Kolom Prof In : “Dokter kan Harus Ramah, Pa….”

Oleh Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A

Siang menjelang sore, kami sekeluarga pulang dari acara pernikahan saudara sepupu. Sebelum sampai di tempat tinggal yang terletak di pinggiran kota, kami melewati rumah-rumah tetangga. Beberapa orang terlihat berada di luar rumah. Saya perhatikan, anak laki-laki kami kedua, Bayu, yang kebetulan memegang kemudi membuka jendela mobil dan menyapa mereka. Menyaksikan hal itu, saya berkomentar “Wah Yu, kamu kok ramah sekali?Jawabannya pun membuat kami tersenyum,“Dokter kan harus ramah, Pa”.
Sesampainya di rumah, saya katakan pada anak kami bahwa untuk berlaku ramah, berbuat baik pada tetangga dan peduli lingkungan tidak boleh hanya termotivasi oleh profesi ke-dokter-annya. Melainkan harus dilandasi kewajiban untuk meneladani panutan kita, pemimpin besar kita, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang muslim harus mempedulikan dan memperlakukan tetangga dekatnya. Kalau kita sebagai orang baru, maka jangan sampai kehadiran kita mengganggu mereka, jangan sampai kita tidak peduli pada mereka. Beliau mengingatkan umatnya sampai pada hal-hal yang sementara kita anggap sangat sepele, seperti tidak melarang tetangganya yang meletakkan kayu di temboknya. Beliau juga menyuruh kita untuk melakukan hal-hal yang kadang-kadang tidak terpikirkan, misal memperbanyak airnya apabila kita memasak dengan kuah, kemudian diberikan ke tetangga.
Banyak orang berpikiran bahwa selama kita tidak berhubungan secara langsung dengan orang lain, maka kita akan bebas dari tanggungjawab terhadap kelangsungan hidupnya. Pemikiran seperti ini bertentangan dengan apa yang telah difirmankan Allah Ta’ala, “Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta” (Qs Adz Dzariyat 19). Mungkin mereka akan membantah, bagaimana bisa orang lain punya hak atas harta yang kita cari sendiri, tanpa melibatkan mereka. Ini pemikiran yang sangat sempit. Apalagi di zaman modern ini, segala hal yang kita miliki, yang kita nikmati ini, pasti akan memberikan efek terhadap orang lain.    
Ketika kita merasakan kenyamanan berkendara di dalam mobil atau di atas sepeda motor, maka sebenarnya dengan tidak langsung kita telah meracuni secara perlahan orang-orang di sekitar kita yang tidak ikut menikmati kenyamanan tersebut. Tanpa bisa menolak, mereka mau tidak mau terpaksa menghirup udara yang telah tercemari racun yang dihasilkan oleh gas hasil pembakaran bahan-bakar, baik premium maupun solar, yang keluar dari knalpot mobil atau motor kita. Akibat ini belum termasuk polusi suara
Belum lagi usaha menghasilkan listrik yang dilakukan dengan membakar bahan-bakar juga. Semakin banyak kita mengkonsumsi listrik, maka semakin banyak kita berkontribusi terhadap polusi. Padahal menurut survei, konsumsi listrik warga kota jumlahnya rata-rata sepuluh kali lipat lebih besar daripada warga desa. Seperti yang kita lihat saat naik pesawat terbang pada malam hari. Ketika akan take-off atau landing, terlihat lewat jendela pemandangan di bawah. Suatu daerah yang terang benderang menunjukkan kota dan di sekeliling agak jauh terlihat titik-titik lampu yang berjauhan menunjukkan desa.
Besarnya konsumsi listrik penduduk kota untuk penerangan tersebut belum termasuk yang dipakai untuk kenyamanan mereka, seperti kulkas, AC, seterika, mixer, lift di hotel-hotel dan pemanas air.  HHanya konsep Islam dalam hal berkehidupan sosial inilah yang betul-betul adil. Seperti firman Allah yang saya sebutkan di atas. Apa yang kita berikan pada orang miskin adalah hak mereka, karena mereka telah ikut merasakan akibat buruk yang dilakukan oleh orang yang kaya, orang yang lebih mampu. Kalau hak tersebut tidak diberikan maka tidak akan ada bedanya antara kita dengan perampok.
 “Ya Pa, insya Allah saya akan selalu berusaha mengingat dan melaksanakan nasehat ini”. Kata-kata ini meluncur dari dokter kami sambil mengakhiri diskusi sore itu. Wallahu a’lam bish-shawab.||


 *) Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A Pimpinan Umum Majalah Fahma, Dosen Fakultas Teknik UGM

Cintai Anakmu untuk Selamanya

Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi... Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan. Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita. Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini....

Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta. Orangtua dan anak hanya berjumpa di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala, saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka itu tak mau menerima dirinya tercampakkan sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.

Adakah itu termasuk kita? Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala.

Inilah hari ketika kita tak dapat membela pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri. Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat? Dan dunia ini adalah ladangnya...

Sebagian di antara kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati. Mereka berpisah untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Jalla wa 'Ala. Tingkatan amal mereka boleh jadi tak sebanding. Tapi Allah Ta'ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi.

Allah Ta'ala berfirman:


"والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين"

"Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Ath-Thuur, 52: 21).

Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini? Saling disusulkan kepada yang amalnya lebih tinggi. Termasuk kitakah?

Adakah kita benar-benar mencintai anak kita? Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit. Kita tangisi mereka saat terluka. Tapi adakah kita juga khawatiri nasib mereka di akhirat? Kita bersibuk menyiapkan masa depan mereka. Bila perlu sampai letih badan kita. Tapi adakah kita berlaku sama untuk "masa depan" mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?

Tengoklah sejenak anakmu. Tataplah wajahnya. Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya? Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya?

Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali. Adakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai?

Maka, cintai anakmu untuk selamanya! Bukan hanya untuk hidupnya di dunia. Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta'ala. Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga. Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang. Masa yang tak bertepi.

berbincang lebih jauh follow twitter Mohammad Fauzil Adhim @kupinang

Cerdas di Sekolah : Jangan Ragu Melibatkan Anak

Oleh Suwati B. Abidin
     
“Hafiz pakai baju penghulu aja ya untuk karnaval besok. Biar kelihatan berwibawa seperti pemangku adat di Padang, ”ujar bunda sambil menyiapkan bekal sekolah anaknya.”Nggak usah, ayah sudah sewakan baju Jawa lengkap dengan blankonnya,” sahut ayah memotong ide Bunda.
       
Hafiz sebagai anak tentu bingung dengan percakapan kedua orangtuanya.Tanpa diskusi sebelumnya, sebuah kebijaksanaan telah diambil secara sepihak yang mau tidak mau harus diterima. Di sini telah terjadi komunikasi yang salah antara ayah dan bundanya, yang mengakibatkan anak sebagai obyek yang paling dirugikan.
       
Suatu hal yang wajar jika sang bunda mengharapkan anaknya memakai baju adat Padang, asal daerahnya, mengingatkan masa kecilnya dulu kala ikut acara perayaan. Tidak salah pula jika sang ayah menginginkan anaknya memakai baju adat Jawa, kampung halamannya yang membuat bangga karena nampak seperti raja Jawa dengan baju kebesarannya.
       
Satu hal yang salah adalah anak tidak dilibatkan, ditanya atau diminta pendapatnya apakah dia suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju dengan keputusan tersebut. Alhasil, anak merasa tidak punya hak untuk mengemukakan gagasan yang dia inginkan. Kondisi tersebut akan mempengaruhi perkembangan sosial sang anak. Anak akan menjadi pasif dan cenderung tidak percaya diri. Lebih baik menunggu daripada aktif bertanya akan sesuatu yang tidak diketahuinya. Dia juga akan lebih suka menyendiri daripada berkelompok dengan kawannya.
       
Dalam suatu keluarga multi suku dengan latar belakang dan kultur budaya yang berbeda, pernik-pernik masalah kecil akan menjadi masalah besar bagi perkembangan karakter anak jika diabaikan. Orangtua tidak sadar bahwa setiap perbedaan yang ditunjukkan melalui perilaku kehidupan sehari-hari akan diperhatikan dan dievaluasi oleh anak.
       
Kekompakan orangtua untuk menyatukan perbedaan yang ada dengan melibatkan anak sebagai penengah akan membuat anak merasa lebih dihargai. Pada akhirnya, anak akan belajar menghargai orang lain. Misalnya, tanyakan kepada anak, libur lebaran tahun ini ingin ke mana, apakah pulang kampung ke Padang atau Yogya? Atau buat perencanaan yang bergantian dan sampaikan kepada anak alasan-alasannya.
      
Dengan demikian anak diajak untuk ikut berpikir dan mengeluarkan pendapatnya. Anak akan merasa menjadi sosok yang penting dalam pengambilan keputusan. Jika hal ini dibiasakan. maka akan tumbuh rasa percaya diri yang tinggi, selalu berpikir sebelum bertindak dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
       
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi teladan yang baik untuk pengajaran ini. Dengan berhijrah dari Makkah ke Madinah, beliau mempersatukan suku-suku yang ada di Arab. Mengesampingkan kepentingan pribadi dan golongan, untuk mewujudkan tatanan politik, pemerintahan, ekonomi dan syiar Islam.
       
Pun dalam keluarga, jadikan perbedaan menjadi warna tersendiri bagi pendidikan anak. Ketika anak sedang belajar PPKN, misalnya, hubungkan dengan adat istiadat kita. Atau ajarkan perbendaharaan kata yang sering kita pakai dalam bahasa daerah halus, misalnya kata terimakasih. Ketika anak sedang belajar IPS, kita bisa menyelipkan dengan pengetahuan hubungan kekerabatan dalam masyarakat menggunakan contoh dari suku kita masing-masing. Dengan demikian, anak akan memiliki pengetahuan serta wawasan yang luas. Jadi, kenapa ragu melibatkan anak dalam perbedaan kita?||    

*) Suwati B. Abidin : Ibu rumah tangga, tinggal di Batam
foto dokumentasi SDIT Hidayatullah Sleman

Cerdas di Sekolah : “Aku Ingin Tahu!”


Oleh Sastriviana Wahyu Swariningtyas

"Ustadzah kenapa bintang ular tangannya bisa putus kalau ditarik? Bisa tumbuh lagi nggak?”. “Ustadzah, ini namanya ikan apa? Kok kalau dipegang menggembung dan berduri?”
       
Itulah sepenggal pertanyaan anak-anak ketika belajar di Pantai Drini beberapa waktu yang lalu. Masih banyak lagi deretan pertanyaan dari mereka ketika mengeksplor biota laut di Pantai Drini. Intellectual curiosity atau rasa ingin tahu anak-anak ini muncul sebagai tanda keinginannya belajar dan mendapatkan ilmu dari apa yang belum diketahuinya. Berbahagialah orang tua dan guru yang memiliki anak-anak yang rasa ingin tahunya besar.
       
Ternyata bukan hal yang mudah untuk memunculkan rasa keingintahuan di dalam diri anak-anak. Lalu bagaimana untuk mengembangkan rasa ingin tahu anak yang pada akhirnya bermuara kepada semangat untuk mencari ilmu? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk merangsang rasa keingintahuan anak.
     
Pertama, mulailah dengan meminta anak-anak membuat pertanyaan. Kalau biasanya sebelum memulai pelajaran guru membuat pertanyaan untuk mengulang materi sebelumnya, maka cobalah juga untuk meminta anak-anak membuat pertanyaan. Misal, karena saat ini sedang musim hujan mintalah anak-anak untuk membuat pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang hujan. Lalu pertanyaan anak ini dapat dibahas bersama-sama. Membuat pertanyaan terdengar sangat sederhana, tapi setelah dipraktekkan ternyata tidak semua anak mampu membuat pertanyaan, sekalipun dibebaskan bertanya apa saja. Kemampuan membuat pertanyaan tidak dapat dianggap remeh. Dengan membuat pertanyaan akan menstimulus otak anak untuk berpikir. Tidak hanya itu, anak-anak juga berlatih untuk berani mengungkapkan pendapatnya. Latihlah kemampuan bertanya anak sejak dini, sehingga dalam suasana apapun dapat menjadi sarana proses belajar.
      
Kedua, ajaklah anak-anak belajar di luar, dapat di museum, pantai, hutan, sawah, perpustakaan, pasar, dan tempat-tempat lain yang dapat memperkaya pengetahuan anak. Mungkin mereka sudah pernah mengunjungi tempat-tempat tersebut tetapi pikiran mereka tidak diarahkan untuk mengamati sesuatu. Maka, rencanakanlah pembelajaran di luar lalu guru mengarahkan apa saja yang akan dieksplor atau digali dari tempat tersebut. Seperti paragraf di awal, ketika anak-anak belajar di pantai dan diminta untuk mengamati biota laut, banyak sekali pertanyaan yang muncul dari mereka. Inilah kesempatan yang baik untuk menumbuhkan keingintahuan anak.
       
Ketiga, lakukan eksperimen-eksperimen kecil yang menarik. Anak-anak usia TK dan SD masih sulit untuk berpikir abstrak atau konseptual. Di usia ini anak-anak akan lebih mampu menyerap ilmu ketika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari mereka atau secara kontekstual. Oleh karena itu, pembelajaran dengan melakukan eksperimen sederhana dapat mengembangkan rasa ingin tahu anak. Seperti membuat es krim tanpa dimasukkan ke dalam kulkas, air yang dipanaskan menguap. Dari eksperimen sederhana inilah akan menstimulus keingintahuan mereka: mengapa bisa seperti itu?
        
Lalu bagaimana untuk anak-anak yang pasif? Malu untuk bertanya dan mencari tahu? Untuk anak-anak seperti ini jangan sampai luput dari perhatian guru. Ketika anak-anak diminta membuat pertanyaan akan suatu hal pastikan seluruh anak di kelas tersebut membuat pertanyaan. Ketika hal ini diulang-ulang dengan konsisten, maka anak akan mulai terbiasa untuk mengemukakan apa yang dipikirkannya.
           
 *) Sastriviana Wahyu Swariningtyas, S.Si. Guru SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta
     Foto dokumen SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta

Mengusahakan Anak Penegak Shalat

Oleh R. Bagus Priyosembodo

Apabila manusia meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal. Shalat yang dulu ditunaikan tidak lagi bisa ketika nyawa sudah meninggalkan badan. Haji dan umroh yang dulu dilakukan sudah tidak bisa lagi karena sudah sama sekali tak berkemampuan. Berbagai amal kebaikan yang lain juga sudah berhenti dilakukan dan tidak lagi mengalirkan ganjaran kepada orang yang semasa hidup biasa melakukannya. Akan tetapi ada keistimewaan pada 3 amal berikut. Amalan yang tetap mengalirkan ganjaran kepada orang yang melakukannya meski ia sudah meninggal dunia. Yakni ilmu yang dulu diajarkan dan masih terus memberikan menfaat. Shadaqah yang terus menghasilkan ganjaran karena masih terus menghasilkan manfaat. Dan, anak yang shalih yang mendoakan kedua orangtuanya.
Anak yang shalih amat menguntungkan kedua orangtuanya, baik semasa mereka hidup maupun sesudah mereka mati. Adapun anak yang buruk akan menyusahkan orangtuanya semasa mereka hidup dan bisa terus menjelekkan nama baik orangtua bahkan sesudah mereka meninggal dunia.
Maka hendaklah setiap orangtua menjadikan keshalihan anak sebagai tujuan dari segenap upaya pengasuhan dan pendidikan kepada anak-anaknya. Apabila keshalihan menjadi perhatian utama maka pendidikan anak akan mementingkan materi dan cara-cara untuk menghasilkannya. Adapun bila orangtua tidak berfokus pada upaya mewujudkan keshalihan maka pendidikan anak akan dipenuhi materi dan cara untuk menghasilkan tujuan lain meski keshalihan tidak ada pada diri anak tersebut.
Orang yang shalih akan mendoa, "Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." Ia amat mengharapkan pasangan hidup yang menyenangkan karena memiliki akhlak yang mulia. Ia juga amat menginginkan anak yang menyejukkan pandangan karena keshalihannya.
Orangtua yang baik mendoa, "Wahai Rabb, jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang menegakkan shalat, wahai Rabb kami kabulkanlah doa (kami)."  Ia memohon untuk dijadikan orang yang bisa melaksanakan shalat dengan memenuhi berbagai syarat kesempurnaannya. Demikian juga mengharapkan hal itu bagi anaknya. Jika lisannya bercocokan dengan hati dan perbuatannya, maka ia akan serius memperhatikan upaya pendidikan shalat pada anaknya.  Keinginan kuat dan perhatian serius terhadap shalat inilah modal utama untuk menghasilkan anak-anak rajin shalat. Bagaimana akan mudah mendidikan shalat pada anak jika orangtua dan guru bukanlah pribadi yang mementingkan shalat. 
Allah Ta’ala memerintahkan, "Dan perintahkanlah anakmu untuk shalat dan untuk bersabar di atasnya."  Orang wajib memerintahkan anaknya melakukan shalat. Dalam upaya memerintahkan shalat terhadap anak itu mengandung berbagai kesulitan yang amat membutuhkan kesabaran. Tanpa mempunyai kesabaran dalam mendidik anak melakukan shalat maka upaya itu akan berhasil jelek.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberi tuntunan kepada kita, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.”(hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan)
Perhatikan petunjuk  penting dalam hadits itu. Anak tujuh tahun, apalagi sebelum itu, hanyalah diajari dan disuruh shalat tanpa hukuman. Adapun sanksi barulah umur sepuluh tahun dan sesudahnya. Terlalu tergesa sehingga menerapkan cara yang tidak tepat dalam mendidik anak akan memburukkan mereka.||

Foto : Cover Majalah Fahma Edisi Maret 2014, Desain Budi Yuwono

Melangkah untuk Maju

Oleh : O. Solihin
Melangkah umumnya ke depan. Meski ada juga yang menuju belakang. Sama-sama melangkahkan kaki, tetapi yang pertama meneruskan perjalanan, sementara yang kedua memutuskan mundur. Sebenarnya hal yang wajar, sebab dalam perjalanan yang kita tempuh tak selalu harus terus menerus maju ke depan, adakalanya dalam beberapa kondisi diperlukan mundur dengan berbagai alasan. Namun jika niat sudah ditetapkan, sebaiknya terus melangkah maju ke depan meskipun harus berjibaku dan hadapi ujian berat. Sebab, fokus tujuan ada di depan dan itu harus kita raih dengan upaya maksimal.
Saya ketika lulus SMA pernah memiliki keinginan menjadi penulis, dan alhamdulillah terwujud. Sebenarnya ketika masih duduk di bangku SMP, yakni saat pertama kali menyukai menulis dan belajar menulis belum terpikirkan untuk menjadi penulis. Tetapi seiring dengan menjalani berbagai peristiwa yang menjadi pengalaman hidup saya, akhirnya saya tergiur juga untuk memiliki keinginan menjadi penulis. Apa yang saya lakukan saat ingin menjadi penulis itu muncul? Saya terus berusaha melangkah ke depan untuk maju. Berbagai upaya saya coba: membaca, menulis, membaca lagi, menulis lagi, bergaul dengan banyak kalangan, menikmati berbagai peristiwa yang dialami dan mencatat hal-hal penting dan layak menurut ukuran saya. Hasilnya, alhamdulillah, upaya keras saya diridhoi Allah Ta’ala untuk bisa menulis dan bahkan menjadi profesi sampai saat ini.
Oya, sebenarnya keinginan saya untuk bisa menulis dan berharap jadi penulis sempat menemui berbagai kendala. Andai saja saya waktu itu menyerah–tak melanjutkan langkah untuk maju, mungkin akan gagal. Tetapi efek niat yang kuat dan ingin maju serta berharap semata pertolongan Allah Ta’ala, maka saya terus melangkah maju dan bisa melewati berbagai rintangan: malas, bosan, tak percaya diri, takut salah, khawatir jelek hasilnya, tercekik masalah finansial, minimnya fasilitas untuk menulis dan rintangan lainnya.
Maka, jika niat sudah diikrarkan, maka barengi dengan tawakal dan upaya maksimal. Tetaplah melangkah maju dengan berharap pertolongan Allah Ta’ala untuk memudahkan perjalanan meraih harapan. Bagi Anda yang ingin menjadi penulis, atau profesi lainnya, hal yang pertama yang harus diperhatikan adalah: NIAT. Lalu tawakal dan berusaha maksimal untuk mewujudkannya, dan tentu saja terus melangkah maju, jangan pernah mundur ke belakang apalagi lari dari gelanggang kehidupan dan menyerah tanpa usaha maksimal. Tetap semangat!
 sumber tulisan : www.osolihin.net

Pengaruh Kejujuran Orangtua Pada Anak


Oleh Muhammad Abddurrahman

Suatu hari, seorang saudagar perhiasan, Yunus bin Ubaid menyuruh saudaranya untuk menjagakan tokonya karena dia akan melaksanakan shalat. Saat itu, datanglah seorang badui hendak membeli perhiasan. Maka terjadilah transaksi di antara badui dengan orang yang diamanahi tersebut. Satu perhiasan permata yang hendak dibeli harganya 400 dirham. Saudara Yunus menunjukkan barang yang sebetulnya harganya hanya 200 dirham. Barang tersebut dibeli badui tadi tanpa melakukan penawaran.
Di tengah perjalanan, dia berpapasan dengan Yunus bin Ubaids. Yunus lalu bertanya pada badui tersebut sebab dia mengetahui barang itu adalah dari tokonya. “Berapa harga barang ini?” tanya Yunus. Badui itu menjawab, “400 dirham,” Yunus terperanjat, “Harga sebenarnya 200 dirham. Mari kembali ke toko saya agar saya dapat mengembalikan kelebihan uang anda,” pinta Yunus. “Biarlah, tak mengapa. Aku bersyukur memiliki barang ini sebab di kampungku harganya mencapai 500 dirham,” sahut badui.
Namun Yunus tetap mendesaknya agar mau kembali. Akhirnya badui tersebut bersedia kembali ke toko dan menerima kelebihan uangnya. Setelah badui tersebut pergi, Yunus berkata pada saudaranya, “Apakah kamu tidak merasa malu dan takut pada Allah dengan menjual barang seharga dua kali lipat dari harga aslinya?” Sang saudara pun berkilah, “Tetapi dia sendiri yang mau membelinya seharga 400 dirham,” Yunus pun menjawab, “Ya, tapi di atas kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan diri kita sendiri,”
Setiap orangtua pasti sangat ingin memiliki anak yang jujur seperti Yunus bin Ubaid di atas. Kejujuran akan membuat seseorang bertambah mulia dalam pandangan Allah dan seluruh makhluk-Nya. Apa gunanya memiliki anak yang cerdas namun hatinya tidak jujur? Boleh jadi kita sebagai orangtua justru akan dipermainkan dan ditipu olehnya. Sungguh, kecerdasan yang tidak disertai dengan kejujuran akan sangat berbahaya. Bila ia menjadi pemimpin, maka ia dengan kelihaiannya akan menyalahgunakan kekuasaan untuk menipu orang-orang yang dipimpinnya.
Langkah pertama yang harus ditempuh orangtua agar anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang jujur adalah dengan memberikan teladan berupa sikap jujur ketika berhadapan dengan mereka. Bagaimanapun keadaannya, orangtua dituntut agar jangan sekali-kali menampakkan kebohongan di depan anak-anak. Sebab ada kalanya orangtua tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah berbuat dusta kala menyaksikan kenakalan anak. Sering kita menyaksikan sebagian orangtua yang ingin menghentikan anaknya yang menangis atau rewel dengan berkata, “Ssst…., diam ya sayang, kalau gak mau diam nanti ibu panggilin pak dokter buat nyuntik kamu, lho!”
Karena panik, apapun mereka lakukan agar anaknya berhenti menangis, termasuk ucapan di atas. Ucapan seperti ini tentu akan membekas di hati anak. Anak mungkin akan berhenti menangis karena takut ancaman orangtua. Anak pun juga akan tumbuh menjadi pribadi yang penakut. Dan tanpa disadsari, orangtua sudah mengajari anaknya bersdusta. Untuk mengatasi hal ini, orangtua hendaknya jangan ikut panik sebab hanya akan membuat orangtua menjadi tidak bijak dalam bertindak. Alangkah lebih baik jika sikap rewel anak dialihkan ke hal lain yang bermanfaat, seperti menggambar atau membacakan cerita.
Di samping itu, orangtua juga tidak boleh membiarkan anak berdusta begitu saja tanpa berusaha meluruskannya. Orangtua harus menyadarkan anak bahwa bersdusta itu tidak baik. Karena sekali saja anak dibiarkan berdusta, maka akan membuatnya berani bersdusta di lain waktu dengan kedustaan yang lebih besar. Menegur dan mengingatkan anak saat berdusta bisa mencegah mereka melakukan hal yang sama di lain waktu.
Mari kita tutup pembahasan tulisan ini dengan mentadaburi sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun pasa surga, dan sesungguhnya seseorang berkata jujur sehingga dia menjadi orang yang jujur. Dan sesungguhnya kesdustaan menunjukkan pada kejahatan, sedangkan kejahatan mengantar pada neraka, dan sesungguhnya seseorang berkata dusta hingga ia tercatat di sisi Allah sebagai pendusta,” (HR Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)


*) Pemerhati dunia anak

Bagaimana Gaya Belajar Anak Kita?

Oleh : Sumadi
   
Dalam sebuah pertemuan wali murid, beberapa orangtua saling curhat mengenai keadaan dan perilaku anaknya ketika belajar di rumah. Ada yang bercerita bahwa anaknya sulit bin sukar ketika disuruh belajar. Atau kadang mau belajar, itupun dengan cara yang menurut orangtua tadi tidak pas. Ada anak yang belajar sambil terus usil gerakan tubuhnya, tidak bisa tenang. Ada yang mau belajar sambil corat-coret buku. Ada pula yang mau belajar dengan cara dibacakan oleh ibunya dengan suara nyaring, sementara si anak asyik mendengarkan. “Wah…, jadi sang ibu deh yang belajar…” pikir orangtua tersebut.
Ada lagi seorang ibu yang menceritakan kalau anaknya sangat tertib dalam belajar. Mau membaca dengan tekun, mengerjakan soal-soal dalam suasana yang sepi. Jadi tidak usah repot-repot mengajari dengan penuh emosi. Sebagian besar orangtua jadi iri.” Kok bisa sih anaknya belajar dengan manis?” Ya begitulah, hampir semua orangtua menginginkan anaknya bisa belajar dalam keadaan serius, tekun membaca, dalam kondisi sepi. Sehingga diharapkan hasilnya akan memuaskan.
    Pembaca yang budiman. Kita tentu paham bahwa Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu dengan penuh warna dan perbedaan. Demikian pun dengan anak dan cara mereka belajar. Maka sangat penting bagi orangtua untuk mengenal dan memahami gaya belajar dari anak-anaknya. Andaikan dalam keluarga memiliki lebih dari satu anak, sangat mungkin akan memiliki gaya belajar yang berbeda. Nah…apa saja dan bagaimana sebenarnya gaya belajar itu ?
    Berdasarkan penelitian Bobbi de Porter, kecenderungan manusia dalam belajar itu meliputi tiga gaya. Yakni gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik.
    Dalam gaya belajar visual, seseorang akan lebih paham atau mendapatkan penjelasan tentang sesuatu jika membaca atau melihat ilustrasi atau gambar. Hal ini menunjukkan seseorang akan lebih mudah paham dengan memerhatikan secara visual (menggunakan indra pengelihatan). Adapun ciri-ciri anak dengan gaya belajar visual adalah rapi dan teratur, bicara dengan cepat, pengeja yang baik, mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar, biasanya tidak terganggu dengan keributan, lebih suka membaca daripada dibacakan.
    Gaya belajar auditorial adalah cara belajar yang lebih mamfokuskan pada kemampuan pendengaran. Orang-orang auditorial lebih suka mendengarkan materi daripada membaca. Ciri-cirinya, mudah terganggu oleh keributan, merasa kesulitan untuk menulis, hebat dalam berbicara, lebih suka musik daripada seni visual, suka berdiskusi dan menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskan, suka membaca dengan keras dan mendengarkan.
    Gaya belajar kinestetis, adalah cara belajar di mana lebih mudah menyerap makna dengan praktek langsung, karena dengan melihat dan mendengar mereka kurang mampu. Orang kinestetik akan lebih baik dalam aktivitas gerak dan interaksi kelompok. Ciri-cirinya, berbicara dengan perlahan, menghafal dengan cara berjalan dan melihat, menggunakan jari sebagai penunjuk untuk membaca. Banyak menggunakan isyarat tubuh, selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak, tidak dapat duduk diam dalam waktu lama.
    Itulah macam gaya belajar yang sangat penting dipahami oleh orangtua sedini mungkin. Orangtua dapat mengenal gaya belajar apa yang dimiliki sang anak dengan cara melihat, mengamati dan memahami bagaimana perilaku anak sehari-hari ketika belajar. Dengan bekal pemahaman itu maka tidak akan lagi merasa jengkel dan memaksa anak untuk menuruti cara belajar orangtua, yakni harus tenang, diam, membaca berjam-jam. Jadi biarkanlah anak menikmati belajarnya sesuai dengan karakternya. Biarkan anak belajar dengan senang dan nikmat, senikmat menyantap coklat…

Di akhir cerita salah seorang wali murid bergurau,”Kira-kira gurunya paham tidak ya… gaya belajar anak saya?’’ Ya, mudah-mudahan pahamlah ibu…||

Praktisi Pendidikan, Wali murid SDIT Salsabila Klaseman Sleman

Menunda


Menunda itu sangat merugikan. Januari awal saya menunda membalas SMS dari sahabat saya, teringat kembali di akhir Januari dan kemudian saya membalasnya. Apa yang terjadi? Order menguntungkan yang seharusnya diberikan kepada saya ternyata sudah diberikan kepada orang lain. Nyesek di dada…
Menunda itu berbuah penyesalan. Saat sahabat saya sakit di rumah sakit, saya menunda untuk menjenguknya dan kemarin sahabat saya itu meninggal dunia. Walau saya ikut sholat jenazah untuknya, ikut mengantar dan menguburnya, tapi masih ada perasaan menyesal di dalam jiwa. Sebelas tahun yang lalu, saya menunda-nunda membawa istri saya ke dokter. Hasilnya? Istri saya masuk ke rumah sakit dan dirawat di ruang ICU selama tiga pekan.
Ya, menunda banyak sekali merugikannya. Menunda membayar hutang membuat hidup Anda tersandera oleh si pemberi hutang. Menunda nikah padahal Anda sudah mampu dan tak punya alasan yang jelas, kelak akan sangat merugikan Anda. Menunda menyusun skripsi atau tesis bisa membuat Anda semakin stres, terlena dan akhirnya kuliahnya tak tuntas.
Menunda banyak sedekah karena menunggu kaya raya justru akan membuat Anda semakin pelit. Menunda belajar menunggu jabatan naik membuat Anda sulit naik jabatan, atau bila jabatan naik, Anda tak punya pengaruh dan kharisma. Ayo persiapkan dari sekarang –salah satunya yang tidak bolah ditunda adalah mengasah kemampuan bicara di depan orang yang Anda pimpin, ikutlah Wanna Be Trainer (WBT) hubungi 0812-1632-0707.
Menunda itu penyakit menular. Apabila Anda menunda satu pekerjaan maka akan menular kepada penundaan pekerjaan yang lain. Maka, saran saya, jauhi kata-kata ini: nanti ah, entar, nanti juga masih bisa, tenang masih lama dan sejenisnya. Kata-kata itu seolah membuat Anda tenang saat mengucapkannya namun berujung penyesalan dan kehilangan berbagai peluang kebaikan.
Apa yang menyebabkan kita menunda? Boleh jadi karena kita malas, tak tahu prioritas, merasa punya banyak waktu. Padahal, hidup ini sangat singkat, waktu kita sangat terbatas, banyak kebaikan yang belum kita lakukan. Tak malukah kita, bila kita sering menunda pekerjaan? Siapkah kita, bila hidup kita dipenuhi dengan berbagai penyesalan karena menunda pekerjaan?
Salam SuksesMulia!
Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini
sumber tulisan : www.jamilazzaini.com

Berdusta Tanpa Sadar


Termangu merenungi sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam


"كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ"

“Cukuplah seseorang (dianggap) berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan.” (HR. Muslim).


Apa yang diucapkan oleh seseorang mungkin benar dan tidak ada kesalahan di dalamnya, tetapi ada kesalahan dalam menangkap pembicaraan. Bisa juga terjadi seseorang tidak tepat mengingat pembicaraan yang ia dengar: ingatannya bercampur aduk. Maka, keliru ia dalam menceritakan. Bercampur-aduknya ingatan dapat juga terjadi karena mendengar pembicaraan dua orang atau lebih. Ingat perkataan, tak ingat penuturnya secara tepat. Bisa juga terjadi seseorang mendengarkan informasi yang tak lengkap, tapi ia mencukupkan diri dengannya. Maka kelirulah ia jika menyebarkan.

Ada banyak sebab informasi tak lengkap. Bisa alasan yang benar, bisa juga tidak. Yang berbahaya adalah jika kita lengkapi dengan persangkaan. Lebih berbahaya lagi jika informasi yang ia dengar memang salah. Maka, ia dianggap berdusta karena menyebarkan informasi yang salah itu. Ia dihukumi berdusta karena ia tidak memeriksa kebenaran informasi tersebut. Di sini ada kewajiban untuk melakukan tatsabbut. 

Nah.

At-tatsabbut adalah berhati-hati dalam menukil berita dan ketika berbicara. Kita memastikan kebenarannya. Bukan sekedar tabayyun.

Teringat ketika saya masih menekuni dunia jurnalistik. Saya pernah mewawancarai psikiater H. Ahmad Salim Sungkar Sp.KJ (K) di rumahnya. Hasil wawancara berbentuk artikel, saya kirimkan dulu kepada beliau untuk diperiksa apakah sesuai yang dimaksud. Ternyata banyak koreksi. Ringkasnya, beliau kemudian menulis artikel cukup panjang. Tulisan itu jauh lebih berbobot daripada artikel hasil wawancara yang saya buat.

Sebenarnya saya merasa memahami apa yang beliau sampaikan karena istilah-istilah yang digunakan banyak bermiripan dengan yang saya pelajari. Tetapi saya tetap perlu melakukan tatsabbut untuk menghindari kesalahan fatal. Dan ternyata ada perbedaan yang sangat signifikan.

Kekeliruan fatal dapat dihindarkan karena ada tatsabbut yang terjadi. Padahal saya wawancara langsung, mendengar secara pribadi serta merekamnya. Saya juga memiliki latar belakang pengetahuan yang saya rasa memadai untuk memahami & menuliskan. Ternyata itu pun tak cukup.

Sebagai penutup, mari sejenak kita renungi nasehat Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam:


بِئْسَ مَطِيَّةُ الرَّجُلِ زَعَمُوا

"Seburuk-buruk bekal seseorang (dalam berbicara) adalah ungkapan ‘menurut sangkaan mereka’.” (HR. Abu Dawud).

Ada yang perlu kita catat di sini. Niat baik saja ternyata tidak cukup. Kita dapat tergelincir ke dalam dusta dan bahkan dusta yang besar, meski niat kita sangat baik dan mulia, karena mengabaikan hal-hal penting dalam melaksanakan niat. Apalagi jika niat tak baik. Tetapi ini bukan pembicaraan kita saat ini.

Khusus berkenaan dengan niat, ada wilayah yang bersifat sangat pribadi sehingga kita tak dapat memastikan niat seseorang. Tetapi ada hal-hal yang perlu kita benahi dan ilmui sehingga dengannya kita tidak terkelabui (ghurur) oleh ungkapan "niat orang siapa yang tahu, jangan menghakimi niat".

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan barakah.

Sumber Tulisan Facebook : Mohammad Fauzil Adhim
gambar : republika.co.id

Ujian Harta


Oleh Tuswan Reksameja

Manusia dicipta cenderung kepada harta, ia mencintai perempuan-perempuan atau laki-laki, mencintai anak-anak, mencintai harta benda dari jenis emas dan perak, mencintai kuda-kuda pilihan (di jaman sekarang berupa kendaraan), dan mencintai sawah ladang. Begitu yang digambarkan Allah dalam surat Ali Imran ayat 14.

Tidak dipungkiri lagi, kecenderungan kepada harta ini memang bisa mengalahkan segalanya. Coba kita kilas balik sejenak, seorang ayah bekerja siang dan malam tentunya agar kehidupannya tercukupi. Ada yang rela berdesakan di kendaraan umum seperti kereta api atau bus untuk kebutuhan hidupnya. Ada yang sudah sangat akrab dengan kemacetan saat berangkat dan pulang kerja. Ada yang gemar meninggalkan keluarganya ke luar kota demi mencukupi kebutuhannya. Dan lain sebagainya. Dan bahkan ada rela menjual salah satu organ tubuhnya karena kebutuhan yang tidak bisa dicukupinya. Semua itu kalau di lihat secara dhohir adalah mengejar harta, mengejar materi.

Manusiawi dan sangat manusiawi memang, karena di jaman sekarang harta menjadi tolok ukur keberhasilan manusia. Para pelancong atau perantau dikatakan berhasil jika mereka mampu membangun rumah biasa menjadi luar biasa, jika saat kembali ke kampungnya membawa banyak duit, memiliki tabungan ratusan juta, jika saat di kampung memilki kendaraan wah, atau bahkan saat menikah dengan wanita atau pria cakep. Iya. Itulah ukuran manusia, harta.

Sungguh, ujian yang berat bukanlah kemiskinan, kekurangan harta benda. Jika ujian yang ditimpakan kepada manusia hanyalah sebatas hal tersebut, sudah tentu manusia dengan mudah menempuhnya. Ujian yang sangat berat adalah saat hidup berlimpah dengan harta, hidup bergelimang dengannya. Karena manusia bisa dibutakan olehnya, dia lupa akan segalanya. Itulah harta. Jika tidak kuat akan ujian harta ini, niscaya manusia akan lupa dirinya.

Nah, untuk itu Islam mengajarkan untuk bisa mengelola harta dengan baik. Dalam harta kita ada hak-hak orang miskin, sehingga kita berkewajiban membersihkan harta yang kita miliki dengan zakat maal, dengan bersedekah.
Oleh sebab itu,simpanlah harta di tangan kita, jika suatu saat nanti harta ini diambil yang punya kita ikhlas memberikannya, jangan menyimpan harta di hati kita, karena saat nanti yang punya mengambilnya hati akan kecewa.

Wallahu a’lam bishawab, hanya Allah yang tahu kebenaranya.

Di Mata Kita Ada Nikmat-Nya

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Ada peristiwa tentang seorang anak kecil di sebuah rumah sakit yang sangat besar. Beberapa minggu yang silam, ibunya terbaring karena melahirkan. Seorang bayi yang sehat dan lucu. Hari ini, anak kecil itu yang terbaring di sana. Beberapa dokter berdiri mengelilinginya; mengangkat kedua bola mata anak itu. Ada penyakit yang membuat para dokter tidak punya pilihan lain kecuali operasi.

Ketika anak itu siuman dari pengaruh obat bius, ia segera meraba-raba mencari bapaknya. Ia berkata, “Bapak, kapan kita pulang?”

Bapaknya terdiam. Hening sejenak, kemudian berkata, “Tunggulah, Nak sampai kamu sembuh.”

“Bapak, kenapa lama sekali?” kata anak itu, “aku sudah ingin pulang. Aku ingin lihat adik lho, Pak.”

Bapak itu terdiam. Ia hanya dapat menahan tangis dan perasaan yang bercampur adik. Ia ingin sembunyikan wajahnya, meski anaknya sudah tidak bisa melihat lagi.
Peristiwa ini—sebagaimana juga peristiwa-peristiwa lain—datang dan pergi begitu saja. Banyak pelajaran hadir di hadapan kita, tetapi lebih banyak yang hikmahnya hanya yang kita rasakan saat bercanda. Kita tak menemukan pelajaran apa-apa, karena amat sedikit yang kita renungkan. Padahal, betapa banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil kalau nurani kita masih bersih; atau kalau kita mau berhenti sejenak untuk merenung.

Maha Suci Allah. Alangkah banyak nikmat yang kita rasakan, tetapi alangkah sedikit yang kita syukuri. Alangkah banyak anugerah yang kita nikmati, tetapi alangkah seringnya kita lambat menyadari. Kita ingin mensyukuri dan mempergunakannya untuk kebajikan di jalan Allah, hanya ketika nikmat itu sudah tidak ada lagi bersama kita.

Masya-Allah, alangkah banyak nikmat yang tak sanggup kita syukuri. Bahkan menyadari pun tidak. Allah memberi kita tanpa menghitung-hitung, sementara untuk memuji-Nya sekali lagi, kita sudah sibuk menghitung pahala atas amal-amal kita yang tak seberapa. Padahal, di sisi Allah nikmat yang lebih besar. Jauh lebih besar.

Ingatlah ketika Rasulullah Saw Bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt memiliki seratus rahmat. Kemudian Ia turunkan hanya satu rahmat kepada jin, manusia, hewan, dan serangga di dalamnya. Dengan rahmat itulah mereka saling menyayangi dan kasih-mengasihi. Dengan rahmat itu pula, perempuan jahat pun menyayangi anaknya. Allah Swt menunda sembilan puluh sembilan rahmat-Nya, yang akan dikaruniakan bagi hamba-Nya pada hari Kiamat” (H.r. Bukhari & Muslim).

Hanya dengan satu rahmat inilah Allah beri kita nikmat berupa mata dan seluruh yang membuat kita mampu merasakan betapa nikmatnya garam. Kalau sedikit saja ujung lidah kita yang terluka, betapa berbeda dunia yang kita rasakan sekarang. Kalau sedikit saja alat penciuman kita rusak, betapa bunga-bunga itu tak lagi mewangi. Kalau sebentar saja kelenjar air liur tak berproduksi, betapa tak menariknya setiap masakan yang lezat.

Tetapi…

Alangkah sedikit yang kita syukuri. Padahal, dengan syukur itu, Allah akan berikan 99 rahmat yang masih tersimpan di sisi-Nya. Di dalamnya ada kasih yang abadi; kasih yang tak berbatas dari-Nya.

Astaghfirullah… alangkah sering kita lupa atas nikmat-nikmat yang diberikan-Nya. Kita lupa pada nikmat-Nya, lupa menggunakan nikmat-Nya dan bahkan lupa kepada Ia Yang Memberi Nikmat. Begitu banyak yang kita lupa, sampai-sampai kita lupa pada diri sendiri. Kita terasing di tengah keramaian karena ada yang sakit pada jiwa kita; dan ada yang gelap pada hati kita.

Kutulis ini di sini dengan satu harapan yang sederhana: semoga kita lebih ingat kepada-Nya sesudah banyak dosa kita perbuat. Kutuliskan ini bukan karena sudah mampu mengingat-Nya dengan sempurna, tetapi karena berharap semoga catatan sederhana ini terhitung sebagai langkah untuk mendekati-Nya.

Sumber FB Mohammad Fauzil Adhim