» » Kolom Prof In : Oseng-oseng Pepaya Muda dan Kamar Minimalis

Kolom Prof In : Oseng-oseng Pepaya Muda dan Kamar Minimalis

Penulis By on Sunday, January 5, 2014 | No comments


Suatu sore sepulang dari kantor, saat saya masuk ke dalam rumah, terbau masakan yang sedap. Lalu saya berkomentar pada istri yang saat itu sedang berada di depan komputer yang berada di ruang samping dapur, “Wah, baunya kok enak sekali, masak apa ini?” Mendengar pujian itu, tersirat kegembiraan di wajah istri. Dia lalu bertanya, “Coba ditebak, saya masak apa?”.
Begitu terbau masakan tadi, sebetulnya saya sudah bisa langsung mengetahuinya, karena saya adalah mantan mahasiswa yang waktu itu hampir setiap hari harus masak sendiri. Bahkan istri balik minta pendapat, bagaimana membedakan irisan buah pepaya muda dengan irisan buah labu jipang, yang kebetulan saya beli keduanya di pasar sehari sebelumnya. Nampaknya istri keliru memasukkan, sebetulnya yang ingin ditambahkan adalah irisan buah pepaya muda tetapi keliru yang satunya.
Saya jadi teringat ketika masih merantau kuliah di Yogya pada pertengahan tahun 1970-an. Sering saya bersama seorang teman satu pondokan, yang sekarang menjadi pejabat tinggi eselon satu di salah satu kementerian di Jakarta, memasak sayur dari buah pepaya yang masih muda. Hal ini kami lakukan dalam rangka untuk mengurangi pengeluaran tiap bulannya agar pengeluaran bisa ditekan seminimal mungkin.
Buah tersebut kami petik dari pohon yang ada di belakang rumah pondokan. Kebetulan pepaya yang ditanam termasuk jenis yang besar, sehingga meskipun hanya memasak satu buah, bisa untuk sayur makan siang dan malam selama 2 hari. Untuk itu jenis masakan yang dipilih adalah oseng-oseng karena semakin lama semakin enak.
Bila mengenang pengalaman ketika masih mahasiswa, saya sangat bersyukur. Biaya bulanan yang diberikan oleh orangtua jumlahnya pas-pasan. Itupun pengirimannya tidak sekaligus untuk sebulan, melainkan tersedianya berapa itu yang dikirim sehingga kami harus berupaya untuk bisa hidup dengan biaya minimal. Untunglah pada saat itu, kuliah di jurusan Teknik Mesin tidak banyak pengeluaran ekstra karena tidak banyak praktikum yang membutuhkan bahan habis pakai. Tidak seperti kuliahnya istri atau anak bungsu kami di jurusan Farmasi atau anak kedua yang di Fakultas Kedokteran, yang banyak membutuhkan bahan untuk praktikum. Pengeluaran yang ada hanya untuk makan dan membayar sewa kamar pondokan. Tidak ada biaya untuk transportasi, karena kuliah dan aktivitas yang lain cukup naik sepeda, meskipun untuk ke kampus  jaraknya cukup jauh dan kadang jadwal kuliahnya pagi dan sore.
Sewa kamar juga tidak mahal karena lokasi pondokan jauh dari kampus dan kondisi kamarnya juga sangat sederhana. Tanpa pintu kamar karena sekatnya hanya dari kain sehingga keluar-masuk kamar cukup dengan menyingkap kain tersebut. Bahkan kalau siang, sekat kain dibuka oleh ibu kos sehingga fungsinya sebagai kamar berubah, menyatu dengan dapur dan ruang makan. Akibatnya semua barang yang ada di kamar akan terlihat semua, untungnya kami tidak mempunyai apa-apa.
Kesederhanaan kamar ini, termasuk tidak adanya meja untuk belajar, tidak ada kursi, tidak ada almari, jadi betul-betul minimalis. Tempat tidur pun tanpa kasur. Agar agak sedikit empuk, maka di bawah tikar diberi beberapa lembar karton bekas. Tempat pakaian tidak perlu almari karena hanya beberapa lembar, cukup sebuah rak buku yang samping kiri, kanan dan belakangnya ditutup karton. Rak yang atas untuk pakaian, yang bawah untuk menaruh buku catatan kuliah. Pengeluaran untuk beli pakaian juga tidak ada karena saya menjahit sendiri baju maupun celana yang kainnya sudah diberi oleh kakak. Bahkan kadang pakaian pun juga didapat dari teman sepemondokan, meskipun tidak baru.
Kami sangat bersyukur dengan segala keterbatasan yang telah Allah berikan pada kami selama studi sejak kecil. Tanpa pengalaman tersebut, saat ini tidak mungkin kami mampu menjalankan secara ikhlas tugas-tugas yang diamanahkan sebagai pelayan masyarakat kampus dengan berbagai latar belakang dan karakter. Kami selalu memotivasi mahasiswa, terutama mereka yang kurang beruntung secara finansial. Saya katakan bahwa keterbatasan adalah sebuah anugerah yang harus kita syukuri sebagai bekal untuk meraih masa depan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis Prof. Dr. Ir. Indarto, DEA



Baca Juga Artikel Terkait Lainnya