» » Surat “Cinta” seorang Ibu untuk Generasi Muda Islam

Surat “Cinta” seorang Ibu untuk Generasi Muda Islam

Penulis By on Tuesday, April 29, 2014 | No comments

www.hidayatullah.com
Oleh Syifaiyah

SURAT ini sesungguhnya saya tulis di tengah kecemasan mendalam sebagai seorang warga biasa, seorang ibu yang khawatir akan masa depan anak-anak dan generasi muda.
Kasus sodomi yang menimpa murid Jakarta International School (JIS) sungguh memprihatinkan. Fenomena ini setidaknya menunjukkan pada kita bahaya sedang mengancam anak-anak kita.
Survey ini dilakukan oleh Komnas PA bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak di 12 kota besar pada tahun 2012 menjelaskan, dari 4726 anak yang diteliti, 93,7% remaja SMP dan SMA mengaku pernah berciuman, genital stimulation, hingga oral seks. Yang cukup mencengangkan, 62,7% remaja SMP mengaku sudah tidak perawan.
Catatan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) tahun 2013 ada 2.792 kasus  kekerasan seksual, 52 persennya menimpa ana-anak. Sisanya 229 kasus tawuran antar pelajar dll.
***
DUHAI generasi muda penerus peradaban, di tangan kalianlah masa depan teronggok. Akan kalian jadikan apapun itu tergantung kalian. Bangsa ini jadi mulia, terdepan dan kokoh, tergantung kalian. Bangsa ini bisa hancur, berkeping-keping, juga tergantung kalian!
Duhai anak-anak penerus estafet peradaban, amanah teramat besar menanti kalian. Sambutlah dengan senyum dan kebanggaan. Torehkanlah nama kalian dalam sejarah peradaban dengan tinta emas kemuliaan, bukan dengan lumpur hitam berlumur kehinaan.
Wahai generasi emas, dan generasi peradaban! Tempalah diri kalian dengan kepribadian Islam yang kokoh dengan panduan Quran, karena hanya itu ang akan menyelamatkan kalian. Yang lain jelas tidak!
Jadikanlah diri kalian sebagai generasi yang dirindu jannah, yang layak mendapat naungan Allah di saat tak ada lagi naungan kelak di hari akhir.
DUHAI generasi peradaban! Lihatlah sekeliling kalian, lihatlah!
Betapa generasi muda hari ini terlenakan oleh dunia, kesenangan, hura-hura, bahkan atas nama cinta.
Kalian dibuai oleh “cinta” yang hanya kalian ketahui sebatas hasrat (ketertarikan) laki-laki dan perempuan. Cinta telah menjadi kalian “berhala” baru.  Disembah dan dipuja, meracuni lewat lagu, puisi, bacaan, komil, film hingga sinetron.
Lihatlah betapa banyak yang hancur karenanya…..
Kita tentu ingat peristiwa memilukan yang menimpa Ade Sara Angelina (19). Ia ditemukan telah tewas dibunuh oleh mantan pacarnya sendiri, Hafitd (19),  dibantu kekasihnya,  Assyifa (19). Semua dilakukan karena sakit hati “atas nama cinta”.
Lihat pula kisah Mia Nuraini (16), yang meninggal setelah dikeroyok  Albi Haq (21), mantan pacarnya, bersama 7 temannya. Motifnya sama lantaran dendam “anas nama cinta” (Tempo.com, 13/03/2014).
Masih banyak sekali kisah serupa yang melengkapi deretan panjang daftar kerusakan, pembunuhan dan kehancuran generasi muda “atas nama cinta”.
“Atas nama cinta” akhirnya kalian  terpuruk,  hancu dan rela membunuh, merusak dan menghilangkan nyawa orang lain.
DUHAI generasi muda harapan umat!
Sungguh “cinta” tidak lah sama seperti yang dinyatakan Freud, bahwa ianya bak makanan yang jika tak dimakan kan mengantarkan pada kematian. Karena “cinta” tidaklah sama dengan hasrat/naluri seksual.
Janganlah kalian terkecoh oleh ucapan, statament, pernyataan orang, atau tokoh-tokoh yang tidak pantas jadi panutan dan rujukan hidup!
Karena dari lisan dan pikiran-pikiran merekalah  ia menyengaja membangkitkan naluri/hasrat kalian dengan cara salah dan liar.
Dengan bungkus “cinta” mereka mengemas bacaan, lagu, film, game, tontonan/materi pornografi agar kalian terjebak dengan  gaya hidup bebas tanpa aturan.
Pacaran sebagai sebuah keharusan dan jomblo seolah sebuah aib dan beban hidup.
Akibat gelar-gelar “menyesatkan” ini akhirnya kalian tak ragu menyerahkan kehormatan meski di luar pernikahan yang mulia yang dengannya Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan berkahnya.
DUHAI generasi muda nan mulia!
Sungguh, tak demikian adanya fakta “cinta”. Cinta dalam bentuk ketertarikan kepada lawan jenis hanya bagian dari gharizah nau’ (naluri melestarikan jenis). Karakter naluri hakikinya berbeda dengan kebutuhan hidup semisal makan atau bernafas. Naluri meski juga memiliki tuntutan untuk dipenuhi tapi sifatnya tidaklah mendesak dan mutlak. Jika tidak dipenuhi hanya akan menimbulkan kegelisahan bukan kematian.
Fakta bahwa betapa banyak orang yang hingga akhir hayatnya tak menikah membuktikan itu.
Anak-anak ku generasi dambaan umat!
Allah Subhanahu Wata’ala menganugrahkan gharizah nau’  yang salah satu penampakannya adalah rasa “cinta” dan ketertarikan pada lawan jenis untuk memuliakan dan menjaga keturunan kalian. Bukan untuk disalahgunakan. Apalagi hanya  untuk merendahkan dan menghinakannya kalian sendiri.
Menikah justru  untuk menjamin agar “cinta” menjadi penjaga harkat dan martabat kalian. Sebaliknya jika kalian menyalahgunakannya justru hanya merendahkan martabat dan hinalah kita.
Pesan Rasulullah yang pernah disampaikan Ibn Mas’ud RA,  “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah segera menikah. sebab, pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya.”
Wahai Pemuda, ingatlah! Allah berpesan;
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمْ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur [24]: 32-33)
DUHAI generasi yang berkepribadian mulia!
Inilah seperangkat aturan dari Allah Subhanahu Wata’ala untuk memuliakan manusia dengan “cinta”.
Allah telah memuatnya dalam surat-surat cinta-Nya (al-Qur’an dan hadits) untuk umatnya yang dikirim melalui utusan-Nya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam).
Salurkanlah kasih sayang dan “cinta” dengan cara yang benar dan diridhoi melalui pernikahan. Karena dari bingkai pernikahanlah akan terlahir anak-anak sebagai keturunan pelanjut generasi yang  terjaga, terpelihara dan diridhoi Allah.
DUHAI pemuda, generasi peradaban!
Lembaga pacaran bukanlah cara penyaluran “cinta” yang benar dan diridhoi Allah, sebab  pacaran tak akan mampu memelihara kesucian “cinta”  aktivitas pacaran menyebabkan hadir dan terlibatnyasyetan, bukan Allah Subhanahu Wata’ala.
DUHAI generasi muda harapan umat!
Jagalah diri kalian. Jagalah hati kalian. Peliharalah “cinta” kalian agar tetap suci nan indah pada waktunya dan melahirkan “mitsaqon gholiza” (perjanjian yang kokoh), jalinan perjanjian setara perjanjian Allah dan Rasulnya.
Inilah media “cinta”yang menjadi wasilah lahirnya manusia-manusia baru dengan kepribadian kokoh penopang peradaban mulia.
Jadi manakah yang akan kita pilih? Ikutnya “kehadiran”  Allah ta’ala atau keterlibatan syetan dalam hidup kita?
WAHAI Pemuda!
Di tengah kerusakan massal; pornografi, budaya pop, free sex, fenomena lesbian, homoseksual, pedopili dan kejahatan seksual di mana-mana, tetap teguhlah membawa agama ini meski berat.
Bersiaplah menjadi ‘orang asing’ di antara fenomena sistem yang rusak,  itulah sesungguhnya ‘orang-orang asing yang beruntung”. Sebagaimana pesan Rasulullah yang diriwayatkan  Imam Tirmidzi,  “Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api.”
Semoga kita, semua keluarga dan keturunan kita senantiasa diberkahi dan dalam perlindungan Allah Ta’ala…*
Tertanda,
Syifaiyah,  ibu rumah tangga dengan dua orang putra yang sedang gelisah
sumber tulisan : www.hidayatullah.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya