» » Eksplorasi : Marah yang Positif

Eksplorasi : Marah yang Positif

Penulis By on Saturday, April 26, 2014 | No comments

doc/thorif
Oleh Atiek Setyowati

Waktu itu  anak saya mengambil gayung dan ember dari kamar mandi. Kemudian beranjak ke luar rumah. Saya ikuti dia, saya sempat berpikir jangan-jangan mau main air lagi. Ternyata benar dia mainan air. Kebetulan di luar rumah memang ada kolam kecil. Tiba-tiba saya marah sekali dengan  anak saya. Saya membelalakkan mata lebar-lebar dan dengan suara keras saya memarahi anak saya. Tanpa bertanya dulu dengan anak tersebut, saya langsung memarahinya. Meskipun tanpa memukul, tetapi sepertinya anak saya menampakkan tanda ingin berontak dan dongkol. Anak saya yang usianya belum mencapai 5 tahun itu memerah matanya. Kemudian saya dekati dan baru bertanya, “Ember dan gayungnya kenapa diambil, Nak?”
“Aku mau bantu. Biar mama nggak capek,”kata si anak
“Aku mau nyiram tanaman ini lho Ma, biar nggak mati. Aku kan mau bantu Mama.”
Ya…Allah maksud yang baik tetapi saya sikapi dengan buruk. Alangkah seringnya kita melakukan hal demikian. Karenanya, begitu saya menyadari kekeliruan tersebut, saya segera minta maaf sekaligus ucapan terima kasih kepada anak saya. Sesudahnya, saya beri sedikit penjelasan.
Bayangkan kalau kesalahan semacam itu terjadi setiap hari, betapa besar potensi kebaikan anak yang terkubur dalam-dalam sebelum sempat berkembang. Tentunya banyak sekali kelakuan anak yang sering terjadi pada diri orangtua yang terkadang susah kita tebak dan sering juga membuat kita kesal, sebal dan marah.
Memarahi anak memang boleh jika benar-benar dibutuhkan. Tetapi memarahi berbeda dengan marah. Memarahi tidak selalu karena marah, meskipun orangtua memarahi anaknya karena emosi yang meluap-luap, saat hati dan pikiran keruh. Memarahi bisa kita lakukan dengan kondisi emosi yang terkontrol, jernih dan tenang.
Ada beberapa hal buruk yang dialami orangtua semacam saya. Mereka cepat marah karena ada yang kurang menyenangkan dari si anak. Mereka cepat melampiaskan kemarahan hanya karena kejadian-kejadian kecil, tanpa mengendapkan terlebih dahulu untuk mencari jalan yang paling jernih. Tidak menunggu lama sudah mencubit anak dengan keras, membelalakkan mata dan menghujaninya dengan kata-kata yang negatif. Sebagian orangtua semacam ini menganggapnya hal itu adalah hal biasa dan pilihan terbaik untuk memberi pelajaran si anak. “Biar anak tidak kurang ajar, makanya harus diajari sopan santun.” kata seorang ibu.
Sayangnya, mereka hanya memberi hukuman yang menyakitkan dan memarahinya, tanpa pernah menerangkan kepada anak apa yang seharusnya dilakukan.
Hal ini mengakibatkan berbeagai efek negatif pada anak. Pertama, anak akan belajar bahwa kekerasan sebagai hal biasa, tidak menakutkan. Mereka tidak lagi merasa takut mendapat hukuman dari orangtuanya, asalkan keinginannya terpenuhi. Kedua, cara ini memang bisa membuat berhenti perilaku negatif anak, tetapi ia berhenti bukan karena sadar. Sebaliknya anak bisa melawan orangtuanya. Itulah sebabnya kenapa sebagian anak begitu patuh pada orangtua saat masih kanak-kanak, tetapi berubah menjadi penentang saat remaja. Ketiga, memarahi anak dengan tiba-tiba dan tanpa berpikir jernih dapat membuat anak kebal hukuman tidak takut terkena bentakan, cubitan atau bahkan pukulan paling keras sekalipun. Keempat, anak tidak bisa mengambil keputusan dengan baik, membuat belajar melawan. Kelima, anak tidak punya pendirian yang teguh, lemah, mudah terpengaruh dan menjadi orang yang keras kepala. Keenam, bisa mematikan kreativitas dan potensi unggul anak.
Untuk itu agar kita menjadi orangtua yang bijak. Mulailah dengan memarahi yang benar, menghukum dengan memberi penjelasan kepada anak dengan baik, apa yang seharusnya dilakukan dan sesudahnya menunjukkan apa yang tidak baik. Kita tunjukkan konsekuensinya jika anak mengerjakan yang buruk dan salah. Atau kita jelaskan kepada anak dengan cara yang lembut dan tegas tentang yang baru saja ia lakukan
Salah satu hadits nabi yaitu “Laa taghdhab walakan jannah, (janganlah kamu marah maka bagimu surga”(HR. Bukhari). Ya, jangan marah. Ini butuh usaha yang keras dan komunikasi untuk saling mengingatkan antara suami dan istri. Marilah kita menjadi orangtua yang baik dan selalu memperbaiki diri.||

*) Guru SDIT Salsabila 3 Banguntapan
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya