Anakku, Peganglah Kunci Surgamu


Oleh :  

Nadhira Arini Nur Imammah (Dhira) anakku, selamat ulang tahun ke-22. Bapak hanya bisa berkirim doa dan nasihat untukmu tanpa bisa memelukmu. Ketahuilah, tidak seperti biasanya, hari ini bapak bangun tidur lebih cepat dibandingkan mamamu. Itu karena bapak ingin buru-buru bersujud kemudian mendoakanmu.

Anakku, pahami dan bacalah pelan-pelan nasihat bapak di hari ulang tahunmu hari ini…
Sesunguhnya tujuan hidupmu yang utama bukanlah menjadi lulusan atau alumni Universitas di Jerman. Tujuan hidup yang sejati adalah kau berada di tempat terhormat saat kelak hidup di akhirat. Pastikan bahwa belajarmu di Jerman hanyalah untuk memperlancar tujuan itu.
Oleh karena itu, segeralah pegang kunci surgamu –dan ternyata bagi seorang wanita kunci surga itu amatlah mudah. Pahamilah sabda Rasulullah ini: “Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan.”(HR. Ahmad nomor 1661).
Diantara empat hal yang disebut di dalam hadits di atas, bapak yakin hingga saat ini tiga hal pertama sudah kau pegang kuat dan jalankan sungguh-sungguh. Hanya satu hal yang terakhir, yaitu taat kepada suami yang belum bisa kau jalankan. Tentu karena kau belum menikah. Dan bapak berharap tidak dalam waktu yang lama lagi sudah ada Pangeran Berkuda Putih yang datang menjemputmu.
Anakku, hidup ini singkat. Maka, kau harus menetapkan bahwa memegang kunci surga adalah prioritas utama dalam hidupmu. Dan tentu kau tahu bahwa salah satu kunci surga yang belum kau pegang hanyalah taat pada suamimu. Maka, bila ada Pangeran Berkuda Putih menjemputmu dan dia berani meminta izin bapakmu, jangan kau persulit dia untuk bisa membawamu pergi.
Pastikanlah bahwa ilmu yang kau jemput jauh-jauh ke Jerman bisa menjadi bekal untuk kau kelak lebih mentaati suamimu bukan untuk menguatkan egomu. Kebanggaan utama bapak bukanlah karena kau alumni Jerman, kebanggan utama bapak adalah ketika suamimu menjadi hebat karena peran serta dan dukunganmu. Kau bisa menjadi pakaian [pelindung, penghangat, penghias] bagi suamimu.
Saat kau dipandang suammu, kau menyenangkan. Saat suamimu lelah kau tempat bersandar. Saat suami meminta kau tak pernah menunda. Saat suamimu marah kau sabar. Jangan pernah lakukan sesuatu yang suamimu tak menyukainya walau itu hal kecil apapun.
Dan kelak saat kau dipanggil oleh Allah SWT, bisikan dari suamimu yang bapak paling harapkan adalah, “Istriku, aku ridho atas semua hal yang kau lakukan. Aku bangga punya istri sepertimu. Tunggulah aku di pintu surgamu.”
Selamat ulang tahun anakku, tunggulah, Pangeran Berkuda Putih sedang memacu kudanya untuk menjemputmu. I love you and I really… really miss you.
Salam SuksesMulia!
Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Renungan : Andai Kita Paling Sempurna

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Bahkan seandainya cuma kita yang benar, ’ujub (membanggakan diri) akan membinasakan. 
Sementara yang salah mungkin sedang berbenah.

Bahkan, seandainya kita dan kawan-kawan yang baik, takabbur (sombong, pongah) akan memburukkan kebaikan kita di saat yang lain justru memperbaiki diri. 
Padahal kita tidak benar-benar tahu siapa yang terbaik di antara kita di hadapan Allah Ta’ala.

Kita perlu senantiasa bertanya, "Sudah baikkah kita?"

Kukeluhkan Ini Pada-Mu

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

“Karena mereka memperdayaiku, maka kepada Engkau Wahai Yang Mahaperkasa, tolonglah aku. Karena mereka membodohiku, maka kepada Engkau Wahai Yang Mahabijaksana, bimbinglah aku. Karena mereka melemahkanku, maka kepada Engkau Wahai Yang Mahakuasa, kuatkanlah aku. Karena mereka menipuku, maka kepada Engkau Wahai Yang Maha Pemberi Petunjuk, terangilah hatiku. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik penolong. Sesungguhnya Engkau adalah kawan yang dekat.”

Aku keluhkan ini kepada-Mu, ya Allah. Aku keluhkan kebodohan-kebodohanku sendiri. Engkau telah berjanji dengan janji-janji yang pasti, tetapi aku justru lebih sering memercayai janji-janji manusia yang mereka sendiri tak percaya dengan janjinya. Bahkan mereka tak percaya pernah mengucapkannya karena janji itu memang keluar begitu saja. Tanpa dipikir, tanpa dihayati, tanpa disadari tanggung-jawabnya kepada-Mu. Tetapi ya Allah, alangkah sering lupa hati ini.

Ya Allah, ada gelombang manusia yang datang berbondong-bondong. Di tangan mereka ada impian-impian yang dijejalkan. Mereka pergunakan nama-Mu, ya Allah, tetapi tanpa mengingat-Mu. Mereka berbicara kepada kami seolah-olah berkuasa menentukan hidup dan zaman ini, dapat membalik keadaan dalam sekejap dan mampu membuat setiap manusia meraih surganya di dunia. Mereka bahkan “melebihi-Mu”, ya Allah. Engkau ajarkan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum sehingga (mereka) mengubah apa-apa yang ada pada jiwa mereka”, sementara orang-orang itu mengajarkan kepada kami bahwa hidup akan dengan sendirinya berubah apabila mereka berkuasa. Padahal, mereka sendiri tak kuasa mengubah dirinya.

Akan tetapi, alangkah sering hati ini lupa, ya Allah. Hati ini mudah goyah oleh janji-janji yang diucapkan tanpa mengingat tanggung-jawabnya kepada-Mu. Hati ini sering lupa bahwa hidup ini harus diperjuangkan, hanya karena mabuk oleh impian tentang hidup yang berubah tanpa usaha.Astaghfirullahal ‘adzim…. Alangkah tamak hati ini. Dan alangkah heran jiwa ini kepada mereka-mereka yang mempergunakan nama-Mu untuk merebut amanah demi dunia yang sesaat.

Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menzalimi diri sendiri. Kukeluhkan kepada-Mu, ya Allah, jiwaku yang mudah tergesa-gesa oleh gemerlapnya dunia. Kukeluhkan kepada-Mu, ya Allah, hatiku yang mudah terpedaya oleh apa-apa yang tampaknya menjadi kekuatan yang nyata. Kami ajak manusia kepada-Mu, tetapi pada saat yang sama kami sering lupa bahwa Engkau yang memberi kekuatan.

Jiwa-jiwa kami ini, ya Allah, alangkah sering lalai bahwa Engkau telah kuatkan kami di saat jumlah kami masih sedikit. Tetapi begitu jumlah kami bertambah, kami lupa pada jiwa. Kami lupa pada kuasa-Mu. Seakan-akan tak pernah ada ayat yang turun:


“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai” (QS. at-Taubah [9]: 25).


Seolah-olah, tak pernah kudengar juga sabda nabi-Mu, “Laa haula wa laa quwwata illa billah. Tidak ada ada dan upaya kecuali dari Allah” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Asy'ari).

Ya Allah…, ampunilah kami. Di saat kami masih sedikit dan tak punya apa-apa, dekat sekali jiwa kami dengan-Mu. Di saat kami tak mempunyai siapa-siapa untuk berbincang dan mengadu, Engkau saja tempat kami memohon pertolongan. Engkau pula yang menjadi sahabat untuk berkeluh-kesah. Dalam kesendirian, Engkau yang menjadi teman. Dalam ketakberdayaan, Engkau yang menjadi tumpuan kekuatan. Tetapi, begitu segalanya kami miliki atas pertolongan-Mu, langkah kami justru goyah. Kami takut kepada benda. Kami sibuk dengan jumlah. Seakan-akan Engkau sudah tak ada lagi.

Ya Allah, sungguh kami termasuk orang-orang yang zalim dan teperdaya oleh orang-orang yang zalim. Sungguh kami termasuk orang-orang yang bodoh dan terperangkap oleh ucapan orang-orang yang membodohi. Maka kepada-Mu, ya Allah, kami memohon kekuatan, kesadaran dan kebangkitan. Kepada-Mu ya Allah, kami memohon ampunan dan kejayaan hidup di dunia hingga akhirat kelak.

***Catatan sederhana tatkala melihat spanduk, baliho dan pamflet yang bertebaran dari para calon di Pilkada. Juga tatkala melihat tawaran untuk kaya mendadak dengan cara yang Islami. Semoga menjadi pengingat untuk diri sendiri dan yang berkenan.

sumber tulisan : Mohammad Fauzil Adhim

ODOJ DIY Gelar Silaturahmi Akbar

One Day One Juz atau yang lebih terkenal disingkat ODOJ adalah sebuah komunitas yang baru beberapa bulan terbentuk, tepatnya pada bulan November 2013. Walau baru beberapa bulan terbentuk, namun antusiasme masyarakat begitu besar, hingga saat ini sudah tercatat sebanyak 2.806 grup ODOJ dengan rincian 735 grup ikhwan dan 2071 grup akhwat dan total anggota sebanyak 84.180 (data per 5 Maret 2014). Sebuah angka yang fantastis.

Demi memberi tempat kepada anggotanya, maka dibentuklah koordinator area, baik pusat ataupun koordinator area di masing-masing wilayah. Tidak ketinggalan juga dengan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), akhirnya membentuk kepengurusan ODOJ DIY. Adalah ukhti Rennta Chrisdiana, ibu dari 4 bocah, dosen psikologi sebuah universitas swasta di Yogyakarta dan seabreg kegiatan lainnya yang mau merelakan dirinya menjadi Koordinator Area Wilayah DIY.

ODOJ DIY pertama kali di launching pada 31 Desember 2013 si Gedung Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta, bersamaan dengan  kegiatan Islamic Book Fair. Hadir pada waktu itu sekitar 800 san peserta dan sekiar 200 san adalah anggota ODOJ.


InsyaAllah pada Ahad, 23 Maret 2014 akan dilaksanakan Silaturahmi Akbar ODOJer  DIY. Acara yang akan diselenggarakan di Masjid Kampus Universitas Gajah Mada (Maskam UGM) ini akan menghadirkan Ustadz Muhammad Sholihuddin MA, Al Hafidz serta Ustadz Puji Hartono atau lebih beken dikenal Kang Puji, salah seorang pengasuh Pesantren Masyarakat Jogja (PMJ).

Acara yang mengambil tema “Indahnya Ukhuwah Berhiaskan Al-Quran” ini rencananya berlangsung dari pukul 08.30 sampai dengan pukul 12.00 WIB ini juga akan dimeriahkan dengan penampilan tim nasyid Sintesa, sebuah grup nasyid asal Yogyakarta yang sudah malang melintang di nusantara ini.

“Harapan kami, semoga acara ini bisa berjalan dengan sukses tanpa halangan apapun,” begitu harapan ibu Rennta Chrisdiana  yang lebih terkenal di panggil Ibu Awi ini. Bagi para ODOJer yang tinggal di Yogyakarta bisa hadir diacara ini, informasi kegiatan bisa menghubungi, untuk ikhwan Galih SMS/WA 088216292074 dan akhwat Faza SMS/WA 087838332998 atau bisa bergabung di grup FB ODOJer Jogja atau twitter @ODOJDIY.


*Mahmud Thorif

Kisah Inspiratif Zhang Da dari Negeri China

Kami share dari akun twitter @majalahfahma

1. Bismillah, pernah dengar kisah #ZhangDa kisah anak dari negeri Cina berumur 10 tahun namun perjuangannya mengemparkan nurani manusia?

2. Kisah ini mimin tulis ulang dari majalah #kinan edisi II tahun

3. Hehehe tahun VI ya, silahkan disimak :)

4. Eng ing ong.... Inilah kisahnya ....

5. Pada 27 Januari 2006 di China diadakan sebuah acara penghargaan tinggi dari pemerintah kpd rakyatnya atas perbuatan luar biasa #ZhangDa

6. Di antara 9 orang peraih penghargaan itu, ada seorang anak kecil, ia merupakan satu2nya anak kecil yg terpilih dari 1,4 milyar pend China

7. Anak kecil itu bernama #ZhangDa sejak ia berusia 10 tahun (th 2001). Anak ini ditinggal pergi ibunya yg sdh tidak tahan lagi hidup >

8. > Hidup bersama sang suami yang sakit keras dan miskin. Sejak hari itu, #ZhangDa hidup dg seorang ayah yg tdk bisa bekerja, >

9. > Tidak bisa berjalan, dan seorang ayah yang sakit-sakitan #ZhangDa

10. Kondisi ini memaksa #ZhangDa yg waktu itu blm genap 10 tahun utk mengambil tanggungjawab yg berat. Ia harus sekolah, >

11. > Ia harus mencari makan untuk ayah dan dirinya sendiri, ia juga memikirkan obat2an yg pasti harganya mahal #kisahZhangDa

12. Tetapi yg membuat #ZhangDa berbeda dg anak kebanyakan adalah bahwa dia pantang menyerah #kisahZhangDa

13. "Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab utk meneruskan kehidupan saya >

14. > Dan ayah saya." Demikian ungkapan #ZhangDa ketika menghadapi utusan pemerintah yg ingin tahu apa yg dikerjakannya #kisahZhangDa

15. #ZhangDa mulai lembaran baru dlm hidupnya dg terus bersekolah. Dari rumah menuju sekolah ia harus berjalan kaki menembus hutan kecil

16. Selama perjalanan pulang dan pergi dari sekolah itulah, #ZhangDa mulai makan daun, biji-bijian, buah2an yg ia temui utk perut laparnya

17. Kadang ia juga menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba itulah, ia tahu mana yg masih bisa ditolerir >

18. > Oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan #kisahZhangDa

19. Setelah jam pulang sekolah di siang dan sore hari, ia bergabung dg beberapa tukang batu utk membelah batu-batu besar dan memperoleh >

20. > Upah dari pekerjaan itu. Hasil kerjanya sbg tukan batu ia gunakan utk membeli beras dan obat-obatan ayahnya #kisahZhangDa

21. Hiduo seperti itu dijalani #ZhangDa selama 5 tahun, tetapi badannya tetap sehat, segar, dan kuat #kisahZhangDa

22. Rehat dulu yaaa guys, nanti abis maghrib kita kelarin deeh...

23. Kita lanjut yaa... :)

24. Kita masih dalam artikel #kisahZhangDa sang anak kecil yang memiliki sifat dan sikap luar biasa yg kami ambil dari majalah *Kinan

25. #ZhangDa merawat ayahnya yg sakit sejak dia berumur 10 tahun, ia mengendong ayahnya ke wc, ia menyela dan sesekali memandikannya

26. #ZhangDa membeli beras dan membuat bubur, dan segala keperluan ayahnya semua dia kerjakan dg rasa tanggungjawabnya sehari-hari :'(

27. Bahkan #ZhangDa menyuntik sendiri ayahnya. Obat mahal dan jauhnya tempat berobat membuatnya berpikir utk menemukan cara terbaik >

28. > Dalam mengatasi semua masalah ini. akhirnya sejak umur 10 th dia belajar ttg obat2an melalui sebuah buku bekas yg dibelinya

29. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan suntikan kpd pasiennya. Setelah ia mampu, >

30. > Ia nekat untuk menyuntik ayahnya sendiri. Sekarang pekerjaan menyuntik sdh dia jalani lebih kurang 5 tahun, #ZhangDa sdh terampil

31. Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis, orang terkenal yg hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut tertuju pd #ZhangDa

32. Pembawa acara (mc) bertanya kepadanya, "#ZhangDa sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana,& apa yg kamu rindukan utk terjadi dlm hidupmu

33. ... Berapa uang yg kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah? Besar nanti kau kuliah di mana? Sebut saja. Pokoknya apa yg kamu idam2kan >

34. > Sebut saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yg hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yg sdg melihat >

35. > Melihat kamu dari layar TV, mereka bisa membantumu!" #ZhangDa pun terdiam dan tdk menjawab apa-apa

36. MC pun berkata kepadanya lagi, "Sebut saja, mereka bisa membantumu."

37. (Sejenak, mimin ambil nafas, karena inilah jawaban yg membuat meleleh air mata ini, membuat terenyuh hati ini) :'(

38. Beberapa menit #ZhangDa masih terdiam, lalu dg suara gemetar ia pun menjawab, "Aku mau ibuku kembali. Ibu kembalilah ke rumah, >

39. > Aku bisa membantu ayah, aku bisa cari makan sendiri, ibu kembalilah!" Begitu kata #ZhangDa :'(

40. Semua yg hadir spontan menitikkan air mata karena terharu. Tdk ada yg menyangkan akan apa yg keluar dari bibirnya :'(

41. Mengapa ia tidak meminta kemuahan utk pengobatan ayahnya? Mengapa ia tidak meminta deposito yg cukup utk meringankan beban hidupnya?

42. Dan meringankan sedikit bekal utk masa depannya? Mengapa ia tdk meminta rumah kecil yg dekat dg rumah sakit?

43. Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan pasti semua akan membantunya? :'(

44. Mungkin apa yg dimintanya, itulah yg paling utama bagi dirinya. "AKU MAU IBU KEMBALI" sebuah ungkapan yg mungkin sdh dipendam sejak dulu

45. Sejak ibunya pergi meninggalkan dia dan ayahnya :'(

46. Demikian #kisahZhangDa semoga bisa menginspirasi kita cc @VampireMuslimah @Sastriviana @subhanafifi @rimba56 @kupinang


 Ditulis ulang oleh Mahmud Thorif
foto http://www.apakabardunia.com/2011/06/zhang-da-kisah-seorang-anak-teladan.html

Generasi Tangguh

Oleh Yusuf Sabiq Zaenuddin

Kasih sayang Allah sangat luas pada hamba-Nya. Manusia dilahirkan lemah tak berdaya, hewan dilahirkan dalam keadaaan mampu berdiri dan berlari. Kasih sayang terbesar seekor induk elang adalah ketika dia melempar sang anak dari sarangnya.

Ada slogan iklan, ”Kamu bisa! Kamu hebat! Kamu juara!” Benarkah untuk menciptakan seorang yang hebat itu hanya sekedar memperhatikan kekuatan fisiknya saja? Bukankah untuk menciptakan seorang tokoh bisa dikerjakan sambil lalu? Tentunya tidak, untuk menjadi orang hebat, orang serba bisa, dan juara harus seimbang dalam 3 jenis, baik gizi, jasmani dan rohani, maupun intelektualnya.

Asupan tiga jenis gizi itu harus seimbang. Fisiknya harus sehat, jasmani dan rohaninya pun harus sehat, kecerdasan intelaktualnya pun terpantau. Hal-hal yang bersifat fisik misalnya ketika ia mengalami sakit panas, batuk, gatal yang dirasakan bisa diantisipasi, tetapi kebanyakan orang mengabaikan dari sisi spritualnya.

Zaman persaingan globalisasi tak pernah menemukan kata henti, persaingan adalah tanda kehidupan. Hanya saja sering kali pola komunikasi antara anak dan orangtua tidak dengan memberi kesempatan untuk memilih. Parahnya, anak tidak diberi kesempatan membuat keputusan, justru orangtua yang memutuskan segala sesuatu untuk anak, padahal memilih dan mengambil keputusan merupakan inti dari ketangguhan.

Ketangguhan merupakan sebuah sikap hidup dari upaya kepengasuhan yang komprehensif. Hal ini perlu diawali dengan kesepakatan orangtua tentang anak. Kalau kita berkaca pada seekor burung elang, puncak kasih sayang seekor induk elang adalah ketika ia mampu menendang anaknya dari sarangnya. Seperti kita ketahui sarang burung elang berada di atas bukit cadas. Dengan lemparan itu, anak elang jadi terpaksa mengeluarkan kemampuannya, akhirnya dia survive. Elang adalah inspirasi bagi rasa percaya diri, elang selalu terbang sendiri.

Anak yang tidak pernah gagal dalam hidupnya, tidak akan tahu apa artinya berhasil. Anak yang tidak pernah kecewa tidak tahu bagaimana nikmatnya mencapai dan memperoleh sesuatu. Hal itu mudah diucapkan tapi berat dilaksanakan karena umumnya orangtua selain selalu ingin menyenangkan anak, tapi tanpa sengaja mengharap naka mampu mewujudkan mimpi pribadi orangtua yang tidak tergapai.

Bagaimana dengan sisi spritualnya? Mengenal Allah adalah ilmu tertinggi, memperkenalkan kepada anak bahwa di atas segalanya ada Sang Maha Kuasa. Allah memperhitungkan upaya seseorang, bukan pada hasilnya. Jadi bekal spiritual dalam jiwa anak adalah syarat mutlak untuk mencetak pribadi tangguh. Dengan begitu, anak akan menikmati proses pendakian dalam hidupnya sendiri.

Proses menciptakan generasi tangguh itu dimulai jauh-jauh hari ketika memilih pasangan, Rasulullah bersabda “Wanita dinikahi karena 4 perkara, yakni karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya dan karena agamanya. Berbahagialah orang yang menikahi wanita karena agamanya, dan merugilah orang yang menikahi wanita hanya karena harta, kecantikan dan keturunannya” (HR. Bukhori-Muslim). Dalam hadits yang lain, Rasulullah mengingatkan agar kita selalu melakukan yang terbaik, apalagi terhadap yang kita cintai. ”Sebaik-baiknya kamu adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku”(HR Tirmidzi).||


*) Yusuf Sabiq Zaenuddin, Staf Pengajar di SDIT An Nida, Sokaraja, Banyumas
Foto dokumen SDIT Hidayatullah Yogyakarta

Berbicara Sesuai Kadar Akal Anak

Oleh Ali Rahmanto,

Seperti halnya makhluk hidup yang lain, anak-anak memiliki keterbatasan yang tidak mampu dilampauinya. Akal dan pikiran anak sedang dalam masa pertumbuhan. Pengetahuan kedua orangtua dan guru tentang tingkatan pertumbuhan akal anak cukup memudahkan mereka untuk memberikan solusi bagi berbagai masalah yang dihadapi anak. Karena, dengan pengetahuan tersebut, mereka mengetahui kapan harus berbicara dengan anak, kalimat apa yang harus dipakai dan pola pikir apa yang hendak diungkapkan.
Jika dalam teori perkembangan kognitif yang dikembangkan oleh Jean Piaget, menytakan adanya pentahapan perkembangan kognisi pada anak; tahap sensori motor (lahir hingga 2 tahun), tahap pra operasional (2 th hingga 7 tahun), tahap operasional kongkrit (7 th hingga 11 th), dan tahap operasional formal (11 tahun keatas). Masing-masing tahap memiliki ciri dan metode tersendiri dalam pengajarannya. Pada  tahap sensori motor misalnya, anak akan mampu mempelajari sesuatu dengan segala sesuatu yang terindera dan serta bejar tentang permanensi objek. Kemudian pada tahap berikutnya, pra operasional; memiliki kecakapan motorik. Contoh kongkritnya adalah ketika mengajarkan kepada anak tentang perilaku hidup jujur. Maka cara pengajaran adalah dengan bukti-bukti perilaku yang menunjukkan adanya kejujuran. Baru ketika telah terbentuk konsep tentang kejujuran di ruang pikir anak, kita bisa mengenalkan tentang jujur secara definitif, pada tahap operasional formal, di mana anak-anak  telah berkembang penalaran abstraknya.
Dalam peristiwa sebelum Perang Badar, para sahabat menangkap seorang anak kecil yang menjadi penggembala kaum Quraisy. Mereka menanyakan jumlah tentara Quraisy, namun anak tersebut tidak bisa menjawab. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun datang. Tak diragukan lagi, beliau adalah seorang psikolog yang ulung. Beliau bertanya pada anak itu, “Berapa banyak unta yang mereka sembelih?” Anak itu menjawab, “Antara 9 hingga 10 ekor,” Rasulullah pun bersabda, “Jumlah mereka antara 900 hingga 1000 personel,” Beliau tahu bahwa anak itu tidak mengerti hitungan dalam ribuan, kemampuan akalnya hanya dalam hitungan puluhan, yakni puluhan unta yang mudah dihitung oleh setiap anak kecil, dan itu sudah cukup besar bagi mereka.
Ada pula contoh lain tatkala Rasulullah memanggil seorang gadis kecil dengan bahasa Abessina yang dipahaminya. Jika beliau berbicara dengan bahasa lain, sudah tentu gadis kecil ini tidak akan mampu memahami perkataan beliau. Ibnu Taimiyah, dalam kitab Iqtidha’ ash Shiroth al Mustaqim menyebutkan bahwa Rasulullah berkata pada Ummu Khalid bin Sa’d bin ‘Ash, saat itu masih gadis kecil. Beliau memberinya seperangkat pakaian dan bersabda dalam bahas Abbessina, yang artinya, “Wahai Ummu Khalid, ini bagus,”
Di antara contoh lain adalah tatkala Anas kurang bisa mengerjakan suatu pekerjaan atau lupa sehingga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun menghukumnya. Rasulullah yang mengerti batas kemampuan seorang anak pun bersabda, “Biarkanlah dia, kalau dia mampu, pasti dia kerjakan,” Artinya, seorang anak memiliki kekuatan berpikir dan kemampuan tubuh yang terbatas. Menuntutnya melakukan sesuatu di luar batas kemampuannya sama saja dengan menaburkan benih di udara.
Ketika bercanda dengan anak, Rasulullah pun menggunakan media yang sesuai dengan akal dan kemampuan mereka. Beliau bercanda dengan anak dengan menggunakan sesuatu yang dapat mereka raba dan mereka kenali dengan baik. Bukankah canda beliau kepada Abu ‘Umair, “Wahai Abu ‘Umair, bagaimana keadaan burung pipit itu?” merupakan bukti atas hal ini? Karena burung pipit adalah burung kecil yang dipakai sebagai mainan oleh annak kecil.

Berdialog dengan anak di luar batas kemampuan pikirannya justru akan menemui pembangkangan dan penolakan. Jika ada seseorang yang memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu dengan bahasa yang tidak kita mengerti, maka apakah kita akan melakukannya? Apakah itu adil? Demikian pula dengan anak-anak.

*) Ali Rahmanto, Pemerhati dunia anak, tinggal di Yogya

Sampai Kapan Menunggu Siap Menikah?

Oleh O. Solihin
Seorang teman pernah bercerita, ia ingin sekali menikah. Tapi ia masih ragu dengan dirinya sendiri: “Adakah seorang gadis yang mau menikah denganku?” “Masih pantaskah aku berharap cinta dari seseorang yang mau menerima keadaanku yang seperti ini?”. Mungkin saja tipe ikhwan yang seperti ini agak-agak kurang percaya diri. Tapi, ternyata memang ada juga yang seperti ini. Agak banyak pula.
Sangat boleh jadi ada banyak ikhwan yang mungkin sadar diri dengan kondisi yang dimilikinya. Merasa tak perlu berharap banyak ada seorang gadis yang mau berbagi rasa dengannya. Bahkan sangat boleh jadi, bermimpi untuk menikah pun adalah sebuah kemewahan dan khayalan tingkat tinggi baginya. Ia merasa harus terus menunggu. “Menunggumu.. menunggumu…” (seperti lirik lagu Peterpan ya?)
Seorang teman lain sempat bercerita, ada seorang akhwat yang hanya mau menikah dengan seorang ikhwan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkannya. Tak jadi soal sebenarnya. Tapi saudaraku, kriteria yang ditetapkan sang akhwat itu terlalu spesifik dan terlalu tinggi. Entah, mungkin sang akhwat memang memilikibargaining position yang tinggi, sehingga berani memasang target “wah”.
Akhwat yang diceritakan teman saya itu ternyata menyusun kriteria ikhwan idamannya antar lain; sarjana, pandai bahasa Arab, aktivis dakwah, wajahnya lumayan tidak malu-maluin jika diajak kondangan, dan syarat lainnya yang tak bisa disebutkan di sini.
Lama tak kunjung datang pria idaman, sementara usia terus merambat naik tak kenal kompromi. Sang akhwat kebingungan dan (mungkin) putus asa. Padahal, ia merindukan ada ungkapan tulus dari seorang ikhwan yang menyatakan cinta kepadanya dan meminta izin untuk menjadi pendamping hidupnya. Tiga kata yang dirindukannya dari seorang ikhwan itu sangat sederhana: “Izinkan aku menikahimu”. Sayang, sang ikhwan idaman tak ada yang datang meminangnya. Sementara usianya terus merambat naik dan membuat khawatir keluarga yang dicintainya, juga dirinya.
Menurut Pak Fauzil Adhim[1], banyaknya muslimah yang belum menikah di usianya yang sudah cukup rawan bukannya tidak siap, tetapi karena mereka tidak pernah mempersiapkan diri. Kesiapan di sini, termasuk di dalamnya adalah kesiapan untuk menerima calon yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sebenarnya, meski jika ditilik kembali sesungguhnya lelaki tersebut sudah memiliki persyaratan yang ‘sedikit’ lebih dibanding lelaki biasa. Misalnya, setidaknya sholatnya benar, akhlaknya baik, tidak berbuat syirik dan pergaulannya tidak jauh dari orang-orang shaleh. Artinya, lanjut Pak Fauzil, tidak usah mematok kriteria terlalu tinggi. Walaupun sebenarnya, sah-sah saja untuk melakukannya.
Jika antara ikhwan dan akhwat ternyata “saling menunggu”. Mungkin sang ikhwan kurang percaya diri dengan kondisinya. Sehingga mengharuskan ia merasa untuk menunggu saja. Tidak berusaha. Tidak mengupayakan cinta yang dimilikinya untuk disambut gadis pujaan hatinya. Ia diam saja. Menunggu.
Mungkin juga ikhwan yang sedang ‘menunggu’ itu sebenarnya sudah sangat percaya diri bahwa ia bisa mengupayakan cintanya bertaut dengan cinta akhwat idamannya. Tapi, ia masih terganjal studi, ia masih dibebani tugas dari orangtuanya untuk bekerja lebih dulu, mungkin juga ia merasa belum mapan secara finansial meski sudah bekerja. Banyak alasan memang. Tapi, tetap saja posisinya yang demikian itu adalah dalam masa menunggu. Menunggu yang seringkali tak pasti juga.
Bila banyak ikhwan yang berada dalam kondisi seperti tadi, tak beda juga dengan para akhwat. Apalagi para akhwat sering diposisikan sebagai “penerima”. Sehingga geraknya untuk hunting ikhwan jadi agak-agak terbatasi. Dalam kondisi ini, mungkin juga banyak akhwat yang sebenarnya tidak memasang kriteria ikhwan idamannya dengan syarat yang tinggi, atau terlalu tinggi. Asal, lelaki yang mau menikahinya sudah mukmin dan perangainya baik (dan tentu mencitainya), insya Allah akan disambutnya dengan suka-cita dan rasa syukur.
Model akhwat yang seperti ini, biasanya selain karena level keimanannya yang insya Allah sudah cukup bagus, juga mungkin karena merasa ‘kurang pede’ dengan kondisi dirinya. Merasa memiliki penampilan yang biasa-biasa saja, merasa dari kalangan keluarga yang ekonominya lemah, sadar diri karena hanya berbekal pendidikan di tingkat menengah saja, dan lain sebagainya. Ini juga bisa menjadi alasan mengapa sang akhwat merasa perlu untuk berada dalam posisi “menunggu”.
Seorang guru ngaji saya beberapa tahun lalu pernah menyampaikan rasa ‘khawatir’ dengan nada pertanyaan yang cukup masuk akal, “Mengapa banyak ikhwan yang rasanya sudah cukup mampu untuk menikah, tetapi tidak segera menikah? Sementara di satu sisi, ada banyak akhwat yang siap menikah.” Rasa khawatir guru ngaji saya memang cukup beralasan. Karena faktanya memang ada yang seperti itu.
Mungkin sudah saatnya, para ikhwan dan para akhwat membuka diri untuk mengupayakan cinta agar bisa saling bersambut. Tak harus selamanya menunggu siap menikah. Karena waktu terus berjalan dan kita tak sempat lagi untuk menunggu lebih lama. Ini terlepas dari persoalan jodoh yang tak kunjung tiba. Kita hanya mengusahakan. Kita hanya bisa berencana dan Allah jualah yang menentukan segalanya. Meski soal jodoh, bukan berarti kita punya alasan untuk menunggu terus. Mau sampai kapan? Jika sudah diupayakan, rasa-rasanya agak pantas jika bersabar ketika belum juga datang jodoh untuk kita. Jadi, apakah tetap akan menunggu siap menikah atau wajib mempersiapkan diri untuk menikah?
Salam,
O. Solihin
Ingin berbincang dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

Mendekatkan Anak pada Alquran

Oleh Slamet Waltoyo

Mendekatkan pada Alquran diawali dengan mencintainya. Dengan menanamkan kecintaan anak pada Alquran, maka kecintaan ini akan bersemi di masa dewasanya sehingga kecintaan pada Alquran ini kelak akan mendominasi cintanya kepada hal hal lain. Maka yang menjadi perkara penting adalah bagaimana menanamkan cinta anak pada Alquran?

Pertama, berilah kasih sayang dengan tulus sebagai bukti cinta anda kepada anak. Kasih sayang yang ditunjukkan secara alami, layaknya kasih sayang orangtua kepada anak-anaknya, ataupun kasih sayang seorang guru kepada murid-muridnya. Kasih sayang ini akan menumbuhkan reaksi pada anak, bahwa anda adalah orangtua atau guru yang harus dicintai, dihormati dan diteladani.

Maka ketika anda menunjukkan kecintaannya pada Alquran, dengan cintanya yang tulus dan alami, anak pun akan merasa berkewajiban untuk meneladani. Anak akan mengikuti  bagaimana anda mencintai Alquran. Maka saatnya anda berbicara kepada anak. Al Quran itu apa? Gunakan bahasa yang sesuai untuk menyatakan bahwa Alquran adalah firman Allah. Alquran adalah petunjuk hidup. Pahala bagi para penghafal dan pembacanya.

Kedua, para pakar pendidikan Islam sepakat bahwa untuk mendekatkan anak pada Alquran dimulai dari belajar membacanya. Inlah kewajiban anda sebagai orangtua terhadap anak. Untuk mendukung ini, masukkan anak anda ke sekolah atau madrasah yang mengajarkan Alquran dengan sungguh-sungguh. Ibnu Khaldun menunjuk pentingnya pendidikan Alquran. Beliau mengatakan bahwa pendidikan Alquran merupakan fondasi seluruh kurikulum pendidikan di dunia Islam. Hal senada dikemukakan oleh Ibnu Sina. Menurutnya, segenap potensi anak hendaknya dicurahkan untuk menerima pendidikan utama ini ( Alquran), agar anak mendapat bahasa aslinya.

Tidak cukup hanya dengan memasukkan anak ke sekolah atau madrasah yang mengajarkan Alquran. Hal yang utama adalah bagaimana anda membangun budaya di rumah atas dasar kecintaan pada Alquran. Dari pengalaman penulis, anak yang belajar  Alquran dapat dikelompokkan dalam tiga tipe. Pertama, anak yang semangat selalu hadir belajar Alquran meskipun hujan, sedikit kecewa jika libur. Kedua, anak yang bertahan sebagai murid tetapi jika ada kendala sedikit, mudah beralasan untuk tidak hadir. Ketiga, anak yang belajarnya hanya bertahan dalam hitungan sepekan dua pekan. Ternyata ketiga tipe ini sangat terkait dengan kesungguhan orangtua menanamkan kecintaan pada Alquran.  Di antara anak-anak yang masuk dalam tipe pertama adalah dari orangtua yang belum bisa baca Al Quran tetapi mereka bersemangat belajar untuk bisa membaca Al Quran.

Ketiga, menjadikan Al Quran sebagai hukum, aturan, ilmu, dan peristiwa yang hidup di mata anak-anak. Dengan memberi sebanyak mungkin pengalaman spiritual yang terkait dengan kandungan Alquran. Meminjam istilah Fauzil Adhim; dengan mengajarkan Alquran secara kontekstual.


Pada saat terjadi hujan,  kita dapat menjelaskan bagaimana Allah ta’ala menghidupkan   bumi yang mati sehingga menjadi subur dan petani dapat menanam aneka palawija, sebagaimana tertulis dalam Al Baqarah:164. Kita juga dapat menjelaskan tentang Maha Adilnya Allah Ta’ala dalam membagi rezeki pada saat menjelaskan keanekaragaman morfologi makhluk hidup. Misalnya; mengapa kaki itik dan angsa berselaput sedangkan kaki ayam dan merpati tidak berselaput.  Mengapa bentuk mulut kupu-kupu seperti belalai sedangkan bentuk mulut nyamuk seperti jarum. Bukan karena kepandaian hewan dalam menyesuaikan diri tetapi karena Allah Ta’ala yang Maha Pandai dan Maha Adil, sebagaimana tertulis dalam Surat Huud:6. Ketika menjumpai peristiwa kelahiran seorang bayi atau kematian seseorang, merupakan penjelas bahwa Allah Ta’ala  menjadikan manusia itu semula mati kemudian menghidupkan, kemudian mematikan kemudian menghidupkan untuk kembali kepada-Nya, sebagaimana tertulis dalam Al Baqarah:28.

Generasi Pecinta Alquran

Oleh Tri Buwono, al Hafizh

Kita pasti akan merasa bangga dan tenteram memiliki anak-anak yang hafal Alquran dan senantiasa mencintainya . Apalagi jika berhias dengan akhlaq Alquran. Subhanallah, hati siapa yang tidak berbangga dan merasa tenteram dengan anak-anak sedemikian rupa. Merekalah generasi pecinta Alquran. Akan tetapi bagaimana kita dapat membiasakan anak-anak kita mencintai Alquran, jika kita sendiri tidak berusaha membaca dan menghafal Alquran atau berhias dengan akhlaq Alquran. Buatlah anak-anak kita mencintai diri kita sehingga anak-anak kita pun akan mencintai apa yang kita cintai.

Ada beberapa hal yang patut kita perhatikan agar anak-anak kita menjad generasi pecinta Alquran
Pertama, jadilah teladan yang baik. Sejumlah eksperiman dan penelitian berhasil membuktikan bahwa cara yang terbaik untuk membentuk dan mentransfer pengetahuan menjadi sesuatu yang riil dan kongkret adalah dengan menjadi sosok yang perbuatannya dapat diteladani. Oleh karena itu, jika kita ingin menanamkan perasaan cinta kepada Alquran di hati anak-anak kita, maka apapun yang kita lakukan hendaknya bisa menjadi teladan bagi mereka.

Kedua, lingkungan yang mendukung. Rumah merupakan lingkungan pertama setiap orang. Di sinilah seseorang akan tumbuh dan berkembang. Jika rumah menjadi taman pendidikan yang baik bagi penghuninya, maka rumah ini akan menghasilkan pohon yang baik dan buah yang menggiurkan. Rumah yang senantiasa digunakan untuk melaksanakan ketakwaan kepada Allah, seperti sholat (sunnah bagi laki-laki), membaca Alquran, ada tegur sapa di antara penghuninya, yang besar menyayangi yang lebih kecil dan sebaliknya yang kecil menghormati hak-hak yang lebih dewasa, maka rumah yang seperrti ini insya Allah akan mendapatkan pancaran cahaya dari Allah, sebagaimana firman-Nya di dalam surat An-Nuur ayat 36:
"(cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya. Di sana bertasbih (mensucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang.”

Ketiga, memilihkan waktu yang tepat
Orang yang ingin menghafal Alquran sebaiknya berusaha keras menyisihkan waktu khusus untuk menghafalnya. Selain itu, dia juga harus mengoptimalkan potensi diri yang ada dan memohon kemudahan kepada Allah karena semua yang terjadi adalah atas kehendak-Nya. Waktu yang paling ideal untuk mengasa akal batin kita adalah pada waktu malam hari atau sebelum tidur. Sebab perkataan malam hari itu lebih berat (berbobot) dan lebih berkesan, sebagaimana firman Allah di dalam surat Al-Muzzammil ayat 5-6


"Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih kuat (mengisi jiwa) dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan". Atau bisa juga setelah sholat subuh karena Rasulullah mendoakan para hamba yang bersegera dalam kebaikan di pagi hari."Ya Allah, berkahilah hambaku di pagi harinya" Dapat juga di pertengahan waktu antara maghrib dan isy'a. Perlu diingat, ada hal yang lebih penting, yakni berusaha menyisikan waktu untuk Allah dan berusaha beristiqomah pada waktu-waktu tersebut. Selamat mencoba, semoga Allah memudahkan kita, keluarga kita, dan kerabat-kerabat kita untuk menjadi generasi pecinta Alquran. Amin.., ya robbal ‘alamin…

Kajut : Agar Anak Mencintai Alquran

Oleh R. Bagus Priyosembodo

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Rasululah mengabarkan kepada kita. Kemuliaan dan ketinggian derajat seorang muslim menjadi semakin tinggi oleh amal belajar dan mengajar Alquran. Mukmin yang tidak belajar Alquran tidak semulia mukmin yang belajar Alquran. Maka terampil membaca Alquran, menghafalnya, seksama dalam mempelajari tafsir dan pengertian yang bisa diambil darinya, meluangkan waktu serta tenaga untuk memahamkan orang lain, dan istiqomah dalam melakukannya sepanjang hayat adalah amalan pemulia diri yang semestinya ada pada diri kita. Hal ini merupakan pemberian yang amat berharga bagi anak-anak kita.

Para ulama benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Alquran dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Tapi sebelum menugasinya menghafal, ada hal penting yang perlu diperhatikan, yakni membangun kesiapan dan kecintaannya pada Alquran. Memaksa anak untuk mempelajari  Alquran tanpa keberhasilan menumbuhkan rasa cinta dan semangat dari dalam diri anak tidak akan memberi faedah yang besar. Bahkan bisa berakibat buruk pada anak.

Keteladanan adalah cara paling penting dalam menanamkan rasa cinta anak terhadap Alquran. Orangtua yang terlihat menikmati ketika membaca Alquran setiap hari tampak pada wajahnya yang melukiskan kesenangan dan kepuasan saat menyimak bacaan yang terdengar merdu.  Keistiqomahan dengan segala mujahadah untuk hadir di majelis ilmu yang membahas Alquran.

Anak-anak akan berinteraksi dengan Alquran disertai perhatian, ketertarikan yang besar, dan juga keasyikan ketika mereka menikmati kisah-kisah berbarokah yang terdapat dalam Alquran. Kisah yang benar dan terbahasakan menarik yang ada dalam Alquran akan membangkitkan kejujuran, kesabaran, keberanian, dan segenap limpahan sifat baik yang lain. Anak-anak semakin mencintai Alquran juga akibat dari keasyikan yang mereka rasakan ketika mengikuti pengisahan Alquran ini, baik disampaikan oleh orangtuanya sendiri ataupun guru yang lain. Pengadaan acara pengisahan ini di keluarga ataupun sekolah merupakan upaya yang penting untuk menumbuhkan kecintaan padanya.

Anak-anak membutuhkan proses untuk menjadi siap mempelajari Alquran, mencintainya, dan berstamina tinggi dalam mempelajarinya. Ketidaksabaran orangtua dan pembimbing merupakan benalu ganas yang bisa membikin layu kesenangan anak terhadap cinta belajar Alquran. Hendaklah berhati-hati. Kemauan yang besar dan semangat tinggi dari orangtua tidak boleh menjadikannya tergesa marah ketika anak belum siap belajar. Mesti ada kemampuan untuk bersabar dalam membersamai mereka dalam menumbuhkan dorongan belajar dari dalam diri anak-anak. Menguatkan stamina belajarnya dan membentuk budaya belajar Alquran baginya. Pemberian hadiah sebagai penguat kegembiraan hati anak dalam merasakan berbagai tingkat keberhasilannya semasa belajar Alquran merupakan upaya bagus.

Orangtua mesti pandai memilih waktu untuk belajar anak. Kejengkelan yang semakin menumpuk karena anak sering mendapatkan marah ketika ia terlihat lambat dan malas bisa memupus semangatnya. Padahal sering terjadi, anak yang bukanlah malas tapi dianggap pantas menerima kemarahan.  Kadang tampak demikian karena ada gangguan pada badannya. Hal ini penting diperhatikan supaya orangtua dan guru menjadi mampu lebih bijak. Orangtua tidak boleh menganggap anak bagaikan  alat yang dapat dimainkan kapan saja. Ada banyak keperluan yang mesti diperhatikan agar anak tetap tumbuh sehat. Jika orangtua ingin menanamkan rasa cinta terhadap Alquran di hati anak, maka orangtua  harus memilih waktu yang tepat untuk menghafal dan berinteraksi dengan Alquran.

Merupakan waktu yang berat buat anak untuk belajar manakala ia kurang tidur setelah lama berjaga. Saat badan benar-benar letih sehabis menguras tenaganya. Baru saja perut kenyang dan belum terasa longgar. Hatinya sedang amat sedih atau jengkel marah-marah.


Berlaku bijak dan terampil melakukan upaya berharga lain merupakan hal yang mesti ada untuk meraih keberhasilan menjadikan ahli Alquran. Satu hal lain yang tak boleh dilalaikan adalah berdoa penuh kesungguhan dan sepenuh tawakal kepada Allah Ta’ala atas keberhasilan upaya yang dilakukan.||

*) R. Bagus Priyosembodo, Redaktur Ahli Majalah Fahma
foto Murid SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta saat halaqah