» » Kajian Utama : Apa yang Kita Harapkan dari Mereka Kelak?

Kajian Utama : Apa yang Kita Harapkan dari Mereka Kelak?

Penulis By on Thursday, April 24, 2014 | No comments

oleh Slamet Waltoyo

Seperti mendapatkan durian runtuh. Itu yang terjadi pada Bagas. Seorang  remaja tamatan SMA. Suatu  malam Bagas dipanggil Pak Halim. Pak Halim membutuhkan seorang tamatan SMA yang cakap dan berakhlak baik untuk dipekerjakan di sebuah perpustakaan sambil di kuliahkan di Program Studi Ilmu Perpustakaan di sebuah universitas terkemuka.  Mengapa Bagas yang dipilih? Sebab Bagas adalah pemuda yang paling sering bertemu Pak Halim di masjid. Bagas paling rajin jamaah sholat di masjid di antara puluhan remaja di desa tersebut. Mengapa itu dijadikan dasar bagi pak Halim untuk mencari orang yang berakhlak baik?

Memilih orang yang berakhlak baik bisa kita lihat dari kesehariannya. Jam berapa ia bangun pagi, apa yang ia lakukan ketika di rumah, di masyarakat, atau ketika di tempat umum, siapa saja temannya, aktifitas apa saja yang ia lakukan di malam hari dan sebagainya. Jika semua aspek bisa diamati, tentu membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Tetapi  tidak demikian dengan Pak Halim. Untuk mendapatkan seseorang yang berakhlak baik, Pak Halim tidak menumpuh dengan cara yang menghabiskan waktu dan tenaga. Karena Pak Halim percaya apa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bahwa untuk memilih orang yang baik itu dengan melihat sholatnya.

Pak Halim juga yakin bahwa sholat itu dapat mencegah seseorang dari perbuatan yang keji dan munkar. Sebagaimana tersebut dalam QS  Al Ankabut: 45: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Shalat adalah bentuk ibadah dengan pengabdian yang total. Baik secara pribadi maupun terkait dengan lingkungannya. Pribadi manusia yang meliputi jiwa, akal, dan fisik semua terlibat dengan aktif ketika melakukan shalat. Demikian juga dengan lingkungan di sekitarnya. Orang yang shalat harus mengatur waktunya, pakaiannya, kebersihannya, dan kebersamaannya dengan orang lain. Semuanya terlibat dengan aktif dan teratur. Jika sholatnya baik, insya Allah pribadinya baik dan bisa mengatur lingkungannya dengan baik pula. Dengan shalat, manusia mampu mengelola dengan baik semua sudut kepribadiannya. Itulah yang menguatkan Pak Halim memilih Bagas.

Orangtua Bagas tentu menyambut dengan senang hati tawaran Pak Halim. Apakah ini yang diharapkan sang ibu karena selama ini ibunyalah yang sangat kuat mendidik Bagas untuk tidak pernah meninggalkan sholat. Ketika hal ini ditanyakan kepadanya, sang ibu menjawab dengan pasti. “Tidak. Sama sekali bukan ini tujuan saya,” Ya, beliau mendidik anak untuk menegakkan sholat karena kecemasannya.  Ia sangat cemas dan  takut ketika menghadapi maut. Ketika ajal sudah dihadapannya. Ketika setan berusaha untuk menyesatkannya.

 Dalam kondisi demikian, apa yang paling ia harapkan dari anak-anaknya?  Bukan rumah anaknya yang megah. Bukan mobil anaknya yang mewah. Bukan pangkat anaknya yang tinggi. Bukan gaji anaknya yang besar. Bukan deretan trofi dan penghargaan anaknya yang selalu berprestasi. Bukan. Bukan itu semua. Tetapi keikhlasan anak-anaknya untuk setia mendampingi di sampingnya. Menjaga dirinya dan menenteramkan jiwanya.

Ia yakin. Jika anak-anaknya tidak pernah menyia-nyiakan shalat. Jika anak-anaknya tidak memperturutkan hawa nafsunya, ia tidak akan menjerumuskan pada kesesatan. Sebagaimana yang tersebut dalam QS Maryam:59 : “ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan

Tidak mudah bagi sang ibu untuk membentuk kepribadian Bagas. Menjadi pribadi yang mencintai shalat. Apalagi di tengah maraknya budaya materialisme. Tetapi karena didorong oleh keyakinannya, ia yakin akan pertolongan Allah Ta’ala. Ia yakin anak-anaknya menjadi anak-anak yang tidak menyia-nyiakan shalat dan tidak memperturutkan hawa nafsunya.||

Slamet Waltoyo, Kepala Sekolah SD Islam Al-Kautsar Sleman
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya