» » Kolom Prof In : “Bapak, Masakan Saya Tanpa Penyedap Rasa, Lho…”

Kolom Prof In : “Bapak, Masakan Saya Tanpa Penyedap Rasa, Lho…”

Penulis By on Monday, April 21, 2014 | No comments

       
Sering terjadi di masyarakat dan seakan telah menjadi kesepakatan, bahwa bagi suami istri yang keduanya bekerja dan anak-anaknya sudah dewasa, serta tidak ada pembantu di rumah, maka istri tidak harus memasak sendiri setiap hari, karena terbatasnya waktu sepulang dari tempat kerja. Hal ini juga kami alami, sehingga kecuali saat week end, kami sering membeli lauk-pauk di tempat langganan pilihan kami. Salah satu tempat kuliner yang menyediakan segala macam lauk-pauk, sayur, bahkan gorengan dan yang menyenangkan kami bebas memilih, self-service.  
Dilihat dari para pembeli yang sering kami jumpai, tempat tersebut kelihatannya memang sudah menjadi langganan para keluarga seperti kami, suami-istri bekerja. Selain lengkap persediaannya, mungkin juga harganya kompetitif dibanding tempat lain sehingga ramai pembeli.
Namun yang menjadi kekhawatiran kami adalah adanya kegemaran dari masyarakat Indonesia, terutama para penjual makanan, yang pada umumnya selalu ingin menambahkan bumbu penyedap rasa ke dalam masakannya agar rasanya lebih mantap. Hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan kami yang selalu menghindari penambahan tersebut. Namun bagaimana lagi, dengan berat hati kami terpaksa menerima kenyataan ini, harus membeli masakan yang berpenyedap rasa, tidak sejalan dengan kebiasaan yang sudah kami jalani jauh-jauh sebelumnya.
Sebetulnya masyarakat sudah sering mendapatkan informasi bahwa beberapa bahan tambahan seperti penyedap rasa, pengawet dan pewarna makanan yang ada di pasaran itu tidak baik bagi kesehatan tubuh. Terutama bagi perkembangan kesehatan anak, karena dari beberapa jenis itu ada yang mengandung bahan-bahan yang tidak terlarut sehingga tidak bisa keluar dari tubuh, terakumulasi di dalamnya. Akibatnya sering kita dengar anak muda di usia belia, namun sudah menderita penyakit yang sangat fatal seperti gagal ginjal atau berbagai jenis kanker.    
Mempertimbangkan akibatnya, maka sejak awal kehidupan berkeluarga, atas usul istri, setiap kali memasak kami tidak pernah menambahkan bumbu penyedap rasa. Kebiasaan ini terus berlangsung sampai saat ini, termasuk ketika kami tugas belajar di Perancis hampir tujuh tahun. Di negara ini, kebiasaan tersebut semakin terasa  bermakna karena masyarakat di sana sangat berhati-hati ketika memilih suatu bahan  yang akan dicampurkan ke dalam masakan ataupun makanan. Apakah itu penyedap rasa, bahan pengawet atau bahan pewarna, semua itu harus berasal dari bahan yang tidak berbahaya bagi tubuh. Pemerintah di sana sudah membuat daftar bahan-bahan tersebut yang sudah dibakukan dan masyarakat mudah sekali untuk mendapatkannya.
Bahkan saat itu, kami juga diperkenalkan dengan produk yang lebih sehat, yaitu makanan yang menggunakan bahan-bahan yang berasal dari tanaman yang dalam masa penanaman dan pemeliharaannya tidak menggunakan bahan-bahan kimia termasuk pestisida, tetapi dengan bahan-bahan organik. Karena sisa-sisa bahan kimia yang disemprotkan pada tanaman akan menempel dan terbawa masuk ke dalam tubuh apabila mencucinya tidak dengan cara yang benar. Maka sejak mengenal produk organik ini kami dalam kesehariannya selalu berusaha mengkonsumsinya. Namun, kebiasaan ini sempat terputus beberapa tahun karena setelah kami kembali ke tanah-air di awal tahun sembilan-puluhan, kami belum menemukan makanan pokok dan sayuran organik ini, alhamdulillah saat ini sudah relatif mudah untuk mendapatkannya.

Kekhawatiran kami tentang adanya penyedap rasa di dalam masakan, yang sering kami beli di tempat langganan, sudah terobati sejak pertemuan kami dengan seorang Ibu. Suatu sore, saya diminta istri untuk menjemput dia di rumah baca milik Ustadz Zaenal Fanani, setelah selesai mengisi acara diskusi tentang “cara mengkomsumsi obat yang benar”. Sesampainya di sana, ada seorang ibu yang belum kami kenal, menemani istri berjalan mendekati saya, sambil berkata “Bapak, masakan yang saya buat juga tidak mengandung bumbu penyedap rasa lho..., bapak tidak perlu khawatir”. Subhanalloh..ternyata ibu itu adalah pemilik pusat kuliner, yang kami menjadi salah satu pelanggan setianya ... Maha Besar Alloh Yang telah mengatur segalanya. 

foto : UGM
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya