» » Segenggam Nasehat di Balik Coretan Dinding Rumah

Segenggam Nasehat di Balik Coretan Dinding Rumah

Penulis By on Friday, October 18, 2013 | No comments



Saat   masih kanak-kanak, saya, kakak-kakak, dan adik senang menggambar di dinding ruang tamu. Saat itu kami hanya berpikir memiliki kesenangan dan kegembiraan setelah menuangkan ide dengan menggambar di dinding. Tidak pernah terpikir bahwa coreten itu memberi kesan kumuh dan kotor untuk ruangan yang harusnya rapi dan bersih. Saya masih ingat dulu Bapak belikan papan tulis untuk media kami menggambar, juga kertas dan buku gambar. Tapi kami tetap memilih dinding sebagai tempat ternyaman dan terbaik. Satu hal yang masih saya ingat sampai saat ini adalah Bapak tidak pernah marah karena dindingnya kacau dan tidak enak dilihat karena kotor oleh coretan dan gambar-gambar yang tidak jelas bentuknya. 
Ketika dewasa baru saya tahu kenapa Bapak tidak pernah marah melihat kami mencorat-coret dinding ruang tamu. Beliau tidak ingin mematikan kreativitas anak-anaknya. Jika dinding adalah pilihan terbaik menurut anak-anaknya, maka Bapak akan mendiamkan kami berimajinasi dan terus membangun ide dengan media dinding tersebut. Bercita-citalah sesuai harapan dan keinginanmu, katanya suatu ketika. “Bapak tidak akan mememaksa dan batasi untuk bereksplorasi agar engkau bebas kepakkan sayapmu setinggi lapisan langit yang paling tinggi. Bapak tidak akan patahkan semangat kalian agar anganmu membentang luas seluas alam yang tercipta”.
Dinding ruang tamu kami sekarang jauh terlihat lebih bersih. Coretan itu kini sudah dilapisi cat sejak kami, anak-anak Bapak tidak lagi suka menggambar di dinding ruang tamu. Ya, karena kami telah dewasa. Tapi beberapa lemari tua kami masih menyimpan cerita tentang gambar dan tulisan yang lebih tepatnya coretan itu. Ternyata dulu kami tak hanya menggambar di dinding ruang tamu saja, tapi juga di lemari, di balik pintu, dan entah dimana lagi ada ruang kosong untuk menampung karya-karya kami. Suatu senja ketika saya bercengkrama bersama Bapak sembari minum segelas air perasan tebu, tepat kami duduk-duduk di sebelah lemari tua yang masih menyimpan coretan ku, Bapak berkata, “Ini adalah kenanganmu, jejak awal di mana kamu mengukir harapan, cita-cita dan semangat, maka Bapak tak pernah marah dan batasi impianmu agar kamu menjulang melebihi mimpi yang kau bangun sendiri”
Kini, saya juga sudah siapkan papan tulis, buku gambar dan lembar-lembar kertas untuk murid-murid. Tapi masih saja saya temui coretan di dinding kelasku. Awalnya sangat risih melihat dinding kelas tidak rapi. Tapi itu persepsi saya dulu. Sekarang setiap masuk kelas dan melihat coretan itu, saya dapatkan sebuah energi baru, energi yang membangun dan memotivasi jiwa untuk terus bertumbuh dan berproses.
Saya jadi ingat dengan salah seorang sahabat. Secara fisik ia biasa-biasa saja. Kemampuan akademiknya (maaf) di bawah rata-rata. Tapi siapa sangka ia miliki segudang prestasi di bidang pencak silat. Tak perlu diceritakan berapa puluh kali ia dapatkan trophy atau medali saat ikuti kejuaraan di liga bergengsi. Dan seorang guru pernah komentari tentang dirinya, “Sayang, ia gak pinter”. Sekarang ini saya tersentak jika mendengar statement tersebut.”What? Gak Pinter? Lho kok? Kenapa tidak digali saja potensi sahabat ini. Ia miliki kemampuan yang sungguh luar biasa bahkan tidak semua orang memilikinya. Dan pintar itu bukan soal kemampuan kognitif saja kan..?”
Kembali pada perbincangan bersama Bapak; ia adalah sosok yang tidak pernah memasung kreativitas anak-anaknya. Ia tak hanya seorang ayah tetapi guru yang memberi kesempatan kami sebagi anak-anaknya untuk menggambar sebebas mungkin bahkan dengan media yang kami inginkan dan ia hargai kreativitas itu bukan secara visual bagus atau tidak. Dan kini saya pun berkata pada murid-murid, ”Engkau tak mesti sama seperti yang Ibu instruksikan, dan Ibu tak akan mendikte kalian karena Ibu tak akan batasi ruang imajinasi kalian. Agar engkau dapat kepakkan sayapmu setinggi bintang. Agar dapat kau bentangkan misi dan mimpi-mimpi  seluas bumi dan angkasa raya dan dengan sendirinya kalian akan berproses menjadi pribadi-pribadi yang berarti, menjadi sang revolusioner yang rendah hati dan  membawa kemanfaatan bagi sesama.”||

Maulani, S. SosI
Pendidik di TPA Prabha Dharma, Yogyakarta


Baca Juga Artikel Terkait Lainnya