» » Orangtua Sahabat Anak

Orangtua Sahabat Anak

Penulis By on Tuesday, December 17, 2013 | No comments

  
Menjadi orangtua di zaman jahiliyah modern saat ini sungguh tidak mudah. Tantangannya semakin canggih. Bukan hanya dari personel sang buah hati, tapi juga pengaruh luar. Lingkungan pergaulan, teknologi informasi hingga media massa tak henti-hentinya menjajah pemikiran anak-anak. Tak mudah bagi orangtua untuk senantiasa memahami isi kepala ananda tercinta.
Salah satu strategi untuk selalu bisa mengawasi perkembangan anak adalah dengan menjadi sahabat anak. Ini karena sebagai pribadi yang masih labil, dalam kesehariannya anak-anak sangat membutuhkan figur orang tua. Orangtua adalah rote model bagi mereka.
Tapi, di sisi lain, dengan perkembangan usia, anak membutuhkan sosok sahabat yang bisa menjadi partner dalam dunianya. Nah, sebagai orang terdekat anak, orangtua harus bisa berperan sebagai sahabat bagi anak. Sebagai sahabat, orangtua hendaknya menempatkan diri sejajar dan partner anak. Bagaimana caranya?
Pertama, jadilah pendengar yang baik dan aktif. Siapkan telinga untuk mendengar celotehnya. Berikan respons positif dan logis ketika anak curhat. Ajukan pertanyaan- pertanyaan seputar ceritanya, tapi jangan membuat privasinya merasa terusik dan terganggu. Berikan anjuran atau pendapat yang bisa ia mengerti, tapi jangan menekankan keharusan yang terkesan mendikte. Kembangkan inisiatif dan kreavitasnya. Ajak dan latih anak untuk selalu berani mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan kata-kata. Adakan kontak mata setiap kali berkomunikasi dan berikan perintah yang spesifik agar anak tidak bingung.
Kedua, libatkan diri dalam kegiatan anak. Pahami apa yang disukai dan tidak disukai anak. Selami dunia si kecil.Temani dan dampingi anak ketika bermain. Pahami kebiasaan-kebiasaan yang ia lakukan saat beraktivitas. Perhatikan kreativitasnya terhadap mainan dan ajaklah berbicara secara aktif agar kecerdasannya terstimulasi secara efektif. Dengan melakukan ini, orang tua dapat memahami kelebihan dan kekurangan anak, serta tidak selalu memaksakan kehendak terhadap anak. Manfaatkan setiap kesempatan untuk mendekatkan diri dengan anak. Tanamkan dalam setiap kesempatan itu untuk memberi pengarahan nilai-nilai pada anak.
Ketiga, berikan pujian dan teguran secara jujur, tulus, proporsional dan rasional. Ketika anak berbuat salah, tegur ia dengan sikap tidak menghakimi. Jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan. Berikan pujian untuk setiap keberhasilan yang diraihnya agar ia merasa dihargai dan termotivasi, tapi jangan berlebihan. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur, tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.
Keempat, berikan kepercayaan pada anak. Sesekali biarkan anak mencoba sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya asal tidak membahayakan. Misal mandi dan makan sendiri atau mencoba permainan baru. Cara ini dapat menumbuhkan kepercayaan dirinya, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Dengan penghargaan dan kepercayaan, kemampuan kreatifnya pun akan lebih berkembang
Kelima, kenali pribadi anak. Mengenali pribadi anak sangat penting, dengan memahami situasi ini maka orangtua dapat menyesuaikan diri. Jika anak lebih dari satu kenali karakter masing-masing dan didiklah sesuai karakternya. Menjadi orangtua memerlukan kesabaran ekstra. Hindari melampiaskan kemarahan pada anak, selesaikan masalah disaat kepala dingin. Hal ini untuk menghindari tindak kekerasan dan mengeluarkan kata-kata menyakitkan yang nantinya bisa membekas pada anak.
Keenam, beri contoh yang baik. Anak merupakan duplikator terbaik dari orangtuanya. Anak belajar berbagai hal dari pengamatannya terhadap lingkungannya terutama orangtua. Jika menginginkan anak yang baik jadilah panutan yang baik pula..
Ketujuh, tunjukkan kasih sayang dengan porsi yang tepat. Kasih sayang harus diungkapkan dengan tindakan bisa dengan kata-kata atau sekedar pelukan atau ciuman. Untuk menghinadari dalam memanjakan anak maka kasih sayang yang ditunjukkan harus sesuai porsi atau tidak berlebihan. Wallahu ‘alam bish shawab.||

Ali Rahmanto,
Pendidik, tinggal di Yogya

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya