» » Godaan Baru: TV Berlangganan untuk Anak

Godaan Baru: TV Berlangganan untuk Anak

Penulis By on Wednesday, November 6, 2013 | No comments


  

Wah, sejak ada “Junior TV”, anak saya jadi tenang dan diam”, ujar seorang ibu muda dengan mata berbinar. Tak lupa ia mengucapkan, “Alhamdulillah, ya...”
Kalau ingin agar anak menjadi diam, maka tujuan si ibu tersebut tentu sudah tercapai. Namun, apakah kondisi diam tersebut adalah hal yang paling baik untuk anak? Sayang, jawabannya adalah tidak! Para ahli memercayai bahwa pada usia emas perkembangannya, anak sangat memerlukan latihan motorik kasar maupun halus.
Anak-anak perlu bergerak, melompat-lompat, berlarian dan melakukan gerakan lain. Pada saat itulah sel-sel di otak maupun fisiknya mendapat stimulasi latihan yang diperlukan. Namun banyak orangtua yang keliru memahami keaktifan anaknya dengan menyebut anak mereka nakal dan sulit diatur. Seorang ibu sering kesal karena anaknya gemar memukul-mukul panci dengan sendok. Ia tidak menyadari bahwa bagi anak, mainan tidak selalu berupa  mobil-mobilan, boneka dan yang sejenisnya. Apa pun bisa menjadi mainan, termasuk panci, ember atau wajan.
Pada saat yang sama, keaktifan anak sering “memaksa” orangtua lebih mengeluarkan energi ekstra untuk mengawasi anak. Konsekuensinya, orangtua menjadi lebih lelah. Kalau begini, kapan bisa nyaman beristirahat? Kapan bisa leyeh-leyeh sembari mengutak-atik smartphone?
Orangtua lalu berpaling pada perangkat yang dianggap bisa mengalihkan perhatian anak. Pilihan jatuh pada sebuah kotak bernama televisi. Tetapi, kini para orangtua sudah mengetahui bahwa ada banyak kritikan yang ditujukan pada media yang satu ini, seperti tayangan yang tidak sesuai dengan usia anak-anak.
Nah, pada titik inilah kemudian para pemodal hadir dengan televisi yang konon lebih aman untuk anak-anak. Berbeda dengan televisi konvensional yang gratis atau free to air, tayangan ini berbayar. Dengan bekal penelitian mengenai perilaku konsumen yang detil, mereka menggunakan gimmick pemasaran yang canggih untuk membujuk masyarakat agar berlangganan. Label “TV for Baby”, “Kid” atau “Junior”, digunakan untuk mencitrakan bahwa tayangan TV ini aman dan bersahabat bagi anak. Anda tinggal duduk santai, maka anak-anak akan belajar sendiri dari televisi. Mungkin begitulah yang dijanjikan oleh para vendor televisi berlangganan.
Untuk pemasaran, mereka tidak hanya beroperasi di mall-mall, tetapi kini juga mulai merambah pasar-pasar tradisional. Persaingan antarvendor membuat mereka tidak segan-segan menggunakan sales promotion yang “jor-joran”. Bayangkan, konsumen bisa free trial televisi ini selama tiga bulan; bebas biaya peralatan maupun pemasangan.
Harapan vendor, karena calon pelanggan sudah menikmati tayangan ini selama tiga bulan—sekitar  90 hari—maka  hal tersebut sudah menjadi kebiasaan. Akan ada yang hilang bila pada bulan keempat konsumen memutuskan untuk tidak jadi berlangganan. Oleh karena itu, tidak heran jika data menunjukkan bahwa pasar televisi berlangganan di Indonesia tumbuh signifikan.
Namun, TV berlangganan sebenarnya tetap bukan merupakan “sahabat” bagi orangtua dalam mendidik anak. Sebagian besar kritik yang ditujukan pada TV konvensional juga masih berlaku untuk TV berlangganan.
Yakinlah bahwa anak-anak tidak memerlukan TV berlangganan karena bagi mereka ada yang jauh lebih menarik ketimbang tayangan televisi. Apakah itu? Jangan kaget karena jawabannya adalah: Anda, orangtuanya. Namun, harus segera saya tambahkan, yang disukai oleh anak-anak bukanlah orangtua yang selalu bermuka masam karena sudah terlalu capai oleh pekerjaan. Pun bukan orangtua yang merasa sudah menunaikan kewajiban dengan membelikan mainan-mainan mahal.
Orangtua yang disukai oleh anak adalah orangtua yang mau bermain bersama-sama anak dan bukan hanya menyuruh anak bermain. Orangtua yang selalu ceria di muka anak kendati banyak persoalan sedang menghimpit. Orangtua seperti ini tidak bisa dibandingkan dengan televisi berlangganan yang semahal apa pun.
Akhirul kalam, marilah kita mendidik anak dengan sederhana, karena, apa lagi yang lebih indah dari pada kesederhanaan?

M Edy Susilo
Dosen FISIP UPN Veteran Yogyakarta
Foto artikelkesehatananak.wordpress.com

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya