» » “Maafkan Ayah, Nak…”

“Maafkan Ayah, Nak…”

Penulis By on Tuesday, October 8, 2013 | No comments



Seorang ayah tampak sedang memeriksa buku PR anaknya. Tiba-tiba, sang ayah terperangah, lalu bertanya pada sang anak, “Nak, kok PR matematikanya belum dikerjakan. Bukankah ini PR untuk besok? Kenapa kamu tidak segera mengerjakannya?” Tanya sang ayah dengan lembut. Sang anak yang baru duduk di kelas 3 SD itu menjawab “Sebentar Ayah, aku kerjakan sebentar lagi,” katanya juga dengan suara yang lembut.
“Jangan begitu dong, PR untuk besok harus dikerjakan sekarang! Tidak ada waktu lagi! Ayo, segera kerjakan!” ujar ayah yang peduli itu dengan nada memerintah. Suara yang keluar dari bibir sang ayah pun terdengar lebih tinggi. Ditambah lagi dengan tatapan mata yang lebih tajam bagaikan harimau hendak memangsa buruannya. Anak kecil usia 8 tahun itu tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Dengan langkah yang berat dia pun mengambil buku serta pena dan mulai mengerjakan PR.
Satu demi satu soal dalam PR mulai dikerjalan. Di tengah mengerjakan PR, ia tampak mulai tidak konsenterasi. Hitungan yang terlihat sederhana pun tampak seperti perhitungan matematika yang rumit. Melihat hal itu, sang ayah pun kembali bertindak.“4 x 8 berapa?” Ayahnya bertanya. Sambil menatap langit-langit rumah, anak tersebut menjawab “34, eh… salah ya?” Katanya ketika melihat ayahnya menatap dengan sorot mata heran bercampur marah.
“Bagaimana kamu ini? 4 x 8 saja tidak bisa! Kamu kan sudah kelas 3, mau turun lagi ke kelas 2 atau ke kelas 1? Ayo jawab cepat! Berapa 4 x 8?” Suasana belajar pun telah berubah menjadi pengadilan. Pertanyaan-pertanyaan dilontarkan dengan nada yang cepat dan tidak bersahabat. Ayah dan anak telah berganti peran menjadi seperti musuh yang berhadapan. Sang anak bagaikan terdakwa yang duduk di depan meja hijau.
Dengan air mata yang mengalir di pipi, sang anak berhasil juga menyelesaikan PR yang hanya 10 soal selama 2 jam. Lalu ia pergi ke kamar tidur dengan wajah tertunduk seperti seorang pesepakbola yang gagal mengeksekusi tendangan penalti di final Piala Dunia.
Ya, begitulah mereka yang kalah atau dikalahkan. Mereka yang mengerjakan sesuatu atas pesanan dan tak tersisa ruang untuk mengekspresikan dirinya. Harus sekarang! Dengan cara saya dan ukuran yang telah ditetapkan. Di luar itu apapun yang dihasilkan tak masuk hitungan.
Dengan rasa penasaran yang masih menggantung, sang ayah itu menengok anaknya di tempat tidur. Saat itu, emosi sang ayah sudah mereda dan dia merasakan sedikit rasa bersalah di dalam hatinya. Dia pun bertanya kepada anaknya. “Nak, kenapa sih tadi seperti tidak punya perhatian kepada pelajaran? Ayah tahu kamu pintar tapi kenapa PR tidak dikerjakan? Kok 4×8 saja kakak tidak bisa jawab,”
Sang anak pun kemudian menjawab masih dengan mata yang sembab. “Ayah, waktu ayah menyuruh mengerjakan PR, saya sedang menghafal hadits. Besok malam ada tampilan anak-anak TPA. Anak-anak ikhwan di kelompok saya harus menampilkan hafalan 20 hadits. Saya yang ditunjuk sama ustadz untuk jadi pemimpinnya. Kelompok saya 5 orang, masing-masing harus hafal 4 hadits. Tapi saya kan yang jadi pemimpin, kalo ada teman yang lupa, saya harus mengingatkannya. Waktu ayah menyuruh mengerjakan PR tadi, saya sedang menghafal hadits, sudah 18 hadits ayah, tinggal dua lagi yang belum hafal. Kalau sudah hafal yang 2 hadits itu, saya sudah berencana langsung mengerjakan PR” katanya sambil menatap wajah ayahnya.
Ayah yang termangu sejak tadi itu lalu segera memeluk anaknya dan berkata, “Maafkan ayah ya? Maafkan ayah yang sok tahu…”
Mungkin ada di antara kita yang pernah membaca kisah di atas. Ada sebuah pelajaran yang amat penting untuk kita petik dari kisah tersebut. Sejatinya, Allah memberikan kita dua telinga dan satu mulut agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Tak terkecuali pada anak. Mari kita singkirkan ego kita kepada anak. Ketika kita tidak sependapat dengan anak terhadap suatu hal, biarkan anak memberikan alasannya. Bukan dengan memaksa anak menuruti kehendak kita tanpa mau mempedulikan alasan anak. Melalui kisah di atas, semoga kita bisa memetik pelajaran untuk belajar menjadi orangtua yang sabar menjadi pendengar yang baik bagi anak. ||

Ali Rahmanto,
Pemerhati dunia anak,

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya