» » Mencegah Diare Disentri pada Anak

Mencegah Diare Disentri pada Anak

Penulis By on Thursday, January 30, 2014 | No comments


Oleh dr. Nurlaili Muzayyanah, M.Sc, SpA

Diare disentri merupakan episode diare akut yang pada tinjanya ditemukan  darah yang terlihat secara kasat mata. Sekitar 10% episode diare akut pada anak kurang dari 5 tahun, disertai darah dalam tinjanya. Hal ini menyebabkan 15-25% kematian akibat diare pada kelompok umur ini. Dibandingkan dengan diare cair akut,  diare akut berdarah biasanya lebih lama sembuh dan berhubungan dengan komplikasi yang lebih banyak antara lain dapat mempengaruhi pertumbuhan anak dan memiliki risiko kematian lebih tinggi. Diare akut berdarah pada anak yang lebih kecil biasanya merupakan pertanda masuknya bakteri invasive yang serius pada usus besar.
Di Indonesia penyebab utama diare akut berdarah adalah bakteri Shigella, Salmonella, Campylobacter jejuni, Escherichia coli dan Entamueba hystolitica. Disentri berat umumnya disebabkan oleh bakteri Shigella dysentri, Shigella flexneri, Salmonella dan Enteroinvasive E. coli. Diare karena bakteri ini biasanya banyak terjadi pada musim hujan.
Tanda dan gejala diare disentri meliputi BAB dengan tinja cair atau lembek, sering dan disertai darah yang dapat dilihat dengan jelas. Gejala lain berupa nyeri perut, demam, kejang dan  anak tampak letargis.  Untuk mengetahui penyebab diare disentri diperlukan pemeriksaan tinja untuk mengetahui penyebab diare disentri, apakah bakteri atau parasit.
Prinsip tatalaksana diare disentri sama dengan diare cair akut, hanya diperlukan pemberian antibiotik atau anti parasit tergantung penyebab diarenya.  Diare disentri dapat menimbulkan komplikasi antara lain kekurangan kalium, demam tinggi, prolaps rekti (bagian usus keluar melalui anus), kejang dan sindrom hemolitik uremik.
Agar anak tidak terkena diare disentri, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain  dengan menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan, selalu menggunakan air bersih, selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan, menggunakan jamban untuk pembuangan tinja, memberikan ASI untuk bayi, menjaga kebersihan makanan pendamping ASI dan memberikan imunisasi campak.||

Staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak,
Fak Kedokteran UII
Dokter Spesialis Anak di RS Gramedika, Sleman


Baca Juga Artikel Terkait Lainnya