» » Cerdas di Sekolah : Jangan Ragu Melibatkan Anak

Cerdas di Sekolah : Jangan Ragu Melibatkan Anak

Penulis By on Wednesday, February 26, 2014 | No comments

Oleh Suwati B. Abidin
     
“Hafiz pakai baju penghulu aja ya untuk karnaval besok. Biar kelihatan berwibawa seperti pemangku adat di Padang, ”ujar bunda sambil menyiapkan bekal sekolah anaknya.”Nggak usah, ayah sudah sewakan baju Jawa lengkap dengan blankonnya,” sahut ayah memotong ide Bunda.
       
Hafiz sebagai anak tentu bingung dengan percakapan kedua orangtuanya.Tanpa diskusi sebelumnya, sebuah kebijaksanaan telah diambil secara sepihak yang mau tidak mau harus diterima. Di sini telah terjadi komunikasi yang salah antara ayah dan bundanya, yang mengakibatkan anak sebagai obyek yang paling dirugikan.
       
Suatu hal yang wajar jika sang bunda mengharapkan anaknya memakai baju adat Padang, asal daerahnya, mengingatkan masa kecilnya dulu kala ikut acara perayaan. Tidak salah pula jika sang ayah menginginkan anaknya memakai baju adat Jawa, kampung halamannya yang membuat bangga karena nampak seperti raja Jawa dengan baju kebesarannya.
       
Satu hal yang salah adalah anak tidak dilibatkan, ditanya atau diminta pendapatnya apakah dia suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju dengan keputusan tersebut. Alhasil, anak merasa tidak punya hak untuk mengemukakan gagasan yang dia inginkan. Kondisi tersebut akan mempengaruhi perkembangan sosial sang anak. Anak akan menjadi pasif dan cenderung tidak percaya diri. Lebih baik menunggu daripada aktif bertanya akan sesuatu yang tidak diketahuinya. Dia juga akan lebih suka menyendiri daripada berkelompok dengan kawannya.
       
Dalam suatu keluarga multi suku dengan latar belakang dan kultur budaya yang berbeda, pernik-pernik masalah kecil akan menjadi masalah besar bagi perkembangan karakter anak jika diabaikan. Orangtua tidak sadar bahwa setiap perbedaan yang ditunjukkan melalui perilaku kehidupan sehari-hari akan diperhatikan dan dievaluasi oleh anak.
       
Kekompakan orangtua untuk menyatukan perbedaan yang ada dengan melibatkan anak sebagai penengah akan membuat anak merasa lebih dihargai. Pada akhirnya, anak akan belajar menghargai orang lain. Misalnya, tanyakan kepada anak, libur lebaran tahun ini ingin ke mana, apakah pulang kampung ke Padang atau Yogya? Atau buat perencanaan yang bergantian dan sampaikan kepada anak alasan-alasannya.
      
Dengan demikian anak diajak untuk ikut berpikir dan mengeluarkan pendapatnya. Anak akan merasa menjadi sosok yang penting dalam pengambilan keputusan. Jika hal ini dibiasakan. maka akan tumbuh rasa percaya diri yang tinggi, selalu berpikir sebelum bertindak dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
       
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi teladan yang baik untuk pengajaran ini. Dengan berhijrah dari Makkah ke Madinah, beliau mempersatukan suku-suku yang ada di Arab. Mengesampingkan kepentingan pribadi dan golongan, untuk mewujudkan tatanan politik, pemerintahan, ekonomi dan syiar Islam.
       
Pun dalam keluarga, jadikan perbedaan menjadi warna tersendiri bagi pendidikan anak. Ketika anak sedang belajar PPKN, misalnya, hubungkan dengan adat istiadat kita. Atau ajarkan perbendaharaan kata yang sering kita pakai dalam bahasa daerah halus, misalnya kata terimakasih. Ketika anak sedang belajar IPS, kita bisa menyelipkan dengan pengetahuan hubungan kekerabatan dalam masyarakat menggunakan contoh dari suku kita masing-masing. Dengan demikian, anak akan memiliki pengetahuan serta wawasan yang luas. Jadi, kenapa ragu melibatkan anak dalam perbedaan kita?||    

*) Suwati B. Abidin : Ibu rumah tangga, tinggal di Batam
foto dokumentasi SDIT Hidayatullah Sleman
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya