» » Desain Interior Kelas yang Melesatkan Belajar Anak

Desain Interior Kelas yang Melesatkan Belajar Anak

Penulis By on Wednesday, November 6, 2013 | No comments



Prinsip pembelajaran untuk anak adalah “Bermain sambil belajar, belajar seraya bermain”. Prinsip ini sejalan dengan fitrah anak sebagai makhluk bermain, karena dunia mereka adalah dunia bemain. Pembelajaran untuk anak harus disusun sedemikian rupa, sehingga menyenangkan, menggembirakan, dan demokratis agar menarik anak untuk terlibat dalam setiap kegiatan pembelajaran. Anak aktif berinteraksi dengan berbagai benda dan orang di lingkungannya, baik secara fisik maupun mental.       
Belajar akan terasa menggairahkan dan menggembirakan, jika didukung oleh lingkungan belajar yang baik. Lingkungan dapat berupa manusia, dalam hal ini guru-guru yang ramah dan berkompeten, teman-teman belajar yang baik. Bisa juga berupa lingkungan fisik, berupa desain ruang belajar yang mampu menstimulasi serta melesatkan belajar anak. Sekolah haruslah menjadi ajang kegiatan yang paling menyenangkan dan menggairahkan, demikian menurut penulis buku The Accelerated Learning Handbook, Dave Meier sebagaimana dikutip Hernowo.
Dalam buku “Quantum Learning”, Bobbi De Porter & Hermacky  membahasakan “Kegembiraan” dengan terbangunnya emosi positif. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah penataan sarana prasarana yang mendukung ke arah tersebut. Ada lima hal prinsip pendayagunaan sarana prasarana di PAUD atau TK, meliputi: 1) Menyenangkan dan merangsang anak didik untuk melakukan berbagai kegiatan. 2) Memungkinkan anak melakukan pilihan kegiatan yang sesuai dengan minat, bakat, dan taraf perkembangannya. 3) Memungkinkan anak mengembangkan segi-segi kepribadian pada aspek jasmaniah, intelektual, emosional, dan sosialnya. 4) Membantu dan memfasilitasi guru menggunakan berbagai jenis teknik pelaksanaan kegiatan pendidikan yang sesuai, menarik dan efektif bagi anak didik. 5) Memungkinkan setiap anak menggunakan pikiran, perasaan, dan kemauannya, serta melibatkan anggota tubuh dan inderanya, karena “bermain sambil belajar, belajar seraya bermain,” akan terjadi secara efektif bila didasarkan atas pengalaman dan penghayatan situasi konkrit anak sendiri.
Senada dengan lima prinsip pendayagunaan sarana prasarana belajar anak, Bobbi Deporter dalam Quantum Teaching menyebut pengelolaan lingkungan dengan prinsip “segalanya berbicara”. Segala sesuatu dalam lingkungan belajar anak menyampaikan pesan yang memacu belajar anak. Selain itu, ada kriteria atau persyaratan teknik untuk lingkungan belajar yang optimal, meliputi: 1) sehat, tercermin dari pemenuhan kebutuhan air bersih, udara yang segar dan menyehatkan serta cahaya matahari yang cukup, 2) aman, memberi rasa aman memberi keleluasaan bagi mereka mengembangkan segenap potensi tanpa rasa was-was, 3) Indah, kebutuhan akan keindahan dapat dipenuhi melalui rancangan desain estetika, warna, serta keindahan natural semisal taman sekolah. 4) Nyaman, suasana yang tenang, nyaman dapat hadir bila jauh dari kebisingan, bisa kita berada dalam ruang dengan bangunan yang kokoh, gentengnya kuat dan tidak bocor, serta peralatan sekolah yang terawat, bersih dan kokoh.
Fokus sharing pada tulisan ini dibatasi pada desain tata ruang kelas. Ada persyaratan teknis untuk bangunan ruang kelas standar yakni 8x8 m untuk jumlah anak maksimal 30 anak. Rasio kebutuhan gerak anak dalam ruangan kurang-lebih 2 m2 per anak. Ruang kelas digunakan untuk kegiatan terpimpin dan semi terpimpin. Meja dan kursi ditata secara berkelompok antara 4 sampai dengan 8 anak.
Ruang kelas untuk anak, didesain untuk mengembangkan secara optimal seluruh potensi anak. Ruangan kelas dibagi ke dalam area tematik yang disebut pusat-pusat kegiatan (activity centers), kadang-kadang disebut pusat minat (interest centers). Dalam memilih mendesain sentra ruang kelas, hendaklah memilih sentra sesuai ruang kelas dan bermacam bakat serta minat anak yang dilayani. Ukuran ruangan dan peralatan yang disediakan juga mempengaruhi keputusan pada banyak atau sedikitnya sentra.
Penataan ruang dengan berbagai sentra diharapkan mampu menstimulasi semua potensi anak. Semoga bermanfaat.
 Umi Faizah
Ketua STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta
foto tindaktandukarsitek.wordpress.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya