Beramal untuk Kaya


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Telah tibakah masanya? Masih jauhkah kita dari keadaan ini? Ataukah kita yang tak peka sehingga tak sanggup melihat apa yang sesungguhnya telah terjadi?

Diriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu bahwa beliau menyebutkan sejumlah fitnah yang akan terjadi di akhir zaman. Kemudian ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhuberkata kepadanya, "Kapankah itu terjadi, wahai ‘Ali?"

'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu menjawab:

إِذَا تُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّيْنِ، وَتُعُلِّمَ لِغَيْرِ الْعَمَلِ، وَالْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِغَيْرِ الآخِرَةِ.

"(Fitnah-fitnah tersebut terjadi) jika fiqih dikaji sungguh-sungguh bukan karena agama, ilmu agama dipelajari bukan untuk diamalkan, serta kehidupan dunia dicari bukan untuk kepentingan akhirat." (Riwayat Al-Hakim).

Telah adakah gejala-gejala seperti ini di hadapan kita? Jika dulu para shahabatradhiyallahu 'anhum ajma'in bekerja mencari penghidupan bahkan dalam rangka keta'atan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, demi meraih akhirat yang sentausa, maka pada zaman fitnah yang terjadi justru sebaliknya. Akan banyak orang yang berlomba-lomba mencari dunia, tetapi sama sekali bukan untuk kepentingan akhirat. Jalannya mungkin ibadah, tetapi demi meraih dunia.

Ini mengingatkan kita pada perkataan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu dalam sebuah hadis shahih mauquf. Salah satu tanda zaman fitnah menurut Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhuadalah الْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الآخِرَةِ (mengejar dunia dengan amalan akhirat). Di masa itu, akan banyak orang bersemangat melakukan sebagian amal akhirat untuk mengejar dunia sebanyak-banyaknya. Ini berkebalikan dengan para salafush shalih yang mereka mencari dunia pun untuk mengejar akhirat. Sangat berbeda. 

Sudahkah ini terjadi?

Banyaknya orang mengejar dunia dengan amal akhirat, berbarengan dengan munculnya orang yang تُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّيْنِ. Siapakah itu? Mereka yang bertekun-tekun mendalami agama bukan untuk agama. Mereka bersungguh-sungguh mempelajari agama untuk meraih dunia. Mereka inilah orang yang sangat memukau perkataannya tentang kehidupan dunia dan mempersaksikan kebenaran isi hatinya kepada Allah Ta'ala. Dan manusia pun berbondong memburu dunia dan mencintainya (hubbud dunya) tanpa merasa khawatir sedikit pun amalannya terhapus di Yaumil Qiyamah.

Alangkah berbedanya dengan generasi salafush shalih yang senantiasa mengkhawatiri amalnya. Padahal mereka adalah sebaik-baik generasi.

Marilah kita renungi sejenak ayat ini:

"من كان يريد الحياة الدنيا وزينتها نوف إليهم أعمالهم فيها وهم فيها لا يبخسون"

"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan." (QS. Huud, 11: 15).

Allah Ta'ala memberi balasan tunai di dunia. Tetapi di akhirat? Adakah yang disebut sebagai kekekalan energi positif seperti syubhat yang disuarakan oleh para penganut Law of Attraction? Mari kita perhatikan ayat selanjutnya:

"أولئك الذين ليس لهم في الآخرة إلا النار وحبط ما صنعوا فيها وباطل ما كانوا يعملون"

"Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Huud, 11: 16).

Alangkah buruk kesudahannya. Alangkah buruk....

Sudah adakah tanda-tanda manusia mengejar dunia dengan amal akhirat? Sudah adakah orang yang bertekun mendalami agama untuk dunia? Jika masa itu telah tiba, ingatlah bahwa air paling jernih adalah yang paling dekat dengan sumbernya. Maka, tengoklah generasi itu; generasi awal yang terbaik, para salafush shalih.

Berpeganglah kepada yang dalilnya kuat. Bukan kisah yang tidak jelas keshahihannya. Bukan pula dalil umum untuk perkara yang khusus.
Sebagai penutup, marilah kita renungkan sejenak apa yang menjadi kekhawatiran NabishallaLlahu 'alaihi wa sallam. Beliau bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ أُمَّتِيْ كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيْمِ اللِّسَانِ
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah setiap munafik yang fasih lisannya (pandai bersilat lidah).” (HR. Ahmad).

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan barakah. Semoga Allah Ta'ala kokohkan iman kita dan tidaklah kita mati kecuali dalam keadaan benar-benar beriman kepada Allahsubhanahu wa ta'ala.

Apakah tidak boleh kita meminta dunia kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala? Sangat boleh. Tetapi bukan melakukan amal akhirat untuk meraih dunia. Mintalah kepada Allah Ta'ala kapan saja, tak menunggu sedekahmu berlimpah. Ketahuilah adab-adabnya.

Jangan Bangga dengan Amalan Diri


Seorang muslim seyogyanya yakin akan begitu luasnya rahmat Allah. Kita tahu bahwa banyak macam-macam ibadah yang memiliki keutamaan masing-masing baik itu ibadah wajib ataupun sunnah. Misalnya sholat dari yang wajib sampai sholat-sholat sunnah,seperti dhuha,tahajud dan sebagainya. Begitu juga dalam kebaikan yang tak terhitung jumlahnya, bahkan hal-hal kecil pun dinilai sebagai kebaikan seperti menyingkirkan duri dari jalan sampai senyum ke saudara sendiripun adalah ibadah.

Kemudahan untuk taat adalah rezeki dari Allah karena itu tidak sepatutnya seorang muslim menyombongkan diri atas kebaikan-kebaikan yang dia lakukan dan mengganggap remeh kebaikan orang lain. Bisa jadi orang yang kita anggap kecil kebaikannya memiliki kebaikan-kebaikan yang tersembunyi yang ternyata besar nilainya dimata Allah. Jika kita memelihara jenggot dengan niat menghidupkan sunnah misalnya tentu sebaiknya jangan mengganggap remeh atau lebih baik dari saudara kita yang mencukurnya karena bisa jadi dia melakukan itu karena taat dan menjaga hati orangtuanya dan itupun salah satu kebaikan. Atau jika kita benyak bersedekah jangan pula merasa lebih baik dari orang yang mungkin secara kasat mata jarang bersedekah,bisa jadi dia orang yang menjaga lisannya dari bergunjing dan berghibah. Bahkan mungkin orang-orang yang mungkin secara dzahir sekarang banyak berbuat maksiat, bisa jadi diakhir hidupnya dia diberi hidayah oleh Allah untuk bertaubat dan berubah. Sementara kita yang mungkin sekarang merasa dalam ketaatan adakah jaminan untuk mati khusnul khatimah?

Akhirnya berusaha selalu melihat akan kebaikan-kebaikan orang lain menyelamatkan kita dari rasa berbangga akan amalan diri, dan tiada jaminan apakah amalan yang kita lakukan itu diterima ataukah akan ditolak Allah karena riya' atau ujub yang menyertai amalan tersebut. Na'udzubillah, semoga kita terlindungi dari rasa berbangga akan amalan diri dan juga mengganggap rendah orang lain, insya Allah

Sebaik-baik Nasehat


Oleh Mohammad Fauzil Adhim
Sebaik-baik do’a adalah do’a orang-orang shalih yang AllahTa’ala abadikan dalam Al-Qur’an. Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala memasukkannya ke dalam Al-Qur’an kecuali karena do’a itu Allah Ta’ala ridhai dan perkenankan. Begitu pun terkait perkara-perkara lainnya, termasuk nasehat orangtua. Sebaik-baik nasehat orangtua adalah apa yang Allah Ta’ala jadikan sebagai bagian dari ayat-ayat-Nya. Dan nasehat terbaik yang diberikan orangtua kepada anak itu adalah nasehat Luqman Al-Hakim kepada putranya.

Inilah nasehat yang Allah subhanahu wa ta’ala menyukai dan memuliakan. Inilah nasehat yang menjadikan Allah subhanahu wa ta’ala ridha dan memberikan barakah berlimpah kepadanya. Maka jika kita menginginkan kebaikan bagi anak-anak kita, sungguh,di antara nasehat-nasehat yang ingin kita sampaikan, amat penting bagi kita untuk menasehatkan kepada anak-anak kita apa yang Allah Ta’ala telah abadikan dalam Al-Qur’an.

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kalamuLlah, yakni Al-Qur’anul Karim. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Inilah panduan bagi kita dalam mendidik anak, utamanya dalam meletakkan dasar-dasar keimanan, akhlak dan adab. Semoga Allah Ta’ala mengampuni saya, istri saya serta para orangtua yang lalai menanamkan ini kepada anak karena tak menyadari keutamaannya.

Mari kita telusuri nasehat Luqman Al-Hakim di dalam Al-Qur’an surat Luqman. Semoga Allah Ta’ala berikan hidayah dan taufiq untuk mampu menasehatkan dengan baik kepada anak-anak kita. Semoga pula kita dapat memetik keutamaan-keutamaan yang ada di dalam nasehat tersebut.

Mari kita baca dengan pelan seraya memohon petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala:


Landasan Kepribadian Itu Bernama Syukur

Ada pelajaran besar dari rangkaian nasehat Luqman kepada putranya. Yang pertama ditanamkan kepada anak adalah nasehat untuk bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, amat banyak nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita. Dan sesungguhnya bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla itu pada dasarnya bersyukur kepada diri sendiri. Ini merupakan landasan yang sangat utama untuk terbentuknya pribadi yang matang.

Mari kita perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini:

ولقد آتينا لقمان الحكمة أن اشكر لله ومن يشكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن الله غني حميد

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman,yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS. Luqman, 31: 12).

Inilah hikmah yang Allah Ta’ala berikan kepada Luqman. Di antara hikmah itu adalah menyadari dan meyakini bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Andai manusia tidak bersyukur kepada-Nya, sungguh itu tidak sedikitpun mengurangi kemuliaan dan keterpujian-Nya. Maka, jika manusia bersyukur kepada Allah Ta’ala, semua itu manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri.

Di antara fadhilah menanamkan ini kepada anak-anak kita –semoga Allah Ta’ala barakahi nasehat kita—maka anak akan memiliki landasan kepribadian yang kokoh. Ia tidak mudah minder karena melihat orang lain yang melebihi dirinya dalam sebagian perkara. Sesungguhnya, di antara hal yang sangat berharga bagi pertumbuhan pribadi anak adalah penerimaan diri apa adanya. Dan tidaklah seseorang mampu bersyukur dengan sebenar-benar syukur kecuali jika ia memiliki penerimaan diri yang baik. Bahkan lebih dari itu.

Tanpa penerimaan diri yang baik, anak yang memiliki beragam kemampuan cemerlang pun akan mengalami hambatan perkembangan, terutama secara mental. Tetapi bagaimana kita dapat berharap anak-anak akan senantiasa bersyukur jika ia dibesarkan tanpa perhatian memadai dan kasih-sayang tulus? Bagaimana ia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki penerimaan diri bagus jika ia dibesarkan tanpa perhatian yang cukup? Ingatlah sejenak bagaimana Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam menyayangi anak, melimpahi perhatian dan menegur seorang ibu yang merenggut anaknya secara kasar.


Sebaik-baik Larangan: Jangan Persekutukan Allah!

Sesudah syukur kepada Allah Ta’ala, nasehat Luqman berikutnya adalah larangan mempersekutukan Allah Ta’ala dengan selainnya. Ini prinsip dasar tauhid yang melandasi apa pun pelajaran agama yang diberikan berikutnya. Tidak bermanfaat apa pun amal yang dikerjakan oleh seseorang jika ia mempersekutukan Allah Ta’ala, meskipun ia merasa benar-benar mencintai Allah subhanahu wa ta’ala. Bukankah di antara orang-orang musyrik pun mencintai Allah? Hanya saja mereka mencintai Allah Ta’ala sebesar kecintaan mereka kepada sesembahan selain Allah. Ini yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dariAl-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 165.

Mari kita perhatikan ayat berikut ini:


وإذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".” (QS.Luqman, 31: 13).


Apa yang dapat kita petik dari ayat ini? Tidak ada landasan yang lebih penting bagi keimanan anak-anak kita melebihi kemurnian tauhid dengan tidak mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya, syirik merupakan kezaliman yang sangat besar. Inilah yang perlu kita perhatikan agar segenggamiman anak kita tidak rapuh dan lemah.
Pelajaran lain yang penting adalah tentang pentingnya mengawal anak dengan menyampaikan larangan-larangan tegas. Ini bukanlah kesalahan komunikasi. Apa pun yang ingin kita lakukan, perlu ilmu untuk melaksanakannya dengan benar, baik itu berupa anjuran, perintah maupun larangan. Sebagian orang menghindari larangan karena munculnya beberapa asumsi yang dianggap ilmiah, meskipun sesungguhnya masih bersifat hipotetik (zhanniy; praduga).


Penegak Pribadi: Birrul Walidain.

Banyak orangtua bersibuk mengasah kemampuan anak, tetapi melupakan hal yang tampaknya sederhana, padahal ia sangat penting untuk keselamatannya di Yaumil-Qiyamah, arap hidupnya di masa dewasa dan efektivitas nasehat orangtua meskipun orangtuanya tidak memiliki keterampilan komunikasi yang bagus. Hal yang harus kita tanamkan dalam diri anak itu merupakan konsekuensi dari iman, yakni perintah berbakti kepada kedua orangtua. Inilah yang perlu kita bekalkan dalam diri anak, sehingga mereka senantiasa mengikatkan hatinya kepada kita.

Mari kita ingat sejenak firman Allah subhanahu wa ta’ala


ووصينا الإنسان بوالديه حملته أمه وهنا على وهن وفصاله في عامين أن اشكر لي ولوالديك إلي المصير

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.“ (QS.Luqman, 31: 14).

Keharusan berbakti kepada kedua orangtua itu bahkan berlaku untuk mereka yang orangtuanya tidak beriman dan bahkan nyata-nyata menyuruh kepada kesyirikan, sebagaimana kita baca dalam Al-Qur’an:


وإن جاهداك على أن تشرك بي ما ليس لك به علم فلا تطعهما وصاحبهما في الدنيا معروفا واتبع سبيل من أناب إلي ثم إلي مرجعكم فأنبئكم بما كنتم تعملون

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman, 31: 15).

Tetapi pokok pembahasan kita bukanlah tentang kewajibanbirrul walidain sebagai konsekuensi iman. Kali ini kita membincang dalam kaitannya dengan pendidikan anak, betapa ini akan membentuk pribadi yang senantiasa hormat kepada orangtua. Hikmahnya, anak akan lebih bersungguh-sungguh menetapi perintah orangtua.


Sesudah Tauhid, Ada Muraqabah

Sesudah memberi landasan tauhid, Allah Ta’ala tunjukkan hal penting yang tak boleh kita lalaikan, yakni memerintahkan kepada anak untuk berbakti kepada kedua orangtua (birrul walidain). Kebaikan terbesar sesudah tauhid adalah bersyukur kepada Allah Ta’ala dan kepada kedua orangtua serta memperlakukan ibu bapak dengan sebaik-baik perlakuan.

Sesudahnya, hal penting yang harus kita kita tanamkan adalah perasaan senantiasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan ini dikuatkan dengan mengimani bahwa amal apa pun, baik maupun buruk, besar maupun amat kecil, pasti akan dibalasi oleh Allah Yang Maha Adil lagi Maha Halus. Inilah yang perlu menjadi perhatian kita.

Sebesar apa pun keinginan kita untuk mengawasi anak, pada akhirnya tubuh kita akan melemah dan kemampuan kita akan mengendur. Sekuat apapun tekad kita untuk senantiasa memantau mereka, keterbatasan kita akan semakin besar. Maka, tidak ada penjagaan yang lebih baik melebihi perasaan senantiasa diawasi (muraqabah) oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam diri anak-anak kita.

Mari kita perhatikan nasehat Luqman kepada putranya sebagaimana yang Allah Ta’ala abadikan dalam Al-Qur’an:
(Lukman berkata): 


يا بني إنها إن تك مثقال حبة من خردل فتكن في صخرة أو في السماوات أو في الأرض يأت بها الله إن الله لطيف خبير

"Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. Luqman, 31: 16).


Inilah landasan penting sebelum kita menanamkan kepada mereka adab yang baik. Semoga Allah Ta’ala mampukan saya untuk menulis lebih lanjut tentang masalah ini pada edisi yang akan datang.

Wallahu a’lam bish-shawab.


***
Bahasan ini sesungguhnya masih teramat ringkas. Saya berharap dapat membahasnya lebih mendalam pada kesempatan lain.

Ringan Di Ucap Berat Di Hisab

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

"Tidak mungkin lahir anak yang shalih jika orangtua tidak menshalihkan diri dulu." Ini kalimat yang tampaknya benar, tetapi ada hal serius yang perlu kita khawatirkan. Pertama, hendaklah kita menafikan apa yang masih mungkin terjadi. Sama halnya, jangan memastikan apa-apa yang memang tidak dipastikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Kedua, jika tidak ada peluang bagi manusia untuk berubah, baik di masa kecil maupun sesudah dewasa, lalu apa gunanya pendidikan dan dakwah?

Berapa banyak orang-orang shalih yang tinggi kemuliaan imannya justru lahir dari orangtua yang salah dan bahkan amat besar kemungkarannya. Bukankah Nabiyullah Ibrahim'alaihissalaam, bapak dari para nabi, justru lahir dari orangtua pembuat patung berhala? Bukankah kita juga mendapati di zaman kita maupun di masa silam orang-orang shalih yang juga terlahir dari keluarga yang salah? Ini semua menunjukkan bahwa harapan lahirnya anak-anak shalih dan bahkan menjadi pejuang dakwah yang paling gigih dari keluarga yang bahkan paling keras permusuhannya dengan agama kita ini.

Ada yang berucap, kalau orangtuanya saja tidak membaca Al-Qur'an, bagaimana mungkin ia berharap anak-anaknya menjadi orang yang mencintai Al-Qur'an dan fasih membacanya? Ini sepintas benar, tetapi tidak berdasar. Banyak 'alim dalam agama ini yang justru lahir dari keluarga yang sangat awam. Hampir-hampir tak mengenal agama ini.

Setiap kita memang harus berusaha untuk menjadi pribadi yang shalih. Dan kepada Allah Ta'ala kita berharap anak-anak yang shalih dan barakah. Kita perlu berjuang keras untuk menjadi orang yang shalih karena ketundukan kita kepada Allah Ta'ala. Bukan semata agar anak sukses, meskipun tentu saja ini sangat kita harapkan.


"Kalau orangtuanya shalih, pasti dan pasti anak-anaknya akan shalih." 

Apakah kalian mengira Nabi Nuh dan Luth 'alaihimas salam tidak shalih? Keduanya adalah nabi. Ibadahnya sudah pasti bagus dan akhlaknya jelas terpuji. Teladan? Jangan ditanya lagi. Tetapi putra kedua Nabiyullah yang mulia itu terlepas dari iman dan jatuh pada kekafiran.

Aku nasehatkan kepada diriku sendiri yang bodoh ini, juga kepada para trainer yang amat memukau, jangan pastikan yang Allah Ta'ala tak pastikan! Jangan pula menisbikan apa-apa yang Allah Ta'ala sudah pastikan. Jika sesuatu itu dipastikan oleh Allah Ta'ala, maka tak patut kita meragukannya. Yang perlu kita pahami adalah sebab-sebab di balik buruknya keturunan dari orang-orang yang baik. Pun, baiknya keturunan dari orang buruk.

Bertawakkallah kepada Allah Ta'ala. Jangan bertawakkal kepada sebab. Sepintas sama, tapi keduanya sangat jauh berbeda. Do'a itu adalah pinta kita kepada Allah 'Azza wa Jalla. Kita memohon penuh harap dan takut. Adakalanya dikabulkan seketika, adakalanya ditangguhkan dan adakalanya menjadi simpanan kebaikan di akhirat. Di dunia tak dikabulkan, tetapi di akhirat menjadi kebaikan. Ini semua adalah hak mutlak Allah Ta'ala untuk menentukan. Bukan ditentukan oleh jenis ucapan do'a maupun teknik (yang belakangan berkembang). Maka bertawakkallah kepada Allah Ta'ala. Bukan kepada sebab. Apalagi yang tidak ada dasarnya dalam agama.

Teringat perkataan seseorang di sebuah majelis yang memastikan sesuatu, padahal ia tidak punya kuasa untuk itu. Miris sekali mendengarnya. Ia berkata dalam sebuah majelis tentang jodoh, "Seret jodoh, amalkan ini sekian kali, pasti jodohnya akan segera datang. Saya jamin."

Tertegun saya mendengar perkataannya yang berani memastikan apa yang ia tidak memiliki kekuasaan untuk mengaturnya. Dan terhenyaklah saya ketika mendengar ia bercerai dari suaminya. Betapa bertentangan apa yang ia katakan dengan apa yang menimpanya. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang demikian disebabkan kecerobohan kita bertutur. Di luar itu, ada masalah terkait dengan amalan yang disebut bersebab tidak jelas dasar dan tidak adanya tuntunan.


"Pengen punya anak tapi gak dapet-dapet? Amalkan ini dan ini. Pasti deh..."

Ini termasuk perkataan bathil yang melampaui batas. Ia memastikan apa yang menjadi hak prerogatif Allah Ta'ala sepenuhnya dan termasuk perkara yangghaib. Tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi. Lebih-lebih yang mengatakan sendiri tak kunjung punya anak, lalu bagaimana mungkin ia memastikannya? Tentu saja tak punya anak disebabkan Allah Ta'ala tak menganugerahinya bukanlah aib. Yang rusak adalah jika ia sendiri tak kuasa menentukan takdir atas dirinya, tetapi berani memastikan takdir atas orang lain.Na'udzubillahi mn dzaalik.

Jika ada di antara kalian yang berkata semacam itu dan Allah Ta'ala beri teguran langsung semisal perceraian, bersyukur dan bertaubatlah. Bersyukur karena Allah Ta'ala memberi peringatan. Tidak membiarkan dalam kelalaian yang bertambah-tambah. Bertaubat atas salah yang terjadi.

Sepanjang pengetahuan yang terbatas, di antara tafsir "يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحي"adalah Allah Ta'ala munculkan orang-orang shalih dari para pendahulunya yang ingkar; dan sebaliknya lahirnya orang-orang ingkar dari para pendahulunya yang shalih.

Teladan saja tidak cukup. Bukankah Nabi Luth dan Nabi Nuh 'alaihimas salaam adalah sebaik-baik teladan bagi keluarganya? Maka, kita perlu senantiasa memohon kepada Allah Ta'ala perlindungan atas anak-anak kita dan keturunan kita seluruhnya. Juga atas diri kita. Kita berdo'a sepenuh pinta kepada Allah 'Azza wa Jalla dengan menjaga adab-adabnya seraya bertawakkal kepada-Nya. Bukan kepada trik berdo'a.

Kita memohon kepada Allah Ta'ala, "رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ Tuhanku, karuniailah aku (seorang) anak yang termasuk orang-orang shalih." (QS. Ash-Shaaffaat, 37: 100).

Kita juga memohon untuk diri kita kepada Allah Ta'ala istri/suami serta keturunan yang menjadi penyejuk mata; di dunia hingga akhirat:


"رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا"

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqaan, 25: 74).

Sudahkah engkau do'akan istri dan anak-anakmu?


Kembali pada perbincangan awal. Atas setiap perkataan, takarlah adakah ia bersesuaian dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah atau menyelisihinya? Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabuLlah, yakni Al-Qur'anul Karim, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Janganlah karena ingin menunjukkan dirimu mampu memberi solusi yang pasti ampuh, lalu engkau melalaikan apa yang digariskan agama ini.

Jagalah lisanmu, wahai diriku, dan ingatkan saudaramu agar tak tergelincir pada perkataan indah yang menjerumuskan ke dalam api yang menyala. Ingatlah perkataan Rasulullah Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam:


"إِنَّ الْعَبْدَ يَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا، يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ"

"Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang tak ia periksa (kebenarannya sebelum berucap), maka karena satu kata tersebut dia dapat terjerumus ke dalam neraka yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat." (HR. Bukhari & Muslim).

Alangkah sedikit ilmu, alangkah banyak yang harus diperbincangkan. Maafkan. Semoga yang benar-benar berilmu berkenan menasehatkan

Sumber : https://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/ringan-di-ucap-berat-di-hisab/579592545423211
foto Anak-anak SDIT Hidayatullah Sleman

Anak Sehat : Aspirasi Benda Asing



Aspirasi benda asing sering terjadi pada anak, terutama anak usia kurang dari 4 tahun. Benda asing yang dapat terhirup oleh anak misalnya kacang-kacangan, biji-bijian, kelereng, atau benda kecil lainnya. Benda asing yang terhirup biasanya tersangkut pada bronkhus (saluran napas kecil), paling sering pada paru kanan dan dapat menyebabkan paru kolaps atau reaksi peradangan di bagian bawah lokasi penyumbatan.  Yang paling berbahaya jika benda berukuran besar dan tersangkut pada laring sehingga mengakibatkan kematian mendadak karena sumbatan jalan napas.
Gejala yang timbul bersifat mendadak berupa tersedak yang diikuti  batuk, wheezing (mengi), napas cepat atau sesak napas. Untuk menegakkan diagnosis aspirasi benda asing diperlukan pemeriksaan rontgen dada.
Pertolongan pertama pada anak yang tersedak sebelum dibawa ke rumah sakit adalah dengan segera mengeluarkan benda asing tersebut. Jika benda asing dapat dikeluarkan, dinilai lagi apakah masih terdapat gejala dan tanda sumbatan jalan napas. Jika masih ditemukan gejala gangguan napas, anak harus dibawa ke rumah sakit untuk tatalaksana lebih lanjut.  Apabila telah dilakukan pertolongan pertama tetapi benda asing tidak dapat dikeluarkan, anak harus segera dibawa ke rumah sakit untuk penegakan diagnosis, mengeluarkan benda asing dengan bronkoskopi dan untuk menangani komplikasi akibat aspirasi seperti pneumonia (infeksi paru).
Tindakan untuk mencegah aspirasi benda asing pada anak dapat dilakukan dengan menjauhkan anak usia kurang dari 5 tahun dari benda-benda kecil dan selalu mengawasi anak saat bermain dengan benda-benda kecil tersebut.||

dr. Nurlaili Muzayyanah, M.Sc, SpA
Staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fak Kedokteran UII
Dokter Spesialis Anak di RS Gramedika, Sleman
foto duniapsikologi.com

Tips Cerdas : Gangguan Konsentrasi Belajar


  
“Aduh, Bu, anak saya kalau di rumah, baru saja belajar 10 menit saja, tapi kok setelah itu sudah bosan, gelisah dan melakukan kegiatan-kegiatan yang lain ya?” Keluh seorang ibu kepada temannya di sela-sela menjemput putrinya sekolah. “Iya, Bu. Anak saya juga begitu. Baru beberapa menit belajar, sudah merengek minta nonton televisi,” jawab teman sang ibu.
Mungkin banyak di antara kita yang mempunyai masalah serupa. Kesulitan konsentrasi pada anak dapat diindikasi bila perhatian mereka mudah terpecah atau mudah teralih. Anak sulit untuk fokus dalam memperhatikan suatu hal. Jadi, untuk suatu pekerjaan, mereka tidak bisa menuntaskannya. Baru sebentar saja, perhatiannya sudah berubah dan itu terjadi pada semua hal. Akan tetapi orangtua baru dapat menyimpulkan bahwa anaknya mengalami sulit konsentrasi, setelah dibandingkan dengan anak normal umumnya.
Konsentrasi adalah kemampuan untuk memusatkan atau mempertahankan perhatian pada sesuatu hal dalam rentang waktu tertentu. Nah, untuk mengetahui seberapa lama rentang waktu kemampuan konsentrasi seseorang, rumusnya adalah 3–5 menit dikalikan usia. Jadi, pada anak usia 4 tahun, misal, kemampuan berkonsentrasi idealnya adalah 12–20 menit. Anak yang mencapai batas minimal rentang waktu tersebut (12 menit) boleh dibilang kurang bisa berkonsentrasi.
Gejala ini sebaiknya disikapi dengan bijaksana. Orangtua hendaknya tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa anaknya mengalami gangguan konsentrasi, karena mereka memang sedang berada pada tahap senang untuk menjelajahi dunia mereka dan mengeksplorasi hal-hal baru yang ada di sekitarnya. Mereka sedang dalam proses belajar untuk berpikir dan menganalisa sebab akibat. Hal ini mungkin tampak biasa di  mata orang dewasa, tetapi bagi anak ini merupakan hal yang indah.  Hal inilah yang menyebabkan mereka cenderung terganggu dengan hal-hal atau kejadian yang terjadi di sekitar mereka.
Tips agar anak konsentrasi dalam belajar:
Ø  Jangan membuat kegaduhan saat anak sedang belajar. Apapun penyebabnya, pasti konsentrasi seseorang akan terpecah bila mendapatkan sesuatu hal yang berisik dan kegaduhan.
Ø  Beri waktu istirahat yang cukup. Bila tubuh anak sudah lelah, jangan dipaksakan untuk terus belajar. Biarkan anak beristirahat yang cukup, karena bila dipaksakan pun belajarnya akan menjadi kurang optimal. Misalnya ketika mereka pulang sekolah, biasakan agar anak tidur siang walau hanya 1-2 jam. Ini membuat otak dan fisik mereka istirahat, sehingga bila bangun tidur anak akan lebih segar untuk diajak berpikir. Selain itu atur waktu tidur malam mereka, jangan sampai terlalu larut. Anak yang tidak tidur baik pada malam harinya, maka akan mempengaruhi konsentrasi anak pada keesokan harinya.
Ø  Jangan bersikap seperti guru. Anak pasti sudah merasa puas dengan kegiatan mereka di sekolah dan dengan sosok seorang guru. Kesalahan yang sering tidak orangtua sadari adalah mereka kerap memposisikan diri mereka sebagai guru yang berada di rumah. Diperlukan pendekatan yang berbeda. Sesuatu yang lebih personal dan lebih intim dengan anak. Berikan anak rasa nyaman berada dekat anda, sehingga apa yang anda perintahkan (termasuk belajar), akan secara mudah di turuti oleh anak.
Ø  Buatlah tempat belajar anak yang nyaman dan sesuai dengan tipe belajarnya. Ada anak yang senang belajar dengan diiringi musik tetapi ada juga yang dapat berkonsentrasi bila suasana hening, sunyi, tidak ada gangguan suara apapun.
Ø  Posisi tubuh juga mempengaruhi konsentrasi belajar. Sebaiknya jangan dengan posisi yang salah, seperti tiduran, badan membungkuk sambil meletakkan kepala diatas meja atau sambil nonton tv. Belajarlah dengan posisi duduk di meja belajar dan kursi yang membuat anak nyaman untuk belajar.
Ø  Hindari penempatkan televisi serta permainan seperti playstation pada ruang belajar anak.
Ø  Perlu juga diketahui, beda anak, maka berbeda pula pendekatan yang harus orangtua jalani. Kenali karakter anak anda agar dapat menemukan solusi yang terbaik agar dapat meningkatkan konsentrasinya.

Indah Muflikhah
Ibu rumah tangga, tinggal di Yogya
foto gayabelajar.net

Kisah Cerdas : Kayu Bakar Kecil



Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ayah bunda, pendidik dan pengasuh anak-anak di manapun Anda berada, selamat berjumpa lagi dengan kisah Fahma. Semoga salam sejahtera menyertai kita semua dalam mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak. Semoga kisah Fahma edisi ini bisa menjadi pilihan untuk membelajarkan tentang nilai mulia kepada putera puteri Anda sekalian. Selamat menyimak.

Kayu Bakar Kecil

Abu Yazid al Bustami sedang menunaikan shalat tahajud. Tiba-tiba putranya yang masih kecil menyusul berdiri shalat di sampingnya. Memperhatikan kehadiran putranya yang ikut shalat malam, Abu Yazid merasa kasihan.  Pada umumnya anak seusianya tidur pada malam yang larut. Apalagi malam itu udara terasa begitu dingin. Bahkan orang dewasa pun merasa berat meninggalkan tempat tidurnya.
Abu Yazid berkata kepada putranya, “Tidurlah wahai anakku! Malam masih panjang.”
Putranya menjawab, “Mengapa ayah shalat?”
Abu Yazid menjawab, “Anakku, aku memang dituntut untuk shalat malam.”
Putra Abu Yazid  mengucapkan  bacaan hafalan Alquran yang dimilikinya, sesungguhnya aku menghafal Alquran yang bunyinya, “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri shalat kurang dari dua pertiga malam atau satu perdua malam atau satu pertiga malam. Dan demikian pula segolongan orang-orang yang bersama kamu (nabi).”
“Lalu siapa orang-orang yang berdiri shalat bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam?” kata putra Abu Yazid.
Abu Yazid menjawab, “Tentu saja para sahabat beliau.”
Putra Abu Yazid mengatakan, “Jangan menghalangiku untuk meraih kemuliaan menyertaimu dalam ketaatan kepada Allah.” Abu Yazid diliputi rasa kagum dan mengatakan, “Anakku, kamu masih kecil dan belum mencapai usia dewasa.”
Putranya menjawab, “Ayah, aku melihat ibu sewaktu menyalakan api. Ibu memulai dengan potongan-potongan kecil  untuk menyalakan kayu-kayu yang besar. Maka aku merasa takut Allah akan memulai dengan kami para anak kecil sebelum orang dewasa pada hari kiamat nanti. Jika kita lalai dari ketaatan kepada Allah.”
Abu Yazid pun tersentak dengan perkataan putranya itu. Juga merasa kagum dengan rasa takutnya kepada Allah walaupun masih kecil. Abu Yazid berkata, “Anakku berdirilah. Kamu lebih berhak dengan Allah daripada ayahmu.”
Subhanallah. Putra Abu Yazid yang masih  kecil itu memberikan pelajaran dalam ketaatan kepada Allah semenjak kecil. Ia bisa mengambil pelajaran hikmah dari peristiwa ibunya ketika membakar kayu. Peristiwa itu membimbingnya untuk menjadi anak yang taat kepada Allah.

Sumber : Ensiklopadi Kisah Generasi Salaf.
Asnurul Hidayati,
Ibu Rumah Tangga, tinggal di Prambanan Sleman
foto menggapaijalanterindah.blogspot.com