Wahai Para Suami


Dalam perjalanan kehidupan rumah tangga banyak suami yang terjebak rutinitas dan melupakan sesuatu yang sederhana namun membuat bahagia. Saya yakin sebagian besar suami tak melupakan tanggung jawab yang utama yaitu memberi nafkah dan mendidik istri. Namun, terkadang seorang suami (termasuk saya) melupakan atau setidaknya mengabaikan hal-hal yang tampak kecil.
Sepulang umroh bersama istri pekan lalu, saya merenung tentang kehidupan rumah tangga saya. Ternyata, perhatian-perhatian kecil dari istri sangat berkesan dalam perjalanan hidup saya, bahkan sangat sulit untuk dilupakan. Saya yakin, ini juga berlaku sebaliknya. Apabila kita memberikan perhatian untuk hal-hal kecil kepada istri maka akan banyak moment yang terpatri di hati dan akan dikenang hingga mati oleh istri.
Wahai para suami, cobalah ngobrol berdua dengan istrimu. Bicaralah dari hati ke hati. Ungkapkan kekagumanmu, sampaikan pula kegelisahanmu. Jangan lupa, dengarkan cerita, keluhan, dan ungkapan isi hati istrimu. Kemudian berdoalah, “Ya Allah, satukan kami dalam cinta-Mu.”
Wahai para suami, sekali-kali biarkan istrimu menangis di pelukanmu. Rasakan getaran cintanya, hapus air matanya dengan tanganmu. Biarkan ia terus menangis dan jangan kau tanya “mengapa kau menangis?” Biarkan ia menangis sepuas-puasnya hingga ia lega. Ketahuilah, tak semua tangisan harus punya alasan.
Wahai para suami, sekali-kali bacalah Kitab Suci dihadapan istrimu. Biarkan ia mendengarkan bacaanmu. Izinkan dia meluruskan kesalahan apa yang kau baca. Rasakan getaran suara saat ia meluruskan bacaanmu. Masukan suara itu kedalam memori dan hatimu. Setelah itu bisikan ke dalam hatimu, “Betapa bahagianya aku didampingi istriku. Sungguh aku akan berusaha keras untuk membahagiakanmu.”
Wahai para suami, bila kau bekerja atau punya bisnis pasti kau akan berusaha melayani dan memuaskan pelangganmu. Ketahuilah, istrimu bukan hanya pelangganmu, ia juga pendampingmu, asistenmu, penasihatmu, terkadang ia mentormu. Oleh karena itu, ia lebih berhak mendapat layanan terbaik darimu.
Wahai para suami, ada hal-hal kecil yang kau anggap sederhana tetapi itu bermakna bagi istrimu. Kecuplah keningnya, godalah ia. Di tengah kesibukanmu, kirim sms atau pesan singkat. Boleh jadi hanya berupa tiga kata “I Love You” atau “I Miss You”. Akan tetapi, bila itu keluar dari lubuk hatimu maka itu akan membahagiakanmu dan tentu menambah cinta istrimu kepadamu.
Wahai para suami, perhatianmu kepada istrimu bukan karena istrimu memperhatikanmu tetapi karena itu kenikmatan bagimu. Semakin besar perhatianmu maka semakin besar kenikmatan dan kebahagian hidupmu. Bila kau hanya fokus pada kehidupanmu dan mengabaikan istrimu maka perlahan namun pasti kenikmatan dan kebahagian akan menjauh darimu. Camkan ini wahai para suami…
Salam SuksesMulia!
Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini
sumber tulisan www.jamilazzaini.com

Makanan Cerdas : Telur Puyuh


Oleh Ana Noorina

Telur puyuh merupakan salah satu jenis makanan yang enak dan menyehatkan. Walaupun kulitnya penuh bercak, namun rasanya tidak kalah enak dengan telur biasa. Ukuran telur puyuh bisa dikatakan mini. Pada cangkangnya terdapat banyak bercak coklat dan hitam. Tekstur cangkang ini agak kasar. Telur burung puyuh banyak dikonsumsi sebagai salam satu sumber protein yang nikmat. Tak hanya di Asia, di Negara Eropa seperti Perancis pun gemar menyantap daging burung puyuh dan juga telurnya. Selain itu, Negara seperti Malta, Portugal dan juga India sudah lama dikenal dengan kuliner dari telur dan daging puyuh.
Berdasarkan uji klinis, telur burung puyuh diketahui mengandung protein sebanyak 13,1%, karbohidrat sebanyak 1,0%, lemak sebanyak 11%, lutein juga zeaksantin, kolin, globulin dan masih banyak lagi lainnya. Dengan kandungan yang kompleks tersebut, telur puyuh kemudian diketahui memiliki sederet khasiat.
Telur burung puyuh merupakan salah satu sumber protein yang baik. Jumlah protein pada telur puyuh jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan protein ayam ataupun bebek. Keunggulan lainnya adalah daya cerna protein telur jauh lebih baik ketimbang sumber protein lainnya.
Selain itu, telur burung puyuh juga merupakan nutrisi otak terbaik sebab komposisi lemak, vitamin dan mineralnya sangat baik memelihara otak. Senyawa kolin di dalam telur puyuh juga ampuh memelihara sistem saraf sehingga kinerja otak jauh lebih optimal. 
Bagi anak-anak, telur puyuh berfungsi untuk memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan otak. Sedangkan bagi lansia, konsumsi telur puyuh bisa menjauhkan kepikunan. Sementara itu, bagi ibu hamil, disarankan mengkonsumsi telur puyuh sebab bisa merangsang perkembangan otak janin.
Manfaat telur puyuh lainnya adalah menjaga kesehatan mata, mencegah perkembangan sel kanker dan juga tumor.  Zat lutein yang ada pada telur puyuh bisa menghambat penuaan dini.

Pemerhati gizi anak

Mencegah Diare Disentri pada Anak


Oleh dr. Nurlaili Muzayyanah, M.Sc, SpA

Diare disentri merupakan episode diare akut yang pada tinjanya ditemukan  darah yang terlihat secara kasat mata. Sekitar 10% episode diare akut pada anak kurang dari 5 tahun, disertai darah dalam tinjanya. Hal ini menyebabkan 15-25% kematian akibat diare pada kelompok umur ini. Dibandingkan dengan diare cair akut,  diare akut berdarah biasanya lebih lama sembuh dan berhubungan dengan komplikasi yang lebih banyak antara lain dapat mempengaruhi pertumbuhan anak dan memiliki risiko kematian lebih tinggi. Diare akut berdarah pada anak yang lebih kecil biasanya merupakan pertanda masuknya bakteri invasive yang serius pada usus besar.
Di Indonesia penyebab utama diare akut berdarah adalah bakteri Shigella, Salmonella, Campylobacter jejuni, Escherichia coli dan Entamueba hystolitica. Disentri berat umumnya disebabkan oleh bakteri Shigella dysentri, Shigella flexneri, Salmonella dan Enteroinvasive E. coli. Diare karena bakteri ini biasanya banyak terjadi pada musim hujan.
Tanda dan gejala diare disentri meliputi BAB dengan tinja cair atau lembek, sering dan disertai darah yang dapat dilihat dengan jelas. Gejala lain berupa nyeri perut, demam, kejang dan  anak tampak letargis.  Untuk mengetahui penyebab diare disentri diperlukan pemeriksaan tinja untuk mengetahui penyebab diare disentri, apakah bakteri atau parasit.
Prinsip tatalaksana diare disentri sama dengan diare cair akut, hanya diperlukan pemberian antibiotik atau anti parasit tergantung penyebab diarenya.  Diare disentri dapat menimbulkan komplikasi antara lain kekurangan kalium, demam tinggi, prolaps rekti (bagian usus keluar melalui anus), kejang dan sindrom hemolitik uremik.
Agar anak tidak terkena diare disentri, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain  dengan menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan, selalu menggunakan air bersih, selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan, menggunakan jamban untuk pembuangan tinja, memberikan ASI untuk bayi, menjaga kebersihan makanan pendamping ASI dan memberikan imunisasi campak.||

Staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak,
Fak Kedokteran UII
Dokter Spesialis Anak di RS Gramedika, Sleman


Rezeki Barakah untuk Keluarga

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Mari kita renungkan sejenak sabda Nabi Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam, khususnya bagi saudara-saudaraku yang sedang bergemuruh ambisinya untuk segera kaya. Sesungguhnya beliau bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلاَلِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ

"Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika) seseorang tidak lagi memperdulikan dari mana ia mengambil hartanya; apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram." (HR Bukhari).

Bekerja keras itu baik. Terlebih untuk menafkahi keluarga atau memenuhi fardhu kifayah. Apalagi jika dua-duanya. Tetapi... Keras kepala dalam bekerja, justru dapat menggugurkan kebaikan. Apalagi jika keras kepala dalam perkara syubhat atau jelas haram.

Ingin menambah kemakmuran itu sungguh sah-sah saja. Tapi jangan abaikan masalah barakah. Dan tandanya bukan harta yang terus bertambah. Rezeki barakah menenangkan jiwa. Tak sekedar menyenangkan. Betapa banyak kesenangan yang tak menenangkan.

Yang menyenangkan tak dengan sendirinya membahagiakan. Kadang hiburan itu hanya melupakan penatnya jiwa sesaat. Bukan menghapuskan. Berapa banyak orang yang hidupnya bergelimang hiburan, bahkan ia hidup di dunia hiburan, tapi jiwa gersang dan hamba sehingga lari ke narkoba.

Di zaman yang semakin mendekati akhir ini, periksalah darimana rezekimu engkau peroleh; dari jalan halal ataukah haram. Berhati-hatilah agar tidak terjatuh ke dalam money game, meski terkesan syar'i. Sesungguhnya yang dimaksud syar'i bukanlah banyaknya orang yang tampak faham agama terlibat di dalamnya. Syar'i itu adalah kesesuaian antara sesuatu, termasuk bisnis, dengan prinsip-prinsip syari'ah.

Money Game itu bombastis. Selalu menggiurkan orang yang berpanjang angan. Tetapi ia selalu menyimpan bom waktu. Kadang mengerikan. Terlebih ketika berkait dengan orang-orang yang dianggap sebagai panutan

Cinta Penawar Luka



Oleh Salim Afillah

Mari sejenak mendampingi seorang Ibu yang melahirkan.
Makhluq Allah yang mulia ini nyawanya berada di ujung tanduk. Serangan rasa nyeri luar biasa menyergap ketika rahim mulai berkontraksi. Makin lama kian sering dan kian menyakitkan. Otot-otot serasa dikejangkan dan tulang-tulang seperti dibetoti. Puncaknya, ketika sang bayi sudah saatnya menghirup udara dunia, maka yang dirasakan sang Ibu adalah perobekan luas, luka jerih yang berdarah-darah, dan tubuh yang dipaksa untuk berkelojotan menuntaskan bebannya.
Rasa sakit itu, sungguh tak terkatakan.
Tetapi lihatlah itu, ketika luka robek masih menyemburkan darah, ketika tenaga tubuh habis lunglai disadap persalinan, ketika rasa lelah timbun-menimbun dengan nyeri menyayat tanpa henti, sang ibu tersenyum begitu indahnya. Seakan semua rasa sakit itu sirna ketika sang bayi yang menangis demikian keras diletakkan di atas dadanya, dalam pelukannya.
Terbayangkah jika rasa sakit dahsyat yang kemudian menguap dalam sekejap macam itu dialami juga oleh seorang pria?
Setelah mendaki, lelaki itu masuk terlebih dahulu, menyibak ruang cekung di antara batu. Rikat matanya memeriksa tiap pojok. Dia temukan setidaknya ada empat lubang, sarang makhluk berbisa di gua itu. “Tunggulah sejenak ya Rasulallah”, ujarnya. Dipinggirkannya semua kerikil dan batu. Disapunya lantai dengan surban hingga pasirnya rata dan lembut. Diletakkannya bekal di sudut-sudut.
Lalu diapun duduk. Ditepatkannya selonjoran kaki dan tapak-tapak tangannya pada lubang-lubang yang diperkirakan dihuni binatang berbisa. Anggota tubuhnya dikerahkan untuk menutup bahaya sengatan dari liang-liang itu. Lalu Rasulullah pun masuk, merebahkan diri untuk beristirahat di pangkuan lelaki itu.
Lelaki itu, Abu Bakr Ash Shiddiq yang kurus badannya, pucat kulitnya, dan lembut hatinya; mendampingi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hijrahnya. Kali ini, mereka sedang berada di Gua Tsur untuk menghindarkan diri dari kejaran Quraisy yang murka berat atas lolosnya Muhammad. Dan inilah mereka di sini, menghindar dari jalur perjalanan beberapa jenak untuk mengecoh para pemburu nyawa Sang Nabi.
Belum beberapa lama mereka di situ, Abu Bakr telah mulai merasa sengatan-sengatan binatang berbisa mencekatnya. Rasa ngilu, pedih, dan nyeri yang tak tertahankan menjalar seakan hendak merusakkan syaraf dan melumpuhkan badannya. Tapi dia tetap diam dan menggigit bibir. Ditahannya rasa sakit itu demi agar Sang Nabi tak terganggu istirahatnya. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallampulas sekali.
Beberapa lelaki Quraisy tampaknya mengetahui persembunyian mereka dan memeriksa pintu gua. Abu Bakr mulai gelisah dan disergap cemas. Tepat pada saat itu, sebulir air mata tak mampu lagi ditahannya hingga jatuh menitik berketipak di pipi Sang Nabi. Beliau bangun.
“Jangan sedih hai Abu Bakr”, ujar beliau menatap sahabatnya dengan teduh, “Allah bersama kita.”
Nabi mengatakan “jangan sedih” alih-alih “jangan takut”, sebab meski ketakutan meraja, sungguh Abu Bakr lebih tercekam oleh kesedihannya memikirkan sahabat tercinta. Betapa mereka saling mengerti isi hati.
“Orang-orang itu ya Rasulallah”, ucap Abu Bakr yang telah lupa pada sakitnya, “Andai mereka melihat ke arah kaki mereka sendiri, pastilah mereka akan mengetahui keberadaan kita.”
“Bagaimana pendapatmu hai Abu Bakr”, lanjut Rasulullah sambil tersenyum, “Jika ada dua orang dan yang ketiganya adalah Allah?”
Kalimat Rasulullah dan senyum beliau, ketenangan dan keteduhan wajahnya tiba-tiba membuat Abu Bakr serasa diguyur embun sejuk ketenteraman. Segala rasa sakit akibat sengatan binatang-binatang jahat itu tak lagi terasa. Dunia serasa dipenuhi cahaya yang berpendar-pendar, hangat dan penuh cinta. Sebab mereka berdua telah menyatu, dengan Allah sebagai saksinya, sebagai yang ketiganya.
Inilah cinta penawar luka. Adakah kita punya?

termuat dalam UMMI, Desember
twitter @salimafillah

Penghambat Qiyamul Lail


Ibadah malam adalah sunnah yang utama. Rasulullah sendiri tidak pernah melewati malam-malamnya, melainkan selalu dihiasinya dengan qiyamul lail. Bahkan, satu hadits meriwayatkan, apabila qiyamul lail, Rasulullah melakukannya dengan penuh kesungguhan, hingga bengkak kedua tapak kakinya.
Hal ini menunjukkan bahwa qiyamul lail adalah momentum penting, yang seyogyanya setiap Muslim tidak melalui malam, kecuali dengan mengikuti kebiasaan mulia Rasulullah tersebut. Di dalam Al-Qur’an secara eksplisit Allah Ta’ala menegaskan umat Islam untuk bangun di tengah malam. “Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari” (QS. 73: 1-2).
Qiyamul lail Allah tegaskan adalah momentum yang baik untuk menyerap makna Al-Qur’an secara lebih berkesan, sehingga jiwa dapat merasakan ketenangan dan kenyamanan kala membaca Al-Qur’an. “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” (QS. 73: 6).
Sementara itu, pada ayat yang lain Allah menjelaskan maksud dari diperintahkan qiyamul lail ini. “Dan pada sebagian malam hari shalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (QS. 17: 79).
Namun demikian, ibadah ini tergolong tidak mudah untuk diamalkan. Apalagi jika memang niat dan upaya yang dipersiapkan untuk bisa qiyamul lail tidak benar-benar maksimal. Utamanya dalam hal menjaga hati. Sebab ternyata, di antara sekian banyak penghambat seorang Muslim bisa qiyamul lail satu di antaranya adalah berprasangka buruk.
Hal inilah yang dialami oleh ulama sufi Sufyan Al-Tsauri sebagaimana termaktub dalam kitab Mi’atani Hikmah Min Hikam Ash-Shahabah wa Ash-Shalihin.
Suatu ketika Sufyan Al-Tsauri berkata, “Aku terhalangi untuk melakukan qiyamul lail selama lima bulan karena dosa yang telah aku perbuat.” Dikatakan, “Dosa apa itu?” Ia menjawab, “Aku melihat seorang laki-laki menangis tatkala shalat, lalu aku katakan, “Ia adalah orang yang riya.”
Dengan demikian, satu di antara syarat utama untuk seorang Muslim terhindar dari penghambat qiyamul lail adalah tidak berprasangka buruk terhadap siapa pun,lebih-lebih terhadap mereka yang melakukan amal kebajikan.
Jadi, selain tidak melakukan maksiat dhohir, seperti melihat sesuatu yang diharamkan, atau mendengarkan sesuatu yang haram atau melakukan perbuatan haram, memastikan hati dalam kondisi bersih juga merupakan syarat yang tidak boleh disepelekan agar kita benar-benar mampu mengisi sepertiga malam kita dengan qiyamul lail.
Dari apa yang dialami oleh Sufyan Al-Tsauri ini dapat diambil hikmah bahwa disunnahkannya qiyamul lail bagi umat Islam tidak lain agar dalam sehari semalam, hati senantiasa terjaga dari hal-hal yang tidak perlu apalagi haram, sehingga dengan begitu, semangat ibadah akan dimudahkan oleh Allah Ta’ala.
Sungguh, suatu kerugian yang nyata apabila seorang Muslim, lebih-lebih yang mendakwahkan ajaran Islam, namun ia lewatkan malam harinya dengan tanpa qiyamul lail. Oleh karena itu, mari kita jaga hati kita dari berprasangka buruk, iri, dan dengki. Sebab, pangkal segala penghambat dari melakukan amal kebaikan adalah dari rusaknya hati yang dibiarkan.
*) Imam Nawawi, Aktivis Hidayatullah, penulis di www.hidayatullah.com, dan pimpinan redaksi Majalah Mulia, berbincang lebih jauh follow twitter @abuilmia

Jangan Ragu, Cobalah Hal Baru


Oleh Osolihin
Bro en Sis, waktu saya kelas 3 sampe kelas 5 SD (tahun 1983-1985), sering banget diajak sama ayah saya naik bis ke Jakarta. Paling nggak sebulan sekali. Maklum, ayah saya adalah seorang sopir bis AKAP (Antar Kota Antar Propinsi), trayeknya Kuningan-Jakarta. Dulu mahbelum ada jalan tol Jakarta-Cikampek. Terus terminalnya juga masih di Cililitan. So, jauh banget kan? Bisa seharian di bis untuk perjalanan PP. Berangkat abis subuh, pulang lagi ke rumah menjelang isya. Lelah banget. Tapi, kelelahan saya itu terbayar dengan banyaknya pengalaman merasakan jauhnya perjalanan dan apa saja yang bisa dilihat di jalan. Lalu yang paling seneng dan membahagiakan adalah ketika menceritakan pengalaman tersebut ke teman-teman saya. Mereka sih terbengong-bengong aja sambil berusaha ngebayangin tentang kota Jakarta yang saya ceritakan.
Oya, sejak kecil saya termasuk senang ‘bertualang’ dengan hal baru. Selain pengalaman pergi ke kota dengan ayah naik bis, pengalaman belajar naik sepeda, saya juga sama ibu saya diajarkan untuk berjualan. Nah, saya waktu SD kelas 3 sampe kelas 6 setiap bulan Ramadhan pasti dikasih modal sama ibu saya untuk jualan. Jualannya juga keren. Mungkin kalo dulu saya udah kenal Adnan Kasoghi–pedagang senjata saat perang Iran-Irak itu—boleh juga masok barang dari dia. Ciee.. maklum waktu itu ibu saya modalin saya untuk berjualan petasan! Hehehe…
Sebulan penuh saya jualan petasan. Saya udah belajar prihatin sejak SD. Itu semua jadi pengalaman saya. Banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan. Mulai bagaimana mencari tempat belanja dan barang yang murah, jenis petasan yang sedang jadi tren, sampe gimana masarin petasan itu agar lebih laku dijualnya. Belanjanya bareng ibu saya. Seminggu dua kali ke pasar. Jualan tiap hari mulai jam 4 sore. Sekalian ngabuburit. Waktunya buka puasa sampe shalat tarawih dan ikut tadarusan di masjid saya nggak jualan. Setelah itu sampe sekitar jam 10-an malam dilanjutkan lagi jualannya. Wah, seru deh. Saya yang jualin petasan, teman-temen saya yang ngebakarnya. Saya dapet duitnya. Temen-temen yang ‘ngasih’ duit ke saya. Dikumpulin tuh duit sampe lebaran. Jadi, ketika temen-temen dibelikan pakaian baru sama ortunya, saya malah bisa membeli pakaian sendiri selain yang dikasih dari ortu, plus bisa jajan di hari lebaran dan masih bisa nabung. Seneng banget deh. Ini kok jadi nostalgia ya? Halah!
Kebiasaan saya jualan kebawa juga sampe di SMA. Saya kebetulan sekolah di sekolah kejuruan kimia di Bogor, tapi karena padat dan harus konsentrasi belajar, saya baru bisa jualan mulai kelas 4, berarti tahun terakhir sekolah di sana. Waktu itu memang terdesak juga dengan kebutuhan hidup karena uang kiriman dari ortu di kampung sering telat dan kalo pun udah keterima, eh nggak nyampe hitungan sebulan uang tersebut udah habis. Bukan karena boros, tapi karena SPP di sekolah tersebut menurut saya cukup mahal dan biaya hidup sebagai anak kos termasuk gede, lho. Apalagi jumlah uang yang dikirim juga ngepas banget. Maka, saya jualan nata de coco deh demi nambah-nambah uang saku. Barangnya saya ambil dari guru ngaji saya yang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Bogor yang juga wirausahawan. Duh, seru deh pokoknya. Itu yang harus saya lakukan jika tak ingin bokek di kota yang jauh dari ortu saya. Ya, saya menyadari karena saya anak pertama dan adik saya ada 5 orang yang juga masih sekolah dan ortu udah cerai. Jadi, saya yang harus berjuang lebih keras dibanding adik-adik.
BTW, ini sekadar berbagi aja ya. Bahwa pengalaman yang kita alami akan menjadi modal berharga bagi kehidupan kita di kemudian hari. Sampai sekarang pun, saya masih selalu mencoba dan ingin mendapatkan pengalaman baru. Maka, selain menjadi penulis, saya juga jualan buku saya dan pernah juga buku orang lain. Seru juga sih. Sebab, dengan menjalani aktivitas ini, saya jadi bisa dapetin pengalaman gimana berhubungan dengan pembaca atau konsumen lainnya. Saya bisa mengeksplorasi keinginan pasar, selain tentunya jadi banyak kenalan dan relasi dalam bisnis. Namun ketika saya terjun ke dunia pendidikan, menjadi pengajar di salah satu pusdiklat dan juga pesantren akhirnya urusan jualan saya delegasikan ke istri saya, baik secara offline maupun online. Kalo mau mampir boleh ke situs www.geraisausan.com ya. Ditunggu lho. Hehehe.. (sekalian promo).
Bro en Sis, jangan pernah ragu untuk mencoba hal baru (tentunya yang bermanfaat dan sesuai syariat ya). Baik dalam kondisi “normal” alias nggak ada masalah lain yang mengharuskan terjun ke situ, maupun karena terpaksa mencoba hal baru itu dengan alasan terdesak kebutuhan hidup. Insya Allah pengalaman yang akan didapat menjadi sangat berharga. Dalam kondisi seperti ini, kita nggak bisa terus ngandelin ijazah atau gengsi karena menekuni pekerjaan yang bertolak belakang dengan keahlian bidang akademik yang diajarkan di sekolah atau perguruan tinggi tempat kita belajar.
Pengalaman memang guru yang terbaik. Sensasinya akan memberikan tambahan wawasan, tambahan informasi, dan tambahan inspirasi dalam menjalani kehidupan kita. Tak perlu ragu atau bimbang. Yakin sajalah. Karena tak ada yang sia-sia dengan pengalaman yang kita jalani jika kita mau mengambil hikmahnya, mengambil pelajarannya dan menjadikan sebagai evaluasi untuk kemajuan kita di masa yang akan datang. Jangan diam, ayo bergerak. Lakukan apa yang memang bisa kita lakukan. Kerjakan dengan ikhlas, kerjakan dengan keras, efektif dan efisisenkan dengan cerdas, lakukan hingga tuntas dan tak kenal lelah. Juga, resapi setiap jengkal pengalaman hidup sebagai sesuatu yang sangat luar biasa yang akan mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik dan meraih ridha Allah Swt. Percayalah!
Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin
Sumber Tulisan osolihin.net

Menikahlah Segera


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Renungi kisah Nabi Adam 'alaihissalaam. Adakah yang lebih tinggi daripada nikmat surga? Tapi tanpa ada istri, nikmat itu belum sempurna. Sepinya jiwa dapat dihalau sesaat oleh hingar bingar hiburan atau padatnya kesibukan. Tapi ada saat ketika kerinduan tak dapat ditepis.

Kita dapat membeli hiburan dengan uang di tangan atau tepuk tangan bergemuruh karena decak kagum manusia. Tapi ada yang tak terbeli. Kita dapat mengundang kawan untuk berbincang. Tapi ada kepenatan jiwa yang tak dapat terhapus oleh canda teman.

Lalu apakah yang mendatangkan ketenangan itu? Seorang istri. Pendamping hidup dari jenismu sendiri (manusia). Inilah yang menenangkan hati menggetarkan jiwa, kecuali jika istri rusak iman buruk akhlak.

Masih menunda-nunda nikah, Wahai Muslimin yang masih lajang?


Like Facebook Mohammad Fauzil Adhim 
Follow Twitter beliau @kupinang
Ilustrasi http://mjbandung.wordpress.com

Renungan : Konsisten


Oleh Jupri Supriadi

Pekerjaan terberat bagi seorang pembelajar adalah konsisten. Seseorang diminta ikhlas, bisa. Dipaksa sabar, bisa. Tapi mereka mungkin tak akan bisa selamanya ikhlas. Mungkin mereka tak sanggup untuk bisa selamanya sabar. Karena pekerjaan terberat sesungguhnya bukan pada pekerjaan satu dua kali. Namun, pekerjaaan yang terus menerus dilakukan dengan konsisten.

Semua orang pasti bisa untuk belajar memulai menghafal al Qur’an setelah mendengar ceramah-ceramah motivasi atau membaca buku kiat-kiat menghafal qur’an. Namun, perjuangannya tak cukup sampai di tahap ini saja. Menjaga komitmen dan konsistensi hafalan itulah yang berat, bahkan lebih berat daripada sekedar memulainya. Satu dua pekan masih konsisten menyesuaikan jadwal hafalan, namun lama kelamaan jadwalnya berubah, berkurang sedikit demi sedikit bahkan tak ada jadwal menghafal sama sekali.

Pun, begitu juga dalam training-training motivasi, kita sering memiliki semangat untuk melakukan perbaikan-perbaikan diri. Namun, biasanya hanya satu dua hari, atau paling lama satu dua minggu. Setelah itu semangat hanya tinggal masa lalu.

Menjadi semangat dalam hal apapun bisa diusahakan dengan mencari sumber semangat itu sendiri. Namun, menjaga semangat dalam hal apapun tidak cukup hanya sampai di situ, diri kitalah penyemangat dan penjaga konsistensi itu.

Sumber Tulisan Jupri Supriadi berbincang lebih jauh follow juga twitter beliau @juprisupriadi

Bersiap Menghadapi Baligh


Oleh Iin Sulastri

Sore itu, menjelang magrib terjadi percakapan seorang ibu dengan anaknya yang kala itu sedang asyik dengan permainannya. “Nak, ayo bermainnya berhenti dulu sudah masuk waktu magrib, ke masjid ya!” Kata ibu itu. Anak yang sudah duduk di kelas enam itu menjawab dengan nada yang lembut , “Sebentar ibu shalatnya, lagian kan aku juga belum balig. Kata guruku di sekolah kalau belum baligh belum wajib untuk shalat.”
Kisah di atas tersebut mungkin pernah terjadi di kehidupan di rumah kita. Nah, bagaimana kita sebagai orang tua menyikapi hal tersebut? Ada kisah yang akan ditemui pada waktu yang akan datang, kisah ini bermula dari ada seorang bapak yang tertatih-tatih berjalan di atas shirathal mustaqim, dan akhirnya tergelincir, namun terselamatkan berkat doa tulus dari anaknya. Rabbighfirlii waliwaalidayyaa warhamhumma kamaa rabbayaanii shaghiiraa. Subhanallah.
Sebaliknya ada juga kisah di jaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam ketika ada seorang anak yang hendak dihukum karena mencuri, namun anak tersebut menginginkan keadilan dengan meminta ibunya yang dihukum, karena ibunyalah yang mengajarkan ia untuk mencuri. Na’udzubillah.
Dari latar belakang kisah di atas orang tua diajak untuk membimbing anaknya ke dalam kebaikan. Dalam Islam, anak adalah fase pemula dalam rentang kehidupan manusia. Ada dua fase yang harus diperhatikan para orang tua yaitu pertama : fase pra baligh (belum dewasa ) dan kedua adalah fase baligh (dewasa). Setiap orang tua mempunyai tugas untuk mempersiapkan dan mendampingi anak-anaknya dalam menghadapi masa akil baligh. Orang tua juga harus membimbing anak-anaknya mengenal Allah dan belajar disiplin pada fase pra balig untuk persiapan di usia baligh. Banyak orang tua yang tidak menyadari datangnya masa baligh anaknya. Tiba-tiba para orang tua sudah mendapati putranya berubah suaranya, berubah penampilannya. Pada fase baligh seseorang sudah bertanggung jawab secara langsung terhadap seluruh ucapannya, sikap, tindakan yang dia lakukan, baik kepada Allah Ta’ala maupun kepada manusia.Orang tua harus tahu kapan masa itu terjadi pada anaknya, sehingga bisa menjelaskan tentang apa saja yang akan mereka alami dan apa-apa pula yang mereka harus lakukan pada masa itu. Melihat kondisi pada zaman sekarang ini, dengan berbagai macam tantangan ,terutama dari segi teknologi modern, yang anak-anak sering terpapar hal- hal pornografi yang tidak layak konsumsi, dimana usia baligh pada anak sekarang bisa datang lebih awal dari umumnya terjadi pada masa yang lalu. Jadi orang tua harus jeli dan memahami tanda-tanda baligh yang terjadi pada anaknya sehingga bisa terjadi komunikasi lanjutan.
Saya kagum dengan cerita teman, pada saat itu anaknya yang laki-laki memasuki usia baligh dengan membuka sebuah percakapan “ Nak, kini sudah tiba saatnya bagimu untuk bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kau sudah baligh dan dewasa. Dan Ibu tidak bisa membantumu dalam mempertanggungjawabkan semua ucapan dan perbuatanmu. Allah Ta’ala selalu mencatat apapun amalan yang kamu perbuat, maka berhati-hatilah dalam melakukan sesuatu.” Subhanallah... Seperti kisah Usamah bin Zaid, pemuda hebat yang pada usia belianya 13 tahun sudah dipercayakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam memimpin pasukan Islam menakhlukkan bangsa Quraisy, Persia, dan Romawi.
Umar bin Khatab RA, menjelaskan pendidikan anak dalam tiga bagian. Untuk  0-7 tahun yang pertama orang tua harus memberikan kasih sayang yang tulus serta disiplin, dengan mengajarkan adab makan, minum, istinja’,tidur, dan lain-lain. Pada 7 tahun yang kedua, kenalkan Allah dalam segala kehidupannya. Penjelasan surga dan neraka, halal dan haram, baik dan buruk, jelaskan perbuatan yang pertama kali akan dihisab di alam kubur, ajarkan dan biasakanlah anak dengan Alquran, jelaskan hak-hak dan kewajibannya, dan tumbuhkan sikap percaya diri dan tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya. Pada 7 tahun yang ketiga, perlakukanlah anak sebagai seorang yang dewasa,menjaga agar selalu berteman dengan orang-orang yang shalih dan shalihah. Wallahua’lam bis shawab.

Iin Sulastri, Guru SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta

Apa yang Kita Kejar?



Oleh O. Solihin

Setiap orang punya rencana dan punya tujuan dalam hidupnya. Seharusnya memang seperti itu. Namun adakalanya banyak orang justru tak punya rencana dan tujuan dalam hidupnya. Akibatnya ada dua kemungkinan. Pertama, dia tak bergairah dalam hidupnya, karena tak memiliki tantangan untuk menggapai apa yang seharusnya direncanakan dan menjadi tujuan hidupnya. Kedua, ketiadaan rencana dan tujuan hidup akan membuat orang tak jelas apa yang dikejarnya atau apa yang ingin diraihnya. Meski menikmati kehidupannya, namun hidupnya tak terarah. Cenderung melakukan apa saja sesuai keinginan sesaatnya. Kedua kondisi tersebut sama-sama berisiko, sama bahayanya.
Bagi kita, kaum muslimin, tentunya harus memiliki rencana dalam hidup ini dan sekaligus memiliki tujuan hidup. Rencana yang disusun tertulis akan memberikan dorongan dan tekanan yang kuat agar kita mau mewujudkannya. Sehingga, pencapaian-pencapaian itu akan dipilih dan dipilah sesuai dengan prioritas kepentingannya. Misalnya saja, setelah lulus SMA mau ke mana? Apakah mau melanjutkan kuliah, atau bekerja, atau menikah? Itu semua harus direncanakan. Tak sembarangan menggoreskan rencana jika tak hendak diwujudkan dengan serius. Prioritasnya kita sendiri yang menentukan dan mengukurnya sesuai tujuan hidup yang kita pilih.
Rencana dan tujuan hidup itu harus selaras dan berpola. Tak sembarangan dengan sekadar menuliskan atau membicarakannya berbusa-busa tanpa aksi yang benar dan jelas. Maka, gagal merencanakan sama saja dengan merencanakan kegagalan. Itu sebabnya, jika kita merencanakan dalam hidup ini harus bisa lulus sekolah, lulus kuliah, kemudian bekerja dan juga berkeluarga—maka kita harus menyelaraskan dengan tujuan hidup kita.
Tujuan hidup itu penting. Jika tujuan kita ingin menggapai ridho Allah Ta’ala, dan ini harus dimiliki oleh seorang muslim, maka rencana-rencana tersebut harus diselaraskan dengan tujuan hidup kita. Misalnya, lulus sekolah dan kuliah bukan semata mengantongi nilai, tetapi menjadikan belajar sebagai sarana ibadah dan amal shalih. Jika kemudian dilanjutkan dengan mewujudkan rencana untuk bekerja dan berkeluarga, maka akan menyelaraskan dengan tujuan hidup. Misalnya, bekerja di tempat yang halal, dan menikah untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah dengan tetap mengharap keridhoan Allah Ta’ala. Itulah pengertian selaras dan berpola antara rencana hidup dan tujuan hidup. Setidaknya menurut saya saya pahami.
Nah, apa sebenarnya yang kita kejar dalam hidup ini? Apakah sudah merencanakannya dengan matang dan berupaya untuk menyelaraskannya dengan tujuan hidup kita? Sebagai muslim, tujuan utama kita adalah mengejar kebahagiaan akhirat dengan tetap menjadikan kebahagiaan dunia sebagai sarana untuk mendukung tujuan utama tersebut. Jika pun kebahagian dunia tak juga didapat dengan layak, tetaplah menjadikan akhirat sebagai tujuan utama dalam kehidupan kita.
Cukuplah, firman Allah Ta’ala ini bisa memberikan arahan yang benar dan jelas dalam merencanakan dan menentukan tujuan hidup kita, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS al-Qashash [28]: 77)
Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter Ustadz O. Sholihin

Menakar Ulang Pendidikan Seks


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

When I Was A Child

Saya dibesarkan dalam lingkungan muslim tradisional yang di usia 7-8 tahun berkenalan dengan kitab-kitab fiqih dasar semacam Sulam Safinah dan yang serupa dengan itu. Semua itu merupakan kitab-kitab fiqih dasar madzhab Syafi’i yang mencakup berbagai masalah secara umum, termasuk soal menstruasi, bersuci dari hadas besar dan berbagai sebabnya (jima’/sexual intercourse salah satunya).

Pengenalan awal tentang hukum Islam dalam kerangka taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan anak-anak usia sekolah dasar kelas bawah telah mengenal berbagai hal yang hari ini dianggap sebagai porsi orang dewasa. Salah satu alasan untuk membekali anak-anak dengan pengetahuan dasar hukum Islam hingga ke masalah hadas besar dan penyebabnya adalah karena orangtua berkewajiban menegakkan disiplin ibadah di usia 10 tahun. Salah satu sanksinya adalah memukul. Dan tidak dibolehkan memukul kecuali anak sudah mengerti hal-hal dasar tentang hukum Islam.

Walhasil, anak-anak mengerti hal-hal pokok terkait kewajiban yang berkaitan dengan seksualitasnya, tetapi tidak memperolehnya dalam konteks pendidikan seks. Anak memahaminya sebagai bekalan penting sebagai hamba Allah Ta’ala. Anak mengetahui apa itu menstruasi, apa itu ihtilam (wet dream), pun anak paham apa bedanya mani (sperma) dan madzi sat ia berusia sekitar 9 tahunan. Ini semua hasil ikutan dari pendidikan tentang syari’at Islam.


Several Years Ago

Begitu saya dibesarkan. Tetapi ketika saya mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi dan membaca berbagai literatur mengenai seksualitas manusia dan khususnya tentang pendidikan seks, terlebih ketika dihadapkan pada sejumlah pertanyaan dari orangtua, saya sempat mengalami perubahan cara pandang. Anak-anak harus memperoleh informasi “memadai” (sebuah istilah yang sebenarnya sangat ambigu) tentang seksualitas serta organ reproduksi mereka. Ini sangat penting agar mereka dapat mengendalikan diri karena memahami bahayanya melakukan hubungan seks pra-nikah.

Jikaanak meminta bertanya tentang hal-hal yang berkait dengan seksualitas, maka orangtua dan pendidik berkewajiban untuk memberikan informasi yang sesuai.


In The Recent Years

Belakangan saya membaca dan merenungi beberapa hal. Pertama, pergeseran paradigma pendidikan seks di Amerika dari seks bertanggung-jawabyang berorientasi kelonggaran melakukan hubungan seks pra-nikah asalkan siap dan mampu bertanggung-jawab, lalu bergeser menjadi safe sex (seks yang aman) sebagai reaksi terhadap merebaknya STD alias penyakit menular akibat hubungan seks bebas, lalu pada tahun 1980-an wacana yang menguat adalah kampanye pro-abstinence alias mencegah hubungan seks pra dan di luar nikah. Tetapi ini justru mendapatkan penentangan dari warga negaranya sendiri, termasuk industri terkait seks semisal kondom yang kemudian melebarkan sayapnya ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia melalui berbagai LSM.

Kedua,ada realitas menarik di berbagai negara kawasan Timur Tengah bahwa remaja umumnya tidak mengalami krisis identitas sebagaimana yang diyakini dalam psikologi perkembangan. Jika Anda membaca buku, yang paling sederhana adalah The 50 Great Myths in Popular Psychology, Anda akan mendapati bahwa tidak mengalami krisis identitas pada saat seseorang memasuki masa remaja bukan hanya terjadi di Timur Tengah. Mereka tidakmengalami keguncangan (storm and stress) yang juga diyakini mutlak terjadi pada remaja. Lalu, apa sebabnya mereka tidak mengalami krisis identitas maupun keguncangan? Ada dua hal. Pertama, apa yang disebut sebagai identity foreclosure. Mereka memiliki kejelasan identitas sebelum mereka memasuki masa remaja. Kedua, jelas dan kuatnya orientasi mereka terkait hubungan dengan lawan jenis, sementara terpaan media yang member rangsang seksual relatif rendah.

Ketiga, saya meyakini sebaik-baik masa adalah para salafush-shalih. Dan tidak ada satu pun perkara yang terabaikan dalam agama ini. Inna ashdaqal hadiitsi kitabuLlah. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabuLlah, yakni Al-Qur’anul Kariim. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk dari Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Kita dapati bahwa agama ini mengajarkan agar para pemuda memiliki orientasi menikah yang kuat. Bekal awalnya ditanamkan semenjak kanak-kanak dengan mengenali taklif (bebanan syari’at) dalam segala hal, termasuk ketika seseorang telah ihtilam (polutio).

Bagaimana kita membekalkan itu? Ini yang perlu kita diskusikan. Semoga lain kesempatan dapat membuat catatan yang lebih memadai.

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan barakah.

Sumber Tulisan Mohammad Fauzil Adhim Twitter @kupinang

Budaya Konsumtif dan Budaya Baca


Oleh Testiani Makmur

Mengawali tulisan ini teringat dengan masa-masa pelesiran ke Hongkong, Malaysia dan Singapura tentang perilaku masyarakat Indonesia yang sangat konsumtif. Hampir pula terbawa arus dahsyat konsumtif dinegara orang lain dan Alhamdulillah tidak jadi karena bekal “Money cash” sengaja dibawa pas-pasan. Walaupun waktu itu ada kartu kredit untuk wanti-wanti saja. Tetap tidak dipergunakan karena niat kesana bukan untuk shopping melainkan belajar.
Apa yang dialami, teman-teman pada borong-borong dengan gila-gilaan baik di Malaysia, Hongkong, dan Singapura. Mulai borong barang barending hingga makanan biasa-biasa saja. Mungkin sangat lumrah dan wajar saja karena mereka beralasan kapan lagi bisa kesana!!! It’s okey whatever opinion, right because your life is choice. Dari sanalah berkesimpulan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia sangat konsumtif.
Budaya konsumtif hanya berlaku pada barang-barang tertentu tidak berlaku pada konsumtif membeli buku dan bersedekah. Baik dikalangan pendidikan maupun dikalangan awan, baik dikalangan akademis maupun diarea public, baik dikalangan orang tua, dewasa maupun anak-anak. Budaya baca itu hilang dan tidak terbiasa ditumbuhkan dari kalangan keluarga. Kurangnya budaya baca di Indonesia sekan-akan mencermin dan menegaskan bahwa Indonesia Negara tertinggal. Dan baru-baru ini disalah satu jurnal internasional menjelaskan bahwa Indonesia termasuk Negara minat baca paling rendah yaitu diperingkat ke 29 sangat jauh ketinggalan dengan Negara tetangga “Malaysia dan singapura”.
Jika minat baca rendah otomatis akan susah mengajak masyarakat Indonesia untuk maju, berkompetisi dan bagaimana bisa setara dengan Negara-negara barat yang hampir setiap jam penduduknya menghabiskan waktu untuk membaca dimana dan kapanpun. Padahal kita hidup dunia peradaban ilmu berkompentisi dengan skill dan ilmu. Bahkan agama islam sangat jelas mempaparkan tentang penting membaca “iqro” karena dengan mencintai membaca seakan-akan sedang mempelajari sejarah masa lalu, sekarang dan masa mendatang. Seakan-akan membaca bisa menganalisa apa terjadi dikemudian hari. Termat sering pula kita mendengar bahwa membaca adalah jendela dunia. Kenapa masih banyak rakyat Indonesia tidak tertarik untuk membaca agar bisa bertarung dipentas pemikiran. Seperti dijelaskan seorang ustad bahwa untuk kemajuan bangsa atau agama dengan perang pemikiran bukan dengan senjata.
Atau bisa jadi kenapa kita tidak tertarik membaca karena tidak ingin mengetahui banyak hal, atau bisa jadi terindikasi kita bukan petarung ulung sehinga tidak membutuh bacaan, atau bisa jadi dahulu hingga sekarang kepemimpin bangsa Indonesia tetap sebagai Negara hedonism/konsumtif. Padahal jiwa konsumtif menghancurkan peradaban bangsa. Seperti dijelaskan Prof disuatu pertemuan serahsehan  regenerasi kepemimpinan antara lain (1) berdampak pada etika maupun perilaku atau psikologis, (2) terjangkitnya virus hedonism diseluruh kampus Indonesia sudah level akut, (3) terbentuknya jiwa-jiwa nepotisme dan korupsi. Kesemua itu bermuara dari budaya konsumtif. Lebih bahaya lagi para perilaku komsuntif jauh dari keyakinannya, maka akhir dari segala itu emosionla, hilangnya jiwa toleransi dan pedangkalan pemikiran.
Bagi kita sebagai berpendidikan, akademis, pemimpin bangsa dan orang-orang cerdas terus meningkatkan budaya baca agar tidak terjadi pendangkalan pikiran. Jangan asyik dengan gadget maupun smarphone belaka.
Selamatkan bangsa Indonesia, majukan bangsa Indonesia dan harumkan nama bangsa Indonesia dikencah internasional dengan pemikiran global yang terlahir dari budaya baca bukan sebaliknya mengharumkan bangsa Indonesia dengan prestasi korupsi, konsumtif, pergaulan bebas, anarkis dan narkoba
Secara pribadi mengapresiasi bagi pegiat rumah baca, taman baca masyarakat, perpustakaan keliling, rumah pintar dan sahabat-sahabat penggerak budaya baca dengan terus menerus berkarya tanpa meminta penghargaan dari siapapun, hanya tujuan membangkit anak-anak bangsa untuk literasi informasi.

Tulisan : Testiani Makmur Twitter Testiani Makmur