» » Kajian : Jadikan Shalat Pengalaman yang Menyenangkan

Kajian : Jadikan Shalat Pengalaman yang Menyenangkan

Penulis By on Friday, April 25, 2014 | No comments


Ibadah adalah refleksi dari gambaran akidah seorang muslim. Akidah yang kuat tergambar dari ibadah yang hebat, sebaliknya aktivitas ibadah yang benar akan membentuk akidah yang kokoh. Salah satu kewajiban orangtua pada anak anaknya adalah membentuk aktivitas ibadah sang anak sejak dini, sebagai rangkaian dari pendidikan akidah untuknya. Hanya saja, masa kecil bukanlah masa memikul beban kewajiban. Masa kecil adalah masa persiapan, latihan dan pengenalan untuk menuju masa baligh, ketika kewajiban telah terbebankan. Tingkatan mengajarkan shalat dalam Islam, menjadi pelajaran berharga, bahwa untuk sebuah kewajiban mulia seperti shalat, ada tahapan yang harus diperhatikan. Semua tahapan selayaknya menjadi  pengalaman menyenangkan untuk anak.  

Mengenalkan shalat sudah dimulai ketika anak sudah mulai mengerti dan mengetahui arah kanan dan kiri. “Apabila seorang anak dapat membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahkanlah ia untuk mengerjakan shalat,” Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam seperti diriwayatkan oleh Ath-Tabrani dari Abdullah bin Habib. Ketika itu anak sudah mulai diajak shalat bersama, dikenalkan gerakan-gerakan shalat. Anak akan merekam dengan kuat apa yang disaksikan dari orang-orang terdekatnya ketika melakukan shalat. Menyaksikan bahwa orangtuanya bergegas melaksanakan shalat pada waktunya,  tanpa rasa terpaksa, apalagi dalam suasana kegembiraan yang ditunggu-tunggu, menjadi modal penting bagi anak untuk mencintai shalat.

Tingkatan berikutnya adalah mengajarkan shalat pada anak. Pada tingkatan ini, kedua orangtua mengajarkan rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajibannya dan juga pembatal-pembatalnya. Usia tujuh tahun merupakan masa yang tepat untuk memberikan pengajaran ini. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Sabrah bin Ma’bad al Juhani Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu’alayhi wa Sallam bersabda : “Perintahkan anak kecil untuk shalat apabila sudah berusia tujuh tahun. Apabila sudah mencapai usia sepuluh tahun, maka pukullah untuk shalat.” Pada usia ini, anak sudah siap menerima pelajaran penting tentang shalat.  Model pendidikan yang membuat anak menerima dan mengalami dengan rasa senang sangat penting untuk diperhatikan para orang tua. 

Di usia 10 tahun, penegakan disiplin shalat sudah mulai diterapkan untuk anak. Pukulan untuk mendidik, seperti yang diajarkan Nabi dibenarkan untuk diberikan pada anak, jika melalaikan shalat. Hal ini mengisyaratkan para orang tua hendaknya menjadikan urusan shalat menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidup anak. Tidak boleh dianggap biasa-biasa saja, bila anak mulai lalai meninggalkan shalat. Di masa-masa ini anak mulai diajak untuk terus berdialog tentang pentingnya menegakkan shalat, bukan sekedar mengerjakan shalat, mengenalkan konsep khusu’ dalam shalat, hikmah shalat dan sebagainya. Termasuk ancaman dan hukuman yang dikenakan pada muslim yang meninggalkan shalat.


Di masa kecil anak juga dilatih untuk ikut shalat Jum’at, mulai dikenalkan dan dibiasakan untuk shalat malam, shalat istikharah, dan shalat-shalat sunnah lainnya. Demikian juga mengajaknya bersama menuju shalat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.  Termasuk  mengajak anak ke masjid untuk membiasakannya menjadi pemakmur masjid.  Semuanya menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan untuk anak,  agar kelak ia semakin mencintai Allah Ta’ala dengan menegakkan shalat.  

*) Subhan Afifi, Pimpinan Redaksi Majalah Fahma, Dosen Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta
Foto : Anak-anak SDIT Hidayatullah Praktek Shalat Dhuha
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya