka, akhlak mereka. Jika ini dibiarkan, sebenarnya tidak adil. Harus segera diperbaiki. Maka sekolah juga wajib mencantumkan KKM tentang akhlak seorang anak. Akan sangat memalukan jika lulusan sekolah Islam namun akhlak mereka jongkok, moral mereka berantakan.

Syarat Naik Kelas vs Naik Kelas Bersyarat
Tidak menutup kemungkinan anak-anak yang telah diputuskan dalam sebuah musyawarah rapat sekolah tidak naik kelas tiba-tiba orangtuanya mendatangi gurunya, kepala sekolah ‘merengek’ untuk dinaikkan. Nah biasanya jika secara personal dan institusi lemah, maka akan dengan mudah mengabulkan permintaan orangtua ini. lalu hilanglah ‘syarat naik kelas’ berganti menjadi ‘naik kelas bersyarat’. Ada banyak sekolah yang mengeluarkan kebijakkan, jika mau naik kelas maka harus pindah sekolah, dan masih banyak lagi naik kelas bersyarat ini.


Oleh sebab itu, tetapkan kreteria syarat-syarat naik kelas. Lalu istikomahlah menjalaninya. Wallahu a’lam bishawab.

Mengawal Shalat 5 Waktu


Pagi yang dingin. Rasanya nyaman sekali kalaulah harus menarik selimut kembali memejamkan mata. Apalagi bumi di kaki gunung Merapi tampak diselimuti kabut putih. Menambah daya tarik untuk melakukan ritual tidur kembali. Terlihat anak-anakku masih terlelap memejamkan mata mereka seakan sedang mengumpulkan energi yang telah terkuras habis seharian karena bermain kemarin. Rasanya tidak tega untuk membangunkan mereka, karena masih ada gurat-gurat kelelahan diwajah mereka. Demi sebuah penanaman nilai kebaikan, tetap harus dilakukan. Dengan suara agak pelan, aku mengeluarkan suaraku juga untuk membangunkan anak-anak.

Pengalamanku, tidak cukup sekali, dua kali, tiga kali untuk berhasil membuat anak-anak bangun lalu beranjak dari tempat tidur. Dibutuhkan kesabaran membangunkan mereka, untuk bangun dan mengambil air wudhu serta melaksanakan shalat subuh.  Bahkan terkadang harus mengeluarkan janji-janji manis agar mau bangun dan melaksanakan shalat subuh.

Ah, betapa beratnya menjadi orang tua, harus mampu mengarahkan anak-anak menuju kebaikkan, padahal hanya berbekal warisan cara mendidik dari orang tua kita dulu. Itu saja. Karena saat sebelum menjadi orang tua kita tidak pernah belajar bagaimana cara mendidik anak dengan baik, bagiamana cara mengasuh anak dengan benar, bagaimana memperlakukan mereka agar berdaya guna. Iya, tidak pernah kita persiapkan sebelumnya.

Nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau kita sekarang sudah menjadi orang tua. Tentulah dengan modal yang sedikit ini, tidak menjadikan kita putus asa menjadi orang tua yang baik. Kita bisa belajar dari sejarah para pendahulu kita. Kisah dalam Alquran misalnya, Luqman Al Hakim,begitu teduh beliau mengenalkan anak-anaknya kepada Allah, tidak mensekutukanNya, untuk menegakkan shalat mereka.


Iya, orang tualah yang harus mengawal kebaikkan anak-anaknya. Siapa lagi kalau bukan orang tua. Betatapun beratnya shalat subuh, tekankan kepada anak-anak untuk mengerjakannya, walaupun mereka bangun kesiangan saat matahari sudah terbit, demi sebuah pendidikan. Begitupun shalat dhuhur, asar, maghrib, dan isya. Pembiasaan mengawal shalat sejak usia dini ini sangat diperlukan.

Cobalah paksakan kepada anak, mungkin satu pekan, dua pekan, atau bahkan satu bulan. Jika sudah terbiasa, orang tua tinggal mengingatkan. Tanamkan kepada mereka, walaupun ayah dan bundanya tidak ada di sampingnya, jika sudah waktu shalat, maka kerjakanlah shalat. Ajak juga sesekali mereka shalat di masjid dengan diberi pengertian tidak membuat gaduh.

Tentunya jika anak-anak kita sudah melakukan dengan baik, mereka perlu mendapat hadiah. Hadiah tidak harus mahal, dengan memberi satu makanan permintaan mereka, sekali lagi permintaan mereka, mereka akan begitu senang. Sudah tentu jika melanggar akan mendapatkan hukuman. Untuk hukuman ini jangan terlalu keras kepada anak-anak, bisa juga hukumannya adalah apa yang harus dikerjakan karena kesalahan mereka juga atas permintaan mereka, sekali lagi permintaan mereka. Lalu setelah melaksanakan hukuman anak harus tetap mengerjakan yang dia tinggalkan.

Ah, betapa mudahnya membuat aturan dalam keluarga. Betapa gampangnya kita menyusun jadwal berbuat kebaikan mereka. Jika tanpa orang tua mengawal apa yang sudah terjadwal dan tersusun dengan rapi, hasilnya akan sia-sia. Iya, orang tua harus mengawal shalat 5 waktu anak-anaknya. Jangan berikan toleransi jika mereka meninggalkan shalat dengan sengaja. Wallahu a’lam bishawab.

Oleh Tuswan Reksameja

Sakit Mengingatkan Nikmatnya Sehat


Sakit adalah musibah, apabila tertimpa musibah hendaknya kita mengucap, “Sesungguhnya kepunyaan Allah dan sungguh kepada Allahlah tempat kembali.” Seperti yang diajarkan Allah dalam surat Al-Baqarah. Musibah memang datang dari Allah Ta’ala, karena sungguh segalanya memang dari Allah. Jangan pernah mengaitkan musibah karena mimpi kita, karena kejatuhan cicak yang padahal cicaknya juga kena musibah jatuh, atau karena mengikuti suara tokek, dalam bahasa Agama Islam disebut tiyarah. Jangan. Karena itu bisa membahayakan keimanan kita. Musibah datang dari Allah Ta’ala, sebagai hambaNya tentu kita harus menerima dan berusaha keluar dari musibah tersebut.

Saat musibah sakit menimpa kita, sungguh itupun kifarat untuk menggugurkan dosa-dosa yang telah diperbuat. Syaratnya cukup dengan ikhlas menerima sakit. Ikhlas menerima sakit bukan terus kita diam saja tanpa mencari sembuh, kita harus aktif mencari sembuh agar sakit yang diderita nantinya akan diangkat.

Ikhlas sakit bisa ditafsirkan kita menerima sakit dan tidak mengeluh karena sakit, apalagi sampai kita menyalahkan Allah tidak adil atau lainnya. Ikhlas ini juga kita tidak dianjurkan mencari sembuh dengan cara-cara yang diharamkan, semisal mencari sembuh di tempat dukun, atau tempat-tempat yang tidak dibenarkan oleh syariat.

Hakikat sakit kita jadi paham, bagaimana nikmatnya sehat. Maka seharusnya rasa syukur bertambah saat sakit menimpa kita.

Cobalah kita tengok kisah nabi Ayub ‘alaihissalam, beliau ditimpa sakit menahun, tapi Beliau tetap bersabar, beliau menyampaikan nikmat kesehatan yang Engkau berikan, wahai Tuhan, lebih banyak dari sakit yang Engkau anugerahkan padaku. Nah, saat sakit menimpa kita, cobalah kita kalkulasi, sekarang sudah berapa tahun hidup? Apakah selama hidup kita lebih banyak sakit dari sehatnya?

Ambillah pelajaran dari semua musibah, lebih baik bersusah-susah di dunia, dicuci oleh Allah dengan berbagai kesusahan dunia, dari pada ditimpa kesusahan di akhirat dan jadikanlah semua musibah sebagai koreksi atas segala amalan yang telah kita perbuat.

Wallahu a’lam bi shawab

*) Tuswan Reksameja

Peran Ayah dalam Pembentukan Kepribadian Anak



Di kompleks saya, terdapat seorang anak yang dihindari oleh kawanan anak yang lain. anak itu adalah anak kecil berumur 3-4 tahun. Ibunya adalah seorang pekerja negara yang sibuk dari pagi hingga petang sedangkan ayahnya adalah lelaki tidak bekerja tetap.
Mengapa dia dihindari oleh anak-anak yang lain? Sebabnya tidak lain karena dia seorang anak yang menyenangi bermain namun tidak diajari oleh orangtuanya hak orang lain. Bila dia suka dengan mainan anak-anak lainnya, dia cenderung merebutnya dan kemudian membawa lari ke rumahnya. anak-anak yang mencoba melawan dan merebut kembali tidak segan-segan dihardik bahkan dipukul oleh ayahnya yang bertingkah laku bagai preman.
Sejak saat itu, anaknya dikucilkan, bukan saja oleh teman-temannya, namun oleh orangtua dari teman-temannya. Bila dia datang, maka mainan segera diungsikan ke rumah, anak-anak dimasukkan ke dalam pintu dan dikunci dari dalam. Sejatinya mereka melakukannya karena mereka tidak ingin anaknya berurusan dengan ayahnya yang dianggap bodoh dan suka sekali dengan kekerasan. Dia mendapat hukuman sosial, dikucilkan karena sesuatu yang dia sendiri belum memahami karena keberingasan ayahnya.
Kisah di atas ditulis oleh teman yang saya kenal dari jejaring sosial facebook. Membaca kisah tersebut, terbersit pelajaran penting agar kita tidak pernah menjadi seorang ayah yang hanya menganggap anaknya saja yang benar. Melindungi memang kewajiban seorang ayah, namun melindungi seorang anak dari mengambil mainan temannya lebih penting daripada melindungi anak yang berbuat dzalim. Anak kecil memang tidak bisa membedakan mana yang salah dan benar, namun seorang ayah tentunya dapat membedakan mana yang harus diluruskan dan mana yang harus dibela. Alih-alih anak merasa dibela, justru anak mendapat hukuman atas suat hal yang dia sendiri belum mengetahuinya.
Peranan ayah sangat penting dalam pertumbuhan seorang anak. Ikatan emosional antara ayah dan anak ditentukan salah satunya oleh interaksi antara ayah dan anak itu sendiri. Interaksi yang baik antara anak dan ayah ini mempengaruhi kecerdasan emosial seorang anak yang membuatnya tumbuh menjadi sosok dewasa yang berhasil.
Disadari atau tidak, setiap ayah menjadi panutan bagi anaknya. Seorang anak perempuan yang sering menghabiskan waktu bersama ayah yang menyayanginya akan tumbuh dan mengetahui bahwa dirinya berhak untuk diperlakukan dengan hormat dan baik oleh lelaki, dan figur serta nilai apa yang dicari pada suaminya nanti. Ayah dapat mengajarkan anak laki-lakinya mengenai hal-hal yang penting dalam kehidupan dengan cara mempraktekkan dan memperlihatkannya kepada mereka, seperti kejujuran, kemanusiaan juga tanggungjawab.  Seluruh dunia adalah sebuah panggung dan ayah memainkan salah satu peran yang vital.
Bagaimana pun ayah punya peran penting dalam pembentukan kepribadian si anak di masa depan. Kedua orangtua diharapkan menunjukkan pada anaknya bahwa tanggungjawab keluarga itu memang harus dipikul bersama-sama. Misalnya, mengasuh anak, bernyanyi, bermain dengan anak-anak.
Kisah di atas juga pelajaran penting bagi para wanita, agar mempelajari sifat calon suaminya sebelum menerima lamaran. Bila tidak, siap-siaplah menanggung aib seumur hidup akibat perangai suami yang kasar dan buruk. Karena di dalam masyarakat, sekaya, dan sehebat apapun kita, bila tidak memiliki perangai beradab, alamat kita hanya dipandang sebelah mata. Wallahu ‘alam bish shawab.||

Suhartono,
Pendidik, tinggal di Bantul


Amanah Menjadi Ibu Rumah Tangga



Saat shalat takhiyatul masjid di masjid dusun Singosutan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, jelang shalat Maghrib, saya terkejut ketika tiba-tiba anak batita perempuan berdiri dengan polosnya di sisi kiri saya. Di hari yang lain, di masjid yang berbeda, anak balita masuk masjid bersama ayahnya. “Dahulukan kaki kanan”, kata ayahnya sambil menunjuk kaki sang anak.
Pengalaman sebelumnya, hari Jum’at, saya berjalan kaki ke masjid di lingkungan tempat tinggal. Tiba-tiba ada anak lelaki naik sepeda mendahului saya dan menyapa. Saya cukup terkejut, karena anak kelas 2 SD tersebut juga mau ke masjid. Pakai busana koko dan peci. Tiga kejutan ini, kita wajib bersyukur, ada anak sudah kenal masjid.
Ironis, saat shalat tarawih di bulan Ramadhan kemarin, diramaikan oleh kegaduhan anak lelaki usia SMP. Saat khutbah maupun shalat tarawih, mereka tetap main di halaman masjid, bercakap dan bersendau gurau dengan temannya. Bahkan ada anak perempuan andil keramaian dengan suara dan teriakannya.
Kejutan keempat kontradiktif dengan ketiga fakta anak kenal masjid sejak dini, yang bisa membuat kita mengusap dada. Iseng saya tanya ke anak tetangga depan rumah, anak perempuan kelas 5 SD yang masuk siang : “Tadi shalat subuh pukul berapa?”. Jawabnya santai : “Tidak shalat”. Penasaran, saya tanya lanjut : “Ibu shalat, bapak shalat?” Jawaban jujurnya : “Ibu kadang-kadang shalat, bapak tidak shalat!”. Bapak dan ibu anak tadi satu pekerjaan sebagai pekerja/buruh garmen, berangkat pagi pulang kerja sore, naik motor berboncengan.
Yang membuat saya terkejut sekaligus prihatin karena eyang kakung anak perempuan tadi dikenal dengan panggilan Pak Haji. Terkadang pak Haji melantunkan bacaan surat/ayat Alquran. Walau suara beliau sudah semakin parau, namun tetap enak didengar dan berpahala. Pak Haji sering diundang pada acara doa bersama di rumah tetangga. Bahkan di lingkungan RT jadi sesepuh atau tetua.

Sejak dalam Kandungan
Menyimak kejutan keempat tadi, bisa terjadi di keluarga kita, jika kita sebagai orangtua tidak melakukan pendidikan agama sejak dalam kandungan. Pemberian stimulan pada bayi dalam kandungan dapat meningkatkan potensi anak sejak dalam rahim. Pendidikan pra lahir dalam tinjauan pedagogis Islami adalah upaya pendidikan yang dilakukan sejak anak masih berada dalam kandungan sampai anak tersebut lahir sesuai ajaran Islam.
Mengenalkan ajaran agama sejak dini sebagai salah satu metode dalam pendidikan pra lahir. Suara ibunya sebagai suara pertama yang didengar dan direkam. Ibu dapat memberi stimulasi pada bayinya dengan membacakan ayat suci Alquran. Membiasakan anak mendengarkan kalimat tauhid. Mensuplai ruh Alquran pada hati dan cahaya Alquran pada pikiran anak dalam kandungan, diharapkan anak akan lahir dan tumbuh sesuai fitrahnya
Banyak pakar pendidikan menyimpulkan bahwa wanita karir menjadikan anak mandiri serta prospektus memang tidak bisa dipungkiri. Tapi bagaimana dengan faktor reliji anak? Sebagai ibu rumah tangga (rumga), tantangan kehidupan keluarga di depan mata seolah tak ada habisnya. Pergulatan  ibu rumga, mulai dari subuh sampai subuh berikutnya, nyaris 24 jam. Perjalanan hidup anak tidak bisa kita serahkan pada nasib. Sebagai ibu rumga harus profesional dan banyak peluang untuk produktif. Rumah tangga sebagai ladang amal dengan mempertimbangkan faktor lingkungan, sebagai sebagai sekolah umum pertama dan madrasah awal bagi anak. Ibu rumga sebagai guru pertama pembentuk akidah dan akhlak anak.
Mengacu pada sabda Rasulullah,  “Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR al-Hakim)
Rumah ibarat surga, luasan hati seorang ibu rumga akan memudahkan pasutri memelihara surga yang separuhnya lagi. Faktor ajar dan sistem panutan dalam keluarga harus tetap disemarakkan dan lebih antisipatif, karena adanya tantangan dan rangsangan eksternal lewat media masa; pengaruh lingkungan; gaya hidup, gaul, dan gengsi.||

Herwin Nur
Konsultan individual
di lingkungan Kementerian PU, Kemenpera


Segenggam Nasehat di Balik Coretan Dinding Rumah



Saat   masih kanak-kanak, saya, kakak-kakak, dan adik senang menggambar di dinding ruang tamu. Saat itu kami hanya berpikir memiliki kesenangan dan kegembiraan setelah menuangkan ide dengan menggambar di dinding. Tidak pernah terpikir bahwa coreten itu memberi kesan kumuh dan kotor untuk ruangan yang harusnya rapi dan bersih. Saya masih ingat dulu Bapak belikan papan tulis untuk media kami menggambar, juga kertas dan buku gambar. Tapi kami tetap memilih dinding sebagai tempat ternyaman dan terbaik. Satu hal yang masih saya ingat sampai saat ini adalah Bapak tidak pernah marah karena dindingnya kacau dan tidak enak dilihat karena kotor oleh coretan dan gambar-gambar yang tidak jelas bentuknya. 
Ketika dewasa baru saya tahu kenapa Bapak tidak pernah marah melihat kami mencorat-coret dinding ruang tamu. Beliau tidak ingin mematikan kreativitas anak-anaknya. Jika dinding adalah pilihan terbaik menurut anak-anaknya, maka Bapak akan mendiamkan kami berimajinasi dan terus membangun ide dengan media dinding tersebut. Bercita-citalah sesuai harapan dan keinginanmu, katanya suatu ketika. “Bapak tidak akan mememaksa dan batasi untuk bereksplorasi agar engkau bebas kepakkan sayapmu setinggi lapisan langit yang paling tinggi. Bapak tidak akan patahkan semangat kalian agar anganmu membentang luas seluas alam yang tercipta”.
Dinding ruang tamu kami sekarang jauh terlihat lebih bersih. Coretan itu kini sudah dilapisi cat sejak kami, anak-anak Bapak tidak lagi suka menggambar di dinding ruang tamu. Ya, karena kami telah dewasa. Tapi beberapa lemari tua kami masih menyimpan cerita tentang gambar dan tulisan yang lebih tepatnya coretan itu. Ternyata dulu kami tak hanya menggambar di dinding ruang tamu saja, tapi juga di lemari, di balik pintu, dan entah dimana lagi ada ruang kosong untuk menampung karya-karya kami. Suatu senja ketika saya bercengkrama bersama Bapak sembari minum segelas air perasan tebu, tepat kami duduk-duduk di sebelah lemari tua yang masih menyimpan coretan ku, Bapak berkata, “Ini adalah kenanganmu, jejak awal di mana kamu mengukir harapan, cita-cita dan semangat, maka Bapak tak pernah marah dan batasi impianmu agar kamu menjulang melebihi mimpi yang kau bangun sendiri”
Kini, saya juga sudah siapkan papan tulis, buku gambar dan lembar-lembar kertas untuk murid-murid. Tapi masih saja saya temui coretan di dinding kelasku. Awalnya sangat risih melihat dinding kelas tidak rapi. Tapi itu persepsi saya dulu. Sekarang setiap masuk kelas dan melihat coretan itu, saya dapatkan sebuah energi baru, energi yang membangun dan memotivasi jiwa untuk terus bertumbuh dan berproses.
Saya jadi ingat dengan salah seorang sahabat. Secara fisik ia biasa-biasa saja. Kemampuan akademiknya (maaf) di bawah rata-rata. Tapi siapa sangka ia miliki segudang prestasi di bidang pencak silat. Tak perlu diceritakan berapa puluh kali ia dapatkan trophy atau medali saat ikuti kejuaraan di liga bergengsi. Dan seorang guru pernah komentari tentang dirinya, “Sayang, ia gak pinter”. Sekarang ini saya tersentak jika mendengar statement tersebut.”What? Gak Pinter? Lho kok? Kenapa tidak digali saja potensi sahabat ini. Ia miliki kemampuan yang sungguh luar biasa bahkan tidak semua orang memilikinya. Dan pintar itu bukan soal kemampuan kognitif saja kan..?”
Kembali pada perbincangan bersama Bapak; ia adalah sosok yang tidak pernah memasung kreativitas anak-anaknya. Ia tak hanya seorang ayah tetapi guru yang memberi kesempatan kami sebagi anak-anaknya untuk menggambar sebebas mungkin bahkan dengan media yang kami inginkan dan ia hargai kreativitas itu bukan secara visual bagus atau tidak. Dan kini saya pun berkata pada murid-murid, ”Engkau tak mesti sama seperti yang Ibu instruksikan, dan Ibu tak akan mendikte kalian karena Ibu tak akan batasi ruang imajinasi kalian. Agar engkau dapat kepakkan sayapmu setinggi bintang. Agar dapat kau bentangkan misi dan mimpi-mimpi  seluas bumi dan angkasa raya dan dengan sendirinya kalian akan berproses menjadi pribadi-pribadi yang berarti, menjadi sang revolusioner yang rendah hati dan  membawa kemanfaatan bagi sesama.”||

Maulani, S. SosI
Pendidik di TPA Prabha Dharma, Yogyakarta