» » Parenting : Menjangkau Masa Depan

Parenting : Menjangkau Masa Depan

Penulis By on Wednesday, April 30, 2014 | No comments

doc/thorif
Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Tidak ada yang berubah dalam prinsip sejarah. Berpijak pada pengetahuan yang luas dan pemahaman yang mendalam tentang sejarah, kita dapat membayangkan masa depan. Kita bisa membaca gambaran tentang apa yang kira-kira akan terwujud di masa depan jika hari ini keadaannya seperti ini; serta apa yang bisa kita lakukan agar sejarah di masa yang akan datang bisa berbelok ke arah yang lebih baik atau bahkan memutar dari kemungkinan buruk kepada tatanan yang insya-Allah penuh kemuliaan dan kebarakahan.

Prinsip-prinsip sejarah itu pasti dan karenanya bisa menjadi pelajaran yang nyata bijak menata diri dan hidup ini. Masalahnya adalah, peristiwa sejarah berbeda dengan catatan sejarah. Catatan yang sampai kepada kita belum tentu sama persis dengan peristiwa sesungguhnya yang terjadi dalam sejarah. Banyak hal yang mempengaruhi proses pencatatan sejarah, sehingga tidak betul-betul menggambarkan rangkaian peristiwa sejarah yang sesungguhnya dan bahkan menyimpang jauh dari keadaan yang sebenarnya. Kepentingan penguasa merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh.

Apa akibatnya jika kita salah mempelajari sejarah? Salah satunya kesalahan memahami prinsip atau bahkan salah dalam menyimpulkan prinsip sejarah. Ini terjadi karena rangkaian peristiwanya tidak utuh lagi. Antara peristiwa pendahuluan dengan peristiwa berikutnya yang merupakan rangkaian akibat, sudah banyak yang berubah sehingga kita salah dalam menyimpulkan. Itu sebabnya, kita perlu sumber belajar yang benar-benar bisa dipertanggung-jawabkan. Semoga dengan itu kita bisa menjangkau masa depan! Kita arif merumuskan langkah karena memahami hukum sejarah dengan benar dan matang. Kita berhati-hati dalam bertindak karena telah mereguk banyak pelajaran betapa hilangnya sifat hati-hati dapat menyebabkan rusaknya benih-benih kebaikan.

Apakah sumber belajar yang pasti benarnya? Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah. Al-Qur’an menceritakan beberapa peristiwa sejarah yang membawa perubahan besar. Ia menuturkan kepada kita langsung kepada pokok-pokok peristiwa terpenting, peristiwa yang menjadi penentu. Sedangkan As-Sunnah Ash-Shahihah menunjukkan kepada kita kesaksian tentang peristiwa-peristiwa melalui proses transmisi (periwayatan) yang ketat; baik jalur periwayatan, redaksi teks –jika merupakan sabda Nabi saw.—maupun kredibilitas serta integritas periwayatnya.

Dari dua sumber pokok inilah prinsip-prinsip sejarah dirumuskan untuk selanjutnya menjadi pegangan dalam mengembangkan kaidah-kaidah sejarah yang lebih luas. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membangun masa depan jika mampu memahami prinsip-prinsip sejarah dengan baik dan mengembangkan kaidah-kaidahnya untuk berbagai bidang kehidupan. Ini pula yang harus kita tanamkan pada anak-anak agar kelak mereka mampu bijak menyikapi hidup. Figur besar seperti Ibnu Khaldun misalnya, mengembangkan prinsip-prinsip sejarah yang digali dari pemahamannya terhadap tuntunan dienul Islam tentang sejarah. Dari sini, Ibnu Khaldun menulis kitabnya yang sangat fenomenal bertajuk Muqaddimah; kitab yang meletakkan dasar-dasar ilmu sosiologi modern.

Hari ini, kalau kita belajar sosiologi modern, kita berhutang jasa pada Ibnu Khaldun. Hari ini, berbagai negeri maju dapat mengembangkan negerinya berkat ilmu sosiologi yang dibangun oleh Ibnu Khaldun, meski sudah berkembang sangat jauh dan bahkan sudah bergeser dari kebenaran. Melalui sosiologi, kita bisa membaca persoalan masyarakat secara lebih sederhana sehingga memudahkan kita dalam mengambil langkah strategis untuk memecahkan persoalan tersebut.

Anak-anak kita kelak insya-Allah akan dapat mengembangkan ilmu yang lebih luas ragamnya melalui pemahaman sejarah yang tepat. Prinsip-prinsip sejarah yang kita gali dari sumber belajar utama, kemudian kita kembangkan dengan melihat berbagai realitas sejarah yang terjadi di masa-masa berikutnya, insya-Allah bisa menjadi bekal untuk mengembangkan ilmu yang mengkaji satu disiplin secara khusus, misalnya tentang perilaku organisasi, pengem¬bangan pendidikan serta berbagai cabang ilmu lainnya.

Nah, apakah yang sudah kita lakukan untuk mengantar anak-anak menjangkau masa depan? Sejarah telah terbentang. Terserah kepada kita, mau mengambil pelajaran atau tidak.

Sumber tulisan www.kupinang.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya