Parenting : Menjangkau Masa Depan

doc/thorif
Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Tidak ada yang berubah dalam prinsip sejarah. Berpijak pada pengetahuan yang luas dan pemahaman yang mendalam tentang sejarah, kita dapat membayangkan masa depan. Kita bisa membaca gambaran tentang apa yang kira-kira akan terwujud di masa depan jika hari ini keadaannya seperti ini; serta apa yang bisa kita lakukan agar sejarah di masa yang akan datang bisa berbelok ke arah yang lebih baik atau bahkan memutar dari kemungkinan buruk kepada tatanan yang insya-Allah penuh kemuliaan dan kebarakahan.

Prinsip-prinsip sejarah itu pasti dan karenanya bisa menjadi pelajaran yang nyata bijak menata diri dan hidup ini. Masalahnya adalah, peristiwa sejarah berbeda dengan catatan sejarah. Catatan yang sampai kepada kita belum tentu sama persis dengan peristiwa sesungguhnya yang terjadi dalam sejarah. Banyak hal yang mempengaruhi proses pencatatan sejarah, sehingga tidak betul-betul menggambarkan rangkaian peristiwa sejarah yang sesungguhnya dan bahkan menyimpang jauh dari keadaan yang sebenarnya. Kepentingan penguasa merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh.

Apa akibatnya jika kita salah mempelajari sejarah? Salah satunya kesalahan memahami prinsip atau bahkan salah dalam menyimpulkan prinsip sejarah. Ini terjadi karena rangkaian peristiwanya tidak utuh lagi. Antara peristiwa pendahuluan dengan peristiwa berikutnya yang merupakan rangkaian akibat, sudah banyak yang berubah sehingga kita salah dalam menyimpulkan. Itu sebabnya, kita perlu sumber belajar yang benar-benar bisa dipertanggung-jawabkan. Semoga dengan itu kita bisa menjangkau masa depan! Kita arif merumuskan langkah karena memahami hukum sejarah dengan benar dan matang. Kita berhati-hati dalam bertindak karena telah mereguk banyak pelajaran betapa hilangnya sifat hati-hati dapat menyebabkan rusaknya benih-benih kebaikan.

Apakah sumber belajar yang pasti benarnya? Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah. Al-Qur’an menceritakan beberapa peristiwa sejarah yang membawa perubahan besar. Ia menuturkan kepada kita langsung kepada pokok-pokok peristiwa terpenting, peristiwa yang menjadi penentu. Sedangkan As-Sunnah Ash-Shahihah menunjukkan kepada kita kesaksian tentang peristiwa-peristiwa melalui proses transmisi (periwayatan) yang ketat; baik jalur periwayatan, redaksi teks –jika merupakan sabda Nabi saw.—maupun kredibilitas serta integritas periwayatnya.

Dari dua sumber pokok inilah prinsip-prinsip sejarah dirumuskan untuk selanjutnya menjadi pegangan dalam mengembangkan kaidah-kaidah sejarah yang lebih luas. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membangun masa depan jika mampu memahami prinsip-prinsip sejarah dengan baik dan mengembangkan kaidah-kaidahnya untuk berbagai bidang kehidupan. Ini pula yang harus kita tanamkan pada anak-anak agar kelak mereka mampu bijak menyikapi hidup. Figur besar seperti Ibnu Khaldun misalnya, mengembangkan prinsip-prinsip sejarah yang digali dari pemahamannya terhadap tuntunan dienul Islam tentang sejarah. Dari sini, Ibnu Khaldun menulis kitabnya yang sangat fenomenal bertajuk Muqaddimah; kitab yang meletakkan dasar-dasar ilmu sosiologi modern.

Hari ini, kalau kita belajar sosiologi modern, kita berhutang jasa pada Ibnu Khaldun. Hari ini, berbagai negeri maju dapat mengembangkan negerinya berkat ilmu sosiologi yang dibangun oleh Ibnu Khaldun, meski sudah berkembang sangat jauh dan bahkan sudah bergeser dari kebenaran. Melalui sosiologi, kita bisa membaca persoalan masyarakat secara lebih sederhana sehingga memudahkan kita dalam mengambil langkah strategis untuk memecahkan persoalan tersebut.

Anak-anak kita kelak insya-Allah akan dapat mengembangkan ilmu yang lebih luas ragamnya melalui pemahaman sejarah yang tepat. Prinsip-prinsip sejarah yang kita gali dari sumber belajar utama, kemudian kita kembangkan dengan melihat berbagai realitas sejarah yang terjadi di masa-masa berikutnya, insya-Allah bisa menjadi bekal untuk mengembangkan ilmu yang mengkaji satu disiplin secara khusus, misalnya tentang perilaku organisasi, pengem¬bangan pendidikan serta berbagai cabang ilmu lainnya.

Nah, apakah yang sudah kita lakukan untuk mengantar anak-anak menjangkau masa depan? Sejarah telah terbentang. Terserah kepada kita, mau mengambil pelajaran atau tidak.

Sumber tulisan www.kupinang.com

Parenting : Sekolah Mana yang Baik untuk Anak Saya?

doc/thorif
Oleh Hepi Wahyuningsih

Pada bulan Mei dan Juni biasanya banyak orangtua yang disibukkan dengan kegiatan mencari sekolah untuk anak-anak mereka. Demikian juga para orangtua yang memiliki anak-anak balita, mereka mulai mencari sekolah Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak untuk anak-anak mereka. Dengan semakin banyaknya model sekolah yang ditawarkan membuat orangtua kadang-kadang menjadi bingung ketika harus memilih sekolah. Berikut ini ada beberapa tips memilih sekolah untuk anak TK atau KB yang penulis olah kembali dari beberapa sumber di internet.

Pertama, kita perlu melihat kurikulum yang ditawarkan oleh sekolah. Sekolah yang kita pilih tentunya adalah sekolah yang kurikulumnya sesuai dengan visi dan misi kita. Misalnya jika kita ingin anak kita berperilaku islami, tentu kita harus memilih sekolah yang memiliki kurikulum pembentukan perilaku islami. Selain itu, kita juga perlu memilih sekolah yang kurikulumnya sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Anak pada masa prasekolah mulai belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial (teman-teman dan orang dewasa di sekitarnya), mulai menunjukkan ketertarikan terhadap lingkungan sekitar, mulai belajar kemandirian, dan kreativitas anak juga mulai nampak. Oleh karena itu, kita perlu memilih sekolah yang aktivitas sehari-harinya mampu mengajari anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, mendukung rasa ingin tahu anak, mengembangkan kemandirian anak dan mampu memupuk kreativitas anak.

Kedua, yang tidak kalah penting adalah kualifikasi guru-guru di sekolah yang akan kita pilih. Kita perlu melihat apakah guru-guru yang ada di sekolah tersebut merupakan guru-guru yang berpengalaman atau tidak. Kita bisa mengetahuinya dengan melihat tingkat pendidikan mereka dan banyaknya pelatihan yang mereka ikuti terkait dengan tugas sebagai seorang guru. Guru yang baik adalah guru yang sensitive dan responsive terhadap kebutuhan anak sehingga anak merasa aman. Kita dapat melihatnya dengan mengamati bagaimana interaksi guru-guru dengan murid-muridnya, terutama guru yang akan menjadi guru anak kita. Perbandingan antara jumlah guru dengan murid juga perlu diperhatikan, idealnya untuk program TK 1:10, sedangkan untuk KB tentunya perbandingannya lebih kecil lagi.

Ketiga, kita perlu memperhatikan kondisi fisik dan fasilitas sekolah. Sekolah yang baik tentunya adalah sekolah yang memperhatikan keselamatan anak dan kesehatan anak. Besarnya perhatian sekolah terhadap keselamatan anak dan kesehatan anak dapat dilihat dari berbagai hal. Misalnya dapat dilihat dari tersedianya mainan yang tidak membahayakan anak (minimal tidak mengandung zat berbahaya dan tidak gampang tertelan), tersedianya fasilitas ruang kelas dan arena bermain di luar yang tidak membahayakan keselamatan anak, kamar mandi yang selalu terjaga kebersihannya dan tidak licin, tersedianya peralatan keselamatan seperti tabung pemadam kebakaran, tersedianya kotak P3K, dan adanya jadwal kunjungan rutin dokter yang senantiasa memantau kesehatan anak. Sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik di ruang kelas juga menjadi indikasi adanya perhatian sekolah terhadap kesehatan siswa. 

Selain ketiga pertimbangan di atas, jarak dari rumah ke sekolah juga perlu menjadi bahan pertimbangan. Jarak yang terlalu jauh tentu akan memakan waktu dan dapat membuat anak kelelahan di perjalanan. Penggunaan mobil antar jemput juga perlu menjadi bahan pertimbangan. Anak yang ikut mobil antar jemput dapat kelelahan jika dia harus dijemput yang pertama karena dia akan ikut menjemput teman-teman yang lain yang akan memakan waktu lebih lama dibanding bila ia langsung diantar ke sekolah. Demikian halnya bila ia diantar paling belakangan. Lamanya waktu di sekolah juga perlu disesuaikan dengan kondisi orangtua dan anak. Misalnya, anak yang daya tahan tubuhnya mudah turun bila terlalu lelah mungkin tidak cocok bersekolah di sekolah yang full-day, terlebih bila ibu sebenarnya juga memiliki banyak waktu di rumah untuk anaknya.

Kegiatan memilih sekolah yang cocok untuk anak kita tentu merupakan kegiatan yang penting karena dapat mempengaruhi masa depan anak kita. Oleh karena itu, kita sebagai orangtua perlu meluangkan waktu untuk benar-benar memikirkan dimana anak kita akan bersekolah nantinya. Mungkin kita tidak akan menemui sekolah benar-benar cocok untuk anak kita, tetapi setidaknya kita harus mendapatkan sekolah yang mendekati kriteria tersebut. Allahu’alam bishowwab. || 

*) Dr. Hepi Wahyuningsih, Staf Pengajar di Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia.

Surat “Cinta” seorang Ibu untuk Generasi Muda Islam

www.hidayatullah.com
Oleh Syifaiyah

SURAT ini sesungguhnya saya tulis di tengah kecemasan mendalam sebagai seorang warga biasa, seorang ibu yang khawatir akan masa depan anak-anak dan generasi muda.
Kasus sodomi yang menimpa murid Jakarta International School (JIS) sungguh memprihatinkan. Fenomena ini setidaknya menunjukkan pada kita bahaya sedang mengancam anak-anak kita.
Survey ini dilakukan oleh Komnas PA bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak di 12 kota besar pada tahun 2012 menjelaskan, dari 4726 anak yang diteliti, 93,7% remaja SMP dan SMA mengaku pernah berciuman, genital stimulation, hingga oral seks. Yang cukup mencengangkan, 62,7% remaja SMP mengaku sudah tidak perawan.
Catatan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) tahun 2013 ada 2.792 kasus  kekerasan seksual, 52 persennya menimpa ana-anak. Sisanya 229 kasus tawuran antar pelajar dll.
***
DUHAI generasi muda penerus peradaban, di tangan kalianlah masa depan teronggok. Akan kalian jadikan apapun itu tergantung kalian. Bangsa ini jadi mulia, terdepan dan kokoh, tergantung kalian. Bangsa ini bisa hancur, berkeping-keping, juga tergantung kalian!
Duhai anak-anak penerus estafet peradaban, amanah teramat besar menanti kalian. Sambutlah dengan senyum dan kebanggaan. Torehkanlah nama kalian dalam sejarah peradaban dengan tinta emas kemuliaan, bukan dengan lumpur hitam berlumur kehinaan.
Wahai generasi emas, dan generasi peradaban! Tempalah diri kalian dengan kepribadian Islam yang kokoh dengan panduan Quran, karena hanya itu ang akan menyelamatkan kalian. Yang lain jelas tidak!
Jadikanlah diri kalian sebagai generasi yang dirindu jannah, yang layak mendapat naungan Allah di saat tak ada lagi naungan kelak di hari akhir.
DUHAI generasi peradaban! Lihatlah sekeliling kalian, lihatlah!
Betapa generasi muda hari ini terlenakan oleh dunia, kesenangan, hura-hura, bahkan atas nama cinta.
Kalian dibuai oleh “cinta” yang hanya kalian ketahui sebatas hasrat (ketertarikan) laki-laki dan perempuan. Cinta telah menjadi kalian “berhala” baru.  Disembah dan dipuja, meracuni lewat lagu, puisi, bacaan, komil, film hingga sinetron.
Lihatlah betapa banyak yang hancur karenanya…..
Kita tentu ingat peristiwa memilukan yang menimpa Ade Sara Angelina (19). Ia ditemukan telah tewas dibunuh oleh mantan pacarnya sendiri, Hafitd (19),  dibantu kekasihnya,  Assyifa (19). Semua dilakukan karena sakit hati “atas nama cinta”.
Lihat pula kisah Mia Nuraini (16), yang meninggal setelah dikeroyok  Albi Haq (21), mantan pacarnya, bersama 7 temannya. Motifnya sama lantaran dendam “anas nama cinta” (Tempo.com, 13/03/2014).
Masih banyak sekali kisah serupa yang melengkapi deretan panjang daftar kerusakan, pembunuhan dan kehancuran generasi muda “atas nama cinta”.
“Atas nama cinta” akhirnya kalian  terpuruk,  hancu dan rela membunuh, merusak dan menghilangkan nyawa orang lain.
DUHAI generasi muda harapan umat!
Sungguh “cinta” tidak lah sama seperti yang dinyatakan Freud, bahwa ianya bak makanan yang jika tak dimakan kan mengantarkan pada kematian. Karena “cinta” tidaklah sama dengan hasrat/naluri seksual.
Janganlah kalian terkecoh oleh ucapan, statament, pernyataan orang, atau tokoh-tokoh yang tidak pantas jadi panutan dan rujukan hidup!
Karena dari lisan dan pikiran-pikiran merekalah  ia menyengaja membangkitkan naluri/hasrat kalian dengan cara salah dan liar.
Dengan bungkus “cinta” mereka mengemas bacaan, lagu, film, game, tontonan/materi pornografi agar kalian terjebak dengan  gaya hidup bebas tanpa aturan.
Pacaran sebagai sebuah keharusan dan jomblo seolah sebuah aib dan beban hidup.
Akibat gelar-gelar “menyesatkan” ini akhirnya kalian tak ragu menyerahkan kehormatan meski di luar pernikahan yang mulia yang dengannya Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan berkahnya.
DUHAI generasi muda nan mulia!
Sungguh, tak demikian adanya fakta “cinta”. Cinta dalam bentuk ketertarikan kepada lawan jenis hanya bagian dari gharizah nau’ (naluri melestarikan jenis). Karakter naluri hakikinya berbeda dengan kebutuhan hidup semisal makan atau bernafas. Naluri meski juga memiliki tuntutan untuk dipenuhi tapi sifatnya tidaklah mendesak dan mutlak. Jika tidak dipenuhi hanya akan menimbulkan kegelisahan bukan kematian.
Fakta bahwa betapa banyak orang yang hingga akhir hayatnya tak menikah membuktikan itu.
Anak-anak ku generasi dambaan umat!
Allah Subhanahu Wata’ala menganugrahkan gharizah nau’  yang salah satu penampakannya adalah rasa “cinta” dan ketertarikan pada lawan jenis untuk memuliakan dan menjaga keturunan kalian. Bukan untuk disalahgunakan. Apalagi hanya  untuk merendahkan dan menghinakannya kalian sendiri.
Menikah justru  untuk menjamin agar “cinta” menjadi penjaga harkat dan martabat kalian. Sebaliknya jika kalian menyalahgunakannya justru hanya merendahkan martabat dan hinalah kita.
Pesan Rasulullah yang pernah disampaikan Ibn Mas’ud RA,  “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah segera menikah. sebab, pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya.”
Wahai Pemuda, ingatlah! Allah berpesan;
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمْ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur [24]: 32-33)
DUHAI generasi yang berkepribadian mulia!
Inilah seperangkat aturan dari Allah Subhanahu Wata’ala untuk memuliakan manusia dengan “cinta”.
Allah telah memuatnya dalam surat-surat cinta-Nya (al-Qur’an dan hadits) untuk umatnya yang dikirim melalui utusan-Nya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam).
Salurkanlah kasih sayang dan “cinta” dengan cara yang benar dan diridhoi melalui pernikahan. Karena dari bingkai pernikahanlah akan terlahir anak-anak sebagai keturunan pelanjut generasi yang  terjaga, terpelihara dan diridhoi Allah.
DUHAI pemuda, generasi peradaban!
Lembaga pacaran bukanlah cara penyaluran “cinta” yang benar dan diridhoi Allah, sebab  pacaran tak akan mampu memelihara kesucian “cinta”  aktivitas pacaran menyebabkan hadir dan terlibatnyasyetan, bukan Allah Subhanahu Wata’ala.
DUHAI generasi muda harapan umat!
Jagalah diri kalian. Jagalah hati kalian. Peliharalah “cinta” kalian agar tetap suci nan indah pada waktunya dan melahirkan “mitsaqon gholiza” (perjanjian yang kokoh), jalinan perjanjian setara perjanjian Allah dan Rasulnya.
Inilah media “cinta”yang menjadi wasilah lahirnya manusia-manusia baru dengan kepribadian kokoh penopang peradaban mulia.
Jadi manakah yang akan kita pilih? Ikutnya “kehadiran”  Allah ta’ala atau keterlibatan syetan dalam hidup kita?
WAHAI Pemuda!
Di tengah kerusakan massal; pornografi, budaya pop, free sex, fenomena lesbian, homoseksual, pedopili dan kejahatan seksual di mana-mana, tetap teguhlah membawa agama ini meski berat.
Bersiaplah menjadi ‘orang asing’ di antara fenomena sistem yang rusak,  itulah sesungguhnya ‘orang-orang asing yang beruntung”. Sebagaimana pesan Rasulullah yang diriwayatkan  Imam Tirmidzi,  “Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api.”
Semoga kita, semua keluarga dan keturunan kita senantiasa diberkahi dan dalam perlindungan Allah Ta’ala…*
Tertanda,
Syifaiyah,  ibu rumah tangga dengan dua orang putra yang sedang gelisah
sumber tulisan : www.hidayatullah.com

Kajian Utama : Tidak Hanya Sekedar Etika

doc/ilyas
Oleh Slamet Waltoyo

Bagian terpenting dari keterampilan sosial adalah adab dan etika. Di sekolah, materi ajar adab dan/atau etika lebih efektif disampaikan melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching). Pada Kurikulum 2013, proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan  konten yang bersifat mastery dan diajarkan secara langsung (direct teaching), keterampilan kognitif dan psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang dapat dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching). Sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching).

Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan belajar yang terjadi di kelas, sekolah, rumah dan masyarakat. Proses pembelajaran tidak langsung bukan dari kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam proses pembelajaran tidak langsung harus tercantum dalam silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru.

Sikap seperti apa saja yang harus dikembangkan? Apa dasarnya atau dari mana sumbernya? Menjawabnya menjadi tugas guru. Semua ada adabnya dan ada etiketnya. Apa bedanya adab dan etiket. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia;  Adab diartikan kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak. sedangkan etika diartikan tata cara (adat, sopan santun dan sebagainya) di masyarakat beradab dalam memelihara hubungan baik antara sesama manusianya. Dalam hal ini penulis membedakan; Adab bersumber dari contoh yang dilakukan oleh Rasulullah Shalalluhu’alaihi wasallam, sedangkan etiket bersumber dari norma.

Misalnya sikap ketika makan.  ada adabnya dan ada juga etikanya. Pilih mana?  Bagaimana jika ada yang tidak sinkron antara adab dan etika?  Etika meliputi sikap yang harus dilakukan ketika di hadapan orang lain, dilakukan karena penilaian orang lain. Tetapi adab dilakukan karena keyakinan. Keyakinan akan Allah Ta’ala Yang Maha Melihat, keyakinan akan pengawasan malaikat. Sehingga adab tetap dilakukan dan tidak tergantung adanya orang lain.

Etika bisa berbeda di tempat yang berbeda. Etika yang sudah dibentuk melalui pembiasaan di sekolah atau di rumah bisa hilang atau pudar ketika menghadapi situasi yang berbeda. Tetapi adab akan selalu diperjuangkan untuk selalu dilakukan di mana pun dan kapan pun selama keyakinan masih melekat dalam kalbunya. Maka ajarkan adab, jangan sekadar etika. Karena adab berakar pada contoh yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam, maka adab pun bisa berkembang selama tidak terlepas dari akarnya. Maka materi ajar etika yang sesuai dengan adab, ajarkanlah sebagai adab. Misalnya cuci tangan sebelum makan, makan dengan tenang tidak banyak bicara, dan sebagainya.

Untuk memasukkan adab dalam kurikulum di SD/MI , identifikasikan semua adab yang bisa dilakukan anak di sekolah. Kemudian disisipkan dalam semua materi pelajaran mulai dari kelas satu hingga kelas tiga. Sesuai dengan perkembangan usia. Semua guru mendapat peran untuk menghidupkan adab-adab tersebut baik ketika di kelas maupun di luar kelas. Sehingga ketika anak memasuki kelas empat mereka sudah menguasai semua adab yang diajarkan. Tinggal mengulang dan bisa memberi contoh bagi adik-adiknya. Anak-anak kelas empat tidak hanya bangga bisa memberi contoh bagi adik-adiknya tetapi juga menjadi kebanggaan menjalankan ibadah muamalah.||

*) Slamet Waltoyo, Kepala Sekolah MI Al-Kautsar Sleman

Kajian Utama : Adab Utama dalam Menuntut Ilmu

doc/ilyas
Oleh Irwan Nuryana Kurniawan

Syaik Muhammad bin Shalih al Utsaimain dalam Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi (2005) menegaskan adab yang paling pokok dan harus tertanam secara kokoh dalam diri setiap pelajar ketika menuntut ilmu adalah mereka harus meyakini bahwa ilmu adalah ibadah, ibadah yang paling agung dan paling utama. Allah Ta’ala menjadikan kegiatan memperdalam pengetahuan agama sebagai bagian dari berjihad di jalan Allah Ta’ala (QS At Taubah (9):122).

Kepahaman seseorang atau sekelompok orang dalam perkara agama—Syaikh Utsaimin menjelaskannya sebagai meliputi segenap ilmu syar’i, baik ilmu tauhid, aqidah, atau lainnya—ditegaskan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits shahih riwayat al Bukhari (71) dan riwayat Muslim (1037) merupakan pertanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi diri mereka.

Kegiatan memperdalam ilmu pengetahuan menjadi bernilai ibadah ketika dilandaskan pada niat yang ikhlas hanya karena Allah Ta’ala (QS Al Bayyinah (98):5 dan hadits shahih al Bukhari (1). Sebaliknya, kegiatan memperdalam ilmu bisa berubah dari ibadah yang paling mulia menjadi kemaksiatan yang paling hina, menurut Syaikh Abu Bakar Abu Zaid apabila tidak dilandasi dengan keikhlasan niat. Keinginan mendapatkan pujian, atau dikenal sebagai riya’, baik riya’ yang menjerumuskan pada kesyirikan atau riya’ yang menghilangkan keikhlasan, dan membanggakan-banggakan diri, atau dikenal sebagai sum’ah seperti “Aku tahu…Aku hafal…,” merupakan contoh yang paling bisa menghancurkan nilai ibadah dari kegiatanan memperdalam ilmu.

Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa untuk membangun keikhlasan dalam pribadi setiap siswa dalam menuntut ilmu, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan. Pertama, menanamkan keyakinan dalam diri setiap siswa bahwa menuntut ilmu itu berarti menjalankan perintah Allah Ta’ala (QS Muhammad (47):19). Meyakini bahwa menuntut ilmu itu perbuatan yang dianjurkan, dicintai, dan diridhai-Nya. Kedua, menanamkan keyakinan dalam diri setiap siswa bahwa menuntut ilmu itu berarti menjaga syariat Allah. Dengan belajar, baik melalui menghafal, menulis, maupun mempraktekkan, setiap siswa secara bertahap insyaallah dapat diharapkan memiliki kefahaman perkara agama yang mendalam dan benar, termasuk untuk tujuan menjaga tegaknya syariat Allah Ta’ala. Ketiga, menanamkan keyakinan dalam diri setiap siswa bahwa menuntut ilmu itu berarti membela syari’at Allah Ta’ala. Ketika mereka menjadi orang atau sekelompok orang yang memiliki kefahaman mendalam dalam perkara agama, maka insya Allah mereka akan membela kebenaran syariat, termasuk membantah sekaligus menjelaskan jika mendapati kesesatan dari syariat Allah Ta’ala. Keempat, menanamkan keyakinan dalam diri setiap siswa bahwa menuntut ilmu itu berarti mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam. Tidak mungkin mereka bisa mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam kecuali jika mereka sudah mengetahuinya terlebih dahulu.


Maka, senantiasa membiasakan setiap siswa untuk menjaga niat menuntut ilmu ikhlas karena Allah Ta’ala menjadi sanngat penting untuk dilakukan oleh dan menjadi bagian dari kurikulum pendidikan. Begitu juga dengan mengingatkan mereka akan segala hal yang dapat merusak keikhlasan mereka dalam menuntut ilmu seperti senang popularitas, ingin unggul disbanding teman sebayanya atau menjadikannya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu seperti pangkat, jabatan, kekayaan, kehormatan, popularitas, pujian, dan kekaguman orang lain kepadanya. Semua hal tersebut, menurut Syaikh Abu Bakar Abu Zaid, dapat merusak dan melenyapkan keberkahan ilmu. ||

*) Irwan Nuryana Kurniawan, Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia

Kajian Utama : Adab Menjaga Keberkahan

doc/ilyas
Oleh R. Bagus Priyosembodo

Para murid dari guru shalih terdahulu ketika datang ke majelis taklim tidaklah hanya menambah pengetahuan. Bahkan mereka mempelajari adab dan akhak dari para ulama itu.  Mereka  mempelajari adab-adab Islami sebagaimana mereka mempelajari ilmu syar’i. Mempelajari adab-adab Islami yg dapat mensucikan jiwa itu semestinya dilakukan sebelum mempelajari adab-adab yang berkaitan dengan materi pelajaran.”

Yusuf bin Husain rahimahullah berkata: “Dengan adab Islami, engkau dapat memahami ilmu agama (dengan baik dan benar).” (Lihat Iqtidho’ul ‘Ilmi Al-’Amal karya Al-Khothib Al-Baghdadi hal.170). Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata kepada seorang pemuda dari suku Quraisy: “Wahai anak saudaraku, pelajarilah olehmu adab-adab (Islami) sebelum engkau mempelajari ilmu agama.” (Lihat Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani VI/330)

Barangsiapa tidak beradab maka betapa sulit untuk memegangi syariat, iman, dan tauhid padanya. Tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barangsiapa tidak beriman, maka dia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syariat, maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid; dan syariat mewajibkan adanya adab;.

Adab memiliki peran sentral dalam dunia pendidikan. Tanpa adab, dunia pendidikan berjalan tanpa ruh dan makna. Lebih dari itu, salah satu penyebab utama hilangnya keberkahan dalam dunia pendidikan adalah kurangnya perhatian civitas akademikanya dalam masalah adab.

Az-Zarnuji mengatakan, “Banyak dari para pencari ilmu yang sebenarnya mereka sudah bersungguh-sungguh menuntut ilmu, namun mereka tidak merasakan nikmatnya ilmu, hal ini disebabkan mereka meninggalkan atau kurang memperhatikan adab dalam menuntut ilmu”.

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendidik dan mensucikan jiwa para sahabat. Beliau mengajarkan adab-adab Islam sehingga para sahabat yang semula keras, kaku dan kasar berubah menjadi lembut. Hati mereka mudah menerima nasihat. Menjaga hak orang lain serta mudah melepas hak diri sendiri untuk menolong ornag lain. para shahabat mempelajari al-huda, termasuk padanya petunjuk tentang permasalahan adab, sebagaimana mereka mempelajari ilmu. Kemudian, para sahabat dan tabi’in tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk pergi menuntut ilmu, hingga anak-anaknya telah diajari adab-adab terlebih dahulu.

Al-Imam Malik berkata: “Sesungguhnya ilmu ini adalah adabnya Allah, yang telah Allah ajarkan kepada Nabi-Nya dan demikian juga telah diajarkan oleh Nabi kepada ummatnya; amanatnya Allah kepada Rasul-Nya agar beliau melaksanakannya dengan semestinya. Maka barangsiapa yang mendengar ilmu maka jadikanlah ilmu tersebut di depannya, yang akan menjadi hujjah antara dia dan Allah ‘Azza wa Jalla.”

Dari Ibnul Mubarak, beliau berkata: Berkata Makhlad bin Al-Husain kepadaku: “Kami lebih butuh untuk memperbanyak adab daripada memperbanyak hadits.”

Seseorang yang hanya sibuk memperbanyak hadits dan menghafalnya akan tetapi tidak beradab niscaya ilmu tadi tidak akan bermanfaat banyak. Belajar adab akan mendorong terus mencari tambahan ilmu dengan diamalkan.

Orangtua yang begitu memahami pentingnya adab akan begitu menekankan hal ini kepada anaknya. Sebagaimana dilakukan oleh ibunda Imam Malik rahimahullah. Beliau mengabarkan bahwa ibunya berkata, “Pergilah ke Rabi’ah lalu pelajarilah adabnya sebelum ilmunya.”

Dari Ibrahim bin Hubaib, beliau berkata: Berkata ayahku kepadaku: “Wahai anakku, datangilah para fuqaha dan para ulama, dan belajarlah dari mereka serta ambillah adab, akhlak dan petunjuk mereka, karena sesungguhnya hal itu lebih aku sukai untukmu daripada memperbanyak hadits

Memahami dan mengamalkan adab-adab menuntut ilmu dengan baik memberikan beberapa faedah, di antaranya: (1) menjadikan waktu dan upaya dalam menuntut ilmu lebih efisien. Adapun buruk adab dalam menuntut ilmu akan mempersulit dan lebih memayahkan. (2) memahamkan skala prioritas ilmu yang mesti diutamakan.(3) memampukan bergaul dengan baik ketika berinteraksi dengan guru, kawan dalam belajar, serta masyarakat luas.(4)Menjadikan ilmu dan amalnya lebih bermanfaat dan penuh berkah bagi dirinya dann orang lain.(5) memperindah diri dengan perhiasan akhlak mulia dan sifat terpuji.(6) menjaga diri dari keburukan akhlak.||


*) R. Bagus Priyosembodo, Redaktur Ahli Majalah Fahma

Kolom Parenting : Berdusta tanpa Sadar

doc/ilyas

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Termangu merenungi sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
"كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ"
“Cukuplah seseorang (dianggap) berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan.” (HR. Muslim).

Apa yang diucapkan oleh seseorang mungkin benar dan tidak ada kesalahan di dalamnya, tetapi ada kesalahan dalam menangkap pembicaraan. Bisa juga terjadi seseorang tidak tepat mengingat pembicaraan yang ia dengar: ingatannya bercampur aduk. Maka, keliru ia dalam menceritakan. Bercampur-aduknya ingatan dapat juga terjadi karena mendengar pembicaraan dua orang atau lebih. Ingat perkataan, tak ingat penuturnya secara tepat. Bisa juga terjadi seseorang mendengarkan informasi yang tak lengkap, tapi ia mencukupkan diri dengannya. Maka kelirulah ia jika menyebarkan.

Ada banyak sebab informasi tak lengkap. Bisa alasan yang benar, bisa juga tidak. Yang berbahaya adalah jika kita lengkapi dengan persangkaan. Lebih berbahaya lagi jika informasi yang ia dengar memang salah. Maka, ia dianggap berdusta karena menyebarkan informasi yang salah itu. Ia dihukumi berdusta karena ia tidak memeriksa kebenaran informasi tersebut. Di sini ada kewajiban untuk melakukan tatsabbut.

Nah.
At-tatsabbut adalah berhati-hati dalam menukil berita dan ketika berbicara. Kita memastikan kebenarannya. Bukan sekedar tabayyun.

Teringat ketika saya masih menekuni dunia jurnalistik. Saya pernah mewawancarai psikiater H. Ahmad Salim Sungkar Sp.KJ (K) di rumahnya. Hasil wawancara berbentuk artikel, saya kirimkan dulu kepada beliau untuk diperiksa apakah sesuai yang dimaksud. Ternyata banyak koreksi. Ringkasnya, beliau kemudian menulis artikel cukup panjang. Tulisan itu jauh lebih berbobot daripada artikel hasil wawancara yang saya buat.

Sebenarnya saya merasa memahami apa yang beliau sampaikan karena istilah-istilah yang digunakan banyak bermiripan dengan yang saya pelajari. Tetapi saya tetap perlu melakukan tatsabbut untuk menghindari kesalahan fatal. Dan ternyata ada perbedaan yang sangat signifikan.

Kekeliruan fatal dapat dihindarkan karena ada tatsabbut yang terjadi. Padahal saya wawancara langsung, mendengar secara pribadi serta merekamnya. Saya juga memiliki latar belakang pengetahuan yang saya rasa memadai untuk memahami & menuliskan. Ternyata itu pun tak cukup.

Sebagai penutup, mari sejenak kita renungi nasehat Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
بِئْسَ مَطِيَّةُ الرَّجُلِ زَعَمُوا
"Seburuk-buruk bekal seseorang (dalam berbicara) adalah ungkapan ‘menurut sangkaan mereka’.”(HR. Abu Dawud).

Ada yang perlu kita catat di sini. Niat baik saja ternyata tidak cukup. Kita dapat tergelincir ke dalam dusta dan bahkan dusta yang besar, meski niat kita sangat baik dan mulia, karena mengabaikan hal-hal penting dalam melaksanakan niat. Apalagi jika niat tak baik. Tetapi ini bukan pembicaraan kita saat ini.

Khusus berkenaan dengan niat, ada wilayah yang bersifat sangat pribadi sehingga kita tak dapat memastikan niat seseorang. Tetapi ada hal-hal yang perlu kita benahi dan ilmui sehingga dengannya kita tidak terkelabui (ghurur) oleh ungkapan "niat orang siapa yang tahu, jangan menghakimi niat".

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan barakah.
Mohammad Fauzil Adhim Penulis Buku-buku Parenting dan Pendidikan 
Follow Twitter beliau @kupinang

Kisah Cerdas : Vonis Mati Tiga Minggu Lagi


google
Oleh Nurul Ummu Dzikru

Ayah  Bunda,  Guru, dan Pengasuh anak yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, kisah Fahma berikut ini bisa menjadi pendamping untuk menanamkan nilai Islam nan mulia dan luhur kepada Ananda tersayang. Mari kita tuturkan dengan penuh kasih sayang dan mengajarkan hikmah yang terkandung di dalamnya.  Semoga anda berbahagia bersama Ananda yang sholih. Selamat berkisah!

Sudah sembilan tahun Laila menderita sakit Kanker ganas, pada dada sebelah kiri. Ia pun datang ke Belgia menemui dokter ahli. Para ahli mengatakan bahwa Laila harus melakukan operasi untuk menghilangkan penyakitnya itu. Akan tetapi Laila menawar untuk  minum obat saja. 

Selesai minum  obat itu, Laila tidak merasakan adanya proses kesembuhan. Bahkan terasa lebih berat rasa sakitnya.  Atas saran dokternya  di Maroko, Laila disuruh untuk kembali berobat ke Belgia. Dokter di Belgia mengatakan bahwa penyakit Kanker itu telah menjalar ke seluruh tubuh. Dan para dokter itu pun angkat tangan. Mereka menyarankan kepada suami Laila agar pulang saja semoga bisa menutup mata di negeri sendiri. Walaupun terasa kaget dan tidak berdaya, mereka tidak pulang ke Belgia, tetapi pergi ke dokter lain di Perancis. Dokter di Perancis pun memutuskan untuk operasi. Karena itulah jalan medis terakhir yang mau tidak mau harus dijalani.

Pada saat mereka bersiap untuk memutuskan operasi, tiba-tiba suami Laila teringat sesuatu yang selama ini telah mereka lalaikan. Suami Laila mendapat ilham dari Allah agar mereka mengunjungi Baitullah di Masjidil haram. Laila pun tidak jadi operasi tetapi pergi ke Baitullah. Mereka akan kembali mendekat dan memohon kesembuhan hanya kepada Allah.

Mereka sampai di Ka’bah. Menyaksikan Ka’bah itu, mereka menangis. Merasa amat menyesal karena telah melalaikan kewajiban kepada Allah. Lalai menjalankan shalat, lalai beribadah dan untuk tunduk kepada Allah.  Laila berkata, “Ya Allah, aku telah membawa penyakitku ke dokter, dan penyembuhan sakit ini tidak mungkin disandarkan kepada mereka. Tidak ada lagi yang aku punya selain memohon kepada-Mu. Jangan Engkau tutup pintu-Mu dariku wahai Tuhan.”

Di Baitullah, mereka berkeliling menemui ulama, para syaikh dan orang sholih untuk meminta nasehat dan doa. Mereka memberi nasehat agar Laila sering membaca kitab Allah, minum air zam-zam, banyak dzikir dan bershalawat kepada Rasulullah. Di dalam Baitullah, Laila merasa tenang, hingga ia minta ijin suaminya untuk tinggal bermalam di dalam masjid. Di masjid Laila banyak menangis.  Ada wanita yang memperhatikan Laila. Karena kasihan, ia minta ijin suaminya untuk menemani Laila. Selama tinggal di masjid,  ia banyak berdzikir, minum air zam-zam, sedikit makan  dan banyak membaca Al Quran.

Awal datang di Ka’bah tubuh Laila sangat kurus dan penuh bercak, tanda penyakit di dada kirinya yang membengkak dan membusuk  itu telah menyebar ke seluruh tubuh.  Wanita yang menemaninya menganjurkan untuk membasuh bercak itu dengan air zam-zam. Namun Laila tidak berani melakukannya. Ia takut menyentuh penyakitnya. Pada hari kelima di masjid, temannya mendesaknya untuk membasuh penyakitnya itu dengan air zam-zam.  Seperti ada kekuatan yang mendorongnya, Laila tergerak untuk membasuhnya.   Ia membasuh luka di dadanya yang telah bengkak dan bernanah.

Terjadilah keajaiban. Bercak di tubuhnya hilang. Luka di dada dirabanya. Juga bersih. Tidak ada rasa sakit dan nyeri lagi di tubuhnya. Sahabatnya disuruhnya menyaksikan dan meraba benjolan  di tubuhnya. Mereka memekikkan kata, “Allahu akbar!” Lalu Laila menemui suaminya dan berkata, “Lihatlah rahmat dari Allah!” Suami Laila merasa takjub dan  menangis. Ia berkata, “Tahukah kamu bahwa para dokter itu telah memastikan kematianmu setelah tiga minggu lagi?”

Laila berkata, “Sesungguhnya ajal manusia di tangan Allah. Dan tiada yang mengetahui yang ghaib selain Allah.”


Allahu Akbar! Subhanallah. Itulah salah satu  kemurahan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang taat. 

*) Ibu Rumah Tangga, tinggal di Sleman Yogyakarta

Tips Cerdas : Agar Anak Tidak Suka Jajan

doc/thorif
Oleh Nur Muthmainnah

“Ummi, aku mau jajan es buah dulu ya…” ucap Indah, anak kelas 2 SD sambil berlari keluar mengejar penjual es buah yang lewat di depan rumah Tidak lama kemudian, Indah kembali keluar menuju warung sebelah rumah untuk membeli coklat. “Ummi…, aku mau es krim yang itu donk,” seru Indah tatkala melhat iklan di majalah yang dibaca Umminya.

Ilustrasi di atas adalah beberapa contoh permintaan anak yang acapkali diminta anak. Faktor seperti iklan cukup besar memberikan pengaruh terhadap jajan anak. Apalagi untuk saat ini, iklan jajanan anak anak begitu bombastisnya muncul di media. Belum lagi ketika anak melihat temannya begitu menikmati jajanan yang dibelinya. Sungguh, pasti anak pun akan tergoda untuk membeli jajanan yang dibeli temannya tersebut.

Salah satu hal yang berkaitan dengan masalah ini adalah pengaruh konsumerisme yang bisa melanda diri anak. Salah satu di antaranya adalah iklan dan tayangan televisi. Sudah bukan rahasia lagi jika banyak tayangan televisi yang menyajikan gaya konsumerisme. Anak yang terlalu sering menyaksikan tayangan televisi dan iklan yang demikian hampir dipastikan akan tertular gaya hidup konsumtif, meski masih dalam taraf yang rendah. Namun jika dibiarkan akan berdampak negatif di masa depannya kelak.

Anak sebagai buah hati orangtua memang memberikan kebahagiaan dalam kehidupan berkeluarga. Yang menjadi masalah dalam kebahagiaan ini adalah bila orangtua terlalu memanjakan anak sampai memberikan uang jajan yang berlebihan atau mengabulkan semua keinginan anak untuk jajan. Bukan kebahagiaan yang didapat, tapi anak akan berpola hidup konsumtif.

Ada beberapa faktor mengapa anak suka jajan. Kebiasaan anak jajan di luar rumah mungkin saja, karena apa yang disajikan di rumah tidak menarik baginya. Mungkin anak merasa bosan dengan sajian atau menu yang ada di rumah. Kebiasaan mengemil juga ditengarai menjadi salah satu sebab. Bila di rumah sering kali mengemil dan makanan yang dia suka tidak ada, maka anak akan pergi ke warung untuk mencari makanan pengganti untuk cemilannya. Enyebab lain adalah faktor orangtua yang royal belanja. Anak meniru sifat orangtua yang suka berbelanja makanan. Ditambah bila orangtua jarang memasak di rumah untuk anak akan memberikan cukup alasan bagi anak untuk mencari jajanan di luar. Terlebih jika orangtua terbiasa memberikan uang yang cukup banyak pada anak dan gampang menuruti keinginan anaknya untuk jajan.

Mengatasi anak yang suka jajan tidaklah gampang, apalagi bila itu terpola cukup lama. Dibutuhkan ekstra kesabaran untuk mengurangi nafsu jajan si anak. Tambah lagi dengan adanya pihak lain seperti paman, bibi, atau tetangga yang suka memberikan uang jajan  kepada anak supaya mereka bisa dekat dengan anak. Ini secara tidak langsung memberikan kesempatan kepada anak untuk berlaku konsumtif.

Bagi orangtua yang sudah mengerti tentang bahayanya jajan sembarangan juga harus mengajarkan dan mengingatkan kepada orang terdekat anak untuk membantu orangtua dalam mendidik anaknya supaya berhati-hati dalam menggunakan uang jajan. Orangtua tidak perlu sungkan untuk melakukan itu karena anak adalah tanggungjawab orangtua.

Tips agar anak tidak suka jajan
Ø  Batasi Uang Jajan Anak
Anak bisa jajan karena ia memiliki cukup uang untuk jajan. Batasi uang jajan anak, agar ia tidak jajan secara berlebihan.

Ø  Pastikan Anak Mendapatkan Makan yang Cukup
Anak yang tidak makan atau makan terlalu sedikit cenderung suka jajan karena lapar. Jika anak makan dengan cukup, maka meskipun ia memiliki uang, belum tentu ia akan menggunakannya untuk jajan.

Ø  Ajari Anak Berhemat dan Menabung
Mengajari anak dan berhemat sejak dini sangat penting untuk mendidik anak mengatur keuangan pribadi. Jika anak sudah memiliki kesadaran berhemat dan kebiasaan menyisihkan sebagian uang jajan untuk tabungan, ia akan cenderung menahan diri dan tidak mudah tergoda untuk untuk menghabiskan uangnya untuk jajan.

Ø  Siapkan Bekal Anak
Siapkan bekal makanan saat anak berangkat ke sekolah. Membawa bekal sendiri menjamin anak mendapatkan makanan sehat dan aman.

Ø  Perhatikan Makanan Kesukaan Anak
Banyak anak yang tidak suka makan di rumah karena kurang cocok dengan menu yang ada. Orangtua sebaiknya memperhatikan makanan kesukaan anak sehingga membuat anak mendapatkan cukup makan di rumah.

Ø  Siapkan Menu Makanan Sehat
Menu makanan sehat akan memenuhi kebutuhan nutrisi anak secara lengkap. Tercukupinya kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin, dan mineral akan menjamin anak merasa kenyang lebih lama.

Ø  Beri Teladan Kebiasaan Makan yang Sehat
Kebiasaan jajan bisa jadi dipengaruhi lingkungan dan gaya hidup. Contohnya, jika anda terbiasa jajan setelah makan, maka anak juga menjadi terbiasa dengan perilaku tersebut.

Ø  Berikan Pengertian Resiko Jajan Sembarangan
Berikan penjelasan kepada anak mengenai resiko jajan makanan sembarangan. Berikan pengetahuan pada anak mengenai jenis makanan yang sehat dan tempat jajan yang sehat. Hal ini akan membantu anak untuk selektif saat jajan dan mengurangi keinginan anak untuk jajan sembarangan.

  
*) Nur Muthmainnah, Pemerhati dunia anak

Makanan Cerdas : Mengkudu

google
Oleh Minarty Sastrina

Jangan menilai sesuatu hanya dari tampilan luarnya. Mungkin pepatah tersebut cocok untuk menggambarkan mengkudu. Meski secara fisik, buah ini tidak menarik, namun ternyata buah mengkudu banyak memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh kita dan sering digunakan sebagai obat.

Mengkudu memiliki zat anti bakteri – Acubin, L. asperuloside, alizarin dan beberapa zat antraquinon telah terbukti sebagai zat anti bakteri seperti Pseudonzonas aeruginosa, Proteus morganii, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis dan Escherichia coli.  Zat-zat anti bakteri dalam berfungsi juga untuk  infeksi kulit, pilek, demam dan berbagai penyakit  yang disebabkan oleh bakteri.

Selain itu, ada pula asam askorbat, yang merupakan sumber vitamin C yang kaya antioksidan untuk melawan radikal bebas. Buah mengkudu juga mengandung asam kaproat, asam kaprilat dan asam kaprik yang termasuk golongan asam lemak. Asam kaproat dan asam kaprik ini yang menyebabkan bau busuk yang tajam pada buah mengkudu.

Kandungan lain dari mengkudu adalah zat-zat scopoletin. Zat-zat ini memiliki manfaat medis dan dapat mengikat serotonin (salah satu zat kimiawi yang penting di dalam tubuh manusia). Scopoletin juga berguna untuk melebarkan  saluran pembuluh darah yang mengalami penyempitan dan melancarkan peredaran darah. Selain itu scopoletin dapat membunuh beberapa tipe bakteri, bersifat fungisida (pembunuh jamur) terhadap Pythium sp dan juga bersifat anti-peradangan dan anti-alergi. Di samping itu, masih ada kandungan zat anti-kanker (Damnacanthal), Xeronine dan Proxeronine serta morindon atau morindin yang memberi warna merah pada kulit tanaman mengkudu.

Berbagai manfaat buah mengkudu antara lain untuk meningkatkan daya tahan tubuh, menormalkan tekanan darah, melawan tumor dan kanker, anti-peradangan dan anti-alergi, anti bakteri serta dapat mengatur siklus energi tubuh.


*) Minarty Sastrina, S. Gz, ahli gizi tinggal di Malang

Tips Cerdas : Kita Bisa Berubah!

doc/thorif
Oleh Sri Lestari

“Wah, sepertinya pada pekan ini ulangan-ulanganku akan mendapat nilai jelek.”Celetuk seorang anak pada ibunya.

Dahi sang ibu berkerut mendengar celetukan si anak, ”Memangnya ada apa kamu kok bisa memastikan akan mendapat nilai yang buruk? Apa kamu tidak akan belajar untuk mempersiapan ulangan mu itu?”

Sang anak menggeleng lesu, “Ibu pasti tidak tahu, meskipun aku belajar tapi kalau perasaan hati ini mengatakan bahwa aku dalam pekan ini dapat nilai yang buruk pasti dapat nilai buruk dan itu benar terjadi!”

Wajah sang ibu tambah berkerut mendengar kata-kata anaknya. Ia jadi mengkhawatirkan buah hatinya semoga tidak terjadi sesuatu pada anaknya.

“Nak, Ibu memang tidak mengerti! Tapi Ibu ingin tahu apa yang membuat perasaan hatimu berkata begitu?”

Sang anak menarik nafas panjang dan menunduk sedih, “Aku juga tidak tahu dari mana datangnya tiba-tiba hatiku mengatakan itu. Apa Ibu juga pernah merasakan hal tersebut?”

Mendapat pertanyaan yang begitu menyedihkan dari anaknya membuat sang ibu menjadi gamang. Tapi segera ia tersadar, ia tidak boleh menunjukan sikap itu. Di kumpulkan kepingan hatinya yang sempat terserak ia harus menunjukan sikap positif.

Subhanallah, Mungkin kamu begitu ingin mempersembahkan pada ibu dan bapak nilai yang terbaik, sehingga membuatmu menjadi grogi. Bisa jadi perasaan negatif  yang kamu rasakan sekarang diakibatkan dari perasaan itu.” Kata sang ibu sambil tersenyum mencoba menerka penyebab timbulnya perasaan negatif anaknya.

“Apa bisa begitu ibu?” Tanya anaknya dengan mata berbinar.
“Ibu yakin itu, bukankah kamu selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik? Jika perasaan negatif itu datang lagi jangan kamu hiraukan. Kamu harus optimis dan kamu harus yakin bahwa tidak ada hari atau pekan yang sial. Apabila kamu berusaha dengan sungguh-sungguh dan kamu tepis jauh jauh pikiran itu kamu pasti bisa mengatasi pikiran buruk itu!” Motivasi sang ibu dengan penuh semangat membuat semangat si anak menjadi bangkit lagi.

Sambil menatap wajah anaknya sang ibu berkata, “Ibu pernah membaca ayat dalam Alquran yang menyatakan, “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu merubah dirinya sendiri. Jadi Insya-Allah suara hatimu yang negatif itu tidak benar. Apabila hal itu terjadi mungkin itu kebetulan saja atau di karenakan usaha kita kurang optimal,jadi bila kamu sudah belajar apalagi kalau di niatkan untuk Allah pasti hasilnya akan luar biasa!”

Eneri positif bisa menular
Sebagaimana energi negatif, energi positif bisa menular. Sebagaimana yang terjadi pada si anak yang mengalami suasana hati yang negatif. Apabila sang ibu juga larut dalam emosi sang anak maka keadaan akan semakin buruk.

“Senyummu pada saudaramu adalah shadaqah” Bunyi hadits ini mengajarkan bagaimana kita seharusnya selalu menebar energi positif kita kepada orang lain. Dan hal itu telah dilakukan oleh sang ibu. Rasa optimis yang ditunjukannya rupanya telah menular pada anaknya sehingga membuat perasaan anaknya menjadi lebih baik. Semangat yang melemah jadi bangkit kembali. Rasa percaya diri anaknya menjadi menguat .Sehingga bisa mengalahkan suara suara negatif dalam dirinya.

Kita bisa bayangkan bagaimana jadinya jika sang ibu terpengaruh suasana hati anaknya dan bersikap reaktif terhadap keadaan anaknya yang menurut keadaan umum tidak lazim. Bila ucapan yang terlontar, “....Kamu ini anak yang aneh, ada-ada saja masa ada suara hati yang seperti itu jangan-jangan kamu ...”

Kata-kata yang terkesan mecemooh anak ini bisa membuat anak terpojok serta bisa memperburuk suasana hatinya. Dan yang sangat berbahaya anak akan bertambah yakin dengan perasaan negatif yang menguasai dirinya.Sehingga bisa merusak aqidah dan pencitraan positif tentang dirinya. Untuk selanjutnya anak akan menjadi tertutup tidak mau menceritakan pada orangtuanya bila terjadi suatu persoalan pada dirinya. Hal ini yang harus kita hindari.

Hubungan yang harmonis antara anak dan orangtua berawal dari bagaimana anak merasa bahwa orangtuanya adalah orang yang paling tepat untuk menyatakan semua perasaannya baik ketika ia sedih ataupun senang.Jadi anak tidak lari kepada orang lain selain orang tuanya sendiri.

TIPS MEMOTIVASI ANAK
Usahakan posisi anda dengan anak dekat, kemudian pandang wajah anak anda lekat lekat dan katakan hal hal positif pada anak Anda.
> Jangan bersikap reaktif  bila anak mengungkapkan atau menunjukan perilaku yang tidak sesuai dengan kita
Jangan merendahkan anak
> Pastikan bahwa anak merasa dirinya diterima orangtua apa adanya. Ini penting untuk menumbuhkan pencitraan diri yang positif. Selalu minta pertolongan Allah untuk kebaikan anak anak kita.

*) Sri Lestari, Ibu Rumah Tangga, Sleman Yogyakarta